Krisis Gerakan Ekologi

Esai ini pertama kali terbit dalam publikasi berkala Green Perspective di Burlington, pada Mei 1988. Secara khusus, esai ini adalah bentuk serangan Murray Bookchin terhadap pengaruh teori Ekologi Dalam (deep ecology) yang mendominasi gerakan lingkungan di Amerika pada waktu itu. Ekologi Dalam terlalu memusingkan permasalahan populasi penduduk dan agrikultur, bukannya kapitalisme, sebagai akar utama yang mendasari berbagai permasalahan ekologi dan sosial yang lebih luas. Pada titik yang lebih ekstrim, pandangan yang mengarah kepada primitifisme dan upaya untuk merubah cara pandang antroposentrisme ke cara pandang yang lebih menghargai bumi, ekosentrisme-biosentrisme, dianggap tidak mampu untuk menyelesaikan permasalahan. Padahal menurut Bookchin, dominasi manusia terhadap alam berangkat dari dominasi yang sangat nyata dari manusia terhadap sesama manusia. Ekologi Dalam dianggap terlalu mengenyampingkan manusia dan dimensi sosial, inilah yang coba ia lengkapi sebagai inti tandingan dari Ekologi Sosial (social ecology). Tulisan ini diterjemahkan oleh Bima Satria Putra.

***

GERAKAN ekologi di Amerika –dan khususnya gerakan Hijau Amerika- saat ini sedang menghadapi krisis arah dan kesadaran yang serius.

Akankah kelompok yang berorientasi ekologis dan kelompok Hijau akan menjadi gerakan yang melihat bahwa akar dari diskolasi ekologis kita dalam dislokasi sosial –terutama, dalam dominasi manusia terhadap manusia yang mana memproduksi gagasan yang sangat mendominasi alam?erakan ekologi di Amerika –dan khususnya gerakan Hijau Amerika- saat ini sedang menghadapi krisis arah dan kesadaran yang serius.

Atau akankah kelompok ekologi dan gerakan Hijau mengubah seluruh gerakan ekologi menjadi agama berkelip-kelip bintang yang didekorasi dengan dewa-dewi, peri-peri hutan dan diorganisir dengan ritual yang memabukkan, yang mereduksi kelompok aktivis militan menjadi pertemuan kelompok yang memanjakan diri sendiri?

Dua alternatif yang sangat bertentangan ini sangat nyata. Ketika kita mencoba membedakannya, muncul tuduhan seperti “perpecahan” dan “konfrontasi,” yang menggunakan nada sinis yang berlebihan yang mengaburkan perbedaan pandangan yang signifikan dan mencegah eksplorasi suatu permasalahan yang serius dengan hati-hati. Teriakan palsu seperti “Bersatulah!” sering digunakan untuk membungkam satu ‘sudut pandang demi kepentingan yang lain.’ Kita tentu bisa memiliki persatuan -dan diskusi, jika anda mau- terlepas dari perbedaan besar antara keduanya. Retorika “Zaman Baru” justru sebaliknya, inilah bentuk demokrasi itu.

Kenyataannya, pertumbuhan riil justru terjadi persis ketika orang memiliki pandangan yang berbeda dan saling berhadapan untuk secara kreatif mencapai tingkat kebenaran yang lebih tinggi -tidak mengadopsi denominator gagasan umum yang rendah yang “dapat diterima” untuk semua orang namun sebenarnya tidak memuaskan siapa pun kelak. Kebenaran dicapai melalui dialog dan, ya, perselisihan yang keras -bukan dengan homogenitas yang mematikan dan keheningan suram yang akhirnya mengubah “gagasan” hambar menjadi dogma kaku.

Perbedaan Dasar

Mari kita menghadapinya: ada perselisihan besar dalam gerakan Hijau dan ekologi hari ini. Ini adalah perselisihan antara Ekologi Sosial dan Ekologi Dalam. Yang pertama adalah kumpulan gagasan yang meminta agar kita berurusan dengan manusia terutama sebagai makhluk sosial yang sangat beragam mengenai status mereka sebagai orang miskin dan kaya, wanita dan pria, hitam dan putih, gay dan straight, atau tertindas dan penindas. Sementara yang kedua, melihat manusia sebagai “spesies” belaka –seperti halnya mamalia dan, bagi beberapa orang seperti pemimpin Earth First!* yang melihat manusia sebagai makhluk yang “kejam”- yang sepenuhnya tunduk pada “kekuatan alam” dan pada dasarnya dapat ditukar dengan makhluk pengerat, beruang grizzly (spesies favorit!) atau dalam hal ini, dengan serangga, bakteri, dan virus.

Ini filsafat yang samar-samar, tidak lapang, dan membawa masalah jangka panjang yang harus diperdebatkan oleh sarjana modern. Mereka mendukung perbedaan yang sangat praktis. Pandangan sosial tentang kemanusiaan, yaitu Ekologi Sosial, fokus terutama pada kebangkitan historis hirarki dan kebutuhan untuk menghilangkan hubungan hirarkis. Ekologi sosial menekankan tuntutan yang adil dari orang-orang yang tertindas dalam masyarakat yang dengan sembarangan mengeksploitasi manusia, dan hal itu menuntut kebebasan mereka. Mengeksplorasi kemungkinan atau teknologi baru dan sensibilitas baru, termasuk bentuk penalaran yang lebih organik, akan menyelaraskan hubungan kita dengan alam dan bukannya mempertentangkan masyarakat ke alam. Hal ini menuntut perubahan kelem-bagaan secara meluas yang akan menghapuskan masyarakat pasar dengan “tumbuh-mati” yang kompetitif –atau sejujurnya yang disebut kapitalisme, bukan kata-kata netral yang aman secara politis dan sosial seperti masyarakat “industri,” “teknologi,” atau “pasca industri”- dan menggantinya dengan masyarakat yang berorientasi ekologis berdasarkan komunitas bebas, yang terkoordinasi, bertingkat secara manusiawi di mana orang akan memiliki kontrol langsung dan tatap muka atas kehidupan pribadi dan sosial mereka.

Sebaliknya, “Ekologi Dalam” pada dasarnya mengabaikan perbedaan sosial yang mendalam yang membedakan manusia dari manusia dan antara miskin dan kaya, perempuan dan laki-laki, kulit hitam dan putih, antara gay dan yang straight, tertindas dan yang menindas, menjadi suatu benjolan biologis yang disebut “kemanusiaan” yang mana, mungkin, miskin secara spiritual, antroposentrik, atau hanya berorientasi manusia yang dalam “keyakinannya” percaya bahwa dunia “dibuat” (oleh siapa? -Tuhan yang jahat?) secara eksklusif untuk kesenangan manusia, dan berakhir secara humanistik (apa pun artinya kata itu belakangan ini). Seperti disuarakan oleh Bill Devall dan George Sessions dalam kitab mereka, Deep Ecology, pergeseran dari pandangan dasar secara spiritual sebenarnya mengarah pada sisi langkah-langkah sosial (terlepas dari “tradisi minoritas” yang mendaur ulang karya-karya besar Peter Kropotkin, anarkis Rusia, menjadi beberapa slogan stiker bumper mobil) dan kemudian membawa selir lengkapnya ke Buddhisme, Taoisme, “tradisi Kristen,” “mempertanyakan teknologi,” “politik hijau” –dan yang sangat signifikan, malthusianisme.

Kekuatan penting ekonomi yang membagi begitu banyak umat manusia menjadi pengeksploitasi dan tereksploitasi digantikan oleh “pandangan dunia” yang bertentangan. Orang-orang yang benar-benar pembangkang seperti komunis otoritarian, Woody Guthrie, digabungkan dengan anarkis libertarian seperti Paul Goodman. “Perkembangan ekonomi pasar” dan “dampak bangkitnya kapitalisme” mendapat sedikit perhatian. Mereka disebutkan satu kali, hanya selintas, sebagai isu yang menarik “beberapa sejarawan dan ilmuwan sosial untuk menjelaskan asal-usul dan perkembangan pandangan dunia yang dominan.” “Tujuan kami di sini bukanlah untuk secara ekstensif meninjau asal dan perkembangan pandangan dunia yang dominan,” tulis para penulis Deep Ecology, Devall and Sessions, dalam apa yang dapat dianggap sebagai salah satu pernyataan utama dari buku ini, “tapi untuk mengeksplorasi secara umum (pandangan dunia) terhadap masyarakat saat ini dan pendekatan kita terhadap realitas tertinggi (metafisika), pengetahuan (epistemologi), terhadap insan (ontologi), kosmos (kosmologi) dan terhadap organisasi sosial.”[1]

Ternyata, pembaca dapat menenemukan pemujaan yang serius kepada Thomas Malthus untuk analisis masalah sosial saat ini (yaitu, “masalah populasi”), yang merupakan dampak dari “masyarakat teknologi” sebagai sumber keterasingan pribadi, “intuisi dasar dan pengalaman diri kita dan alam” sebagai “fondasi Ekologi Dalam,” dan “realisasi ‘diri-dalam diri’, di mana ‘diri’ melawan keutuhan organik secara keseluruhan” sebagai beberapa dosis gabungan metafisik dan epistemologi. Gagasan bahwa “semua hal di biosfer memiliki hak yang sama untuk hidup dan berkembang dan untuk mencapai bentuk individual mereka sendiri di dalam realisasi diri yang lebih besar,” adalah isu yang menyilaukan yang kemudian menghasilkan diskusi serius dalam New Scientist untuk hak “virus yang terancam punah” seperti virus cacar, untuk tetap ada dan berkembang. Semua ini disajikan dalam bentuk metafora yang membangkitkan rasa mual pada pembaca yang memikirkannya. Beberapa isu sosial yang melibatkan Ekologi Dalam mulai suram menjadi para gembel yang pergi ke alam liar, mengkritik konservasi sumber daya alam, dan penemuan brilian kembali bahwa pertanian organik itu baik dan kehidupan kota itu buruk. Selain serangkaian omong kosong, yang kita butuhkan selain berkomunikasi dengan alam dan melarutkan “diri” kita yang merepotkan alam ke dalam keutuhan organik kosmik, Devall dan Sessions menekankan untuk mengubah “lawan kita menjadi orang beriman.” Singkatnya, kita memerlukan sentuhan pribadi: festival kehangatan, ritual, dan sedikit takaran agama yang baik untuk mencoba melalui dunia politik.

Ekonomi pasar yang didasarkan pada anjing-makan-anjing sebagai hukum kelangsungan hidup dan “kemajuan” yang telah merambah setiap aspek masyarakat, tidak menjadi perhatian dalam kumpulan senyuman dan pionisme sastra yang memanjakan diri sendiri ini. Pada saat “diri” dilarutkan dengan cepat oleh media massa, kita didesak untuk melanjutkan proses ini dengan melarutkan semua batasan yang mendefinisikan kita -ini, atas nama “Diri” kosmik yang tampaknya lebih bersifat supranatural daripada natural.

Logika “Ekologi Dalam”

Belakangan ini kita rasakan sendiri dampak dari kebiasan buruk kita. Kita makan “makanan cepat saji,” menggigit “gagasan cepat saji,” memindai “headline cepat saji,” dan membeli obat mujarab dalam bentuk pil yang mudah ditelan. Kebutuhan untuk memikirkan logika dalam premis tertentu hampir asing sama sekali dalam “Jalan Amerika” pada akhir abad ke-20. Ekologi Dalam yang dikembangkan oleh Devall and Sessions dan “gerakan” yang telah mereka luncurkan di bawah ikon kepimpinanan Arne Næss* pun memberikan apa yang benar-benar dibutuhkan untuk menidurkan kita ke dalam penerimaan “ekologi yang cepat saji” pula.

Bagaimanapun juga, kita tidak bisa mengatakan “A” tanpa harus melewati “B”, atau “B” menjadi “C” sampai kita mencapai “Z.” Dan ada gerakan “dalam” atau “ekologi yang lebih dalam” di mana Devall adalah anggotanya, menjadi salah satu pendiri publikasi berkala yang disebut sebagai Earth First! yang mana Devall menjadi editor dan Sessions sebagai kontributor yang berharga. Jika ada sesuatu yang menarik tentang Earth First! sebagai gerakan dan terutama sebagai publikasi berkala, inilah fakta bahwa publikasi berkala tersebut beralih dari “A” menjadi “Z” dan menarik semua kesimpulan logis dari Ekologi Dalam, kesimpulan yang sering dikubur oleh Devall dan Sessions dengan metafora, sutra, pengusiran yang puitis, dan pretensi.

Kata “Earth First!” memiliki arti secara literal dan apa yang tersirat dari “Ekologi Dalam,” yaitu bahwa “bumi” ada di atas kepentingan orang-orang, memang, orang-orang (seperti dikatakan oleh editor berkala David Foreman), sama sekali tidak berguna, bahkan mungkin berbahaya, dan tentu saja dapat dibuang begitu saja. “Hukum alam” cenderung menggantikan faktor-faktor sosial. Jadi: apakah ada kelaparan di Ethiopia? Jika demikian, kata Foreman kepada seorang Devall yang mengagumkan dalam sebuah wawancara yang terkenal, alam seharusnya diijinkan untuk “mengikuti jalannya” dan orang Etiopia harus dibiarkan kelaparan. Apakah orang Latin (dan mungkin saya bisa tambahkan orang Indian) menyeberangi Rio Grande? Foreman berpendapat bahwa mereka harus dihentikan atau dihabiskan karena mereka membebani sumber daya “kita.” Devall, yang rupanya mencatat pandangan emas ini, tidak mengungkapkan sepatah kata pun protes atau bahkan perbedaan pendapat. Tidak ada kecaman yang diketahui, sejauh yang saya tahu, termasuk dari Sessions.

Mengingat keasyikan Devall dan Sessions dengan kebutuhan akan budaya ekologis (atau agama?), budaya apa yang harus kita lindungi, tanya Ed Abbey, salah satu Paus teoritis Earth First! itu? Abbey mengatakan bahwa ternyata masyarakat kita telah dibentuk oleh “budaya Eropa utara,” -atau haruskah kita mengatakan “Arya”? Oleh karena itu, dalam pendapat ini ada alasan “budaya” yang mungkin terdengar -sebuah ungkapan bahwa beberapa orang mungkin menafsirkannya sebagai “rasial”- untuk mencegah orang Latin mencemari budaya dan institusi “kita” dengan atribut hirarkis mereka. “Apakah itu merupakan ‘litmus test’ tentang kepatuhan kita terhadap Earth First!” tanya Foreman. Ini adalah pertanyaan tentang “pertumbuhan penduduk,” anda lihat sendiri, bukan kapitalisme dan pasar yang kompetitif. Tak seorang pun di antara kelompok itu, sepengetahuan saya, memperhatikan bahwa jika populasi dunia dikurangi menjadi 500 juta (seperti yang disarankan oleh Næss untuk desideratum demografis) atau bahkan 5 juta saja, sebuah sistem ekonomi yang didasarkan pada persaingan dan akumulasi yang mana gagal untuk “tumbuh” adalah hukuman kematian ekonomi di pasar yang pastinya akan melahap biosfer, terlepas dari apa yang orang butuhkan, jumlah yang mereka capai, atau niat yang memotivasi mereka. Padahal kapitalisme Amerika telah menyapu bersih sekitar 40 juta banteng, menghancurkan hutan yang luas, dan menghabiskan jutaan hektar tanah sebelum populasinya melebihi 100 juta.

Jika ekonomi pasar “tumbuh-atau-mati” secara inheren tidak dapat memproduksi mobil, maka ia akan memproduksi tank. Jika tidak dapat memproduksi pakaian, maka ia akan menghasilkan rudal. Jika tidak dapat memproduksi set televisi, maka ia akan memproduksi sistem panduan radar. “Ekologi Dalam,” dengan busurnya Malthus, sama sekali tidak menyadari prinsip-prinsip ekonomi yang sudah hampir klasik ini. Fokus Ekologi Dalam hampir sepenuhnya perihal zoologi dan citra manusia, tentu saja, dari masyarakat yang sangat mengakar dalam “kekuatan alami” daripada kecenderungan sosial. Secara karakteristik, Ekologi Dalam berbicara tentang “masyarakat teknologi” atau “masyarakat industri” dan bukan kapitalisme, sepotong jahitan verbal yang secara cerdik menyembunyikan hubungan sosial yang memainkan peran menentukan dalam perkembangan teknologi dan industri masyarakat dan penggunaannya yang telah mereka tentukan.

Teknologi itu sendiri tidak menghasilkan dislokasi antara masyarakat anti-ekologi dan alam, walaupun pasti ada teknologi yang, dalam dirinya sendiri, memang berbahaya bagi ekosistem. Teknologi apa yang pada hakikatnya memperbesar permasalahan dasar sosial? Berbicara tentang “masyarakat teknologi” atau “masyarakat industri”, seperti Devall, Sessions, dan Earth First! secara terus-menerus lakukan adalah dengan membuang tekanan kosmik atas undang-undang ekonomi yang memandu ekspansi modal yang dikembangkan Marx dengan sangat pesat dalam tulisan ekonominya, dan menggantikan faktor ekonomi dengan metafora zoologi. Inilah letak karakter Ekologi Dalam yang sangat regresif, Earth First! dan akolitik religiusnya seperti Charlene Spretnak, Kirkpatrick Sale, dan kepala popok yang melayang di antara Hollywood dan Disneyland, yang memang mengancam dapat menghapus setiap poin radikalisme dalam sebuah gerakan yang potensial, setidaknya, sebagai salah satu yang paling radikal muncul sejak 1960’an. Jika “lubang” terbesar dalam gerakan Hijau adalah sebuah kebutuhan akan “agama yang berkelanjutan” seperti yang diyakini Spretnak, maka kita telah menciptakan donat, bukannya gerakan.

Kemanusiaan yang Mempesona

Di balik bayang-bayang keraguan, kita benar-benar membutuhkan kepekaan ekologis -yang ditandai oleh rasa heran akan evolusi alam dan kemegahan biosfer dalam beragam bentuknya. Tapi alam bukanlah lanskap pemandangan yang menghadap ke pegunungan dan pesisir Pasifik atau rawa-rawa New England. Alam berada di atas semua proses -sebuah proses menakjubkan yang dapat dikagumi dengan persyaratannya sendiri, bukan dengan memuja dewa-dewa yang sebetulnya merupakan proyeksi antropomorfis diri kita sendiri (baik pria atau wanita) secara mistis, yang seringkali tidak rasional dan terkadang dalam bentuk yang sangat hirarkis -sebuah prosedur yang telah melayani kepentingan hirarkis selama ribuan milenium dengan membiarkan orang-orang yang tertindas menjadi diam terlumpuhkan dan dipenuhi rasa untuk ingin melarikan diri.

Sebuah produk yang luar biasa dari evolusi alam adalah manusia yang menghuni planet ini -makhluk yang merupakan produk alam yang tidak kurang berharganya daripada beruang grizzly dan paus. Dan seperti beruang dan paus, spesies manusia -karena dari sudut pandang Ekologi Sosial tidak kurang berharganya seperti spesies lain apabila dilihat dari sudut pandang biologis ketimbang sosial- telah memperoleh kapasitas luar biasa yang disebut pemikiran konseptual. Dalam hal ini, evolusi alami telah menganugerahi spesies ini dengan kekuatan yang tak ada bandingannya dengan spesies lain: kekuatan untuk membentuk komunitas yang sangat dilembagakan yang disebut masyarakat. Tidak seperti “serangga sosial” yang diprogram secara genetis, manusia mampu melakukan pengembangan evolusioner mereka sendiri, sebagaimana ia telah memungkinkan berakar di alam.

Pertanyaan penting yang kita hadapi saat ini -tidak hanya untuk diri kita sendiri sebagai manusia tapi juga untuk seluruh biosfer- adalah bagaimana evolusi sosial akan berlanjut dan ke arah mana ia akan pergi. Untuk mengatasi pertanyaan ini terutama sebagai masalah pembaharuan spiritual, yang mungkin diinginkan seperti mungkin, tidak hanya mengelak, namun secara sosial juga melucuti. Evolusi sosial telah berubah sejak beberapa abad yang lalu ketika beralih dari institusi dan hubungan egalitarian ke hubungan yang hirarkis. Dibutuhkan belokan yang lebih buruk lagi beberapa abad yang lalu ketika bergeser dari masyarakat yang relatif kooperatif ke tingkat yang sangat kompetitif. Jika kita ingin membawa masyarakat dan alam sesuai dengan satu sama lain, kita harus mengembangkan sebuah gerakan yang memenuhi potensi evolusioner umat manusia dan masyarakat, artinya, mengubah dunia manusia menjadi agen sadar alam dunia dan meningkatkan proses evolusi -alam dan sosial. Semua omong kosong dari Devall, Sessions, Naess, dan akolit* mereka di atas, jika kita tidak melakukan intervensi secara kreatif pada alam (memang, untuk menyelamatkannya dari dirinya sendiri kadang-kadang), kita akan mengkhianati segala sesuatu dari karakter positif bahwa evolusi alami itu sendiri memberi kita kekayaan kapasitas pikiran, simpati, dan kesadaran kita yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk peduli terhadap spesies yang non-manusia. Dengan adanya masyarakat ekologi, teknologi kita dapat ditempatkan sebagai layanan evolusi alami karena dapat digunakan untuk melakukan evolusi sosial yang rasional.

Meminta untuk “kembali ke zaman Pleistosen,” seperti Earth First! telah serukan, untuk merendahkan kemanusiaan karena begitu banyak misantropis “anti-humanis” dan “biosentrisitas” yang telah dilakukannya, tidak hanya bersifat atavistik* tetapi juga reaksioner. Manusia yang terdegradasi hanya akan menghasilkan sifat yang terdegradasi seperti yang masyarakat kapitalistik dan sejarah hirarkis kita telah banyak tunjukkan. Kita sangat membutuhkan tidak hanya “mementingkan kembali dunia” dan “alam” tapi juga manusia yang mempesona -memberi rasa kagum atas kemampuannya sendiri sebagai makhluk alami dan peduli atas produk evolusi alam. Supernatural, yang dihuni oleh para dewa “berbasis bumi,” harus digantikan oleh naturalisme yang sehat di mana, sebagai sebuah gerakan, kita akan membangun kembali ikatan kita yang terputus dengan alam dengan cara-cara naturalistik dan menyembuhkan masyarakat kita yang sangat terluka dengan cara-cara sosial. Bagi para kelompok Hijau khususnya, hal ini berarti bahwa kita harus merumuskan politik revolusioner yang baru dan independen, menggunakan kata ini dalam arti seluas mungkin, tidak mendaur ulang dewa-dewi tua, kurban yang kering, sedatif –entah apakah mereka dari Timur atau Barat, Kafir atau Kristen, “terikat dengan Bumi” atau “terikat dengan surga”. Kita harus belajar untuk melihat kenyataan secara langsung di wajah kita, tidak mengaburkannya dengan pemikiran irasional dan kabut mitos yang lebat dan obskurantis.

Jaringan Kiri Vermont Hijau telah mengambil langkah penting untuk mencoba merumuskan program yang benar-benar radikal –“Menuju Politik Baru”- yang membuat sketsa konsep dasar gerakan ekologi Kiri Hijau. Ini secara terbuka menggambarkan dirinya sebagai “humanisme ekologis” (untuk menggunakan istilah ini dalam pengertian terbaiknya, bukan makna sesat yang diberikan pada kata “humanisme” oleh Ekologi Dalam). Dan itu memajukan prinsip-prinsip dasar Ekologi Sosial seperti mereka berlaku pada kehidupan politik Amerika. Entah apakah gerakan ekologi dan Hijau akan membebaskan diri dari “sentrisitas” hirarkis “bio” atau “antropo” -dan mengembangkan badan prinsip sosial yang jelas dan koheren berdasarkan konsep ekologi atau mereka akan menjadi kelompok terpinggirkan dari kelompok pertemuan istimewa -yang mungkin belajar untuk “berpikir seperti gunung,” seperti yang disarankan oleh Devall. Tapi seseorang yang akan diabaikan dengan tidak adil seperti keisengan-keisengan yang lain, mereka hanya menjadi sasaran cemoohan, atau yang agak baik, menjadi bahan ejekan saja.

* Catatan penerjemah: Earth First! adalah kelompok ekologi radikal di Amerika Serikat. Pada mulanya mereka berangkat dari latar belakang pemikiran yang beragam, khususnya Ekologi Dalam sejak 1980’an. Namun pada akhirnya, sejak 1990’an sebagian besar dari mereka terpengaruh gagasan anarkisme. Earth First! sering mengadakan aksi langsung dalam upaya perlindungan lingkungan, seperti sabotase, blokade dan arson (membakar) hingga aksi langsung non-kekerasan seperti tree sitting (memanjat pohon yang hendak ditebang). Beberapa dari mereka kemudian membentuk Animal Liberation Front (ALF), sebuah kelompok ekologi radikal yang lebih militan lagi, termasuk dengan penggunaan kekerasan dan senjata.

[1] Bill Deval & George Sessions, Deep Ecology (Salt Lake City: Peregrine Smith, 1985) hal 45.

* Penulis Norwegia yang pertamakali mencetuskan istilah ‘Ekologi Dalam’ dalam makalahnya  –penerjemah.

* Semacam pelayan gereja atau pengabdi keagamaan –penerjemah.

* Berhubungan dengan atau yang dapat dikarakteristikan dengan mengembalikan segala sesuatu yang purba atau nenek moyang -penerjemah.

Print Friendly, PDF & Email

You may also like...

Leave a Reply