Exarchia: Kota Kaum Anarkis di Yunani

Exarchia berdekatan dengan kampus Politeknik Athena. Pada tahun 1973, kampus ini menjadi simbol perlawanan terhadap kediktatoran militer. Saat itu, mahasiswa menduduki kampus sebagai bentuk perlawanan damai terhadap junta. Namun, junta militer merespon perlawanan itu dengan sangat keras.


 

Jangan salah kaprah dulu, saudara. Di sini anarkis bukanlah seperti yang sering ditudingkan oleh pengamat dan media arus utama di negeri ini: sekadar perusuh atau perusak fasilitas publik.

Anarkis berasal dari kata Yunani: anarchos/anarchia. Ini disusun dari kata av (an) yang berarti “tanpa” dan apxn (arkhe) berarti otoritas atau pemerintahan. Jadi, secara singkat anarkisme berarti tanpa pemerintahan.

Bapak anarkisme Peter Kropotkin mendefeniskan anarkisme sebagai sistem sosialisme tanpa pemerintahan. Baginya, harmoni di dalam masyarakat tidak diperoleh dengan penyerahan diri terhadap hukum, atau kepatuhan terhadap otoritas apapun, melainkan melalui perjanjian bebas di antara berbagai kelompok, asosiasi, atau profesi untuk melancarkan produksi dan konsumsi.

Yunani, negeri para filsuf itu, sedang dilanda krisis ekonomi. Utang Yunani melonjak dari 115% menjadi 160% dari PDB. Satu dari dua orang pemuda Yunani berstatus pengangguran. Tingkat bunuh diri akibat depresi ekonomi meningkat 20%. Tunawisma di kota Athena melebihi 20 ribu orang.

Rezim sayap kanan Yunani, yang didikte oleh Troika (IMF, Uni Eropa, dan Bank Sentral Eropa) memaksakan kebijakan penghematan. Uang pensiun dipangkas, sedangkan usia pensiun diperpanjang. Upah buruh Yunani sudah terpangkas 30-40%. Sebanyak 15% pekerja sektor publik dipecat. Pengangguran mencapai angka 40%.

Rakyat Yunani melakukan perlawanan. “Ada 11 juta alasan bagi rakyat Yunani untuk memberontak,” kata Markos Vogiatzoglou, seorang PhD di European University Institute. Artinya, setiap orang Yunani terkena dampak krisis dan punya potensi untuk berlawan.

Selain itu, dari kebangkitan rakyat Yunani, ada dua hal yang mencolok: pertama, praktek demokrasi langsung di lapangan Sytagma. Kedua, praktek masyarakat anarkis di lingkungan Exarchia. Yang kedua inilah yang kita bahas.

Exarchia terletak di Athena, Ibukota Yunani. Media massa sering menjulukinya sebagai “ibukota-nya kaum anarkis”. Di distrik Exarchia, Anda tidak akan menemukan polisi atau pun mesin negara lainnya. Tidak ada otoritas di distrik ini.

Exarchia punya reputasi sebagai pusat perlawanan. Di sini bermukim para anarkis, mahasiswa, seniman, dan kiri radikal. Sebagai perkampungan aktivis, wajah Exarchia pun tak lepas dari graffiti, poster, dan slogan-slogan politik.

Hampir semua tembok di Exarchia dipoles dengan graffiti. Gambar-gambar seperti bintang merah, simbol A dalam lingkaran, gambar pemuda mengenakan masker dan memegang bom molotov mewarnai tembok-tembok di Exarchia. Tak ketinggalan gambar seorang anak muda militan, Alexandros Grigoropoulos, yang dibunuh oleh polisi pada tahun 2008.

Exarchia berdekatan dengan kampus Politeknik Athena. Pada tahun 1973, kampus ini menjadi simbol perlawanan terhadap kediktatoran militer. Saat itu, mahasiswa menduduki kampus sebagai bentuk perlawanan damai terhadap junta. Namun, junta militer merespon perlawanan itu dengan sangat keras.

Junta militer mengirim tank untuk mendobrak pintu kampus. Mahasiswa mundur ke dalam kampus. Akan tetapi, sejumlah penembak jitu, yang memang sudah ditempatkan di atas gedung-gedung, membidik mereka satu per satu. 34 orang tewas dan 800 lainnya terluka dalam kejadian itu.

Kejadian ini memicu gelombang perlawanan di seluruh Yunani. Setahun kemudian, kediktatoran militer pun runtuh. Meski begitu, rezim demokratis yang berkuasa tahu betul keberadaan Exerchia sebagai pusat pemberontakan. Karena itu, mereka kemudian menempatkan polisi anti huru-hara di kawasan ini. Ini berlangsung selama tiga tahun lebih.

Gerakan itu banyak didorong oleh aktivis anarkis. Memang, pada tahun 1970-an, ketika kediktatoran militer berkuasa, banyak pemuda Yunani kembali ke negerinya dengan membawa teori-teori anarkisme. Mereka banyak merekrut pemuda dan mahasiswa.

Meski begitu, kelompok perlawanan tidak mati. Pada tahun 2008, sebuah peristiwa besar kembali terjadi di sini. Seorang anak muda, Alexandros Grigoropoulos, dibunuh oleh petugas kepolisian. Kebrutalan ini terjadi pada 6 Desember 2008.

Petugas polisi berdalih, mereka menembak karena anak itu melempari mobil polisi dan mobil air dengan batu. Tetapi saksi mata membantah. Katanya, anak muda itu hanya berjalan biasa ketika petugas polisi itu lewat. Anak muda itu ditembak tiga kali di kepalanya.

Pembunuhan Alexandros kembali memicu pemberontakan. Kota Athena lumpuh total selama 4 hari. Banyak kantor dan pos polisi diluluhlantakkan. Mobil-mobil polisi diserang dengan Molotov. Solidaritas untuk Alexandros mengalir hingga ke 70-an kota. Hingga kini gambar Alexandros menghiasi tembok-tembok di Exarchia.

Dengan sejarah anti-kekerasan yang panjang, warga Exerchia sangat membenci polisi. Tulisan A.C.A.B (All Police Are Bastard) sangat gampang ditemukan di sini, juga umpatan “Polisi, Babi, Pembunuh”. Pos polisi juga tidak pernah berdiri dengan aman di sekitar Exarchia.

Seiring dengan meluasnya perlawanan anti-penghematan di Yunani, para penghuni Exerchia mengambil peranan yang tidak sedikit. Banyak di antara mereka terlibat dalam pengorganisasian perlawanan, termasuk pengorganisasian praktik demokrasi langsung di lapangan Syntagma.

Banyak kaum anarkis dari Eropa, juga dari benua lain, sengaja mengunjungi Exerchia. Festival anti-otoritarian sering digelar di tempat ini. Buku-buku anarkis, termasuk buku tentang perjuangan Black Panther, sangat gampang ditemui di sini.

You may also like...

1 Response

  1. 4 December 2015

    […] Syriza bukanlah anak tunggal hasil persetubuhan gerakan rakyat dengan kondisi kekinian masyarakat Yunani—jika tidak dibilang anak hasil rekayasa. Ada kelompok lain yang tidak terbuai populisme Syriza […]

Leave a Reply