Sindikalis dalam Revolusi Rusia (Bag. 2)

Reading Time: 7 minutes

Firefox_Screenshot_2016-04-29T04-49-37.116Z

Setelah Oktober 1917

Bagaimana posisi para anarkis berubah bersama dengan kemenangan revolusi Oktober, dalam persiapan dan perwujudannya dimana mereka telah mengambil bagian yang sangat menonjol? Perlu diingat bahwa selama periode pemerintahan Kerensky kaum anarkis tumbuh dengan pesat dan mendekati momen Oktober itu pergerakan mereka dapat diasumsikan cukup besar. Pertumbuhan ini bahkan jauh lebih pesat setelah revolusi Oktober, ketika para anarkis mengambil peranan aktif dalam perjuangan secara langsung menentang kaum kontra-revolusi dan pasukan Jerman-Austria. Tidak hanya karena suara para anarkis memegang kendali, tetapi massa sesungguhnya mengikuti seruan dan arahan para Anarkis, mempertemukan berbagai aspirasi-aspirasi mereka yang lama terkubur dalam satu formulasi kongkret. Karena itulah massa memberi dukungan terhadap seruan-seruan para anarko-sindikalis, menjalankannya dengan sungguh-sungguh di tengah cengkraman Bolshevik yang melumpuhkan, yang saat itu belum terlalu kuat.

Di bawah pengaruh propaganda anarko-sindikalis, bermunculan pula proses mensosialkan perumahan secara spontan di Petrograd melalui Komite-komite Perumahan. Hal ini meluas ke seluruh jalanan, memunculkan komite-komite jalanan dan kompleks/blok, saat seluruh kompleks/blok tertarik masuk ke dalamnya. Hal tersebut menyebar pula ke kota-kota lain. Di Kronstadt hal semacam itu bahkan telah bermunculan lebih dulu dibanding di Petrograd dan bahkan dengan intensitas jauh lebih tinggi. Jika di Petrograd dan kota-kota lain, perumahan disosialkan hanya setelah kemenangan Revolusi Oktober, di Kronstadt langkah yang sama telah diambil jauh lebih dulu. Di bawah pengaruh Yartchuk, yang menikmati popularitas di kota itu, dan di tengah penolakan dari kaum Bolshevik, langkah ini dijalankan dengan terorganisir oleh para pekerja revolusioner dan pelaut di seluruh penjuru kota. Faksi Bolshevik meninggalkan pembahasan tersebut saat Soviet Kronstadt tengah bersidang untuk memprotes proses mensosialkan perumahan.

Kontrol ‘pekerja’

Di medan perjuangan revolusioner yang mengarah pada penghapusan institusi kepemilikan pribadi sebagai sumber daya produksi, pengaruh para anarkis bahkan jauh lebih tegas. Ide-ide mengenai “kontrol pekerja”, yang ditegaskan melalui Komite-komite pabrik, merupakan ide yang didukung oleh para anarko-sindikalis sejak awal mula revolusi itu terjadi, telah mengakar di antara para pekerja kota dan mendapatkan sambutan yang hangat, yang memaksa partai-partai sosialis menciptakan bentuk-bentuk yang mirip namun berbeda. Kaum Sosial Demokrat dan kaum Sosial Revolusioner sayap kanan memelintir ide mengenai kontrol para pekerja ini menjadi kontrol Negara atas industri, melalui partisipasi para pekerja, serta menyerahkan kendali atas perusahaan ke tangan para kapitalis.

Bagi kaum bolshevik, mereka agak samar-samar soal pemaknaan “kontrol pekerja”, membiarkannya tetap tanpa definisi yang jelas dan menjadikan itu sebagai alat propaganda yang sangat berguna. Hal ini ditegaskan oleh A. Lozovsky (S. A. Dridzo), yang menulis dalam pamfletnya Workers’ Control (Petersburg, Socialist Publishing House, 1918):

“Kontrol para pekerja merupakan slogan perlawanan Bolshevik sebelum peristiwa Oktober…. Meski pada kenyataannya kontrol para pekerja tergambar jelas di setiap ketetapan, di setiap spanduk, hal itu punya aura misterius tersendiri. Pers partai sangat sedikit menulis mengenai slogan-slogan tersebut, lebih sedikit lagi yang berusaha untuk melaksanakannya dalam bentuk kongkret. Ketika Revolusi Oktober pecah dan menjadi kebutuhan untuk mengungkapkan makna “kontrol para pekerja” secara jelas dan tepat, bermunculan lah berbagai opini berbeda bahkan di kalangan (di dalam partai) pendukung slogan tersebut.” (Hal. 19)

Bolshevik menolak untuk menerima konstruksi ide soal “kontrol pekerja” anarko-sindikalis; yaitu, mengambil kendali produksi, mensosialkan dan melembagakan kontrol pekerja serta mensosialkan hasil produksi masyarakat melalui komite-komite pabrik. Ide ini berhasil dimenangkan, para pekerja mulai mengambil alih perusahaan ketika pemerintahan sosialis-borjuis masih berkuasa. Komite-komite pabrik dan beragam komite kontrol lain telah siap untuk mengambil alih fungsi-fungsi manajemen pada saat itu. Pada malam meletusnya revolusi Oktober pergerakan ini mengambil bentuk karakter massa yang sesungguhnya.

Komite-komite Pabrik

Komite-komite Pabrik serta Biro Sentral mereka menjadi pondasi baru pergerakan revolusioner yang mengambil tugas untuk menjadikan pabrik-pabrik menjadi komune-komune produsen dan konsumen. Komite-komite pabrik itu menjadi inti sel dari tatanan sosial baru yang sedikit demi sedikit memunculkan dasar kehidupan revolusi tahap awal. Esensinya yang sangat anarkistik menjadikan komite-komite pabrik tersebut mendapat banyak penentang. Sikap semua partai politik seperti menahan marah, upaya keras mereka tujukan untuk mereduksi komite-komite pabrik tersebut ke posisi yang lebih rendah dari serikat pekerja. Kaum Bolshevik sejak awal telah menunjukkan kecurigaannya atas tipe organisasi ini. Hanya ketika mereka semakin yakin bahwa gerakan serikat buruh terlalu didominasi oleh kaum Sosial-Demokrat untuk dijadikan instrumen kebijakan Bolshevik; mengikuti para anarko-sindikalis, mereka mulai memusatkan perhatiannya pada komite-komite pabrik. Tujuannya untuk mengendalikan mereka dan melalui komite-komite pabrik tersebut, pada akhirnya mengendalikan penuh serikat-serikat pekerja tersebut. Meski terdapat sikap semacam ini, berkaca dari beberapa peristiwa, Bolshevik dipaksa untuk mengambil posisi terhadap komite-komite pabrik yang sedikit berbeda dari para anarko-sindikalis. Secara berangsur-angsur mereka pun mengambil sikap. Pada mulanya mereka sangat menentang itu.

“Para anarko-sindikalis berakar pada komite-komite pabrik. Mereka menciptakan teori yang nyata. Serikat pekerja telah mati, bahwa masa depan menjadi milik komite-komite pabrik, mereka pula yang akan memukul jatuh kapitalisme, bahwa komite-komite pabrik adalah bentuk tertinggi dari gerakan pekerja dan lain-lainnya. Dengan kata lain, teori ini terbentuk terkait komite-komite pabrik mirip denga teori yang digagas kaum anarko-sindikalis Prancis soal gerakan serikat pekerja beberapa puluh tahun sebelumnya. Di bawah kondisi ini, keterpisahan antara dua bentuk organisasi (serikat pekerja dan komite-komite pabrik) menghadirkan bahaya besar bagi pergerakan di Rusia.”

“Ini sangat berbahaya, bahkan dikalangan mereka yang aktif di komite-komite pabrik yang bukan anarko-sindikalis. Kami melihatnya cenderung beroposisi terhadap serikat pekerja dan memilih komite-komite pabrik dan bahkan dapat menggantikan serikat-serikat industrial beserta cabang lokal dengan tipe organisasi komite pabrik.”

(Lozovsky, Workers’ Control, hal. 37)

Pengambilalihan Perusahaan

Secara karakteristik, hanya pers anarko-sindikalis yang secara tepat menilai peranan dan arti pentingnya komite-komite pabrik secara tepat. Artikel pertama dalam pers revolusioner terkait soal ini, muncul di terbitan pertama Golos Trouda. (secara kebetulan, artikel tersebut tidaklah menegaskan opini Golos Trouda secara menyeluruh terkait soal ini.) Di salah satu pertemuan komite-komite pabrik yang berlangsung di Petrograd pada Agustus 1917, artikel tersebut hangat diperdebatkan oleh Bolshevik, khususnya oleh Lozovsky dan yang lainnya. Tapi ide ini jadi lebih dominan bahkan dikalangan Partai Bolshevik dan dengan sendirinya menjawab keinginan para pekerja. Bahkan Lenin pun menyatakan dalam pidatonya di hadapan pertemuan umum seluruh serikat pekerja (berlangsung pada musim semi 1918) bahwa “pabrik adalah komune yang dikendalikan sendiri oleh para produsen dan konsumen.”

Propaganda anarko-sindikalis tersebut akhirnya membuahkan hasil. Kemudian terjadi gelombang perebutan perusahaan dan manajemen organisasi para pekerja. Dimulai ketika pemerintahan sementara masih memegang kendali kekuasaan dan para anarkis memainkan peranan penting di dalamnya. Peristiwa yang paling dibicarakan pada periode itu adalah pengambil-alihan pabrik serbuk mesiu Shlisselburg dan tanah-tanah perusahaan pertanian yang terinspirasi oleh para anarkis Zhuk; keduanya lalu diorganisir berdasarkan prinsip-prinsip anarkis. Peristiwa semacam itu kembali terus berulang semakin sering dan di malam sebelum revolusi Oktober pecah peristiwa tersebut dianggap sebagai pemicunya. Segera setelah berjayanya revolusi Oktober, Biro Sentral dari dewan-dewan pabrik menerbitkan instruksi panjang untuk mengontrol aktivitas produksi secara luas. Instruksi-instruksi tersebut terbukti jadi dokumen literasi yang cerdas karena mampu memperlihatkan kejayaan ide para anarko-sindikalis. Arti penting kejadian ini penting untuk dipertimbangkan mengingat pada saat itu Bolshevik mulai mendominasi di dalam komite-komite pabrik tersebut.

Besarnya pengaruh ide mengenai dewan-dewan pabrik di kalangan pekerja hingga jadi tubuh eksekutif di komune-komune pabrik –berbagai sel mereka tergabung ke dalam organisasi federatif yang turut mempersatukan seluruh pekerja dan menciptakan sistem administratif industrial yang sangat penting- ditunjukkan oleh kegelisahan Bolshevik yang terungkap setelah Revolusi Oktober.

“Di tempat ‘republik soviet-soviet’, kita akan menjadi republik koperasi kaum produsen (artels), dimana pabrik-pabrik para kapitalis bermetamorfosis melalui proses ini. Sebagai ganti dari regulasi cepat produksi dan konsumsi secara sosial – sebagai ganti dari peraturan yang menggantikan langkah sejati dari tatanan organisasi masyarakat sosialis yang diarahkan berdasarkan berbagai alasan – sebagai gantinya kita menyaksikan mimpi-mimpi visioner para anarkis mengenai komune-komune industrial yang otonom”.

(I. Stepahanov, From Workers’ Control towards Workers’ Administration in the industries and Agriculture, Moskow, 1918, hal. 11)

Keunggulan Bolshevik bahkan membuat makin menakjubkannya kesuksesan yang diraih kamerad kita, terutama W. Shatov, dalam usahanya untuk mempengaruhi komite-komite pabrik. (Shatov memimpin serangan ke Istana Musim Dingin, Petrograd, pada Oktober 1917. Ia meninggalkan pergerakan anarko-sindikalis dan jadi seorang Bolshevik sejak awal ketika ibu kota berpindah ke Moskow di awal 1918. Dia ditangkap dan mungkin ditembak tanpa proses peradilan selama proses pembersihan yang terjadi pada akhir 1930-an). Meskipun didominasi oleh Bolshevik, komite-komite pabrik pada periode tersebut justru mengusung ide-ide kaum anarkis. Belakangan, tentu saja, mereka mesti merasakan penderitaan karena upaya pemurnian yang dijalankan Bolshevik terhadap komite-komite pabrik. Jika saja yang terjadi sebaliknya, jika kaum anarkis berada di posisi mayoritas, mereka pastilah berusaha melenyapkan kerja komite-komite dari elemen sentralisasi dan prinsip-prinsip Negara.

Sindikalisme Spontan

Di sini kami tidak sedang menguraikan sejarah pergerakan serikat pekerja Rusia secara detil atau catatan sejarah perjuangan berbagai partai atau kelompok di dalam serikat pekerja. Ini murni sebagai informasi. Kami ingin memberi penekanan pada momen-momen tersebut dalam kehidupan gerakan serikat pekerja yang mewarnai kerja-kerja minoritas anarko-sindikalis. Pergerakan para pekerja, seperti revolusi itu sendiri, bangkit secara spontan. Dia meminggirkan serikat pekerja, mendasarkan dirinya pada komite-komite pabrik beserta organisasi-organisasinya terutama yang ada di Petrograd.

Meskipun kaum proletariat Rusia, secara keseluruhan, sama sekali mengabaikan ide-ide mengenai sindikalisme revolusioner, dan walaupun literatur soal anarko-sindikalis masih sangat kurang, seperti halnya kurangnya representasi pergerakan ini dikalangan para pekerja Rusia; meskipun ada hal semacam itu, pergerakan pekerja di seluruh Rusian telah mengarah pada desentralisasi. Proses itu telah memilih secara spontan keunikan sindikalisme revolusioner. Tak seperti periode-periode sebelumnya, salah satu yang mengiringi revolusi Februari 1917 adalah bentuk partisipasi aktif para anarko-sindikalis –yakni para pekerja yang berasal dari Amerika Serikat dan kembali ke Rusia, dari tempat dimana mereka turut berperan dalam perjuangan Industrial Workers of the World (IWW).

Komite-Komite Pabrik Vs Serikat-Serikat Pekerja

Hingga Januari 1918, sampai berlangsungnya Konvensi Serikat Buruh Seluruh Rusia yang pertama, gerakan pekerja berlayar di bawah bendera komite-komite pabrik. Perjuangan ini merupakan pertempuran sengit melawan elemen-elemen borjuis yang bertempur secara diam-diam demi supremasi mereka, menentang serikat-serikat pekerja. Perjuangan ini mengambil karakter yang kuat setelah Konferensi Serikat Buruh Ketiga Seluruh Rusia, yang menampakkan dengan jelas arus perbedaan yang besar antara berbagai taktik dan tujuan serikat pekerja dengan mereka yang ada di komite pabrik. Yang terakhir, menyatukan diri pertama kali di Petrograd, lalu menyusul ke seluruh Rusia, membentuk lembaga-lembaga sentral mereka sendiri dan memberi landasan bagi revolusi. Para anarko-sindikalis berperan aktif di komite-komite pabrik maupun di serikat-serikat pekerja. Tak ada kebulatan suara dalam barisan anarko-sindikalis mengenai bentuk organisasi mana yang disukai. Gerakan ini jauh dari dukungan para anarkis lainnya. Gerakan semacam ini bahkan juga tak diterima oleh kelompok penerbitan Golos Trouda. Demikian pula, sebagian besa kaum bolshevik menolak sudut pandang yang lebih mendukung komite-komite pabrik daripada serikat pekerja. Di salah satu konferensi komite-komite pabrik Petrograd, Lozovsky menyerang pandangan tersebut dan gerakan yang mendukungnya, dengan serangan yang tak bermoral dan kejam.

Secara keseluruhan, elemen-elemen anarko-sindikalis telah menunjukkan preferensi bagi komite-komite pabrik dengan memusatkan kekuatan mereka ke arah tersebut. Mereka hadir di berbagai komite pabrik tersebut, sebagaimana yang terjadi di Biro Petrograd dan seluruh Biro Sentral Komite-komite Pabrik Seluruh Rusia. Demikian pula dengan pengaruh para anarko-sindikalis di konferensi-konferensi komite pabrik, seperti dalam surat kabar Novy Put, yang memberi warna tersendiri bagi anarko-sindikalisme, meski tak satu pun anarko-sindikalis bekerja sebagai stafnya.

Pengaruh para anarko-sindikalis secara langung maupun tidak langsung membuat para borjuis dan koran-koran sosialis memberi sinyal bahaya melalui: surat kabar Dien (borjuis), Novaya Zhizn (Sosialis), Izvestia Petrogradskogo Obshtchestva Zavochikovy Fabricantov (borjuis), Izvestia Tzentralnogo Ispolnitelnogo Komiteta (sosialis), Rabochaya Gazeta (sosialis), dan lainnya. Kaum sosial-demokrat menerbitkan publikasi khusus (Rabochaya Mysl) untuk melawan pengaruh anarko-sindikalis dikalangan proletariat yang terorganisir.

Hal tersebut tentu saja upaya yang sia-sia. Para anarko-sindikalis menaklukkan massa dengan slogannya “kontrol pekerja”. Massa pekerja yang makin meluas di bawah pengaruh anarko-sindikalis terdorong untuk mengambil alih pabrik-pabrik. Pengaruh slogan anarko-sindikalis, yaitu ‘kontrol pekerja”, dengan sendirinya menunjukkan Pedoman untuk Menjalankan Kontrol Pekerja di bidang Industri, yang diedit dan diterbitkan oleh Dewan Sentral Komite-komite Pabrik Petrograd, dan mendapat penolakan dari Bolshevik dan Menshevik dalam Konvensi Pertama Serikat Buruh Seluruh Rusia. (lihat laporan stenograf Konvensi Pertama Serikat-serikat Buruh Seluruh Rusia serta terbitan A. Lozovsky (Dridzo), “Kontrol Pekerja”).

Para anarko-sindikalis di masa itu memiliki kelompok organisasi di luar serikat pekerja dan juga menerbitkan surat kabar maupun majalah. Di Petrograd majalah Golos Trouda, Kharkov Rabochaya Mysl, Krasnoyarsk Sibirsky Anarchist; di Moscow terdapat organ sindikalis revolusioner bernama Rabochaya Zhizn, dan lain-lainnya. Para anarko-sindikalis hadir di banyak komite pabrik dan serikat pekerja, dimana mereka melancarkan propaganda yang intensif. Mayoritas anarko-sindikalis meyakini bahwa dengan bekerja di serikat pekerja, mereka akan mampu menanamkan sebuah arah anarko-sindikalis.

[bersambung]


Gregori Maximoff (1893 – 1950) adalah anarkis kelahiran Rusia yang terlibat aktif dalam sebuah gerakan anarko-sindikalis di Ukraina, Nabat. Pada 1921 ia dipenjara menyusul ‘pembersihan’ kelompok-kelompok anarkis yang menolak bergabung dengan Tentara Merah oleh polisi rahasia Soviet, Cheka. Karyanya yang paling monumental berjudul The Guillotine at Work (1940) yang menguraikan kesaksian atas teror yang terjadi di bawah rezim Lenin pascarevolusi 1917.

 

You may also like...

Leave a Reply