Revolusi Anarkis di Korea: Komune Shinmin (1929-1932)

daerah-otonom-shinmin

Jika melihat pengalaman sejarah anarkisme yang sebenarnya di Korea, seperti yang ada dalam kantong komunal di sekitar Shinmin yang telah terbangun sejak awal abad ke-20, kita dapat mengamati hasil serupa untuk proses lain tempat anarkisme yang terorganisir menemukan ekspresi sosial bagi proyek revolusionernya: di Rusia pada tahun 1917, di Ukraina pada tahun 1919, dan di Spanyol pada tahun 1936. Dorongan libertarian tersebut dikalahkan ketika harus mempertahankan diri dari nasionalisme reaksioner dan dihadapkan dengan pengkhianatan dan intrik partai-partai Marxis.


Pengantar bagi 80 tahun Komune Shinmin

Pada tahun 1929, kelompok-kelompok anarkis yang bergabung ke dalam sebuah federasi merupakan arsitek dan protagonis dari proses revolusioner yang antikapitalis dan antinegara di bagian utara Semenanjung Korea dan timur laut Tiongkok, khususnya di wilayah yang disebut Manchuria.

Lebih dari 80 tahun berlalu sejak aksi yang terinspirasi oleh cita-cita dan prinsip-prinsip libertarian ini terjadi. Aksi ini juga didasarkan pada praksis revolusioner yang mendasar selama periode perjuangan rakyat demi mencapai kemerdekaan. Menjelang akhir upaya revolusi sosial ini, pada 24 Januari, pemimpin pemberontak, Kim Jwa-jin, tewas dalam penyergapan. Dia adalah seorang pejuang yang terkenal selama masa perang kemerdekaan Korea dan salah satu penganjur utama dan pembela komune tersebut. Setelah pembunuhannya, kubu-kubu yang menang – kubu nasionalis yang mendirikan Korea Selatan, dan Stalinis yang mendirikan Korea Utara – saat menulis sejarah tentang tahun-tahun yang terlupakan tersebut (dilupakan oleh barat setidaknya), tidak hanya mengabaikan apa yang terjadi di Daerah Otonom Shinmin (atau Chong yi-bu dalam bahasa Korea romawi) tempat lebih dari 2 juta petani melakukan swakelola, tetapi juga menyunting tokoh militer tersebut menjadi sekadar salah satu pahlawan dalam sejarah perjuangan kemerdekaan negara-negara tersebut.

Menariknya, tanggal terbunuhnya Kim Jwa-jin bertepatan dengan hari peringatan pembunuhan pendukung terbesar anarkisme Jepang, wartawan Kotoku Shusui, yang tewas bersama 11 kamerad lainnya pada tahun 1911. Kotoku hidup dan mati dalam konflik terbuka dengan kerajaan dan negara Jepang, dan sangat kritis terhadap sistem kelas di Jepang dan agresi kolonial atas orang-orang yang tertindas di timur. Cerita-cerita yang mengabarkan perjuangan orang-orang tertindas ini menjadikan Kotoku inspirasi bagi ribuan aktivis Tiongkok, Korea dan Jepang untuk melawan negara, sistem kapitalis dan kolonialisme di wilayah tersebut tanpa henti. Tidak terkecuali kaum anarkis Korea dan komune petaninya.

 

PENGAMATAN DAN PERSPEKTIF PERISTIWA SEJARAH

Sejarah Tertulis

Di satu sisi, kita harus merenungkan fakta bahwa eksperimen revolusioner yang berlangsung selama sekitar tiga tahun ini – antara tahun 1929 dan 1932 – telah menghilang dari catatan sejarah kaum kiri, meskipun terdapat fakta bahwa lebih dari 2 juta warga Korea terlibat dalam eksperimen tersebut. Hanya penelitian anarkis mengenai sejarah Korea lah yang menyelamatkan bagian penting dalam revolusi di utara Korea ini. Bahkan jika kita membaca “memoar” dari mantan diktator Korea, Kim Il-sung, dia menyebutkan adanya tiga faksi pro-kemerdekaan yang berperang melawan Jepang: Partai Komunis Korea, kaum Nasionalis dengan pemerintah mereka di Shanghai, dan “faksi ketiga, yaitu kaum separatis”[1]. Mungkin Kim Il-sung bermaksud untuk mengabaikan fokus ideologis dari sektor ketiga yang terorganisir ini. Namun demikian, jelas ada maksud untuk menghapus sejarah yang dapat dibuktikan mengenai sektor penting dari kiri Korea yang memunculkan babak revolusioner sebelum hadirnya Korea Utara yang Marxis. Terlebih lagi, pemimpin Stalinis negara tersebut menjelaskan bahwa kekalahan Manchuria dari Jepang adalah akibat sengketa antar-faksi antara kaum nasionalis dan kaum yang ingin “memisahkan diri”, tanpa menyebutkan pembunuhan dan pembantaian selektif yang diperintahkan oleh Partai Komunis.

Sektor nasionalis yang akhirnya mendirikan Republik Korea, yang juga lewat pendirian kediktatoran berdarah, juga berhasil menghapus sejarah partisipasi anarkisme yang aktif dan penting dalam perjuangan kemerdekaan melawan kekaisaran Jepang.

Untungnya, upaya penyelidikan dan rekonstruksi sejarah menyediakan versi parsial dari peristiwa-peristiwa sejarah ini, yang membawa pengalaman berharga bagi mereka yang tertarik dalam ideologi kita. Kajian-kajian seperti milik penulis-penulis Korea seperti Ha Ki-rak (“Sejarah gerakan anarkis Korea”), Cho Sehyun (“En Asia Oriental también …”) atau Hwang Dong-youn (“Melampaui Kemerdekaan: Pers Anarkis Korea … ) merupakan penyelidikan terperinci mengenai subjek ini. Presentasi-presentasi oleh Alain MacSimoin dari WSM Irlandia, buku Jason Adams ‘”Anarkisme-anarkisme Non-barat” atau karya Lucien van der Walt dari ZACF Afrika Selatan yang berjudul “Menuju sejarah anti-imperialisme anarkis” juga telah berkontribusi penting.

Jika melihat pengalaman sejarah anarkisme yang sebenarnya di Korea, seperti yang ada dalam kantong komunal di sekitar Shinmin yang telah terbangun sejak awal abad ke-20, kita dapat mengamati hasil yang sama untuk proses lain tempat anarkisme yang terorganisir menemukan ekspresi sosial bagi proyek revolusionernya: di Rusia pada tahun 1917, di Ukraina pada tahun 1919, dan di Spanyol pada tahun 1936. Dorongan libertarian tersebut dikalahkan ketika harus mempertahankan diri dari nasionalisme reaksioner dan dihadapkan dengan pengkhianatan dan intrik partai-partai Marxis.

 

Konteks dan cakupan

Hebatnya, ketika mulai menyelidiki dan melihat lebih dalam apa yang ada di balik kisah komune revolusioner ini, asal-usul dan puncak anarkisme Korea, dan seberapa banyak anarkisme tersebut terhubung dengan kemerdekaan Korea, kami sangat terkejut dengan hubungan langsung yang ada. Mungkin hari ini kita bisa mengatakan bahwa tiga aliran politik hadir pada saat kemerdekaan Korea dari kekaisaran Jepang. Dalam hal skala organisasi dan kekuatan yang dikumpulkannya, ketiganya merupakan kekuatan penting. Akan tetapi, selama bertahun-tahun, hanya satu dari tiga kekuatan yang akhirnya kalah. Dua kekuatan yang tersisa akhirnya menciptakan republik, membangun perbatasan dan mendirikan kediktatoran-kediktatoran baru untuk sekali lagi mengendalikan orang-orang yang baru saja mengalami totalitarianisme selama puluhan tahun pendudukan Jepang.

Seperti yang telah disebutkan, proses revolusi sosial yang terjadi di Shinmin terjadi di tengah-tengah perang antikolonial. Adalah suatu kemungkinan untuk membebaskan wilayah pedesaan yang luas dan pemukiman-pemukiman kecil pada saat itu. Mereka berhasil menciptakan, bukan tanpa kendala, dewan-dewan administratif yang menggantikan semua tingkat kekuasaan negara dan membuatnya tumbuh subur. Hasil dari pengalaman ini juga berkaitan dengan bagaimana seluruh cerita dimulai.

 

Sebuah revolusi libertarian, ala Korea.

Sembari kita melihat komponen yang berbeda mengenai bagaimana komune tersebut dicapai, pertama-tama kita bisa melihat pengaruh kaum anarkis yang kembali dari pengasingan menjadi faktor pendorong dari perjuangan sosial dan perselisihan politik atas masa depan daerah tersebut. Di satu sisi, anarkis yang kembali dari Jepang atau Shanghai tempat proses industrialisasi tengah gencar-gencarnya, dan tempat gerakan-gerakan pekerja yang dimobilisasi besar-besaran terjadi, menekankan bahwa perjuangan harus didasarkan pada gerakan buruh Korea yang baru muncul. Kaum buangan lainnya yang berasal dari daerah Tiongkok lainnya mengusulkan perjuangan yang antikolonial dan aktif di daerah pedesaan untuk mendorong perjuangan dari gerakan tani. Posisi kedua merupakan salah satu yang paling cocok dengan Korea pada tahun 1920-an.

Di sisi lain, beberapa dasar teori anarkisme Korea pada awal abad ke-20 berbicara tentang perjuangan untuk memperoleh budaya dan identitas yang melawan penaklukan kolonialisme Jepang. Salah satu contohnya adalah “Manifesto Revolusi Korea” (Joseon Hyeong-myeong Seoneon), yang ditulis oleh aktivis anarkis yang terkenal, Shin Chae-ho, yang memberi penjelasan terperinci mengenai peran revolusioner dari orang-orang yang memiliki akar budaya yang kuat yang tengah diserbu oleh tentara asing.

Sebuah internasionalisme yang militan juga terlihat jelas, dan aliansi-aliansi pun terbangun dengan anarkisme Jepang, Tiongkok, Vietnam dan Taiwan. Karakter anti-imperialis perjuangan-perjuangan tersebut juga dipertahankan dengan kuat, melalui proposisi perang sosial terhadap kekaisaran Jepang yang mengerahkan sistem yang didasarkan pada dominasi di seluruh wilayah, dan penolakan terhadap kekejaman yang dilakukan oleh tentara kolonialis tersebut.

Akhirnya, manifesto tersebut menekankan bahwa kekuatan anarkis jangan sampai meminta belas kasihan dari para nasionalis dan Bolshevik dalam proses revolusioner yang tengah terjadi, supaya mencegah kekuatan anarkis yang mungkin terseret untuk mendirikan negara. Kita akan melihat konsep-konsep ini secara lebih terperinci di bawah ini.

 

AKAR DAN PRESEDEN PROSES REVOLUSIONER

Warisan perjuangan antikolonial

Sebelumnya, terdapat pemberontakan rakyat yang bersifat antinegara, antikolonial dan antikapitalis yang sistematis di Korea, yang cukup luas dirasakan di seluruh negeri. Salah satunya terjadi di tahun-tahun sebelum komune dibangun. Salah satunya adalah pemberontakan Petani Donghak pada tahun 1894 di selatan Korea tempat para petani bangkit melawan pemerintah lokal dan melawan semua monarki, baik Korea, Tiongkok maupun Jepang. Revolusi tersebut memperjuangkan kesetaraan semua orang. Pemberontakan tersebut ditumpas oleh kekaisaran Jepang.

Pemberontakan lainnya berlangsung pada 1 Maret 1919 dalam konteks deklarasi kemerdekaan, saat gerakan antikolonial menghidupkan kembali seluruh negeri. Gerakan Kemerdekaan Samil (dikenal sebagai mobilisasi 1 Maret 1919), saat banyak anarkis yang terlibat, ditumpas secara brutal oleh tentara Jepang. Upaya revolusi sosial ini memakan 7500 korban jiwa dan mengakibatkan 16000 orang cedera. Salah satu aktivis gerakan ini adalah Jeong Wha-am, yang, bersama yang lainnya, kemudian mendirikan Federasi Anarkis.

Peristiwa ini merupakan satu tonggak dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Korea karena berhasil memperkuat perasaan identitas orang Korea. Untuk memanfaatkan situasi ini, kelompok nasionalis Korea membentuk Pemerintahan Sementara di Shanghai, Tiongkok.

Selain itu, sekitar pertengahan tahun 1920-an, sebagai hasil dari perjuangan pada tahun 1919, menyala lah perjuangan di semua bidang, yang berasal dari sektor politik dan sosial yang berbeda-beda yang mencoba untuk menghentikan invasi tentara Jepang ke Manchuria. Pada tahun 1925, kekaisaran Jepang memperkenalkan “Hukum Penjaga Perdamaian” yang melarang setiap organisasi yang mengancam Kotukai (nasionalisme Jepang). Ada sejumlah anarkis dalam sektor-sektor yang dilarang tersebut, yang sebagian besar terlibat dalam memulai perjuangan melalui buruh, mahasiswa, petani dan organisasi budaya di seluruh Korea.

 

Pengaruh libertarian di Asia Timur

Konteks regional di Asia timur memiliki pengaruh besar pada anarkis di Korea, yang berarti mereka bisa memajukan tingkat organisasi dan proyek revolusionernya. Kami juga dapat menyimpulkan bahwa aktivis politik yang dianiaya di Korea dapat mempunyai ide perjuangan sosial (serikat, petani dan mahasiswa) dari orang-orang buangan di Tiongkok dan Jepang yang terlibat dalam gerakan politik di sana. Seperti yang akan kita lihat berikut ini, banyak peristiwa selama tahun 1920 di Korea yang terkait dengan konflik sosial dan dorongan politik revolusioner terhubung dengan orang-orang buangan yang kembali dengan tujuan agitasi di negeri asalnya. Baek Jeong-gi (1896-1934), seorang anggota gerakan anarkis Korea yang berpengalaman, adalah salah satu contoh. Pada tahun 1925, “Gupa”, sebutannya di kalangan aktivis, berada di pengasingan di Shanghai, Tiongkok, dan terlibat dalam Serikat Anarkis di sana. Sekitar bulan Juli di tahun yang sama, gerakan pekerja Shanghai melancarkan gelombang pemogokan umum dan Baek Jeong-gi sudah terlibat aktif di pabrik logam tempat dia bekerja, melalui serikat pekerjanya. Mogok-mogok umum raksasa di Tiongkok tempat aktivis anarkis (Serikat Anarkis Tiongkok) terlibat, pemogokan-pemogokan di Jepang, pembukaan Universitas Nasional Pekerja Shanghai di tahun 1928, yang didorong oleh anarkisme Tiongkok, Gerakan Pertahanan Diri Masyarakat Pedesaan di Quanzhou, Tiongkok pada 1927-1928, dan pendirian Aliansi Pemuda Hitam cabang Beijing semuanya menjadi lahan subur bagi kemajuan yang akan berlangsung bagi anarkisme Korea selama periode ini [2].

Beberapa orang buangan yang tinggal di Jepang sekitar tahun 1922, termasuk antara lain Park Yeol, Jeong Tae-sung, Kim Chung-han, Hong Jin-yu, Choi Kyu-jong, Yuk Hong-kyun, Seo Dong-seong, Jang Sang-jung, Ha Sae-myeong Hang Hyeon-sang dan Seo Sang-kyeong berhasil mempersenjatai sebuah organisasi yang disebut Futeishya (Pemberontakan) bersama anarkis Jepang ternama seperti Noguchi Hinji, Kurihara Krzuo, Ogawa Shigeru, Kaneko Fumiko dan Niyiama Shodai. [3]

Karya internasionalis anarkis Korea juga menghasilkan dorongan penting bagi berdirinya Federasi Anarkis Timur (Tung-fang Wu-cheng-fu Chu-i-che Lien-meng) dengan organisasi-organisasi anggota dari Tiongkok, Vietnam, Taiwan, Jepang, Filipina, India dan tentu saja Korea. Federasi Anarkis Timur, yang pada tahun 1928 menghasilkan koran “Dong Bang” (Timur), menyetujui “Manifesto Revolusi Korea” sebagai basis teoretisnya sendiri, dan menyertakan Kim Jong-jin, seorang tokoh terkemuka anarkisme Korea, sebagai salah satu anggota yang paling aktif. Salah satu slogan Federasi Anarkis Timur adalah untuk “menyatukan proletariat di seluruh dunia dan terutama di semua koloni timur untuk menghancurkan kapitalisme internasional dan imperialis“. [4]

 

Anarkisme Korea

Ide-ide anarkis telah meresap di semua lingkaran sosial di Korea sejak awal abad ke-20. Tidak terkecuali partisipasi anarkis dalam gerakan 1 Maret. Seperti yang telah ditunjukkan sebelumnya, anarkis Korea memahami dengan baik konteks penindasan yang terjadi, tempat kekaisaran Jepang dan tentaranya berusaha mengendalikan kehidupan orang-orang Korea seluruhnya, dan borjuis lokal Korea merindukan kemerdekaan untuk mengangkat diri mereka sendiri sebagai kelas penguasa. Namun demikian, dipengaruhi oleh apa yang terjadi di wilayah tersebut, anarkis Korea mulai menciptakan dan mengembangkan organisasi sosial dan politik dengan tujuan untuk memanfaatkan perlawanan terhadap rezim kekaisaran Jepang sehingga mereka bisa membangun sebuah proyek revolusioner.

Kemudian pada gilirannya, pada pertengahan 1920-an, sebagai akibat dari gerakan organisasi anarkis, jumlah aktivis libertarian yang diasingkan dari negerinya, dibunuh atau dipenjara oleh tentara Jepang dan polisi politik, meningkat. Sekitar bulan Oktober 1925, di provinsi Kiho, “Dong-a Ilbo” melaporkan pemenjaraan sekitar sepuluh aktivis dari Liga Bendera Hitam (LBH). LBH didirikan pada tahun sebelumnya oleh orang-orang Korea buangan di Jepang yang aktif dalam kelompok Futeishya bersama Park Yeol. Anggota-anggota LBH yang ditangkap adalah, antara lain, Hong Jin-yu, Seo Sang-kyeong, Shin Young-woo, Seo Jeong-sup, Han Byeong-hee, Lee Bok-won, Seo Cheoung-sun, Lee Chang-sik, Kawk Cheol dan Lee Ki-yong. [5]

Tahun berikutnya, surat kabar yang sama melaporkan penahanan 5 pekerja muda yang tengah menyebarkan sebuah manifesto yang sangat mirip dengan yang ditulis oleh Shin Chae-ho. [6]

Selain itu, pada tahun 1925, di Taegu, banyak anarkis yang kembali dari pengasingan di Jepang membentuk organisasi seperti Liga Kebenaran, dan Persaudaraan. Organisasi ini, bersama-sama dengan kelompok lain seperti Liga Revolusioner, mulai mengorganisir bersama Masyarakat Pemuda Hitam dari Tokyo. Di Anui, Mesan, Liga Persahabatan Hitam Changwon dibentuk, juga kelompok Bantuan Mutual (Mutual Aid) pulau Jeju. Pengorganisasian ini berhasil mengorganisir koperasi-koperasi pengerajin dan petani. Banyak dari kelompok-kelompok tersebut disusupi dengan cepat lalu anggota-anggotanya dijebloskan ke penjara. [7]

Untuk melihat skala dan jangkauan organisasional anarkisme, kami harus menunjukkan bahwa pada tahun 1929, “Dong-a Ilbo” mengungkapkan adanya kelompok klandestin anarkis, tempat Lee Eun-song merupakan salah satu anggotanya. [8] Di Icheon saja, di provinsi Kwangwon, kelompok tersebut memiliki sekitar 100 anggota yang terorganisasi. Pada tahun yang sama, tampak pula bahwa semua anggota Gerakan Masyarakat Seniman Chanju adalah anarkis. [9]

Terinspirasi khususnya oleh Mikhail Bakunin dan Piotr Kropotkin, seluruh generasi aktivis libertarian Korea memiliki pengaruh tak terbantahkan dalam peristiwa yang berkembang sampai akhir dekade tersebut, dan mempengaruhi apa yang akan terjadi di utara di Manchuria. Yu Ja-myeong (1891-1985), Shin Chae-ho (1880-1936) yang telah disebutkan sebelumnya, Lee Hwae-young (1867-1932), Lee Eul-kyu, Lee Jeong-kyu, Jeong Wha-am (1896 -1981) dan Paik Jeung-ki adalah beberapa nama yang mengartikulasikan proses pendirian sebuah federasi dari sel anarkis regional. [10] Adalah teori yang mereka hasilkan, terutama keberhasilan pengorganisasian anarkisme Korea yang menjadi pendorong utama. Ini berarti bahwa mereka memainkan peran penting dalam menentukan arah aktivis libertarian. Seperti yang disebutkan sebelumnya, Shin Chae-ho, yang jelas dipengaruhi oleh Bakunin, menyusun “Manifesto Revolusi Korea pada tahun 1924” [11], di antara teks-teks lain. Manifesto ini terdiri dari program anarkis atas analisis dan aksi dalam pertarungan perang kemerdekaan.

Program tersebut berkisar pada partisipasi aktif anarkisme dalam perjuangan antikolonial melawan kekaisaran Jepang sembari menekankan pengembangan dan pendalaman perjuangan melawan eksploitasi kelas dominan. Dalam hal ini, Manifesto tersebut menempatkan perhatian khusus pada pembedaan antara revolusi politik dan revolusi sosial. Menurut manifesto tersebut, dalam sebuah revolusi politik, kekuasaan hanya berpindah tangan. “Revolusi di masa lalu adalah ‘revolusi’ tempat rakyat tetap diperintah seperti sebelumnya meskipun kekuasaan A dipindahkan ke kekuasaan B oleh apa yang disebut-sebut revolusi, karena rakyat merupakan budak negara yang didominasi oleh kelas yang berkekuasaan istimewa yang terus mengontrol rakyat. “[12]

Dengan mendahului masanya, manifesto tersebut menekankan “revolusi rakyat” atau “revolusi langsung” yang dilakukan oleh rakyat untuk rakyat. Dalam Manifesto tersebut, rakyat dan tentara miskin dapat mengubah masyarakat secara struktural dengan “keputusan teguhnya untuk mengubah struktur sosial tersebut secara mendasar dengan kekuatan mereka sendiri”. [13] Membahas Kekuasaan dari perspektif anarkis selalu menjadi isu kontroversial, namun perlu dicatat, bahwa saat itu libertarian Korea sudah membahas kekuasaan kelas tertindas sendiri. Pada titik ini, manifesto tersebut mencoba membangun perbedaan konseptual dasar untuk memulai sebuah revolusi, menghindari gagasan apa pun tentang “bangsa”, dan menegaskan kembali konsep “rakyat”, karena “rakyat adalah sesuatu yang nyata, tetapi bangsa tidak “. [14]

Tulisan yang mendorong orang-orang Korea untuk mengangkat senjata demi kemerdekaan ini pada dasarnya merupakan pondasi pendirian Federasi Anarkis Korea (atau Hangug-eo Anakiseuteu Yeon-Maeng dalam bahasa Korea romawi) pada tahun 1924. Federasi ini dibentuk oleh sel-sel anarkis militan, yang hampir semuanya beroperasi secara sembunyi-sembunyi karena penganiayaan tentara Jepang. Sel-sel federasi yang terorganisasi ini dapat ditemui di semua daerah dan provinsi di Korea. Yang paling penting terdapat di Seoul, Taegu, Pyongyang dan Icheon, dan juga di Manchuria dan di antara orang-orang buangan di Tiongkok dan Jepang.

Kerja-kerja para militan tersebut adalah untuk menghasilkan propaganda dan publikasi gerakannya sendiri, juga untuk organisasi-organisasi lain yang berbeda-beda. Beberapa karya yang terkenal adalah surat kabar “Rebut Kembali” (Talhwan) “Penaklukan” (Jeong Bo) dan “Buletin Keadilan”.

Walaupun begitu, Federasi tersebut tetap selalu memiliki kecenderungan yang kuat untuk terlibat dalam aksi sosial di atas segalanya. Jadi, mereka mengabdikan diri untuk mendukung serikat buruh, gerakan tani, gerakan mahasiswa dan mengorganisir perlawanan menjadi pasukan-pasukan pertahanan diri untuk mengalahkan Jepang.

Pada bulan November 1929, Federasi tersebut berubah nama menjadi FAKOMK, Federasi Anarkis-Komunis Korea (Jo-sun Gong-san Mu-jung-bu Ju-eu-ja Yeon-Maeng). Pada sekitar waktu yang sama, dan dipengaruhi oleh Kim Jong-jin, Federasi tersebut memutuskan untuk mengabdikan sebagian besar sumber dayanya untuk mendorong revolusi di utara Korea dan selatan Manchuria.

 

PEMBENTUKAN DAN PERTAHANAN DAERAH OTONOM SHINMIN

Menurut FAKOMK, kondisi untuk membangun proyek revolusioner libertarian sungguh matang di selatan wilayah Manchuria di perbatasan utara Korea.

Dalam perjalanan sejarahnya, wilayah Manchuria telah lama menjadi penyebab perselisihan antara raja-raja dan pemerintah Jepang, Rusia, Tiongkok dan Korea. Sebelum invasi tentara Jepang, daerah tersebut merupakan pertanian khusus. Beras dan jagung sebagai salah satu hasil pertanian yang paling penting tumbuh di datarannya yang luas dan tanahnya yang subur.

Kemudian, saat jalur kereta api mencapai Pelabuhan Arthur di Rusia, daerah tersebut mulai semakin diperebutkan secara militer oleh kekuatan-kekuatan timur.

Kelas dominan Jepang, yang pada tahun 1920 hidup dengan sangat makmur, dengan pertumbuhan ekonomi dan perluasan wilayah kerajaan mereka, memutuskan untuk fokus pada penaklukan seluruh Manchuria secara permanen, dengan tujuan mengerahkan kontrol politik atas wilayah yang diperebutkan tersebut dan, dengan begitu dapat terus memperluas pasar dan industri mereka ke wilayah tersebut.

Wilayah basis Komune Otonom Shinmin yang dapat ditemukan berada di sekitar lokasi Younggotap, ibukota kerajaan Balhae kuno dan sekarang disebut Jilin – salah satu dari tiga provinsi Tiongkok di wilayah Manchuria (atau Dongbei Pingyuan di Tiongkok). Daerah tersebut juga merupakan daerah yang dihuni oleh mayoritas penduduk Korea di pengasingan – lebih dari 2 juta orang.

Memanfaatkan populasi yang mayoritas tinggal di daerah pedesaan, rencana awal untuk pengelolaan komunal adalah menciptakan kolektif petani sukarela, tempat pendidikan akan disediakan bagi orang-orang di bawah 18 tahun. Orang-orang dewasa akan mendapat kelas keaksaraan dan dukungan pendidikan. [15]

Beberapa veteran perang sudah membaktikan dukungan mereka dalam serangan-serangan yang ditujukan untuk membebaskan daerah tersebut. Salah satunya adalah jenderal Kim Jwa-jin, seorang komandan yang relatif muda, berusia 39 tahun, namun merupakan tentara yang berpengalaman dan dikenal atas prestasinya dalam pertempuran Chingsanli saat melawan tentara Jepang sepuluh tahun sebelumnya.

Kim Jwa-jin, dikenal dengan julukan “Baekya”, serta komitmennya bagi kemerdekaan Korea dari kekaisaran Jepang, terpanggil untuk memperjuangkan kebebasan di atas segalanya, yang dinyatakannya sejak remaja – ketika berumur 18 tahun, dia membakar berkas-berkas yang mendokumentasikan budak, sehingga membebaskan 50 keluarga yang akan melakukan pendudukan lahan. Ini adalah pertama kalinya budak dibebaskan di era modern. Bertahun-tahun kemudian, dia bertemu dengan Sekolah Homyeong, yang didedikasikan untuk menyatukan sektor yang paling tertindas di Korea untuk berpartisipasi dalam pengajaran melalui pendidikan rasionalis.

Kim Jwa-jin selalu diminta oleh faksi kemerdekaan yang berbeda-beda untuk memberikan dukungan militer. Namun, dia memutuskan untuk mendukung proyek FAKOMK secara politik dan sekitar tahun 1929, bersama jenderal lain seperti Lee Bom-sok, dia membubarkan Tentara Utara dan – setelah menjadi jenderal tentara pertahanan diri – mempertahankan zona yang telah dibebaskan di Shinmin, yang didirikan di Provinsi Otonom tanpa Negara pusat. Perannya saat itu adalah menjadi komando militer perlawanan komune penduduk di daerah tersebut. Kepeduliannya pada masalah-masalah sosial lah yang menyebabkannya mendukung proyek emansipatoris dan menjadi bagian sentral darinya.

Dalam konteks perlawanan bersenjata dan revolusi sosial ini, pada tahun 1929, Dewan atau Majelis untuk Swapemerintahan Rakyat Korea di Manchuria (MSRKM) dibangun. Ini adalah sebuah asosiasi administratif yang didasarkan pada “kesepakatan dengan prinsip federasi bebas yang dihidupi dengan kebebasan manusia yang spontan“. [16] Jenis administrasi yang tidak berhasrat mendirikan Negara baru ini – yang merupakan posisi Marxisme dan aliran lainnya pada saat itu – memungkinkan jutaan penduduk untuk bergabung bersama dalam sebuah organisasi yang terdesentralisasi dan berbentuk federal. Prinsip-prinsip mereka benar-benar bertentangan dengan kapitalisme dan sosialisme negara, dan mencapai tingkat kerumitan tertentu karena strukturnya berkembang secara internal dan di seluruh teritori tersebut.

Hubungan antara komunitas-komunitas yang berbeda dan sistem pengambilan keputusan di masing-masing komunitas membutuhkan semacam federalisme libertarian melalui penciptaan tiga tingkat dewan: Dewan Munisipal atau Kota (di setiap lokalitas), Dewan Distrik (dari kelompok-kelompok di tempat yang sangat berdekatan satu sama lain) dan Dewan Kawasan atau Regional (yang meliputi seluruh wilayah tersebut dan termasuk semua distrik). Dengan cara ini, struktur dari suatu Negara sentral, Negara-negara regional dan Negara-negara lokal dapat dihapuskan dan majelis-majelis lah yang mengambil keputusan dengan didorongnya demokrasi langsung.

Untuk mengatasi masalah tenaga kerja dan produksi, dalam perencanaan ekonomi dan pemanfaatan aset sosial dan sumber daya alam, mereka menggunakan cara-cara kerja baru untuk berbagai lingkungan kerja. Untuk tujuan ini, dan bukan tanpa permasalahan, mereka mampu mencapai swakelola petani untuk sebagian besar layanan publik dan penanaman padi dan jagung. Dalam hal ini, melalui delegasi MSRKM (menggunakan dana yang diperoleh lewat pengambilalihan di kota), mereka menghadirkan kincir angin besar untuk memproses beras, beberapa beratnya mencapai 1000 ton, yang merupakan kemajuan teknologi utama bagi penduduk pedesaan.

Setiap kebutuhan hidup atau persoalan sosial memerlukan pembentukan dewan baru yang dapat digunakan demi penyelesaian masalah kepentingan-kepentingan tersebut: antara lain, dewan-dewan pertanian, serta pendidikan, finansial, propaganda, urusan militer, dewan-dewan pemuda dan kesehatan masyarakat.

Jika gagasan aslinya adalah bahwa melalui pendidikan, seluruh masyarakat akan mulai sadar mempraktikkan fase-fase dan tingkat yang berbeda dari sebuah sistem federal, batas waktu yang dipaksakan oleh situasi perang di wilayah tersebut mempercepat pembentukan struktur ini. Contohnya adalah transfer delegasi-delegasi dari satu kota ke yang lain untuk menekankan bahwa kota harus mengorganisir dewan-dewan dan majelis-majelis dengan cepat, dengan harapan bahwa mereka akan segera memilih delegasi untuk MSRKM. Dengan cara ini, masuk akal bahwa tidak mungkin untuk menghasilkan proses eksperimentasi dan praksis militan bertahap yang mencukupi untuk mempertahankan sebuah revolusi sosial politik.

Kami belum mendapatkan gambaran yang jelas tentang peran perempuan dalam komune tersebut dari catatan tertulis. Satu-satunya referensi mengenai kaum perempuan tersebut adalah bahwa mereka harus melakukan penyelundupan senjata untuk tentara gerilya dan propaganda administratif yang terus-menerus.

 

RUNTUHNYA SEBUAH MIMPI EMANSIPATORIS

Pengembangan organisasi dan perluasan Komune Shinmin berarti bahwa Stalinis Korea dan nasionalis borjuis pro-Jepang mulai was-was pada ekspreimen baru ini. Kaum Bolshevik mulai melihat ancaman, terutama dari MSRKM, yang bisa mengkooptasi basis dukungan rakyat untuk mereka. Elemen yang sepakat dengan Yu Rim ingin melancarkan perang terhadap Stalinisme untuk mengantisipasi apa yang mungkin terjadi di masa depan [17]. Sementara itu, pejuang gerilya yang sepakat dengan komandan Kim Jwa-Jin menyatakan bahwa sengketa dengan kaum Marxis akan muncul setelah kemerdekaan dicapai.

Pada 24 Januari 1930, ketika Kim Jwa-Jin – sudah berusia 41 tahun – tengah membantu memperbaiki penggilingan padi, yang telah dibiayai oleh anarkis, seorang anggota Stalinis dari Pemuda Partai Komunis Korea membunuhnya tanpa belas kasihan. Setelah Kim tewas, FAKOMK mulai mengirim semua aktivisnya yang sebelumnya tersebar di seluruh Korea, Tiongkok dan Jepang, untuk pergi ke daerah komune tersebut. Semua sumber daya juga dikerahkan seluruhnya untuk komune tersebut.

Sejak saat itu, pasukan Jepang memulai serangan sistematis terhadap barisan pertahanan komune di selatan sementara Stalinis, dengan bantuan Uni Soviet dan Partai Komunis China (yang sebelumnya merupakan sekutu FAKOMK), menyerang barisan pertahanan komune di utara.

Sekitar tahun 1931, Stalinis mulai mengirim penyusup untuk membunuh tokoh-tokoh penting FAKOMK. Pada pertengahan tahun yang sama, mereka membunuh Kim Jong-jin, ideolog komune dan seorang tokoh terkemuka FAKOMK. Kaum komunis percaya bahwa dengan membunuh tokoh-tokohnya, yang mereka sebut sebagai para pemimpin gerakan, hanya tinggal soal waktu hingga komune tersebut benar-benar runtuh.

Meskipun melakukan pembunuhan selektif ini, tentara komunis kalah dukungan dari pasukan Jepang sampai akhir 1932. Pada akhir tahun ini, kekaisaran Jepang menguasai seluruh Manchuria, mengubahnya menjadi negara boneka dan menempatkan kaisar tua Puyi sebagai gubernur.

Setelah pemukiman-pemukiman utama komune benar-benar runtuh pada tahun 1932, banyak aktivis harus melarikan diri dari penganiayaan yang dilakukan tidak hanya oleh tentara Jepang tetapi juga kaum Bolshevik. Baek Jeong-gi hidup di bawah tanah untuk mengorganisir “Korps Kemerdekaan Kiri” sampai dia ditangkap oleh pasukan kekaisaran dan dipenjarakan di penjara Nagasaki tempat dia akhirnya mati akibat radang paru-paru kronis di sekitar tahun 1934.

Yu Rim, tokoh kunci pemuda anarkis, dipenjara selama 5 tahun dan kemudian diasingkan ke Tiongkok. Dia kemudian kembali untuk bergabung dalam perang selama kediktatoran nasionalis di Korea Selatan.

Sisa aktivis FAKOMK lainnya, ketika mereka gagal ditumpas, diburu dan dianiaya di seluruh semenanjung tersebut. Pengusaha Jepang pindah ke daerah tempat Komune Shinmin pernah hidup  selama tiga tahun, dan mulai mengembangkan perdagangan, pertambangan dan industri.

Orang-orang yang selamat dari pembantaian di tangan tentara Jepang dan Stalinis mulai bertahan hidup di bawah rezim perbudakan, malnutrisi dan pelecehan. Situasi begitu buruk hingga orang-orang mengeluh bahwa perusahaan-perusahaan Jepang yang terletak di daerah tersebut menembaki pekerja yang sakit untuk menghindari biaya kesehatan.

Baru pada tahun 1945, anarkisme Korea terlahir kembali dari abu kematiannya dengan mendirikan gelombang baru organisasi, Federasi Pembangun Masyarakat Bebas, yang mempromosikan kontrol buruh atas pabrik.

Jejak yang ditinggalkan oleh pengalaman revolusi sosial di utara Korea ini tidak menutup bab sejarah anarkisme di Asia timur, tetapi menyisakan tanya tentang apa yang sebenarnya dicapai selama proses kolektivisasi pedesaan yang melibatkan sekitar 2 juta orang ini. Jika eksperimen ini memang berlangsung sekitar 30 bulan dan terjadi di daerah yang ukurannya sebanding dengan Provinsi Misiones di Argentina (29.801 km2, hampir sebesar Jawa Barat -penerj), kami berpandangan bahwa sangat relevan untuk mencoba mereka ulang apa yang terjadi, karena peristiwa-peristiwa tersebut kurang dikenal dan jarang disebutkan dalam budaya barat. Terutama ketika peristiwa tersebut berisi tentang gerakan anarkis.

Selama penyelidikan – yang masih berlangsung, telah ada upaya komunikasi yang lebih mendalam dan pertukaran berkas dan informasi antara kelompok-kelompok dan orang-orang berbeda yang telah bekerja di daerah tersebut. Salah satu hambatan yang menonjol adalah masalah geografis, bahasa, budaya dan waktu saat mencoba memahami penilaian kontemporer oleh gerakan-gerakan anarkis di Asia Timur. Kami hanya tahu bahwa salah satu pencapaian terakhir dalam sejarah anarkisme Korea adalah rekonstruksi federasi anarkis pada tahun 1980-an di selatan semenanjung tersebut.

Mayoritas sejarah mengenai timur serta barat – baik Marxis maupun nasionalis atau liberal – telah menghapus atau mengenyampingkan pengalaman-pengalaman sejarah yang kritis terhadap atau bertentangan dengan pembentukan negara-negara nasional dan pembangunan gagasan kewarganegaraan dan kebangsaan yang dibutuhkan oleh sektor kekuasaan hegemonik yang ada saat ini. Meskipun perjuangan yang dilakukan oleh para anarkis tetap ada hingga saat ini, kita seharusnya tidak hanya menawarkan proyek libertarian sebagai alternatif atas sistem-sistem kekuasaan. Kita juga harus merebut kembali memori proyek dan proses emansipatoris yang mengusulkan perubahan sosial tanpa mengambil jalan pintas atau hanya menjadi cangkang kosong tanpa kebebasan. Masyarakat egaliter seperti yang diusulkan FAKOMK dan diwujudkan oleh ASKM gagal berkembang karena ketidakmampuannya untuk mempertahankan diri dalam jangka menengah. Tentu saja, tidak akan mungkin menggunakan taktik militer untuk menahan kemajuan sebuah imperium di masa-masa ekspansi politik dan ekonominya, mengingat bahwa bahkan pembunuhan massal Perang Dunia II hanya bisa melakukannya sampai batas tertentu saja – itu pun sepuluh tahun kemudian.

Namun pengalaman revolusi libertarian – gaya Korea – ini tetap ada dalam sejarah kelas kita dan harus diketahui dan diperdebatkan, dan tentunya diteliti secara lebih mendalam. Hanya dalam 20 tahun revolusi-revolusi yang didorong oleh tekanan libertarian (1917-1936), keberhasilan, kebijaksanaan gerakan, dan kegagalannya harus menjadi panduan dan inspirasi saat ini ketika kita mengaktifkan, merenungkan dan mengupayakan perubahan sosial yang pasti dapat mewujudkan masyarakat tanpa hierarki. Di jalan inilah, kami percaya, kita memiliki kesamaan dengan kamerad-kamerad lama kita dari FAKOMK. []


SUMBER

Presentasi oleh Alain MacSimoin, dari Workers Solidarity Movement (WSM) Irlandia. September 1991, Dublin.
· Ha Ki-rak “Sejarah Gerakan Anarkis Korea”, Seoul, 1986.
· Efemérides del Ateneu Llibertari Estel Negre de las Islas Baleares. http://estelnegre.balearweb.net/
· Revista Libero Internacional, (sobre anarquismo en el sudeste asiático). Números 1, 2 y 3.
· Jason Adams. “Non-Western Anarchisms: Rethinking the Global Context”. zabalazabooks.files.wordpress.com/
· Kim Il-sung. “With the Century”, Foreign Languages Publishing House, Pyongyang, North Korea, 1994.
· Artikel Wikipedia berbahasa Spanyol “Ocupación Japonesa de Corea”
· Lucien Van der Walt, “Towards a history of anarchist anti-imperialism”. http://www.anarkismo.net/article/84
· Cho Sehyun, “En Asia Oriental también…”, Dossier: “Los Anarquistas”, dalam “Le monde diplomatique”.  February 2009.
· Hwang, Dongyoun. “Beyond Independence: The Korean Anarchist Press in China and Japan in the 1920s and 1930s”. Asian Studies Review. March 2007.
· International Encyclopedia of Revolution and Protest, ed. Immanuel Ness, Blackwell Publishing, 2009, pp.135-137. http://www.revolutionprotestencyclopedia.com/
· Bak, H. “Sikminji sidae hanin anakijeum undoogsa [A history of Korean Anarchism During the Colonial Period]”. Seoul: Seonin 2005.
· Bak, Y. “21segi jayu anakijeum! [Anarchism! Freedom for the 21st Century]” Hankoreh21, 279. October 1999.  http://www.hani.co.kr./h21/data/L991011/1paqab02.html
· Graham, R. “Anarchism: A Documentary History of Libertarian Ideas, Vol.1: From Anarchy to Anarchism 300 CE to 1939”. Montreal. Black Rose Books 2005.

[1] Kim Il-sung. “With the Century”, Foreign Languages Publishing House, Pyongyang, Corea del Norte, 1994.

[2] Graham, R. (Ed.) (2005) Anarchism: A Documentary History of Libertarian Ideas, Vol.1: From Anarchy to Anarchism (300 CE to 1939) Montreal: Black Rose Books

[3] Park Yeol (1902-1974) bersama kekasihnya Kaneko Fumiko, dipenjarakan dan didakwa atas upaya pembunuhan Kaisar Hiroito Jepang pada tahun 1923. Dia dibebaskan 22 tahun kemudian, pada tahun 1945.

[4] Ha Ki-rak “Sejarah Gerakan Anarkis Korea”, Seoul, 1986.

[5] Presentasi oleh Alain MacSimoin, dari Workers Solidarity Movement (WSM) Irlandia. September 1991, Dublin; dan Ha Ki-rak “Sejarah Gerakan Anarkis Korea”, Seoul, 1986.

[6] Kelima aktivis tersebut adalah  Yun Woo-yeol, Ha Eun-sa, An Byong-hoe, Yang Myoung dan Lee Yoon-jae.

[7] Presetasi oleh Alain MacSimoin, dari Workers Solidarity Movement Irlandia pada September 1991, Dublin; dan Ha Ki-rak “Sejarah Gerakan Anarkis Korea”, Seoul, 1986.

[8] Beberapa aktivis yang ditahan adalah, antara lain, Yun Yong-wha, Lee In-ha, Lee Eun-song dan Kim Soon-hee.

[9] Beberapa seniman yang ditahan oleh polisi politik Jepang adalah, antara lain, Kwon O-don, An Byeong-ki, Kim Hak-won, Jeong Jin-bok, Seo Jeong-ki dan Kim Hyeon-kuk.

[10] Ha Ki-rak “Sejarah Gerakan Anarkis Korea”, Seoul, 1986.

[11] Shin Chae-ho ditangkap pada tahun 1928 ketika dia didapati tengah  melakukan pengambilalihan (ekspropriasi) untuk membiayai perjuangan politik dan sosial ini. Dia meninggal sendirian karena sakit di penjara Lushun pada tahun 1936. (catatan anarkismo.net: baca artikel biografis berikut tentang Shin Chae-ho “Shin Chae-ho: el Kotoku de Corea” tersedia [dalam bahasa Spanyol] di http://anarkismo.net/article/17888)

[12] Ha Ki-rak “Sejarah Gerakan Anarkis Korea”, Seoul, 1986.

[13] Ibidem. Sangat menarik untuk menekankan bahwa anarkisme sudah mulai berbicara tentang kekuasaan rakyat pada awal tahun 1920-an

[14] Ibidem.

[15] Ibidem.

[16]Ibidem.

[17] Yu Rim (1894-1961) adalah seorang tokoh terkemuka dalam gerakan pemuda libertarian di Korea. Dia menjadi editor koran “Chon-go” dari pengasingannya di Tiongkok bersama Shin Chae-ho dan Kim Chang-suk


Terjemahan oleh Yab Sarpote, dari versi bahasa Inggris tulisan Emilio Crisi berjudul “Revolución Anarquista en Corea: la Comuna de Shinmin (1929-1932)” yang diterbitkan dalam bahasa Spanyol di Black Rain, Rosario, Argentina pada bulan Mei 2012.

You may also like...