D.7 Apakah kaum anarkis menentang perjuangan kemerdekaan nasional?

Reading Time: 5 minutes

D.7 Apakah kaum anarkis menentang perjuangan kemerdekaan nasional?

[toc]

Meski kaum anarkis menentang nasionalisme (lihat bagian sebelumnya), tidak berarti mereka mengabaikan perjuangan kemerdekaan nasional. Kenyataannya adalah sebaliknya. Dalam kata-kata Bakunin, “Aku selalu menganggap diriku  sebagai patriot dari semua tanah  yang tertindas… Nasionalitas… adalah sebuah fakta historis lokal yang, seperti semua fakta-fakta riil yang tidak merugikan, memiliki hak untuk mengklaim penerimaan umum… Nasionalitas bukanlah  sebuah prinsip; ia adalah fakta logis, seperti halnya individualitas. Setiap nasionalitas, besar atau kecil, memiliki hak untuk eksis yang tak perlu dipersoalkan, untuk hidup sesuai dengan keadaannya. Hal ini merupakan konsekuensi logis dari prinsip umum kebebasan.” (dikutip oleh Alfredo M. Bonanno dalam Anarchism and the National  Liberation Struggle, hal.19-20)

Lebih baru lagi, Murray Bookchin telah mengungkapkan perasaan yang serupa: “Tak ada libertarian kiri … dapat menentang hak dari rakyat yang tertindas untuk memerdekakan dirinya sebagai entitas yang otonom–baik dalam  seuah konfederasi (libertarian)… maupun sebagai negara bangsa yang berdasarkan ketidaksetaraan kelas dan  hierarkis.” (“Nationalism and the ‘National Question’”, Society and Nature, hal. 8-36, no.5, hal 31) Bahkan juga, kaum anarkis tidak mengangkat gagasan kemerdekaan nasional ke dalam masalah kesetiaan yang  tidak masuk akal, seperti yang dilakukan kaum kiri Leninis pada abad ini, mencari dukungan untuk bangsa tertindas tanpa terlebih dahulu  menyelidiki “jenis masyarakat apa yang akan dihasilkan oleh gerakan ‘kemerdekaan nasional’ tersebut”. Dengan  demikian, menurut Bookchin, hal tersebut akan “mendukung perjuangan kemerdekaan nasional untuk tujuan instrumental, sebagai sarana belaka dalam ‘melemahkan’ imperialisme”, yang membawa ke “ sebuah kondisi penurunanmoral” karena gagasan sosialis dihubungkan dengan tujuan otoriter dan statis dari kediktatoran “anti imperialis” dalam bangsa-bangsa “yang dibebaskan”. (ibid., hal.25-31) “Namun melawan penindas tidaklah sama dengan memberi dukungan terhadap setiap hal yang dilakukan negara bangsa bekas jajahan.” (Ibid., hal.31)

Jadi kaum anarkis melawan penindasan asing dan biasanya memberikan simpati kepada usaha-usaha pihak yang menderita akiibat penindasan tersebut untuk mengakhirinya. Tidak berarti bahwa kita tak perlu mendukung gerakan kemerdekaannasional (karena babgaimanapun biasanya juga mereka ingin menciptakan sebuahnegara baru), hanya saja kita tak dapat duduk tenang dan melihat satu bangsa menindas bangsa lainnya sehingga harus melakukansesuatu untuk menghentikan penindasan tersebut (contohnya, dengan memprotes negara penindas dan mencoba memaksa mereka mengubah kebijakan dan menarik diri dari urusan bangsa yang tertindas tersebut).

Sebuah masalah utama yang berkaitan dengan perjuangan kemerdekaan nasional adalah bahwa biasanya perjuangan tersebut menyeimbangkan kepentingan bersama “bangsa” dengan kepentingan penindas, dan menganggap kelas sebagai sesuatu tidaklah relevan. Meski gerakan nasionalis sering kali meengabaikan kehadiran kelas, gerakan-gerakan tersebut masih berusaha meningkatkan otonomi bagian tertentu dari masyarakat sembari mengabaikan bagian lainnya. Bagi kaum anarkis, sebuah negara nasional yang baru tidak akan membawa perubahan fundamental apapun dalam kehidupan sebagian rakyat, yang masih tetap lemah baik secara ekonomi maupun sosial. Dalam banyak negara bangsa di dunia, kita melihat suatu kesamaan, yaitu perbedaan nyata di dalam kekuasaan, pengaruh, dan kekayaan yang membatasi penentuan nasib sendiri bagi kelas pekerja, bahkan walau mereka bebas secara “nasional”. Merupakan sebuah kemunafikan ketika para pemimpin nasionalis berbicara mengenai pembebasan bangsa mereka dari cengkeraman imperialisme, sementara di waktu yang sama berusaha menciptakan suatu negara bangsa yang kapitalis, yang nantinya akan menindas penduduknya dan, barangkali, pada akhirnya akan memjadi imperialistis dengan sendirinya setelah pembangunan yang terjadi mencapai titik tertentu sehingga harus mencari lahan di luar negeri bagi produk dan modalnya untuk meneruskan pertumbuhan ekonomi dan menerima tingkat keuntungan yang sesuai (contohnya seperti yang terjadi di Korea Selatan).

Dalam menanggapi perjuangan kemerdekaan nasional, kaum anarkis menekankan pembebasan diri kelas pekerja, yang hanya dapat dicapai melalui usaha para anggotanya, dengan membentukdan menggunakan organisasi mereka. Dalam proses ini, tak ada pemisahan tujuan ekonomi, sosial dan politik. Perjuangan melawan imperialisme tak dapat dipisahkan dari perjuangan malawan kapitalisme. Pendekatan ini digunakan oleh sebagian besar, jika bukan semua, gerakan anarkis dalam menghadapi dominasi asing–kombinasi dari perjuangan melawan dominasi asing dengan perjuangan kelas melawan pribumi. Di banyak negara berbeda (meliputi Bulgaria, Mexico, Kuba, dan Korea), kaum anarkis telah mencoba, dengan menggunakan “propaganda mereka, dan dengan semua tindakan, (untuk) mendorong massa mengubah perjuangan untuk kemerdekaan politik menjadi perjuangan  untuk revolusi sosial.” (Sam Dolgoff, The Cuban Revolution-A Critical Perspektive, hal.41–di sini Dolgoff menghubungkan dengan gerakan rakyat Kuba, namun komentarnya dapat diterapkan untuk sebagian besar situasi historis–dan situasi sekarang).

Terlebih lagi, perlu kita jelaskan bahwa kaum anarkis yang berada di negara-negara imperialis juga melawan penindasan nasional, baik dengan kata-kata maupun perbuatan. Contohnya, anarkis Jepang terkenal Kotoku Shusi dijebak dan dihukum mati di tahun 1910 setelah berkampanye melawan ekspansionisme Jepang. Di Italia gerakan kaum anarkis melawan ekspansionisme Italia ke Eritrea dan Ethiopia di tahun 1880-an dan 1890-an, serta mengorganisir gerakan massif anti perang melawan invansi Libya 1911. Di tahun 1909, gerakan anarkis Spanyol mengorganisir pemogokan massal melawan internensi Spanyol di Maroko. Dan yang lebih baru lagi adalah perjuangan kaum anarkis Perancis melawan dua perang kolonial (di Indocina dan Aljazair) di akhir 1950-an dan di awal 1960-an, perlawanan kaum Anarkis seluruh dunia melawan agresi AS di Amerika Latin dan Vietnam (harus dicatat, tanpa mendukung rejim Kuba dan Stalinis Vietnam), penentangan terhadap perang Teluk (yang seringkali disebut sebagian besar anarkis dengan “tak ada perang selain perang kelas”) dan juga perlawanan terhadap imperialisme Sovyet.

Pada prateknya, gerakan kemerdekaan internasional penuh dengan kontradiksi antara cara rakyat kebanyakan memahami kemajuan yang dibuat (serta harapan dan impian mereka) dengan keinginan anggota/pemimpin kelas berkuasa. Kepemimpinan selalu menyelesaikan konflik ini demi masa depan kelas berkuasa. Lama kelamaan individu anggota gerakan ini menyadarinya dan menghancurkan politik ini menuju anarkisme. Hanya pada saat konflik besar terjadi, kontradiksi ini akan menjadi sangat jelas dan pada tahap ini, mungkin saja sejumlah besar orang melupakan nasionalisme jika terdapat alternatif lain yang memenuhi keinginan mereka. Dengan menetapkan bahwa kaum anarkis tidak memberikan kesepakatannya, cita-cita kita gerakan-gerakan melawan dominasi asing semacam itudapat menjadi kesempatan untuk memperluas politik, cita-cita dan pemikiran kita–dan untuk menunjukkan batasan dan bahaya nasionalisme itu sendiri serta memperlihatkan alternatif lain yang dapat dijalankan.

Bagi kaum anarkis, pertanyaan kuncinya adalah apakah kebebasan ditujukan untuk konsep abstrak seperti “bangsa” atau untuk individu yang menyusun nasionalitas dan yang menghidupkannya. Penindasan harus dilawan pada semua sisi, dalam bangsa dan secara internasional, agar kelas pekerja dapat memetik buah kebebasan. Perjuangan kebebasan apapun yang mendasarkan dirinya pada nasionalisme akan mengalami kegagalan sebagai sebuah gerakan yang bertujuan untuk memperluas kebebasan manusia. Jadi kaum anarkis “menolak berpartisipasi dalam barisan kemerdekaan nasional; mereka berpartisipasi dalam barisan kelas yang mungkin, atau bisa juga tidak, terlibat dalam perjuangan kemerdekaan. Perjuangan harus meluas hingga ke pembentukan struktur ekonomi, politik, dan sosial dalam wilayah yang dibebaskan, yang didasarkan pada pengaturan yang libertarian dan federalis.” (Alfredo M. Bonanno, Anarchism and the Nationalism Liberation Struggle, hal.12)

Jadi meski kaum anarkis membuka kedok nasionalisme, kita tidak meremehkan perjuangan dasar untuk hak pengolahan diri sendiri dan identitas sendiri yang diselewengkan nasionalisme. Kita mendorong aksi langsung dan semangat revolusi melawan semua bentuk penindasan–sosial, ekonomi, politik, rasial, seksual, agama, dan bangsa. Dengan metode ini, kita bertujuan mengubah perjuangan kemerdekaan nasional menjadi perjuangan kemerdekaan manusia. Dan sementara berjuang melawan penindasan, kita juga memperjuangkan kondisi anarki, sebuah konfederasi komune pada tempatkerja dan majelis komunitas. Sebuah konfederasi yang akan menempatkan negara bangsa, seluruh negara bangsa, ke dalam peti tua sejarah tempatnya berada.

Dan sejauh identitas “nasional” dalam masyarakat anarkis menjadi titik fokus, posisi kita jelas dan pasti. Seperti catatan Bakunin sebagai penghargaan terhadap perjuangan rakyat Polandia untuk kemerdekaan nasional selama abad terakhir, kaum anarkis, sebagai “lawan setiap negara … menolak kebenaran dan batas-batas negara yang disebutkan sejarah. Bagi kami, Polandia hanyalah memulai, hanya benar-benar ada di sana di tempat massa pekerja yang memang, dan ingin menjadi seorang Polandia, dan berakhir ketika , melepaskan semua ikatan khusus dengan negara Polandia, massa ingin membentuk ikatan lainnya.” (dikutip dalam “Bakunin”, Jean Carroline Cahm, dalam Socialism and Nationalism, vol. 1, hal. 22-49, 43).