Primata, Evolusi, Anarki(sme) (Bagian 2, Habis)

Ilustrasi: Bima

Tanggapan atas Bima Satria Putra[i]

JIKA DALAM TULISAN sebelumnya saya lebih banyak melakukan kritik secara tekstual pada artikel Bima, pada bagian kedua ini saya akan coba menjelaskan beberapa hal tentang evolusi yang sangat umum disalahpahami dan berujung pada penerimaan atau penolakan yang fanatik. Selanjutnya saya akan menjelaskan alasan kenapa saya begitu curiga terhadap darwinian serta dengan tegas menolak darwinisme sosial. Pada bagian akhir tulisan ini saya kembali mengulang apa yang sebelumnya telah diusulkan oleh beberapa orang mengenai pelajaran penting yang disediakan oleh evolusi baik sebagai teori maupun sebagai fakta. Beberapa bahkan oleh para anarkis telah dibawa ke tataran praktek lewat analisis, kritik, dan eksperimentasi. Saya sadar pada akhirnya tulisan ini tidak dapat menjawab secara jelas beberapa pertanyaan tentang evolusi yang saya ajukan dalam tulisan sebelumnya. Karenannya menurut saya, diskusi lebih lanjut sangat dibutuhkan. Tentu saja bukan untuk menambah ruwetnya perdebatan soal evolusi, tapi untuk memaksimalkan potensi biologis kita yang unik.

Apa yang perlu dicurigai dari Evolusi Darwin?

“Thank you, honey, for opening my eyes. I can’t wait to see what evolution will make next. Maybe a bird with a people face or a bear with pants on!” – (Marge Simpson -The Simpsons, episode The Monkey Suit)

Benar, Darwin yang mempopulerkan teori evolusi dengan mekanisme seleksi alam[iii]. Lewat pengalamanya berlayar dengan kapal Beagel, pengamatan di Pulau Galapagos, serangkaian eksperimentasi, pengumpulan spesimen serta korespondensi dengan beberapa orang termasuk Alfred Russel Wallace, Darwin menyajikan teori evolusi secara terstruktur dan menjelaskannya sebagai sebuah proses perubahan organisme yang berlangsung secara terus-menerus dan tanpa tujuan tertentu. Menurut Ernst Mayr (2001) ada 5 hal pokok yang mau disampaikan Darwin dalam buku opusnya The Origin of Species[iv]: (a) Kehidupan tidak tetap/sama sejak awal keberadaannya [the nonconstancy of species (the basic theory of evolution)], (b) kesamaan leluhur bagi semua makhluk hidup [the descent of all organisms from common ancestors (branching evolution)], (c) evolusi bersifat gradual [the gradualness of evolution (no saltations, no discontinuities)], (d) terjadi pertambahan jumlah spesies [the, multiplication of species (the origin of diversity)], (e) seleksi alam sebagai mekanisme evolusi [natural selection].

Dengan ini Darwin menegaskan materialisme pada cabang ilmu hayati, sekaligus membuka pertanyaan, perdebatan, dan eksplorasi lebih lanjut dalam perkembangan teori tersebut. Karena sebelum Darwin, pandangan dominan saat itu bahwa alam sebagai ciptaan sang kreator adalah tetap, di mana spesies tidaklah berubah semenjak masa penciptaan. Perubahan yang ada adalah semata-mata rancangan sang kreator dengan tujuan tertentu. Perlu diingat bahwa Darwin ataupun teori evolusi tidak pernah mengatakan bahwa manusia berevolusi dari kera, sebaliknya dijelaskan bahwa manusia bersama jenis primata lainnya berbagi nenek moyang yang sama[v]. Darwin menganalogikan proses evolusi sebagai percabangan pohon untuk menggambarkan hubungan antar organisme dan bagaimana percabangannya akibat spesiasi; sebagai percabangan dan bukan perkembangan linear. Seperti yang dikatakan Groves dan Lahr (1994): “A bush not a ladder”[vi]. Pada hal-hal inilah saya secara pribadi berterimakasih pada Darwin, tapi untuk nge-fans nanti dulu.

Sebagai teori dan fakta, evolusi terus menerus dibantah dan dibela, bantahan dan serangan tidak hanya datang dari para kreasionis namun juga datang dari biolog dan naturalis. Kontroversi evolusi semakin menjadi ketika ia ditarik pada ranah sosial, pada eksistensi manusia itu sendiri. Saat perdebatan kaum naturalis dan biolog sendiri pada saat itu belum selesai (misalnya soal seleksi seksual, mutasi, variasi, dll.), Thomas Huxley, Herbert Spencer, Joseph Fisher’s, Francis Galton dan Ernst Haeckel mentahbiskan teori evolusi Darwin sebagai sebuah pendekatan sosial; darwinisme sosial. Paham yang kemudian disambut gembira oleh golongan borjuis liberal Eropa saat itu.

Di kalangan anarkis sendiri banyak yang menerima teori evolusi Darwin dan hampir semua dari mereka hadir lewat bantahan dan tawaran, Kropotkin salah satunya. Selain Kropotkin, ada anarkis Perancis, Jacques Élisée Reclus yang menulis esai berjudul Evolution and Revolution pada tahun 1891[vii]. Tapi sekali lagi, berbeda dengan Bima, Kropotkin dan beberapa anarkis lainnya tidak menerima mentah-mentah evolusi. Kropotkin sendiri melakukan penelitian yang tidak mudah sampai akhirnya menerbitkan Mutual Aid: A Factor of Evolution pada tahun 1902, sebagai tamparan bagi para darwinis sosial yang terus mengampanyekan survival of the fittest dan mengabaikan egalitarianisme serta kooperasi.

Evolusi yang ditawarkan Darwin sebagai sebuah eksploratori dan eksplanatori teori sebenarnya sangatlah mudah untuk dipahami. Dengan penyajian yang komperhensif, disertai data-data dan bukti-bukti pendukung teorinya, Darwin berhasil menyampaikan pendapatnya dengan sederhana. Tapi menerimanya adalah persoalan lain. Hal ini disebabkan oleh dogma agama serta distorsi teori evolusi yang salah satunya disebabkan oleh para darwinis sosial. Saya secara pribadi paling tidak mengidentifikasi ada 3 hal pokok yang perlu dipahami sekaligus diwaspadai dari teori evolusi Darwin: pertama, seleksi alam; kedua, gradualisme; ketiga, darwinisme sosial.

Seleksi alam

“We are not savages. Apes fight only to survive.” — (Caesar – War For The Planet Of The Apes).

Salah satu pokok pemikiran Darwin adalah evolusi terjadi akibat mekanisme seleksi alam. Selain digunakan untuk menjelasakan tentang proses adaptasi, spesiasi, dan kepunahan spesies, seleksi alam (natural selection) digunakan Darwin untuk menunjukan perbedaan dengan seleksi buatan (artificial selection) yang ditemukannya pada domestikasi hewan dan tumbuhan oleh manusia. Gagasan seleksi alam Darwin sebenarnya sangatlah dipengaruhi oleh Malthus dengan bukunya An Essay on Principle of Population[viii], yang mengatakan bahwa populasi bertumbuh secara eksponensial sementara sumberdaya bertumbuh secara linear. Pertumbuhan populasi yang tidak sebanding dengan sumberdaya akan mengakibatkan persaingan. Konsekuensinya akan ada yang bertahan hidup dan ada yang tidak. Seperti yang ia katakan:

“I think it inevitably follows, that as new species in the course of time are formed through natural selection, others will become rarer and rarer, and finally extinct. The forms which stand in closest competition with those undergoing modification and improvement will naturally suffer most.” [ix]

Berdasarkan hal tersebut, Darwin kemudian menggunakan term struggle for existence[x] untuk menggambarkan bagaimana kompetisi antarspesies akibat keterbatasan sumberdaya yang ada. Inilah yang mengantarkannya pada konsep seleksi alam. Dengan asumsi kenaikan rasio geometris, Darwin melihat bahwa ternyata spesies memiliki mekanisme yang kompleks dalam merespons mekanisme alam yang juga kompleks. Sehingga Darwin secara sederhana mengambarkan dua bentuk dari struggle for existence: pertama, perjuangan organisme melawan organisme untuk sumberdaya yang terbatas. Kedua, perjuangan organisme dengan lingkungannya. Dengan data-data yang ada, ia sampai pada kesimpulan bahwa spesies yang bertahan dalam struggle for existence haruslah, pertama, spesies yang paling sesuai, kedua, haruslah terdapat pewarisan sifat-sifat yang menguntungkan. Dengan kata lain spesies yang tidak mengembangkan adaptasi dan atau tidak menurunkan sifat-sifat dan karakteristik yang menguntungkan pada akhirnya punah.

Memang ada kekeliruan seperti yang disebutkan oleh Bima dalam penggunaan term survival of the fittest yang sebenarnya adalah frase yang dipopulerkan oleh Herbert Spencer sebagai bapak darwinisme sosial. Hal ini umum sekali, bahwa konsep seleksi alam sering didefinisikan sebagai survival of the fittest, yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai ‘sitasan yang terbugar’, di mana secara harafiah berarti yang terkuatlah (fittest) yang menang. Dalam definisi ini kompetisi dianggap satu-satunya pendorong seleksi alam.

Berbeda dengan Spencer yang menekankan pada konsep persaingan murni, Darwin menyatakan bahwa seleksi alam adalah sebuah mekanisme yang menjelaskan bagaimana populasi dapat berkembang dan bereproduksi sedemikian rupa sehingga menjadi lebih sesuai (fit) dengan lingkungan mereka dari waktu ke waktu (keturunan dengan modifikasi). Modifikasi sendiri menurut Darwin menyaratkan kesuksesan dalam reproduksi sebagai sarana pewarisan sifat yang menguntungkan. Karenanya seleksi alam membutuhkan 3 faktor yakni, terdapat variasi sifat atau ciri, terdapat perbedaan dalam kesempatan reproduksi, dan adanya keturunan yang mewarisi sifat atau ciri tertentu (saat ini dikenal dengan differential reproductive). Di sini penting untuk memahami bahwa seleksi alam hanya salah satu faktor dalam evolusi[xi]. Kita pada akhirnya mengetahui ada hanyutan genetik, mutasi, dan rekombinasi gen yang juga merupakan faktor pendorong evolusi biologis. Seperti yang juga Darwin katakan:

“Furthermore, I am convinced that natural selection has been the most important, but not the exclusive, means of modification.” [xii]

Darwin memang tidak menjelaskan soal pewarisan sifat secara detail karena saat itu ia tidak mengetahui publikasi Mendel tentang hukum pewarisan. Namun seleksi alam paling tidak mampu menjelaskan bagaimana spesiasi dan kepunahan dapat terjadi. Stephen Jay Gould dalam upaya kritik terhadap Darwin dengan sederhana mengatakan, “Natural selection is a theory of local adaptation to changing environments. It proposes no perfecting principles, no guarantee of general improvement”[xiii]. Sebenarnya penjelasan Gould ini juga adalah kritik terhadap generalisasi para darwinis sosial yang mengaplikasikan natural selection untuk menggambarkan perbedaan perkembangan masyarakat Eropa dan masyarakat di luar Eropa sebagai legitimasi superioritas ras tertentu.

Selanjutnya Darwin menyebutkan kompetisi sebagai salah satu aspek penting yang tidak terpisahkan dalam mekanisme seleksi alam (yang kemudian dijadikan dasar survival of the fittest oleh Spencer). Sebagai sebuah interaksi, kompetisi dapat terjadi secara intraspesifik atau interspesifik. Menurut Darwin, kompetisi terjadi ketika satu atau lebih spesies menggunakan sumberdaya yang sama, entah pakan atau habitat. Salah satu bukti yang diajukannya adalah burung Finches di pulau Galapagos yang mengembangkan berbagai jenis paruh akibat kompetisi sumberdaya pakan. Ini yang kemudian dalam ekologi dijelaskan sebagai prinsip pengecualian kompetitif, di mana saat dua spesies berkompetisi, spesies yang kurang mampu bersaing akan beradaptasi, bergerak, atau mati. Agar dua spesies tersebut dapat hidup dan memanfaatkan sumberdaya yang ada, maka salah satu spesies akan mengembangkan spesialisasi yang berbeda dari yang lainnya. Dengan demikian seleksi alam tidak hanya berhubungan dengan kompetisi namun juga berhubungan dengan proses adaptasi (adaptasi fisiologi, morfologi dan tingkah-laku) dan spesialisasi.

Pada manusia sendiri bentuk adaptasi dan spesialisai yang menjadi pembeda dengan primata lainnya adalah perkembangan kapasitas dan kemampuan otak sehingga memungkinkan kerja-kerja kognitif dapat terjadi sangat signifikan. Sebagai mahkluk yang terbatas secara morfologi dan fisiologi (kita tidak punya rambut yang tebal untuk cuaca dingin, tidak punya taring tajam atau cakar untuk berburu, tidak punya sistem pencernaan seperti bekantan (nasalis larvatus) untuk mengonsumsi makanan berupa biji-bijian dan dedaunan mentah, dll.), maka manusia mengembangkan kapasitas dan kerja otaknya. Selanjutnya lokomosi bipedal juga menjadi pembeda lainnya, dengan bipedal sempurna manusia memiliki kesempatan untuk melakukan sesuatu dengan tangannya. Engels bahkan menyebut inilah muasal manusia mulai menciptakan alat-alat untuk kerja.

Untuk memahami lebih lanjut soal spesialisasi dan adaptasi, kita perlu memahami konsep niche (relung/ceruk ekologis). Relung ekologis adalah sebuah konsep yang menjelaskan bagaimana organisme berdasarkan siklus hidup, ciri dan perilakunya menempati suatu posisi dalam ekosistem sebagai bentuk toleransi agar sesuai dengan lingkungannya[xiv]. Posisi ini kemudian menentukan perannya secara ekologis. Hal ini tidak hanya berkaitan dengan aliran energi pada ekosistem (tingkat trofik) namun juga tentang sumberdaya serta interaksi dengan spesies lainnya. Relung ekologis sangat spesifik dan unik untuk masing-masing spesies. Bahkan dalam beberapa ekosistem tertentu, ada relung yang tak bisa digantikan oleh spesies lainnya. Sehingga semakin luas relung suatu spesies tidak berkaitan dengan semakin baik fungsinya dalam ekosistem tapi menunjukan semakin besar potensinya untuk tetap survive. Relung ekologi sendiri dapat dikelompokan menjadi relung habitat, relung pakan, relung geografis, dll.

Berkat penelitian di bidang ekologi, kita akhirnya tahu bahwa interaksi dalam ekosistem tidak melulu soal kompetisi. Kita kemudian mengenal simbiosis; mutualisme (mutualisme simbiotik dan mutualisme non-simbiotik), parasitisme, komensalisme, amensalisme dan netralisme. Masing-masing interaksi ini kemudian memainkan perannya dalam mendukung kesuksesan evolusi suatu spesies. Dengan demikian kita tahu bahwa konsep survival of the fittest ala Spencer berbeda dengan konsep seleksi alam Darwin. Walaupun mesti diakui bahwa sebagai seorang borjuis yang terpengaruh dengan romantisme Victorian, jelas Darwin tampil sebagai representasi kelompok elit Eropa. Oleh karena itu ia tidak menolak ketika teorinya digunakan untuk kepentingan liberal Eropa seperti Spencer, dll. sebagai alat legitimasi feodalisme, rasisme, perbudakan, dan kolonialisme.

**

Kembali pada teks Bima, sepertinya ia tetap terjebak dalam kesalahan konsepnya Spencer, yang sebelumnya ia coba kritik. Coba kita lihat kalimatnya:

“Dan karenanya, ada perang yang sedang berlangsung saat ini dalam perebutan sumberdaya. Pertanyaannya sekarang: Siapakah yang menang? Mereka yang bersaingan atau berkerjasama? Mereka yang mempraktikan penindasan atau pembebasan? Apakah anarkisme adalah the fittest one?”

Saya tidak membantah bahwa salah satu permasalahan yang kita hadapi adalah perang perebutan sumberdaya, yang agak menggangu adalah pertanyaan terakhirnya. Seperti yang saya sampaikan dalam tulisan sebelumnya, Bima sangat inkonsisten. Ia mengkritik Spencer, namun menempatkan anarki(sme) tetap dalam konsep Spencer. Dengan mengandaikan menang sebagai tujuan akhir dan persaingan atau kerjasama sebagai medium proses, Bima tetap mendefinisikan fittest sebagai yang terkuat. Dengan begitu Bima tetap terjebak pada miskonsepsi atas evolusi. Jika Bima mau menyempatkan diri membaca Mutual Aid: A Factor of Evolution maka ia akan menemukan bahwa pertanyaan “who are the fittest?” telah dibahas berulangkali oleh Kropotkin.

Dengan salah memahami konsep mekanisme seleksi alam Darwin, apalagi merujuk pada defenisi sempit para darwinis sosial, kita akan berakhir pada pengekalan persaingan atas sumberdaya; pandangan yang melihat mutualisme hanya sebagai sesuatu yang terkondisikan akibat evolusi, bukan sebagai syarat keberhasilan evolusi. Banyak sekali penelitian di bidang ekologi dan zoologi yang membantah hal ini, bahwa terdapat sumberdaya bersama yang bisa digunakan oleh lintas spesies tanpa adanya konflik. Bahkan ada konsep koeksistensi dalam ekologi. Altruisme misalnya, diakui oleh banyak darwinis sosial, namun tetap diabaikan dengan berkata bahwa perilaku altruistik tetap menuntut ‘cost and benefit‘.

Ya, mungkin dalam beberapa situasi manusia terdokumentasi membunuh teman sendiri, tapi tidak jarang manusia menyelamatkan, bahkan musuh sekalipun. Tanggal 20 Desember 1943, Franz Stigler seorang pilot pesawat tempur Luftwaffe Nazi Jerman menyelamatkan pesawat pengebom Amerika yang dipiloti Charlie Brown dan 9 awak lainnya yang rusak parah, saat ia punya banyak kesempatan untuk menembaknya. Franz Stigler tercatat 29 kali menembak jatuh pesawat musuh dan butuh 1 pesawat lagi agar ia memperoleh penghargaan Knight’s Cross (butuh 30 kemenangan). Dengan membiarkan 1 pesawat lolos, Franz Stigler tidak hanya kehilangan kesempatan untuk memperoleh Knight’s Cross, tapi juga berisiko dieksekusi oleh Nazi. Jika perilaku altruistik adalah semata hubungan ‘cost and benefit‘, bagaimana menjelaskan motivasi Franz Stigler?

Gradualisme

“Mutation, it is the key to our evolution. It has enabled us to evolve into the dominant species on the planet. This process normally takes thousands and thousands of years. But every few hundred millenia, evolution leaps forward. — (Professor X – X-Men)

Menurut Darwin, evolusi dimungkinkan akibat rentetan proses yang memerlukan waktu lama dan bertahap. Ia sependapat dengan ‘natura non facit saltus’, alam tidak membuat lompatan, yang dikenalkan oleh Gottfried Leibniz dan Carolus Linnaeus. Gradualisme Darwin sebenarnya juga banyak dipengaruhi oleh pandangan uniformitarianism yang dibacanya dalam buku Charles Lyell’s, Principles of Geology[xv], sebagai salah satu buku pegangannya saat melakukan ekspedisi. Pandangan tersebut menganggap bahwa alam selalu konstan sepanjang masa (dalam ruang dan waktu) dan hukum alam yang ada saat ini adalah juga sama dengan yang terjadi di masa lalu. Hal ini dapat dengan mudah diidentifikasi dalam tulisan Darwin yang banyak menggunakan data geologi sebagai pendukung teorinya.

Menariknya ‘koreksi’ paling kuat terhadap gradualisme Darwin datang dari para neo-darwinian seperti Niles Eldredge dan Stephen Jay Gould. Mereka menyodorkan teori ‘kesetimbangan bersela’ (punctuated equilibrium) yang mengasumsikan bahwa evolusi tidaklah melulu berjalan secara gradual, melainkan dapat terjadi dengan cepat. Pandangan ini mendasarkan argumennya lewat mekanisme spesiasi alopatrik dan parapatrik. Teori ledakan kambrium juga disebut sebagai bantahan paling kuat terhadap gradualisme dengan asumsi bahwa telah terjadi kemunculan sejumlah filum baru dalam waktu yang relatif cepat. Sebenarnya banyak teori dan hipotesis yang mengoreksi gradualisme seperti pandangan saltasionisme dan evolusi kuantum. Yang terakhir, walaupun masih banyak perdebatan, mutasi telah menarik banyak perhatian para evolusionis yang dikejutkan oleh bagaimana lompatan-lompatan evolusi dapat terjadi secara singkat.

Kalau begitu, apa yang mesti diwaspadai dari gradualismenya Darwin/darwinisme? Menurut saya perdebatan pada ranah sains tidak atau belum akan selesai. Toh, kita tidak akan menyerahkan legitimasi kehidupan pada keputusan para spesialis. Yang jadi persoalan menurut saya adalah ketika hal tersebut oleh spesialis dan darwinis sosial ditarik ke ranah sosial manusia dan digunakan untuk legitimasi kepentingan mereka. Implikasi dari gradualisme adalah kepercayaan pada proses yang bertahap dan lambat. Lewat gradualisme, darwinis sosial tidak hanya meragukan revolusi, tapi meniadakan kejutan-kejutan lainnya. Maka yang ada haruslah tahapan-tahapan terprediksi dan syarat-prasyarat. Spontanitas tidak berlaku dalam hidup yang serba gradual. Pada konsep gradual inilah saya secara pribadi mesti berselisih paham dengan Darwin.

Oh iya, sebagai gambaran, salah satu perbedaan mendasar dari anarki(sme) dan komunisme adalah anarki(sme) tidak memerlukan revolusi bertahap (bahkan beberapa varian anarki(sme) tidak menyasar revolusi sebagai tujuan) apa lagi berurutan seperti cita-cita komunisme ala marxis-leninis: merebut negara kemudian bikin sadar masyarakatnya, baru negara dihapuskan maka terciptalah masyarakat tanpa kelas yang aman, damai dan sejahtera. Walaupun Marx dan Engels sendiri menolak gagasan gradualisme Darwin dan diikuti oleh para marxis termasuk Plekhanov dan Stephen Jay Gould dengan memahami gerak secara dialektis, mereka tetap terjebak pada determinisme yang mengandaikan tahapan. Komunisme ala marxis-leninis sepertinya mirip dengan anarki(sme) yang menghendaki melenyapnya negara, namun keduanya berpisah pada pemahan konsep dasar mengenai negara dan cara meniadakannya. Mereka yang memahami gerak secara dialektis saja terjebak pada rangkaian tahapan, syarat-prasyarat, pra-kondisi, dll., apalagi para gradualis. Semoga Bima yang mengaku darwinian plus anarkis paham soal ini.

Darwinisme sosial

“Wild animals, with true natures and pure talents. Wild animals with scientific-sounding Latin names that mean something about our DNA. Wild animals each with his own strengths and weaknesses due to his or her species.” — (Mr. Fox – Fantastic Mr. Fox)

Darwinisme sosial pada dasarnya adalah paham yang menggunakan teori evolusi Darwin (lebih khusus seleksi alam) sebagai sebuah pendekatan sosial. Padangan ini mereduksi ‘struggle for existence’ menjadi ‘survival of the fittest’ kemudian mengaplikasikannya pada tatanan sosial manusia. Term darwinisme sendiri dipopulerkan oleh Huxley, sementara darwinisme sosial dipopulerkan oleh Spencer[xvi]. Belakangan diketahui bahwa frase darwinisme sosial telah digunakan pertama kali oleh seorang anarkis Prancis Émile Gautier dalam bukunya Le Darwinisme Social pada tahun 1880[xvii]. Gautier berpendapat bahwa sebenarnya penerapan dari prinsip Darwin terhadap manusia haruslah berarti kerja sama sosial ketimbang persaingan yang brutal. Lewat bukunya tersebut Gautier melakukan kritik bagi mereka yang menggunakan pemikiran Darwin untuk mendukung persaingan kapitalis dan laissez-faire[xviii]. Beberapa literatur menyebutkan bahwa perkenalannya dengan Kropotkin mungkin membuat Gautier memasukan faktor kerjasama sosial dalam bukunya tersebut[xix]. Ini yang kemudian membedakannya dengan pandangan Fishers, Huxley, dan Spencer, walau mesti diakui bahwa masing-masing mereka pun memiliki pandangan yang berbeda. Pada kesempatan ini saya tidak akan membicarakan Thomas Huxley, Herbert Spencer dan beberapa tokoh klasik darwinisme sosial lainnya. Dalam tulisan singkat ini saya akan menyasar 2 orang neo-darwinian yang populer terutama di kalangan anarkis: Edward O Wilson dan Richard Dawkins.

Pada tahun 1975 Edward O Wilson menerbitkan buku Sociobiology: The New Synthesis, dengan buku ini ia kemudian didaulat sebagai bapak sosiobiologi. Wilson sendiri menggunakan istilah New Synthesis sebagai kritik sekaligus upaya menjembatani para darwinis sosial klasik dan modern. Sebuah upaya mendamaikan neo-darwinian dan aliran modern synthesis pada aras sosial. Buku ini sebenarnya lebih banyak bicara tentang kehidupan sosial masyarakat serangga, namun bab terakhir tentang masyarakat manusia lah yang memicu perdebatan selanjutnya. Premis utama dari sosiobiologi adalah perilaku merupakan hasil evolusi melalui seleksi alam dan beberapa sifat tingkah-laku dapat diwariskan. Dengan begitu, menurut Wilson, aktivitas sosial yang kompleks dapat dijelaskan dengan pendekatan biologis sebagai pengaruh genetik dan lingkungan. Namun menurutnya hal tersebut hanya dapat dipahami lewat penulusuran sebab-akibat dari gen dalam menjelaskan bagaimana sifat dan ciri tersebut diwariskan, serta bagaimana perilaku terbentuk. Menurut Wilson, proses seleksi alam terjadi pada tataran kelompok, indikatornya adalah terdapatnya relasi sosial (resiprokal) yang menguntungkan bagi proses evolusi. Perkembangan pendekatan ini sejalan dengan berkembangnya ilmu genetika molekuler sejak ditemukannya model struktur molekul DNA oleh J.D. Watson dan F.H.C. Crick pada tahun 1953, yang merupakan rentetan panjang penelitian genetika.

Saya secara pribadi menganggap sosiobiologi sebagai tahap lanjut dari darwinisme sosial. Jika Thomas Huxley dan Herbert Spencer mendasarkan seleksi alam secara umum sebagai bentuk survival of the fittest yang kemudian melegitimasi persaingan, privilege kelompok tertentu, dll., Wilson meng-upgrade-nya lewat pendekatan genetik dan mengajukan data-data dari studi yang fokus pada perilaku, khususnya perilaku sosial beberapa taksa hewan sebagai pembenaran bahwa sifat-sifat seperti dominasi, hierarki dan agresi adalah alamiah sebagai bawaan genetik. Wilson secara terang-terangan bicara bagaimana sosiobiologi dapat dijadikan pendekatan sosial. Walapun terdapat banyak pendukung, sampai saat ini sosiobiologi masih dianggap pseudosains dan Wilson sendiri didebat oleh teman-teman satu kampusnya, para marxis, Richard Charles Lewontin dan Stephen Jay Gould.

Tidak hanya sosiobiologi, Wilson kemudian mengenalkan wujud determinisme gen yang lain: biophilia, sebuah konsep yang populer di kalangan konservasionis termasuk beberapa anarkis[xx]. Konsep ini sebenarnya mengambil banyak analogi dari apa yang dikenalkan oleh Erich Fromm dalam bukunya The Heart of Man: Its Genius for Good and Evil (1964) dan The Anatomy Of Human Destructiveness (1973), di mana biophilia atau ‘kecintaan akan semua yang hidup’ sebagai oposisi dari necrophilia atau ‘kecintaan akan semua yang mati’. Namun jika Fromm melihatnya dari segi psikoanalisis, Wilson melihatnya dari segi biologis. Dalam bukunya, Biophilia (1984), Wilson mendefinisikan biophilia sebagai: innate tendency to focus on life and lifelike processes”[xxi]. Menurutnya biophilia sebagai bentuk kecintaan manusia terhadap alam merupakan bawaan (innate) biologis, lebih kerucut lagi bawaan genetik. Saya pribadi melihat bahwa secara konseptual biophilia mirip dengan apa yang ditawarkan deep ecology, di mana keduanya melihat bahwa manusia adalah bagian yang tak terpisahkan dari alam. Bedanya deep ecology lebih pada penekanan moral dan landasan spriritual, sementara biophilia sekali lagi, genetik. Biophilia bahkan diusulkan menjadi etika konservasi dan pelestarian lingkungan selain konsep ecosophy yang dipopulerkan Arne Naess.

Dalam Biophilia (1984) khususnya pada bab “The Right Place“, Wilson menjelaskan dengan begitu puitis bagaimana orang-orang menyukai pohon-pohon, tempat tinggi, air, dll., sebagai pengaruh dari memori kondisi lingkungan fisik masa lampau. Hal inilah menurut Wilson kenapa manusia cenderung menstimulasikan lingkunganya mirip dengan kondisi masa lampau. Menarik memang, namun menurut saya paling tidak ada dua hal yang patut dipertanyakan dalam konsep biophilia ini.

Pertama, jika kecintaan terhadap kehidupan atau sesuatu yang hidup adalah bawaan (innate), maka bagaimana menjelaskan keterpisahan manusia dengan alam yang terjadi secara sistematis dan masif semenjak lahirnya peradaban modern? Bagaimana dengan pertambangan yang eksploitatif, intensifikasi pertanian, dan degradasi lingkungan yang meningkat sejak revolusi industri, serta genosida etnis dan komunitas adat yang menyertainya? Jika biophilia adalah bawaan bukankah hal-hal tersebut tidak akan terjadi? Kedua, apa maksud penggunaan kata lifelike dalam definisi yang ditawarkan Wilson? Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia lifelike berarti ‘yang tampak hidup/seperti hidup’. Menurut saya inilah makna konotatif yang ingin disampaikan Wilson. Kita akan dengan mudah menemukan implikasi lifelike dalam kamuflase hijau korporasi baik TNC (Transnational Corporation) maupun MNC (Multinational Corporation). Atau bagaimana label organik menjadi lebih mahal ketimbang yang tidak organik. Ya, lifelike inilah yang kemudian dikomodifikasi menjadi produk ramah lingkungan (eco products) atau bagaimana kearifan lokal dan kawasan pedesaan dijual oleh industri pariwisata sebagai ekoturisme dan bagaimana konsep-konsep pembangunan lestari sampai skema REDD+ dengan perdagangan karbonnya, green awards dan lahirnya standar manajemen lingkungan seperti ISO 14001, dll.

**

Selanjutnya ada Richard Dawkins yang begitu populer setelah menerbitkan The Selfish Gene, The Blind Watchmaker, River Out of Eden, The God Delusion sampai The Greatest Show on Earth. Tidak seperti Wilson yang agak low profile, Dawkins tampil layaknya artis dan begitu agresif menanggapi para kritikus. Ia bahkan beberapa kali menghina Stephen Jay Gould dengan mengatakan bahwa pendapat Gould tentang kesetimbangan bersela sebagai “the argument from personal incredulity”[xxii] dan mengatakan bahwa Gould adalah gradualis namun tidak menyadarinya akibat termakan gaya retorikanya sendiri.

Mirip dengan Wilson yang membangun teorinya dari seleksi alam, adaptasi dan premis kebugaran inklusif, Dawkins lebih jauh lagi menegaskan soal determinisme gen. Berbeda dengan Wilson yang memandang bahwa seleksi terjadi pada tingkat kelompok (sosial) dan keluarga (kin selection), yang mengakui bahwa eusociality dan resiprokal dapat berperan untuk kesuksesan evolusi suatu spesies, terutama spesies yang terstratifikasi seperti lebah. Dawkins memandang bahwa seleksi terjadi pada tingkat individu, bahkan pada tingkat gen. Walau tidak mengabaikan seleksi kelompok, namun Dawkins memandang bahwa eusociality dan altruisme hanyalah sebatas sarana untuk pelesatarian gen semata, tidak lebih. Perilaku altruistik menurut Dawkins bukanlah didorong oleh insting sosial tapi genetik. Ia mencontohkan bahwa seekor induk rela mati demi anaknya semata-mata adalah akibat faktor keegoisan gen induk yang mau mempertahankan kelangsungan gen yang diwarisi oleh anaknya, dan hal ini tidak ada kaitannya dengan insting sosial. Sederhananya menurut Dawkins manusia dan setiap organisme hanyalah rangkaian kode genetik ATGC (adenine, thymine; guanine, cytosine).

Beberapa kawan anarkis yang saya kenal sangat tertarik dengan Dawkins dan teori-teorinya. Terdapat beragam alasan, namun menurut saya alasan pertama karena Dawkins sangat frontal menyerang kreasionis dan agama. Dia secara terang-terangan mengatakan bahwa ateis merupakan pemikiran yang independen serta dapat meraih kebahagiaan ketimbang mereka yang beragama. Para kawan anarkis yang ateis dan/atau agnostik seperti menemukan legitimasi ilmiah lewat buku-buku Dawkins. Alasan kedua, beberapa anarkis yang saya kenal mengaitkan Dawkins dengan egoisme Stirner dan nihilisme Nietzsche, hanya karena klaim Dawkins soal gen egois; tubuh hanyalah sarana gen, tidak ada yang baik dan buruk, semua adalah mekanisme seleksi alam. Seperti kalimatnya dalam buku River Out of Eden: A Darwinian View of Life:

In a universe of blind physical forces and genetic replication, some people are going to get hurt, other people are going to get lucky, and you won’t find any rhyme or reason in it, nor any justice. The universe we observe has precisely the properties we should expect if there is, at bottom, no design, no purpose, no evil and no good, nothing but blind, pitiless indifference.[xxiii]

Beberapa kawan bahkan mengatakan bahwa membaca Dawkins, sepertinya ‘mirip’ membaca Stirner tapi dalam perspektif biologi. Ya, mungkin bagi mereka, tapi menurut saya secara pribadi, yang sangat berbeda adalah Stirner tidak membatasi eksistensi manusia hanya sebatas reproduksi dan pelestarian gen, hal yang selalu diulang-ulang Dawkins. Berbeda dengan Stirner dan Nietzsche di mana egoisme ada pada tataran individu, Dawkins lebih mengkerucutkannya pada gen. Dalam pemikiran Dawkins sendiri, individu pun tidak memiliki kemampuan dalam menentukan apapun semenjak menurutnya manusia hanyalah mesin yang meneruskan gen sebagai replikator. Berbeda dengan Stirner yang menekankan pada otonomi individu yang unik, dan karenanya mengusulkan union of egoists, Dawkins melihat bahwa individu sejatinya tidaklah otonom, manusia baginya hanyalah manifestasi dari pertarungan gen. ‘Nothing but pitiless indifference’ yang dimaksudkan Dawkins adalah konsekuensi evolusi yang tanpa tujuan tertentu, sehingga jikapun ada sesuatu yang ‘bermakna’ hanyalah evolusi dan hukum-hukum fisika. Tidak ada konsep hasrat, yang ada hanyalah dorongan dari sang replikator. Kesimpulannya, sebelum ada teori evolusi, manusia tunduk pada hukum kreasionisme tapi setelah teori evolusi berkembang maka menurut Dawkins manusia tunduk pada determinisme gen.

Tidak cukup dalam bidang biologi, lebih lanjut Dawkins melakukan upaya antropomorfistik lewat konsep meme dan memetika dalam menjelaskan replikator non-gen yang berperan dalam evolusi kebudayaan dan pemikiran manusia. Dalam Oxford Dictionary (juga adalah term yang diusulkan Dawkins), meme adalah, An element of a culture or system of behaviour passed from one individual to another by imitation or other non-genetic means.” Sementara memetika adalah ilmu yang mempelajari bagaimana meme bekerja, bereplikasi dan berevolusi dalam kebudayaan manusia. Konsep meme oleh Dawkins tidaklah berbeda dengan cara kerja gen dalam evolusi biologis, jika gen berperan sebagai replikator dalam evolusi biologis, meme merupakan replikator dalam evolusi budaya. Meme adalah unit transmisi budaya. Meme menyebar lewat aktivitas imitasi (replikasi) dan kemudian menyebar dari individu ke individu. Sama seperti dalam seleksi alam, meme yang unggullah yang dapat bertahan. Contoh meme yang diberikan Dawkins adalah tuhan, agama, bahasa, ide, musik, dll., yang menyangkut produk-produk budaya manusia.

Jika kita masuk pada pemikiran awal Dawkins bahwa tidak ada desain, tidak ada tujuan, dll., yang ada hanyalah ‘pitiless indifference‘ maka bagaimana menjelasakan soal perkembangan budaya yang berdasarkan rancangan dan terdapat tujuan-tujuan tertentu; tata kota dan infrastruktur jalan yang memudahkan alur kapital?; Pemodelan peramalan cuaca dan bencana?; Irigasi, sistem Lingko, sawah berbentuk jaring laba-laba di daerah Cancar, NTT? Selanjutnya apakah situs-situs seperti pornhub, xhamster, dll., adalah semata-mata agar manusia terus berkembang biak? Saya pikir tidak. Jika konsep meme seperti dijelaskan Dawkins sama seperti konsep evolusi biologis maka ia harus menjilat ludahnya sendiri. Selanjutnya jika kebudayaan adalah semata-mata replikasi, maka imajinasi, kreativitas dan inovasi sebenarnya tidak pernah berkembang, bahwa pemikiran dan tindakan kita adalah meme itu sendiri. Dengan begitu maka tidak akan ada namanya masyarakat anarkis karena sekali lagi segala sesuatu adalah meme itu sendiri.

Namun Dawkins tidaklah kurang akal, dengan menggunakan analogi genom, Dawkins mengenalkan konsep memeplex untuk menjelaskan bagaimana sejumlah meme unggul bergabung dan saling mendukung. Memeplex menurut Dawkins dapat menjelaskan bagaimana sesuatu ideologi atau agama terus-menerus lestari dan bertahan dari masa ke masa. Sebenarnya ini menarik, walaupun sejauh yang saya ketahui, Dawkins sendiri belum bisa menjelaskan dengan baik bagaimana bentuk material dari meme sehingga ia menjadi terukur sebagai sesuatu yang berevolusi. Sehingga akan sulit mengidentifikasi dan mengenali prosesnya. Sebenarnya lewat konsep gen dan meme kita tahu bahwa pemikiran Dawkins mencerminkan sifat dualistik cartesian; di satu sisi Dawkins meyakini gen lah yang mendorong manusia secara biologis, di sisi lain meme menjadi penentu evolusi budaya manusia. Karena kita paham bahwa gen adalah unit pewarisan sifat dan merupakan meteri organik dari DNA suatu kromosom, sedangkan meme bersifat imateril dan sulit didefiniskan. Menurut saya kalau hanya untuk menjelaskan bagaimana lagu dapat menjadi booming atau mode menjadi tren, mungkin lebih baik kita menilik kembali ilmu semiotika atau jika mau tampak kekinian, mending kita kembali pada teori-teori posmo.

Sampai saat ini banyak penelitian mengenai keterkaitan antara gen dan perilaku sehingga kemudian memunculkan cabang ilmu genetika perilaku, yang mempelajari bagaimana gen mendeterminasi perilaku. Bahkan bebeberapa penelitian terbaru menyebutkan bahwa kecerdasan anak dipengaruhi oleh gen ibu. Walaupun terdapat beberapa penelitian yang mengkonfirmasi hal tersebut di atas[xxiv], tetapi banyak juga penelitian yang menyebutkan bahwa faktor lingkungan dan proses belajar tetap berpengaruh secara signifikan terhadap kecerdasan anak. Di sinilah pandangan nature dan nurture mengambil bagian. Tapi toh, menurut Dawkins kita tidak pernah akan bisa bebas dari dua hal, determinisme gen dan meme.

**

Yang saya mau tekankan di sini adalah bagaimana darwinisme sosial perlu ditolak dan bagaimana mereka memengaruhi banyak kalangan termasuk para anarkis. Hal yang juga saya lihat pada Bima, seperti kalimatnya:

“Kita tidak perlu menghantam darwinisme sosial, sebab sebenarnya mereka berkontribusi secara positif untuk pembenaran anarkisme.”

Yang saya mau tanyakan ke Bima, di mana letak kontribusi positifnya? Lagipula sejak kapan anarki(sme) butuh pembenaran? Apakah Bima sadar bahwa darwinisme sosial adalah paham yang terus mengampanyekan persaingan adalah natural, dan yang paling kuatlah yang menang? Kita bisa dengan mudah menelusuri bagaimana darwinisme sosial melegitimasi ekonomi laissez-faire, eugenika, rasisme, perang, kolonialisme, perbudakan, sampai kapitalisme dan negara. Serta bagaimana darwinisme sosial mendukung superioritas manusia sebagai legitimasi atas dominasi dan eksplotasi alam. Tapi seperti yang saya katakan pada tulisan sebelumnya, Bima sangatlah reduksionis sekaligus spekulatif. Misalnya kita bisa melihat kekeliruan Bima yang lain. Dengan mengutip bukunya Darwin, Descent of Man (1871) Bima mengatakan:

“Darwin juga merasa bahwa insting sosial seperti simpati dan sentimen moral juga berkembang melalui seleksi alam.”

Padahal dalam buku tersebut Darwin sendiri mengakui bahwa kebiasaan, agama dan proses belajar lebih berpengaruh pada perkembangan moral ketimbang seleksi alam. Saya jadi ragu apakah Bima pernah membaca buku ini atau tidak. Bahkan di buku tersebut Darwin berkata:

Primogeniture with entailed estates is a more direct evil, though it may formerly have been a great advantage by the creation of a dominant class, and any government is better than anarchy.” [xxv]

Mudah-mudahan Bima tidak sungguh-sungguh dengan mengatakan bahwa ia adalah seorang darwinian. Atau paling tidak dia tahu pasti evolusi Darwin banyak dikritik, tidak hanya oleh kreasionis, tapi dari golongan yang juga dipujanya: anarkis.

Kritik terhadap darwinisme sosial

“We each exist for but a short time, and in that time explore but a small part of the whole universe. But humans are a curious species. We wonder, we seek answers…” — (Stephen Hawking – The Grand Design)

Di kalangan anarkis sendiri ada Kropotkin, sang pangeran dari Rusia, geografer, naturalis otodidak sekaligus salah satu pelopor anarko-komunisme. Kropotkin bisa dibilang sangat terpengaruh dengan teori evolusi Darwin, ia bahkan memuji Darwin atas kerja kerasnya[xxvi]. Namun alih-alih menyebut diri sebagai darwinian, ia mengkritik Darwin khususnya pada bagian ‘struggle for existence’, dengan mempublikasikan Mutual Aid: A Factor of Evolution.

Seperti yang diketahui bahwa konsep mutual aid Kropotkin banyak dipengaruhi oleh K.F. Kessler, seorang naturalis Rusia. Namun jika ditelusuri lebih lanjut, Kessler sendiri terpengaruh oleh Nikolai D. Nozhin, seorang ilmuan muda yang tercatat sebagai salah satu orang Rusia pertama yang mengenalkan konsep mutual aid pada tahun 1864[xxvii]. Nozhin menolak gagasan ‘struggle for existence‘ sebagai satu-satunya mekanisme di balik evolusi. Menurutnya penekanan pada kompetisi dan bukan kooperasi sebagai gagasan borjuis tentang evolusi, ia bahkan mendeklarasikan bahwa, “only mutual aid among men would produce fully integrated individual enjoying health and freedom”[xxviii]. Baru setelah Nozhin dan teman sekamarnya, Nikolai Mikhailovskii, wacana tentang mutual aid mulai populer di Rusia[xxix]. Pengaruh dua orang tersebut terlihat dari materi kuliah Kessler pada tahun 1880 yang kemudian memengaruhi Kropotkin[xxx]. Selanjutnya, yang perlu diketahui bahwa bukanlah sebuah kebetulan Nozhin dan Mikhailovskii mengenalkan mutual aid, semenjak keduanya sangatlah terpengaruh oleh konsep (mutualité) mutualisme Proudhon[xxxi].

Menariknya hari ini, Kropotkin kembali mendapatkan tempat dalam ranah sains modern. Pemikirannya ditinjau kembali dalam upaya membangun pandangan yang lebih komperhensif tentang evolusi, khususnya perilaku sosial. Usulannya soal mutual aid memberikan banyak sumbangan dalam upaya penjelasan sesuatu yang masih misteri dalam evolusi: altruisme[xxxii].

Kropotkin berpendapat bahwa mutual aid sebenarnya dapat dengan mudah ditemukan pada berbagai taksa hewan termasuk manusia di hampir seluruh bagian dunia[xxxiii]. Bahkan menurutnya tidak hanya spesifik pada spesies yang kompleks tapi mungkin juga terdapat pada hewan invertebrata[xxxiv]. Sebenarnya para etolog darwinis paham bahwa mutual aid terdapat pada kelompok hewan tapi menolak bahwa hal itu berperan penting apalagi pada manusia. Perlu diingat bahwa Kropotkin tidak menolak adanya persaingan di alam. Ia menyadari pentingnya perjuangan atau persaingan sebagai mekanisme untuk bertahan hidup. Namun menurutnya juga terdapat mutual aid yang tidak bisa dikesampingkan, bahwa kerjasama dalam spesies adalah cara terbaik untuk bertahan di lingkungan yang tidak bersahabat. Sehingga Kropotkin kemudian menggunakan dikotomi: (1) organism against organism of the same species for limited resources, leading to competition; dan (2) organism against environment, leading to cooperation[xxxv]. Hal ini juga sebenarnya telah dibahasnya dalam pendahuluan bukunya, “in addition to the same advantages, the possibility of working out those institutions which have enabled mankind to survive in its hard struggle against Nature, and to progress, notwithstanding all the vicissitudes of its history. It is a book on the law of Mutual Aid, viewed at as one of the chief factors of evolution — not on all factors of evolution and their respective values; and this first book had to be written, before the latter could become possible”[xxxvi].

Perlu dipahami, dalam biologi dan ekologi, mutualisme sering didefinisikan sebagai interaksi timbal balik yang saling menguntungkan antara dua spesies yang berbeda, sementara altruisme adalah interaksi saling membantu dalam satu spesies yang sama[xxxvii]. Definisi-definisi tersebut sering dikaburkan oleh banyak terminologi yang hampir mirip semisal kooperasi dan resiprokal. Kropotkin sendiri menggunakan mutual dalam beberapa padanan; mutual aid, mutual support, mutual confidence, mutual assistance, mutual defence sebagai pembeda terhadap mutual struggle[xxxviii]. Masing masing term ini memiliki implikasi yang berbeda. Sayangnya hal ini sering salah dipahami oleh banyak orang. Jika ditarik lebih jauh, misalnya simbiosis belum tentu mengindikasikan mutualisme, melainkan dapat sebalikny, parasitisme misalnya. Simbiosis sendiri sangat beragam dalam pengertiannya sehingga memunculkan banyak perdebatan bagi para peneliti[xxxix].

Secara umum simbiosis adalah hubungan atau interaksi antarorganisme. Walaupun mutualisme dianggap bagian dari simbiosis, sebenarnya terdapat dua jenis mutualisme yakni, mutualisme simbiotik dan mutualisme non-simbiotik, atau dapat dikatakan bahwa tidak semua jenis muatualisme memerlukan hubungan secara langsung[xl]. Inilah yang saya pahami sebagai solidaritas yang berulangkali disebutkan Kropotkin dalam bukunya mutual aid. Menurut saya, solidaritas sebagai wujud dari mutualisme non-simbiotik[xli] menarik untuk dibicarakan. Misalnya apa motivasi, keuntungan atau manfaat dari para anak muda jomblo yang dengan beragam bentuk aksi melakukan solidaritas terhadap petani Kendeng? Selanjutnya saya yakin banyak dari mereka yang akan bingung ketika diminta menunjukan posisi Merauke pada peta RBI, namun tetap melakukan solidaritas terhadap masyarakat di sana. Apa keuntungannya? eksistensi? Belum tentu. Apakah mereka kemudian dikenal oleh masyarakat di Papua? Juga belum tentu. Lantas apakah solidaritas berguna sebagai bentuk perlawanan? Ya!

Penggunaan beberapa terminologi oleh Kropotkin merupakan bukti bahwa mutual aid melampaui cabang biologi yang masih berkembang saat itu. Sehingga saya tidak mengidentifikasi konsep mutual aid sebagai sebuah konsep mutualisme yang umum digunakan dalam term biologi dan ekologi. Menurut saya mutual aid yang dibicarakan Kropotkin lebih pada makna kooperasi atau kerja sama sosial dalam berbagai bentuk dan dengan berbagai pihak yang di dalamnya terdapat sifat saling menguntungkan ataupun lebih menguntungkan dari pada tidak melakukan kooperasi.

Banyak sekali kesalahan umum yang beranggapan bahwa mutual aid menjelaskan bahwa spesies pada dasarnya baik, ramah dan secara alamiah memiliki insting saling tolong-menolong, dan paling fatal banyak yang kemudian tidak mengakui adanya kompetisi di alam. Perlu diketahui Kropotkin menghindari menggunakan altruisme yang menggambarkan kebaikan di antara hewan, karena menurutnya bahkan manusia sendiri tidak pada dasarnya baik, penuh cinta dll., begitu juga dengan hewan. Ini yang coba ia gambarkan dalam bab “Mutual Aid Among Savages” dan “Mutual Aid Among the Barbarians”. Lagi menurutnya yang mendorong organisme untuk bekerja sama bukanlah insting tolong menolong, kebaikan, dll., tapi lebih pada kepentingan untuk bertahan hidup. Karenanya ia menggunakan judul Mutual Aid: A Factor of Evolution. Kropotkin dengan tegas berpendapat bahwa mutual aid hanyalah salah satu faktor dalam evolusi. Seperti yang juga ia katakan:Sociability is as much a law of nature as mutual struggle”[xlii]. “… As seen from the above, the war of each against all is not the law of nature. Mutual aid is as much a law of nature as mutual struggle, and that law will become still more apparent when we have analyzed some other associations of birds and those of the mammalia[xliii]. Ia sadar bahwa manusia cenderung mementingkan diri sendiri namun juga terdapat peluang untuk bekerja sama, sehingga eksplorasi lebih jauh tentang perkembangan etika dan moral akhirnya bisa ditelusuri dalam teks-teks Kropotkin yang lain seperti Ethics: Origin and Development dan Anarchist Morality.

Menariknya, Kropotkin meyakini bahwa anarkisme sendiri adalah bagian dari evolusi, seperti katanya, “The ideal of the anarchist is thus a mere summing up of what he considers to be the next phase of evolution[xliv].” Kalau dilihat dari tulisan-tulisannya kita tahu bahwa Kropotkin masih seperti Darwin yang memahami evolusi bergerak secara gradual, walaupun ia sendiri mengakui evolusi dapat terjadi secara progresif[xlv]. Pandangan gradualis ini sangat umum pada geografer pada masa itu yang menjadikan data-data geologi (lebih khusus pandangan Charles Lyell’s) sebagai salah satu dasar ilmu geografi. Maka menurut saya kalimatnya di atas mengandung pertanyaan. Jika cita-cita anarkis adalah fase selanjutnya dari evolusi, maka fase apa yang ada sebelum dan sesudah masyarakat anarkis? Apa yang kemudian menjadi ciri pembeda masing-masing fase? Saya yakin Kropotkin paham bahwa evolusi adalah proses yang terjadi terus menerus, bisa progresif dan regresif serta evolusi cenderung mengarah pada kompleksitas. Maka sebenarnya Kropotkin juga paham bahwa hasil evolusi hari ini bukanlah hasil akhir, sehingga Kropotkin dan kita juga seharusnya paham bahwa masyarakat anarkis dapat juga berarti bukanlah tujuan atau jawaban akhir.

Namun perlu diingat bahwa upaya penelusuran yang dilakukan Kropotkin pada beberapa taksa hewan, fase sejarah manusia, dan beberapa laporan mengenai kehidupan suku-suku ‘terasing'[xlvi] bukanlah upaya dalam mencari korelasi perilaku sosial antara manusia dan hewan, apa lagi berusaha mencocok-cocokkannya seperti yang beberapa etolog darwinis sosial lakukan. Upaya Kropotkin tersebut di sini mestilah dilihat sebagai: Pertama, kritik terhadap Darwin bahwa evolusi khususnya seleksi alam tidak semata-mata tentang mutual struggle tapi juga mutual aid sebagai faktor penentu keberhasilan dalam evolusi. Kedua, bukti-bukti mutual aid yang ditemukan baik pada beberapa taksa hewan dan manusia disodorkan sebagai bantahan bagi para darwinis sosial. Mutual aid sebenarnya secara khusus ditujukan Kropotkin pada logika megalomaniak Spencer dan Huxley tentang ‘survival of the fittest’[xlvii]. Bahwa menurut Kropotkin, fittest bukanlah yang terkuat dan yang paling mampu dalam kompetisi, melainkan yang paling sociable[xlviii]. Ketiga, buku ini merupakan salah satu upaya Kropotkin dalam menegaskan pertautan antara anarki(sme) dengan sains[xlix]. Keempat, ini adalah proposal Kropotkin pada umat manusia bahwa hidup dengan menerapkan mutual aid adalah lebih baik ketimbang hidup dalam mutual struggle, sehingga hidup bukanlah semata-mata bellum omnium contra omnes seperti yang diusulkan Hobbes, tapi adalah relasi sosial yang penuh kerjasama dan saling mendukung. Berdasarkan hal-hal tersebut saya lebih memilih menyebut Kropotkin sebagai evolusionis sekaligus komunis-anarkis ketimbang darwinis apalagi darwinis sosial.

Selain Kropotkin, terdapat banyak kalangan anarkis yang membantah dan menyerang para darwinis sosial. Murray Bookchin adalah salah satu di antaranya. Sebagai seorang profesor ekologi sosial ia menaruh banyak perhatian terhadap evolusi dan melakukan kritik pada para neo-darwinian dan darwinis sosial seperti Edward O Wilson[l]. Ia bahkan mendebat landasan darwinisme sosial tentang populasi ala malthusian lewat artikelnya The Population Myth dengan menggunakan pendekatan ekologis: carrying capacity[li]. Seperti Kropotkin, Bookchin juga menaruh perhatian pada mutual aid, bahkan mengembangkannya, seperti yang ia katakan:

If we are prepared to recognize the self-organizing nature of life, the decisive role of mutualism as its evolutionary impetus obliges us to redefine “fitness” in terms of an ecosystem’s supportive apparatus. And if we are prepared to view life as a phenomenon that can shape and maintain the very “environment” that is regarded as the “selective” source of evolution, a crucial question arises: Is it meaningful any longer to speak of “natural selection” as the motive force of biological evolution? Or must we now speak of “natural interaction” to take full account of life’s own role in creating and guiding the “forces” that explain its evolution? Contemporary biology leaves us with a picture of organic”[lii].

Natural interaction inilah yang kemudian pada perkembangan selanjutnya ditarik oleh Bookchin sebagai landasan ecological society.

Bookchin sendiri adalah orang yang sangat terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran Kropotkin. Bookchin mengaplikasikan pendekatan-pendekatan ekologi sebagai ilmu yang komperhensif dalam melihat bagaimana relasi manusia sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam kesatuan ekosistem, bahkan melampaui Kropotkin yang masih terpaku pada kritik seleksi alam Darwin dan masih memiliki kecenderungan gradualis. Bookchin menawarkan dialectical naturalism. Ia meredefinisikan ekologi sebagai,

As the dialectical unfolding of life forms from the simple to the complex, or more precisely, from the simple to the diverse[liii].

Lebih jauh, Bookchin menawarkan social ecology sebagai konsep yang kemudian diklaim melampaui banyak pemikiran gerakan ekologi dan gerakan lingkungan (environmentalism)[liv] baik dalam lingkup anarki(sme) maupun marxisme. Pandangan Bookchin yang melihat bahwa hierarki dan dominasi manusia terhadap manusia adalah muasal dominasi alam dan akar dari krisis ekologis sebenarnya juga dianalisis oleh beberapa orang termasuk John Zerzan, Kevin Tucker, Derrick Jensen, dll. Walaupun berpisah pada tataran praktek dan berujung pada kritik-otokritik yang sangat menarik dan masih berlangsung sampai saat ini, saya pikir pemikiran nama-nama tersebut menaruh banyak perhatian pada kritik atas miskonsepsi evolusi dan biosentrisme. Mungkin kita bisa mendiskusikannya lebih spesifik pada kesempatan yang lain. Selanjutnya, selain nama-nama di atas, di kalangan anarkis masih banyak yang melakukan kritik terhadap darwinisme sosial. Bahkan dalam penelusuran saya secara pribadi, saya tidak atau belum menemukan teks anarkis yang mengklaim mendukung paham darwinisme sosial selain tentu saja, Bima.

Beberapa usulan

Mother Nature is a serial killer. No one’s better. Or more creative. Like all serial killers, she can’t help the urge to want to get caught. What good are all those brilliant crimes if no one takes the credit? So she leaves crumbs. Now the hard part, why you spend a decade in school, is seeing the crumbs. But the clue’s there. Sometimes the thing you thought was the most brutal aspect of the virus, turns out to be the chink in its armor. And she loves disguising her weaknesses as strengths. She’s a bitch.” — (Andrew Fassbach – World War Z)

Evolusi sebagai rangkaian proses yang masih terjadi sampai hari ini menyediakan banyak sekali keunikan sekaligus pelajaran. Dan sebagai bagian dari evolusi, manusia memiliki kesempatan untuk mengalami dan menyaksikan keindahan dari kompleksitas dan diversitas proses evolusi tersebut. Berdasarkan kekaguman atas evolusi, saya ingin mengusulkan beberapa hal. Namun seperti yang saya katakan sebelumnya, tidak ada yang baru dalam usulan ini, bahkan beberapa di antaranya telah disampaikan berulang-ulang oleh beberapa orang. Dorongan untuk kembali menyampaikannya lebih pada alasan kegalauan pribadi yang melihat bagaimana, misalnya, beberapa kawan yang mengutip sana-sini tentang Kropotkin namun gagal paham soal mutual aid yang telah diuraikan dan diusulkan secara sistematis olehnya lebih dari satu abad yang lalu. Atau bagaimana beberapa kawan yang keblinger tentang perang jalanan namun lupa ada taktik swarm intelegensia yang mengecoh polisi di Seattle, 19 tahun yang lalu. Saya tidak akan panjang lebar bicara tentang beberapa usulan ini, gambaran singkat ini saya harap dapat menjadi diskusi lebih lanjut, itupun jika hal-hal ini dianggap penting. Beberapa usulan ini bahkan menurut saya sangat terburu-buru, prematur dan mungkin di luar konteks. Dan ya, seperti yang secara implisit dibicarakan dalam artikel Bima, alam menyediakan ‘fenomena’ menarik yang dapat dipelajari.

1. Menggali kembali konsep swarm intelegensia, mutual aid, dan polimorfisme.

a. Swarm intelegensia
Swarm intelegensia adalah sebuah mekanisme yang banyak ditemukan pada kawanan burung dan serangga serta telah terbukti berperan penting dalam evolusi. Dengan swarm intelegensia, beberapa speseis dapat membangun sarang yang kompleks, menghindari predator, melindungi anggota kelompok, serta memanfaatkan gerak kelompok untuk meminimalkan penggunaan energi oleh individu. Beberapa karakter kecerdasan ini adalah tidak adanya kontrol terpusat (desentralisasi), otonom, konektivitas yang tinggi antarindividu, penguatan pada masing-masing individu lewat komunikasi dan aktivitas sebagai respons atas kondisi sekitar, serta gerak/aktifitas yang non-linear.

Kecerdasan kelompok ini telah dibawa ke tataran praktek oleh kelompok-kelompok anarkis pada pertempuran jalanan untuk menghindari prediksi, penangkapan dan pembubaran aksi karena ketiadaan otoritas sentral (aplikasi taktik ini dapat dilihat pada aksi Seattle dan Genoa)[lv]. Dalam prakteknya, swarm intelegensia menyaratkan individu-individu atau kelompok otonom serta aplikasi mutual aid yang tidak kaku, sehingga komunikasi dan koordinasi gerak dapat dilakukan berdasarkan insiatif masing-masing individu dalam kelompok berdasarkan infomasi yang ada di sekitar[lvi]. Menurut saya jika kita butuh element of surprise, swarm intelegensia dapat menyediakannya. Swarm intelegensia tidak hanya berguna pada tataran aksi langsung tapi dapat diterapkan pada lingkup aksi yang lebih strategis atau menjadi plan B pada skenario terburuk.

b. Mutual aid
Mutual aid seharusnya tidak dipahami hanya sebatas tolong-menolong, kemitraan dan definisi moralis lainnya (saya telah membahas ini pada bagian “Kritik terhadap Darwinisme Sosial”) atau dikerdilkan seperti penjelasan seorang master ekologi manusia IPB yang menyebutkan, “Gagasan Kropotkin tentang Mutual Aid, menyaratkan dua hal. Pertama, tindakan kolektif. Kedua, pengelolaan bersama”[lvii]. Menurut saya kalaupun ada syarat dari mutual aid yang diusulkan Kropotkin, yang pertama adalah adanya asosiasi otonom, kedua komunalisme[lviii], dengan begitu prinsip egalitarian bisa tercapai. Mutual aid tidak mungkin terjadi pada individu-individu atau kelompok yang tidak otonom dan setara, sehingga yang ada hanyalah kesukarelaan bukan keterpaksaan lewat aturan, kebijakan dan kesepakatan mengikat yang timpang, dll. Inilah dasar Anarchist-Communism yang diusulkan Kropotkin. Tindakan kolektif dan pengelolaan bersama adalah hal-hal yang kemudian terkondisikan. Ini yang kemudian lebih lanjut dikembangkan oleh Bookchin dan menjadi salah satu dasar bagi munisipalisme-libertarian. Mutual aid sebagai sebuah asosiasi yang saling menguntungkan, menurut saya juga tidak hanya dapat dimaknai sebagai tindakan-tindakan kolektif, semenjak mutual aid juga dapat diterapkan pada tataran individu-individu, serta dapat mengambil bentuk yang beragam dan tidak terbatas pada satu asosiasi misalnya ekonomi. Itu kenapa walau menuliskan panjang lebar soal mutual aid, Kropotkin tidak menyebut diri sebagai mutualis.

Hal ini menurut saya yang juga menjadi perbedaan antara pandangan komunis-anarkis, mutualis macam Proudhon[lix] dan kolektivis seperti Bakunin[lx]. Ini haruslah dipahami sehingga tidak sampai pada kesimpulan spekulatif seperti, “Meskipun memiliki unsur-unsur yang membentuk pola ecotopia yang berbeda, pemikiran Peter Kropotkin tentang teori Mutual Aid seringkali terlupakan, dan seringkali dicaplok oleh negara dengan berbagai program ilusi kemitraan maupun pemberdayaan-pemberdayaan semunya”[lxi].

Kenapa ini spekulatif? Pertama, program kemitraan dan pemberdayaan bukanlah konsep yang dibicarakan Kropotkin dalam mutual aid. Kedua, seperti saya sebut di atas bagaimana mungkin mutual aid dapat terjadi jika pelakunya tidak setara? Hal ini sedari awal semu, bukan karena salah mengaplikasikan mutual aid, tapi dari kesalahan bangunan awal perspektif pemerintah soal masyarakat, soal term ‘kemitraan’ dan ‘pemberdayaan’ itu sendiri. Atau dapat dikatakan bahwa sifat ilusif program kemitraan maupun pemberdayaan tidak ada hubungannya dengan mutual aid, karena memang tidak ada mutual aid di dalamnya. Kemudian yang saya mau tanyakan, negara mana yang mencaplok mutual aid? Apa yang dicaploknya? Atau coba sebutkan satu saja program kemitraan dan pemberdayaan oleh negara di Indonesia yang menggunakan teori mutual aid Kropotkin sebagai landasan teroritisnya! Menurut saya ini mengindikasikan dua hal: kalau bukan gagal paham soal mutual aid, maka sang master tidak pernah membaca sampai tuntas teks-teks Kropotkin.

Kesalahan menerjemahkan mutual aid selanjutnya akan berakhir dengan kesimpulan akademik yang positivistik:

Sharing power selalu membutuhkan reformasi yang secara politik, budaya dan sebagainya secara lebih luas. Instrumen kebijakan dari undang-undang (UU) sampai Peraturan Daerah (Perda) juga harus diubah, baik kebijakan finansial maupun politik. Contoh politik kebijakan adalah perda, di mana 75% perda di Indonesia tidak berbasis masyarakat dan masih bersifat miopik. Meskipun banyak perda di mana dalam proses pembuatan tata ruang yang mensyaratkan partisipatori, contohnya AMDAL.”[lxii]

Jadi, jika telah terdapat kebijakan yang direformasi dan jika kebijakan, misalnya, soal tata ruang telah diubah dan menyediakan ruang partisipasi bagi masyarakat, maka masyarakat akan damai dan sejahtera? Jika harus sampai pada kesimpulan seperti, “proses pengelolaan bersama dapat memiliki dampak yang signifikan terhadap kebijakan lingkungan”[lxiii], ngapain menggunakan Kropotkin dan Bookchin. Mungkin si penulis lupa bahwa AMDAL sebagai sebuah instrumen kebijakan hanya menjadi alat legitimasi eksploitasi lingkungan. Jari tangan kita tidak akan cukup untuk menghitung jumlah kasus lingkungan di Indonesia yang menyoal soal AMDAL. Saya jadi ingat jargon-jargon di NGO: ”ayo kita advokasi kebijakan, demi kesejahteraan masa rakyat!”. Jlebb…!

Saya pikir inilah kenapa mutual aid perlu ditinjau kembali entah untuk dikritik atau untuk disintesiskan. Selanjutnya, menurut saya yang harus dilakukan sekarang bukanlah mengajarkan konsep mutual aid pada petani Kendeng atau petani Kulonprogo, tapi justru belajar dari mereka. Menggali kembali konsep-konsep yang mengandung ciri mutual aid yang saya yakin memiliki akar historis pada masing-masing komunitas masyarakat di Indonesia dan hadir dengan nama-nama lokal seperti mapalus pada masyarakat Minahasa. Kemudian adalah mengongkritkan mutual aid dalam beragam bentuk asosiasi yang nyata, baik secara personal maupun secara kolektif dalam aksi-aksi dan kerja-kerja yang ada.

c. Polimorfisme

Dalam Biologi, polimorfisme adalah variasi feneotip yang muncul pada satu spesies yang sama atau kemunculan mofologi yang berbeda dalam satu spesies. Dalam evolusi, polimorfisme berkaitan dengan variasi genetik dan mutasi, contohnya adalah dimorfisme seksual. Polimorfisme pada satwa di Indonesia dapat ditemukan pada Macan Tutul Jawa (panthera pardus melas). Konsep polimorfisme telah digunakan oleh beberapa kelompok anarkis dalam menjelaskan bentuk-bentuk aksi-aksi yang beragam sehingga tak teridentifikasi baik bentuk maupun polanya. Polimorfisme juga berarti tak ada takaran dan ukuran dalam setiap aksi dan tindakan, sehingga setiap orang dengan potensi dan kelemahannya dapat berbuat sesuatu. Karena polimorfisme sendiri adalah kekuatan dari ‘kegagalan’ mutasi itu sendiri. Salah satu karakter polimorfisme adalah ia terjadi pada tempat dan waktu yang sama, dengan demikian ia adalah bantahan sekaligus proposal bagi mereka yang muak dengan aksi-aksi seragam dan instruksional. Seperti yang saya sebutkan dalam tulisan sebelumnya, maka hal yang dapat kita lakukan adalah berbagi pengalaman beragam aksi-aksi dari berbagai tempat di Indonesia.

2. Menciptakan dan atau meredefinikan relung

Untuk secara ringkas menjelaskan tentang usulan ini, saya mengutip Murray Bookchin:

The capacities of a new species are tested by the rigors of climate, by its ability to deal with predators, and by its capacity to establish and enlarge its niche. Yet the species that succeeds in enlarging its niche in the environment also enlarges the ecological situation as a whole…” [lxiv]

Kita terus dipaksa menempati relung (posisi-fungsi) sebagai pekerja dan konsumen. Tidak ada yang berada di luar itu. Separasi manusia dengan sesamanya dan dirinya sendiri adalah konsekuensi dari tercerabutnya manusia dari relung ekologisnya. Manusia disubjektifikasikan kedalam term pekerja sebagai objek otoritas dan penghisapan, selanjutnya pemenuhan hasrat difasilitasi lewat spektakel-spektakel. Segala potensi dan kreativitas dikanalisasi dalam standar tertentu dan relasi menjadi bebas dalam batasan norma-norma. Relung non-ekologis ini sangat luas, seluas batas teritorial negara, sehingga, simsalabim... kita jadi warga negara yang baik dan patuh. Dan ya, kapitalisme dan negara tetap ada karena kita secara sukarela menyerah pada eksistensinya, kita sepakat dengan tindakan koersif negara dan membiarkan intervensinya sampai pada relasi paling personal. Kita dibuat percaya bahwa inilah hakikat manusia, bahwa untuk inilah kita berevolusi, sebagai spesies, inilah relung paling sempurna.

Jika kalian menganggap ada yang salah dengan hal tersebut di atas, maka menurut saya adalah penting untuk menciptakan atau meredefinisikan relung kita masing-masing. Menentukan sendiri posisi dan fungsi kita dan menciptakan kembali relasi-relasi bebas dalam ruang yang tidak terbatas. Sehingga pilihan untuk menjadi ‘sesuatu’ atau tidak bukanlah hal yang penting lagi, semenjak kita telah menjadi diri sendiri. Kita bisa melihat contoh dari upaya redefinisi dan penciptaan relung ekologis ini misalnya pada individu-individu nelayan yang memilih menjadi pembangkang ketimbang jadi korban reklamasi. Pada kelompok pekerja yang menolak jadi budak sehingga mengambil alih pabrik kemudian menjalankannya dengan prinsip swakelola. Atau kita bisa melihat bentuk lainnya pada kolektif-kolektif ataupun afinitas yang mencoba menciptakan ruang-ruang bebas serta mendefiniskan sendiri relung ekologisnya. Selanjutnya menurut saya walaupun agak terburu-buru dan mungkin sangat prematur, saya pikir menciptakan atau meredefinisikan relung ekologi di sini juga dapat diartikulasikan dengan term yang diusulkan oleh Hakim Bey alias Peter Lamborn Wilson, temporary autonomous zones (TAZ)[lxv]. Bagaimana kita membangun zona-zona otonom temporer yang bebas. Bagaimana mengintensifikasikan diri dalam kehidupan harian yang serba monoton, sehingga jaringan rhizomatik dapat muncul di manapun dengan keunikannya masing-masing. Walaupun Bey dan Bookchin berseberangan ide, saya pikir ada banyak peluang untuk mendiskusikannya, banyak titik temu yang bisa dieksplorasi. Di sini mutasi dan hibridasi mesti dibawa ke tataran eksperimentasi.

3. Melacak ‘evolusi’ anarki(sme) di Indonesia

Jika kita mendefinisikan evolusi sebagai sebuah proses perubahan dan anarki(sme) juga berevolusi, maka ia ada saat ini dan di masa lalu, ia pasti meninggalkan jejak-jejaknya, dan kita pasti bisa menelusurinya. Saya ingin bicara soal anarki(sme) di Indonesia, mungkin lebih tepat alur perkembangannya. Beberapa bulan yang lalu, saya melihat postingan di media sosial oleh seorang kawan, E, yang berisi soal penggalan-penggalan sejarah anarki(sme) di Indonesia pra dan menjelang kemerdekaan 1945. Saya jadi ingat pada tahun 2010, Jurnal Amorfati memuat tulisan berjudul “Menakar Tanah di Negeri Sendiri dan Menggali Harapan”. Sebuah proposal dan proyek dalam menggali eksistensi dan jejak-jejak anarki(sme), ataupun gerakan dengan nilai-nilai anarkistik di Indonesia. Saya tidak tahu, apakah proyek tersebut dilaksanakan atau tidak, atau juga mungkin sedang dilakukan. Ini penting menurut saya, bukan soal menemukan pembenaran dan legitimasi gerakan anarki(sme) di Indonesia atau dalam upaya prediksi gerakan selanjutnya, tapi untuk mengidentifikasi dan merunut bagaimana sejarah dan perkembangannya, bagaimana potensi dan kelemahanya, bagaimana ia hadir dan lenyap. Hal ini juga berguna untuk mengetahui alternatif-alternatif yang belum pernah dilakukan dan atau memaksimalkan upaya-upaya yang telah dan sementara dilakukan. Belajar dari kemenangan dan kekalahan yang pernah ada.

Pada bagian literatur misalnya, saya ingat pertama kali membaca teks-teks anarki(sme) sekitar tahun 2004, hampir 60% pembahasanya bicara soal FAQ anarki(sme); apa itu anarki(sme), bagaimana menjadi anarkis, dll. Dari publikasi-publikasi tersebut hampir 40% adalah terjemahan sehingga sebagian besar teks-teks tersebut bicara soal gerakan anarkis di luar negeri[lxvi]. Menariknya menurut saya beberapa tahun kemudian, teks-teks publikasi online maupun offline mulai bicara tentang wacana sosial di Indonesia, mulai dari pengalaman pengorganisasian sampai kritik terhadap gerakan kiri. Hal ini bisa dilihat misalnya dari Jurnal Affinitas dan Jurnal Apokalips. Bahkan sebuah kolektif anti-otoritarian di Makassar menerbitkan Jurnal Kontinum dan Serum yang banyak mengangkat isu-isu lokal. Dibanding sekarang, tahun 2017, saya melihat ada peningkatan pada angka publikasi teks-teks anarkis yang kontekstual, tapi berbanding terbalik dengan publikasi offline seperti jurnal-jurnal, pamflet dan zine, yang sebelumnya banyak sekali beredar (walaupun terdapat beberapa buku terjemahan yang terbit dan beberapa zine tetap beredar).

Pada publikasi online juga tidak berbeda, beberapa situs yang sebelumnya aktif sekarang seperti terlantar. Publikasi di anarkis.org sendiri, dari 92 tulisan yang ada sampai tanggal 15 September 2017, terdapat 23,2% terjemahan, 8,6% tulisan yang dimuat ulang, 6,5% reportase, 5,5% resensi buku, 3,2% wawancara dan 52% opini yang terbagi dari tulisan redaksi dan penulis umum[lxvii]. Saya pikir dari begitu banyak kolektif anti-otoritarian yang ada dan pernah ada, pasti menyimpan banyak sekali pelajaran (literatur dan pengalaman). Dokumentasinya masih bisa kita temukan dalam beberapa blog dan publikasi offline seperti pamflet, zine, dan jurnal-jurnal. Dengan begitu, jika kita ataupun Bima bersedia mencari lagi di tumpukan buku-buku atau di beberapa folder lama maka kita akan ingat bahwa tahun 2009 Jurnal Amorfati #3 pernah memuat wawancara dengan Theresa Kintz yang membahas sedikit soal evolusi. Tahun 2009 Rumah Info Dandelion mempublikasikan kumpulan terjemahan berjudul “Uncivilized”. Di tahun yang sama, Tim Katalis mempublikasikan secara online tulisan berjudul “Terbuangnya Manusia dari Taman Firdaus” dan tahun 2010 mereka juga mempublikasi secara offline terjemahan John Zerzan yang berjudul “Agrikultur: Mesin Jahanam Peradaban”, dan secara online tulisan mengenai swarm intelegensia. Apa yang dibicarakan kelima tulisan tersebut sebenarnya tidak jauh berbeda dengan apa yang saya sampaikan di sini.

Usulan konkret saya semoga kawan-kawan redaksi anarkis.org dapat menyediakan waktu untuk kembali mengumpulkan beberapa literatur yang sebelumnya telah dipublikasikan oleh banyak kawan-kawan. Atau paling tidak membuka ruang diskusi yang lebih dinamis. Karena sekali lagi heterogenitas adalah lebih baik dari pada homogenitas. Semakin kompleks dan beragam organisme maka semakin baik bagi evolusi. Jika kita mengakui evolusi, maka sejatinya kita juga mengakui variasi dan keragaman, sehingga menurut saya adalah kebohongan jika kita mengakui heterogenitas namun menunggalkan banyak hal.

Catatan akhir

[i] Tulisan ini adalah kelanjutan dari tanggapan atas artikel Bima Satria Putra berjudul Primata, Hierarki, Revolusi. Lihat: http://anarkis.org/primata-hierarki-revolusi/.

[iii] Walaupun sebelumnya evolusi telah banyak disinggung oleh beberapa orang seperti Comte de Buffon, Pierre Louis Maupertuis, Jean Baptiste Lamarck, Erasmus Darwin, Alfred Russel Wallace, dll., namun lewat On the Origin of Species by Means of Natural Selection, Darwin memaparkan teori evolusi secara lebih terstruktur.

[iv] Ernst Mayr. 2001. What Evolution is. Phoenix Paperback. Great Britain. Hal 94

[v] Selain secara dibicarakan Darwin pada buku On the Origin of Species, hal ini juga dibahas lebih lanjut pada bukunya The Descent of Man, and Selection in Relation to Sex.

[vi] C. P. Groves and M. M. Lahr. 1994. A Bush Not a Ladder: Speciation And Replacement In Human Evolution. Perspectives in Human Biology. Vol. 4. Hal 1–11.

[vii] Walaupun keduanya, Kropotkin dan Reclus, tidak saling mengutip satu sama lain, kedekatan dalam kerja-kerja sebagai geografer dan individu yang tertarik dengan naturalisme mengakibatkan kedekatan dalam pandangan terhadap evolusi. Lihat dalam: Rob Knowles. Political Economy from Below: Economic Thought in Communitarian Anarchism, 1840-1914 . Routledge. New York. Hal 212-216.

[viii] Edisi pertama buku ini berjudul An Essay on the Principle of Population as It Affects the Future Improvement of Society, with Remarks on the Speculations of Mr. Godwin, M. Condorcet, and Other Writers. Diterbitkan secara anonim pada Tahun 1798, buku ini adalah tanggapan untuk seorang anarkis, William Godwin, khususnya pada bukunya yang berjudul Enquiry Concerning Political Justice and its Influence on Morals and Happiness, yang terbit tahun 1793. Bahkan dalam buku ini, Malthus membahas Godwin secara khusus dalam 5 bab (bab 10-15). Lihat dalam: Thomas Malthus. 1798. An Essay on the Principle of Population as It Affects the Future Improvement of Society, with Remarks on the Speculations of Mr. Godwin, M. Condorcet, and Other Writers. Printed for J. Johnson, in St. Paul’s Church-Yard. London. Reprinted. 1998. Electronic Scholarly Publishing Project. Pdf Version.

[ix] Charles Darwin. 1963. On the Origin of Species by Means of Natural Selection. Portugal. Publisher Erres e Esses Lda. Hal 90.

[x] Ibid. Hal 59. Perlu diingat bahwa Darwin sebenarnya menggunakan struggle for existence sebagai metafora seperti katanya: “I should premise that I use this term in a large and metaphorical sense, including dependence of one being on another, and including (which is more important) not only the life of the individual, but success in leaving progeny”.

[xi] Seleksi alam sampai saat ini masih diterima oleh hampir semua kalangan biolog. Kropotin sendiri tidak menolak konsep ini.

[xii] Charles Darwin. Op.Cit., Hal 20.

[xiii] Stephen Jay Gould. 1977. Ever Since Darwin: Reflections in Natural History. W. W. Norton & Company. New York- London. Hal 45.

[xiv] Ini adalah definisi yang sangat konvensional karena konsep niche sendiri terus berkembang lewat banyak penelitian, bahkan ada konsep konstruksi niche (niche construction) yang menjelaskan bagaimana spesies dapat mengubah lingkungannya dan memeengaruhi spesies yang lain akibat posisinya yang spesifik dalam relung ekologi.

[xv] Lyell’s sendiri terpengaruh oleh teori gradualisme James Hutton dalam bukunya Theory of the Earth yang terbit tahun 1785. Dalam buku itu disebutkan bahwa perubahan geologis berlangsung pelan tetapi pasti.

[xvi] Sebenarnya Spencer sendiri telah menerbitkan pemikirannya mengenai teori populasi dan perkembangannya dengan menggunakan pemikiran Lamarck, sebelum darwin menerbitkan The Origin of Species.

[xvii] Dapat diakses secara online pada https://archive.org/details/GautierDS.

[xviii] Geoffrey M. Hodgson. 2004. Social Darwinism in Anglophone Academic Journals: A Contribution to the History of the Term. Journal of Historical Sociology, 17(4), December 2004, pp. 428-63. Hal 8.

[xix] Walaupun saya agak ragu jika pertemanannya dengan Kropotkin memengaruhi pandangannya soal mutualisme, karena Le Darwinisme Social terbit tahun 1880 jauh sebelum Kropotkin menerbitkan Mutual Aid: A Factor of Evolution pada tahun 1902. Walaupun telah terdapat beberapa esai Kropotkin yang membahas tentang mutual aid, itu pun terbit antara tahun 1890 sampai 1896.

[xx] Saya melakukan penulusuran tulisan secara online dan pada situs https://theanarchistlibrary.org saja, saya menemukan 4 tulisan yang membahas soal biophilia, dua di antaranya merujuk langsung pada definisi Wilson.

[xxi] Wilson, E.O., 1984. Biophilia: The Human Bond with Other Species. Harvard University Press, Cambridge. Hal 1.

[xxii] Richard Dawkins. 1995. River Out of Eden: A Darwinian View of Life. Basic Books. London. Hal 70.

[xxiii] Ibid. Hal 133.

[xxiv] Lihat dalam beberapa jurnal antara lain: (1) Zechner, U. et. Al. (2001) A high density of X-linked genes for general cognitive ability: a run-away process shaping human evolution?. Trends Genet; 17(12): 697-701. doi: http://dx.doi.org/10.1016/S0168-9525(01)02446-5, (2) Keverne, E. B.; Surani, M. A. et. Al. (1996) Genomic imprinting and the differential roles of parental genomes in brain development. Brain Res Dev Brain Res; 92(1): 91-100. doi: https://doi.org/10.1016/0165-3806(95)00209-X, (3) Gécz, J. & Mulley, J. (2000) Genes for Cognitive Function: Developments on the X. Genome Res; 10: 157-163. doi:10.1101/gr.10.2.157.

[xxv] Charles Darwin. 1871. The Descent of Man, and Selection in Relation to Sex. Vol. I. John Murray. London. Hal 170.

[xxvi] Peter Kropotkin. 1890. Brain Work and Manual Work. The Anarchist Library. Pdf version. Hal 11-12. Diakses pada: https://theanarchistlibrary.org/library/petr-kropotkin-brain-work-and-manual-work.

[xxvii] Daniel P. Todes. 1989. Darwin without Malthus: The Struggle for Existence in Russian Evolutionary Thought. Oxford University Press.

[xxviii] Thomas F. Glick. 1988. The Comparative Reception of Darwinism. University of Chicago Press. Hal 259.

[xxix] Ibid. Hal 260.

[xxx] Kropotkin sendiri menyebutkan bahwa penjelasan Kessler merupakan pengembangan lebih lanjut dari gagasan yang diungkapkan oleh Darwin dalam bukunya The Descent of Man (1871).

[xxxi] Lihat dalam: Joakim Philipson. 2008. The Purpose of Evolution: the “struggle for existence” in the Russian-Jewish press 1860-1900. Thesis for Ph.D. Stockholm University. Hal 88. dan Thomas F. Glick. 1988. The Comparative Reception of Darwinism. University of Chicago Press. Hal 259-160.

[xxxii] Sebenarnya Kropotkin tidak pernah menggunakan kata altruisme dalam tulisannya, atau menjelaskan perilaku saling menolong pada taksa hewan sebagai sebuah perilaku altruistik. Namun banyak penjelasan Kropotkin soal kognisi sosial misalnya, menjadi terang bagi sebagian peneliti dalam upaya dalam mencari akar perilaku altruistik.

[xxxiii] Peter Kropotkin. 1902. Mutual Aid: A Factor of Evolution. The Anarchist Library. Pdf version. Hal 12, 14, 23, 26, 27, 28, 59, 75, 79, 114, 123, 133,137,139. Diakses pada: https://theanarchistlibrary.org/library/petr-kropotkin-mutual-aid-a-factor-of-evolution

[xxxiv] Ibid. Hal 10.

[xxxv] Stephen Jay Gould. 1997. Kropotkin Was No Crackpot. The Anarchist Library. Pdf version. Hal 6.

[xxxvi] Peter Kropotkin. Op.Cit., Hal 7

[xxxvii] Jika ditelusuri, terminologi seperti mutualisme dan simbiosis malahan berkembang sesudah term ini digunakan dalam bidang sosial dibandingkan dengan bidang biologi. Mutualisme (bukan mutual aid) dikenalkan oleh Pierre-Joseph van Beneden tahun 1876 (meskipun Darwin telah menggunakan kata mutual dan mutual aid dalam The Descent of Man tahun 1871, namun tidak ada penjelasan spesifik soal mutualisme sebagai bentuk asosiasi), sementara simbiosis dikenalkan Heinrich Anton de Bary tahun 1879. Sementara Nozhin mengenalkan mutual aid pada tahun 1860 baik dalam pengertian biologi maupun dalam bidang sosial.

[xxxviii] Peter Kropotkin. 1902. Op.cit.

[xxxix] Bradford D. Martin & Ernest Schwab. 2013. Current Usage of Symbiosis and Associated Terminology. International Journal of Biology; Vol. 5, No. 1; 2013. Published by Canadian Center of Science and Education. pp 32-45.

[xl] Pada dasarnya kedua jenis hubungan ini adalah hubungan yang saling menguntungkan di antara organisme yang terlibat dalam aktivitas tertentu. Namun mutualisme simbiotik merujuk pada hubungan secara langsung, yang mensyaratkan hadirnya satu organisme tertentu untuk kelangsungan organisme lain. ketidak-hadiran satu organisme di antara hubungan ini akan memengaruhi penurunan kualitas hidup organisme yang lain. Contoh umum dari mutualisme simbiotik adalah hubungan bakteri Rhizobium dengan legum (kacang), baik bakteri maupun legum tidak dapat menambat nitrogen secara mandiri, sehingga bila tidak ada Rhizobium maka tidak akan terdapat nitrogen dalam tanah dengan begitu legum tersebut akan mati. Sementara mutualisme non-simbiotik adalah hubungan yang cenderung bersifat fakultatif, tidak membutuhkan hubungan langsung dan tidak menimbulkan ketergantungan. Artinya, organisme dapat hidup sendiri, namun berhubungan secara mutual dapat memberikan keuntungan yang lebih. Contoh yang umum adalah lebah dan bunga, di mana lebah memperoleh makanan dari nektar dan sekaligus membantu penyerbukan bunga.

[xli] Ini intepretasi saya sendiri, mengingat dalam mutual aid Kropotkin tidak pernah bicara tentang simbiosis dan mutualisme secara umum.

[xlii] Peter Kropotkin. 1902. Op.Cit., Hal 12

[xliii] Peter Kropotkin. 1902. Op.Cit., Hal 22.

[xliv] Peter Kropotkin. 1927. Anarchist Communism: Its Basis and Principles. The Anarchist Library. Pdf version. Hal 3. Diakses pada: https://theanarchistlibrary.org/library/petr-kropotkin-anarchist-communism-its-basis-and-principles. Hal ini juga diulangi Kropotkin pada artikel lainnya berjudul The Place of Anarchism in Socialistic Evolution yang terbit tahun 1884.

[xlv] Pandangan gradualis Kropotkin dapat ditemukan pada beberapa artikelnya, di sini saya mengutip lengkap satu paragraf dari artikelnya berjudul Anarchism yang diterbitkan tahun 1910: “In common with most socialists, the anarchists recognize that, like all evolution in nature, the slow evolution of society is followed from time to time by periods of accelerated evolution which are called revolutions; and they think that the era of revolutions is not yet closed. Periods of rapid changes will follow the periods of slow evolution, and these periods must be taken advantage of — not for increasing and widening the powers of the state, but for reducing them, through the organization in every township or commune of the local groups of producers and consumers, as also the regional, and eventually the international, federations of these groups.”

[xlvi] Dalam Mutual Aid, Kropotkin melakukan studi literatur pada beberapa suku-suku ‘terasing’ (Kropotkin bahkan mengutip beberapa penelitian mengenai suku Dayak dan Papua) [lihat dalam Mutual Aid, hal 42-57] dan menemukan bahwa sangatlah berbeda dengan anggapan banyak orang tentang stigma ‘liar’ dan kejam. Sebaliknya Kropotkin berpendapat bahwa pada suku Dayak, suku-suku di Papua dan lainnya terdapat praktik kerjasama, solidaritas, asosiasi bebas, dan mutual support. Selanjutnya ia berpendapat, “..wherever we go the same sociable manners, the same spirit of solidarity. And when we endeavor to penetrate into the darkness of past ages, we find the same tribal life, the same associations of men, however primitive, for mutual support. Therefore, Darwin was quite right when he was evil, and Darwin’s vulgarizers are entirely wrong when they maintain the contrary.” (hal 57).

[xlvii] Hampir keseluruhan bab pada buku Mutual Aid sebelumnya telah dipublikasikan pada jurnal The Nineteenth Century, dari tahun 1890 sampai awal 1900-an. Ini adalah respons terhadap tulisan Huxley, The Struggle for Existence in Human Society, yang dimuat pada jurnal tersebut tahun 1888. Lihat dalam: Stephen Jay Gould. 1997. Kropotkin Was No Crackpot. The Anarchist Library. Pdf version. Hal 3. Bahkan Kropotkin menggantikan posisi Huxley sebagai editor pada bagian “Recent Science” jurnal tersebut tahun 1892.

[xlviii] Peter Kropotkin. 1902. Op.Cit., Hal 34: “The fittest are thus the most sociable animals, and sociability appears as the chief factor of evolution, both directly, by securing the well-being of the species while diminishing the waste of energy, and indirectly, by favouring the growth of intelligence.”

[xlix] Lihat dalam dua artikel Kropotkin, Anarchism: its philosophy and ideal dan Modern Science and Anarchism. Walaupun mesti diketahui, Kropotkin termasuk individu yang ketat dalam ranah sains, analisisnya pada mutual aid megindikasikan bahwa Kropotkin menghindari tendensi pandangan politiknya atau perspektifnya tentang anarki(sme). Tidak ada satupun kata anarki(sme), anarkis atau komunis-anarkis pada tulisannya tersebut, sehingga saya secara pribadi dapat mengatakan bahwa mutual aid adalah gagasan ilmiah atau tulisan sains populer ketimbang teks anarkis.

[l] Murray Bookchin. 1993. Sociobiology or Social Ecology. The Anarchist Library. Pdf version. Diakses pada: https://theanarchistlibrary.org/library/murray-bookchin-sociobiology-or-social-ecology .

[li] Murray Bookchin. 1988. The Population Myth.

[lii] Murray Bookchin. 1993. Op.Cit., Hal 17.

[liii] Murray Bookchin. 1993. Op.Cit., Hal 10-11.

[liv] Bookchin dengan jelas membedakan antara gerakan lingkungan dan ekologis. Lihat dalam: Murray Bookchin. 2005. The Ecology of Freedom. The Emergence and Dissolution of Hierarchy. AK Press. Hal 85-87.

[lviii] Peter Kropotkin. 1927. Anarchist Communism: Its Basis and Principles. The Anarchist Library. Pdf version. Hal 6. Kropotkin mengatakan, “Free workers would require a free organization, and this cannot have any other basis than free agreement and free cooperation, without sacrificing the autonomy of the individual to the all-pervading interference of the State. The no-capitalist system implies the no-government system.”

[lix] Berbeda dengan mutual aid yang digambarkan Kropotkin, Proudhon sendiri memperoleh gagasan mutualisme dari para Mutualité di kota Lyon yang pada awalnya adalah organisasi pekerja penenun sutra, di mana mereka menerapkan prinsip-prinsip pengelolaan bersama, mutualisme dan sistem ekonomi sendiri. Lihat dalam: James H. Billington. 2009. Fire in the Minds of Men: Origins of the Revolutionary Faith. Transaction Publishers. USA and London. Hal 300.

[lx] Banyak literatur yang menyebutkan salah satu perbedaan mendasar antara komunis-anarkis dengan kolektivis adalah sistem upah. Karena menurut Kropotkin tidak ada cara untuk mengukur kontribusi kerja seseorang. Perbedaan ini selanjutnya menuju pada implikasi berikut, bahwa kesadaran Kropotkin akan individu sebagai suatu entitas menyebabkanya memandang kepemilikan kolektif pada akhirnya mensubordinatkan individu. Pandangan komunis-anarkis inilah pada taraf tertentu disetujui oleh beberapa orang anarkis-insureksioner.

[lxiii] Ibid.

[lxiv] Lewis Herber (Murray Bookchin). 1964. Ecology and Revolutionary Thought. The Anarchist Library. Pdf version. Hal 11. Diakses pada: https://theanarchistlibrary.org/library/lewis-herber-murray-bookchin-ecology-and-revolutionary-thought

[lxv] Hakim Bey. 1985. T.A.Z.: The Temporary Autonomous Zone, Ontological Anarchy, Poetic Terrorism

[lxvi] Angka-angka ini berdasarkan perhitungan kasar (dan sangat subjektif) dari sejumlah publikasi online dan offline yang pernah saya akses dan baca. Tinggal di utara Sulawesi awal tahun 2000-an, tentu saja berbeda dengan di pulau lainnya, misalnya di Jawa yang dengan mudah mendapatkan akses bacaan, bahkan banyak teks yang beredar secara offline di utara Sulawesi adalah teks-teks dari kawan-kawan dari pulau Jawa.

[lxvii] Persentase ini mungkin tidak terlalu akurat mengingat pembagian konten di anarkis.org hanya dibedakan jadi dua bagian, wacana dan kabar dari garis depan. Agak bingung untuk mengetahui mana yang terjemahan, atau mana yang dimuat ulang, sehingga harus ditelusuri satu-persatu.

Baca Bagian Pertama


*)  Sebagai klarifikasi, penulis bukanlah mahasiswa doktoral biologi Institut Pertanian Bogor seperti yang dijelaskan oleh redaksi anarkis.org pada keterangan penulis di bagian sebelumnya: http://anarkis.org/primata-evolusi-anarkisme-bagian-1/. Lagi pula saat mengirimkan bagian pertama tulisan ini saya tidak menyertakan keterangan penulis. Kalaupun butuh keterangan, saya lebih senang mengindentifikasi diri sebagai penggemar aktivitas alam bebas dan senang mengamati satwa liar.

Print Friendly, PDF & Email

You may also like...

Leave a Reply