Pertautan antara Islam dan Anarkisme: Sebuah Pengantar (Bag. 1)

“Bagi mereka yang menjadikan orang lain di sisi Allah sebagai Awliya [penjaga, pendukung, pembantu, pelindung, dsb.], [meskipun] Allah adalah Hafiz [pelindung] bagi mereka, dan kamu [hai Muhammad] bukanlah Wakil [penjaga atau penentu atas urusan mereka] atau atas mereka.”

– al-Qur’an, surat 42 ayat 6.

“Telah diturunkan kitab suci di mana setiap manusia harus patuh dan taat kepadanya [pemimpin].. seolah kepatuhan terhadap pemerintah merupakan wahyu ilahi yang tidak bisa diubah atau ditentang.”

– Ibnu Khaldun, “Dynasties, Royal Authority, the Caliphate, Government Ranks and All That Goes With These Things,” 124.

Pengantar

Sejak kemunculan islam dan wafatnya Nabi Muhammad SAW, pertanyaan mengenai otoritas yang sesuai dengan ajaran Islam masih menjadi kontroversi. Sementara kekuasaan Tuhan atas bumi tak terbantahkan, para khalifah sejak zaman nabi sampai hari ini mengambil klaim tersebut untuk memandu dan melindungi kepentingannya. Namun, seperti kutipan di atas menyebutkan, masih terdapat pertentangan abadi mengenai otoritarianisme dan politik praktis sebagaimana tertera dalam ajaran tersebut (skriptual). Apakah dominasi politik merupakan hal yang wajar dalam ajaran Islam, atau hanya merupakan suatu penafsiran manusia yang bersifat antitesis dari firman Allah?

Pemeritahan otoriter melandaskan kepemimpinannya dengan mengacu pada lembaran manuskrip yang tersebar sejak munculnya Islam, dan menyingkirkan setiap orang yang mempertanyakan otoritas tersebut. Walhasil, sejumlah pihak berupaya membangun Islam yang anarkis atau egaliter, meninggalkan lubang hitam dalam teologi Islam dan sejarah politiknya. Selain itu, ada kelangkaan kajian akademis dalam bidang ini. Sebagian besar teolog Islam telah merumuskan aturan yang dianggap tepat, tetapi hanya sedikit pihak yang mempertanyakan soal landasan awal perumusan aturan atau kaidah tersebut. Sekaranglah saatnya untuk menelaah hubungan antara anarkisme dan Islam; apakah konsep-konsep tersebut sesuai atau sebaliknya?

Islam bukan satu-satunya arena tempat otoritarianisme digugat. Dominasi dan kekuasaan telah menyebabkan ketimpangan, baik secara historis maupun kontemporer. Saluran komunikasi dan perjalanan antarnegara telah membuka jalan bagi kemanusiaan untuk mengonsepsikan dirinya sebagai suatu entitas.

Kita semakin sadar akan banyaknya ketimpangan dan perlunya egalitarianisme, seperti misalnya penegakan hak asasi manusia. Oleh karenanya, filsafat politis egalitarian seperti anarkisme menjadi semakin populer; anarkisme bisa menjadi sebuah solusi atas berbagai bentuk penindasan. Islam sendiri termasuk yang mengusung nilai-nilai tersebut. Islam muncul sebagai respons atas “perjuangan sosial” dan sebagai jawaban atasnya, “[Islam] sejak awal mengikhtiarkan untuk menghapuskan segala sistem dan pemerintahan yang aturannya dibuat oleh manusia untuk manusia lainnya serta penghambaan manusia terhadap manusia lainnya” (Qutb, 2008: 37). Lalu mengapa kesesuaian antara Islam dan anarkisme jarang diperhatikan?

Alih-alih meringkas kajian islam dan anarkisme yang sudah ada, saya memilih untuk melihat persinggungan antara keduanya dari perspektif sosiologis, politis, historis dan teologis. Saya berpendapat bahwa islam dan anarkisme memiliki kecocokan satu sama lain, namun perkawinan keduanya mensyaratkan paradigma baru—yang lebih moderat—baik dalam islam maupun anarkisme.

Mendefinisikan Anarki dan Islam

Sebelum saya membahas persinggungan antara islam dan anarkisme, saya perlu secara singkat mengontekskan dua konsep kunci tersebut dalam artikel ini.

Islam adalah agama yang muncul pada abad ke-7 saat Allah menurunkan Kitab Suci al-Qur’an kepada Nabi Muhammad, seorang pemuda yang hidup di wilayah Hijaz, Semenanjung Arab. Dalam praktik keagamaanya, landasan utama Islam adalah kitab suci Al-Quran, yang merupakan wahyu dari Allah, serta segala perkataan dan tindakan rasul (hadits) dan tradisi yang diwariskan oleh rasul dan para pengikutnya (sunnah). Dengan demikian, praktik otoritas dalam Islam tidak hanya mengacu pada ayat-ayat al-Qur’an, namun juga pada tradisi masyarakat Muslim. Oleh karenanya, pembahasan mengenai islam dan anarkisme memerlukan sebuah pendekatan holistik yang mengacu pada kitab, sejarah kaum Muslim, berbagai manifestasi Islam serta interpretasi dari para teolog.

Perlu diingat bahwa Islam tidaklah stagnan; seperti halnya agama lain, Islam selalu mengalami penafsiran ulang. Seorang akademisi kajian anarkis-islam, Mohamed Jean Veneuse bertanya, “Beraninya kita melupakan bahwa ada serangkaian tradisi, cara pandang dan wacana kultural yang begitu prularistis yang muncul dari peradaban masyarakat Islam?” (2009: 253). Sementara kaum islam normatif menjauhkan diri dari anarkisme, Veneuse mengingatkan kita bahwa, dengan adanya pluralitas dalam islam, maka pengkajian yang pluralistis juga diperlukan.

Meskipun kajian teologis yang membahas topik ini sangat langka, anarkisme sudah selayaknya menjadi bagian dari tradisi (kajian) islam layaknya konsep politik yang lain. Banyak pihak yang mempertimbangkan kemungkinan akan konsep anarkis-islam dikucilkan oleh kelompok dominan yang mengklaim tafsir monolitis untuk diri atau kelompoknya sendiri.

Para penguasa memiliki kekuasaan untuk mendefinisikan agama normatif dan menjadikannya sebagai tradisi yang tak terbantahkan. Begitulah cara mereka untuk mempertahankan kekuasaan: mereka mengecam siapa saja yang mempertanyakan kekuasaan mereka dan kemudian menyingkirkannya.

Ahmet Karamustafa menegaskan bahwa, “tidak ada… yang marjinal dalam sejarah agama” (1994: 102). Gerakan-gerakan marjinal tersebut, seperti dituliskan Karamustafa, tidak lebih hanyalah bagian dari islam sebagai suatu gerakan populer. Secara historis, anarkisme masih berada di pinggiran konsep besar islam; dalam artikel ini, saya mencoba menariknya dengan sedikit lebih jelas.

Di satu sisi, anarkisme merupakan sebuah filsafat politik yang menuntut penghapusan kekuasaan atau otoritas. Anarkisme melandaskan dirinya pada prinsip-prinsip anti-pemerintah dan menjunjung egalitarianisme. Dalam pengambilan keputusan, anarkisme melandaskan diri pada konsensus dan pembagian kerja yang menjaga kesetaraan penuh antara semua anggota komunitas. Pada umumnya, kaum anarkis menolak agama monoteis dengan menyepadankan otoritas Tuhan terhadap manusia dengan pemerintahan yang otoriter. Mereka menolak segala bentuk dominasi, baik dari manusia maupun yang bersifat ketuhanan, serta menjunjung kebebasan setiap individu. Oleh karena itu, sebagian besar kaum anarkis mengabaikan kemungkinan adanya islam-anarkis, kristen-anarkis, atau yahudi-anarkis: namun demikian, belakangan para akademisi mulai menegosiasikan kembali relasi antara anarkisme dan agama monoteis.

Perdebatan di kalangan kaum anarkis telah menghasilkan beberapa peta pemikiran. Pertama, anarkisme dipahami sebagai upaya individu maupun kolektif. Kaum anarkis-individual menentang otoritas orang lain atas diri mereka, namun mereka tidak selalu berhasrat membangun sebuah masyarakat yang sungguh-sungguh anarkis. Di lain sisi, para anarkis-kolektif bersikeras untuk bisa mewujudkan sebuah masyarakat anarkis, dan bahkan rela melupakan kebebasan pribadi mereka selama proses penciptaan cita-cita utopis ini. Perdebatan kedua berkaitan dengan marjinalisasi gerakan anarkis. Teoretikus seperti Hakim Bey (Peter Lamborn Wilson) menegaskan bahwa anarkisme harus tetap menjadi gerakan marjinal, jika tidak anarkisme akan rusak oleh popularitas (1993: 26).

Di sisi lain, seperti Noam Chomsky menilai bahwa dengan meningkatkan penetrasi anarkisme, wacana tersebut diharapkan menjadi pondasi filsafat politik bagi masyarakat egaliter suatu hari nanti (1973). Yang terakhir, para teoretikus membedakan antara anarki sosial dan politik. Anarki sosial merupakan ketiadaan hierarki sosial, yang dicirikan dengan adanya kesetaraan antarsesama tanpa memandang ras, gender, kelas atau bentuk pelabelan lainnya, sedangkan anarki politik merupakan ketiadaan otoritas, namun belum tentu tidak ada hierarki sosial. Pembedaan antara anarki politik dan sosial dapat dipahami melalui lensa sufisme (tasawuf).

Sufisme merupakan aliran dalam Islam yang mengedepankan kebersatuan diri (communion) dengan Tuhan; hal tersebut merupakan contoh gerakan anarkis sosial. Meskipun demikian, sufisme tidak selalu tidak bersinggungan dengan hierarki politik, seperti tampak pada hubungan gerakan ini dengan berbagai negara dan kerajaan, dan struktur politik internalnya ditandai dengan Tariqahs, atau sekolah, pembelajaran sufi. Di samping itu, terdapat beberapa gerakan sufi radikal seperti Qalandar yang menolak otoritas politik maupun sosial. Pembagian ini—individual dan kolektif, marjinal dan populer, atau sosial dan politik—merupakan instrumen konseptual yang penting untuk memahami nuansa anarki. Saya akan kembali menggunakan pembagian ini dalam pembahasan mengenai gerakan-gerakan anarkis, dan tentu saja hal tersebut akan menjadi instrumen penting untuk mengembangkan paradigma baru tentang anarki-islam.

[bersambung]


Penulis adalah mahasiswa antropologi di NYU Abu Dhabi

Sambungan artikel ini akan dimuat di situs web ini setiap hari Jumat selama beberapa pekan ke depan.

You may also like...

7 Responses

  1. Rudalriot says:

    Agama Islam sudah sempurna, tidak boleh ditambah dan dikurangi. Kewajiban umat Islam adalah ittiba’.

    Allah Azza wa Jalla berfirman:

    الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

    “… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” [Al-Maa-idah: 3]

    Ideilogi islam tidak hanya berkonsentrasi dalam aturan hubungan antara “hamba dan Allah swt” saja.
    islam juga mengatur hubungan antar “manusia ke manusia lainya”, mengatur bagai mana cara “mengelolah suberdaya alam”, dan dalam “hal kepemimpinan”.

    Itu artinya islam tidak butuh pencampuran agama/ideologi Anarkisme yang tidak sempurna.

    jika di buat lingkaran islam adalah lingkaran yang sempurna.
    sedangkan anarkisme adalah setengah bulatan alis tidak sempurna, kana tidak sempurna para pemikir anarkisme mencoba menyatukan dengan idologi/agama yang mengatur dalam segi antar “hamba dan tuhanya”.
    karna ideologi/anarkisme tidak memiliki hal itu.

    kesimpulanya :
    ideologi/Agama Anarkisme adalah ideologi/Agama “CACAT”.

    • anarkistobat says:

      benar! tulisan ini membahas Islam hanya mengambil dalil sebagian tapi menutup mata dengan dalil-dalil lainnya. Banyak punya distorsi sejarah islam dalam tulisan ini. Menggabung-gabungkan Islam dengan Anarkisme adalah kekonyolan yang nyata.

  2. MartoArt says:

    Tulisan ini tak begitu bagus, tapi komen Rudalriot lebih buruk lagi. Sebuah komentar yg kental suasana fasistis, dengan kalimat yang bersifat menutup diskusi, dominatif, dan menampilkan wajah islam yang sesungguhnya.

    Saya juga tak sepakat dengan Anarkisme-Islam ataupun agama lain, tapi alasannya bukan sebagaimana Rudalriot sampaikan. Alasan saya bahwa Anarkisme-agama (apapun) adalah sebuah bentuk oxymoron. Dua hal yang menyatukannya tidaklah mungkin, melainkan hanya romantisme para pemeluk agama yg rindu anarkisme saja.

    • anarkistobat says:

      kenapa selalu menuduh fasis untuk orang muslim yang berusaha memegang teguh kemurnian keimanannya? Memang nggak ada diskusi baru dalam prinsip-prinsip ajaran Islam. Karena prinsip2 ajaran Islam sudah fix sejak berakhirnya wahyu. Nggak akan ada modifikasi apapun dalam prinsip2 Islam sampai kiamat kelak.

  3. Islamisme says:

    Setuju dengan komentarmu,Rudalriot! Kesejahteraan dan keadilan serta equality (kesetaraan) dalam Islam lebih jelas,sempurna, teratur,dan terbukti telah berhasil diterapkan.Daripada bualan omong kosong Anarkisme/sosialisme libertarian/apalahh….yang saat ini masih menjadi misteri mengatasnamakan “anti-hirarki/otoritarian”.Sebuah ide pembodohan yang berujung pada perpecahan umat manusia yang semula ber-idealisme TAUHID.

  4. apalahapalah says:

    berdebat mengenai tulisan “pengantar” ..

    mantabbb, yang penting komen baca mah belakangan ..

  1. 26 February 2016

    […] Bagian 1: Pertautan antara Islam dan Anarkisme: Sebuah Pengantar […]

Leave a Reply