Bab XXV

Mitos Bolshevik

(Diary 1920–1922)

Alexander Berkman


Terbit: Sebagai pamplet oleh
Teks asli: oleh
Proofed: oleh

Terbit dalam bahasa Indonesia:
Terjemah: 
Proofreading terakhir: 


Bab XXV

Nestor Makhno

Karena begitu tertarik dengan kepribadian dan kegiatan-kegiatan Makhno, aku meminta Yossif menggambarkan sejarahnya secara esensial.

Lahir dari orang tua yang sangat miskin di desa Gulyai-Pole (di wilayah Alexandrovsj, Provinsi Yekaterinoslav, Ukraina) Nestor menjalani masa kecil yang suram. Ayahnya meninggal cepat, meninggalkan lima anak lelaki yang masih kecil untuk dibesarkan ibunya. Pada usia 8 tahun Makhno muda harus membantu mempertahankan hidup keluarganya. Di bulan-bulan musim dingin dia “disewa” untuk mengurus sapi petani kaya. Sebelum berusia 12 tahun, di pergi untuk bekerja di wilayah lain, di mana perlakuan yang brutal dan pekerjaan tanpa penghargaan membuatnya membenci para mandor yang galak dan pejabat-pejabat Tsar yang selalu menindas orang miskin. Revolusi 1905 membawa Makhno, yang baru berusia 16 tahun, bersentuhan dengan ide-ide sosialis. Gerakan emansipasi dan kemakmuran manusia dengan cepat menarik perhatian pemuda yang giat dan penuh imajinasi itu, dan segera saja dia bergabung dengan kelompok kecil anarkis petani muda di desanya.

Pada 1908, ditangkap karena aktivitas revolusionernya, Makhno diadili dan dihukum mati. Karena dia masih muda, bagaimanapun, dan karena usaha yang dilakukan ibunya yang enerjik, hukuman itu dikurangi menjadi kerja paksa seumur hidup. Dia menghabiskan tujuh tahun di penjara Butirki di Moskow, dimana jiwa pemberontaknya terus membuatnya selalu berurusan dengan pihak berwenang. Sebagian besar waktu hukumannya habis di dalam penjara soliter, dengan rantai mengikat tangan dan kakinya. Tetapi dia menggunakan waktunya dengan baik: dia membaca berbagai macam bacaan, dan secara khusus tertarik pada ekonomi-politik, sejarah, dan sastra. Dibebaskan oleh Revolusi Februari, dia kembali ke tanah kelahirannya, sebagai seorang anarkis yang teguh, dimatangkan oleh bertahun-tahun penderitaan, belajar, dan berpikir.

Sebagai satu-satunya orang yang merdeka secara politis di desanya, Makhno segera menjadi pusat kerja revolusioner. Dia mengorganisasikan kelompok buruh dan soviet pertama di distriknya, dan secara sistematis mendorong kaum tani untuk memberontak pada para pemilik-pemilik lahan besar. Saat pasukan Austro-Jerman menduduki wilayah itu, dan Hetman Skoropadsky dengan bantuan penjajah mencoba membungkam pemberontakan kaum agraria, Makhno menjadi salah satu yang pertama kali membentuk unit-unit militer untuk mempertahankan revolusi. Gerakannya cepat membesar, dan mencakup wilayah yang lebih luas. Keberanian ugal-ugala dan taktik gerilya yang dilakukan oleh kaum tani membuat musuh panik, tetapi rakyat menganggap mereka sebagai teman dan pembela. Ketenaran Makhno menyebar, dia menjadi malaikatp pembalas dendam bagi rakyat jelata, dan dia dianggap sebagai pembebas yang hebat yang telah diramalkan oleh Pugatchev di saat kematiannya. Dalam kisah masyarakat setempat, Yemilian Pugatchev, seorang pemimpin pemberontakan petani dan Cossack di masa Catherine II, saat akan dieksekusi pada 1775 meramalkan tentang datangnya seorang pahlawan yang akan membebaskan rakyat dari penindasan.

Penjajahan Jerman yang terus berlangsung dan tirani para tuan tanah setempat menghasilkan pengorganisasian unit-unit pasukan petani di seluruh Ukraina. Sebagian bergabung dengan Makhno, yang jumlah pasukannya segera mencapai seukuran angkatan darat, dengan perlengkapan dan pakaian yang memadai, dan memiliki senapan mesin dan artileri. Pasukannya sebagian besar petani, dan banyak di antara mereka yang kembali ke ladang masing-masing untuk kembali lagi bertani saat distrik mereka untuk sementara bebas dari musuh. Tetapi jika Nestor memanggil mereka karena ada bahaya, para petani itu akan meninggalkan rumah mereka untuk memanggul senjata dan bergabung dengan pemimpin tercintanya, yang kepadanya mereka menaruh hormat dan memanggilnya dengan akrab sebagai “bat’ka” (ayah).

Semangat Makhnovstchina menyapu seluruh Ukraina selatan. Di baratlaut yang juga terdapat unit-unit petani, terjadi peperangan melawan penjajah asing dan jenderal-jenderal Putih, tetapi tanpa adanya kesadaran sosial dan ide-ide yang jelas. Makhno, kemudian menggunakan bendera hitam kaum anarkis Rusia sebagai simbolnya, dan mengumumkan program yang jelas: komune otonom kaum tani merdeka, penolakan semua bentuk pemerintahan, dan penentuan hidup sendiri yang seutuhnya berdasarkan prinsip-prinsip kerja. Soviet-soviet petani dan buruh merdeka dibentuk oleh delegasi-delegasi yang berseberangan dengan pejabat-pejabat soviet Bolshevik, yaitu menjadi soviet yang imformatif dan mampu mengambil keputusan ketimbang menjadi soviet yang sewenang-wenang.

Kaum komunis mengakui kejeniusan militer Makhno, tetapi juga menyadari bahayanya terhadap kediktatoran Partai Komunis karena menyebarnya ide-ide anarkis. Mereka mencari cara untuk memanfaatkan pasukan Makhno hanya untuk penetingan komunis, tetapi di saat yang sama berupaya menghancurkan kualitas esensial dari gerakan itu. Karena kesuksesannya yang luar biasa dalam melawan pasukan penjajah dan jenderal-jenderal kontrarevolusi, kaum Bolshevik meminta Makhno untuk bergabung dengan Tentara Merah, dan menjanjikan pasukan petaninya mendapatkan otonomi. Makhno setuju dan pasukannya menjadi Brigade Ketiga Tentara Merah, yang kemudian secara resmi dikenal sebagai Divisi Revolusioner Pertama Petani Ukraina. Tetapi harapan kaum Bolshevik untuk menyerap para pemberontak petani ke dalam Tentara Merah menemui kegagalan. Di wilayah Makhno pengaruh kaum komunis tidak begitu banyak, dan bahkan mereka tidak sanggup mempertahankan lembaga-lembaganya di sana. Lalu dengan terselubung mereka menyusupi konferensi-konferensi petani dan mengkriminalkan Makhno, berharap membuatnya tersingkir dari kaum tani.

Tetapi hubungan seperti apa pun yang terjadi antara kaum Bolshevik dengan Makhno, dia selalu datang untuk menyelamatkan revolusi saat terancam oleh Tentara Putih. Dia melawan setiap musuh kontrarevolusioner yang mencoba merebut kekuasaan di Ukrainia, termasuk Hetman Skoropadsky, Petlura, dan Denikin. Dia menghancurkan Grigoriev, yang pernah bergabung dengan komunis tetapi mengkhianati mereka. Tetapi kaum Bolshevik, yang takut dengan semangat Makhnovstchina, terus mencoba merusak dan memecah belah pasukannya, dan bahkan menawarkan hadiah untuk kepala Makhno, seperti yang pernah dilakukan Denikin. Pengkhianatan kaum komunis yang berulang akhirnya membuncah, dan membuat Makhno melawan kaum komunis dengan keras bagai kaum reaksionis Kanan.

Kisah Yossif terjeda oleh kedatangan kawan-kawan yang aku temui di datcha di acar sebelumnya. Kami menghabiskan waktu berjam-jam mendiskusikan hal-hal organisasi anarkis, kesulitan akivitas di hadapan penghukuman kaum Bolshevik, dan sikap reaksioner yang semakin meningkat yang ditunjukkan pemerintah komunis. Tetapi, seperti yang biasa terjadi di Ukraina, topik pembicaraan secara bertahap berpindah pada Makhno. Seseorang membaca kutipan dari media pers resmi soviet yang dengan kasar menyerang dan mengkriminalkan Nestor. Walau sebelumnya kaum Bolshevik menyebut dia sebagai pemimpin revolusioner yang hebat, sekarang mereka menggambarkan dia sebagai seorang bandir dan kontrarevolusi. Tetapi kaum tani selatan—Yossif yakin—terlalu mencintai Makhno dan tak mungkin memisahkan diri dari dia. Mereka mengenalnya sebagai teman sejati, mereka melihatnya sebagai bagian mereka. Mereka sadar dia tidak ingin menguasai mereka, tidak seperti Bolshevik yang sama saja dengan Denikin. Sudah menjadi tradisi Makhno jika dia merebut satu kota besar atau kota kecil untuk mengumpulkan semua rakyat dan mengumumkan bahwa mereka untuk selanjutnya merdeka untuk untuk mengatur hidup mereka sendiri sebaik mungkin yang mereka pikirkan. Dia selalu memproklamirkan kebebasan berbicara dan pers yang sepenuhnya, dia tidak memenuhi penjara atau memulai eksekusi, yang biasanya dilakukan kaum komunis. Kenyataannya, Nestor menganggap penjara sebagai hal tidak berguna bagi orang-orang merdeka.

“Sangat sulit mengatakan siapa yang benar atau salah dalam konflik antara kaum Bolshevik dan Makhno,” ungkap sang Tentara Merah. “Trotsky mendakwa dia telah berdamai dengan Denikin, sementara Makhno mengklaim bahwa dia menarik mundur pasukannya karena Trotsky dengan sengaja tidak memberi divisinya suplai amunisi di saat yang kritis. Tetapi benar bahwa aktivitas Makhno melawan garis belakang Denikin, terutama dengan memotong Tentara Putih dari pangkalan artilerinya, telah memberi jalan bagi kaum Bolshevik untuk memotong gerakan Tentara Putih menuju Moskow.”

“Tetapi Makhno menolak untuk bergabung dalam perang melawan Polandia,” sergah sang Pesimis.

“Memang benar,” jawab Yossif. “Perintah Trotsky untuk mengirim pasukan Makhno ke garis depan Polandia tujuannya hanya untuk menyingkirkan Nestor dari distriknya sendiri dan kemudian membuat distrik itu berada di bawah kekuasaan para komisar, karena ketidakhadiran para pembelanya. Makhno melihat niat itu dan melawannya.”

“Kenyataannya adalah,” sang Pesimis kukuh, “bahwa kaum komunis dan pendukung Makhno bertindak sebaik mungkin untuk menghancurkan satu sama lain. Kedua pihak bersalah atas kebrutalan dan kekejaman yang luar biasa. Bagiku kelihatannya Makhno tidak keberatan untuk membantai kaum komunis.”

“Kau benar-benar buta dengan menyedihkan,” sergah Yasha, seorang anarkis yang menduduki jabatan penting di lembaga soviet, “jika kau tidak bisa melihat arti revolusioner yang luar biasa dari gerakan Makhno. Itulah ekspresi paling penting dari keseluruhan revolusi. Partai Komunis hanyalah lembaga politik, yang mencoba—dengan sukses—menciptakan kelas tuan yang baru atas kaum penghasil, sebuah kekuasaan sosialis. Tetapi gerakan Makhno, adalah ekspresi langsung dari kerja revolusi itu sendiri. Itu adalah gerakan massa pertama yang sangat luar biasa yang digerakkan oleh upaya mereka sendiri untuk memerdekakan diri dari pemerintah dan menegakkan penentuan ekonomi sendiri. Dalam hal itu, gerakan itu benar-benar anarkistis.

“Tetapi anarkisme tidak dapat diwujudkan melalui kekuatan militer,” ucapku.

“Tentu saja tidak,” Yossif mengakui. “Nestor pun tidak sedang berpura-pura melakukan itu. ‘Aku hanya membersihkan lahan,’ itu yang selalu dia katakan kepada kamerad-kamerad yang mendatanginya. ‘Aku mengusir para penguasa, Putih dan Merah,’ ucapnya, ‘dan terserah anda untuk menafaatkan kesempatan itu. Agitasikan, progandakan ide-idemu. Bantu untuk melepaskan dan melaksanakan kekuatan kreatif dari revolusi.’ Itu pandangan Makhno terhadap situasi ini.”

“Sungguh kesalahan besar bahwa sebagian besar rakyat kita menjauhi Makhno,” kata Yasha. “Mereka tinggal di Moskow atau Petrograd, dan apa yang mereka raih? Mereka tidak dapat melakukan apa pun kecuali memenuhi penjara milik kaum Bolshevik. Dengan gerakan petani kita memiliki kesempatan unik untuk mempopulerkan pandangan-pandangan kita dan membantu rakyat membangun hidup yang baru.”

“Untuk diriku sendiri,” ungkap Yossif, “Aku yakin bahwa revolusi telah mati di Rusia. Satu-satunya tempat dimana revolusi masih hidup hanya di Ukraina. Di sini ada harapan besar bagi kita,” tambahnya dengan yakin. “Yang harus kita lakukan adalah bergabung dengan Nestor, semua di antara kita yang ingin aktif.”

“Aku tidak sepakat,” sang Pesimis keberatan.

“Dia selalu tidak sepakat saat ada pekerjaan yang harus dilakukan,” sergah Yossif, dengan senyum sinis yang bahkan lebih menoreh dibandingkan kalimatnya yang paling tajam. “Tetapi kalian, kawan,” dia menatap yang lain, “kalian harus benar-benar menyadari ini: Oktober, seperti Februari, hanyalah satu fase dalam proses regenerasi sosial. Pada Oktober Partai Komunis mengeksploitasi situasi untuk meraih tujuan-tujuan mereka sendiri. Tetapi tahapan itu telah dengan percuma membuat padam kemungkinan-kemungkinan dalam revolusi. Tetapi corongnya masih memiliki air yang akan terus mengalir sampai sumbernya kering, mencari perwujudan misi sejarah yang mereka luar biasa, yaitu emansipasi orang-orang yang bekerja untuk revolusi. Kaum Bolshevik telah menjadi statis, mereka harus memberi tempat bagi kekuatan kreatif yang baru.

Lalu malam itu Yossif mengajakku bicara berdua. “Sasha,” ucapnya serius, “kau lihat bagaimana kami berbeda dalam memandang gerakan Makhno. Sangat penting bagimu untuk mempelajari situasi yang sebenarnya sendiri.” Dia menatapku tajam.

“Dengan senang hati aku mau bertemu Makhno,” jawabku.

Wajahnya merona bahagia. “Seperti yang aku harapkan,” jawabnya. “Dengar, kawanku, aku telah membicarakan hal ini dengan Nestor—dan, omong-omong, dia tidak jauh dari sini sekarang. Dia ingin bertemu denganmu, kau dan Emma. Tentu saja kau tak dapat menemuinya begitu saja,” Yossif tersenyum pada tanya di tatapanku, “Nestor akan mengatur untuk berada di tempat di mana kereta museum yang membawamu akan berhenti pada tanggal yang ditentukan. Untuk mengamankanmu dari penghukuman oleh kaum Bolshevik, dia akan menyergap seluruh Ekspedisi—kau paham, bukan?”

Sambil merangkulkan tangannya, dia mengajakku menepi dan menjelaskan detil rencana itu.