Sabotase dan Aksi Langsung dalam Gerakan Mahasiswa

Reading Time: 13 minutes

Mahasiswa Merdeka karya Andy (https://www.facebook.com/andy.sick.7)

 

Kalau kita terus-terusan hanya melakukan hal-hal yang boleh dilakukan, maka kita tidak akan pernah bisa mencapai apapun. – Emile Pouget

Dalam dunia gerakan sosial, gerakan mahasiswa dikenal sebagai salah satu subyek perubahan yang selalu terlibat dalam berbagai momentum sejarah. Tidak hanya di Indonesia, tapi di berbagai negara lain mahasiswa selalu terlibat dalam pergolakan sosial. Selain dikenal sepak terjangnya dalam banyak perubahan, gerakan mahasiswa juga dikenal sebagai salah satu subyek gerakan yang tidak pernah lepas dari mitos. Mitos ini berupa pelabelan mahasiswa sebagai agen perubahan atau agen kontrol sosial di masyarakat. Mitos tersebut dibungkus dengan berbagai citra heroik dalam berbagai pembabakan sejarah yang kebenarannya belum tentu bisa diverifikasi. Citra yang dimaksud seperti, kisah bagaimana luar biasanya peran mahasiswa dalam upaya penurunan Soekarno, hingga penggulingan rezim Soeharto. Mitos dan citra di atas menjadi sesuatu yang terus diproduksi dan dikonsumsi oleh kebanyakan mahasiswa dewasa ini.

Dampak dari produksi mitos dan citra tersebut, membuat gerakan mahasiswa kadang kesulitan melakukan analisa objektif atas kondisi riil yang terjadi sekarang. Kesulitan ini terjadi karena banyak anggota gerakan yang justru larut dalam romantisme sejarah masa lalu, tanpa berupaya secara serius membaca situasi riil hari ini. Saya kerap menjumpai, banyak aktivis mahasiswa yang mampu panjang lebar menceritakan sepak terjang mahasiswa saat 98’, tapi justru kesulitan membaca peta ekonomi-politik nasional yang dominan dewasa ini. Sebab terjadinya realitas yang demikian saya kira karena banyak aktivis mahasiswa yang hanya mengambil sisi heroisme masa lalu, tanpa melihat dinamika persoalan yang melingkupinya. Tidak heran jika kemudian gerakan mahasiswa kerap bingung menentukan mana yang taktis dan mana yang strategis dalam menyikapi suatu persoalan.

Selain itu, produksi mitos dan citra yang terus berlangsung membuat refleksi kritis di internal gerakan mahasiswa menjadi jarang terjadi bahkan menjadi sesuatu hal yang tabu. Suatu ketika saya pernah mencoba mengkritik model gerakan mahasiswa yang ada di kampus maupun di luar kampus. Objek yang saya sorot adalah bagaimana strategi perjuangan gerakan mahasiswa saat dihadapkan pada permasalahan Uang Kuliah Tunggal (UKT). Kritik yang saya lontarkan itu bukannya ditanggapi secara positif, justru direspon oleh banyak kawan aktivis mahasiswa dengan cacian dan berbagai ucapan bernada sinis lainnya. Bahkan saya sempat ditanya seorang kawan, “Kamu sudah berbuat apa selama ini? Bisanya kritik doang.” Apa yang saya katakan di atas, mungkin terdengar cukup berlebihan, tapi faktanya memang demikian.

Munculnya respon seperti itu, secara tidak langsung menunjukan sedikit watak dari kebanyakan aktivis gerakan mahasiswa yang cenderung anti-kritik. Orang-orang ini menganggap bahwa aktivisme yang selama ini mereka lakukan adalah sesuatu yang pasti benar, sehingga munculnya kritik ke dalam tubuh gerakan mahasiswa kerap dianggap sebagai sesuatu yang dapat menggembosi gerakan. Pengalaman ini tentunya tidak bisa digeneralisir sebagai wajah umum gerakan mahasiswa sekarang, namun fakta tersebut tetap tidak bisa diabaikan karena memang kenyataannya seperti itu.

Efek samping dari tidak adanya refleksi kritis membuat apa yang dilakukan gerakan mahasiswa hari ini cenderung monoton serta tidak jelas arah dan tujuannya. Gerakan mahasiswa masih tersandera dengan model perjuangan yang hanya itu-itu saja, kalau tidak demonstrasi ke jalan, paling-paling melakukan audiensi. Sebagai contoh, beberapa tahun terakhir banyak kampus di Indonesia yang bergejolak; sebut saja UGM, UNSOED, UNDIP, dan UIN Sunan Kalijaga. Salah satu penyebab pergolakan tersebut adalah penolakan pemberlakuan kebijakan Uang Kuliah Tunggal (UKT) di kampus negeri. Penolakan ini dikarenakan UKT secara konseptual maupun praktik dianggap bermasalah. Secara konseptual, UKT dipandang akan melanggengkan praktik liberalisasi pendidikan. Sedangkan secara praktik, dalam teknis pelaksanaan di lapangan UKT menemui banyak persoalan.[1] Respon yang dilakukan mahasiswa di beberapa kampus tersebut umumnya ditempuh dengan dua hal, yang pertama demonstrasi ke depan rektorat, yang ke dua audiensi dengan jajaran pimpinan kampus—seperti yang terjadi di kampus saya.

Demonstrasi dan audiensi jelas bukanlah sesuatu yang salah. Hanya saja kedua hal ini seakan menjadi strategi gerakan yang wajib dilakukan oleh gerakan mahasiswa. Tiap ada kebijakan kampus yang dinilai bermasalah, respon yang dilakukan, kalau tidak demonstrasi ya audiensi. Padahal, demonstrasi dan audiensi justru kadang tidak efektif dalam perjuangan menyikapi suatu persoalan. Demonstrasi bisa menjadi tidak efektif bila dilakukan secara reaksioner dan tidak berkelanjutan. Banyak kasus menunjukan—setidaknya di kampus saya—semisal setelah mahasiswa melakukan aksi ke rektorat dalam menyikapi suatu persoalan, sesudah aspirasinya diterima jajaran rektorat, aksi akan bubar begitu saja tanpa ada pengawalan lebih lanjut. Seakan-akan setelah rektorat mengatakan akan menampung aspirasi mahasiswa, permasalahan akan selesai. Padahal justru tidak sama sekali. Terkadang, pernyataan rektorat untuk menampung aspirasi mahasiswa hanyalah sekadar retorika untuk menenangkan massa, setelah mahasiswa tenang karena merasa aspirasinya didengar, aksi pun akan bubar. Ketika aksi bubar, suasana akan kembali seperti semula seakan tidak ada permasalahan apapun. Aspirasi yang dari awal diteriakkan akhirnya meluap begitu saja.

Sedangkan audiensi dapat menjadi tidak efektif bila hanya dilakukan oleh segelintir mahasiswa. Dalam praktiknya, audiensi biasanya dilakukan oleh perwakilan mahasiswa yang akan berdialog dengan pimpinan kampus untuk menyampaikan aspirasi. Model seperti ini cukup problematis, mahasiswa yang secara keseluruhan terdampak dalam satu persoalan, dengan audiensi suaranya justru harus diwakilkan kepada beberapa orang saja. Padahal kalau hanya sekadar dialog menyampaikan aspirasi, tanpa perlu diwakilkan pun pasti bisa dilakukan. Pendelegasian pendapat dalam berbagai bentuknya cukup rentan terhadap berbagai manipulasi. Hal ini dikarenakan mekanisme audiensi yang cenderung tertutup, sehingga besar kemungkinan terjadinya kongkalikong antara perwakilan mahasiswa dengan jajaran rektorat.

Gambaran di atas, adalah realitas yang terjadi dalam gerakan mahasiswa saat ini. Dalam konteks zaman yang terus berkembang, dibutuhkan berbagai kebaruan dalam strategi perjuangan. Pengkultusan strategi perjuangan hanya pada demonstrasi dan audiensi adalah sesuatu yang berbahaya melihat kompleksitas permasalahan yang akan datang ke depannya. Untuk itu perlu dipikirkan mengenai berbagai strategi baru yang sekiranya dapat dipakai oleh gerakan mahasiswa. Tulisan ini mencoba menawarkan salah satu alternatif strategi lain yang dapat ditempuh, berupa sabotase dan aksi langsung.

Sabotase dan Aksi Langsung

Sabotase dan aksi langsung adalah strategi perjuangan yang biasa dilakukan dalam gerakan anarkis. Karena gerakan anarkis memiliki banyak varian, otomatis membuat pemaknaan serta aplikasi dari sabotase dan aksi langsung menjadi beragam. Namun satu hal yang pasti, kedua strategi perjuangan ini pertama kali berkembang dari tangan kaum pekerja seiring menguatnya negara dan kapitalisme dalam era modern.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mendefinisikan sabotase ke dalam dua hal, pertama, sebagai tindakan perusakan barang milik pemerintah, dsb (oleh pemberontak). Kedua, sebagai tindakan penghalangan produksi perusahaan. Dari dua definisi ini, pengertian yang pertama jelas keliru baik secara historis maupun teoritis. Sedangkan yang kedua, walau tidak sepenuhnya benar, sudah hampir mendekati kebenaran. Seorang pekerja Anarkis bernama Arturo Giovannitti mendefinisikan sabotase sebagai:

Tindakan penuh kesadaran dan kesengajaan dari satu atau lebih pekerja yang bertujuan untuk memperlambat dan mengurangi hasil produksi dalam ranah industri, atau untuk membatasi perdagangan dan mengurangi laba dalam ranah komersial, dalam upayanya untuk menjamin perlakuan lebih baik dari majikan atau untuk menegakan janji-janji yang pernah dilontarkan atau untuk mempertahankan janji-janji yang sudah dijalankan, ketika peluang menuntut ganti rugi tidak menemukan jalan.”[2]

Definisi Giovannitti ini bila dicocokan dengan yang ada dalam KBBI jelas terlihat berbeda. Sabotase bukanlah tindakan perusakan atau kekerasan yang dilakukan untuk menyakiti manusia. Kalaupun ada manusia yang harus terkena dampak dari sabotase, orang itu adalah pemilik pabrik atau bos yang menindas pekerjanya. Sabotase memang bisa memakai kekerasan dalam melancarkan aksinya tergantung situasi yang terjadi. Biar begitu, hal itu bukan berarti sabotase selalu beriringan dengan kekerasan. Sabotase adalah strategi yang dirancang untuk menghancurkan sistem yang menindas dengan melumpuhkan sarana produksi yang melanggengkan eksploitasi. Definisi yang terdapat di KBBI, hanya menyorot pada sisi perusakan dan penghalangan keuntungan semata. Definisi yang dimuat dalam KBBI tidak melihat sebab mengapa ada perusakan suatu benda terjadi. Padahal sebab yang mendasari tindakan sabotase itulah yang sebenarnya paling penting.

Sabotase berasal dari kata sabot atau saboter dalam bahasa Prancis. Kedua kata tersebut adalah kata prokem yang bermakna sepatu kayu. Istilah ini berkonotasi dengan sepatu kayu yang umumnya hanya dipakai oleh kalangan bawah dan buruh rendah di pedesaan Perancis dan Eropa wilayah barat daya.[3] Biarpun berasal dari bahasa Perancis, namun bentuk awal sabotase justru berangkat dari aktivitas perniagaan impor yang ada di Inggris dan Skotlandia. Orang-orang menyebut bentuk sabotase awal dengan istilah “Go Cannie”, yang secara harfiah berarti “Santai saja.”

Praktik dari “Go Cannie” dapat digambarkan dengan sebuah ilustrasi. Suatu ketika dalam sebuah pabrik, pemilik pabrik menurunkan upah para pekerja yang tadinya 20 dollar untuk 100 sepatu per hari, menjadi hanya 15 dollar. Para pekerja yang tidak sepakat kemudian melakukan mogok kerja untuk menolak keputusan sepihak tersebut. Dengan berdalih untuk mengurangi kerugian produksi dan menaikkan keuntungan, pemilik pabrik tidak menggubris keinginan para pekerja. Selain menolak, pemilik pabrik bahkan mengancam akan memecat pekerja yang terus mogok produksi. Pekerja yang secara politis kalah dengan pemilik pabrik, dengan berat hati menerima keputusan pemilik pabrik lalu menghentikan aksi mogok dan kembali bekerja. Ketika bekerja di pabrik, para pekerja yang tuntutannya ditolak oleh majikannya ini mengurangi produktivitas mereka dalam bekerja. Yang tadinya mereka mampu menghasilkan 100 sepatu per hari, karena upah mereka yang dikurangi menjadi 15 dollar, mereka kemudian hanya menghasilkan 80 sepatu tiap harinya. Pemilik pabrik yang mengetahui hal ini, kemudian memaksa pekerja untuk memenuhi target produksi seperti sediakala, yaitu 100 sepatu per hari. Namun para pekerja menolak karena menganggap upah 15 dollar hanya setara dengan 80 sepatu. Jika majikan ingin 100 sepatu, maka upah yang setara adalah 20 dollar. Bila pemilik pabrik tetap bersikeras hanya mau membayar 15 dollar untuk 100 sepatu, maka pemilik pabrik harus puas dengan 80 sepatu tiap harinya. Pemilik pabrik yang tidak memiliki pilihan, akhirnya mencabut keputusan pengurangan upah, dan mengembalikan upah seperti semula, yaitu 20 dollar untuk 100 sepatu setiap harinya.

Ilustrasi di atas adalah bentuk paling awal dari sabotase dalam gerakan pekerja yang disebut “Go Cannie.” Makna “santai saja” dalam “Go Cannie” dimaksudkan jika bos tidak memenuhi tuntutan para pekerja, maka para pekerja tidak perlu bekerja terlalu bersemangat atau serius, tapi cukup bekerja dengan santai. Bila bos mengabulkan tuntutan para pekerja, barulah para pekerja bisa bekerja dengan serius dan bersemangat. Hal ini mungkin terdengar sepele, tapi dalam sejarahnya sabotase ala “Go Cannie” ini selalu berhasil di banyak tempat.

Elisabeth Gurley Flynn membagi bentuk sabotase secara umum di gerakan pekerja ke dalam tiga jenis; sabotase yang bertujuan mempengaruhi kualitas, kuantitas, dan jasa pelayanan.[4] Sabotase yang berorientasi kualitas, mudahnya dapat digambarkan dengan seseorang yang bekerja sebagai pengantar susu keliling. Si pekerja tahu bahwa susu yang ia antarkan tiap harinya adalah susu buatan majikannya yang tidak 100% murni. Disebut tidak murni, karena susu tersebut terdiri dari setengah susu dan setengah air. Konsumen susu tidak mengetahui, dan justru mempercayai bahwa susu yang tiap hari mereka minum adalah susu murni. Suatu ketika, terjadi pemogokan para pengantar susu untuk menuntut kenaikan upah. Tuntutan ini sayangnya tidak dipenuhi oleh majikan mereka, Sebagai bentuk protes, para pengantar susu menambahkan air kedalam susu jauh lebih banyak dari biasanya. Yang awalnya 50% susu dan 50% air, kini komposisinya berubah menjadi 70% air dan 30% susu. Konsumen yang merasakan ada keganjilan kemudian mengajukan keluhan kepada perusahaan. Keluhan dilayangkan oleh hampir semua konsumen susu tersebut, akhirnya memaksa pemilik perusahaan untuk memberikan susu yang 100% murni tanpa campuran air sedikitpun. Efek dari tindakan ini, omset pemilik perusahaan menurun drastis karena harus memberikan susu yang murni.

Sabotase berorientasi kuantitas, dapat digambarkan dengan contoh “Go Cannie” yang di atas telah dijelaskan. Sedangkan sabotase berorientasi jasa pelayanan dapat diilustrasikan dengan seseorang yang bekerja sebagai pelayan di restoran. Pekerja restoran selalu dididik untuk menjelaskan kebaikan makanan yang mereka sajikan kepada pelanggan. Meskipun si pekerja tahu bahwa makanan yang disajikan sebenarnya tidak enak dan tidak sehat. Suatu saat si pekerja ini tidak setuju dengan kebijakan upah dari pemilik restoran. Si pekerja sadar kalau ia tidak bisa mengubah kebijakan pemilik restoran. Sebagai bentuk protes, si pekerja ketika ditanya pelanggan mengenai makanan yang disajikan di restoran tersebut, ia menjelaskan apa adanya bahwa rasa makanan di sana tidak enak dan tidak sehat. Pelanggan yang diberi tahu, biasanya akan tidak jadi makan dan pergi dari restoran. Pemilik restoran yang tahu hal ini tidak bisa berbuat banyak hal, karena bila ia memecat pekerja yang membocorkan rahasianya, maka rahasia restoran akan tersebar. Bila sudah begitu kemungkinan pelanggan untuk makan di sana akan berkurang karena mengetahui kalau makanan di sana tidak enak dan tidak sehat. Akhirnya pemilik restoran akan mengabulkan keinginan si pekerja mengenai upah agar si pekerja dapat bekerja seperti sediakala.

Dari uraian panjang di atas, singkatnya sabotase adalah cara menghambat keuntungan majikan demi mendesak majikan untuk mengabulkan tuntutan tertentu. Di luar itu, masih banyak bentuk sabotase yang pernah dilakukan para pekerja dalam sejarah. Namun secara umum bentuk sabotase yang pertama kali berkembang di dunia adalah tiga hal seperti yang telah disinggung.

Selain menggunakan sabotase, gerakan anarkis juga biasa menggunakan metode aksi langsung dalam menunjukkan sikapnya atas kondisi tertentu. Aksi langsung adalah tindakan spontan seorang individu atau kelompok dalam merespon suatu hal tanpa perantara apapun di luar dirinya. Aksi langsung menghendaki otonomi individu dalam menyikapi kondisi yang terjadi, baik yang bersinggungan langsung dengannya maupun tidak.

Voltairine de Cleyre, seorang anarkis asal Amerika, memberi perumpamaan menarik mengenai aksi langsung. Bagi Cleyre, aksi langsung adalah ketika seseorang memiliki permasalahan dengan orang lain, dan ia langsung pergi kepada orang tersebut untuk menyelesaikan masalahnya, entah dengan cara damai atau tidak.[5] Aksi langsung singkatnya adalah seperti itu. Ketika seorang pekerja pabrik diperlakukan semena-mena oleh pemilik pabrik dalam hal upah, reaksi spontan si pekerja menyikapi perlakuan semena-mena itulah yang disebut aksi langsung. Reaksi ini bisa beragam bentuknya tergantung individu, ia bisa saja mogok bekerja, merusak mesin produksi, bahkan pada tataran ekstrem ia bisa saja membunuh si pemilik pabrik.

Serupa dengan sabotase, aksi langsung dalam gerakan anarkis awalnya juga dilahirkan dari rahim para pekerja industri. Seiring berjalannya waktu, aksi langsung dipakai tidak hanya oleh para pekerja, tapi juga oleh berbagai varian gerakan anarkis lain yang memiliki ciri khas masing-masing dalam bentuk aksi langsungnya.

Secara umum sebenarnya tidak ada bentuk baku dari aksi langsung. Aksi langsung murni merupakan inisiatif spontan seorang individu ketika dihadapkan dalam satu persoalan. Orang yang menggunakan aksi langsung tidak lagi percaya akan apapun kekuatan di luar dirinya dalam menyikapi suatu persoalan. Ia sepenuhnya yakin bahwa permasalahan dirinya dapat diselesaikan oleh dirinya sendiri. Semisal dalam konteks gerakan pekerja, pekerja yang yakin akan aksi langsung, tidak akan lagi percaya terhadap berbagai kekuatan di luar dirinya, baik berupa partai, maupun negara. Ia hanya percaya pada dirinya atau kepada serikat pekerja tempat ia mengorganisir diri. Beberapa bentuk aksi langsung yang pernah terjadi yaitu, mogok kerja, menolak membayar pajak, menolak berperang, atau menolak mengakui suatu pemerintahan tertentu.

Walaupun terlihat berbeda, sabotase dan aksi langsung bukanlah sesuatu yang terpisah satu sama lain, keduanya justru satu kesatuan dalam konsep gerakan anarkis. Berbagai bentuk sabotase yang panjang lebar dijelaskan di atas, sebenarnya juga adalah bentuk dari perwujudan aksi langsung dalam menyikapi suatu persoalan. Untuk lebih jelas lagi, kita bisa melihat keterpaduan keduanya dalam bentuk pemogokan umum. Pemogokan pekerja yang dijiwai semangat sabotase dan aksi langsung biasanya tidak hanya melibatkan para pekerja. Lebih jauh lagi biasanya juga melibatkan berbagai mesin yang menjadi kunci produksi. Artinya yang mogok tidak hanya para pekerja, tapi mesin produksi juga ikut mogok. Maksud dari mesin yang ikut mogok adalah para pekerja melumpuhkan berbagai mesin yang biasa mereka gunakan dalam bekerja. Hal ini dilakukan agar ketika para pekerja berhenti bekerja proses produksi di pabrik juga berhenti. Fenomena yang sering terjadi ketika mogok, yang mogok hanya para pekerja, sedangkan berbagai mesin terus bekerja. Mesin-mesin ini ditinggalkan begitu saja di pabrik dalam kondisi hidup. Meninggalkan mesin di pabrik dikhawatirkan justru dimanfaatkan oleh majikan untuk terus membuat produksi pabrik terus berjalan meskipun para pekerjanya sedang mogok. Hal itu karena pemilik pabrik bisa saja mendatangkan pekerja baru selama terjadi mogok kerja. Oleh sebab itu melumpuhkan mesin adalah satu bagian dari pemogokan kerja. Pemogokan yang seperti ini adalah bukti kongkrit menyatunya sabotase dengan aksi langsung sebagai sebuah strategi perjuangan, sekaligus menjadi pembeda pemogokan ala gerakan anarkis, dengan pemogokan secara umum.

Relevansi dengan Gerakan Mahasiswa

Dalam konteks gerakan mahasiswa, sabotase dan aksi langsung cukup relevan untuk digunakan sebagai strategi perjuangan. Dikatakan relevan, karena sabotase dan aksi langsung bukanlah seperangkat teori atau ideologi yang sifatnya kaku, melainkan hanya sebuah pengetahuan mengenai strategi bagaimana suatu perjuangan dilakukan. Karena bentuknya yang hanya berupa strategi, sabotase dan aksi langsung bersifat fleksibel ketika diterapkan. Artinya ia dapat digunakan dan dapat pula tidak digunakan tergantung latar masalah yang dihadapi.

Adapun bentuk sabotase dan aksi langsung yang dapat dilakukan tentunya beragam tergantung kesadaran individu dalam menyikapi suatu persoalan. Hal ini dikarenakan fondasi dasar dari sabotase dan aksi langsung adalah kesadaran individu untuk bergerak secara spontan tanpa perantara apapun di luar dirinya. Tiap mahasiswa bebas mengekspresikan sikapnya atas suatu persoalan tanpa intervensi siapapun. Dalam konteks mahasiswa, perantara di luar dirinya ini dapat berupa BEM atau berbagai organisasi ekstra kampus.

Salah satu bentuk sabotase dan aksi langsung yang bisa dicoba gerakan mahasiswa adalah dengan meniru strategi para pekerja pabrik ketika mogok kerja. Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, para pekerja biasanya selain melumpuhkan pabrik dengan mogok kerja, mereka juga melumpuhkan pabrik dengan merusak atau membuat mesin produksi tidak berfungsi ketika mereka sedang mogok. Strategi ini dapat dipakai dengan melakukan aksi mogok kuliah sekaligus melumpuhkan semua aktivitas yang ada di kampus. Cara melumpuhkannya ini bisa berupa mengunci semua pintu ruangan yang ada di kampus, menggembok pintu gerbang, memberi lem di lubang kunci, atau mematikan listrik dan internet di seluruh kampus dengan meretas jaringan sistem elektronik kampus. Atau yang lebih jauh lagi, mahasiswa dapat langsung mengambil alih kampus dengan menduduki gedung rektorat, fakultas, dan berbagai tempat strategis lainnya guna dijadikan tempat beraktivitas seluruh mahasiswa. Bahkan mahasiswa juga bisa membakar kampus bila memang hal itu perlu dilakukan. Berbagai tindakan ini dimaksudkan sebagai upaya untuk memaksa pihak kampus untuk menuruti kemauan mahasiswa.

Dengan sabotase dan aksi langsung, perjuangan menjadi lebih berwarna. Perjuangan tidak lagi hanya berhenti di tataran demonstrasi atau audiensi, tapi justru menjadi lebih beragam. Kalaupun ada demonstrasi, demonstrasi yang menggunakan taktik sabotase dan aksi langsung, tidak akan lagi hanya diisi oleh sekadar orasi-orasi dari segelintir orang, tapi justru diisi oleh siapapun yang ingin mengekspresikan dirinya. Mahasiswa yang ingin bernyanyi, silahkan bernyanyi, mahasiswa yang ingin menari, silahkan menari, atau mahasiswa yang ingin baca puisi, silahkan baca puisi. Tidak ada penyeragaman dalam demonstrasi yang dijiwai semangat sabotase dan aksi langsung.

Contoh demonstrasi mahasiswa Chile tahun 2011-2012 lalu dapat menjadi gambaran. Kala itu, ratusan ribu mahasiswa di Chile turun ke jalan sebagai bentuk protes atas kebijakan pemerintah terhadap dunia pendidikan. Bentuk demonstrasi yang dilakukan para mahasiswa ini tidak sekadar diisi oleh orasi politik dari para pimpinan mahasiswa. Tapi juga diisi dengan berbagai aksi kreatif, seperti flash-mob massal, aksi bersepeda mengitari kota, hingga ciuman massal sebagai bentuk protes politik.[6] Berbagai aksi kreatif ini dapat dikatakan sebagai perwujudan aksi langsung karena tiap mahasiswa melakukan berbagai tindakan itu secara spontan tanpa perantara siapapun di luar dirinya. Begitulah bentuk demonstrasi yang dijiwai semangat sabotase dan aksi langsung, demonstrasi menjadi panggung bersama di mana semua orang berhak meluapkan segala ekspresinya.

Audiensi pun bila didasari semangat sabotase dan aksi langsung bentuknya tidak akan menjadi seperti yang saat ini terjadi. Audiensi tidak akan hanya melibatkan segelintir mahasiswa, tapi justru akan melibatkan seluruh mahasiswa. Audiensi yang biasanya tertutup dalam ruangan, akan pindah ke tempat terbuka agar seluruh mahasiswa dapat terlibat dalam dialog. Hal ini dilakukan karena tiap mahasiswa berhak menyampaikan sendiri pendapatnya tanpa perlu diwakilkan oleh orang lain. Tentunya model yang demikian jelas berbeda dengan praktik audiensi yang berkembang dewasa ini.

Sabotase dan aksi langsung dapat memberikan alternatif strategi perjuangan di tengah mainstream strategi yang selama ini hanya itu-itu saja. Ada tiga alasan kenapa gerakan mahasiswa perlu memakai sabotase dan aksi langsung sebagai strategi perjuangan. Pertama, dengan sabotase dan aksi langsung, seluruh elemen mahasiswa akan dilibatkan dalam perjuangan menyikapi suatu persoalan. Seperti yang saya uraikan di atas, ketika sabotase dan aksi langsung digunakan, tidak ada lagi pewakilan ‘nasib’ kepada segelintir mahasiswa seperti yang selama ini ada dalam mekanisme audiensi. Semua mahasiswa berhak berpendapat, bergerak, dan berjuang sesuai kehendak dirinya dalam koridor perjuangan bersama menyikapi suatu persoalan.

Kedua, sabotase dan aksi langsung membuat gerakan mahasiswa mempunyai posisi tawar yang tinggi dihadapan musuh-musuhnya—dalam hal ini sebut saja negara atau pimpinan kampus. Kita bisa ambil contoh dalam kasus UKT. Ketika semisal pimpinan kampus tidak memenuhi tuntutan mahasiswa, mahasiswa punya posisi tawar dihadapan rektorat berupa ancaman akan terus melakukan berbagai bentuk tindak sabotase dan aksi langsung sampai tuntutan mereka dipenuhi. Ancaman ini bisa berupa mogok kuliah yang dilakukan seluruh mahasiswa, atau pelumpuhan segala aktivitas yang ada di kampus dengan menduduki rektorat atau mengunci seluruh gerbang dan pintu yang ada di kampus. Ancaman ini tentu akan membuat posisi tawar mahasiswa menjadi seimbang dengan pihak rektorat. Ketika terjadi dialog di mana pimpinan kampus menolak tuntutan mahasiswa, pihak mahasiswa bisa dengan santai mengatakan, “Kalo kalian (rektorat) gak mau ngikutin mau kita, ya udah kita akan mogok kuliah dan dudukin seluruh kampus.” Perkataan demikian dapat terlontar apabila gerakan mahasiswa memiliki posisi tawar yang sepadan di hadapan rektorat. Fenomena yang selama ini terjadi di kebanyakan kampus, ketika misal pimpinan kampus tidak memenuhi tuntutan mahasiswa, biasanya gerakan mahasiswa akan bingung menyikapinya. Kebingungan ini yang nantinya berujung pada sikap menerima begitu saja fakta bahwa tuntutannya tidak terpenuhi. Gerakan mahasiswa seperti tidak punya kekuatan menekan pihak rektorat untuk memenuhi tuntutannya. Kondisi demikian dapat diatasi bila gerakan mahasiswa punya senjata untuk menekan pihak kampus, dan salah satu senjata yang dapat dipakai adalah sabotase dan aksi langsung dalam berbagai bentuknya.

Ketiga, dengan sabotase dan aksi langsung membuat gerakan mahasiswa tidak menjadi gerakan yang mengemis kepada penguasa. Ketika semisal tuntutan gerakan mahasiswa terhadap UKT tidak dipenuhi, gerakan mahasiswa tidak akan meratapi fakta bahwa tuntutannya tidak terpenuhi. Tapi justru akan terus melakukan berbagai tindakan yang nantinya akan memaksa tuntutannya agar dipenuhi. Semisal, dalam konteks masalah nasional. Ketika gerakan mahasiswa menuntut untuk negara menggratiskan biaya pendidikan dari SD hingga perguruan tinggi dan tuntutan tersebut ditolak. Gerakan mahasiswa tidak akan mengeluh, pasrah meratapi nasib dan menerima begitu saja logika negara. Gerakan mahasiswa justru akan terus melakukan upaya perlawanan agar tuntutannya tercapai. Upaya ini bisa berupa mogok belajar nasional, pendudukan seluruh institusi pendidikan, atau pelumpuhan sarana ekonomi di seluruh Indonesia.

Bila dikontekskan dengan berbagai norma yang berlaku di Indonesia secara umum, dan di kampus secara khusus, sabotase dan aksi langsung umumnya akan dianggap sebagai perilaku amoral, pembuat kacau, atau reaksioner oleh berbagai pihak. Sabotase dan aksi langsung akan dilihat menggunakan standar baik dan buruk, bukan standar bermanfaat atau tidak. Berkembangnya persepsi ini adalah sesuatu yang wajar karena arus informasi mengenai sabotase dan aksi langsung di Indonesia tidak berjalan dengan baik. Hanya saja, daripada energi kita habis memikirkan sisi baik dan buruk dari sabotase dan aksi langsung, lebih baik kita mencoba memikirkan kemanfaatan sabotase dan aksi langsung bagi keberlangsungan gerakan selanjutnya.

Daftar Bacaan

  1. Sabotase dan Aksi Langsung: Kumpulan Tulisan Klasik Sindikalisme. Yogyakarta: Daun Malam. 2017.
  2. Sheehan,Sean .M. Anarkisme:Perjalanan Sebuah gerakan Perlawanan. Jakarta: Marjin Kiri. 2014.
  3. Artikel Anggar Shandy Pradana, http://anarkis.org/no-se-vende-education-belajar-dari-gerakan-mahasiswa-chile/

 

[1] Persoalan di lapangan terkait UKT seperti, penggolongan yang tidak tepat sasaran, unit cost dalam BKT yang tidak jelas, hingga tidak dilibatkannya mahasiswa dalam perumusan kebijakan tersebut.

[2] Sabotase dan Aksi Langsung: Kumpulan Tulisan Klasik Sindikalisme. Yogyakarta: Daun Malam. 2017. Hal.6.

[3] Lihat catatan kaki buku, Sabotase dan Aksi Langsung: Kumpulan Tulisan Klasik Sindikalisme. Yogyakarta: Daun Malam. 2017. Hal.39.

[4] Ibid. Hal.141.

[5] Ibid. Hal.195.

[6] Lebih lengkapnya, baca artikel Anggar Shandy Pradana di http://anarkis.org/no-se-vende-education-belajar-dari-gerakan-mahasiswa-chile/

 


Penulis adalah mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Leave a Reply