Hoax: Fakta dan Metode Alternatif, Langkah Menertawai Sistem

Gambar dari anonymond.com

Materialisme; Metamorfosa dan Proliferasi Pilihan

Tesis kuno marxisme secara vulgar melihat adanya determinasi dalam setiap dentum peradaban, dan tentu yang tertuduh adalah lagi-lagi kapitalisme, termasuk dalam hal ini produksi pengetahuan. Basis menjamin laju bait per bait suprastruktur, berkilah melalui ajuan kritik pos-marxis bahwa suprasutruktur bisa bekerja independen tanpa realitas penyokong basis tentu relevan dalam beberapa hal, namun tidak dalam dunia teknologi. Toh pada kenyataannya batasan berupa 150 karakter di twitter, dan dengan susunan alogaritma facebook, pengguna tidak bisa berbuat di luar daripada ketentuan tersebut, siapa lagi jika bukan mereka para pemiliki kapital. Yang mereka produksi memang bukan konten, betul bahwa proses produksi berjalan individual, namun dengan lini kerja yang sudah disodorkan sebelumnya.

Pembacaan ini secara tegas menentukan bahwa konsumsi adalah tak lain hasil dari produksi, dan bahkan lebih buruk lagi, tindak memberikan like dan membuat status di media sosial dinyana sebagai proses konsumsi diri, adalah sejatinya kita yang tengah dipekerjakan oleh facebook, kerja kerja immaterial.

Dalam era dimana prodeliberasi kuasa terjadi, pengembalian kapital pada lokus-lokus individual—anda secara delutif menganggap smartphone adalah milik Anda, namun pada saat yang sama terjadi tindak kontrol yang justru bersaling-silang dari tarikan tarikan asimetral dalam semesta diri kita. Alih-alih memproduksi dan bertindak sesuai dengan keinginan soliter—yang tentu tanpa pembacaan diskursus teknologi pun ini adalah suatu asumsi yang patut didaftarkan dalam menu pelengkap kambing guling karena semenjak manusia lahir dalam rahim sosial sedemikian juga dengan intensi tindakannya yang tidak pernah murni individual, lebih arif tatkala kita bisa mengakui bahwa kebebasan hanyalah guarauan pasca uyupan kuah soto Lamongan, dengan pengetahuan yang berupaya mengejar dakuan kebenaran tertinggi versi pemegang kapital, maka dengan begitu apa yang kita produksi, apa yang kita ingin dapati dapat ditebak, atau dengan kata lain terdeterminasi. Membaca historisisme secara linear seperti ini tentu bermasalah, dan lebih lucunya adalah justru kita para pengguna yang menyempurnakan ramalan yang diajukan media sosial. Video kucing yang disundul alogaritma facebook sejatinya tidak pernah secara definitif kita inginkan, namun karena dia yang terluapkan, maka dengan begitu kita menyukainya.

Sehingga di era ini pula manusia semakin mudah menjadi fanatik pada satu mahzab, mereka yang beraliran konservatif selalu berseteru dengan para rekan-rekan progresif, sesederhana karena telah dihilangkannya pilihan.

Dengan melejitnya teknologi, dan ubahan realitas termasuk dalam diri manusia, bisa dikatakan secara optimistis, bahwa inilah era kemenangan dari materialisme. Bahkan satuan informasi lebih mudah untuk ditelisik secara materialis, dibandingkan dengan mengangan-angankan wahyu yang turun dari sana—butuh lebih banyak semak menyala di bantaran sungai Ciliwung. Watak dasar dari materialisme adalah perubahannya, artinya bermetamorfosa dari satu bentuk ke bentuk lainnya, dan kejamakan posibilitas perubahan inilah yang dibendung dengan alogaritma yang sudah ditentukan oleh pemilik kapital. Basis dasar materialisme teknologi berubah menjadi fisikalisme. Langkah demi langkah perubahan telah di petakan. Gerak dari materialisme sejatinya mampu membuka prolierasi akan kemungkinan. Dari yang seharusnya tidak terbatas, hanya menjadi langkah terdeterminasi dari simpul satu ke simpul kedua.

Memberondong Narasi Utama, Fakta Alternatif

Maka fakta alternatif menjadi harapan demi memuainya realitas, dengan tidak terpaku dengan narasi agung yang telah dibentuk. Fakta-fakta alternatif berguna menyundul kerasnya ruang-ruang pengetahuan, agar pengetahuan tidak mandek. Justru dengan memberikan selingan fakta-fakta alternatif yang selama ini tidak terangkum dalam alam pengetahuan.

Penambahan fakta alternatif akan bereaksi secara langsung dengan pengetahuan lama, selain bisa jadi mensintesakan, atau bahkan menggugurkan tesis-tesis terdahulu. Yang jelas pengetahuan kembali bergerak, dan tidak diproduksi dari satu pihak saja. Feminisme contohnya, menyodorkan fakta-fakta alternatif dalam peradaban, berawal dari bagaimana realitas telah dibentuk laki-laki, dan berlanjut pada bagaimana bahasa sebagai produk olahan peradaban mengenakan langgam maskulin. Dengan itu pula ekspresi dan pengalaman perempuan tidak bisa diterjemahkan dalam susunan bahasa yang berkembang, sehingga perlu mengilustrasikannya lewat ekspresi dari tubuh sang perempuan. Dan kerja pengetahuan sejatinya demikian, dia hanya bekerja apabila disuplai dengan fakta-fakta yang tidak hanya mendukung, namun juga acapkali mematahkan kepercayaan lama.

Terma ‘alternative fact’ sendiri mulai naik pasca kemenangan Donald Trump. Dengan semena-mena dia mengklaim bahwa ada sekitar 1,5 juta massa yang hadir dalam upacara pelantikannya, yang tidak bersesuaian dengan fakta valid yang hanya berkisar sebanyak 250 ribu manusia. Dalam bahasa lain Donald Trump telah menyebar hoax, atau informasi dengan data palsu. Tidak hanya kali ini, bahkan sebaliknya dia merasa bahwa riset ilmiah mengenai pemanasan global tidaklah dia percayai, atau jika konversi menjadi riset ilmiah tersebut dianggap sebagai hoax.

Banyak dari masyarakat yang geram terlebih dengan bagaimana sifat Donald Trump selama ini ditampilkan di khalayak ramai. Termasuk beberapa orang yang dengan sangat bersemangat menguliti setiap porsi kesalahan dalam satu berita yang digolongkan sebagai hoax. Yang lebih lucu adalah, orang yang meledak-ledak marah dengan berita hoax adalah sekaligus rekan saya yang jumlah follower instragramnya sekitar 10 ribu dan seluruhnya bodong, alias dia membeli follower! Atau lebih radikal lagi, bahwa dalam 10 jepretan foto muka di satu waktu yang sama, akan terpilih satu di antara yang lain dengan tingkat timbal kepuasan paling tinggi bagi diri, ialah fakta yang kita sukai, sehingga orang akan selalu harus menambah caption #NoFilter tatkala foto yang diunggah alami. Kesepakatan kita satu, manusia senang ditipu, dan bahkan menipu diri sendiri. Maka tatkala netizen marah dengan hoax, artinya dia sejatinya sedang denial, karena sedari awal fakta adalah soal pilihan. Di sinilah kepercayaan muncul, dan sekaligus mengapa tidak mungkin menggugurkannya.

Praktik mereplikasi benda ternyata melampaui dari objek yang ditiru, lebih baik, lebih estetis dan kita menyukainya. Semenjak awal, fakta adalah persoalan pilihan, kita selalu akan memilih fakta yang kita sukai. Bukan lagi permasalahan selaras atau tidak dengan realitas, yang sering Anda jumpai ketidakcocokannya pada dating app semacam Tinder.

Maka fakta tidak pernah dihadirkan sebagai yang alami muncul dan masuk dalam slot-slot pengetahuan secara alamiah, sebagaimana selama ini terbayangkan. Selain slot yang sudah disediakan, sekaligus fakta yang ada adalah selalu fakta yang kita pilih, dan bahkan dalam kasus hoax dia tidak harus selalu berkorespondensi dengan fakta di luar sana.

Kerja Otak, Fitur Sokong Pragmatisme

Fakta yang sengaja ditangkap dan direproduksi dalam otak adalah selalu fakta yang otak sudah inginkan. Pertimbangannya tentu beragam, dan spekulasi saya sesederhana karena fakta atau informasi tersebut lah yang paling menguntungkan.

Peradaban selalu membayangkan otak adalah piranti dengan tujuan selalu menggapai kebenaran absolut di luar sana. Padahal, jika menempatkannya dalam laju sejarah evolusi, fitur otak murni muncul demi menyesuaikan dengan realitas. Dan dengan demikian, fungsi dan kerjanya praktis, tentu menjamin survavilitas. Maka, tatkala bertemu dengan ular kobra di hutan, kerja otak tidak seperti yang selama ini para pemikir bayangkan—sebuah keraguan absolut hanya terjadi tatkala Anda memiliki apartemen dan mulai gusar dengan tarif listrik yang mulai naik. Nenek moyang kita tentu saja langsung pontang panting berlarian menghindari bahaya gigitan racun sang ular. Maka otak sedari awal tidak didesain melayani ratu kebenaran, praktis ini adalah persoalan hidup dan mati. Termasuk dalam pengetahuan, ada proses mempercayai terlebih dahulu, baru kemudian antara meragukannya atau mencari justifikasi atasnya.

Sehingga tatkala dihadapkan dengan teorisasi kebenaran, yang paling benar adalah yang paling bisa diandalkan di realitas. Dan di sinilah hoax muncul, dia bekerja melayani kegusaran ibu-ibu paruh baya mengenai bahaya laten China, demi mengukuhkan identitas pribumi Jawa nan beragama Islamnya. Hoax muncul praktis dalam kerangka pragmatis, dia memberikan signifikansi di realitas.

Keluar dari Bineritas, dan Alternatif yang Tak Alternatif

Dengan hoax yang bekerja secara pragmatis, maka binerisasi benar-salah sudah tak mampu lagi dipergunakan menentukan di posisi mana hoax tersebut berada. Hoax sudah terlepas dari dikotomi biner semacam itu, hoax abai dari kriteria akademik. Contoh sederhana adalah dengan adanya ujaran ‘aseng’, menyambung kata asing, biasanya berbentuk kalimat seruan, “Indonesia telah diduduki antek asing dan aseng”. Padahal jika ingin ketat dalam berlogika, selain daripada yang lokal hanya akan ada asing, hanya ada dua kategori, maka konyol tatkala ada kategori baru dengan nama aseng. Tapi justru dengan itulah hoax disusun, dia terlepas betul dari acuan-acuan pengetahuan yang digagas sebagai yang benar.

Dalam sains, bisa didapati hal ini lumrah dalam pseudo-science, pengetahuan yang mustahil untuk dipatahkan, bukan karena dia telah memenuhi keabsolutan pengetahuan yang benar, justru sebaliknya. Pengetahuan yang benar adalah yang mampu memenuhi ketidakmungkinannya, artinya dia bisa dipatahkan dengan pengetahuan baru. Hoax akan selalu meleset tatkala coba untuk dibidik, karena memang dia sedari awal diciptakan tidak demi memenuhi kaidah pengetahuan. Tentu Anda bisa dengan sangat jeli menelanjangi argumentasi-argumentasi mandul dalam sebongkah  hoax, namun hal tersebut tidak akan bermakna apa apa, karena dia akan tetap saja bekerja.

Maka dalam hal ini juga mustahil menjadikan orang bertobat dari konsumsi akan hoax, selain bentuk sektarianisme berkat alogaritma yang telah tersusun, manusia sedari awal memilih fakta, dan terlebih dihadapkan dengan situasi yang menguntungkan survavilitasnya. Di sanalah mengapa hoax subur. Sevalid apapun argumentasi penggugur yang disodorkan, tidak akan bisa menggugurkan kepercayaan, karena memang hoax tidak dirancang dengan kevalidan semacam itu.

Hoax tidak bekerja secara soliter, mereka berkoloni, sehingga tatkala satu buah di antara mereka telah dikonsumsi akan secara bersamaan berduyung-duyung rekannya menyusul. Bentukan informasi mengenakan mode bahasa, satu dentuman hoax akan meresonansi kata-kata lain, layaknya kata kebangkitan PKI akan turut bersamaan menggetarkan kata ateisme, dan seterusnya. Ini menunjukkan bahwa pada setiap bongkah informasi, akan dibentukkan kosmologi informasi penyokong di sekitarnya. Itulah alasan mengapa setiap dalam diskusi akan selalu berakhir dengan salah seorang di antara yang lain kehabisan komentar tatkala ditanya suatu hal, dengan alasan komentar yang akan dia utarakan sudah disampaikan oleh yang lain. Ini menjukkan bahwa pikiran sosial telah dikonstruksi, sehingga bahkan komentar pun akan sudah disediakan slot-slot analisis sesuai dengan pesanan. Padahal seharusnya akan selalu muncul alternativitas dari satu fakta, dan yang alternatif inilah yang dipangkas. Sehingga apa yang diklaim selama ini sebagai alternatif bisa jadi tidaklah se-alternatif itu. Sekaligus menandaskan bahwa yang alternatif, adalah fakta yang tak lain diproduksi oleh pihak yang sama. Mengutip Zizek bahwa bahkan apa yang kita imajinasikan sebagai jalan keluar dari persoalan ini adalah yang sudah disediakan oleh pihak yang berkepentingan.

Berdasarkan lansiran dari Oxford Dictionari’s Word of The Year, maka era ini adalah era post-truth, yang di dalamnya beranak pinak post-facts. Beberapa sangat optimis melihat bahwa hoax akan efektif digunakan demi melawan media yang menghamba pada kebenaran tunggal, di sisi lain beberapa gusar dengan tumbuh-kembangnya hoax. Menggunakan nalar kritis dalam era seperti ini? Yang benar saja, nalar kritis tak ayal hanya akan seperti pengaplikasian lie detecor dari zaman James McKlenzie sampai Jessica Kumala Wongso. Cara terbaik memperlakukan hoax adalah dengan menertawainya. Mustahil dia disapu bersihkan dari realitas.

Apa yang jauh lebih mendesak dibutuhkan adalah metode yang alternatif, bahkan dengan fakta sejanggal apapun, dengan kacamata yang sama, akan berakhir pada narasi yang sama. Dia, fakta yang alternatif adalah yang sebelumnya sudah ada dalam kerangka pikir sistem terdahulu. Membuang sistem, menjabarkan realitas keluar dari slot-slot yang sudah dibentuk. Inilah yang sedang peradaban butuhkan.


Penulis adalah Founder Deadpoøl Universitas Indonesia. Direktur Kajian SGRC UI. Mahasiswa Filsafat Universitas Indonesia. 

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply