Rumah Bintang: Menyemai Otonomi di Tengah Kota

Reading Time: 6 minutes
Rumah Bintang

Rumah Bintang

Maksudnya, kami dalam beraktifitas punya semacam pegangan menjalankan komunitas ini. Semangat mandiri, otonomi dan kolektif dalam pengelolaan dan sikap jadi nilai dasar tersebut.

Rumah Bintang, atau yang sering disebut Rubin, adalah kolektif/komunitas yang terbilang unik di skena Bandung. Mereka pada dasarnya merupakan rumah belajar alternatif bagi anak-anak di daerah Bandung tengah, Nangkasuni tepatnya. Namun pada prakteknya mereka melakukan lebih dari sekedar rumah belajar. Rubin banyak terlibat di banyak hal positif yang sering dilupakan atau bahkan ditinggalkan oleh banyak komunitas yang berbasiskan baik musik atau kultur atau bahkan sebaliknya organisasi gerakan yang melulu bertumpu pada isu politik.

Mereka, tidak terjebak pada gerakan filantrofis juga tidak menjadi organisasi politik yang kaku. Mereka melibatkan diri pada banyak lini kehidupan bermasyarakat selain menjadi kolektif yang fokus pada ruang belajar alternatif tadi tentunya. Dari mulai solidaritas bencana alam, pemberdayaan komunitas serupa workshop-workshop produktif hingga aksi menggalang protes atas penggusuran di wilayah miskin kota Bandung. Hingga hari ini Rubin berdiaspora tak hanya di beberapa titik kota Bandung lain tapi juga di wilayah-wilayah luar Bandung, bahkan terlibat di aktivasi rumah belajar di wilayah konflik lahan di Moro-Moro, Lampung.

Kapan dan di mana Rumah Bintang mulai beraktifitas?

Januari tahun 2004, di daerah pemukiman padat penduduk sekitaran Wastukencana (Gang Nangkasuni) Bandung.

Bagaimana dengan ide awalnya?

Lebih banyak faktor kebetulan, walaupun mimpi awal dari inisiator tentang sebuah ruang pendidikan alternatif sudah ada sebelumnya. Maksud dari kebetulan, karena ruang itu ada awalnya dari tongkrongan beberapa teman di satu teras rumah yang kebetulan di atas rumah itu ada ruangan yang tidak dipakai (gudang). Ide mengumpulkan buku bacaan anak-anak untuk membuat ruang baca mengalir saja dan patungan dari teman-teman itu dipakai untuk kebutuhan awal (membersihkan ruangan, ngecat, masang lampu). Setelah itu ya, ngalir berkegiatan dan ruang selain di pakai tempat baca, jadi tempat main anak-anak pada saat itu.

Bagaimana bentuk aktifitas yang selama ini dilakukan?

Rumah Bintang fokus ke pendidikan alternatif anak-anak. Walaupun pada beberapa kesempatan kita melakukan aktifitas di luar pendidikan dan anak. Itu sebagai bentuk dari Rumah Bintang berelasi dengan siapa pun, selama aktifitas berelasinya tidak mengganggu aktifitas internal dan mengubah nilai dasar dari Rumah Bintang itu sendiri.

Kenapa anak dan pendidikan?

Sebenarnya muncul Rumah Bintang sendiri dari realitas, ini Indonesia, yang mau gak mau kita selalu dihadapkan pada banyak persoalan di masyarakat. Kenapa anak? Ya kami melihatnya sebagai sebuah harapan, ketika realitas itu sendiri pada hari ini sulit bergerak ke arah lebih baik, kami melihat masa akan datang sebuah harapan yang di mana anak-anak yang ada sekarang akan menjadi aktor pada saat itu. Dan pendidikan itu sendiri menjadi alat untuk membuat perubahan ke arah itu. Sesuatu dibangun lewat pengetahuan, tinggal model pendidikan seperti apa yang akan coba dibangun.

Apa yang membuat Rumah Bintang mengklaim dirinya ruang alternatif pendidikan?

Karena model dan metode pendidikan yang kita coba buat berbeda dengan kebanyakan lembaga-lembaga formal pendidikan, seperti kebanyakan sekolah. Seperti kita tahu model pendidikan umum yang diterapkan di sekolah lebih cenderung pada pola atau sistem penyeragaman, baik secara fisik maupun nilai-nilai yang dibangun. Kita coba membuat semacam anti-tesis dari sistem yang pakai di sekolah-sekolah itu. Bagi kita seharusnya pendidikan jadi alat memanusiakan manusia, bukan jadikan manusia calon-calon “robot atau mesin” yang nantinya hidup bukan karena keinginan atau pilihan manusia itu sendiri.

Kami punya semacam panduan dalam melakukan proses pendidikan atau pendampingan pada anak, pertama dengan Multiple Intelligent. Artinya, kita percaya dan coba membuktikan bahwa manusia lahir pasti sudah dengan kecerdasan atau potensi bawaan yang beragam, dengan 8 kecerdasan (matematis-logis, kinestetis, personal, intar personal, musikal, visual-spasial, natural, linguistik). Dan satu lagi logika, etika, bahasa. Karena manusia sebagai individu yang berelasi dengan lingkungan dan orang banyak kita anggap penting memiliki ketiga hal itu. Tapi bukan berarti kita sebagai penjaga moral atau etika anak-anak, kita hanya jadi fasilitator yang memberikan gambaran bagaimana membangun rasa empati, toleransi dan hal-hal lain yang hubungannya dengan orang banyak. Turunannya dengan kelas atau kelompok-kelompok belajar yang jadi daily activity sekarang dengan berbagai macam metode penyampaian yang lebih menyenangkan dan tidak kaku.

Target dari pendidikannya sendiri?

Ini hanya bentuk upaya dari sebuah proses yang kita sendiri ingin setiap anak yang kita dampingi bisa hidup sesuai passion-nya tanpa mengesampingkan bahwa sebagai manusia, kita paham bagaimana cara berinteraksi dengan siapapun dan di manapun. Terlebih lagi bisa memiliki nilai dan manfaat dalam hal lain. Karena kita sadar kondisi hari ini, tidak lepas dari sistem pendidikannya juga. Orientasi dari pendidikan hari ini tidak memberikan pilihan setiap individu dalam hidupnya, intinya pendidikan sekarang salah satu bagian dari penyedia jasa yang akan memenuhi kebutuhan pasar, dalam hal ini pekerja murah.

Tadi sempat menyinggung tentang nilai dasar Rumah Bintang. Maksudnya?

Maksudnya, kami dalam beraktifitas punya semacam pegangan menjalankan komunitas ini. Semangat mandiri, otonomi dan kolektif dalam pengelolaan dan sikap jadi nilai dasar tersebut. Walaupun dalam aktivitas kita sangat terbuka berhubungan dengan banyak pihak, baik itu individu atau komunitas lain. Karena bagi Rumah Bintang yang bergerak di lingkup pendidikan esensinya harus terbuka dengan siapapun, selama nilai dasarnya tidak terganggu. Terlebih lagi dengan teman-teman yang memiliki semangat yang sama.

Bentuk pengelolaan Rumah Bintang sendiri seperti apa?

Sebenarnya sederhana dalam pengelolaan tapi butuh energi luar biasa untuk bisa mempertahankan aktivitas ini. Patungan ide, tenaga sampai materi cara paling simpel menjalankan Rumah Bintang. Ada tiga kategori volunteer yang ada di Rumah Bintang, walaupun dari awal tidak ada niatan mengklasifikasikan, hanya proses saja akhirnya itu terbentuk. Pertama, volunteer yang punya kelas belajar atau mentor. Kedua, teman-teman yang mengurus operasional, kaya koordinator aktivitas, keuangan, buat surat/sekertaris, mengurus rumah tangga sama eksternal dan yang mengurus itu gak banyak.

Satu lagi ini lingkarannya besar sekali, yang memungkinkan banyak orang terlibat, misal ketika Rumah Bintang buat agenda baik internal atau eksternal kaya merespons isu-isu tertentu dalam bentuk campaign atau event-event dimana banyak teman-teman yang bisa terlibat. Dari mulai teman-teman yang punya tempat produksi pembuatan kaos atau semacam untuk pemenuhan logistik atau media campaign agenda-agenda itu sampai pada pengisi acara yang bisa siapa pun bisa terlibat.

Belum lagi kontribusi teman-teman dalam porsi kerja lain, banyak sekali. Di wilayah ini kita bicara tentang bagaimana mengelola niat baik dari siapapun yang ingin berkontribusi. Tapi ada hal yang dari dulu jadi mimpi, bagaimana Rumah Bintang dalam hal pemenuhan kebutuhannya benar-benar mandiri, tidak harus patungan terus. Sayap ekonomi dari dulu memang jadi ciri, dulu kita bertahan dengan buat warung kelontong, bikin dan jualan es, berkebun sayur sampai buat lelang karya hasil anak-anak. Tapi cara itu selama ini sifatnya temporer gak jangka panjang. Dari sekian cara yang sudah dicoba, sekarang kita mulai membuat aktivitas ekonomi pemberdayaan komunitas lewat kopi, dari mulai kebun sampai proses jualan kopi, walaupun usaha ini masih pada tahap memulai. Yang jelas lewat apapun caranya kita akan terus nyoba buat jadi mandiri. Balik lagi secara prinsip pengelolaan sekarang terbuka dan berdasarkan kesepakatan semua volunteer, baik dari kemampuan atau kebutuhan.

Selama Rumah Bintang sendiri berkegiatan Bandung dan pasti pernah berhubungan dengan komunitas-komunitas lain, biasanya pola hubungannya seperti apa?

Kita selama ini terbuka berelasi dengan siapa pun, gak hanya di lingkaran sesama komunitas pendidikan tapi bisa berelasi dengan komunitas-komunitas lain. Tinggal dilihat saja tujuan berelasi/berjejaringnya kaya apa. Kalo gak bermasalah dengan kebiasaan dan cara kita kerja ya hayu (mari-red), tapi kalo niatnya aneh-aneh punten kita gak ikutan.

Maksudnya aneh-aneh?

Kita pernah diajakin ikut masuk ke satu lembaga pemerintah sebagai alat kampanyenya, karena dilihat mereka kita punya kapasitas buat ngejalanin program mereka. Ya jelas kita menolak, walaupun diiming-iming materi dan fasilitas.

Dari kaca mata Rumah Bintang sendiri melihat fungsi komunitas di suatu kota seperti apa?

Komunitas bagi kami sebuah kendaraan paling depan dalam merespons isu-isu yang ada di kota, sesuai dengan ciri komunitasnya. Komunitas harus bicara sebagai alat penyeimbang kota/daerah. Komunitas harus jadi modal sosial sangat besar untuk melakukan sesuatu dalam merespons apa pun yang terjadi di suatu daerah, bukan malah jadi alat yang dipakai untuk kepentingan-kepentingan yang pada dasarnya bukan untuk kebaikan komunitas/banyak orang. Punten, banyak komunitas yang pada akhirnya jadi alat untuk suatu kepentingan dan malah merusak. Sedangkan dari sisi pemanfaatnya bukan komunitas itu sendiri atau orang yang merasakan, tapi malah lembaga atau perusahaan-perusahaan tertentu.

Dan di Bandung sendiri bagaimana? Apa yang Rumah Bintang lihat dari Bandung?

Pada konteks pendidikan secara umum, kita coba buat semacam anti-tesis dari sistem pendidikan dengan mencoba buat cara dan metode pendidikan versi yang kita anggap lebih manusiawi. Itu sebetulnya sebuah pesan bagaimana kita bicara bahwa ada yang salah dengan pendidikan di Negara ini, khususnya Bandung. Atas nama pembangunan banyak program-program dari pemerintah kota yang merugikan masyarakatnya dan itu berdampak buruk. Harusnya pendidikan jadi alat pencerahan bagi masyarakat dalam melihat kebijakan-kebijakan pemerintah kotanya, bisa jadi alat untuk mempersatukan masyarakat juga seharusnya. Ruang-ruang ngobrol atau ngopi bisa jadi semacam media pendidikan juga untuk warga atau komunitas sebetulnya.

Dalam hal penyeimbang kota, Rumah Bintang melakukan upaya seperti apa?

Secara komunitas kita selalu membangun komunikasi dengan teman-teman komunitas lain, gak hanya komunitas pendidikan aja, tapi komunitas lain juga. Berjejaring dalam banyak bentuk kegiatan, baik itu taktis/strategis. Saling belajar dan menguatkan dalam pengelolaan komunitas agar jangka panjang, coba jadi fasilitator untuk banyak komunitas bertemu sampai praktek-praktek pendampingan di beberapa daerah korban bencana alam atau kemanusiaan seperti penggusuran dan mengajak teman-teman lain turut bersolidaritas.


Artikel ini dimuat dalam booklet CD Organize: Benefit Compilation for Community Empowerment yang dirilis oleh Grimloc Records.

You may also like...

Leave a Reply