Surganya Bossnapping: Memenuhi Tuntutan Pekerja

Pengantar dan sejarah singkat aksi bossnapping – yaitu pekerja yang menahan atasan mereka untuk memenangkan tuntutan-tuntutan mereka – yang ditulis oleh Evan Johnston.

Jika kalian belum pernah mendengar tentang aksi bossnapping (yang jika diterjemahkan secara harafiah berarti “bos yang tidur siang”, atau intinya, penyekapan bos – red) hal itu persis seperti yang kalian pikirkan: pekerja menculik atau menahan atasan mereka dengan tujuan menekan mereka untuk menyetujui tuntutan mereka. Tapi siapa sih, tepatnya, yang menjadi target aksi bossnapping, dan seperti apa kejadiannya?

Semua bervariasi tergantung pada konteksnya, tapi “bos” yang diculik adalah orang-orang seperti manajer dan direktur sumber daya manusia (HRD) hingga pejabat eksekutif. Ciri umum dari target – selain mengakibatkan ketidaknyamanan tak tertahankan, yang merupakan kesengsaraan umum di setiap tempat kerja – adalah mereka yang memiliki tingkat kekuasaan dalam mempekerjakan / memecat pekerja dan juga kuasa dalam keseluruhan proses perburuhan.

Namun beberapa fleksibel juga, dalam aksi “bossnapping”. Beberapa diantaranya menculik atasan kalian dari rumah mereka (bayangkan National Lampoon’s Christmas Vacation – penj. Sebuah film komedi tahun 1989); Menculik atasan kalian dari tempat kerja dan menahan mereka di lokasi yang terpisah (bayangkan jam kerja 9 to 5); atau bentuk yang paling umum, yaitu menjaga atasan Anda terkunci di suatu tempat di tempat kerja, biasanya di kantor mereka sendiri.

Dalam jargon literatur hubungan industrial, aksi bossnapping kadang-kadang disebut sebagai “pengucilan manajemen,” yang merupakan bukti kemampuan tertinggi para akademisi untuk menjauhkan kehidupan dari segala hal yang menarik. Ha!

Sud Aviation: Nantes, 1968

Di tahun 2009, aksi bossnapping ramai di media dan semua orang pun menjadi tahu setelah serangkaian insiden yang dilaporkan media secara luas di Prancis, namun hal ini tak lepas dari sejarah panjang perjuangan kelas. Mungkin salah satu kasus yang paling menonjol terjadi di Nantes, Prancis saat pendudukan pabrik di Sud Aviation pada tahun 1968.

Pekerja Sud Aviation melakukan mogok secara simbolis selama 15 menit untuk memprotes pemotongan upah dan jam kerja akibat berkurangnya permintaan pesanan. Pada saat bersamaan, ada juga rumor penutupan pabrik bahkan penutupan yang sepenuhnya. Ketika pemogokan umum dimulai di seluruh Prancis, para pekerja di satu bagian pabrik menolak untuk kembali bekerja setelah pemogokan 15 menit mereka, dan memutuskan untuk berbaris melewati pabrik dan meyakinkan seluruh pekerja untuk bergabung dengan mereka.

Aksi pendudukan terjadi, dan sekitar 2.000 pekerja membangun barikade di dalam pabrik. Kemudian, seperti yang digambarkan oleh Andree Hoyles dalam Imagination in Power: Pendudukan Pabrik di Prancis pada tahun 1968, “dua puluh anggota manajemen ditahan selama lebih dari dua minggu,” ditahan di kantor mereka, namun dirawat dengan baik: memiliki akses ke makanan, air, dan keluarga mereka.

Bossnapping bukanlah tindakan nakal dari satu atau dua orang yang tidak sabar, seperti yang kadang-kadang dicitrakan media, namun justru merupakan bagian dari proses pengorganisasian diri pekerja yang lebih luas dan terkoordinasi selama aksi pendudukan. “Satu kelompok lebih dari dua puluh pemogok berdiri di luar, melakukan jadwal shift jaga dua jam sekali,” tulis Hoyles, dan “pada setiap pertemuan umum, sebuah pemungutan suara diambil mengenai apakah akan membebaskan tahanan mereka atau tidak.” Namun aktivitas serikat pekerja sama sekali tidak tinggi di Sud Aviation sebelum pemogokan umum, namun ada para Trotskyis terorganisir di pabrik membantu mendorong tindakan militan lebih lanjut di situ.

Satu hal dari pendudukan Sud Aviation yang sangat saya nikmati adalah bahwa “pengeras suara menyanyikan Internationale terus-menerus sebagai ‘cara yang efektif bagi atasan untuk mempelajari Internationale tanpa pendekatan ideologis'”. Sebenarnya, taktik serupa dilaporkan oleh New York Times selama gelombang aksi bosnapping yang terakhir, sehingga bos dari Caterpillar France mengalami “malam musik rock revolusioner.” Musik, tampaknya, akan selalu memiliki peran penting dalam perjuangan revolusioner.

Caterpillar: Grenoble, 2009

Seharusnya tak mengherankan bila gelombang aksi bosnapping berikutnya juga terjadi di Prancis. Pada tanggal 31 Maret 2009, dalam menghadapi gelombang PHK saat itu, sekitar 40 pekerja di pabrik Caterpillar di Grenoble, Prancis, menyerbu kantor bos mereka dan membangun barikade di dalamnya. Para pekerja membawa empat sandera, termasuk Nicolas Poultnik, Pemimpin Eksekutiif Caterpillar France, dan menahan mereka selama 24 jam. Tujuan mereka adalah memastikan paket pesangon yang adil karena perusahaan tersebut memberikan pemberitahuan pemutusan hubungan kerja kepada 733 dari 2.700 pekerja di dua pabriknya. Hal ini terjadi segera setelah krisis ekonomi global, di mana Caterpillar mengurangi 25.000 pekerja di seluruh dunia.

Untuk tujuan jangka pendek, aksi bossnapping sangat efektif. Seperti yang Bloomberg laporkan, setelah terjadinya penangkapan bos, “perusahaan menaikkan total paket pesangonnya dari € 48,5 juta menjadi € 50 juta, yang berjumlah rata-rata € 80.000 ($ 108.000) per pekerja. Pada tahun yang sama, pembuat alat Ariston menyetujui paket pesangon hingga € 90.000 untuk pekerja di sebuah pabrik di Inggris yang memprotes rencana pemecatan pekerja dengan mengunci manajer agar tak keluar dari gedung tersebut.”

Bukan kali itu saja terjadi, aksi bossnapping di Caterpillar adalah satu insiden di antara gelombang respons serupa terhadap krisis ekonomi. Seperti dilaporkan Guardian, “krisis di perusahaan Caterpillar adalah badai krisis yang ketiga pada bulan Maret.” Bossnapping lainnya terjadi di perusahaan farmasi AS 3M, dan di Sony France.

Goodyear Tire & Rubber: Amiens, 2014

Langsung ke tahun 2014, meskipun undang-undang yang disahkan oleh mantan presiden Prancis Nicolas Sarkozy untuk mengurangi aksi bossnapping, namun aksi bossnapping kembali terjadi di Goodyear Tire & Rubber Plant di Amiens, Prancis, sekitar 150 km utara Paris.

Pada tanggal 6 Januari, setelah pengadilan menolak seruan Serikat Pekerja Perancis (CGT) terhadap isu penutupan pabrik, para pekerja menduduki pabrik tersebut dan mengambil direktur HR, Bernard Glesser, dan manajer produksi, Michel Deilly, menyandera sampai perusahaan tersebut menyetujui paket pesangon yang lebih tinggi untuk seribu orang yang direncana PHK.

Goodyear, sebuah perusahaan yang berbasis di Ohio, telah berusaha untuk menutup pabrik tersebut selama beberapa tahun, dengan argumen keadaan pasar mobil dan ban Eropa. Menurut CGT, penutupan tersebut menempatkan sekitar 1.250 pekerja dalam keadaan rawan, dan mereka menuntut agar paket pesangon yang ditawarkan kepada karyawan meningkat dari € 20.000 menjadi € 80.000 (dari $ 27.000 sampai $ 108.000).

Menurut sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh CGT: “Kami hanya ingin terus bekerja dan tidak menambah jumlah pengangguran yang seringkali terpinggirkan, dan jika kita harus menggunakan metode ekstrem, kita tidak akan ragu untuk melakukan itu.”

Lebih dari 100 pekerja menempati pabrik tersebut, dan menahan para manajer di dalamnya selama 30 jam sampai penyelesaian tercapai. Namun, perusahaan tersebut menolak untuk bernegosiasi saat Michel dan dan Bernard ditahan, jadi mereka dilepas keesokan harinya.

Segera setelah itu, penyelesaian tercapai, dan CGT mengakhiri pendudukan pabrik tersebut. Pada akhirnya, sementara Goodyear menolak untuk menunjukkan rinciannya, CGT mengklaim bahwa mereka memenangkan uang pesangon yang tiga kali lebih besar dari yang semula ditawarkan. Ini merupakan kemenangan penting bagi persatuan pekerja dalam situasi yang sangat sulit.

Namun, aksi bossnapping ini bukan tanpa konsekuensi. Meskipun benar bahwa aksi bossnapping pada umumnya tidak menimbulkan tuntutan pidana, Financial Times melaporkan pada bulan Januari bahwa delapan mantan pekerja Goodyear masing-masing telah menerima hukuman penjara 2 tahun karena peran mereka dalam aksi bossnapping.

Specialty Medical Supplies: Beijing, 2013

Sementara berita-berita utama memberitakan soal fenomena aksi bossnapping sampai keanehan kelas pekerja Prancis yang satu-satunya melakukannya, para pekerja di China hendak membuktikan bahwa mereka salah.

Pada bulan Juni 2013, para pekerja di perusahaan milik Amerika Specialty Medical Supplies, yang terletak di pinggiran kota Beijing, menyandera Chip Starnes, pemiliknya selama 6 hari. Dan seperti yang telah kita lihat sebelumnya, ini adalah sebuah tindakan terkoordinasi dengan partisipasi aktif sebagian besar pekerja.

Satu laporan berita menunjukkan bahwa 80 pekerja berhasil membangun barikade di setiap pintu keluar, dan piket bergiliran untuk memastikan bahwa mereka dijaga sepanjang waktu. Meskipun tidak ada laporan tentang adanya acara musik revolusioner, mereka secara teratur menggedor jendela kantor si bos dan menyorotnya dengan cahaya terang – tapi saya hanya berasumsi ini adalah aksi iseng untuk mengingatkan si bos akan betapa mereka menghargai bisnisnya dan komitmennya terhadap manajemen yang profesional.

Alasan aksi bossnapping seharusnya tidak terdengar asing: manajemen telah mengungkapkan rencana mereka untuk melakukan perampingan perusahaan, dan memindahkan operasi mereka ke India untuk mengurangi biaya operasional. Pekerja takut kehilangan pekerjaan mereka, dan jika pabrik itu akan pergi, mereka menginginkan paket pesangon yang adil.

Pekerja telah menerima kabar bahwa 30 karyawan tetap telah menerima paket pesangon, namun sekitar 100 pekerja lagi merasa khawatir bahwa mereka tidak diberi apa-apa saat perusahaan tersebut memutuskan untuk pindah.

“Saya merasa seperti binatang yang terperangkap,” Starnes dilaporkan berbicara melalui jeruji jendela, sementara pekerja berada di pabrik yang sempit, tidak memiliki banyak keluhan pada gaji dan kondisi kerja mereka, dan keluh kesah disimpan dalam kegelapan. Tentang apakah pekerjaan mereka akan tetap ada di masa depan, mungkin mereka tidak tahu seperti apa rasanya.

Namun setelah 6 hari penahanan, Starnes dan eksekutif Specialty Medical Supplies menyerah pada tuntutan pekerja, dan akhirnya setuju untuk menandatangani sebuah perjanjian kompensasi baru dengan 97 karyawan lainnya.

Zhongji Pile: Huizhou, 2013

Sayangnya untuk kelas penguasa China, hal di atas bukan satu-satunya aksi bossnapping yang terjadi pada bulan Juni. Pada tanggal 30 Juni, lebih dari 200 pekerja di pabrik Zhongji Pile di Huizhou, Provinsi Guangdong, mengelilingi gedung perkantoran perusahaan dan menuntut kelima eksekutif yang mengunjungi pabrik tersebut membayar mereka upah yang tak mereka bayarkan.

Seperti yang dilaporkan Han Tang untuk Labour Notes:

Para pekerja mengatakan perusahaan Zhongji, yang membuat tiang beton untuk jembatan, pada awalnya berjanji untuk membayar mereka minimal RMB 4500 per bulan (sekitar $ 734 dalam dolar AS). Tapi kemudian jam kerja mereka dikurangi karena resesi, dan selama tiga bulan terakhir mereka belum dibayar.

Yang lebih buruk lagi, para administrator menyatakan bahwa mereka akan menjual pabrik tanpa izin pekerja. Hal ini mendorong mereka untuk mengambil tindakan. Radio Free Asia melaporkan seorang pekerja mengatakan, “Kami tidak akan membiarkan mereka pergi karena jika mereka pergi maka tidak akan ada yang tersisa, perusahaan juga tidak akan mengirim orang lain ke pabrik yang baru.” Kunjungan para eksekutif puncak memberikan sebuah kunci bagi para pekerja untuk menyatakan keluh kesah mereka, dan banyak yang khawatir kesempatan ini tidak akan terulang lagi jika perusahaan tersebut direlokasi.

Aksi bossnapping itu terorganisir dengan baik. Para eksekutif berkali-kali mencoba melarikan diri, namun para pekerja telah memblokir semua pintu keluar, dan memiliki sekelompok pekerja yang menjaga mereka. Seorang eksekutif mencoba menyerang seorang pejabat pemerintah dengan harapan bisa ditangkap, namun para pekerja tidak mengizinkan siapa pun keluar.

Seperti biasa, bos tidak diperlakukan dengan buruk – mereka menerima makanan setiap hari, dan akses ke dunia luar disediakan. Satu-satunya hal yang tidak bisa mereka lakukan adalah membiarkan mereka pergi sampai tuntutan pekerja terpenuhi, dan setelah empat hari pendudukan, para bos tersebut menyerah.

Pada hari Kamis, 4 Juli, perusahaan mengumumkan bahwa kontrak dengan semua pekerja akan tetap berlaku setelah pabrik dipindahkan, dan gaji tersebut akan dibayarkan sesuai dengan kontrak tersebut.

Menurut Buletin Buruh China, konfrontasi antara pekerja dan manajemen mengenai upah, pesangon, dan relokasi telah menjadi peristiwa umum di sektor manufaktur, namun jumlah pasti tetap sulit diketahui. Namun, satu pola jelas: ketika pekerja bertindak secara kolektif, mengendalikan tempat kerja mereka, dan menunjukkan kepada atasan mereka siapa yang benar-benar memiliki kekuatan, tidak lama kemudian mereka menyerah pada tuntutan pekerja.

Apa yang dilakukan para manajer?

Dunia manajemen memperhatikan ancaman terhadap mata pencaharian mereka karena adanya aksi penangkapan bos (bossnapping), dan sebuah bisnis kecil telah tumbuh untuk membantu para eksekutif memahami dan mengendalikannya melewati saat-saat krisis semacam itu.

Sebagai permulaan, mari kita lihat apa yang dikatakan tentang hal itu di buku-buku Sumber Daya Manusia (HRD).

Dalam buku Organizational Behavior: Science, The Real World, and You, penulis mencatat bahwa:

Sentimen publik tampaknya menguntungkan para tukang penculik bos, karena mayoritas percaya bahwa aksi bossnapping mungkin merupakan satu-satunya cara tuntutan karyawan dapat didengar. Dan aksi bossnapping sepertinya sangat efektif. Pabrik Sony, direncanakan tutup dengan menghilangkan 311 pekerja, para pekerja yang melakukan aksi bossnapping mendapat 13 juta euro yang ditambahkan ke paket redundansi (sesuatu yang kelebihan -red), dan di pabrik 3M, di mana 110 pekerja di PHK, para pekerja yang melakukan aksi bossnapping mendapatkan kesepakatan untuk mendapatkan gaji sepuluh bulan mendatang.

Buku Handbook on the Economics of Conflict menunjukkan “penculikan bos jelas-jelas ilegal, tapi efisien dalam memberlakukan renegosiasi terhadap pengusaha mengenai persyaratan redundansi.” Mereka terus ramai mempertanyakan mengapa tindakan ilegal ini tidak hanya berhasil, tapi juga banyak didukung:

Kelas pekerja merasakan solidaritas dengan mereka yang kehilangan pekerjaan dan kelas menengah dengan egois berpendapat bahwa ‘aksi bossnapping’ tidak semaksimal mogok besar-besaran dimana semua kereta api dan sekolah juga kantor pos ditutup. Oleh karena itu, pendapat umum tampaknya bersikap toleran positif terhadap aksi bossnapping tanpa melukai selama beberapa jam sehingga kemarahan pekerja bisa mereda.

Dan buku In Human Resource Management: A Concise Introduction, kita belajar bahwa “fenomena [aksi bossnapping] telah memicu pertumbuhan penyedia layanan yang menawarkan saran kepada eksekutif yang khawatir mereka dapat dikurung oleh para pekerjanya.”

Salah satu penyedia layanan tersebut adalah Gilles Verrier, CEO perusahaan HR Verité RH Prancis, yang mengembangkan “peralatan bertahan hidup dari aksi bossnapping (bossnapping survival kit)”. Peralatan ini mencakup ponsel yang diprogramkan dengan beberapa kontak keluarga, polisi, dan seorang psikolog, dan paket pakaian ganti.

Lus Laboris, grup firma hukum HR (SDM), menawarkan saran berikut untuk para eksekutif yang memikirkan persiapan membuka cabang di Prancis:

Untuk melindungi diri dari risiko baru ini (aksi bossnapping), perusahaan asing yang didirikan di Prancis harus fokus pada pencegahan dini. Hal ini terutama terjadi melalui pembinaan manajemen soal bagaimana menangani situasi semacam itu dan pengorganisasian dialog yang efektif antara pekerja dan atasan di perusahaan mereka. Sekalipun tidak dapat dibenarkan, penyekapan seorang manajer selalu merupakan akibat dari hubungan yang buruk antara karyawan dan atasan mereka.

Tidak mengherankan, sementara buku-buku HRD dan perusahaan konsultan menyadari bahwa taktik bossnapping itu efektif, tidak satupun dari mereka tampaknya merekomendasikan untuk memperlakukan pekerja dengan hormat dan memberi mereka apa yang layak mereka dapatkan. Meskipun saya kira tidak adil mengharapkan teknisi eksploitasi kapitalis untuk merekomendasikan “menyerahkan alat-alat produksi” sebagai upaya untuk mengatasi konflik antara buruh dan modal.

Pentingnya Bossnapping

Meskipun masih banyak yang bisa dikatakan soal taktik bossnapping, sekarang adalah waktunya untuk memberi hormat pada keberanian dan kreativitas para pekerja yang telah memutuskan untuk menculik atasan mereka dalam usaha mencapai keadilan.

Dalam menghadapi PHK, penutupan pabrik, dan ketiadaan rasa empati, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari sistem kapitalis, para pekerja selalu menemukan cara baru untuk membela diri dan juga mengembalikan martabat diri mereka dan rekan kerja mereka. Aksi bossnapping adalah salah satu taktik semacam itu, yang berisiko tinggi, tapi menunjukkan situasi putus asa yang dihadapi pekerja di seluruh dunia saat terjadi krisis global kapitalisme tingkat lanjut.

Evan Johnston adalah seorang aktivis buruh dan peneliti tinggal Hamilton, Ontario, Canada.

Libcom.org adalah sumber daya bagi semua orang yang ingin berjuang untuk memperbaiki kehidupan, komunitas dan kondisi kerja mereka. Kami ingin berdiskusi, belajar dari kesuksesan dan kegagalan masa lalu dan mengembangkan strategi untuk meningkatkan kekuatan kita, orang biasa, untuk memiliki kehidupan kita sendiri.

Diterjemahan oleh Jojos, aktif dalam Persaudaraan Pekerja Regional (PPR)- Jombang, sebuah inisiatif pembangunan organisasi pekerja.

Terjemah oleh: Jojoz Kurohata

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply