Pondasi Serikat Pekerja (Bag. 2 – Habis)

fists

SERIKAT UNTUK PRODUKSI – EMBRIO MASYARAKAT

Turunan Sipil dan Turunan Demokrasi

Harmoni dan kerukunan dalam pertarungan kehidupan, dikenali sebagai tumpuan sosial, yang berarti metode perkumpulan sosial akan terdiri dari kelompok-kelompok; dan agar pertumbuhan individu tidak terhambat dan terus berkembang, adalah penting bagi kelompok tersebut untuk sepenuhnya sesuai dengan fungsi-fungsi ekonomi.

Bagi manusia, fungsi-fungsi ini memiliki dua aksi yang tak bisa dikurangi – (1) Konsumsi; (2) Produksi. Kita terlahir sebagai konsumen, dan tumbuh menjadi produsen. Begitulah proses normalnya.

Sang Konsumen
Sebagai seorang konsumen, manusia harus mengikuti dorongannya, dan dalam memenuhi peran ini ia hanya memikirkan kebutuhannya, kepuasan yang terpaksa dibatasi oleh peluang. Konsumsi adalah tolak ukur dari pembangunan sosial: semakin besar jumlahnya masing-masing, semakin tinggilah tingkat kemakmurannya. Masyarakat hari ini tidak bekerja dalam jalur ini. Jauh dari keberadaan yang bebas, individu menjadi subyek pelarangan dan rintangan yang hanya dapat disingkirkan oleh uang. Kemudian, karena uang tersebut direbut oleh kelas penguasa, berkat keistimewaan yang ia nikmati, ia dapat mengonsumsi berdasarkan keinginan dan kesenangannya. Di sisi lain, para pekerja, yang telah membuat produk-produk alam dapat dikonsumsi, dan yang disamping fakta ini telah menguntungkan para kapitalis yang membayar mereka dengan upah, telah ditempatkan dalam sebuah posisi yang membuat mereka mustahil untuk mengkonsumsi sesuai dengan kebutuhannya.

Ketidakseimbangan semacam ini tidak bisa ditolerir. Sungguh mengerikan bahwa ada orang-orang, tanpa menghitung anak kecil, orang cacat dan orang-orang tua; yang dapat mengonsumsi tanpa memproduksi. Juga hal yang mengerikan bahwa para produsen yang sebenarnya harus dibuat kehilangan peluang untuk mengonsumsi.

Konsumsi mendahului produksi, karena kita mengonsumsi jauh sebelum kita mampu untuk memproduksi. Namun dalam organisasi sosial, terdapat kebutuhan untuk membalikkan situasi ini dan membuat produksi menjadi titik awal.

Sang Produsen
Sang produsen adalah dasar dari segalanya. Ia memenuhi fungsi organik esensial yang menjaga masyarakat dari kepunahan. Mereka juga merupakan sel pertama dari kehidupan ekonomi. Serikat merekalah, serta pemahaman yang baik bersama para produsen lain yang bekerja dengan tujuan sama di dalam pikiran mereka – dalam hal ini berarti, dalam industri yang sama, perdagangan yang sama, serta upaya-upaya yang serupa – yang menciptakan ikatan solidaritas yang seperti jaring, yang terbentang di atas kolektivitas manusia.

Penyelenggaraan ini serta harmoni logika, menghasilkan SERIKAT UNTUK PRODUKSI, yang merupakan fondasi dari masyarakat. Tidak ada bentuk lain dari bentuk asosiasi yang sepenting ini. Semua yang lainnya bersifat sekunder secara alami. Ia yang merupakan inti sosial, pusat dari kegiatan ekonomi. Namun agar kelompok produksi dapat melaksanakan fungsinya secara normal, ia harus membangkitkan individual, dan ia harus terus berusaha agar tidak memusnahkan otonomi mereka atas nama wacana apapun.

Sangat diyakinkan, bahwa kesadaran akan bagian fundamental yang dimainkan oleh produsen di dalam masyarakat, dan kelompok yang di dalamnya mereka memiliki hak untuk menjadi bagian darinya; adalah kesadaran yang relatif baru. Identitas kepentingan dan penyatuan aspirasi di antara para produsen, berkoordinasi dengan kebutuhan mereka, aktivitas profesional serta kecenderungannya, tak selalu senyata saat ini. Pemahaman akan fenomena sosial telah terhambat oleh ketidakpedulian, bahkan tanpa menghitung fakta bahwa pembangunan ekonomi tidak mencapai kemajuan zaman kita. Penyebab lain yang menghambat pemahaman, muncul dari bagian dominan yang tetap bertahan yang sebelumnya dimainkan oleh kelompok-kelompok keluarga. Pada suatu masa, ketika kemanusiaan hampir seluruhnya dibangun oleh suku-suku pemburu dan pastoralis, keluarga memenuhi fungsinya sebagai inti sosial, sebuah fenomena yang dijelaskan oleh fakta bahwa pada masa produksi yang telah lampau itu, baik produksi industri maupun agraria, nyaris tak pernah melebihi lingkup keluarga, hingga bentuk asosiasi ini telah mencukupi untuk kebutuhan dasar, barter belum dimulai untuk mengubah kondisi yang ada.

Hari ini kondisi-kondisi tersebut telah terkena perubahan besar yang membuat mustahil untuk mempertimbangkan keluarga sebagai nukleus organik. Ia memang bisa disamakan dengan mengesahkan semua bentuk perbudakan, karena semua perbudakan adalah konsekuensi dari sebuah otoritas tercipta bahwa kepala keluarga membawa bentuk-bentuk kekuatannya dan silsilah keturunannya.

Lagipula, tak ada yang memimpikan kemunduran semacam itu. Dalam arah yang cukup berbeda, kelas menengah pada awal revolusi 1789 sempat mencoba untuk membimbing kecenderungan masyarakat terhadap keinginan sosial. Kaum kelas menengah, yang membutuhkan orang-orang yang mau bekerja, dapat menjadi fleksibel, mau dibentuk, dan tak memiliki kekuatan untuk melawan – telah menghancurkan ikatan dari solidaritas sesungguhnya, kelas — atas nama wacana pencabutan hak-hak keistimewaan dagang yang sebelumnya disukai oleh rezim lama. Kemudian, untuk mengisi ruang kosong yang tersisa di dalam kesadaran populer, dan untuk menghambat ide mengenai asosiasi atas dasar ekonomi, kemunculan hal tersebut kembali yang ditakutinya, kaum kelas menengah manuver untuk menggantikan tempat ikatan solidaritas nyata yang dihasilkan dari kepentingan yang identik; dengan ikatan fiktif yang menipu demokrasi dan keanggotaannya sebagai warga negara.

Agama, yang hingga saat itu telah melayani kaum penguasa di atas bumi untuk mengalahkan dan mengekang kecenderungan ke arah perbaikan bangsam, yang mendorong masyarakat, telah disingkirkan ke balik layar. Bukannya kelas menengah menghina kekuatan yang brutal dari “pengekangan” ini, namun ia menganggap agama sebagai sesuatu yang ketinggalan zaman dan telah melakukan pekerjaannya. Kaum kelas menengah menganut Voltairianisme, dan meskipun ia menyerang para pendeta, ia menganggap tahayul kelas pekerja sama rendahnya dengan kepercayaan mistis kaum Kristen. KEDAULATAN RAKYAT! BANGSA DAN NEGARA! Hal-hal ini menjadi pujaan yang populer.

Kekangan Patriotik
Dalam mengarahkan ke hidupan masyarakat sipil, kaum kelas menengah memuja sentimentalitas patriotik. Garis ideologi yang menyatukan orang-orang yang dilahirkan secara kebetulan di antara variabel garis batas yang mengelilingi teritori tertentu, yang puja sebagai sesuatu yang sakral. Mereka sungguh-sunguh meyakini bahwa hari yang paling berjaya dalam kehidupan seorang patriot adalah masa ketika mereka menikmati rasanya dibantai untuk negara mereka.

Mereka menipu masyarakat dengan omong kosong seperti itu, dan menghambat mereka untuk merefleksikan nilai filosofis dari virus moral yang menginfeksi mereka. Berkat latar suara drum dan terompet, lagu-lagu dan seruan perang, mereka telah dilatih untuk mempertahankan apa yang tak mereka miliki: warisan mereka. Patriotisme hanya dapat dijelaskan oleh fakta bahwa semua patriot tanpa kecuali memiliki bagian dari properti sosial, dan tak ada yang lebih absurd dari seorang patriot yang tak memiliki harta warisan.

Tanpa mempedulikan absurditas tersebut, kaum proletar telah mencapai titik dimana mereka tak lagi memiliki sejengkal tanah negeri; yang berarti tak terdapat alasan sama sekali untuk patriotisme mereka, yang hanyalah merupakan penyakit.

Di bawah sistem yang lama, karir militer adalah profesi seperti halnya yang lain, hanya lebih barbar; dan tentara, dimana drum patriotik yang besar tak ditabuh, adalah gabungan dari pembunuh bayaran yang “berbaris” untuk dibayar. Setelah Revolusi tersebut, kaum kelas menengah merancang pajak darah – wajib militer bagi masyarakat, sebuah deduksi alami dari hipotesa bahwa di masa depan Bumi Pertiwi akan menjadi “properti semua orang”; namun ia terus menjadi “properti sedikit orang”, dan yang sedikit ini telah, berkat sistem yang baru, memecahkan permasalahan tersebut dengan membuat keistimewaan mereka dilindungi oleh orang yang lainnya; oleh mereka yang dirampas warisannya.

Di sini, memang, nampak sebuah kontradiksi yang luar biasa. Ikatan nasionalisme, dimana militerisme adalah bentuk yang nyata, dan yang kita dengar melayani perlindungan kepentingan bersama, justru memiliki hasil yang berlawanan secara diametris – ia berfungsi untuk mengalahkan aspirasi kelas pekerja.

Bukanlah perbatasan ideologis yang memisahkan bangsa-bangsa menjadi Inggris, Prancis, Jerman, dan seterusnya, yang diawasi oleh tentara, namun secara prinsipnya adalah perbatasan kaum kaya untuk menjaga kaum miskin tetap terantai di dalam kemiskinan.

Kungkungan Demokrasi

Kelas menengah memiliki keahlian dalam mengarahkan demokrasi. Setelah menaklukkan kekuasaan politik dan mengamankan dominasi ekonomi bagi dirinya, ia berusaha untuk tidak menghancurkan mekanisme yang telah berguna bagi kaum aristokrasi. Ia membatasi dirinya untuk mengemas kembali bagian depan Negara untuk merubah penampilannya, dan untuk membuatnya diterima sebagai bentuk kekuatan baru, oleh masyarakat.

Sekarang di masyarakat tak ada lagi hal yang nyata, selain fungsi-fungsi ekonomi, yang sepenuhnya cukup untuk individu, dan berguna untuk kelompok. Secara konsekuen, semua kristalisasi luar dan segala kesombongan politik adalah hal yang parasit dan opresif, dan karena itu memuakkan.

Namun masyarakat tidak memiliki kesadaran akan hal ini, dan karena itu sangatlah mudah untuk menipu mereka.

Kelas menengah, dengan tujuan menghambat tumbuhnya kedaulatan ekonomi yang menjadi penyakit di dalam kebebasan berhimpun yang telah berhasil mereka bungkam, mengajarkan masyarakat untuk berkiblat kepada kedaulatan politik, manifestasi tanpa daya yang tak akan mengganggu eksploitasi kapitalis. Tipuan ini begitu sukses hingga keyakinan dalam kesetaraan politik – tipuan besar itu – telah berhasil membungkam massa dalam abad yang terakhir.

Hanya sejumlah kecil kearifan yang dibutuhkan untuk mengerti bahwa kapitalis dan pekerja, pemilik tanah dan yang terampas, tidaklah setara. Kesetaraan tidak menjadi kenyataan ketika yang kaya dan yang miskin sama-sama memiliki kartu pemilihan umum.

Namun masih saja penipuan ini berlanjut. Itu terus berlanjut hingga hari ini, di antara orang-orang yang berniat baik, masih saja ada yang percaya khayalan fiktif seperti itu.

Mereka adalah korban dari logika palsu; mereka menggabungkan pengaruh dari massa populer dan membandingkannya dengan kelemahan jumlah dari minoritas penguasa, dan beranggapan bahwa pendidikan massa sudah cukup untuk menjamin bahwa mereka akan menang dengan memakai cara aksi yang normal dari mayoritas.

Mereka tidak melihat bahwa pengelompokan demokratis, dengan landasan hak pilih universal, bukanlah kesatuan yang sejenis dan berkesinambungan, dan bagaimana mustahilnya mengelola itu dari kacamata aksi yang gigih.

Kelompok ini menyatukan warga negara sembarangan yang kepentingannya tidak sama, seperti misalnya majikan dan pekerjanya, dan saat ia menyatukan mereka, itu hanya memberikan hak untuk memilih sesuatu yang bersifat abstrak atau ilusi.

Keinginan untuk tetap kompak di dalam Parlemen, ketidakpedulian mereka terhadap aspirasi rakyatdan juga ketidakberdayaan mereka, adalah fakta-fakta yang telah disaring begitu hati-hati hingga tak ada gunanya untuk berkutat disitu. Hasilnya juga tidak lebih baik ketika kita mencoba untuk menguji konsekuensi dari hak pilih universal di tingkatkan kotamadya. Sedikit contoh singkat akan dapat menunjukkan hal ini.

Sepanjang seperempat abad terakhir kotamadya di pedesaan, sebagian besar selalu, telah berada di tangan kaum petani. Para pemilik lahan yang kaya tidak melawan penaklukan ini, karena mereka tahu, berkat kebutuhan tak kasat mata dari masyarakat saat ini serta rintangan-rintangan yang diletakkan di jalannya oleh otoritas lokal; tak ada apapun yang benar-benar berdampak, yang bisa dilakukan terhadap mereka.

Dengan dorongan Sosialis, penalukkan kotamadya dengan langkah yang mirip telah terjadi di distrik-distrik kelas pekerja; keuntungan pekerja selalu kecil. Kota-kota kecil yang dimusnahkan oleh pemerintah belum saja mampu mewujudkan program-program mereka, dan ketidakpercayaan adalah buahnya. Bahaya yang lain lagi. Para pekerja telah mengalihkan dari serikat pekerja mereka ke arah upaya-upaya politik, semua energi mereka telah habis ke arah ini dan mereka telah mengabaikan organisasi ekonomi, hingga semua majikan yang buruk, yang tak memiliki batas dalam keganasan ekploitasinya, telah mendapatkan keuntungan karena tidak menemukan kelompok serikat pekerja yang aktif dan bersemangat yang melawan mereka.

Di bagian utara Prancis — Roubaix, Armentières, dan sekitarnya – dimana kota-kota kecil bersifat Sosialistik, upah sangatlah rendah. Begitu pula di Ardennes. Terdapat sejumlah serikat pekerja yang telah dibentuk, namun anggota-anggotanya membiarkan dirinya terserap sepenuhnya oleh kegiatan politik, serikat-serikat telah kehilangan kekuatan untuk melawan majikannya.

Kepada semua kerusakan ini, sebisa mungkin, Demokrasi menambahkan lagi kesalahan yang lebih besar. Kemajuan, seperti yang didemonstrasikan oleh seluruh masa lalu sejarah kita, adalah konsekuensi dari upaya-upaya revolusioner dari minoritas berkesadaran. Sekarang Demokrasi mengorganisir penindasan minoritas bagi keuntungan kaum mayoritas yang konservatif dan dungu [atau jadi obyek rampasan bersama mereka? – catatan juru ketik].

* * *

Usaha membelokkan pergerakan ekonomi yang coba dilakukan kelas menengah hanyalah hal yang sementara. Kelompok bisnis bukanlah sebuah hasil dari pertumbuhan artifisial. Ia muncul dan berkembang secara spontan dan tak terhindarkan, di dalam lingkungan apapun. Ia dapat ditemukan di masa purbakala, di Abad Pertengahan, dan hari ini, dan kita dapat tunjuk bahwa pada semua masa, perkembangan tersebut telah dihambat oleh para pemilik hak istimewa, yang takut akan kekuatan ekspansif dari metode organisasi ini, dan berusaha terus memerasnya – namun tanpa berhasil menghancurkannya.

Tidaklah menakjubkan bahwa kelompok bisnis dapat memiliki vitalitas yang intens seperti itu. Pemusnahan total terhadap mereka akan mustahil untuk dilakukan. Agar dapat berhasil, dibutuhkan penghancuran masyarakat itu sendiri. Memang, kelompok bisnis memiliki akar keberadaannya pada bentuk produksi yang ada saat ini, dan biasanya berlanjut dari situ. Sekarang, selagi asosiasi untuk berproduksi adalah kebutuhan yang tak terhindarkan, bagaimana mungkin para pekerja yang berkumpul bersama untuk tujuan ini, membatasi kerjasama mereka hanya untuk hal-hal yang menguntungkan bagi majikan mereka, yang mengambil keuntungan dari eksploitasi mereka semua? Agar dapat memuaskan kepentingan kapital, para produsen dikumpulkan bersama di dalam kelompok-kelompok ekonomi, dan mereka bisa disebut memiliki tingkat kecerdasan sejenis kerang apabila mereka tidak mampu menilai lebih dari batasan yang dipaksakan pada mereka oleh para pengeksploitasi.

Para pekerja yang memiliki sedikit kepintaran tak bisa terelakkan akan melihat antagonisme mencolok yang membuat mereka, para produsen, musuh-musuh yang tak bisa didamaikan dari para majikan mereka; mereka telah dirampok, dan majikan mereka adalah perampoknya. Karena itu, bagi mereka perselisihan itu sangat radikal hingga hanya para politisi atau penjilat majikanlah yang dapat mengatakan sampah seperti “harmoni antara kapital dan pekerja.”

Lagipula, tak akan lama lagi sebelum para penerima upah menyadari bahwa keserakahan majikan semakin keterlaluan, dan perlawanan kelas pekerja semakin lemah. Sekarang mudah untuk membuktikan bahwa terisolasinya pekerja upahan adalah kelemahan utama mereka. Secara konsekuen, kerjasama untuk berproduksi telah mengajarkan kaum tereksploitasi untuk menghargai keuntungan asosiasi, mereka hanya membutuhkan keinginan dan inisiatif untuk menciptakan kelompok untuk pembelaan kaum pekerja.

Mereka akan segera mempelajari pentingnya hal ini. Kaum kelas menengah, yang tak memiliki ketakutan terhadap “masyarakat sebagai pemilih” telah dipaksa untuk melihat masyarakat sebagai “serikat pekerja” dan mengakui hak mereka untuk berkumpul, dan kebebasan serikat pekerja.

Dengan mempertimbangkan akibat-akibat awal ini, berbagai upaya berulang telah dilakukan untuk membelokkan kelas pekerja dari serikat pekerja. Meski menghadapi manuver seperti ini, bagian yang dilakoni oleh serikat pekerja telah tumbuh menjadi lebih jelas dan terperinci, begitu banyak hingga di masa depan ia dapat didefinisikan:

Pada saat ini, misi permanen dari serikat pekerja adalah untuk mempertahankan dirinya terhadap penurunan semangat hidup seperti apapun – itu berarti juga, melawan semua pengurangan upah dan meningkatkan jam kerja. Selain menentang serangan, ia juga harus memainkan bagian pro-aktif dan berjuang untuk meningkatkan kesejahteraan dari serikat tersebut, yang hanya dapat dilakukan dengan menerobos keistimewaan kapitalis, dan membentuk semacam pengambil-alihan parsial.

Di samping perbincangan mengenai pertarungan berkepanjangan ini, serikat terikat dengan kerja untuk emansipasi integral, yang akan menjadi perantara yang efektif. Ia akan berurusan dengan mengambil kepemilikan dari kemakmuran sosial, yang sekarang berada di tangan kelas menengah, dan menata ulang masyarakat dengan landasan Libertarian Komunis, hingga jumlah maksimum kemakmuran dapat didapat dengan upaya produksi yang minimum.

Sumber: Libcom

Sumber: Libcom

HAK UNTUK BERSERIKAT

Kita sekarang akan membahas mengenai bagaimana serikat pekerja dibentuk. Membentuk bagian dari kelas tertentu, sebuah minoritas sangat kecil yang terdiri dari individual-individual yang tegas dan memiliki karakter, yang menciptakan sebuah kelompok yang bertujuan untuk menentang dan melawan para kapitalis.

Sikap seperti apakah yang akan diambil oleh sekelompok kecil militan ini? Akankah mereka menunggu hingga mereka telah memenangkan, apabila bukan semuanya, setidaknya mayoritas dari Saudara Pekerja dari kelas mereka, untuk menyatakan klaim mereka?

Mereka akan bertindak dalam cara ini apabila dalam perjuangan ekonomi yang mereka perjuangan ekonomi yang mereka perkenalkan memiliki prasangka politik secara mayoritas.

Namun selagi praktek harian menuntut perjuangan yang lebih darurat dibandingkan demokrasi sufisme, logika kehidupan mendorong mereka ke dalam aksi, menuju ide-ide baru yang berlawanan dengan formula politik yang telah mewarnai mereka. Untuk mencapai hasil ini, tidaklah penting bagi para kombatan untuk memiliki kualitas penilaian yang besar, apabila mereka tidak terbekukan oleh berbagai abstraksi dan formula.

Kita telah menyaksikan, di dalam situasi yang sangat penting, politisi Basly yang menghormati prinsip-prinsip serikat dan menuntut prinsip-prinsip tersebut segera dilakukan. Hampir berlebihan untuk menambahkan bahwa manuver ini dalam perannya adalah kecerdasan yang masih murni, agar dapat merusak reputasi kecenderungan revolusioner. Pada Konferensi pekerja tambang yang dilaksanakan di Lens tahun 1901, pertanyaan mengenai pemogokan umum tengah dilakukan, dan Basly berusaha keras untuk menghambat pergerakan dengan mengusulkan sebuah referendum; dan, berlawanan dengan teori-teori demokrasi, ia menyebabkan Kongres memutuskan bahwa jumlah orang yang tidak memilih harus dimasukkan ke dalam jumlah total mayoritas.

Politisi ini, yang mengajari dirinya dengan cerdas, akan sangat takjub apabila ia disadarkan, bahwa ia bukannya tengah mengakali kongres tersebut, ia justru telah bertindak revolusioner dan telah menjadi inspirasi bagi prinsip-prinsip serikat kerja. Memang, dalam kasus ini, Basly tak menaruh perhatian kepada opini orang-orang tanpa menaruh prasangka; ia memandang rendah kepada mereka sebagai orang-orang yang tak bernilai, yang hanya cocok diletakkan dalam unit pemikir, sebagai makhluk-makhluk yang lembam dengan kekuatan laten yang hanya bisa digerakkan dengan sentuhan orang-orang yang tegas dan berenergi. Cara memandang seperti ini adalah negasi dari teori-teori demokrasi yang mem proklaim kesetaraan hak bagi semua orang, dan mengajari bahwa keinginan berdaulat dari masyarakat sepenuhnya ditanggung dengan cara pengorbanan universal. Basly tidak jelas mengenai poin ini, dan untuk sementara, ia melupakan teori-teori politiknya, ia dengan mudah terpengaruh oleh doktrin-doktrin ekonomi dari lingkungannya.

Mari kita juga diingat bahwa demokrasi tidak pernah menjadi hal yang abu-abu di antara kelompok-kelompok bisnis. Berhadapan langsung dengan kebutuhan-kebutuhan sosial, para kombatan di tingkatan serikat pekerja menyelesaikan permasalahan sesuai yang diajarkan pemikiran umum kepada mereka. Karena itu, hal-hal yang mereka lakukan mendahului deklarasi dari prinsip-prinsip serikat pekerja.
Kaum serikat pekerja tidak pernah mempercayai bahwa mereka harus meminta keputusan dari seluruh kelas menengah berdasarkan peraturan, dan mencocokkan aksi mereka untuk menyenangkan mayoritas. Butuh satu orang saja untuk mulai membentuk kelompok, dan mempresentasikan klaim mereka tanpa mengindahkan mereka yang tak mau berpikir.

Bisakah apapun lebih alami? Mari kita bedakan antara hak abstrak dan teoritis yang di iming-imingi demokrasi di depan mata kita, serta hak yang sebenarnya ada dan nyata yang merepresentasikan keseluruhan kepentingan kita, serta titik awal yaitu aksi dari kesadaran individual.

Hak setiap individu untuk bangkit dan melawan penindasan dan eksploitasi tak bisa disangkal. Hak seseorang untuk berdiri sendiri untuk memprotes dan memberontak terhadap semuanya, tidaklah aneh. Haruskah itu menyenangkan massa, untuk membanting tulang mereka dan menjilat sepatu dari para tuan, yang ia anggap berarti? Seseorang yang memiliki kebencian, tak ingin tunduk, hendak bangkit dan melawan, seperti manusia yang memiliki hak untuk melawan semuanya. Hak orang tersebut sangatlah jelas dan tak bisa butuh dipertanyakan. Hak dari massa yang tertindas, selagi itu terbatas pada hak perbudakan, tidaklah layak untuk disadari dan tak bisa saling diperbandingkan. Hak dari massa seperti ini hanya akan mengambil bentuk dan layak dihormati, ketika mereka lelah dengan kepatuhan dan bekerja bagi orang lain, serta mulai memimpikan pemberontakan.

Karena itu, ketika sebuah kelompok dibentuk yang di dalam terdapat sekumpulan orang yang penilaiannya bersentuhan dengan satu sama lain, mereka tidak butuh mencari kepedulian dari massa. Cukuplah untuk kaum serikat pekerja menyesali bahwa orang-orang yang tak mau berpikir itu telah menyia-nyiakan haknya; mereka tidak bisa membiarkan orang-orang itu itu menghambat proklamasi dan realisasi dari hak minoritas yang mau berpikir.

Tanpa teori apapun yang telah dijabarkan sebelumnya, kaum serikat pekerja terinspirasi dan terbimbing oleh ide-ide ini ketika mereka membentuk kelompok. Mereka bertindak, dan masih bertindak, dalam harmoni dengan ide-ide ini.

Dari sini kita menyimpulkan bahwa hak serikat pekerja tidak memiliki kesamaan apapun dengan hak demokrasi.

Satunya adalah ekspresi dari mayoritas yang tak mau berpikir, yang membentuk sebuah massa padat yang akan melumpuhkan kaum minoritas yang berpikir. Dengan nilai dari dogma “Kedaulatan Rakyat” yang mengajari bahwa semua manusia adalah saudara yang setara, hak demokrasi ini berakhir dengan menyetujui perbudakan ekonomi dan menindas orang-orang yang memiliki inisiatif, kemajuan, ilmu pengetahuan, dan kebebasan.

Serikat pekerja adalah hal yang persis sebaliknya. Ia dimulai dari kedaulatan individual dan otonomi manusia, ia berakhir dengan kesepakatan untuk hidup dalam solidaritas, yang merupakan konsekuensi logis dan tak diragukan dari kebebasan dan kesetaraan sosial.

Karena itu kita bisa mengerti bahwa dengan nilai kedaulatan individual, kaum serikat pekerja telah tumbuh kuat seiring persentuhannya pada kedaulatan-kedaulatan yang identik; mereka tidak menunggu hingga negara setuju untuk memanifestasikan keinginan mereka; mereka berpikir dan bertindak atas nama semuanya, seolah kelompok mereka memang terbangun dari seluruh massa. Logika membawa mereka untuk berpikir dan beraksi seolah mereka adalah keseluruhan kelas pekerja – faktanya, seluruh negara.

Lagipula, apa yang membuktikan kepada kita bahwa kaum serikat pekerja yang militan dapat dibenarkan saat mempertimbangkan diri sebagai eksponen aspirasi dan keinginan dari semua orang adalah, saat situasi mensyaratkan hal itu – misalnya, dalam sebuah kasus pertengkaran dengan majikannya – kaum non-serikat mengikuti arahan dari serikat pekerja dan secara spontan mengelompokkan diri mereka sendiri, bertarung bahu membahu dengan para kamerad mereka yang telah mengorganisir pergerakan itu dengan kesabaran dan energi.

Kaum non-serikat, kaum yang tak berpikir, karena itu seharusnya tidak merasa tersinggung dengan sejenis penjagaan moral yang diasumsikan dengan penilaian seperti ini. Kaum serikat pekerja militan tak akan menolak siapapun yang datang dengan niat baik, dan mereka yang tersakiti karena merasa diperlakukan sebagai seseorang yang tak layak diperhatikan hanya butuh untuk mundur dari posisi mereka yang rendah, membuang kemalasan mereka dan bergabung dengan sebuah serikat pekerja.

Lebih dari ini, para pemalas tak memiliki hak untuk mengeluh, selagi mereka diuntungkan oleh hasil yang dicapai atas usaha kamerad-kamerad mereka yang mau berpikir dan bertarung; juga karena mereka mendapatkan keuntungan tanpa harus mengalami derita dalam perjuangan.

Karena itu keuntungan-keuntungan yang dicapai oleh sedikit orang akan meluas mencapai semuanya, yang membuktikan superioritas dari serikat pekerja di atas hak demokrasi. Lihatlah demikian jauhnya prinsip-prinsip serikat pekerja tercerabut dari basa basi kelas menengah, yang mengajarkan bahwa setiap pekerja adalah tuan dari takdir mereka sendiri! Dalam diri kelas pekerja, setiap pekerja memiliki keyakinan bahwa ketika mereka bertarung untuk diri sendiri, mereka juga tengah bertarung untuk semuanya, dan tak pernah muncul di benak mereka, niat untuk menyalahkan balik atau sengaja bertindak lamban.

Para pekerja membenci kedangkalan dan kepicikan dari egoisme kelas menengah, yang dibalik jubah ekspansi individual, menternakkan kemiskinan dan penyakit, serta mengeringkan mata-mata air kehidupan. Yakin bahwa hubungan saling bantu agar dapat hidup adalah prakondisi dari semua kemajuan sosial, kaum serikat pekerja mengidentifikasikan kepentingan mereka dengan kepentingan bersama. Itulah mengapa ketika mereka mengambil tindakan, itu bukan atas nama mereka, namun atas nama orang-orang yang takdirnya tengah mereka bentuk. Dalam logika yang lebih jauh mereka tidak membatasi kegiatan mereka dengan Asosiasi mereka, namun, menyatakan klaim umum, mereka meluaskannya hingga kepada seluruh kelas pekerja. Hal ini, ketika mereka telah memeras perbaikan dari kapitalisme, mereka berharap semuanya dapat ikut teruntungkan – semuanya! Kaum non-serikat! Mereka yang tak mau berpikir, bahkan berkhianat!

Perasaan persaudaraan dengan cakupan pemikiran luas ini, pemahaman manusia yang mendalam akan harmoni sosial, menaikkan serikat pekerja hingga ke tingkatan yang lebih unggul. Superioritasnya terhadap prinsip-prinsip demokrasi, yang hanya mengembang biakkan tipuan-tipuan tersembunyi, perjuangan saling membunuh antara saudara, dan konflik sosial lainnya, tak perlu diragukan lagi. Karena itu, hak serikat pekerja adalah ekspresi dari hak asasi manusia baru yang mendalam yang menggugah kesadaran dan melawan dogma-dogma kuno dengan mempersiapkan generasi sosial; sebuah masyarakat dimana sistem hukum yang menindas akan digantikan dengan sistem kontrak bebas yang disepakati oleh semua pihak yang terlibat, dapat ditingkatkan atau bisa dibatalkan ketika diinginkan, dimana produksi kapitalis akan memberi jalan bagi federasi ekonomi, membawa kelekatan kelompok produksi, dimana anggota-anggotanya akan meyakinkan umat manusia akan keberadaan kesejahteraan dan kebebasan yang maksimal.

Kesimpulan
Akan lebih dari lugas untuk menyatakan ini sebagai sebuah “Pengantar”, di dalam artikel-artikel ini saya telah berusaha untuk mendefinisikan ide-ide yang menuntun gerakan serikat pekerja. Hal yang terpenting masih akan kita lihat di masa depan. Tulisan ini hendak menunjukkan harmoni antara aksi serikat pekerja dengan teori serikat pekerja dan akumulasi fakta dan contoh-contoh yang membuktikan hal tersebut, bahwa serikat pekerja terinspirasi oleh ide-ide ini meski terkadang tidak sadari.

Gerakan serikat pekerja menunjukkan bahwa penerapan ide-ide penuntun ini mempengaruhi masyarakat saat ini, dan berhadap-hadapan dengan organisme kuno yang telah berkarat, terdapat bakteri-bakteri yang berkembang dari masyarakat baru dimana umat manusia akan berevolusi tanpa hambatan, di tengah-tengah kelompok-kelompok yang otonom.[]

Catatan akhir:

1. Kata dari bahasa Prancis “Syndicat” telah diubah ke dalam bahasa Inggris dengan persamaannya yang terdekat. Namun organisasi Prancis tersebut berbeda dari versi Inggis-nya dalam memperhitungkan semangat revolusi dan mengacuhkan aksi politik.

2. La loi Chapelier, meninggal pada 17 Juni, 1791.

Catatan editor:

1. Kami secara bebas menerjemahkan kata “association” yang digunakan teks terjemahan Inggris dengan kata-kata dari bahasa Indonesia, sesuai konteks kalimat menjadi berhimpun, berasosiasi, berkumpul, berorganisasi, berserikat.

2. Kami menerjemahkan kata “Syndicat” menjadi serikat pekerja, serikat buruh.


Émile Pouget (1860-1931) adalah seorang anarko-komunis asal Prancis dan merupakan advokat berpengaruh di era awal Sindikalisme. Pada usia 19 tahun ia terlibat dalam pembentukan serikat pekerja tekstil, Syndicat des employés du textile. Tahun 1881 ia bergabung dengan kelompok anarkis Prancis dalam Kongres Internasional London, menyusul bubarnya Internasional Pertama. Ia pernah menjadi Wakil-Sekretaris Jenderal Konfederasi Buruh pada 1901-1908.

Seri artikel ini diambil dari buku “Buruh Berkuasa: Kumpulan Tulisan Klasik Sindikalisme” (Penerbit Daun Malam, 2016)

You may also like...

Leave a Reply