Ronny Agustinus: “Anarkisme bukan sikap ugal-ugalan. Secara teoritis kokoh”

Reading Time: 5 minutes

1Ronny Agustinus adalah salah seorang sosok penting di balik Marjin Kiri, penerbit yang kerap menghadirkan bacaan-bacaan kritis ke hadapan kita. Selain sebagai motor penggerak Marjin Kiri, Ronny juga memperlihatkan kedekatan-kedekatan personalnya dengan wacana Anarkisme. Salah satu pengejawantahannya adalah melalui penerbitan buku Seri Mengkaji Anarkisme. Di tengah kesalahkaprahan awam—disengaja maupun tidak—terhadap anarkisme, dengan buku, Ronny dan Marjin Kiri seakan berupaya untuk menangkis kesalahkaprahan-kesalahkaprahan tersebut. Melalui buku, Ronny juga menaruh harapan-harapannya terkait masa depan Anarkisme di Indonesia.

29 Oktober lalu, tim anarkis.org berkesempatan mewawancarainya usai acara bedah buku “Di Bawah Tiga Bendera” karangan Benedict Anderson di Yogyakarta. Banyak hal yang dibicarakan, di antaranya soal wacana Anarkisme, Marjin Kiri, dan Ronny Agustinus sendiri sebagai manusia politik. Berikut petikan wawancaranya:

Sejak kapan Anda mengenal Anarkisme?

Dulu saya baca apa saja. Saya baca Marx, terus ini (Anarkisme-red). Dulu juga tidak bisa membedakan, pokoknya semua saya lahap. Tapi lama kelamaan mulai kelihatan alurnya. Ini bedanya ini, pemikirannya begini begini. Menurut saya, Anarkisme menawarkan fleksibilitas atau kemungkinan-kemungkinan kreatif yang lebih menarik daripada komunisme. Tetapi tetap tujuan-tujuan Komunisme, Sosialisme, Marxisme itu menjadi yang utama. Karena beberapa aliran Anarkisme terlalu menitikberatkan pada pembebasan personal atau pembebasan kejiwaan dari kekangan dan sebagainya, tapi agak melupakan pembebasan ekonomi bersama.

Tadi Anda mengatakan bahwa Anarkisme menawarkan fleksibilitas. Bisa dijelaskan?

Di dalam bukunya Ben (Anderson) ini (Di Bawah Tiga Bendera-red), misalnya, dalam ranah seni, hasil karya seniman-seniman anarkis lebih menarik untuk dilihat maupun dinikmati daripada yang komunis, apalagi di era Stalin. Pelukis impresionis abad ke-19 itu banyak yang anarkis, seperti Pissarro, dsb. Beberapa Veneon yang diulas cukup banyak di buku itu, dia nyaris serba bisa; kritikus seni, drama, dsb. Itu anarkis juga.

Kapan tepatnya Anda mulai berkenalan dengan ideologi-ideologi politik seperti Marxisme, dsb.?

Saya mulai membaca-baca buku-buku (mengenai ideologi politik) itu ketika SMA sampai akhir kuliah, sekitar tahun ‘94-’95.

Anda memiliki ketertarikan terhadap sastra dan peropolitikan Amerika Latin. Apakah ada kaitannya dengan wacana pergerakan di sana, atau alasan lain?

Awalnya dari sastra. Saya sudah pernah menjelaskan ini di beberapa wawancara lain. Saya sangat terkesan dengan novel Gabriel Garcia Marquez yang judulnya jika diterjemahkan menjadi “Tumbangnya Sang Diktator” (El Otono del Patriarca/ The Autumn of the Patriarch). Itu adalah eksperimen bentuk sekaligus eksperimen politik yang sangat luar biasa. Novel tersebut terbit tahun ’94-an kalau tidak salah. Membacanya dalam konteks Orde Baru waktu itu benar-benar inspiratif. Karena dia bukan propaganda. Dia benar-benar karya sastra yang bereksperimen dengan bentuk. Satu kalimat panjangnya bisa sampai satu halaman, dua halaman. Tetapi dia juga membedah realita sosial kediktatoran dengan sangat luar biasa. Nah, impresinya atau dampaknya ke pembaca itu menurut aku lebih awet daripada karya yang hanya propaganda. Edisi bahasa Indonesia-nya dipengantari oleh Romo Mangun (YB. Mangunwijaya-red). Dia menulis di situ bahwa Amerika Latin masih merupakan tanah tak dikenal bagi pembaca di Indonesia. Dari situ saya kemudian mencari yang lain. Dan akhirnya saya menemukan bahwa sastra dan politik mereka tidak terceraikan. Karya satra di sana sangat sastrawi sekaligus sangat politis. Sangat politis.

Lalu soal Marjin Kiri yang Anda nahkodai, kenapa Marjin Kiri tertarik untuk menerbitkan buku-buku bertema anarkisme?

Saya ingin membawanya ke pembaca yang sedikit mainstream. Maksudnya masuk ke toko-toko buku. Tidak ada yang salah dengan zine-zine yang selama ini diterbitkan oleh kelompok-kelompok anarkis, tapi untuk menjangkau pembaca umum, ke dunia akademis, misalnya, itu sulit. Untuk digunakan sebagai rujukan juga mungkin akan tidak disetujui. Saya ingin membawa sesuatu yang serius, bisa diperdebatkan secara akademis, bisa jadi rujukan sekaligus memperkenalkan sesuatu yang baru bahwa anarkisme ini bukan sikap ugal-ugalan. Secara teoritis kokoh. Ada segudang filsuf yang punya pemikiran tentang ini dan latar belakang sejarah yang panjang. Jadi tidak bisa disepelekan.

Sejauh ini, Marjin Kiri sudah menerbitkan tiga buku tentang Anarkisme. Nah, terkait dengan pemilihan judul, apa yang mendasarinya? Ketertarikan atau relevansi?

Relevansi dengan situasi itu penting untuk mengukur kontribusi bukunya nanti. Selain laku atau tidak, dibaca atau tidak, tentu harus ada sumbangan ke pemikiran berikutnya. Kalau di Marjin Kiri, kami punya tim pembaca, jadi tidak semuanya berdasarkan selera saya. Ada beberapa yang saya minati tapi tidak disetujui tim karena terlalu spesifik. Yang sekarang sedang digarap adalah The Art of Not Being Governed karangan James Scott, tentang sejarah anarkis di desa-desa Asia Tenggara. Menurut saya, (kajian) ini penting.

Selain alasan menjangkau kalangan mainstream dan akademis, kenapa memilih media buku sebagai medium penyebaran ide-ide Anarkisme. Kenapa tidak melalui blog atau website?

Ada banyak hal. Pertama, yang jelas, mau dipandang bagaimana pun kami respect soal copyright. Marjin Kiri selalu mengurus copyright atas buku-buku (yang diterbitkan). Kami tidak pernah menerbitkan (buku) sembarangan. Kedua, ada keyakinan kami, mungkin karena pengurusnya juga bukan generasi milenial, bahwa buku cetak akan tetap dibutuhkan dan dibaca. Beberapa kecenderungan mutakhir juga membenarkan itu. Dua tahun terakhir, penjualan e-book di dunia merosot. Orang-orang kembali ke buku cetak dan ada riset terbaru yang menunjukan bahwa generasi yang lahir paling muda, yang lahir di tengah-tengah internet dan sebagainya, justru merasa informasi yang terpenting tidak bisa didapatkan di internet. Mereka malah kembali ke buku. Internet itu untuk fun saja. Mereka merasa untuk hal-hal yang benar-benar penting tidak akan bisa ditemukan di internet. Itu cukup mengagetkan juga.

Jadi Anda melihat media buku lebih efektif untuk menyebarkan ide-ide Anarkisme ke masyarakat?

Kalau dibilang efektif mungkin tidak ya. Buku juga tidak pernah efektif menyebarkan (wacana) ke masyarakat. Tapi untuk konteks Indonesia, kalau kita tidak punya penerbit yang serius menekuni hal seperti ini, (dunia) perbukuan kita akan diisi dengan apa?

Apa ekspektasi Anda dan Marjin Kiri dengan menerbitkan buku-buku yang memperluas wacana Kiri?

Kalau untuk jangka agak panjang, ekspektasi saya adalah TAP MPRS (mengenai) pelarangan komunisme itu dicabut.[1] Itu jelas. Tapi itu akan sangat kontroversial. Maka dari itu, sekarang pelan-pelan (wacana kiri) dimasukkan ke dunia akademis (agar) tidak lagi canggung, tidak lagi tabu. Setidaknya begitu. Kalau ada dosen-dosen progresif dan kritis, 20 orang saja, mungkin akan menghasilkan generasi baru mahasiswa yang juga progresif dan kritis. Jadi ya memang harus pelan-pelan sekali menurut saya. Sampai saat ini, masih ada dosen-dosen yang melarang mahasiswanya pake teori Marxis. Tidak masuk akal. Tapi kalau kita bisa membuat teori-teori ini dipandang serius dan diperhitungkan, harapannya nanti itu akan mempengaruhi kebijakan ekonomi politik kita. Tidak hanya satu sisi aja, tidak hanya (perspektif) pasar saja.

Saat ini semakin banyak gerakan-gerakan global yang bisa dikatakan bercorak anarkis. Sebut saja Rojava, Occupy Movement, dsb. Menurut Anda, bagaimana proyeksi gerakan-gerakan anarkis global ke depan?

Saya pikir seiring makin intensifnya kapitalisme, perlawanannya juga akan semakin intensif. Meskipun efektifitasnya masih bisa dipertanyakan, tapi paling tidak ada dua yang sudah efektif berjalan, dalam masa damai maupun masa perang. Misalnya di Kobane, dan di satu lagi, desa di Spanyol yang saya lupa namanya, yang kepala desanya komunis tapi dikelola secara anarkis, secara swakelola.[2]

Dunia tengah melihat kebangkitan ke gerakan-gerakan anarkis, seperti di Kobane (Rojava), apakah menurut Anda gerakan-gerakan seperti itu akan memicu gerakan anarkis yang lebih besar?

Situasi Kobane sekarang, meskipun masih jauh, tapi mirip situasi di Spanyol pada tahun ’30-an; ada brigade-brigade internasional yang membantu, dsb. Saya pikir itu solidaritas global yang dalam beberapa tahun terakhir baru ada. Maksudnya secara militer. Tapi bagaimanapun juga, tetap terikat dengan kondisi politiknya. Di sana ada Partai Kurdi juga, ada macam-macam. Dan Partai Kurdi itu juga kiri. Mungkin nanti negosiasinya akan (berada) di politik riil. Maksudnya apakah daerah itu bisa jadi daerah otonom atau tidak. Meskipun akan sulit, siapapun yang menang.

Sebagai penutup, bagaimana Anda melihat gerakan sosial, khususnya gerakan Anarkisme, di Indonesia?

Untuk konteks Indonesia, gerakan sosial dan gerakan yang disebut oleh para ahli sebagai new social movement itu memang banyak diwarnai oleh semangat anarkis. Lebih mandiri dalam kelompok-kelompok yang lebih kecil dan tidak tersentralisasi. Seperti apa yang terjadi sekarang, perlawanan di Urut Sewu dan di mana-mana cenderung seperti itu. Tetapi kekuatan massanya tidak akan besar. Untuk melakukan eksperimen-eksperimen (sosial) seperti di Eropa agak sulit. Bagaimanapun Anarkisme itu dekat dengan Marxisme, dalam semangat dan sebagainya. Pelarangan Marxisme dan gerakan kritis selama ini berpengaruh terhadap bagaimana orang umum menyikapi anarkisme.

Sebenarnya saya tidak begitu tahu dan tidak begitu bergaul dengan gerakan anarkis di sini. Dan beberapa yang serius saya pikir juga tidak terlalu mengekspos dirinya. Tetapi peledakan ATM beberapa tahun yang lalu itu, kalau kita baca statement-nya, jelas mereka sadar akan internasionalisme. Ada kaitan-kaitannya. Mungkin ada baiknya juga tidak terlalu jadi semacam jaringan. Maksud saya, tidak secara terbuka memproklamirkan jaringan kelompok-kelompok anarkis. Mungkin baiknya tetap bekerja klandenstin, secara sendiri-sendiri. Kalau ter-blow up takutnya akan gugur sebelum waktunya. Gampang jadi sasaran tembak.[]

Catatan akhir:

[1] TAP MPRS XXV/1966 tentang pelarangan ideologi Komunisme, Marxisme-Leninisme.

[2] Desa yang dimaksud adalah Marinaleda, kota kecil di sebelah timur Sevilla [-red].

You may also like...

2 Responses

  1. Antonio Belo says:

    Ditunggu PDF The Art of Not Being Governed karangan James Scott.

  1. 22 February 2017

    […] Walau anarkisme di Indonesia tercatat mulai tumbuh menjelang runtuhnya Orde Baru seiring populernya musik punk rock, sayap politik bawah semakin berkembang pula-pula akhir-akhir ini. Hal ini ditunjukan dengan maraknya diskusi dan aksi, serta kelompok kolektif-kolektif dengan nafas anarkisme di berbagai kota di Indonesia. Perkembangan ini, oleh Ronny Agustinus dari penerbit Marjin Kiri, disebut perlu diringi dengan pengoreksian pemahaman tentang anarkisme. Marjin Kiri beberapa tahun belakangan menerbitkan seri ‘Mengkaji Anarkisme’, untuk membawa anarkisme kepada pembaca umum yang lebih luas di Indonesia, bahwa anarkisme adalah pemikiran sosial dengan bangunan teoritis yang tidak main-main dan tidak kalah koko…. […]

Leave a Reply