Pierre-Joseph Proudhon

bio-proudhon

Tulisan berikut merupakan gambaran singkat mengenai kehidupan salah seorang pemikir awal Anarkisme modern dan sedikit sketsa pemikiran dan aktivitas politiknya. Tulisan berikut hanya ditujukan sebagai pengantar dan ulasan singkat bagi pembaca berbahasa Indonesia, namun bukan sebagai tulisan yang membahas Proudhon secara mendalam.


Pierre-Joseph Proudhon (diucapkan [Prud ɒn] dalam bahasa Inggris Britania Raya, [pʁu dɔ] dalam bahasa Perancis) (15 Januari 1809 – 19 Januari 1865) adalah seorang ekonom dan filsuf Perancis sosialis yang merupakan orang pertama yang menyebut dirinya “anarkis” dan dianggap salah satu pemikir anarkis yang pertama. Dia adalah seorang buruh, tukang cetak, yang belajar membaca Latin secara otodidak hingga juga dapat mencetak buku-buku dalam bahasa tersebut. Proudhon dikenal dengan pernyataannya “Kepemilikan adalah pencurian!” dalam surat resminya “Apa yang dimaksud dengan Kepemilikan? Atau, Pertanyaan Seputar Prinsip Hak Pemerintah” yang berjudul asli Qu’est-ce que la propriété? Recherche sur le principe du droit et du Gouvernement yang merupakan karya besarnya yang pertama, diterbitkan pada tahun 1840.

Penerbitan “Apa yang Dimaksud dengan Kepemilikan?” menarik perhatian otoritas Perancis, dan juga Karl Marx yang memulai korespondensi dengan Proudhon. Kedua pria ini saling mempengaruhi; mereka bertemu di Paris ketika Marx diasingkan di sana. Persahabatan mereka berakhir sepenuhnya ketika Marx menulis tanggapan terhadap “Filsafat Kemiskinan” Proudhon, yang berjudul “Kemiskinan Filsafat”. Perselisihan tersebut merupakan salah satu asal-usul perpecahan antara Anarkis dan Marxis di Asosiasi Pekerja Internasional (International Working Men’s Association). Ada juga perpecahan antara anarkis yang sepakat dengan Mikhail Bakunin dan yang sepakat dengan Proudhon. Proudhon percaya bahwa kepemilikan kolektif bukanlah sesuatu yang diinginkan dan bahwa revolusi sosial dapat dicapai dengan cara damai.

Dalam bukunya “Pengakuan Seorang Revolusioner”, Proudhon menulis, antara lain, ungkapan yang terkenal, “anarki adalah tatanan”. Dia berusaha membuat sebuah bank nasional yang memberi pinjaman bebas bunga, yang mirip dalam beberapa hal dengan kredit union dewasa ini (meskipun kredit union mengenakan bunga, bunga tersebut umumnya lebih rendah dari bank laba).

Tahun-tahun Awal

Proudhon lahir di Besançon, ayahnya adalah seorang pembuat tong bir. Sebagai anak laki-laki, dia menggembalakan sapi dan melakukan kegiatan sederhana lainnya yang dekat dengan alam. Tapi dia tidak sepenuhnya otodidak; Pada umur enam belas, Proudhon masuk perguruan tinggi di tempat asalnya meskipun keluarganya sangat miskin sehingga dia tidak bisa mendapatkan buku-buku yang diperlukan, dan harus meminjamnya dari teman-temannya supaya dapat menyalin pelajaran. Pada umur sembilan belas, dia menjadi juru ketik, lalu berkembang menjadi korektor untuk pers, menyunting karya-karya gerejawi, dan dengan demikian memperoleh pengetahuan teologi yang sangat kompeten. Dengan cara ini juga, dia belajar bahasa Ibrani, dan membandingkannya dengan Yunani, Latin dan Perancis; Ini adalah bukti awal keberanian intelektualnya dan kelebihannya dalam bidang bahasa sehingga dia lalu menulis Essai de Grammaire Generale. Karena Proudhon tidak tahu apa pun tentang prinsip-prinsip filologi yang benar, maka risalah yang dia tulis tersebut tidak dihargai. Pada tahun 1838, dia memperoleh dana Suard, beasiswa senilai 1500 franc per setahun selama tiga tahun, dalam rangka memberi dorongan semangat bagi mereka yang berprestasi di Akademi Besançon.

Ketertarikan dalam Politik

Pada tahun 1839, Proudhon menulis sebuah risalah L’Utilité de la célébration du dimanche, yang berisi inti gagasan revolusionernya. Pada waktu itu, dia pergi ke Paris, tempat dia hidup miskin, asketis dan melakukan banyak sekali studi. Walaupun begitu, dia cukup familar dengan ide-ide sosialis yang nantinya berkobar di ibukota. Pada 1840, dia menerbitkan karya pertamanya Qu’est-ce que la propriété. Jawabannya yang terkenal untuk pertanyaan ini, La propriété, c’est le vol (kepemilikan adalah pencurian), tentu tidak menyenangkan akademi Besançon, dan ada sejumlah upaya untuk menarik beasiswanya; tapi dia tetap menerima beasiswa tersebut secara reguler. Karena memoar ketiganya tentang kepemilikan, yang berbentuk surat kepada Fourierist, M. Considrant, dia ditangkap di Besançon namun dibebaskan. Pada 1846, dia menerbitkan karyanya yang terbesar, Système des contradictions économiques ou Philosophie de la misère. Selama beberapa waktu, Proudhon mencoba mendirikan percetakan kecil di Besancon, tetapi gagal; setelah itu dia menjadi semacam manajer di perusahaan komersial di Lyons. Pada 1847, dia meninggalkan pekerjaan ini, dan akhirnya menetap di Paris, tempat dia dikenal sebagai salah satu perintis inovasi. Pada tahun ini, dia juga menjadi seorang Freemason.

 Proudhon dan Revolusi 1848

Proudhon dikejutkan oleh pemberontakan di Paris pada Februari 1848. Dia berpartisipasi dalam pemberontakan Februari tersebut dan pembentukan dari apa yang disebut dengan “proklamasi republik pertama” dari republik baru tersebut. Tapi dia ragu terhadap pemerintah baru karena mengejar reformasi politik dengan mengorbankan reformasi sosial-ekonomi yang dianggap Proudhon sebagai hal dasar. Proudhon menerbitkan perspektifnya sendiri untuk reformasi, Solution du problème social, yang di dalamnya dia menuliskan sebuah program kerjasama keuangan mutual di kalangan pekerja. Dia percaya hal ini akan memindahkan kontrol hubungan ekonomi dari kapitalis dan pemodal ke tangan pekerja. Inti rencananya adalah pembentukan bank yang memberikan kredit dengan tingkat bunga yang sangat rendah dan penerbitan “nota pertukaran” yang akan beredar sebagai pengganti uang berbasis emas.

Selama Republik Kedua, Proudhon membuat dampaknya yang terbesar pada publik lewat jurnalismenya. Dia terlibat dalam empat surat kabar yang berbeda: La Représentant du Peuple (Februari 1848 – Agustus 1848); Le Peuple (September 1848 – Juni 1849); La Voix du Peuple (September 1849 – Mei 1850); Le Peuple de 1850 (Juni 1850 – Oktober 1850). Gaya penulisannya yang polemik, dikombinasikan dengan persepsinya tentang dirinya sebagai orang luar yang tidak terlibat politik, menghasilkan jurnalisme yang agresif dan sinis yang menarik banyak pekerja Perancis, meskipun mengasingkan yang lain. Dia berulang kali mengkritik kebijakan pemerintah dan mempromosikan reformasi kredit. Demi tujuan ini, dia berusaha untuk mendirikan sebuah bank rakyat (Bank du Peuple) di awal tahun 1849. Meskipun lebih dari 13.000 orang mendaftar (kebanyakan pekerja), pendapatan sangat terbatas dan gagal mencapai target sebanyak  18.000 FF dan seluruh usaha pada dasarnya mati sejak lahir.

Proudhon mencalonkan diri sebagai majelis konstituante pada bulan April 1848, namun gagal terpilih, meskipun namanya muncul di surat suara di Paris, Lyons, Besançon, dan Lilles. Namun, dia kemudian berhasil dalam pemilihan pelengkap yang diadakan pada 4 Juni, dan menjabat sebagai wakil selama debat-debat dalam Lokakarya Nasional. Proudhon tidak pernah mendukung lokakarya tersebut karena memahami betul bahwa kegiatan tersebut dasarnya adalah lembaga amal yang tidak mengatasi masalah sistem ekonomi. Namun, dia menentang penghapusannya kecuali beberapa alternatif lain bisa diberikan kepada para pekerja yang mengandalkan lokakarya tersebut untuk bertahan hidup.

Dia terkejut dengan kekerasan selama Pemberontakan Juni (June Days). Setelah mengunjungi barikade-barikade selama peristiwa tersebut, dia secara pribadi merefleksikan bahwa kehadirannya di Bastille merupakan “salah satu tindakan yang paling terhormat dalam hidup saya.” Tapi, secara umum, selama gejolak yang terjadi pada tahun 1848, Proudhon menentang pemberontakan dan menganjurkan konsiliasi damai—sikap yang sesuai dengan pandangan anti-kekerasannya sepanjang hidup. Dia tidak setuju dengan pemberontakan dan demonstrasi Februari, Mei, dan Juni 1848, meskipun bersimpati pada ketidakadilan sosial dan psikologis yang terpaksa harus diderita oleh para pemberontak. Dia berpendapat bahwa kekuatan yang bereaksi satu sama lain bertanggung jawab atas peristiwa-peristiwa tragis tersebut.

Filsafat Politik

Dalam karya-karyanya yang paling awal, Proudhon menganalisis sifat dan masalah ekonomi kapitalis. Selain sangat kritis terhadap kapitalisme, dia juga keberatan dengan sosialis kontemporer yang mengidolakan asosiasi. Dalam serangkaian komentar, dari “Apa yang Dimaksud dengan Kepemilikan?” (1840) melalui Théorie de la propriété (Teori Kepemilikan, 1863-1864) yang terbit secara anumerta, dia menyatakan bahwa “kepemilikan adalah pencurian”, “kepemilikan adalah sesuatu yang tidak mungkin”, “kepemilikan adalah despotisme” dan “kepemilikan adalah kebebasan”. Kontradiksi yang tampak dari rangkaian pernyataan tersebut sebenarnya bisa dipahami jika kita tahu bahwa dalam “kepemilikan adalah pencurian”, dia menggunakan kata tersebut untuk mengartikan jenis kepemilikan yang menciptakan kondisi eksploitatif. Secara khusus, dia mengacu pada alat-alat produksi yang tidak dimiliki sendiri oleh buruh, dan pada sistem kerja upahan.

Di sisi lain, dalam menegaskan bahwa kepemilikan sangat penting bagi kebebasan, dia mengacu tidak hanya pada produk kerja individu, tetapi juga pada petani atau rumah dan alat-alat perdagangan pengrajin. Untuk Proudhon, satu-satunya sumber sah atas kepemilikan adalah kerja. Apa yang seseorang hasilkan adalah miliknya dan apa pun di luar itu adalah bukan miliknya. Dia dapat dianggap sebagai sosialis libertarian karena menganjurkan manajeman swakelola pekerja dan menentang kepemilikan alat-alat produksi yang kapitalistik. Namun, dia menolak produk kerja dimiliki oleh masyarakat, dengan alasan bahwa “kepemilikan dalam produk […] tidak membawa serta kepemilikan dalam produksi […] Hak atas produk bersifat eksklusif […] hak atas sarana produksi adalah kepemilikan bersama” dan berlaku pada tanah (“tanah adalah […] sesutu yang dimiliki bersama “) begitu pula tempat kerja (“semua akumulasi kapital menjadi milik sosial, tidak ada yang bisa menjadi pemilik eksklusif “). Proudhon memiliki banyak argumen yang menentang hak atas tanah dan kapital, termasuk alasan berdasarkan moralitas, ekonomi, politik, dan kebebasan individu. Salah satu argumennya adalah bahwa hak tersebut memungkinkan munculnya profit, yang pada gilirannya menyebabkan ketidakstabilan sosial dan perang dengan menciptakan siklus utang yang akhirnya melampaui kapasitas kerja untuk dapat melunasinya. Alasan lain adalah bahwa hak tersebut menciptakan “despotisme” dan mengubah pekerja menjadi pekerja upahan yang tunduk pada otoritas bos.

Dalam “Apa yang Dimaksud dengan Kepemilikan?”, Proudhon menulis:

“Kejatuhan dan matinya masyarakat disebabkan oleh kekuatan akumulasi yang dimiliki oleh kepemilikan.”

Dalam Teori Kepemilikan, dia menyatakan: “Sekarang, di tahun 1840, saya secara kategoris menolak gagasan kepemilikan … untuk kelompok maupun individu,” tapi kemudian menyatakan teori barunya tentang kepemilikan: “kepemilikan adalah kekuatan revolusioner terbesar yang ada, dengan kapasitas tiada bandingnya untuk membangun dirinya melawan otoritas … ” dan ” fungsi utama kepemilikan pribadi dalam sistem politik adalah untuk bertindak sebagai penyeimbang kekuatan negara, dan dengan demikian, untuk menjamin kebebasan individu. ” (Theory of Property in Selected Writings of Pierre-Joseph Proudhon hal. 136). Namun, dia masih menentang kepemilikan tanah dan berpendapat bahwa “kepemilikan” harus didistribusikan secara lebih merata dan terbatas dalam ukuran yang akan benar-benar digunakan oleh individu, keluarga dan asosiasi pekerja (Theory of Property in Selected Writings of Pierre-Joseph Proudhon hal. 129, 133, 135). Dia mendukung hak warisan, dan membelanya “sebagai salah satu dasar dari keluarga dan masyarakat.” (Steward Edwards, Introduction to Selected Writings of P.J. Proudhon) Namun, dia menolak untuk memperluas ini melampaui milik pribadi dengan alasan bahwa “di bawah hukum asosiasi, pemindahan kekayaan tidak berlaku untuk alat-alat kerja.” (di Daniel Guerin (ed.), No Gods, No Masters, vol. 1, p. 62).

Sebagai konsekuensi oposisinya terhadap profit, kerja upahan, eksploitasi pekerja, kepemilikan tanah dan kapital, serta kepemilikan oleh negara, Proudhon menolak kapitalisme dan komunisme. Dia mengadopsi istilah mutualisme bagi merek anarkismenya, yang melibatkan kontrol alat-alat produksi oleh para pekerja. Dalam visinya, pengrajin mandiri, petani, dan koperasi akan memperdagangkan produknya di pasar. Bagi Proudhon, pabrik-pabrik dan tempat kerja besar lainnya akan dijalankan oleh ‘asosiasi pekerja’ yang berjalan atas dasar prinsip-prinsip demokrasi langsung. Negara akan dihapuskan. Sebaliknya, masyarakat akan diselenggarakan oleh federasi “komune bebas” (komune adalah pemerintah daerah setempat dalam bahasa Perancis). Pada tahun 1863, Proudhon berkata, “Semua ide-ide ekonomi saya yang berkembang selama dua puluh lima tahun dapat diringkas dalam kata: Federasi agrikultural-industrial. Semua ide-ide politik saya tergabung dalam formula yang sama: Federasi politik atau desentralisasi”.

Proudhon menentang pengenaan bunga dan sewa, tapi tidak berusaha untuk menghapuskannya lewat hukum. “Saya protes bahwa ketika saya mengkritik … kompleks lembaga-lembaga yang menjadi batu fondasi bagi kepemilikan, saya tidak pernah bermasud untuk … melarang atau menekan lewat keputusan yang memiliki otoritas, sewa tanah dan bunga atas kapital. Saya percaya bahwa semua bentuk-bentuk aktivitas manusia harus tetap bebas dan opsional bagi semua. ” (Solution of the Social Problem, 1848-49)

‘Revolusi’ ala Proudhon tidak berarti gejolak penuh kekerasan atau perang saudara, melainkan transformasi masyarakat. Transformasi ini pada hakekatnya bersifat moral dan menuntut etika tertinggi dari orang-orang yang mencari perubahan. Transformasi ini adalah reformasi moneter, dikombinasikan dengan pendirian kredit bank dan asosiasi pekerja, yang Proudhon usulkan untuk digunakan sebagai tuas pembawa tata kelola masyarakat sesuai prinsip-prinsi yang baru. Dia tidak menunjukkan bagaimana lembaga keuangan akan mengatasi masalah inflasi dan kebutuhan akan alokasi sumber daya yang langka secara efisien.

Dia menulis sedikit kritik terbuka terhadap Marx atau Marxisme, karena dalam masa hidupnya, Marx adalah seorang pemikir yang relatif sedikit dikenal; hanya setelah kematian Proudhon lah Marxisme menjadi gerakan besar. Namun, dia pernah menyebut Marx sebagai salah satu “orang yang pendengki, iri hati, koleris jahat” dalam sebuah artikel yang tidak diterbitkan, yang di dalamnya Proudhon mendukung pemusnahan semua orang Yahudi—sebuah pandangan anti-yahudi yang banyak ditentang oleh pemikir anarkis modern lain.

Proudhon juga mengkritik sosialis otoriter di masanya. Ini termasuk negara sosialis Louis Blanc, yang dikomentarinya dengan, “Biarkan saya berkata pada M. Blanc: Anda tidak menginginkan Katolik atau monarki atau bangsawan, tetapi Anda pasti punya Tuhan, agama, kediktatoran, sensor, hierarki, pembedaan, dan tingkatan. Bagi saya, saya menyangkal Tuhanmu, otoritasmu, kedaulatanmu, Negara hukummu, dan semua mistifikasi perwakilanmu. ” Adalah buku Proudhon “Apa yang dimaksud dengan Kepemilikan?” yang meyakinkan Karl Marx muda bahwa kepemilikan pribadi harus dihapuskan. Dalam salah satu karya pertamanya, The Holy Family, Marx mengatakan, “Proudhon tidak hanya menulis untuk kepentingan kaum proletar, dia sendiri adalah seorang proletar, seorang ouvrier. Karyanya adalah manifesto ilmiah proletariat Perancis.” Marx, bagaimanapun, tidak sepakat dengan anarkisme Proudhon dan kemudian menerbitkan kritik keras terhadapnya. Marx menulis “Kemiskinan Filsafat” sebagai sanggahan dari “Filsafat Kemiskinan” karya Proudhon. Dalam sosialismenya, Proudhon diikuti oleh Mikhail Bakunin. Setelah kematian Bakunin, sosialisme libertariannya bercabang ke dalam komunisme anarkis dan anarkisme kolektivis, dengan pendukung terkemuka seperti Peter Kropotkin dan Joseph Déjacque.


Terjemahan oleh Yab Sarpote, dari anarchopedia berbahasa Inggris [http://eng.anarchopedia.org/Pierre-Joseph_Proudhon – diakses tanggal 20 Juni 2015]