Menjelaskan Yunani: Catatan Mengenai Krisis dan Peran Organisasi Kiri (Bag. 1)

Gegap gempita dan selebrasi membahana di negeri para dewa, Yunani. Syriza, memenangkan pemilu dengan meraih 149 kursi dari 300 kursi parlemen pada 25 Januari 2015. Pemimpin partai ini, Alexis Tsipras, membentuk pemerintahan koalisi dengan kelompok sayap kanan populer, Partai Kemerdekaan Yunani.

Partai Syriza yang menjanjikan perubahan menang dan kaum kiri sejagat manggut-manggut mengamini. Mereka menjadi inspirasi kaum kiri seantero jagat, kalau tidak bisa dikatakan jadi ‘bahan jualan’ kaum kiri. Karenanya begitu banyak tulisan dari media-media kiri dipersembahkan untuknya. Bahkan kaum kiri di Indonesia seakan secara serempak berkata, “inilah yang patut dicontoh, sesuai dengan teori kami”. Demikianlah banyak antusiasme ditumpuk ke pundak Syriza oleh kaum kiri, sebanyak antusiasme yang mereka berikan saat pencalonan Jokowi tahun 2014. Saya membayangkan kaum kiri ini berkata dalam hati dan mencoba meyakini mantra, “kali ini pasti akan berbeda, pasti!”. Namun ini hanya keyakinan, sebab kenyataan seringkali berbeda.

Melompat 160 hari kemudian, 5 Juli 2015. Rakyat Yunani kembali bergembira, menyalakan petasan dan kembang api. Referendum rakyat berjalan di tengah negosiasi bail-out atau dana talangan dari tiga lembaga: IMF, Bank Sentral Eropa, dan Komisi Uni Eropa yang dikenal sebagai TROIKA.

Suara rakyat menolak dana talangan. Mereka memilih OXI alias ‘tidak’ terhadap Troika. Gerakan Oxi memenangi referendum dengan perolehan suara 61 persen dan 39 persen sepakat. Hasil referendum yang diumumkan oleh Syriza 25 Juni 2015 ini, seharusnya memberikan kepercayaan bagi pemerintah sayap kiri untuk lebih mudah mengambil sikap terhadap Troika.

Apa mau dikata, Syriza malah merusak kepercayaan rakyat. Hanya berselang seminggu, hasil referendum rakyat dengan cepat dianulir sendiri oleh partai kiri Syriza melalui aksi-aksi politik tak terpuji. Mereka kembali memulai dialog tentang dana talangan baru dari Troika. Kemudian sikap ini diperkuat dengan ketokan palu parlemen Yunani yang didominasi anggota-anggota Syriza, mereka mengamini negosiasi ini. Yunani bakal mendapatkan pinjaman talangan 86 miliar euro bagi ekonominya.[1]

Talangan ini tentu memiliki konsekuensi seperti, pemotongan anggaran publik, penjualan aset-aset ekonomi, dan liberalisasi pasar. Sebegitu getolnya Syriza, hingga Alexis Tsipras, si pemimpin partai yang muda, kiri, dan berbakat itu—setidaknya inilah kualitas yang saya baca di media-media kiri di Indonesia—siap menendang keluar dari partai siapapun yang menolak dana talangan.[2]

Dalam waktu dua minggu setelah kemenangan referendum untuk menolak Troika, rakyat Yunani bangun dan mendapatkan pajak barang telah naik antara 13-23 persen, kecuali obat-obatan, buku dan surat kabar yang pajaknya turun dari 6,5 persen menjadi 6 persen. Masa depan mereka semakin suram dengan pemotongan anggaran publik yang makin besar.[3] Yunani harus menjalankan program penjualan aset-aset negara, menaikkan pajak barang, dan melenyapkan semua aturan yang menghambat investasi asing lebih banyak lagi.

Syriza seakan lupa janji-janji muluknya sendiri saat memenangkan pemilu. Semua program-program yang dicantumkan seperti, memutus rantai dana talangan, mengembalikan kehormatan Yunani, menghapus Euro, dan kembali ke mata uang lama Yunani, Drachma, serta keluar dari Eurozone, terbukti hanya janji-janji belaka.[4]

Apa sebenarnya yang terjadi? Ada apa dengan Syriza?

Well, sebelum masuk ke pembahasan rumit ini marilah kita tegok asal muasal masalah krisis Yunani secara umum.

11898659_10203811946134153_4796039948976225418_n

Apa Masalah Utama Krisis Yunani

Bagaimana negeri yang sudah mendapatkan bantuan 240 miliar euro, atau lebih dari Rp 3.500 triliun sejak 2010, dari berbagai sumber keuangan dunia, tetap disandera perekonomian yang buruk? Inilah yang menjadi pertanyaan standar kaum ekonom liberal di seluruh dunia, kemudian menjadi teka-teki yang mungkin saja akan menjadi referensi kasus di kampus-kampus ekonomi.

Pertama-tama krisis Yunani bukanlah kiriman jaman klasik, kelangkaan produksi, ataupun over produksi. Krisis Yunani selalu dimulai dari krisis sektor finansial.[5]

Krisis yang sebenarnya berawal dari krisis utang pemerintah Yunani dimulai sejak akhir tahun 2009. Dampak dari ketidakmampuan pemerintah atau mis-manajemen pengelolaan utang ini kemudian mempengaruhi kehidupan sosial, politik dan lain-lain

Namun kesalahan sebenarnya terjadi lebih jauh lagi, yakni pada tahun 2001, saat Yunani bergabung ke dalam Pesemakmuran Eropa atau Uni Eropa (EU) dan ikut menggunakan mata uang tunggal Eropa, Euro.[6]

Sebelumnya, pada tahun 1999, Yunani gagal bergabung dengan EU. Sejak semula EU telah memberi syarat agar Yunani menjalankan program pengetatan dan memotong belanja publik, terutama anggaran pendidikan, kesehatan, tunjangan pensiun, dan tunjangan sosial lain.[7]

Banyak pihak menilai birokrat EU tutup mata, bahkan terindikasi kongkalikong. Karena faktanya Yunani tidak mampu memenuhi kriteria untuk menjadi anggota EU namun tetap bisa lolos dan menjadi anggota EU ke-12. Saat itu, negeri para filsuf ini memiliki tingkat inflasi yang tinggi dan utang lebih dari 60 persen dari total GDP. Hal yang jelas jauh dari memenuhi prasyarat untuk menjadi anggota EU. Namun berkat aksi tipu-tipu lembaga keuangan dunia, utang nasional senilai 2,6 miliar Euro ini bisa bisa ‘lenyap’ dari penilaian.[8]

Lembaga keuangan dunia, Goldman Sachs, yang tersangkut kasus penipuan besar di Amerika dan menjadi pemicu krisis ekonomi dunia pada tahun-tahun berikutnya, terlibat dalam aksi kejahatan ekonomi ini.[9]

Saat krisis finansial dunia–yang gejala-gejalanya dimulai sejak kegagalan sistem finansial di Amerika Serikat tahun 2007, Yunani dilanda krisis ekonomi dan menjadi negara pertama di Eurozone yang terkena imbasnya. Meskipun semua negara terkena imbas resesi dunia, Yunani merasakan dampak terparah karena ia yang paling miskin dan paling banyak utang di antara negeri-negeri EU.

Ditilik dari sudut pandang ekonomi, masalah utamanya adalah, pertama, Yunani babak belur terkena dampak resesi ekonomi dunia yang terbesar sejak Perang Dunia II pada tahun 2007. Sebuah krisis yang sedikit banyak terkait dengan krisis ekonomi dalam negeri Amerika Serikat akibat meledaknya persediaan perumahan dan kredit perumahan (Subprime Mortgage). Saat itu yang menjadi sorotan dunia adalah lembaga keuangan Lehman Brothers, karena dianggap terlalu mudah untuk menggelontorkan kredit untuk para nasabah dan krisis yang melanda Wall Street sejak tahun 2008. Kedua, struktur ekonomi dalam negeri yang rapuh membuat munculnya ketidakpercayaan para peminjam atau kreditor.

Ketiga, reformasi ekonomi yang gagal dan krisis ekonomi, sedikit demi sedikit berimbas pada semakin berkurangnnya kemampuan Yunani untuk mengembalikan uutang hingga suatu titik dimana pemerintah sepenuhnya tak mampu mengembalikan utang. Utang ini dipinjam dari lembaga keuangan internasional, salah satunya IMF dan bagian terbesar dari Uni Eropa. Menjelang tahun 2010, Yunani hampir dinyatakan bangkrut dan dijauhi para kreditor.

Meski kemudian mendapat suntikan dana talangan, penurunan dan pelambatan ekonomi Yunani sudah terjadi dan tidak mudah untuk membangkitkannya. Apalagi pada tahun 2015, Pemerintah Yunani juga mesti menghadapi tingkat pengganguran yang telah mencapai 25 persen. Hal lainnya adalah dana utang tersebut dengan cepat habis untuk membayar tagihan utang dari para kreditor luar negeri. Ibarat pepatah, ‘gali lubang tutup lubang’. Pemerintah Yunani juga tidak transparan, banyak data ditutup-tutupi terutama soal tingkat utang dan tingkat defisit.[10]

Utang ini diturunkan setiap kali Pemerintah Yunani butuh dana segar untuk kemudian disuntikkan ke bank-bank Yunani agar tetap memiliki cadangan uang saat para nasabah menarik dananya.

Troika telah dua kali ‘mengguyur’ Yunani denganutang di saat-saat krisis sejak 2010. Guyuran dana kebanyakan hanya untuk memperkuat bank-bank serta belanja pemerintah, tidak banyak yang digunakan untuk sektor riilguna memperkuat perekonomian. Bahkan ada bagian yang dibawa kabur oleh orang-orang kaya Yunani keluar negeri.[11]

Saat ini, pada 2015, IMF kembali mempertimbangkan untuk memberikan dana talangan ketiga untuk Yunani, walau sering menyatakan bahwa mereka belum bisa memastikan akan ikut menyumbangkan dana talangan. Sekali lagi, dana talangan ini tidak datang dengan gratis. Pertolongan dana diikuti oleh permintaan dan syarat-syarat yang mesti dijalankan oleh Pemerintah Yunani. Meski ada aturan-aturan untuk menghalangi memberikan pinjaman kepada pihak atau negara yang diketahui tidak akan mampu mengembalikan, hal itu tetap dilakukan Troika. Perlu diketahui juga bahwa dana talangan ini bukanlah hibah, melainkan pinjaman. Jadilah Yunani saat ini terjerat utang dalam jumlah yang fantastis.

Akibat Sosial Pengetatan

Kebijakan pengetatan (austerity) tidaklah mengherankan. Sebenarnya metode ini khas kebijakan a la neoliberal.. Di tempat-tempat lain, kebijakan ini didesakpaksakan oleh IMF melalui kebijakan pinjaman sebagaimana yang terjadi terhadap Indonesia. Resep IMF dan badan-badan keuangan dunia selalu dimulai dengan pemotongan anggaran negara untuk masyarakat.

Semua kebijakan pemerintah terhadap rakyat Yunani, sejak awal bergabung dalam Uni Eropa, membuat kehidupan rakyat luar biasa susah; harga-harga kebutuhan pokok naik, subsidi pendidikan, kesehatan, dan tunjangan lain dihapuskan. Kesulitan paling utama adalah mendapatkan pekerjaan, bahkan pabrik-pabrik skala kecil maupun besar kesulitan untuk terus beraktivitas.

Akibat-akibat sosial yang ditimbulkan dari kondisi perekonomian dan politik di Yunani selama bertahun-tahun memunculkan pengangguran hingga 25-28 persen, lebih tinggi dari yang pernah dialami Amerika Serikat selama Resesi Besar pada 1929-1939. Bayangkan saja, pernah dalam sebulan pada tahun 2012, 20 ribu orang menjadi gelandangan.[12]

Ada hampir 20 persen warga Yunani yang saat ini mulai kesulitan untuk memenuhi kebutuhan makan harian. Yunani dikenal dengan tradisi memiliki ikatan kekeluargaan yang kuat. Anak-anak, orang tua dan keluarga besar seringkali tinggal dalam satu rumah. Namun jaringan sosial semacam ini pun tidak banyak membantu. Di Yunani kebanyakan gelandangan memulai lingkaran perjuangannya dari menumpang di sanak saudara, namun kebanyakan berakhir di jalanan.[13]

Syriza dan Hal-hal yang belum selesai

Di dalam kondisi ekonomi dan politik serta sosial inilah muncul harapan baru, Syriza. Nama formal partai ini adalah Koalisi Kiri Radikal.[14] Dibentuk pada tahun 2004, partai ini merupakan koalisi partai sayap kiri dan kiri radikal. Mereka segera membawa gelora baru dengan program-program politik anti-kemapanan. Syriza juga digawangi banyak politikus muda.

Baru-baru ini, dunia menyaksikan betapa piawainya Syriza dalam mengubah jawaban rakyat dari ‘tidak’ menjadi ‘ya’.

Sebetulnya apa yang terjadi? Bagaimana bisa Syriza menjadi pengusung hal-hal yang semula ditolaknya?

[bersambung]

Catatan:

[1] Detail mengenai paket dana talangan yang didiskusikan parlemen, baca http://www.reuters.com/article/2015/07/16/us-eurozone-greece-idUSKBN0P40EO20150716

[2] Tsipras melakukan pembersihan partai, salah satu targetnya adalah juru bicara partai di parlemen, Zoe Constantopoulou, yang dikenal tidak menyetujui akrobat kawan-kawannya di Syriza. Pada akhirnya konflik yang telah dimenangkan rakyat di jalanan dengan demonstrasi dan tekanan hanya berakhir menjadi konflik elit di dalam partai kiri. Ini menjadi indikasi kemunduran gerakan sosial di Yunani. http://in.reuters.com/article/2015/07/13/eurozone-greece-reshuffle-idINKCN0PN08R20150713

[3] IMF menyatakan saat ini Yunani telah mendapat suntikan dana darurat dari Uni Eropa dan telah membayar beberapa kewajibannya kepada para kreditor. http://www.aljazeera.com/news/2015/07/greece-longer-default-repays-creditors-150721021621063.html

[4] Pidato kemenangan Alexis Tsipras yang mungkin telah menginspirasi namun jatuh menjadi sebuah ejek-ejekan adalah saat dia mengatakan “We will play the drum, and They will dance”. Kata-kata yang menyiratkan keinginan dan keberanian untuk melawan Troika ini kini jatuh menjadi suara-suara mengganggu nan sayup-sayup. http://www.theguardian.com/world/live/2015/jan/25/greek-election-syriza-confident-of-victory-live-updates

[5] Di Yunani krisis finansial mendikte kenyataan, saat pasokan barang tetap normal, namun tak ada uang untuk membayarnya. http://internasional.kompas.com/read/2015/07/02/05232071/Di.Yunani.Saat.Ini.Ada.Barang.tetapi.Tidak.Ada.Uang

[6] Kanselir Jerman, Angela Merkel, mengungkapkan hal yang telah lama menjadi suara hati para ekonom, bahwa seharusnya Yunani tidak dilibatkan dari EU. Meski demikian hal tersebut merupakan sebuah retorika kosong, karena Jerman adalah negara yang paling banyak mendapat keuntungan dengan adanya nilai tukar tetap mata uang Euro dan adanya Eurozone. Demikian juga dengan masuknya negeri-negeri ‘lemah’ ke dalam Uni Eropa. http://money.cnn.com/2013/08/28/news/economy/merkel-greece-euro/

[7] Berita BBC pada 1 Januari 2001 menyoroti masuknya Yunani ke dalam Uni Eropa. Banyak dari hal-hal yang menjadi catatan dan keprihatinan saat itu telah menjadi sumber krisis, salah satunya tingkat utang yang tinggi. http://news.bbc.co.uk/2/hi/business/1095783.stm

[8] Agar terus menutup defisit, Pemerintah Yunani terus menerus menciptakan utang baru. Dan pemerintah pun pandai menutupi hal ini dari mata rakyatnya. http://www.bbc.com/news/world-europe-16834815

[9] Goldman Sachs dikenal sebagai lembaga keuangan terkemuka di Wall Street, banyak yang mendakwanya sebagai lembaga yang sering memanipulasi pergerakan saham dan aktivitas keuangan global. Pada bulan Agustus 2015 dikabarkan,Juni Goldman Sachs sepakat membayar tuntutan hukum sejumlah perusahaan swasta di Amerika Serikat sebesar 272 juta dollar atas keterlibatannya menangguk keuntungan dari krisis Wall Street tahun 2008. http://www.nbcnews.com/business/business-news/goldman-sachs-pays-272m-settle-suit-over-mortgage-backed-securities-n409366 dan https://www.thebureauinvestigates.com/2012/02/21/how-goldman-sachs-helped-mask-greeces-debt/

[10] Tiga penyebab utama kegagalan ekonomi Yunaniulasan Kompas yang cukup lengkap mengenai latar belakang krisis Yunani. http://internasional.kompas.com/read/2015/07/05/10593521/Tiga.Penyebab.Utama.Kegagalan.Ekonomi.Yunani?page=all

[11] Orang-orang kaya Yunani dengan mudah melarikan dana-dana dan menumpuknya di bank-bank lain di Eropa. http://www.nytimes.com/2015/07/31/business/bailout-money-goes-to-greece-only-to-flow-out-again.html

[12] Gelandangan, kecanduan obat-obatan, dan kriminalitas meningkat secara fantastis di jalanan di Yunani. http://www.ft.com/cms/s/0/95df9026-5983-11e1-8d36-00144feabdc0.html

[13] Masalah sosial juga telah menggerakan banyak orang untuk melakukan bantuan, mereka mendirikan di antaranya, pusat-pusat bantuan dan bantuan makan gratis.

http://www.latimes.com/world/europe/la-fg-greece-crisis-homelessness-20150620-story.html#page=1

[14] Penjelasan mengenai Koalisi Kiri Radikal dari Wikipedia Bahasa Inggris. Berbagai tendensi seperti Leninis, Maois hingga Trotskyis mewarnai pendiriannya https://en.wikipedia.org/wiki/Syriza

You may also like...

3 Responses

  1. kalumpang says:

    kebeneran lagi nyari2 artikel kuliah,

    skalian nanya pak, di yunani ada gak sumber daya alam cem di indonesia (batubara, emas, gas dll)?
    turs, ane pratiin dari artikel ini, di yunani kayaknya model perintahan serta sistem ekonominya terkesan dipaksakan gitu.

  2. Alif says:

    Bagian 2 udah ada, Min?

Leave a Reply