Menjelaskan Yunani: Catatan Mengenai Krisis dan Peran Organisasi Kiri (Bag. 2)

Reading Time: 6 minutes

syriza

“..ingatlah di mana kau berpijak

komunitaslah yang membesarkan mu

berpikirlah kau dengan bijak

komunitaslah yang mendukungmu”[1]

5 Mei 2010, dikenang sebagai hari dimana bola salju politik Yunani bermula. Saat itu demonstrasi dan pemogokan massal buruh yang menentang kebijakan pengetatan ekonomi meledak. Aksi-aksi ini disebut-sebut sebagai demonstrasi terbesar rakyat Yunani sejak gerakan menentang rezim militer pada 1973.

Gerakan ini kemudian semakin hebat. Massa melakukan pendudukan atas Syntagma Square (pusat kota di Atena). Modus ini—model politik pendudukan—yang kemudian turut menginspirasi munculnya gerakan Occupy Wall Street di Amerika Serikat, dan kemudian menjalar ke seluruh dunia. Ledakan sosial tersebut dipicu oleh tindakan Pemerintah Yunani yang melakukan pemotongan belanja publik dan menaikkan pajak sebagai respons pasokan bail-out sebesar 110 miliar euro. Lagi-lagi untuk menambal utang luar negeri Yunani.

Gerakan ini bersifat spontan, horisontal (tanpa pemimpin), demokratis, dan partisipatoris. Pada awal 2011, aksi-aksi diorganisir melalui alat-alat dan metode baru yang lebih horisontal dan partisipatif, yakni melalui media sosial. Metode ini semakin menarik dukungan gerakan sosial yang lebih luas. Tidak heran jika di puncak aksi rakyat pada tahun 2011, gerakan ini dijuluki sebagai “Aksi Bulan Mei Facebook”.[2]

Aksi-aksi politik dimulai dengan inisiatif aktif rakyat untuk menolak utang, menolak pengetatan ekonomi, isu pelanggaran HAM dan masalah perburuhan. Semakin banyak yang terlibat semakin luas pula isu yang diangkat. Isu yang diangkat menjadi sangat plural.

Kampanye aksi-aksi langsung, blokade rumah-rumah politisi dll., berhasil membuat ketidakpercayaan rakyat terhadap Negara dan Pemerintahan Yunani semakin kuat.

Di dalam situasi ini; kondisi politik dan ekonomi yang kacau, ditambah dengan kekuatan rakyat, ada seribu satu potensi untuk berubah menuju bentuk-bentuk alternatif. Berbicara mengenai perubahan sosial tentu parameternya adalah pergolakan di level akar rumput. Saya pikir hampir semua penganjur perubahan sosial bersepakat soal ini.

Nah, dalam kisah negeri para filsuf ini, tetiba datanglah Syriza. Sebuah partai baru (yang berakar pada pembangunan blok kiri pada tahun 2004) yang mengklaim dirinya kiri dan memadukan wajah-wajah politisi muda dengan janji-janji populis. Mereka berhasil mendapatkan simpati rakyat luas. Buktinya mereka mendapatkan posisi mayoritas di parlemen dan menempatkan ketuanya, Alexis Tsipras sebagai Perdana Menteri Yunani sejak awal 2015.

Lewat fenomena Syriza kita diperlihatkan dua tren politik kaum kiri saat ini: kekuasaan tanpa mengubah vs kekuasaan yang mengubah. Tren pertama, mayoritas diusung kalangan Marxis dari semua spektrum terutama Sosialis, Leninis, Maois, Trotkyis, yang masih terus menerus terhipnotis oleh kekuasaan Negara. Sedang tren kedua adalah golongan warna-warni yang terdiri dari kalangan Marxis, Sosialis, Anarkis. Golongan terakhir ini pernah terinspirasi Maois, Trotkyis, Sosialis Libertarian, yang akhirnya memutuskan untuk membuang racun otoritarian dan mencampurkannya ke dalam anarkisme, seperti EZLN atau Gerakan Zapatista, Partai Pekerja Kurdistan (PKK), dan berbagai gerakan internasionalisme lainnya. Singkat kata ada dua tendensi kiri yang kini kembali muncul yakni, kiri otoritarian bernegara dan kiri anti-otoritarian tanpa negara.

Kembali ke Syriza. Sebenarnya ada banyak pertanyaan bagi kelompok ini. Apa sesungguhnya guna kekuasaaan Negara, jika tolok ukur perubahan berada di akar rumput? Bahkan Karl Marx ingin mewujudkan masyarakat tanpa kelas, bukan negara tanpa kelas.

Pertanyaan kedua yang lebih jauh lagi adalah apa yang sudah diperbuat Syriza dengan kekuasaan negara yang dipegangnya saat ini? Apakah kebijakan yang diambil akan semakin melegakan rakyat atau justru semakin menyengsarakan?

Sejak awal keriuhan kemenangan Syriza, kalangan kiri seolah lupa—atau pura-pura lupa. Apa yang dilakukan partai (kiri) setelah berhasil menguasai pemerintah dan Negara? Cina, Korea Utara, Laos, Vietnam, Srilanka, Kuba?[3]

Populisme Kiri, Neo-Sosial Demokrat

Strategi merebut kekuasaan Negara bukanlah sesuatu yang fenomenal. Syriza, Podemos di Spanyol, Corby dan tetek bengeknya, bukanlah gejala politik baru. Kaum kiri sudah melompat ke politik kekuasaan sejak 150 tahun yang lalu. Masih jelas diingatan soal komplain kaum komunis/sosialis terhadap kaum sosial-demokrat di Jerman yang ramai-ramai nyemplung ke kancah parlementer dan hingga akhirnya meraih kekuasaan di berbagai negeri di Eropa. Kemudian mereka mulai sibuk mengkotbahkan soal reformasi ketimbang revolusi sosial. Fenomena ini kemudian redup, saat rezim-rezim sosial-demokrat kemudian hancur-remuk tanpa daya menghadapi geliat rezim-rezim kapitalis swasta fasis serta kalah jualan dari rezim kapitalis negara seperti Uni Soviet dan segala turunannnya (yang juga fasis!).

Partai Bolshevik adalah hasil perpecahan dari gerakan sosial-demokrat Rusia. Banyak kalangan kiri melihat bahwa Bolshevik sesungguhnya adalah gerakan dosial-demokrat yang kemudian harus menyesuaikan diri dengan kondisi Rusia. Sosial-demokrat versi Eropa Barat ataupun Rusia, dalam kenyataannya, paling banter hanya membawa reformasi dan kemajuan kapitalisme di dalam masyarakat, dan bukan revolusi. Contoh nyata lainnya adalah Cina, yang saat ini menjadi penyelamat dan ujung tombak kapitalisme.

Hal ini sebenarnya tidak berbeda jauh dari pembangkangan kalangan Marxis melalui partai-partai sosial-demokrat pada awal abad ke-19. Kaum sosial-demokrat atau Internasionale II, yang dihina-hina oleh banyak kalangan kiri radikal, nyatanya menghasilkan sumbangsih cukup besar di dunia ini, praktis dan nyata. Selain memapankan sistem kapitalisme liberal, mereka juga membawa banyak reformasi ekonomi, sosial dan ekologi yang bermanfaat, sebanding dengan manfaat tingginya jaminan sosial, pendidikan, kesehatan, dsb., di negeri-negeri Skandinavia.

Apakah tendensi-tendensi masuk-ke-lingkar-kekuasaan ini serupa dengan kaum sosial-demokrat? Apakah praktik-praktik ini meyakinkan kaum Leninis bahwa sosial demokrat lebih praktis, praksis, berdampak? Apa yang menjadi pembeda? Entahlah.

Era 90-an yang ditandai tumbangnya Uni Soviet menjadi awal kisah-kisah gerakan reformasi kiri ke arah populisme dan kekuasaan negara kembali membuncah. Kalangan kiri dipenuhi antusiasme yang lekat. Lihat saja gerakan Communista Refondazione di Italia [4], kritik diri Partai Komunis Filipina (Communist Party of Philipines) hingga pecahannya yang cukup sukses merebut remah-remah di parlemen, Akbayan dan Bayan Muna.[5]

Kaum Leninis dan kekuasaan selalu menjadi kisah yang mengharu-biru. Seakan-akan membutuhkan revolusi sosial, namun sebenarnya kekuasaan negara-lah tujuannya. Dianggap menjijikan namun sering dipuja sebagai aksi jenius.

Pada 2000-an awal, terjadi sebuah gelombang yang disebut Pink Tide atau Turn to the Left di Amerika Latin.[6] Era ini menandai gelombang pasang politik Amerika Selatan ke kutub kiri. Penyebabnya bisa ditebak: liberalisasi dan pengetatan IMF di wilayah itu sejak 1980-an. Namun gejala yang selalu berulang adalah, alih-alih semakin radikal, justru malah bergerak ke politik tengah (Centrism). Entah terkait atau tidak, kecendrungan ini menguat sejak kematian Hugo Chavez.

Gerakan Otonom vs Pemerintahan Kiri

Lalu apakah saya akan membiarkan para pembaca tersedak-sedak di gurun sepi, kering tanpa harapan dan inspirasi? Tentu saja tidak. Syriza bukanlah anak tunggal hasil persetubuhan gerakan rakyat dengan kondisi kekinian masyarakat Yunani—jika tidak dibilang anak hasil rekayasa. Ada kelompok lain yang tidak terbuai populisme Syriza dan bersiap memaksimalkan ruang politik di tingkatan akar rumput—bukan di tingkat elit kekuasaan politik.

Hanya dalam waktu beberapa minggu setelah kemenangan Syriza pada awal 2015, kalangan kiri radikal Yunani semakin memperkuat aksi jalanan dan aksi-aksi langsungnya.[7] Kelompok ini, Alpha-Kappa, salah satu gerakan anti-otoritarian yang cukup besar di Yunani, justru mendorong perebutan ruang politik yang tercipta akibat euforia Syriza ini.[8]

Kelompok ini menganggap Syriza telah melampaui mandat awal gerakan rakyat. Syriza telah menggiring agenda ke arah kekuasaan tanpa mengubah hal-hal mendasar yang menjadi mandat, maupun hal-hal yang dijanjikan dengan terang benderang kepada para pemilihnya. Sekali lagi, ini hanyabussiness as usual di dalam mekanisme pemilu, sesuatu yang tidak diharapkan datang dari gerakan kiri radikal potensial seperti Syriza. Walau demikian Syriza berhasil menghipnotis kaum kiri internasional, tidak terkecuali kaum kiri di Indonesia, seperti para penulis-aktivis di IndoProgress. Kita masih ingat kegetolan para penulis-aktivis kiri di sini mengglorifikasi Syriza.[9] Kaum kiri di sini lupa menganalisis dan menggali apa sesungguhnya penyebab kemenangan Syriza.[10]

Rasa frustrasi, dan pragmatisme, juga rasa pasrah, semua ini tidak akan pernah mendekatkan kita kepada pembebasan. Pragmatismelah yang menaikkan partai Nazi ke puncak kekuasaan di Jerman. Bukan asal menang, tapi apakah kemenangan itu membawa kita lebih dekat kepada kebebasan, kemerdekaan dan rasa percaya diri rakyat sehingga menjadi lebih aktif? Pasalnya gerakan politik perwakilan selalu hanya membuat rakyat menjadi pasif menunggu nasib.

Syriza menjanjikan kemandirian dari bantuan Uni Eropa, sehingga ekonomi Yunani kembali berjalan. Tetapi yang terjadi di belakang meja lagi-lagi konsesi yang merugikan rakyat.

Di atas segalanya, pertanyaannya kemudian bukan sekedar apa manfaat ekonomisnya, melainkan apakah rakyat semakin dekat dengan kebebasannya, kemandiriannya, termasuk kemandirian dari ketergantungan dan kepercayaan bahwa nasibnya akan diubah oleh partai dan para pemimpin nun jauh di sana?

Lalu What is to be Done? dan bagaimanakah kondisi perlawanan rakyat di Yunani kini?

[bersambung]

Bagian sebelumnya – Menjelaskan Yunani: Catatan Mengenai Krisis dan Peran Organisasi Kiri (Bag. 1)

Catatan:

[1] Lirik lagu Sosial Sosial – Pengkhianat https://www.youtube.com/watch?v=5W3Yg0kSkNg

[2] Data lebih lengkap soal kronologis dan keterangan detil aksi-aksi di tahun 2010-2011, lihat https://en.wikipedia.org/wiki/Anti-austerity_movement_in_Greece

[3] Daftar Negara yang hingga saat ini dikuasai kaum kiri Leninis, lihat: https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_socialist_states

[4] Dua pecahan Partai Komunis Filipina (CPP), yakni Partai Akbayan dan Bayan Muna, saat ini aktif di parlemen http://www.philstar.com/opinion/2012-10-30/861559/

[5] Partai Komunis di Italia ini pernah jadi perbincangan di awal tahun 1990-an dan menjadi pintu bagi diskusi pembangunan blok kiri di Indonesia. https://en.wikipedia.org/wiki/Communist_Refoundation_Party

[6] Lebih lanjut tentang Pink Tide lihat: https://en.wikipedia.org/wiki/Pink_tide atau http://www.globalresearch.ca/the-pink-tide-in-latin-america-an-alliance-between-local-capital-and-socialism/5333782

[7] Aksi-aksi melawan polisi dan aparat pemerintah di bawah Syriza berlangsung beberapa minggu setelah kemenangan di awal 2015. http://www.businessinsider.co.id/greeces-far-left-is-already-rioting-protesting-against-syriza-2015-2/#.VWQ7DXMU6kp

[8] Kaum kiri radikal mulai mengkonsepkan perlawanan dengan merebut ruang-ruang yang tersedia karena politik perwakilan Syriza. http://roarmag.org/2015/04/syriza-greece-left-movements/?utm_source=feedburner&utm_medium=email&utm_campaign=Feed%3A+roarmag+%28ROAR+Magazine%29

[9] Salah satu tulisan bernada eforia dari salah satu media kiri di Indonesia, IndoProgress. http://indoprogress.com/2015/01/berani-berjuang-berani-menang-belajar-dari-kemenangan-elektoral-partai-kiri-radikal-syriza-di-yunani/

[10] Semacam Vox pop dari pemilih dan mengapa memilih partai Syriza. http://www.theguardian.com/world/2015/jan/26/why-greece-voted-for-syriza-alexis-tsipras

 

You may also like...

Leave a Reply