C.7 Apa yang menyebabkan lingkaran bisnis kapitalis?

[sc:afaq1]

C.7 Apa yang menyebabkan lingkaran bisnis kapitalis?

[toc]

Lingkaran bisnis adalah term yang digunakan untuk mendeskripsikan boom dan merosotnya sifat kapitalisme. Kadang-kadang tak terdapat pengangguran, dengan tempat kerja yang memproduksi lebih banyak lagi baarang dan jasa, perekonomian tumbuh dan begitu juga upah. Namun demikian, seperti pendapat Proudhon, situasi menggembirakan ini tidak bertahan:

“namun industri, di bawah pengaruh property, tidak berjalan dengan regulasi semacam itu…Segera setelah permintaan mulai jatuh, pabrik-pabrik penuuh dan setiap orang mulai bekerja. Kemudian bisnis hidup…Di bawah peraturan property, bunga-bunga indusri tersusun sebagai rangkaian bunga pemakaman. Para pekerja menggali sendiri makamnya…(kaum kapitalis) mencoba…melanjutkan produksi dengan memperkecil ongkos. Kemudian mulai menurunkan upah; pengenalan mesin; dipekerjakannya anak-aanak dna wanita…penurunan ongkos membuat pasar yang lebih besar…(namun) kekuatan produktif cenderung untuk melebihi konsumsi…Hari ini pabrik ditutup. Keesokan harinya orang mulai kelaparan dalam tekanan…Akibat penghentian bisnis dan kemurahan barang dagangan yang ekstrem…ketakutan kreditor membuat mereka segera menarik dana mereka (dan) produksi dihentikan, lalu pekerja mulai menganggur.” (P-J Proudhon, What is Porperty, hal. 191-192)

Mengapa hal ini bisa terjadi? Bagi kaum anarkis, seperti pendapat Proudhon, hal ini berkaitan dengan sifat produksi kapitalis dan hubungan sosial yang terbangun (“peraturan property”). Kunci untuk memahami lingkaran bisnis adalah memahami bahwa, menggunakan kata-kata Proudhon, “Property menjual produk kepada para pekerja lebih tinggi dari yang dibayarkan kepada mereka; karenanya jelas mustahil.” (Op. Cit., hal.194) Dengan kata lain, kebutuhan kapitalis untuk mendapatkan keuntungan dari pekerja yang mereka pekerjakan menjadi penyebab dasar dari lingkaran bisnis. Jiika kelas kapitalis tak dapat membuat cukup keuntungana, maka produksi dihentikan, memecat pekerja, menghancurkan hisup dan komunitas hingga ada cukup keuntungan yang dapat dihisap dari pekerja mereka.

Jadi apa yang mempengaruhi tingkat keuntungan? Ada dua kelas tekanan utama pada keuntungan, apa yang akan kita sebut “subyektif” dan “obyektif”. Tekanan obyektif terkait dengan apa yang disebut Proudhon dengan fakta bahwa “kekuatan produktif cenderung melebihi konsumsi” dan dibicarakan dalam bagian C.7.2 dan C.7.3.

Tekanan “subyektif” terkait dengan keadaan hubungan sosial yang diciptakan oleh kapitalisme, hubungan dominasi dan kepatuhan yang menjadi akar eksploitasi dan resistensi terhadapnya. Dengan kata lain, tekanan subyektif merupakan hasil dari fakta bahwa “property adalah despotisme” (menggunakan pernyataan Proudhon). Kita akan membahas pengaruh perjuangan kelas (tekanan “subyektif”) dalam bagian berikutnya.

Sebelum kita lanjutkan, akan ditekankan di sini bahwa ketiga faktor tersebut bekerja bersama-sama dalam perekonomian yang nyata dan kita telah membagi mereka untuk membantu menjelaskan issue yang tercakup di dalamnya. Perjuangan kelas, “komunikasi” pasar yang menghasilkan ketidak sesuaian dan investasi berlebihan saling berinteraksi. Karena ada kebutuhan dalam persaingan internal (perjuangan kelas) dan eksternal (antar perusahaan), kaum kapitalis harus menginvestasikan dalam alat produksi baru. Seiring dengan meningkatnya kekuatan pekerja selama boom , kaum kapitalis melakukan inovasi dan investasi untuk mencoba dan melawannya. Begitu juga, untuk memperoleh keuntungan pasar (dan juga peningkatan keuntungan) melebihi pesaing mereka, sebuah perusahaan menginvestasi dalam mesin baru. Namun demikian, berkaitan dengan kurangnya komunikasi yang efektif dalam pasar yang disebabkan oleh mekanisme pasar dan ketidak lengkapan informasi yang diberikan suku bunga, investasi ini menjadi terkonsentrasi pada pihak tertentu perekonomian. Investasi berlebih relatif dapat terjadi, dengan menciptakan posibilitas terjadinya krisis. Sebagai tambahan, boom mendorong perusahan baru dan persaing asing mencoba mendapatkan pembagian pasar sehingga mengurangi “derajat monopoli” dalam sebuah industri, juga mengurangi kenaikan dan keuntungan bisnis besar (yang pada akhirnya dapat menyebabkan suartu peningkatan dalam merger dan mengambil alih di akhir boom. Sementara itu, kekuatan pekerja bertambah yang menyebabkan terkikisnya margin keuntungan, namun juga mengurangi kecenderungan terjadinya investasi berlebihan dengan melawan introduksi mesin dan teknik baru serta  dengan mempertahankan permintaan untuk barang-barang jadi. Efek kontradiktif perjuangan kelas ini menyesuaikan efek kontradiktif investasi. Investasi menyebabkan krisis karena kegunaannya (yaitu membantu meningkatkan keuntungan perusahaan individu dalam waktu singkat, namun mengarahkan pada investasi berlebihan secara kolektif dan jatuhnya keuntungan dalam jangka panjang), perjuangan kelasmenghalangi akumulasi modal yang berlebihan dan mempertahankan jumlah permintaan (sehingga menunda krisis) sementara di eaktu yang sama mengikis margin keuntungan pada titik produksi (sehingga mengakselerasikannya). Jadi, faktor obyektif dan subyektif saling berinteraksi dan menetralkan pengaruhnya, namun pada akhirnya akan berakhir karena sistem didasarkan pada pekerja upahan dan produsen tidak melakukan produksi sendiri. Akhirnya krisis terjadi ketika kelas kapitalis tidak memperoleh angka keuntungan yang cukup. Jika pekerja memproduksi sendiri faktor yang menentukan ini tidak akan menjadi masalah karena kelas kapitalis tidak ada.

Dan perlu dicatat bahwa faktor-fakltor ini bekerja sebaliknya selama terjadi kemerosotan, yang menyebabkan potensi terjadinya boom. Selama krisis, kaum kapitalis masih mencoba memperbaiki profitabilitas mereka (yaitu meningkatkan nilai lebih). Pekerja berada dalam posisi yang lemah karena meningkatnya angka pengangguran sehingga, biasanya, menerima peningkatan eksploitasi, agar tetap bekerja. Dalam kemerosotan banyak firma yang gulung tikar, sehingga mengurangi jumlah modal tetap dalam perekonomian. Sebagai tambahan, karena firma-firma bangkrut, “derajat monopoli” masing-masing industri meningkat, yang meningkatkan kenaikan dan keuntungan bisnis besar. Akhirnya peningkatan nilai lebih produksi ini relatif cukup dengan cadangan modal tetap (yang dikurangi) untuk meningkatkan angka keuntungan. Hal ini mendorong kapitalis untuk memulai investasinya kembali dan boom mulai lagi (boom yang berisi benih kematiannya).

Dan begitulah lingkaran bisnis berlangsung, dikendalikan oleh tekanan “subyektif” dan “obyektif”– tekanan yang berhubungan secara langsung dengan sifat produksi kapitalis dan pekerja upahan yang menjadi dasarnya.

C.7.1 Peran apa yang dimainkan perjuangan kelas dalam lingkaran bisnis?

Yang paling mendasar, perjuangan kelas (perlawanan terhadap hierarki dalam segala bentuknya) merupakan penyebab utama lingkara bisnis. Seperti argumen kita dalam bagian B.1.2 dan bagian C.2 , untuk mengeksploitasi seorang pekerja, pertama-tama kapitalis harus menekannya. Namun dimana ada tekanan disitu ada perlawanan; di mana ada kekuasaan di ditu ada keinginan untuk bebas. Karena itu, kapitalisme ditandai oleh suatu pertentangan terus menerus antara pekerj adan majikan pada sisi produksi seperti juga perjuangan di luar tempat kerja melawan bentuk-bentuk hierarki yang lain.

Perjuangan kelas ini merefleksikan konflik antara pekerja yang mengusahakan pembebasan dan pemberdayaan diri, dan modal yang berusaha menjadikan pekerja individu sebagai tenaga penggerak kecil dalam mesin yang besar. Perjuangan itu juga merefleksikan usaha kaum tertindas yang mencoba untuk hidup dalam kehidupan yang sangat manusiawai, terekspresi ketika “pekerja mengklaim bagiannya dalam kekayaan yang ia hasilkan; ia mengklaim bagiannya dalam manajemen produksi dan ia tidak hanya mengklaim beberapa kesejahteraan tambahan, namun juga seluruh haknya untuk kenikmatan yang lebih tinggi terhadap ilmu pengetahuan dan seni.” (Peter Kropotkin, Kropotkin’s Revolutionary Pamphlets, hal 48-49)

Seperti pendapat Errico Malatesta, jika “pekerja sukses mendapatkan apa yang mereka minta, mereka akan mendapat keadaan yang lebih baik: mereka akan memperoleh lebih, bekerja dalam waktu yang lebih sedikit dan memiliki waktu dan energi yang lebih banyak untuk merefleksikan hal-hal yang mereka alami, dan akan membuat permintaan dan kebutuhan yang lebih besar dengan segera…Tak ada hukum alam (hukum upah) yang menetukan pekerjaan yang harus dijalani … Upah, jam dan kondisi pekerja lainnyamerupakan hasil perjuangan antara majikan dan pekerja. Yang pertama mencoba memberi pekerja sesedikit mungkin: yang terakhir mencoba, atau sebaiknya mencoba bekerja sesedikit, dan memperoleh sebanyak, mungkin. Di mana pekerja menerima kondisi apa pun, atau bahkan ketidakpuasan, tak tahu bagaimana mengadakan perlawanan efektif terhadap keinginan majikan, mereka dengan segera tereduksi ke dalam kondisi hidup yang tidak manusiawi. Malah, ketika mereka memiliki pemikiran mengenai bagaimana seharusnya manusia itu hidup dan mengetahui bagaimana menggabungkan kekuatan, dan melalui penolakan untuk bekerja atau ancaman pemberontakan terbuka dan laten, untuk memenangkan penghargaan para majikan, dalam masalah semacam itu, mereka diperlakukan dalam cara yang relatif layak…Melalui perjuangan, dengan perlawanan terhadap majikan, karena itum para pekerja dapat, naik ke pointertentu, mencegah semakin memburuknya kondisi mereka serta juga mendapatkan perbaikan nyata,” (Life and Ideas, hal.191-2)

Perjuangan inilah yang menentukan upah dan pendapatan tak langsung seperti kekayaan, bantuan pendidikan, dll. Perjuangan ini juga mempengaruhi konsentrasi modal, karena modal berusaha menggunakan teknologi untuk mengkontrol pekerja (dan juga menghisap nilai lebih semaksimum mungkin dari mereka) dan untuk mendapatkan keuntungan dari pesaing mereka (lihat bagian C.2.3). Dan, seperti yang akan dibicarakan dalam bagian D.10 (Bagaimana kapitalisme mempengaruhi teknologi?), peningkatan investasi modal juga merefleksikan usaha untuk meningkatkan kontrol terhadap pekerja melalui modal (atau untuk menggantikan mereka dengan mesin yang tak dapat berkata “tidak”) ditambah transformasi individu ke dalam “pekerja massa” yang dapat dipecat dan digantikan dengan sedikit perselisihan atau malah tidak sama sekali. Contohnya, Proudhon mengutip seorang “pengusaha pabrik Inggris” yang menyatakan bahwa ia menginvestasikan dalam mesin untuk menggantikan manusia dengan mesin karena mesin lebih mudah untuk dikontrol:

“Pembangkangan tenaga kerja kita telah memberi gagasan untuk membuangnya, Kita telah membuat dan menstimulasikan setiap usaha yang dapat dibayangkan pikiran untuk menggantikan jasa manusia dengan alat yang lebih patuh, dan kita telah mencapai tujuan kita. Mesin telah membebaskan modal dari penekanan pekerja.” (System of Economical Contradictions, hal 189)

(Proudhon menanggapi “betapa sialnya bahwa mesin juga tak dapat membebaskan modal dari tekanan konsumen!” karena over produksi dan tidak xcukup punya pasar karena mesin telah menggantikan manusia yang segera menghancurkan ilusi produksi otomatis ini melalui suatu kejatuhan–lihat bagian C.7.3).

Karena itu, perjuangan kelas memengaruhi upah dan investasi modal, dan juga harga komoditi dalam pasar. Yang lebih penting lagi, perjuangan kelas juga menentukan tingkat keuntungan dan tingkat keuntunganlah yang menjadi penyebab munculnya lingkaran bisnis. Hal ini terjadi karena di bawah kapitalisme “satu-satunya tujuan produksi adalah meningkatkan keuntungan kapitalis. dan karena itu, kita mengalami– fluktuasi industri yang berkelanjutan, krisis yang datang secara peri0odik…” (Kropotkin, op.cit. hal 55)

Mitos umum kapitalis, yang berasal dari teori nilai subyektif kaum kapitalis, adalah bahwa kapitalisme pasar bebas akan menghasilkan boom yang berkelanjutan, karena penyebab kemerosotan adalah kontrol negara terhadap kredit dan uang. Mari kita buat suatu asumsi, untuk sementara, bahwa inilah yang menjadi masalah. (Pada kenyataannya bukan ini masalahnya, seperti yang akan kita soroti dalam bagian C.8). Dalam perekonomian “boom” mimipi-mimpi “pasar bebas”, akan terdapat kondisi tanpa pengangguran. Namun dalam periode tanpa pengangguran, meski membantu “meningkatkan total permintaan, karakteristik fatalnya dari sudut bisnis adalah bahwa  periode itu membiarkan rendahnya angkatan pengangguran, dan karenanya melindungi tingkat upah serta memperkuat posisi tawar menawar buruh” (Edward S. Herman, Beyond Hypocrisy, hal 93).

Dengan kata lain, p[ekerja berada dalam posisi yang sangat kuat di bawah kondisi boom, kekuatan yang dapat menghancurkan sisitem. Hal ini terjadi karena kapitalisme selalu merentangkan tali. Jika boom berlangsung dengan mulus, upah nyata harus dibuat dalam ikatan tertentu. Jika pertumbuhannya terlalu rendah maka kapitalis akan merasa sulit menjual produk yang diproduksi pekerja mereka sehingga, karena hal ini mengahdapai apa yang sering disebut dengan “krisis realisasi” (yaitu fakta bahwa kapitalis tak dapat memperoleh keuntungan jika mereka tak dapat menjual produk mereka). Jika pertumbuhan upah nyata terlalu tinggi maka kondisi yang menghasilkan keutungan terganggu, karena pekerja mendapatkan lebih dari nilai yang ia hasilkan. Artinya dalam periode boom, ketika pengangguran rendah, kondisi untuk realisasi bertambah baik karena permintaan barang meningkat, sehingga memperluas pasar dan mendorong kapitalis untuk melakukan investasi. Namun demikian, peningkatan investasi semacam ini (dan juga lapangan kerja) memiliki efek yang merugikan pada kondisi yang diperlukan untuk menghasilkan  nilai lebih, karena pekerja dapat menyatakan dirinya sendiri pada sisi produksi, meningkatkan perlawanannya terhadap permintaan manajemen dan, yang jauh lebih penting, memilikinya.

Jika sebuah industri atau negara memiliki angka pengangguran yang tinggi, pekerja akan bekerja lebih lama, mendapatkan upah yang tetap, kondisi kerja yang buruk, dan teknologi baru agar tetap bekerja. Hal ini membuat modal mampu menghisap tingkat keuntungan yang lebih tinggi dari pekerja-pekerja itu, yang pada akhirnya akan memberi tanda kepada kapitalis lain untuk melakukan investasi dalam wilayah tersebut. Seiring dengan peningkatan investasi, pengangguran menurun. Jika kelompok pekerja yang ada mulai bosan, maka upah akan naik karena para majikan akan mengajukan penawaran disebabkan kurangnya  sumber daya dan pekerja merasa kuat. Karena pekerja berada dalam posisi yang lebih baik mereka dapat mulai bergerak dari melawan agenda modal hingga mengusulkan agenda mereka sendiri (contohnya permintaan upah yang lebih tinggi, kondisi kerja yang lebih baik, dan bahkan untuk kontrol pekerja). Karena kekuatan pekerja meningkat, pembagian pendapatan modal menurun,  begitu juga angka keuntungan, dan modal menggunakan keuntungan yang dihisap sehingga memotong investasi berikut lapangan kerja dan/atau upah.

Pemotongan dalam investasi meningkatkan pengangguran dalam sektor perekonomian barang modal, yang pada akhirnya mengurangi permintaan konsumsi barang karena buruh yang tidak bekerja tak lagi mampu membeli sebanyak sebelumnya. Proses ini mengalami percepatan karena majikan memecat pekerja dan memperparah kemerosotan sehingga meningkatkan pengangguran, yang mengawali kembali lingkaran tersebut. Hal ini dapat disebut tekanan “subyektif” pada angka keuntungan.

Saling mempengaruhinya keuntungan dan upah dapat dilihat dalam sebagian besar lingjkaran bisnis. Seperti sebuah contoh, mari kita lihat krisis yang mengakhiri Keynesianisme pasca perang di awal 1970-an dan membuka jalan bagi “revolusi pihak pemasok” oleh Tatcher dan Reagan. Krisis ini yang terjadi di tahun 1973, berakar dalam boom 1960-an. Jika kita amati di AS, kita dapati bahwa terjadi pertumbuhan yang berkesinambungan antara 1961-1969 (yang terpanjang dalam sejarah). Dari 1961 hingga seterusnya, pengangguran tetap rendah dan secara efektif menciptakan kondisi tanpa pengangguran. Dari tahun 1963, jumlah pemogokan dan peningkatan jumlah jam kerja yang terus berkurang semakin meningkat (dari sekitar 3000 pemogokan di tahun 1963 mencapai hampir 6000 di tahun 1970). Jumlah pemogokan liar meningkat dari 22% dari seluruh pemogokan di tahun 1960 hingga 36,5% di tahun 1966. Di tahun 1965 baik pembagian keuntungan bisnis maupun angka keuntungan bisnis mencapai puncaknya. Kejatuhan dalam pembagian keuntungan dan angka keuntungan berlanjut hingga tahun 1970 (ketika penganguran mulai bertambah), di mana mengalami sedikit kenaikan hingga kemerosotan 1973 terjadi. Sebagai tambahan, setelah 1965, inflasi mulai mengalami percepatan karena firma-firma kapitalis mencoba mempertahankan margin keuntungan mereka dengan menaikkan harga untuk konsumen (seperti yang kita bahas di atas, inflasi lebih terkait dengan keuntungan kapitalis daripada persediaan uang atau upah). Pengurangan upah riil ini membantu kapitalis untuk mendapatkan dan mempertahankan profitabilitas pada periode 1968-1973 lebih tinggi dari apa yang sebaliknya akan terjadi, yang membantu penundaan, namun tidak menghentikan, kemerosotan.

Dengan melihat gambaran yang lebih luas kita ketahui bahwa untuk negara kapitalis maju sebagai suatu keseluruhan, upah produk terus naik antara tahun 1962-1971 sementara itu produktifitas jatuh. Upah produk (ongkos riil untuk majikan dalam mempekerjakan pekerjanya) mencapai produktifitasnya di tahun 1965 (sekitar 4%)– di tahun itu juga pembagian keuntungan dalam pendapatan dan angka keuntungan mencapai puncaknya. Dari tahun 1965-1971, produktifitas terus menurun sementara upah produk terus naik. Proses ini, hasil dari rendahnya pengngguran dan meningkatnya kekuatan pekerja (ditunjukkan, sebagian, dengan ledakan jumlah pemogokan sepanjang Eropa dan di tempat-tempat lain), membantu memastikan bahwa upah riil setelah dipotong pajak dan produktifitas dalam negara kapitalis maju meningkat pada tingkat yang sama dari tahun 1960-1968 (4%). Namun antara 1968-1973, upah riil setelah dipotong pajak meningkat mendekati rata-rata dari 4,5% yang dibandingkan dengan kenaikan produktifitas dari hanya 3,4%. Terlebih lagi, berkaitan denagn meningkatnya persaingan internasional, perusahaan tak dapat melimpahkan kenaikan upah kepada konsumen dalam bentuk harga yang lebih tinggi (tyang sekali lagi, hanya akan menangguhkan, namun tidak menghentikan, kemerosotan). Sebagai hasil dari faktor-faktor ini, pembagian keuntungan untuk bisnis jatuh mendekati sekitar 15% dalam periode itu.

Sebagai tambahan, di luar tempat kerja “serangkaian gerakan pembebasan yang kuat muncul di antara para perempuan, pelajar, dan etnis minoritas. Krisis institusional sedang berlangsung, dan kelompok-kelompok sosial yang besar mempertanyakan fondasi semacam itu dalam masyarakat modern yang hierarkis: keluarga patriarkal, sekolah dan universitas yang otoriter, kantor atau tempat kerja yang hierarkis, partai atau serikat dagang yang birokatis.” (Takis Fotopoulos, “The Nation -state and the Market”, hal 58, Society and Nature, Vol.3, hal.44-45)

Pertentangan sosial menghasilkan krisis ekonomi karena modal tak lagi dapat menindas dan mengeksploitasi kelas pekerja untuk mempertahankan angka keuntungan yang sesuai. Krisis ini kemudian digunakan untuk mendisiplinkan kelas pekerja dan merestorisasi kekuasaan kapitalis dalam dan tanpa tempat kerja (lihat bagian C.8.2). Kita juga harus mencatat bahwa proses revolusi sosial ini meskipun, atau barangkali karena, peningkatan kekayaan material diprediksikan oleh Malatesta. Pada tahun 1922, ia berpendapat bahwa:

“Kesalahan fundamental kaum reformis adalah bahwa impian solidaritas, kolaborasi yang tulus, antara majikan dan pelayan…

“Mereka yang membayangkan masyarakat dalam babi-babi yang disumpal dengan baik yang bergoyang dengan puas di bawah kesuburan sejumlah kecil kawanan babi; yang tidak memperhitungkan kebutuhan akan kebebasan dan sentimen terhadap martabat manusia…dapat juga membayngkan dan memberikan aspirasi pada pengaturan teknis produksi yang menjamin kesejahteraan untuk semua pihak dan pada saat yang sama secara material menguntungkan majikan dan buruh. Namun dalam kenyataannya, “kedamaian sosial” yang berdasarkan pada kesejahteraan untuk semua pihak tinggal sebuah impian, selama masyarakat terbagi ke dalam kelas-kelas antagonistik, yaitu pekerja dan yang mempekerjakannya…

“Antagonisme ini lebih bersifat spiritual daripada material. Tak akan pernah ada pemahaman yang tulus antara majikan dan buruh untuk eksploitasi yang lebih baik terhadap kekuatan-kekuatan alam untuk kepentingan umat manusia, karena majikan bagaimanapun juga ingin tetap menjadi majikan dan selalu memiliki kekuasaan lebih dengan mengorbankan para pekerja, seperti halnya persaingan dengan majikan lain, dan sebaliknya pekerja telah malayani majikannya dan tidak menginginkannya lagi!” (Life and Ideas, hal 78-79)

Pengalaman mengenai kompromi pasca perang dan reformasi sosial demokrasi menunjukkan dengan baik bahwa pad aakhirnya, masalah sosial bukanlah kemiskinan melainkan kebebasan. Namun demikian,  kembali pada pengaruh perjuangan kelas dalam kapitalisme.

Yang lebih baru lagi, kepanikan di Wall Street yang mengiringi berita bahwa angka pengangguran menurun di AS merefleksikan ketakutan terhadap kekuatan kelas pekerja. Tanpa rasa takut terhadap pengangguran, para pekerja akan mulai memperjuangkan kebaikan kondisi mereka, melawan penindasan dan eksploitasi kaum kapitalis dan demi kebebasan dan dunia yang adil. Setiap kemerosotan di dalam kapitalisme terjadi ketika para pekerja telah mengetahui menuirunnya angka pengangguran dan perbaikan standar kehidupan mereka– bukan sebuah kebetulan.

Kurva Philips, yang menunjukkan bahwa inflasi naik karena meningkatnya angka pengangguran juga merupakan indikasi dari hubungan ini. Inflasi adalah keadaan di mana terjadi kenaikan harga secara umum. Ekonomi neo klasik (dan kapitalis pendukung “pasar bebas” lainnya) berpendapat bahwa inflasi hanyalah fenomena moneter belaka, hasil dari sirkulasi uang yang melebihi kebutuhan untuk membeli beragam komoditas dalam pasar. Namun demikian, hal ini keliru. Biasanya, tak ada hubungan antara suplai uang dan inflasi. Sejumlah uang dapat meningkat meski angka inflasi menurun, cotohnya (kasus di AS antara 1975-1984). Inflasi memiliki akar yang lain, yaitu  “ekspresi kurangnya keuntungan yang harus ditutup kerugiannya oleh harga dan kebijakan uang… Di bawah keadaan apapun inflasi berarti kebutuhan akan keuntungan yang lebih tinggi… “ (Paul Mattick, Economics, Politics, and the Age of Inflation, hal 19). Inflasi membawa keuntungan yang lebih tinggi dengan membuat harga pekerja lebih murah. Yaitu, mengurangi “upah riil pekerja… (yang) secara langsung menguntungkan majikan… (karena) harga naik lebih cepat daripada upah, penghasilan yang didapat pekerja kembali berpindah ke pengusaha.” (J.Brecher dan T. Costello, Common Sense for Hard Times, hal 120)

Inflasi, dengan kata lain merupakan sebuah gejala dari perjuangan terus-menerus untuk distribusi pendapatan antar kelas dan, karena pekerja tidak memiliki kontrol apapun terhadap harga, inflasi disebabkan ketika margin keuntungan kapitalis direduksi (untuk alasan apapun, subyektif maupun obyektif). Artinya, adalah keliru untuk menyimpulkan bahwa peningkatan upah “meningkatkan inflasi”juga. Penyimpulan seperti itu mengabaikan fakta bahwa pekerja tidak menentukan harga seperti yang dilakukan kapitalis. Inflasi, dalam caranya sendiri, menunjukkan kemunafikan kapitalisme. Bagaimanapun juga upah meningkat karena kekuatan pasar “alamiah” untuk penawaran dan permintaan. Kapitalislah yang mencoba untuk melawan pasar dengan menolak menerima keuntungan lebih rendah yang disebabkan oleh kondisi pasar itu. Jelas, menggunakan pernyataan Tucker, di bawah kapitalisme, kekuatan pasar baik untuk si angsa  betina (pekerja) dan angsa jantan (modal).

Hal ini tidak berarti bahwa inflasi sama sesuainya bagi kapitalis (jelas, hal ini juga tidak sesuai dengan lapisan sosial yang tinggal dengan penghasilan tetap dan yang kemudian menderita ketika harga-harga naik, namun orang-orang seperti itu tidak relevan di mata modal). Bukan itu–selama periode inflasi, orang yang menyewakan cenderung kalah dan peminjam cenderung menang. Perlawanan terhadap tingkat inflasi yang tinggi oleh banyak pendukung kapitalisme didasarkan pada fakta ini dan pada pembagian yang tampak dalam kelas kapitalis. Terdapat dua kelompok utama kapitalis, kapitalis finansial dan kapitalis industrial. Yang terakhir mendapat keuntungan dari adanya inflasi (seperti yang ditunjukkan di atas), namun yang pertama melihat inflasi yang tinggi sebagai sebuah ancaman. Ketika inflasi mengalami percepatan, suku bunga riil dapat didorong ke dalam teritorial negatif dan hal ini merupakan prospek yang mengerikan bagi mereka yang menganggap fundamental pendapatan suku bunga (yaitu modal finansial). Sebagai tambahan tingkat inflasi yang tinggi juga dapat –membakar pertentangan sosial, karena pekerja dan bagian masyarakat lainnya mencoba mempertahankan pendapatan mereka pada tingkat yang sama. Karena pertentangan sosial memiliki efek yang mempolitisir orang-orang yang terlibat, sebuah kondisi inflasi tinggi dapat menyebabkan pengaruh serius pada stabilitas politis kapitalisme dan juga mengakibatkan munculnya masalah bagi kelas berkuasa.

Bagaimana inflasi di pandang oleh media dan pemerintah merupakan suatu pernyataan kekuatan relatif dua bagian dalam kelas kapitalis dan tingkat perjuangan kelas dalam masyarakat. Contohnya, di tahun 1970-an, dengan peningkatan mobilitas modal internasional, keseimbangan kekuatan menjadi berakhir dan  modal finansial berikut inflasi menjadi sumber semua kejahatan. Pergeseran pengaruh menuju modal finansial dapat dilihat dari kenaikan pendapatan orang yang menyewakan. Distribusi keuntungan manufaktur AS menunjukkan proses ini– dengan membandingkan periode 1965-1973 dengan 1990-1996, kita ketahui bahwa pembayaran bungan meningkat dari 11% hingga 24%, pembayaran deviden meningkat dari 26% hingga 36%, sementara simpanan pendapatan turun dari 65% hingga 40%. (Karena simpanan pendapatan merupakan sumber yang paling penting bagi dana investasi, meningkatnya modal finansial dapat membantu memberi penjelasan mengapa, dalam kontradiksi terhadap klaim sayap kanan, pertumbuhan ekonomi terus menerus memburuk karena pasar telah diliberalisasi– dana yang dihasilkan dalam investasi riil berakhir dalam mesin finansial). Sebagai tambahan, gelombang pemogokan dan protes akibat adanya inflasi memiliki implikasi yang mengkhawatirkan bagi kelas berkuasa. Namun demikian, sebagai alasan dasar atas inflasi (yaitu untuk menaikkan keuntungan), inflasi sendiri hanya direduksi hingga tingkat yang dapat diterima, tingkat yang menjamin positifnya suku bunga riil dan keuntungan yang dapat diterima.

Kesadaran bahwa kondisi tanpa pengangguran buruk untuk bisnis merupakan basis dari apa yang disebut “Non-Accelerating Inflation Rate of  Unemployment” (NAIRU). NAIRU adalah tingkat pengangguran dalam  perekonomian di bawah inflasi, yang diklaim, mulai mengakselerasi. Meski basis “teori” ini lemah (NAIRU merupakan tingkat gerak yang tersembunyi, sehingga “teori” tersebut dapat menjelaskan setiap peristiwa  historis karena kamu dapat membuktikan apapun ketika data yang ada tak dapat dilihat oleh manusia), NAIRU berguna untuk membenarkan kebijakan yang bertujuan menyerang kelas pekerja, organisasi dan kegiatan mereka. NAIRU memfokuskan perhatiannya pada spiral “harga upah” yang disebabkan oleh rendahnya angka pengangguran dan meningkatnya hak serta kekuatan pekerja. Tentu saja, kamu tak pernah mendengar spiral “harga bunga” atau spiral “harga sewa” atau spiral “harga keuntungan” meski semua ini  juga merupakan bagian dari harga apapun. Hal tersebut selalu spiral “harga upah”, karena bunga, sewa dan keuntungan merupakan pendapatan bagi modal dan juga, sesuai definisi, tak dapat disangkal. Dengan menerima logika NAIRU, sistem kapitalis secara implisit menyatakan bahwa spiral “harga upah” dan kondisi tanpa pengangguran merupakan sesuatu yang bertentangan, dan juga dengan spiral “harga upah” tersebut, klaim apapun mengatakan bahwa terjadi alokasi sumber daya secara efisien atau kontrak pekerja sama-sama menguntungkan kedua belah pihak.

Untuk alasan ini, kaum anarkis berpendapat bahwa “boom” perekonomian yang berkesinambungan merupakan sebuah ketidak mungkinan karena kapitalisme dikendalikan oleh pertimbangan keuntungan, yang, dikombinasikan dengan tekanan subyektif pada keuntungan terkait dengan perjuangan kelas antara pekerja dan kaum kapitalis, perlu menghasilkan lingkaran boom dan kegagalan yang berkesinambungan. Ketika lingkaran tersebut diperpendek, tidaklah mengejutkan, karena “kebutuhan, kekayaan beberapa orang didasarkan pada kemiskinan orang lain, dan keadaan yang serba kekurangan yang dialami sejumlah besar orang, bagaimanapun juga, harus dipertahankan, bahwa mungkin terdapat pihak yang menjual dirinya sendiri hanya untuk satu bagian saja agar mampu melakukan produksi, dan tanpa itu akumulasi modal secara  pribadi tidak mungkin terjadi!” (Kropotkin, Op.Cit., hal.128)

Tentu saja, tekanan obyektif semacam itu dirasakan sistem, ketika akumulasi modal secara pribadi terancam oleh perbaikan keadaan untuk banyak orang, kelas berkuasa mencela kelas pekerja sebagai orang yang “egois” dan “tamak”. Ketika hal ini terjadi harus kita ingat apa yang telah dikatakan Adam Smith mengenai hal ini:

“Pada kenyataannya, keuntungan tinggi lebih cenderung untuk meningkatkan ongkos kerja daripada upah yang tinggi…Bagian dari harga komoditi yang memisahkan dirinya ke dalam bentuk upah akan … meningkat hanya dalam ukuran aritmatika terhadap kenaikan upah. Namun, jika keuntungan semua majikan yang berbeda dari para pekerja dapat ditingkatkan 5%, harga komoditi yang memisahkan dirinya ke dalam bentuk keuntungan akan… meningkat dalam ukuran geometris terhadap peningkatan  keuntungan…Para sudagar dan majikan pabrik yang ada mengeluhkan efek buruk dari upah yang tinggi di dalam menaikkan harga dan karenanya menurunkan angka penjualan barang dagangan mereka, baik di dalam maupun di luar negeri. Mereka tidak mengatakan apapun yang terkait dengan efek buruk keuntungan yang tinggi. Mereka membisu berkaitan dengan efek merugikan dari perolehan mereka. Mereka mengeluhkan hal-hal itu” (The Wealth of Nation, hal 87-88)

Seperti sebuah bisikan, harus kita catat bahwa sekarang ini kita harus menambahkan para ahli ekonomi ke dalam kelompok yang digolongkan “saudagar dan majikan pabrik” oleh Adam Smith. Hal ini tidak mengherankan karena teori ekonomi telah mengalami kemajuan (atau mengalami degenerasi), dari analisis Adam Smith yang tidak memihak hingga apologetik untuk semua tindakan majikan (harus kita tambahkan sebuah contoh klasik mengenai penawaran dan permintaan, dengan pasar ide yang merespon permintaan untuk kerja semacam itu yang dilakukan “saudagar dan majikan pabrik”). “Teori” apapun yang menyalahkan masalah kapitalisme pada pekerja yang “tamak” akan selalu disukai daripada teori yang meletakkannya secara benar dalam kontradiksi yang diciptakan oleh budak upahan. Proudhon menyimpulkan dengan baik teori ekonomi kapitalis ketika ia menyatakan bahwa “ekonomi politik–yaitu despotisme kepemilikan–tak pernah salah: yang salah pastilah proletar.” (System of Economical Contradictions, hal. 187) Dan sedikit yang berubah sejak 1846 (atau 1776!) ketika menjadi “penjelasan” ekonomi masalah kapitalisme (seperti lingkaran bisnis atau pengangguran). Akhirnya, ilmu ekonomi kapitalis menyalahkan setiap masalah kapitalisme pada penolakan kelas pekerja untuk menjilat majikan (contohnya, pengangguran disebabkan oleh upah yang terlalu tinggi daripada pengangguran yang dibutuhkan majikan untuk mempertahankan kekuatan dan keuntungan mereka–lihat bagian C.9.2 mengenai bukti empirik yang menunjukkan bahwa penjelasan kedua merupakan penjelasan yang akurat).

Sebelum membuat kesimpulan, masih ada satu poin terakhir. Meski tampak bahwa analisis kita mengenai tekanan “subyektif” pada kapitalisme serupa dengan ilmu ekonomi aliran utama, bukan ini masalahnya. Hal ini terjadi karena analisis kita mengakui bahwa tekanan semacam itu inheren dalam sistem, memiliki efek kontradiktif (dan juga tak dapat dipecahkan dengan mudah tanpa memperburuk keadaan sebelum membuatnya lebih baik) dan berpotensi menciptakan sebuah masyarakat yang bebas. Analisis kita mengakui bahwa kekuatan dan resistensi pekerja memang buruk untuk kapitalisme (juga untuk semua sistem hierarkis apapun), namun juga menunjukkan bahwa tak ada yang dapat dilakukan kapitalisme mengenainya tanpa menciptaakn rezim otoriter (seperti Nazi Jerman) atau dengan memunculkan sejumlah pengangguran masif (seperti juga kasus yang terjadi di awal 1980-an di Inggris maupun di AS, ketika pemerintah sayap kanan sengaja menyebabkan parahnya resesi) dan hal ini tidak menjamin pupusnya perjuangan kelas pekerja seperti yang  dapat dilihat, untuk contoh, dari tahun 1930-an di Amerika atau 1970-an di Inggris.

Artinya, analisis kita menunjukkan adanya batasan dan kotradiksi dalam sistem serta juga kebutuhannya untuk meletakkan pekerja dalam posisi tawar yang lemah agar sistem dapat “bekerja” (yang menghancurkan mitos bahwa kapitalisme adalah masyarakat yang bebas). Terlebih lagi, daripada menggambarkan pekerja sebagai korban sistem (seperti kasus-kasus dalam banyak analisa Marxis mengenai kapitalisme) analisis kita mengakui bahwa, baik secara individual maupun kolektif, kita memiliki kekuatan untuk mempengaruhi dan mengubah sistem tersebut dengan aktifitas kita. Kita sebaiknya bangga akan fakta bahwa pekerja menolak mengingkari dirinya atau meletakkan kepentingannya di bawah orang lain, atau memainkan peran sebagai penerima perintah seperti yang dibutuhkan sistem. Pernyataan akan semangat kemanusiaan semacam itu, perjuangan kebebasan melawan kekuasaan, seharusnya tidak diabaikan atau dianggap remeh, melainkan dihormati. Pernyataan bahwa perjuangan melawan kekuasaan menyababkan sistem menghadapi banyak masalah bukanlah argumen yang melawan pertentangan sosial, pernyataan itu adalah argumen elawan sistem yang didasarkan pada hierarki, aksploitasi dan pengingkaran kebebasan.

Untuk menyimpulkan, dalam banyak cara, pertentangan sosial merupakan dinamika inner sistem, dan sebagian besar kontradiksi dasarnya: meski kapitalisme mencoba menjadikan mayoritas orang sebagai komoditi (yaitu, pembawa kekuatan untuk bekerja), kapitalisme juga harus menyepakati respon manusia terhadap proses obyektifikasi ini (yaitu, perjuangan kelas). Namun demikian, bukan berarti bahwa pemotongan upah akan menyelesaikan krisis–sangat berbeda, karena, seperti pendapat kita dalam bagian C.9.1, pemotongan upah akan memperparah krisis apapun, membuat segala sesuatunya lebih buruk sebelum akhirnya menjadi lebih baik. Juga tidak berarti bahwa apabila pertentangan sosial dihapus, kapitalisme akan bekerja dengan baik. Bagaimanapun juga, jika kita berasumsi bahwa kekuatan untuk bekerja merupakan komoditas, seperti lainnya, harganya akan naik karena permintaan relatif bertambah terhadap penawaran (yang akan menghasilkan inflasi atau penghisapan keuntungan, atau malah kedua-duanya). Karena itu bahkan tanpa pertentangan sosial yang mengiringi fakta bahwa kekuatan bekerja tak dapat dipisahkan dari individu yang menjualnya, kapitalisme mungkin masih berhadapan dengan fakta bahwa hanya kelebihan tenaga kerja (pengangguran) yang memastikan penciptaan nilai lebih yang cukup.

Terlebih lagi, bahkan dengan asumsi bahwa individu dapat benar-benar bahagia dalam perekonomian kapitalis, kerelaan untuk menjual kebebasan dan kreatifitas demi sedikit uang, menerima, tanpa banyak pertanyaaan, setiap permintaan dan rengekan majikan mereka (sehingga mengingkari personalitas dan individualitas mereka di dalam proses tersebut), kapitalisme beanr-benar memiliki tekanan “obyektif” yang membatasi perkembangannya. Jadi meski pertentangan sosial, seperti pendapat di atas, memiliki efek menentukan pada kesehatan perekonomian kapitalis, bukan hanya pertentangan sosial saja yang menjadi masalah yang dihadapi sistem. Hal ini karena terdapat tekanan obyektif dalam sistem di luar dan di atas hubungan sosial otoriter yang dihasilkan (dan resistensi terhadapnya). Tekanan-tekanan ini akan dibahas berikutnya, dalam bagian C.7.2 dan C.7.3.

C.7.2 Peran apa yang dimainkan pasar dalam lingkaran bisnis?

Satu masalah besar dalam kapitalisme adalah kerja pasar kapitalisme itu sendiri. Bagi para pendukung kapitalisme “pasar bebas”, pasar memberikan semua informasi yang dibutuhkan untuk membuat keputusan produksi dan investasi. Artinya bahwa kenaikan atau penurunan harga komoditi bertindak sebagai sinyal bagi setiap orang dalam pasar, yang kemudian merespon sinyal tersebut. Respon-respon ini akan dikoordinasikan oleh pasar, mengakibatkan perekonomian yang sehat. Contohnya, suatu kenaikan harga komoditi akan menghasilkan peningkatan produksi serta pengurangan konsumsi barang itu, dan hal ini akan memindahkan perekonomian menuju equilbrium.

Meski dapat dijamin bahwa catatan mengenai pasar ini tidak memiliki dasar, juga jelas bahwa mekanisme harga tidak mengkomunikasikan semua informasi relevan yang dibutuhkan perusahaan dan individu. Artinya bahwa kapitalisme tiadk bekerjadalam cara yang disarankan dalam teksbook ilmu ekonomi. Kerja mekanisme harga itu sendiri yang memunculkan boom dan kemerosotan dalam aktifitas perekonomian, dan juga hasil ongkos sosial dan manusia yang dibutuhkan. Hal ini dapat diketahui jika kita melakukan investigasi terhadap proses aktual yang tersembunyi di belakang kerja mekanisme harga.

Ketika individu dan perusahaan meembuat rencana yang terfokus pada produksi masa depan, mereka sedang merencanakan tidak berkenaan dengan permintaan sekarang namun bereknaan dengan harapan akan permintaan di masa mendatang ketika produk mereka mencapai pasar. Namun demikian, Informasi yang diberikan mekanisme harga pasar, merupakan hubungan antara permintaan dan penawaran (atau harga pasar yang berkenaan dengan harga produksi pasar) pada saat ini. Meski infoemasi ini memang relevan dengan rencana orang-orang, tidak semua informasi relevan atau diperlukan oleh mereka yang terlibat.

Informasi yang tidak  diberikan pasar adalah bahwa rencana mengenai reaksi orang-orang lain terhadap informasi yang ditawarkan. Terlebih lagi, informasi ini tak dapat ditawarkan karena adanya persaingan. Contoh sederhana, jika A dan B sedang berada dalam suasanan persaingan, jika A memberikan informasi kepada B mengenai aktifitasnya dan B tidak membalas, maka B berada dalam posisi bersaing yang lebih efektif daripada A. Karena itu komunikasi dalam pasar diperkecil dan masing-masing diisolasikan satu sama lain. Dengan kata lain, masing-masing orang dan perusahaan merespon sinyal yang sama (perubahan harga), namun bertindak secara independen dari respon produsen dan konsumen lainnya. Akibat yang sering terjadi adalah kemerosotan dalam pasar yang menyebabkan pengangguran dan kekacauan perekonomian.

Contohnya kita asumsikan kenaikan sebuah harga yang terkait dengan kurangnya komoditi. Hal ini mengakibatkan keuntungan yang berlebihan dalam pasar itu, yang membuat para pemilik modal menginvestasikan dalam cabang produksi ini untuk mendapatkan bagian dari keuntungan di atas rata-rata. Namun demikian, konsumen akan merespon kenaikan harga dengan mengurangi konsumsi barang itu. Artinya bahwa ketika hasil dari keputusan independen ini terealisasi,  terjadi over produksi benda tersebut dalam pasar yang berhubungan dengan permintaan efektif terhadapnya. Barang-barang tersebut tak dapat dijual sehingga terjadi krisis realisasi karena produsen tidak mendapat keuntungan dari produk mereka. Karena over produksi ini, terjadi kemerosotan, modal yang tidak diinvestasikan, dan jatuhnya harga pasar. Pada akhirnya hal ini akan menyebabkan kenaikan dalam permintaan terhadap pasokan, ekspansi produksi yang kemudian menyebabkan boom lainnya dan seterusnya.

Proudhon menggambarkan proses ini, yang terjadi karena “kontradiksi” dalam “karakter ganda nilai” (yaitu antara nilai dalam pemakaian dan nilai dalam pertukaran). Kontradiksi ini menghasilkan “penurunan nilai barang karena produksi utilitas meningkat, dan seorang produsen dapat jatuh miskin karena terus menerus memperkaya dirinya” melalui over produksi. Hal ini terjadi karena produsen “yang memanen dua puluh karung gandum… percaya bahwa dirinya dua kali lebih kaya jika ia hanya memanen sepuluh… (mereka) benar jika dibandingkan secara relatif dengan rumah tangga; dengan melihat hubungan eksternal, mereka mungkin benar-benar salah. Jika tanaman gandum digandakan disepanjang negara, dua puluh karung akan dijual lebih murah daripada sepuluh karung yang telah terjual apabila yang ditanami hanya setengahnya”. (The System of Economical Contradictions, hal 78,77-78)

Perlu dicatat, hal ini bukan sebuah masalah bagi orang-orang yang membuat serangkaian kesalahan yang tak berhubungan. Malah, hal ini disebabkan karena pasar memberikan informasi yang sama kepada semua orang yang terlibat, dan informasi ini tidak cukup dalam pembuatan keputusan rasional. Meski bagi masing-masing agen, ekspansi atau kontrak produksi merupakan hal yang rasional, namun untuk bertindak dalam cara ini, mereka memandangnya tidak rasional. Dalam perekonomian kapitalis, mekanisme harga tidak memberikan semua informasi yang diperlukan untuk membuat keputusan rasional. Pada kenyataannya, mekanisme harga secara aktif mendorong penekanan terhadap informasi ekstra yang dibutuhkan dan difokuskan pada respon, yang telah direncanakan, terhadap informasi original.

Irasionalitas dan kurangnya informasi ini menyuburkan lingkaran bisnis. Boom lokal dan kemerosotan dalam produksi untuk jenis-jenis yang telah diuraikan di sini kemudian dapat ditegaskan dalam krisis besar yang terkait dengan kurangnya informasi mengenai perekonomian dalam pasar. Namun demikian, ketidak seimbangan modal antar industri pada hakekatnya tidak menghasilkan krisis yang besar. Jika memang ini masalahnya, kapitalisme akan berada dalam sebuah krisis yang konstan karena modal bergerak antara pasar selama periode yang penuh kemakmuran sama seperti periode sebelum terjadinya depresi. Artinya, dislokasi pasar tidak dapat menjadi dasar untuk menjelaskan keberadaan krisis besar dalam perekonomian (meski dapat digunakan untuk menjelaskan kemerosotan yang terlokalisasi).

Karena itu, kecenderungan menuju krisis besar yang menyatakan dirinya dalam sebuah kelimpahan yang tergeneralisasi di pasar merupakan hasil perubahan perekonomian yang lebih dalam. Meski penekanan informasi yang dilakukan pasar berperan dalam menghasilkan suatu depresi, kemerosotan besar-besaran hanya berasal dari lingkaran kemerosotan dan boom lokal ketika terjadi bersamaan dengan efek samping kedua dari aktifitas perekonomian kapitalis, yaitu peningkatan produktifitas sebagai hasil dari investasi modal seperti juga tekanan subyektif perjuangan kelas.

Masalah yang muncul dari peningkatan produktifitas dan investasi modal dibahas dalam bagian berikutnya.

C.7.3 Peran apa yang diperankan investasi dalam lingkaran bisnis?

Masalah lain bagi kapitalisme berasal dari peningkatan produktifitas yang terjadi sebagai hasil dari investasi modal atau praktek kerja baru yang bertujuan meningkatkan keuntungan jangka pendek untuk perusahaan. Kebutuhan untuk memaksimalkan keuntungan mengakibatkan semakin banyaknya investasi untuk memperbaiki produktifitas tenaga kerja (yaitu untuk meningkatkan sejumlah nilai lebih yang diproduksi). Namun demikian sebuah kenaikan produktifitas memiliki arti bahwa keuntungan apapun yang diproduksi terbentang di atas sejumlah peningkatan komoditi. Keuntungan ini masih perlu direalisasikan di pasar, namun mungkin sulit dilakukan karena kapitalis berproduksi bukan untuk pasar yang ada melainkan untuk memenuhi harapannya. Karena firma individual tak dapat memprediksikan apa yang akan dilakukan pesaing mereka, maka bagi mereka merupakan hal yang rasional mencoba memaksimalkan pembagian pasar mereka dengan menambah produksi (dengan menambah investasi). Karena pasar tidak memberikan informasi yang perlu untuk mengkoordinasikan tindakan mereka, maka terjadi kelebihan penawaran terhadap permintaan dan kesulitan mendapatkan keuntungan yang berada dalam komoditi yang diproduksi. Dengan kata lain, periode over produksi terjadi karena akumulasi modal yang berlebihan.

Karena terjadi peningkatan investasi dalam alat produksi, modal variabel (pekerja) menggunakan modal konstan yang semakin besar (alat produksi). Karena pekerja merupakan sumber nilai lebih, artinya bahwa dalam jangka pendek keuntungan harus ditingkatkan melalui investasi baru yaitu, pekerja harus memproduksi lebih, dalam term relatif, dari sebelumnya sehingga mengurangi ongkos produksi firma untuk komoditi atau jasa yang diproduksi. Hal ini menyebabkan dicapainya peningkatan keuntungan pada harga pasar saat ini (yang merefleksikan ongkos lama produksi) Eksploitasi pekerja harus ditingkatkan agar keuntungan pada modal total meningkat  atau, paling jelek, tetap konstan.

Namun demikian, meski hal ini rasional bagi satu perusahaan, tidaklah rasional ketika semua firma melakukan hal ini, agar mereka tetap dapat berbisnis. Seiring dengan peningkatan investasi, nilai lebih yang  dihasilkan pekerja harus meningkat lebih cepat. Jika jumlah keuntungan yang ada dalam perekonomian tersebut terlalu kecil bila dibandingkan dengan modal total yang diinvestasikan, maka problem apapun yang dihadapi perusahaan dalam pembuatan keuntungan di pasar tertentu, terkait dengan kemerosotan yang terlokalisasi yang disebabkan oleh mekanisme harga yang menyebar  untuk mempengaruhi keseluruhan perekonomian. Dengan kata lain, turunnya angka keuntungan (perbandingan keuntungan dengan investasi dalam modal dan tenaga kerja) dalam perekonomian sebagai suatu keseluruhan dapat mengakibatkan nilai lebih yang telah diproduksi, yang diperuntukkan bagi ekspansi modal, tetap berbentuk uang sehingga gagal bertindak sebagai modal. Tak ada investasi baru yang dibuat, barang-barang yang tak dapat dijual mengakibatkan reduksi besar-besaran terhadap produksi sehingga meningkatkan pengangguran karena perusahaan memecat pekerja atau gulung tikar. Hal ini menyebabkan semakin banyak modal konstan yang keluar dari perekonomian, meningkatnya pengangguran yang memaksa orang-orang ini untuk bekerja lebih keras dan lebih lama, sehingga jumlah keuntungan yang diproduksi meningkat, (pada akhirnya) mengakibatkan peningkatan angka keuntungan. Setelah angka keuntungan cukup tinggi, kapitalsi memiliki insentif untuk membuat investasi baru dan kemerosotan berubah menjadi boom.

Dapat diajukan pendapat bahwa analisis semacam itu cacat karena tak ada perusahaan yang akan berinvestasi dalam mesin jika hal itu mengurangi angka keuntungannya. Namun, keberatan itu juga cacat karena (seperti yang kita tunjukkan) investasi seperti itu juga sangat bijaksana (malah, suatu kebutuhan) bagi firma tertentu. Melalui investasi, mereka mendapatkan (secara potensial) suatu tempat di pasar sehingga meningkatkan keuntungan. Sayangnya, meski secara individual tindakan ini dinilai bijaksana, secara kolektif  tidak demikian karena hasil bersih dari tindakan individual ini merupakan investasi berlebih dalam perekonomian sebagai suatu keseluruhan. Tidak seperti model persaingan sempurna, dalam suatu perekonomian riil, kapitalis tidak bisa meramalkan masa depan, dan juga hasil tindakan mereka, tak peduli bagaimana tindakan pesaing mereka. Jadi, akumulasi modal yang berlebih merupakan hasil yang wajar dari persaingan karena secara individual bersifat rasional dan masa depan merupakan sesuatu yang tidal dapat diramalkan. Kedua faktor ini memastikan bahwa firma bertindak seperti yang mereka lakukan, berinvestasi dalam mesin yang, pada akhirnya akan mengakibatkan suatu krisis akumulasi berlebih.

Lingkaran kemakmuran yang diikuti oleh over produksi dan kemudian depresi merupakan hasil kapitalisme yang normal. Produksi berlebih adalah hasil dari akumulasi berlebih, dan akumulasi berlebih terjadi karena adanya kebutuhan untuk memaksimalkan keuntungan jangka pendek agar tetap dapat berbisnis. Jadi, meski krisis tampak sebagai suatu kelimpahan komoditi di dalam pasar, karena terdapat komoditi berlebih dalam sirkulasi yang dapat dibeli dengan keseluruhan permintaan (“Property menjual produk kepada pekerja lebih tinggi dari yang dibayarkan pada pekerja”, menggunakan kata-kata Proudhon), maka akar krisis lebih dalam lagi. Akar tersebut terletak pada sifat produksi kapitalis itu sendiri.

Contoh klasik mengenai tekanan “obyektif” dalam kapitalisme adalah “Gemuruh ‘20-an” yang mendahului Depresi Besar 1930-an. Setelah kemerosotan di tahun 1921, terjadi kenaikan yang cepat dalam investasi di AS dengan besar investasi hampir dua kali lipatnya, terjadi antara tahun 1919-1977.

Karena investasi dalam peralatan modal, produksi manufaktur tumbuh mendekati 8% pertahun antara 1919-1929 dan produktifitas pekerja naik mendekati angka tahunan 5,6% (hal ini termasuk kemerosotan pada tahun 1921-1922). Peningkatan dalam produktifitas ini direfleksikan dalam fakta bahwa pasca boom 1922, pembagian pendapatan manufaktur yang dibayarkan dalam gaji naik dari 17% hingga 18,3%, dan pembagian untuk modal naik dari 25,5% hingga 29,1%. Gaji manajerial naik sebesar 21,9% dan surplus firma sebesar 62,6% antara tahun 1920-1929. Dengan turunnya ongkos dan harga yang stabil secara komparatif, keuntungan meningkat sehingga pada akhirnya menimbulkan investasi modal tingkat tinggi (produksi barang modal meningkat pada tahunan rata-rata 6,4%)

Dalam keadaan seperti itu tidak mengejutkan di tahun 1920-an kemakmuran terkonsentrasi di puncak, 60% dari seluruh warga mendapat kurang dari $2000 per tahun, 42% kurang dari $1000. Satu per sepuluh  dari keluarga teratas yang jumlahnya hanya satu persen menerima pendapatan sebanyak orang-orang di kelas bawah yang jumlahnya 42% dan hanya 2,3% dari keseluruhan penduduk yang menikmati pendapatan lebih dari $10000. Sementara yang pterkaya sejumlah 1% memiiki 40% dari kekayaan nasional di tahun 1929 (dan sejumlah orang yang mengklaim berpendapatan setengah juta dolar meningkat dari 156 di tahun 1920 menjadi 1489 di tahun 1929), 93% dari populasi, yaitu orang-orang yang berada di bawah, menggunakan 4% bantuan dalam pembagian riil pendapatan perkapita antara 1923-1929.

Meskipun demikian, kapitalisme AS saat itu sedang mengalami booming dan kapitalisme Laissez faire sedang berada di puncak. Namun, mendekati 1929 semua ini berubah dengan hancurnya pasar saham — diikuti oleh depresi yang parah. Apa penyebabnya? Berdasarkan analisis yang kita berikan di atas,  “boom” yang menurunkan pengangguran, sehingga meningkatkan kekuatan kelas pekerja dan membuat penghisapan keuntungan yang menyebabkan depresi, namun bukan itu masalahnya.

Kemerosotan ini bukan hasil dari perlawanan kelas pekerja, tentu saja tahun 1920-an ditandai dengan pasar tenaga kerja yang terus menerus menyenangkan para majikan. Hal ini disebabkan karena dua alasan. Pertama, “Palmer Raids” di akhir 1910-an melihat negara membasmi kaum radikal dalam gerakan buruh AS dan masyarakat yang lebih luas. Kedua, depresi yang parah pada tahun 1920-1921 (selama periode itu angka rata-rata pengangguran nasional lebih dari 9%) ikombinasikan dengan penggunaan keputusan legal yang digunakan para majikan untuk melawan protes pekerja dan penggunaan mata-mata industrial untuk mengidentifikasi dan memecat anggota serikat pekerja yang pada akhirnya melemahkan buruh sehingga  pengaruh dan ukuran serikat buruh menurun karena pekerja dipaksa menandatangani kontrak “yellow-dog” untuk terus bekerja.

Selama pasca boom 1922, posisi ini tidak berubah. Angka pengangguran nasional sebesar 3,3% menyembunyikan fakta bahwa angka rata-rata pengangguran di luar pertanian sebesar 5,5% antara 1923 dan 1929. Bagi semua industri, pertumbuhan hasil manufaktur tidak meningkatkan permintaan akan tenaga kerja. Antara 1919-1929, pekerjaan buruh produksi turun sebesar 1% dan untuk non produksi turun sekitar 6% (selama 1923 hingga boom 1929 kerja produksi hanya meningkat sebesar 2% dan non produksi tetap konstan). Hal ini berkaitan dengan introduksi mesin yang membantu pekeerjaan dan kebangkitan cadangan modal. Sebagai tambahan, produktifitas yang tinggi yang berhubungan dengan pertanian menyebabkan banjir pekerja dari pedesaan yang memasuki pasar tenaga kerja urban.

Menghadapi angka pengangguran ini, angka pengunduran diri para pekerja menurun karena kini muncul rasa takut kehilangan pekerja (khususnya pekerja dengan upah relatif lebih tinggi dan memiliki stabilitas dalam kerjanya). Hal ini dikombinasikan dengan deklinasi serikat yang terjadi terus menerus dan rendahnya jumlah pemogokan (paling rendah sejak 1880-an). Semua itu menunjukkan bahwa pekerja lemah. Upah, seperti harga, secara komparatif stabil. Tentu saja pembagian pendapatan manufaktur total yang dijadikan upah menurun dari 57,5% ditahun 1923-1924 hingga 52,6% di tahun 1928/1929 (antara 1920-1929 turun sebesar 5,7%). Menarik untuk dicatat, bahkan dengan  pasar tenaga kerja yang menguntungkan bagi para majikan, selama lebih dari lima tahun, angka pengangguran tetaplah tinggi. Hal ini diperkirakan bahwa argumen ”neo klasik” yang menagatakan bahwa pengangguran di bawah kapitalisme disebabkan oleh kuatnya serikat atau tingginya upah riil sedikit cacat (lihat bagian C.9).

Kunci untuk memahami apa yang trejadi tereletak pada sifat kontradiktif produksi kapitalis. Kondisi “boom”merupakan hasil dari investasi modal, yang meningkatkan produktifitas, dan karenanya mengurangi ongkos serta meningkatkan keuntungan. Investasi yang besar dan terus menerus meningkat dalam barang-barang modal merupakan muslihat prinsipil untuk menghabiskan keuntungan. Sebagai tambahan, sektor-sektor perekonomian ini yang ditandai oleh bisnis besar (yaitu oligopoli, sebuah pasar yang didominasi oleh sedikit firma) menempatkan tekanan pada pasar yang lebih kompetitif. Karena bisnis besar, seperti biasanya, menerima pembagian keuntungan yang lebih tingi terkait dengan posisi pasar mereka (lihat bagian C.5), hal ini membuat banyak firma dalam sektor perekonomian yang lebih kompetitif menghadapi krisis profitabilitas selaam 1920-an.

Peningkatan dalam investasi, meski menghisap keuntungan secara langsung dalam sektor perekonomian yang lebih kompetitif, juga pada akhirnya menyebabkan stagnasi angka keuntungan, dan kemudian jatuh, dalam perekonomian secara keseluruhan. Meski jumlah keuntungan yang ada dalam perekonomian bertambah, pada akhirnya menjadi terlalu kecil untuk dibandingkan dengan total modal yang diiinvestasikan. Terlebih lagi, dengan turunnya pembagian pendapatan untuk pekerja dan meningkatnya ketidaksetaraan, jumlah permintaan barang tak dapat menyelesaikan produksi, membuat barang-barang yang tak dijual (yang merupakan cara lain untuk menyatakan proses investasi berlebihyang menyebabkan over produksi, karena over produksi menunjukkan rendahnya konsumsi dan sebaliknya). Karena keuntungan yang diharapkan (profitabilitas) pada investasi meragukan, terjadi deklinasi dalam permintaan investasi sehingga kemerosotan mulai lagi (peningkatan terutama berasal dari cadangan modal yang meningkat lebih cepat dari keuntungan). Investasi diratakan pada tahun 1928 dan diperkecil di tahun 1929. Dengan stagnasi investasi, spekulatif besar yang gila-gilaan terjadi di tahun 1928 dan 1929 dalam usaha untuk meningkatkan profitabilitas. Tidak mengejutkan jika hal ini mengalami kegagalan dan di tahun 1929 pasar saham dihancurkan, yang membuka jalan bagi Depresi Besar di tahun 1930-an.

Kehancuran 1929 ini menunjukkan batas “obyektif” kapitalisme. Bahkan denagn posisi pekerja yang sangat lemah, krisis masih terjadi dan kemakmuran mengalami “saat-saat yang sulit”. Berkebalikan dengan teori ekonomi neo klasik, peristiwa 1920-an menunjukkan, bahkan jika asumsi kapitalis bahwa pekerja merupakan sebuah komoditi seperti lainnya dalam kehidupan nyata, jika kapitalisme masih tunduk pada krisis (ironisnya, sebuah gerakan serikat militan di tahun 1920-an telah akan menangguhkan krisis dengan menggeser pendapatan dari modal ke pekerja, meningkatkan jumlah permintaan, mengurangi investasi dan mendukung sektor-sektor perekonomian yang lebih kompetitif!). Karena itu, argumen neo klasik apapun yang “menyalahkan pekerja” atas terjadinya krisis (yang sangat terkenal di 1930-an dan 1970-an) hanya menceritakan setengah cerita saja (jika memang demikian). Bahkan jika para buruh beanr-benar bertindak dalam cara yang merendahkan dirinya di hadapan kekuaszan kapitalis, kapitalisme akan tetap ditandai oleh boom dan kekacauan (seperti yang etrlihat pada tahun 1920-an dan 1980-an)

Contoh lain, 100 firma terbesar di Amerika, yang mempekerjakan 5 juta orang dan memiliki aset $126 milyar, mengalami kenaikan jumlah aset rata-rata per buruh dari $12.000 di 1949 hingga $20.900 di 1962. (First National City Bank, Economic Letter, June 1963). Seperti yang terlihat, angka peningkatan dalam aset rata-rata per buruh mengalami penurunan setiap saat. Periode awal dalam formasi modal yang tinggi diikuti periode resesi antara tahun 1957 hingga 1961. Tahun-tahun ini ditandai oleh peningkatan angka pengangguran yang tajam (dari 3 juta di tahun 1956 hingga setinggi 5 juta di tahun 1961) dan angka pengangguran yang lebih tinggi lagi dari sebelumnya setelah terjadinya kemerosotan (peningkatan 1 juta dari gambaran 1956 hingga sekitar 4 juta di tahun 1962). (T. Brecher dan T. Costello, Common Sense for Hard Rimes, grafik 2)

Kita menghubungkan data dari periode ini, karena beberapa pendukung kapitalisme “pasar bebas” telah menggunakan periode yang sama untuk keuntungan investasi modal. Namun demikian, data ini benar-benar menunjukkan bahwa peningkatan formasi modal membantu menciptakan potensi resesi, karena meski meningkatkan produktifitas (dan juga keuntungan) selama satu periode, peningkatan formasi modal juga mengurangi angka keuntungan dalam jangka waktu yang lama karena ada ketakutan relatif terhadap nilai lebih dalam perekonomian (dibandingkan dengan modal yang diinvestasikan). Penurunan dalam angka keuntungan ini ditunjukkan oleh penurunan dalam formasi modal, yang merupakan inti produksi di tempat pertama dalam kapitalisme, serta juga oleh peningkatan angka pengangguran selaam periode tersebut.

Jadi, jika angka keuntungan jatuh hingga tingkat yang tidak memungkinkan untuk diteruskannya formasi modal, kemerosotan terjadi. Kemerosotan umum ini biasanya diawali oleh over produksi komoditi tertentu, yang disebabkan oleh proses yang digambarkan dalam bagian C.7.2. Jika terdapat cukup keuntungan dalam perekonomian, kemerosotan yang terlokalisasi memiliki suatu tendensi yang tereduksi untuk tumbuh dan lebih mungkin unutk terjadi. Kemerosotan hanya terjadi ketika ketika angka keuntungan seluruh pereekonomian jatuh. Kemerosotan lokal tersebar di seluruh pasar karena kurangnnya informasi yang dibutuhkan produsen dari pasar. Ketika sebuah peusahaan mengalami over produksi, terjadi pemangkasan produksi, memperkenalkan langkah pemotongan biaya, memecat pekerja dan sebagainya untuk mencoba mendapatkann keuntungan. Hal ini mengurangi permintaan terhadap perusahaan yang menjadi pemasok bagi perusahaan yang terpengaruh dan mengurangi permintaan secara keseluruhan yang terkait dengan terjadinya pengangguran. Industri-industri yang  terhubung saat ini menghadapi over produksi dan respon yang wajar terhadap informasi yang disediakan pasar adalah pengurangan produksi yang dilakukan oleh perusahaan individual, memecat buruh, dll, yang menyebabkan penurunan permintaan. Hal ini semakin mempersulit perusahaan dalam memperoleh keuntungan dalam pasar dan pemotongan biaya yang lebih besar lagi, sehingga memperparah krisis. Meski seecara individual hal ini  erupakan sesuatu yang rasional, secara kolektif tidaklah demikian, dan dengan segera seluruh industry mengahadapi masalah yang sama. Kemerosotan lokal tersebar dalam perekonomian karena ekonomi kapitalis tidak memberikan informasi yang cukup bagi produsen untuk membuat keputusan yang rasional atau mengkoordinasikan aktivitas mereka.

“Over Produksi”, perlu kita jelaskan, hanya ada jika dilihat dari sudut pandang kaum kapitalis, bukan kelas pekerja:

Apa yang disebuat para ekonom sebagai over produksi hanyalah merupakan produksi yang berada di atas daya beli para buruh. ..Jenis over produksi ini tetap merupakan karakteristik produksi kapitalis saat ini yang fatal, karena para buruh tak dapat membeli apa yang mereka produksi dengan gaji yang ada dan pada saat yang sama memelihara segerombolan pemalas yang hidup di atas kerja mereka.” (Peter Kropotkin, Op. Cit., hal.127-128)

Dengan kata lain, over produksi dan rendahnya konsumsi secara resiprok saling menjelaskan. Tak ada over produksi kecuali jika dikaitkan dengan tingkat tertentu permintaan yang menguntungkan. tak ada defisiensi permintaankecuali dalam hubungannya dengan tingkat tertentu dalam produksi. Barang-barang “over produksi” mungkin dibutuhkan para konsumen, namun harga pasar terlalu rendah untuk mampu mendatangkan keuntungan sehingga produksi harus direduksi untuk peningkatan secara artifisial. Sehingga, contohnya, dalam tahun-tahun depresi, gambaran akan makanan hilang meski orang lapar.

Tentu saja ada cara-cara agar kapitalisme dapat menunda (namun tidak menghentikan) terjadinya krisis besar. Imperialisme, yang meningkatkan pasar dan menghisap keuntungan dari negara yang lebih terbelakang serta digunakan untuk mendorong keuntungan negara imperialis, merupakan salah satu metode (“Karena ketidak mampuan pekerja untuk membeli kekayaan yang mereka hasilkan dengan upah yang didapat, industri harus mencari pasar dii tempat lain”–Kropotkin, Op.Cit., hal.55) Selain imperialisme adalah manipulasi negara atas kredit dan faktor perekonomian lainnya (seperti upah minimum, inkorporasi serikat dagang ke dalam sistem, produksi persenjataan, mempertahankan angka “normal” dalam pengangguran agar pekerja tetap bertekuk lutut, dll). Metode lain adalah pembiayaan negara untuk meningkatkan jumlah permintaan, yang dapat meningkatkan konsumsi sehingga memperkecil bahaya over produksi. Atau angka eksploitasi yang dihasilkan investasi baru dapat cukup tinggi untuk melawan peningkatan modal konstan dan mencegah terjadinya penurunan angka keuntungan. Namun demikian, semua ini memiliki batas-batas (obyektif dan subyektif) dan tak pernah berhasil menhentikan terjadinya depresi.

Karenanya, kapitalisme akan mengalami kesulitan akibat lingkaran boom dan kehancuran karena tekanan obyektif yang disebutkan di atas pada keuntungan produksi, bahkan jika pun kita mengabaikan revolusi subyektif para buruh melawan kekuasaan. Dengan kata lain, sekalipun jika asumsi kapitalis memang benar bahwa buruh bukanlah manusia melainkan hanya “modal variabel” (variable capital) belaka, tidak berarti bahwa kapitalisme merupakan sistem yang bebas dari krisis. Namun demikian, bagi sebagian besar kaum anarkis, pembahasan semacam ini bersifat sedikit akademis,  karena “pasar” tenaga kerja bukanlah seperti pasar besi, dan revolusi subyektif malawan dominasi kapitalis akan tetap berlangsung selama kapitalisme ada.