Mengapa Hanya Ada Sedikit Anarkis di Kampus?

Ilustrasi oleh Sarah Arifin

Ilustrasi oleh Sarah Arifin

Ini sebuah pertanyaan yang relevan karena, sebagai filsafat politik, anarkisme tengah membuncah hari ini. Anarkis atau gerakan yang terinspirasi anarkis tumbuh di mana-mana; prinsip-prinsip anarkis tradisional—otonomi, asosiasi sukarela, swa-organisasi, gotong royong (mutual aid), demokrasi langsung—telah beranjak dari hanya sebagai fondasi pengorganisiran dalam gerakan globalisasi, hingga memainkan peranan yang serupa di sejumlah gerakan radikal di mana-mana. Kaum revolusioner di Meksiko, Argentina, India dan sejumlah tempat lain telah kian meninggalkan tetek bengek soal perebutan kekuasaan dan mulai merumuskan gagasan yang berbeda sama sekali secara radikal mengenai apa makna sebuah revolusi. Kebanyakan orang, mengakui, malu menggunakan kata ‘anarkis’. Tetapi sebagaimana Barbara Epstein jelaskan, bahwa anarkisme secara meyakinkan telah menggantikan posisi Marxisme dalam gerakan sosial sejak tahun 1960an: bahkan mereka yang tidak menganggap diri sebagai anarkis merasa mesti mengaitkan dirinya dengan anarkisme dan mengambil sejumlah gagasannya.

Namun semua ini tidak menemukan gaungnya di dunia akademis. Kebanyakan kaum akademisi hanya memiliki sejumput kecil gagasan soal anarkisme; atau menyepelekannya dengan stereotipe yang sangat kasar. (“Organisasi anarkis! Tapi bukankah itu bertentangan dengan istilah anarkis sendiri?”) Di Amerika Serikat terdapat ribuan sarjana Marxis atau yang sebangsanya, tapi sulit sekali menemukan segelintir sarjana yang mau secara terbuka menyebut dirinya anarkis.

Apakah para akademisi ini menutupi diri? Bisa jadi. Mungkin dalam beberapa tahun ke depan dunia akademis akan diambilalih oleh kaum anarkis. Tapi saya tidak akan menyangkalnya. Ada hubungan yang erat antara Marxisme dan dunia akademis yang tak pernah dimiliki anarkisme. Karena sejak awal, ialah satu-satunya gerakan sosial terbesar yang diciptakan oleh seorang doktor, meski kemudian ia menjadi sebuah gerakan yang ditujukan bagi kelas pekerja. Pun anarkisme, dimana catatan sejarah mengasumsikannya secara serupa: anarkisme ditampilkan sebagai buah pemikiran para pemikir abad sembilan belas—Proudhon, Bakunin, Kropotkin, dll.—yang kemudian menginspirasi organisasi kelas pekerja, masuk dalam perjuangan politik, dan terbagi-bagi ke dalam beberapa aliran…

Anarkisme, dalam pandangan umum, biasanya dianggap sebagai saudara sepupu Marxisme, yang secara teoritis datar namun cukup melengkapi gagasan perjuangan dengan gairah dan ketulusan. Tetapi faktanya, analogi tersebut terlalu dibuat-buat. Para “tokoh pendiri” di abad ke sembilan belas tidak berpikir bahwa mereka telah menemukan sesuatu yang baru. Sebab prinsip-prinsip dasar anarkisme—swa-organisasi, asosiasi sukarela, gotong royong—merujuk pada perilaku manusia yang telah melekat sepanjang peradaban manusia.

Penolakan yang sama akan negara dan segala bentuk kekerasan struktural, ketidaksetaraan, atau dominasi (anarkisme secara harafiah berarti “tanpa penguasa”), bahkan diasumsikan bahwa segalanya tersebut terhubung dan saling menguatkan satu sama lain. Tak ada satupun yang menunjukkan sebagai suatu doktrin baru yang mengejutkan. Dan faktanya memang demikian: kita dapat menemukan berbagai catatan dimana orang-orang memberikan argumen yang hampir sama sepanjang sejarah, meskipun ada banyak juga alasan untuk meyakini bahwa di sebagian besar ruang dan waktu, pendapat tersebut setidaknya pernah diawali. Yang kita bicarakan tidak sepenuhnya soal bangunan teori, tapi lebih soal sikap, atau mungkin seseorang menyebutnya sebagai keyakinan: penolakan terhadap model relasi sosial tertentu, keyakinan bahwa sesuatu yang lain yang jauh lebih baik bisa dibangun dan layak huni, keyakinan bahwa sebuah masyarakat semacam itu dapat terwujud.

Jika kita membandingkan sejarah pemikiran Marxisme dan anarkisme, terlihat jelas bahwa kita tengah menghadapi sesuatu yang secara mendasar sangat berbeda. Marxis telah menjadikan nama para pendirinya sebagai nama mazhab. Sama seperti Marxisme yang muncul dari pikiran Karl Marx, kita bisa melihatnya dalam Leninis, Maois, Trotskyis, Gramscian, Althusserian… (Perhatikan bagaimana di dalam daftar itu tersebar nama-nama dari kepala negara hingga profesor Prancis.)

Suatu kali Pierre Bourdieu pernah mencatat bahwa, dunia akademis adalah sebuah permainan dimana para sarjana berlomba-lomba untuk saling mendominasi. Ada akan tahu bahwa anda telah memenangkan permainan itu ketika sarjana lain mulai membuat kata sifat dari nama anda.

Hal ini mungkin akan menjaga kemungkinan untuk menguasai permainan dimana para intelektual saling bersikeras, dalam berdiskusi satu sama lain, untuk lanjut menggarap semacam teori Manusia Hebat dalam sejarah yang mereka bisa cemooh dalam berbagai konteks: gagasan Foucault, seperti Trotsky, tidak pernah diperlakukan sebagai produk utama dari lingkungan intelektual tertentu, sebagai sesuatu yang muncul dari percakapan tak berujung dan argumen yang melibatkan ratusan orang, namun kerapkali, seolah-olah muncul dari kejeniusan seseorang (atau, sangat jarang, perempuan).

Tidak juga politik kaum Marxis mengorganisir dirinya seperti dalam displin akademis, atau ia telah menjadi model bagaimana kaum intelektual radikal, atau bahkan semua intelektual, saling memperlakukan; ketimbang, keduanya bergandengan tangan membangun sesuatu. Dari sudut pandang akademis, ini menyebabkan banyak hasil yang bermanfaat—perasaan bahwa mesti ada pusat moral, bahwa perhatian kaum akademis seharusnya relevan dengan kehidupan masyarakat—tetapi juga, membawa petaka lain: membuat banyak perdebatan intelektual menjadi sebuah parodi politik sektarian, karena setiap orang berusaha membantah argumentasi pihak lawan dan menertawakannya menjadi karikatur yang konyol sehingga meyakinkan bahwa mereka bukan hanya keliru, tapi juga jahat dan berbahaya—sekalipun perbedebatan semacam ini terjadi dalam bahasa-bahasa yang rumit, yang tak bakal dimengerti oleh mereka yang tidak mampu menyelesaikan tujuh tahun masa kuliah dan tak tahu bahwa perdebatan itu ada.

Sekarang kita lihat pemikiran anarkisme. Ada Anarko-Sindikalis, Anarko-Komunis, Insureksionis, Kooperatifis, Individualis, Platformis… Tak ada satupun yang dilabeli dengan nama Pemikir Besar, alih-alih mereka selalu dilabeli berdasarkan praktik, atau seringkali, prinsip organisasional. (Secara signifikan, tendensi Marxis yang tidak dilabeli dengan nama individu, seperti Otonomisme atau Komunisme Dewan, juga lebih dekat dengan anarkisme.) Anarkis lebih cenderung mencirikan diri dengan apa yang mereka lakukan, dan bagaimana mereka mengorganisir dirinya sendiri untuk melakukan hal tersebut. Dan memang hal inilah yang selalu menghabiskan sebagian besar waktu para anarkis untuk berpikir dan berdebat.

Para anarkis tidak pernah betul-betul tertarik dengan strategi atau pertanyaan filosofis yang begitu luas, yang secara historis kerap menyibukkan kaum Marxis—misalnya pertanyaan seperti: apakah kaum tani merupakan kelas revolusioner yang potensial? (Anarkis memandang persoalan ini lebih tepat diputuskan oleh kaum tani sendiri.) Apa hakikat komoditas? Justru kaum anarkis cenderung berdebat soal bagaimana musyawarah yang benar-benar demokratis, pada titik mana organisasi berhenti memberdayakan dan mulai mengekang kebebasan individu. Atau, secara bergantian, soal etika menentang kekuasaan: Apa itu aksi langsung? Apakah perlu (atau benar) mengutuk secara terang-terangan seseorang yang membunuh kepala negara? Atau bisakah pembunuhan, khususnya jika bertujuan untuk mencegah sesuatu yang lebih buruk, seperti perang, menjadi sebuah aksi moral? Kapan waktu yang tepat untuk merusak properti?

Jadi ikhtisarnya adalah:

1. Marxisme cenderung menjadi wacana teoritis atau analitis akan strategi revolusioner.

2. Anarkisme cenderung menjadi sebuah wacana etis mengenai praktik revolusioner.

Tentu saja, semua yang saya katakan adalah semacam karikatur (ada juga kelompok-kelompok anarkis sektarian, dan banyak libertarian, termasuk Marxis yang berorientasi praktis, termasuk saya sendiri). Namun demikian, hal ini tidak menunjukkan potensi saling melengkapi di antara keduanya. Dan memang begitu adanya: bahkan Mikhail Bakunin, meski memiliki perselisihan tak berujungnya dengan Marx atas persoalan praktik, pun secara personal menerjemahkan Kapital-nya Marx ke bahasa Rusia. Tapi hal ini membuat kita lebih mudah memahami mengapa hanya ada sedikit anarkis di dunia akademis.

Itu tidak berarti bahwa anarkisme cenderung tidak berguna bagi teori langitan. Bahwa anarkisme lebih memberi perhatian pada bentuk-bentuk praktis, ya; itu menegaskan, sebelum beralih ke yang lain, sesuatu harus sejalan dengan tujuan akhir; orang tidak bisa menciptakan kebebasan dengan cara-cara otoritarian; setiap orang mesti berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkan masyarakat yang ingin diciptakan bersama rekan-rekannya. Dan ini tidak cocok dengan metode operasional yang ada di universitas—satu-satunya lembaga selain Gereja Katolik dan kerajaan Inggris yang berhasil bertahan dalam bentuk yang tidak jauh berbeda sejak Abad Pertengahan—melakukan peperangan intelektual pada konferensi yang diselenggarakan di hotel-hotel mewah dan mencoba berpura-pura bahwa hal itu akan mendorong revolusi. Mungkin orang membayangkan ketika mengaku diri sebagai seorang profesor anarkis secara terbuka, maka artinya ia menantang apa yang sudah diterapkan universitas selama ini—saya tidak menganjurkan untuk membuka departemen studi anarkis di kampus, tidak begitu—dan hal itu, tentu saja, akan menimbulkan lebih banyak masalah ketimbang apapun yang pernah dituliskan.

Ini tidak berarti teori anarkis adalah tidak mungkin.

Hal ini tidak berarti kaum anarkis menentang teori. Betapapun, anarkisme, dalam dirinya sendiri, adalah sebuah ide, yang bahkan sangat tua. Anarkisme adalah sebuah skema, yang dipersiapkan untuk mulai menciptakan sebuah tatanan masyarakat baru “dalam cangkang yang sudah tua,” untuk mengekspos, menumbangkan, dan mengikis struktur dominasi, namun melakukannya dengan cara-cara yang demokratis, dengan cara yang menunjukkan bahwa struktur lama tersebut tidak dibutuhkan.

Tentu saja, setiap proyek apapun memerlukan pemahaman dan instrumen analisis intelektual. Tidak perlu Teori Langitan, cukup dengan apa yang bisa dipahami. Dan tentunya tidak juga menjadi teori tunggal, semacam Teori Langitan Anarkis. Sebab, itu justru berlawanan dengan semangat anarkisme sendiri. Lebih baik, menurut saya, sesuatu yang terkandung dalam semangat proses pengambilan keputusan a la anarkis, digarap di berbagai level mulai dari kelompok-kelompok afinitas hingga majelis skala besar yang terdiri dari ribuan orang. Kebanyakan kelompok anarkis bekerja dengan metode konsensus yang sudah dikembangkan dengan berbagai cara, menjadi oposan dari kekuasaan tunggal yang telah memecah belah, serta gaya sektarian yang cukup populer di kalangan kelompok-kelompok radikal lainnya.

Mengadaptasi teori artinya menerima bahwa kebutuhan keberagaman akan perspektif teori tinggi, hanya bisa dipadukan dengan berbagi komitmen dan saling pengertian. Dalam proses konsensus, setiap orang menyepakati banyak hal sejak awal pada prinsip-prinsip persatuan yang luas dan tujuan keberadaan kelompok; namun di luar itu mereka juga menerimanya sebagai hal yang tak bisa ditawar lagi, bahwa tak seorangpun yang akan berusaha mengubah pandangan seseorang sepenuhnya untuk mengikuti sudut pandang mereka, dan memang tidak seharusnya dilakukan; sehingga diskusi semestinya fokus pada pertanyaan-pertanyaan aksi yang kongkrit; dan muncul dengan rencana-rencana yang semua orang bisa menyepakatinya dan tak seorangpun yang merasa hak asasi mereka dilanggar.

Seseorang bisa melihat adanya hal paralel disini: serangkaian prespektif yang beragam, bergabung karena adanya keinginan bersama untuk memahami kondisi manusia, dan mendorongnya ke arah kebebasan yang lebih baik. Ketimbang terus berusaha untuk membuktikan pendapat orang lain keliru, ia justru berusaha menemukan garapan dimana mereka bisa saling memperkuat satu sama lain. Jangan hanya karena tidak adanya kecocokan pada teori-teori tertentu, bukan berarti mereka tidak dapat hadir bersama, bahkan bisa saling memperkuat satu sama lain. Faktanya bahwa individu memiliki pandangan dunia yang unik, yang tidak dapat diperbandingkan, bukan berarti mereka tidak bisa menjadi teman, atau kekasih, atau bekerja dalam proyek bersama.

Bahkan lebih dari sekadar Teori Langitan, apa yang dibutuhkan anarkisme adalah sesuatu yang mungkin disebut Teori Membumi: sebuah metode yang bergelut dengan hal-hal riil, pertanyaan-pertanyaan mendesak yang muncul dari sebuah proyek transformatif. Ilmu sosial arus utama sebenarnya tak tidak cukup membantu untuk hal-hal seperti ini, karena secara normal di dalam ilmu sosial arus utama hal-hal seperti ini, secara umum, diklasifikasikan sebagai “masalah kebijakan” dan tentu saja tak ada seorang pun anarkis tulen yang mau berurusan dengan hal ini.

menolak kebijakan (sebuah manifesto kecil): Gagasan “kebijakan” menganggap negara atau aparat yang memerintah bisa memaksakan kehendaknya atas yang lain. “Kebijakan” merupakan negasi dari politik; kebijakan secara definisi merupakan sesuatu yang direka-reka oleh sekelompok elit, yang menganggap mereka lebih tahu dari orang lain soal bagaimana mengurusi banyak hal. Dengan berpartisipasi dalam perdebatan soal kebijakan setidaknya dapat mengurangi kerusakan yang akan ditimbulkan olehnya, sebab premis dasar kebijakan adalah musuh dari gagasan yang mendukung agar orang-orang mengelola urusan dengan tangannya sendiri.

Maka dalam hal ini, pertanyaannya menjadi: Teori sosial macam apa yang sesuai dengan kepentingan mereka yang mencoba mendorong terciptanya dunia dimana orang-orang merdeka mengelola urusannnya sendiri?

Maka inilah hal utama yang hendak pamflet ini bicarakan.

Sebagai permulaan, saya akan bilang bahwa teori semacam itu harus dimulai dengan beberapa asumsi awal. Tak banyak. Mugkin hanya dua. Pertama, ia mesti berangkat dari asumsi bahwa, sebagaimana ditembangkan dalam lagu-lagu rakyat Brazil, “sebuah dunia lain adalah mungkin”. Bahwa institusi seperti negara, kapitalisme, rasisme dan dominasi laki-laki bukanlah hal yang tak bisa diubah; bahwa adalah mungkin untuk memiliki sebuah dunia dimana hal-hal buruk semacam itu tidak ada lagi, dan kita akan menjadi lebih baik tanpanya. Bentuk dedikasi diri terhadap prinsip semacam ini mirip dengan ketaatan terhadap agama, sebab bagaimana mungkin seseorang menguasai pengetahuan mengenai berbagai hal? Boleh jadi hal-hal seperti ini justru tidak mungkin dicapai. Tetapi kita bisa balik memberi argumentasi bahwa justru ketidaktersediaan pengetahuan absolut inilah yang membuat komitmen menjadi optimisme sebuah keharusan moral: Karena tak seorangpun bisa memastikan bahwa sebuah dunia yang lebih baik adalah tidak mungkin. Kalau begitu apakah kita tidak malah mengkhianati orang-orang jika tetap membenarkan dan mereproduksi, kebobrokan yang kita alami saat ini? Dan tentu saja, bahkan jikapun kita keliru, kita mungkin lebih mendekat kepada solusi ketimbang menjauh.

menolak anti-utopianisme (manifesto kecil lainnya): Di sini kita mesti menghadapi persoalan yang tak terelakkan: bahwa utopianisme telah menuntun kita pada horor yang tak terperi, seperti yang telah dilakukan kaum Stalinis, Maois, dan kaum idealis lain yang berusaha mengukir peradaban ke dalam bentuk-bentuk yang tidak masuk akal, dengan membunuh jutaan orang dalam proses pembentukannya.

Argumen ini memiliki kesalahkaprahan mendasar: bahwa membayangkan dunia yang lebih baik itulah yang menjadi problemnya. Kaum Stalinis dan kaum sejenisnya tidak membunuh orang semata-mata karena membayangkan sebuah mimpi besar—sebenarnya, kaum Stalinis dikenal kurang memiliki imajinasi—tetapi mereka keliru karena mengira mimpinya sebagai kepastian saintifik. Hal ini kemudian membuat mereka merasa memiliki hak untuk menerapkan visinya melalui mesin-mesin kekerasan. Kaum anarkis tidak menawarkan hal semacam itu, justru sebaliknya. Mereka tidak memercayai adanya tahapan sejarah yang pasti, yang tak terhindarkan, dan tak seorang pun dapat membangun kebebasan lebih jauh dengan menciptakan sebuah koersi yang lain. Faktanya segala bentuk kekerasan sistemik (di antaranya) juga menyerang peranan imajinasi sebagai prinsip dalam politik, dan satu-satunya cara untuk mulai berpikir soal penghapusan kekerasan sistemik adalah dengan mengakui hal ini.

Dan tentu saja kita bisa menulis berjilid-jilid buku tentang kekejaman sepanjang sejarah yang dilakukan oleh para sinis dan pesimis…

Jadi itu adalah proposi pertama. Yang kedua, yang akan saya katakan adalah bahwa setiap teori sosial anarkis mesti menolak dengan sadar segala hal terkait dengan kepeloporan (vanguardism). Peranan kaum intelektual tentunya bukan untuk membentuk sebuah elit baru yang kemudian menciptakan analisis strategis yang tepat dan kemudian menuntut massa untuk mengikuti rencana ini. Tapi kalau itu tidak terjadi, akan jadi apa? Itulah sebabnya saya menamai esai ini “Fragmen Antropologi Anarkis”—karena ini adalah medan dimana antropologi, saya pikir, memiliki posisi yang bagus untuk membantu. Dan bukan hanya karena komunitas-komunitas swakelola sungguh-sungguh ada, pun dengan komunitas ekonomi non-pasar, telah ditelusuri oleh antropologis daripada oleh sosiolog dan sejarawan. Ini juga karena etnografi menyediakan setidaknya semacam model, atau semacam model awal, tentang bagaimana kaum intelektual revolusioner non-vanguardis bisa bekerja. Ketika melakukan etnografi, kita akan mengamati apa yang dilakukan orang-orang, dan kemudian mencoba membongkar simbol yang tersembunyi, moral, atau logika pragmatis yang mendasari prilaku mereka; kita mencoba mencari tahu kebiasaan dan tindakan orang-orang untuk memahami sesuatu dengan cara yang mereka sendiri tidak sadari. Salah satu peran utama kaum intektual radikal adalah melakukan hal serupa: untuk melihat mereka yang mencoba menciptakan alternatif yang lebih layak, berusaha mencari tahu dampak yang lebih besar atas apa yang mereka (sedang) lakukan, dan kemudian menawarkan ide-ide itu kembali, bukan sebagai resep, melainkan sebagai sebuah kontribusi, sebuah kemungkinan—sebagai sumbangsih. Inilah yang kira-kira saya coba lakukan di beberapa paragraf awal saat saya menganjurkan bahwa teori sosial dapat membentuk kembali dirinya dalam kerangka proses demokrasi langsung. Dan ketika contoh-contohnya menjadi jelas, proyek semacam ini mesti memiliki dua aspek mendasar, atau momen jika kalian tak keberatan dengan istilah ini: satu etnografis, satu lagi utopian, yang ditangguhkan dalam dialog yang konstan.

Tidak satupun dari hal tersebut yang memiliki kaitan erat dengan apa yang ilmu antropologi lakukan, bahkan antropologi radikal sekalipun, selama kira-kira lebih dari seratus tahun terakhir. Namun, ada sebuah relasi yang aneh antara antropologi dan anarkisme, selama bertahun-tahun, yang begitu signifikan.


David Graeber adalah antropolog dan aktivis anarkis. Ia profesor antropologi di London School of Economics. Terlibat dalam banyak gerakan sosial di antaranya, sebagai anggota Industrial Workers of the World, berperan dalam aksi menolak World Economic Forum di New York pada 2002, mendukung demonstrasi pelajar di Inggris pada 2010 dan terlibat aktif dalam gerakan Occupy Wall Street. Ia juga pendiri dari  Anti-Capitalist Convergence.

Artikel ini dinukil dan diterjemahkan dari Fragments of an Anarchist Anthropology (2004).

Print Friendly, PDF & Email

You may also like...

Leave a Reply