Tahun Baru Pengungsi di Kediaman Kaum Anarkis

2

 

Athena, Yunani: Pendudukan Paksa Bangunan untuk Pengungsi, Notara 26.

Dari Exarchia Kepada Para Pengungsi dan Migran,

Sebagai kawan dalam solidaritas (Yunani dan non-Yunani), kami memahami krisis imigrasi dan pengungsi, berempati dengan kesulitan dan masalah yang telah kamu lalui sampai kamu tiba di sini, dan kami menghargai kebutuhanmu secara serius.

Kami mengkritik dan menolak kebijakan anti-imigrasi yang tidak manusiawi dan tidak adil – praktik yang dilakukan negara Yunani dan Uni Eropa.

Untuk itu, kami berinisiatif untuk menempati bangunan publik di Notara 26 ini dan membuat fasilitas tempat tinggal yang terbuka, swakelola dan saling mendukung tanpa berhasrat untuk menggantikan negara dan tanpa berhasrat menjadi dermawan yang “murah hati”.

Sebaliknya, tujuan kami adalah untuk menunjukkan ketidakpedulian dan kemunafikan Yunani dan otoritas Eropa dengan berdiri di sisimu, dan secara aktif mengekspresikan solidaritas kami melalui operasi pendudukan bangunan ini, sekalipun tempatnya masih terbatas.

Bangunan yang diduduki paksa ini berfungsi sebagai tempat tinggal sementara bagi pengungsi dan migran tanpa memandang ras, asal, agama, gender dan seksualitas.

Karena bangunan ini merupakan tempat tinggal swakelola, operasinya yang tepat didasarkan pada partisipasi para tamu yang menempatinya: dengan kata lain, ‘Kamu’. Setiap orang, tergantung pada kemampuannya, bisa dan harus berpartisipasi dalam pengelolaan dan pemeliharaan tempat ini.

Kami menyambutmu di ruang yang merupakan milikmu sebagai pengungsi dan milik kami sebagai kawanmu dalam solidaritas. Tempat ini tidak memiliki hubungan dengan LSM manapun dan tidak mempunyai hubungan pendanaan dengan negara Yunani dan Uni Eropa. Sebaliknya, ini semua dibangun dengan kontribusi dan partisipasi kita semua. Sekalipun sumber daya kami sangat sedikit, kami bertujuan untuk mencukupi semua kebutuhanmu yang mendesak, semampu yang kami bisa.

Dalam solidaritas dengan satu sama lain dan dengan keputusan dan tindakan kolektif, kami akan mencoba untuk mengubah ruang ini menjadi pengalaman tempat tinggal yang berbeda dari semua tempat tinggal lain yang telah kamu alami sepanjang perjalananmu sebagai pengungsi: kami akan membuat ruang ini lebih ramah, lebih terbuka dan lebih aman untuk kamu semua.

– Hidup berdampingan dengan orang lain dan menghormati keberagaman adalah norma solidaritas.

– Kebersihan adalah tanggung jawab individu masing-masing dan setiap orang.

SOLIDARITAS ADALAH SENJATA RAKYAT!


 

Athena, Yunani – Saat ini adalah Tahun Baru: Saat tengah malam tiba, kamar besar di lantai dasar bangunan para squatter[1] di Notara 26 penuh dengan para pengungsi. Tak ada kembang api, namun ada setitik kebahagiaan di ruang tersebut.

Mehdi[2] tampak di tengah keramaian. Tak ada senyum di wajahnya. Pikirannya berkelana jauh bersama keluarganya. Istri, anak perempuan dan laki-lakinya berhasil masuk ke Macedonia 10 hari lalu dan sekarang berada di Jerman. Dia dikirimkan kembali ke Athena.

Saat batas-batas negara ditutup bagi para pengungsi non-Suriah, Irak atau Afghanistan, pengungsi yang lain terjebak di Yunani.

Kaum “yang tak diinginkan” ini memenuhi kamp-kamp transit tersebut, Victoria Square dan tempat-tempat lain di Athena.

Di Exarchia, lingkungan penuh graffiti yang dijuluki oleh orang setempat sebagai republik merdeka di dalam ibukota Yunani, kaum anarkis menduduki secara paksa sebuah bangunan yang dulunya merupakan kantor pajak pemerintah.

Mereka menyebut tempat ini “Notara”. Ia berada di Jalan Notara dan telah menjadi rumah bagi sejumlah pengungsi di kota tersebut. Banyak dari pengungsi tersebut merupakan orang Iran, Aljazair atau Maroko. Beberapa pengungsi yang mengalami kendala dengan dokumennya atau sedang menanti kiriman uang dari rumah juga menemukan tempat tinggal di sini.

Harapan terakhir Mehdi untuk bersatu kembali dengan keluarganya disandarkannya pada para penyelundup pengungsi dan orang-orang yang menjual dokumen-dokumen non-resmi beridentitas Afghanistan di Victoria Square. Setelah keluarganya pergi, dia mencoba lagi untuk menyeberangi batas negara tersebut namun gagal. Tetapi dia belum menyerah dan akan mencoba lagi. Di Iran, tempat asalnya, dia terancam masuk penjara akibat memasang piringan satelit. Dia tidak dapat kembali namun juga tidak dapat pergi.

 

3154e3aa9e794b989552a997be3ee0fd_6

Anak-anak tengah bermain di salah satu ruang di Jalan Notara 26, Athena, bangunan yang sebelumnya merupakan kantor pajak pemerintah dan kini menjadi rumah bagi para pengungsi yang terjebak di Yunani.

 

 

2

Spanduk besar terpampang di muka bangunan yang dulunya merupakan kantor pajak pemerintah. Spanduk tersebut menawarkan tempat tinggal di bangunan yang kini diduduki paksa dan diambil alih oleh para squatter anarkis.

 

3

Mohammad (42) menimang anaknya di kamar mereka di Notara. Dia, istri dan dua anaknya sedang menanti kiriman uang dari rumah untuk melanjutkan perjalanannya ke Jerman.

 

4

Seorang pengungsi Maroko sedang tidur di salah satu asrama di bangunan Notara.

 

5

Para relawan asal Yunani dan negara lain memasak secara bergantian untuk memberi makan mereka yang tinggal di Notara, serta pengungsi lain yang tinggal di Victoria Square.

 

6

Hadis (6) dari Iran datang ke Yunani dengan ayahnya satu bulan lalu. Mereka mengetahui tempat di Notara ini satu minggu lalu dari seorang kawannya asal Iran yang telah lama tinggal di Athena.

 

7

Behnam (20), kiri, bermain bola di ruang utama di lantai dasar Notara. “Jika saya tidak dapat melanjutkan perjalanan dan harus kembali ke Iran, saya akan gantung diri,” katanya.

 

Gambar-gambar yang dipajang di bangunan yang diduduki paksa di jalan Notara ini.

Gambar-gambar yang dipajang di bangunan yang diduduki paksa di jalan Notara ini.

 

9

Seorang anak kecil tengah tidur di salah satu kamar di bangunan Notara. Kantor pajak pemerintah ini telah diduduki paksa dan diubah menjadi asrama bagi para pengungsi.

 

Hadis (6) menyisiri rambut ayahnya. Orang tua tunggal ini, Iman (31), lari dari Iran karena dia dan anaknya beragama Kristen. Saat batas-batas negara ditutup, dia mencari pengungsian di Yunani namun mungkin dalam beberapa tahun dia akan pindah ke Findlandia, tempat saudara perempuannya tinggal.

Hadis (6) menyisiri rambut ayahnya. Orang tua tunggal ini, Iman (31), lari dari Iran karena dia dan anaknya beragama Kristen. Saat batas-batas negara ditutup, dia mencari pengungsian di Yunani namun mungkin dalam beberapa tahun dia akan pindah ke Findlandia, tempat saudara perempuannya tinggal.

 

Seorang pengungsi menghangatkan diri saat malam Tahun Baru di salah satu ruang utama di bangunan Notara.

Seorang pengungsi menghangatkan diri saat malam Tahun Baru di salah satu ruang utama di bangunan Notara.

 

Para pengungsi Maroko bersiap keluar dan melihat perayaan Tahun Baru di Victoria Square di Athena.

Para pengungsi Maroko bersiap keluar dan melihat perayaan Tahun Baru di Victoria Square di Athena.

 

13

Pengungsi Iran terbawa suasana pesta dengan menyimak musik tarian Persia yang diputar di YouTube selama Tahun Baru.

 

Nabi Ab Almazi, dari Aljazair, diserang oleh lima orang di Yunani. Riwayat medisnya, yang diterbitkan di Idomeni, menyatakan ‘Riwayat: dipukuli oleh “ekstrimis”, lupa detail kejadiannya.”

Nabi Ab Almazi, dari Aljazair, diserang oleh lima orang di Yunani. Riwayat medisnya, yang diterbitkan di Idomeni, menyatakan ‘Riwayat: dipukuli oleh “ekstrimis”, lupa detail kejadiannya.”

 

Pengungsi di Victoria Square sedang menikmati sup masakan para relawan selama malam Tahun Baru.

Pengungsi di Victoria Square sedang menikmati sup masakan para relawan selama malam Tahun Baru.

 

16

Pengungsi asal Aljazair sedang tidur di Notara di hari pertama tahun 2016. Katanya, para penyelundup meminta bayaran 1.000 euro (setara Rp. 15.083.860) untuk memasukkannya ke Perancis, tujuan yang diinginkannya.


 

[1] Squatter adalah para pelaku squatting, pendudukan bangunan atau wilayah yang biasanya sudah ditinggalkan dan tidak dipakai lagi, dan yang ditujukan untuk melawan peraturan dan hukum yang berdasarkan pada kepemilikan pribadi atas properti (bangunan, kantor, rumah, tanah), dan untuk menyediakan tempat tinggal yang dimiliki dan dikelola secara kolektif. Squatting sangat erat dengan aksi langsung kaum anarkis yang memandang aksi tersebut sebagai sebuah bentuk pernyataan dan tangapan langsung atas sistem kepemilikan pribadi yang menyebabkan banyaknya area dan bangunan yang tidak dipakai sekalipun banyak orang tidak memiliki tempat tinggal.

[2] Nama asli Mehdi disamarkan untuk melindungi identitasnya.


Terjemahan oleh Yab Sarpote, dengan tambahan sedikit keterangan, dari foto esei karya Ioana Moldovan “A refugee New Year in a Greek anarchist shelter” di http://www.aljazeera.com/indepth/inpictures/2016/01/refugee-year-greek-anarchist-shelter-160106093252497, dan surat sambutan kaum anarkis di Exarchia kepada pengungsi dan migran di http://www.anarkismo.net/article/28583.

You may also like...

Leave a Reply