Jaringan Rhizomatik, Tiga Bendera Menentang Kuasa

Reading Time: 7 minutes

 

Di Bawah Tiga Bendera: Anarkisme Global dan Imajinasi Antikolonial
Benedict Anderson
Marjin Kiri, 2015

Sederhananya, kaum anarkis adalah mereka yang menolak keberadaan negara. Di lain pihak, pribumi antikolonial adalah para pribumi yang menolak kekuasaan negara penjajah atas tanah air mereka dan, sekilas, mereka dapat diartikan sebagai orang-orang nasionalis yang ingin membuat ‘negara’ baru lepas dari negara penjajah.

Pada abad ke-19 kaum anarkis muncul sebagai kekuatan politis di Eropa, khususnya Spanyol, Perancis, Italia, dan Inggris. Di abad yang sama, pribumi antikolonial muncul di negeri jajahan semisal di Filipina, Kuba, Puerto Rico, dan Karibia yang jaraknya hampir sepertiga keliling bumi dari Eropa.

Apakah ada titik temu antara keduanya?

Jika kaum anarkis dan para pribumi antikolonial nasionalis diibaratkan bintang di langit malam, “Tidak ada yang menghubungkan bintang antar bintang ini selain gelap malam dan imajinasi,” sebut Professor Emeritus International Studies, Government & Asian Studies Universitas Cornell, mendiang Benedict Anderson.

Menurut penulis, kalimat ini menyiratkan secara halus bahwa ada anggapan umum usaha negeri terjajah meraih kemerdekaan semata-mata adalah urusan “dalam negeri” masing-masing. Pernyataan tersebut akhirnya membuat dikotomi antara perjuangan meraih kemerdekaan “dalam negeri” dan perkembangan situasi “luar negeri”, seolah antara keduanya nihil hubungan. Hingga pada akhirnya pernyataan itu menutup kemungkinan bahwa perjuangan meraih kemerdekaan bertautan dengan situasi di belahan lain bumi, dan bahkan gerakan yang dilakukan oleh orang-orang Eropa. “Masing-masing bersinar dengan cahayanya yang satu, sendiri, dan mantap,” keluh Anderson.

Melalui buku Di Bawah Tiga Bendera, Anarkisme Global dan Imajinasi Antikolonial, Anderson berusaha menerobos selubung itu. Bagi dia, “Gerakan kemerdekaan nasional negara-negara jajahan Spanyol di benua Amerika tak terpisahkan dari gelombang universal liberalisme dan republikanisme. Romantisisme, demokrasi, idealisme, Marxisme, anarkisme, bahkan belakangan fasisme, pada gilirannya juga dimengerti sebagai paham yang menjangkau seluruh muka bumi dan saling menghubungkan bangsa-bangsa.”

Dengan mendedikasikan buku ini sebagai suatu eksperimen astronomi politik, Anderson “Berusaha memetakan gaya gravitasi anarkisme di antara gerakan-gerakan nasionalis militan dari ujung ke ujung muka bumi.”

Para Pengibar Bendera

Imperium Spanyol membentang luas dari pusatnya di Madrid hingga Filipina di benua Asia dan Latin Americana di benua Amerika. Memasuki abad ke-19 pusat imperium ini membusuk akibat perang antardinasti, konflik kelas dan ideologi. Di tempat lain negeri tetangga sedang berkecamuk: Revolusi Perancis yang dimulai sejak 1780-an, Revolusi Industri di Inggris, dan kebangkitan Otto van Bismarck di Prussia.

Semasa itulah para pembawa panji tiga benderanya Benedict Anderson hidup. Bendera pertama, bendera Kuba, diwakili oleh José Marti. Menginjak usia ke-41 Marti membentuk partai revolusioner pembebasan Kuba di Florida, Amerika Serikat. April 1895, Marti melancarkan pemberontakan pertamanya terhadap kolonialisme Spanyol di Kuba. Pemberontakan pun menjalar ke seluruh penjuru Kuba. Rezim Canovas yang sedang berkuasa di Imperium kalang kabut. Tidak ingin melepaskan tanah seberangnya itu, dia mengirim Jenderal Weyler ke Kuba bersama 200.000 tentara Spanyol untuk menumpas serangan kawanan Marti.

Namun sebuah lubang besar menganga di belahan dunia lain. “Dengan 200.000 pasukan Spanyol terpaku ke Kuba, Madrid tidak punya kapasitas untuk mengirimkan pasukan militer besar-besaran ke Filipina,” tutur Anderson. Di Filipina, momen ini dimanfaatkan oleh Andrés Bonaficao untuk melancarkan pemberontakan yang sekaligus penanda pengibaran bendera kedua, bendera Katipunan Filipina.

Katipunan adalah organisasi pembebasan Filipina, berisi sekelompok ‘anak’ yang lahir dari rahim Liga Filipina yang dibentuk José Rizal, dokter sekaligus novelis asal Tagalog Filipina. Dia dikenal atas dua novel spektakulernya Noli Me Tangere dan El Filibusterismo. Tidak lama setelah Liga Filipina dideklarasikan, Rizal ditangkap dan diasingkan ke Dapitan. Liga pun berantakan, beberapa orang pun berinisiatif untuk membentuk Katipunan.

Gambar 2: Rizal, del Pilar, dan Ponce (c. 1890)

Menurut Anderson, “Yang dia lakukan di Noli Me Tangere adalah menciptakan dalam imajinasi sebuah ‘masyarakat’ Filipina yang utuh (dan kontemporer) dengan silang sengkarut antara para pejabat teras kolonial, para penjudi kampung, intelektual penyempal, penggali kubur, romo-romo katolik, informan polisi, orang-orang gila kedudukan, putra altar, aktris, jagoan-jagoan kota kecil, bandit, kaum reformis, tukang kayu, gadis-gadis remaja, dan kaum revolusioner. Dan pahlawannya yang sejati, Elias sang revolusioner, pada akhir cerita berkorban nyawa demi si reformis Ibarra.” Sedangkan dalam El Filibusterismo, Rizal, menurut Anderson, “Mengangankan keruntuhan politik masyarakat ini dan penghapusan kaum berkuasanya secara nyaris mutlak. Barangkali sampai saat itu tidak ada orang Filipina lain yang pernah memimpikan kemungkinan macam itu apalagi memasukkan impian tersebut ke ranah publik.” Novel ini pun menjadi novel antikolonial pertama yang ditulis oleh pribumi!

“Rizal tidak mengenal Bonaficao secara pribadi, dan barangkali Bonaficao pernah mendengar Rizal berbicara hanya cuma satu malam saja. Tapi ketika Katipunan menjadikannya presiden kehormatannya, dan menutup diskusi-diskusi mereka dengan seruan “Hidup Dr. Rizal!” jelas itu karena tokoh-tokoh revolusioner yang diciptakan Rizal di Noli Me Tangere dan El Filibusterismo,” sebut Anderson. Akibat badai Katipunan ini Rizal dibawa dari Dapitan ke Bagumbayan. Di sana dia ditembak mati. “Teladan kematian Rizal menjadikannya seorang martir nasional,” sebut Anderson.

Berita soal Katipunan menyebar pula ke Eropa. Sebulan setelah Bonaficao memulai pemberontakannya, seorang eksil asal Puerto Rico sekaligus agen diplomasi Revolusi Kuba di Paris, Ramon Bestances, dalam jurnalnya La Republica Cubana, menerbitkan dua artikel terkait Filipina: Viva Filipinas Libre! (Hidup Filipina Merdeka!) dan Que quiere Filipinas? (Apa yang didambakan orang Filipina?).

Pemberontakan Katipunan juga menyeret Isabelo de los Royes, pria keturunan Ilokano Filipina, ke penjara Montjuich. Sedikit berbeda dengan Rizal yang menyebut dirinya filipino, Isabelo menyebut dirinya hermano de los salvaticos, aetas, igorrotes y tinguianes, sanak saudara orang-orang rimba suku Aeta, Igorot, dan Tinguian. Isabelo dikenal sebagai folklorista (penulis cerita rakyat; pengkaji kearifan lokal) Filipina. Atas karyanya, El folk-lore Filipino, Isabelo mendapatkan medali perak di Expocision Filipino, Madrid 1887.

Gambar 3: Isabelo de los Reyes

Sekian bulan setelah penangkapan Isabelo, seorang pria asal provinsi Bulacan, Filipina sekaligus penggerak Propaganda Movement bersama Rizal dan Marcelo H. Pilar, Mariano Ponce, menyurati etnolog kelahiran Praha, Ferdinand Blumentritt, “… kasihan Isabelo, begitu pendamai dan orangnya begitu begitu kalem, akibat serangkaian malapetaka yang menimpanya ini, terutama kematian istrinya, serta penderitaan parah secara moral dan material yang baru ia alami, terkena serangan saraf hingga mudah marah, sampai ke titik ia mengutuk lantang-lantang dan di depan umum apa yang ia yakini sebagai hal yang tidak adil dan barbar, serta ordo-ordo keagaman sebagai akar penyebab kedurjanaan yang sedemikian besar.”

Selain satu surat tersebut kita dapat menemukan 242 surat lainnya dalam kumpulan surat-surat Mariano Ponce yang diarsipkan dalam sebuah buku berjudul Cartas sobre la Revolucion. Menurut catatan Anderson, hampir 50 persen dari surat-surat itu tertuju hanya pada lima orang: Galiano Apacible (sepupu José Rizal; rekan Ponce di koran La Solidaridad yang didirikannya bersama Lopez Jaena, koran ini adalah corong utama dari Propaganda Movement), Ferdinand Blumentritt, Vergerl de Dios (kontak utama Ponce dengan orang Kuba di Paris), “Ifortel” (bisa jadi nama samaran Rafael de Pan, nasionalis Filipina), dan Francisco Agoncillo (perwakilan Aguinaldo, pemimpin Katipunan setelah Bonaficao, di AS).

Cartas juga memuat 11 surat untuk diaspora orang-orang Antilles, sebutan untuk rangkaian pulau yang membentang di lautan Karibia — Kuba, Jamaica, Puerto Rico, Bahama, Haiti, dan Dominika merupakan bagian yang membentuk rangkaian kepulauan ini. Sebagian surat Ponce itu ditujukan kepada José Izquierdo, pengacara muda dan liberal pendukung asimilasi di pinggir lingkaran Bestances. Melalui Cartas kita juga bisa mengetahui jalinan kerja sama antara Ponce dengan Sun Yat-sen, pendiri perkumpulan pembaharuan Tiongkok Hsing Chung Hui, dan jalinan sahabat antara dia dengan orang Jepang bernama Suehiro Tettyo, staf koran metropolitan liberal Tokyo Akatsuki Shimbun.

Atas korespondensinya yang maha luas itu Benedict Anderson memberi judul salah satu subbab yang bercerita tentang Mariano Ponce, “Seorang Pria yang Mengglobal”.

Kembali ke folklorista. Isabelo dibebaskan tahun 1898. Pada tahun 1901 dia berlayar ke Filipina. Kopornya memuat perpustakaan kecil berisi buku-buku Proudhon, Marx, Voltaire, Darwin, Aquinas, Injil, Kropotkin, dan Malatesta. Selang beberapa tahun kemudian Isabelo membentuk serikat buruh cetak Unión Obrera Democrática Filipina (UOD). Serikat ini merupakan serikat buruh modern pertama yang berdiri di Filipina. Kelak UOD pecah, namun semangat organisasi ini menginspirasi lahirnya gerilyawan Hukbalahap (Hukbong Bayan Laban sa mga Hapones atau The Nation’s Army Against the Japanese Soldiers), seteru abadi ekspansionis Jepang di Filipina dan Republik Kedua Filipina bentukan AS.

Apa yang membuat folklorista tetiba mau susah-susah terlibat dalam gerakan buruh?

Penjara Montjuich dibuat untuk mengurung tahanan politik. Kengeriannya bisa disandingkan dengan penjara Omsk Siberia-nya Tsar Alexander II, tempat Dostoevsky ditahan tahun 1849–1854. Di Montjuich Isabelo berkawan dengan para pribumi antikolonial Kuba dan para pengibar bendera ketiga, kaum Anarkis Spanyol. Di dalam penjara Isabelo belajar mengorganisir buruh dan melaksanakan ‘propaganda dengan aksi’ langsung dari para muridnya Kropotkin, Bakunin, dan Malatesta.

Bagi kaum anarkis, selagi kekuasaan dan dominasi masih menjalar dalam urat nadi kehidupan masyarakat dalam berbagai bentuk hierarki sosial seperti sistem kasta, ketimpangan kelas ekonomi, hingga pemerintahan negara dengan segala macam aparat serta birokrasinya, selagi itu pula individu manusia tidak dapat mengenyam kemerdekaan dan menciptakan keadilan sosial.

Salah satu faktor penentu jalinan erat anarkis-antikolonial menurut Anderson yakni kaum anarkis tidak memendam prasangka teoritis terhadap paham-paham nasionalis, termasuk yang berkembang di negara jajahan. Selain itu, “Perkembangan jaringan komunikasi dan transportasi: kabel bawah laut untuk telegraf, dibentuknya Persatuan Pos Dunia, kapal uap, dan rangkain rel kerata di penghujung abad ke-19 memungkinkan terjadinya ‘globalisasi perdana’. Kaum anarkis terdepan dalam memanfaatkan perkembangan ini,” tambah Anderson.

Sebenarnya buku ini tata kata bahasanya cukup mudah dibaca. Namun di sisi lain, karena banyaknya tokoh, rentetan peristiwa yang menyertainya, dan plot penceritaan yang maju-mundur—berhubung Anderson memang sengaja menggunakan teknik montase sutradara Sergei Eisenstein dan cerita bersambung roman-feuilleton a la Charles Dickens dan Eugene Sue—membuat buku ini sulit dicerna.

Namun demikian, dengan teknik tersebut buku ini memiliki kekhasan tersendiri dalam menuturkan kronologi sejarah. Parameter “momen” Di Bawah Tiga Bendera terkadang tidak sekadar tanggal dan tahun tapi juga beberapa peristiwa tertentu yang memunculkan keheranan untuk apa gerangan peristiwa itu dikaitkan. Misalnya deskripsi Anderson tentang Bestances, “Ramon Emeterio Bestances lahir di Cabo Rojo, Puerto Rico, pada 8 April 1827 (satu setengah tahun sebelum Tolstoi).”

Tapi bukan hanya sekali Anderson berbuat seperti itu. Tujuh belas tahun sebelum Under Three Flags: Anarchism and the Anti-Colonial Imagination (2005) terbit dalam bahasa Indonesia, dalam karyanya The Spectre of Comparison: Nationalism, Southeast Asia and the World (1998), kita dapat menemukan kalimat-kalimat khasnya itu saat dia mendeskripsikan Rizal (dan juga tokoh-tokoh lainnya).

“Sosok yang menjadi pusat di generasi revolusioner adalah José Rizal, seorang penyair, novelis, ophthalmologis, sejarawan, dokter, esais polemis, moralis, dan pemimpi politis. Dia lahir pada tahun 1861, keturunan keluarga campuran Tiongkok, Jepang, Spanyol, dan Tagalog, lima tahun setelah Freud, empat tahun setelah Conrad, satu tahun setelah Chekhov; di tahun yang sama dengan Tagore; lima tahun sebelum Sun Yat-sen, tiga tahun sebelum Max Weber, delapan tahun sebelum Gandhi, dan sembilan tahun sebelum Lenin. Tiga puluh lima tahun kemudian dia ditangkap atas tuduhan keliru, mendorong pemberontakan Andrés Bonaficao yang terjadi Agustus 1896, dan dia dieksekusi mati ditembak pasukan pribumi yang dipimpin pegawai Spanyol. Eksekusi dilaksanakan di tempat yang sekarang bernama Taman Luneta, langsung menghadap Teluk Manila. (Di tempat lain Imperium Spanyol, José Marti, pahlawan nasionalis Kuba, telah mati dalam perang tahun sebelumnya). Di sekitar waktu kematian Rizal, Lenin didakwa hukuman pengasingan di Siberia, Sun Yat-Sen sudah mulai menggerakkan nasionalisme Tiongkok di luar Tiongkok, dan Gandhi sedang merangkai eksperiman pendahuluannya dalam perjuangan antikolonial di Afrika Selatan.”

Anderson lihai untuk membawa pembacanya dari Manila ke Austria, dari Spanyol ke Rusia, dari India ke Tiongkok, lalu kembali lagi ke Manila dengan kepala pusing kepayang. Dan atas sensasinya itu Anderson menyebut deskripsinya itu vertigo historis, suatu istilah yang digunakannya untuk membahasakan suatu sensasi berputar-putar-kepayang ketika menyaksikan peristiwa, dan orang-orang berkomplot, bertempur, ditangkap, bahkan dibunuh di tempat beragam lintas periode-periode waktu yang berbeda.

Rampung membaca buku ini, memunculkan suatu perenungan. Kenapa harus mulai dari Filipina, bukan Indonesia atau Thailand? Jawab Oom Ben sederhana: dia mengerjakan Di Bawah Tiga Bendera berbekal hasil-hasil riset yang dikerjakannya selama hampir 20 tahun tentang Filipina. Dan menurutnya riset-riset ‘jaringan rhizomatik’ ini dapat dimulai dari mana saja, mempelajari Rusia ujung-ujungnya akan membawa kita ke Kuba, mempelajari Belgia akan membawanya kita ke Etiopia, mempelajari Puerto Rico akan membawa kita ke Tiongkok.

Anderson memang sudah wafat Desember 2015 di Kota Batu, Malang, 79 tahun setelah kelahirannya di Kunming, Tiongkok, 32 tahun semenjak dia ditengarai mengubah pandangan masyarakat dunia soal bangsa melalui bukunya Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism (Verso, 1983), selang tiga hari setelah dia memberikan kuliah umum berjudul Nationalism and Anarchism di Universitas Indonesia. Namun suara dan wajahnya gentayangan, menghampiri kita dengan pertanyaan, setelah kaum anarkis dan kaum nasioanalis antikolonial, bintang mana lagi yang ‘kan kita hubungkan?

 

Referensi tambahan

Abinales, Patricio N.. 2016. Cosmopolitanism, marginality, Prokem: Benedict Anderson’s A Life Beyond Boundaries: A Memoir. Critical Asian Studies, 48:4, 614-626.
https://www.thenation.com/article/remembering-benedict-anderson-2/ diakses 22 Desember 2016.
http://www.nytimes.com/2015/12/15/world/asia/benedict-anderson-scholar-who-saw-nations-as-imagined-dies-at-79.html?_r=0 diakses 22 Desember 2016.


Penulis adalah penikmat buku, alumnus Matematika ITB, bergiat di Institut Sosial Humaniora ‘Tiang Bendera’ITB. 

You may also like...

Leave a Reply