C.3 Apa yang menentukan distribusi keuntungan dan upah dalam perusahaan?

Reading Time: 5 minutes

[sc:afaq1]

C.3 Apa yang menentukan distribusi keuntungan dan upah dalam perusahaan?

[toc]

Setiap saat, ada sejumlah tertentu kerja yang yang tak dibayarkan dalam sirkulasi dalam bentuk barang atau pelayanan yang menunjukkan nilai tambah yang lebih dari yang dibayarkan kepada pekerja. Sejumlah kerja yang tak dibayarkan tersebut menunjukkan total laba yang ada. Masing-masing perusahaan mencoba memaksimalkan total laba tersebut, artinya bahwa beberapa perusahaan lainnya menerima laba yang lebih kecil dibandingkan laba rata-rata. Semakin besar suatu perusahaan, semakin mungjkin ia memperoleh pembagian yang lebih besar dari surplus yang ada, untuk alasan yang akan dibicarakan nantinya (lihat bagian C.5) Hal yang penting untuk dicatat di sini adalah bahwa perusahaan bersaing di pasar untuk mendapatkan bagian mereka dari total surplus laba (kerja yang dibayarkan). Namun demikian, sumber  dari keuntungan ini tidak berada dalam pasar, melainkan dalam produksi. Seseorang tak dapat membeli apa yang tidak ada dan jika seseorang mendapatkannya maka orang lain akan kehilangan.

Seperti yang telah dijelaskan di atas, ahrga produksi menentukan harga pasar. Adalam perusahaan apapun, upah menentukan persentase yang besar dari ongkos produksi. Dengan melihat ongkos lainnya (seperti bahan mentah), upah kembali memainkan peran yang besar dalam menentukan harga. Jelas pembagian harga komoditi ke dalam ongkos dan keuntungan bukanlah rasio yang tetap, yang artinya bahwa harga merupakan hasil interaksi kompleks tingkat harga dan produktifitas.

Dalam batasan situasi tertentu, perjuangan kelas antara orang yang mempekerjakan dan pekerja mnegenai upah, kondisi kerja, dan keuntungan menentukan derajat eksploitasi di dalam tempat kerja dan industri, sehingga juga menentukan jumlah uang relatif yang diperoleh pekerja (yaitu upah) dan perusahaan (yaitu laba). Seperti pendapat Proudhon, pernyataan “hubungan laba dengan upah” memiliki arti “perang antara kerja dan modal”. (System of Economical Contradictions, hal.130) Hal ini juga berarti bahwa suatu peningkatan dalam upah tidak mempengaruhi harga, seperti halnya mengurangi laba atau terkait dengan produktifitas, namun peningkatan semacam itu akan memiliki akibat yang lebih luas, karena modal akan berpindah ke perusahaan atau negara lain untuk memperbaiki tingkat keuntungan, jika memang diperlukan.

Poin esensialnya adalah bahwa penghisapan nilai lebih dari pekerja bukanlah tindakan teknis sederhana seperti pemakaian berjoule-joule dari satu ton batu bara. Perjuangan ini memang pahit, dan di dalam perjuangan ini kaum kapitalis kehilangan setengan dari waktunya.Kuasa atas kerja tidak seperti semua komoditi –kuasa ini tetap tak dapat diipisahkan dari badan manusia. Pembagian antara upah dan keuntungan dalam suatu perusahaan dan dalam perekonomian secara keseluruhan tergantung pada dan dimodifikasi oleh tindakan para pekerja, baik secara individual maupun kelas.

Kita tidak mengatakan bahwa faktor ekonomi dan obyektif tidak memiliki peran apapun dalam determinasi tingkat upah. Sebaliknya, setiap saat perjuangan kelas hanya dapat terjadi dalam kerangka kerja perekonomian tertentu. Namun kondisi obyektif ini secara konstan dimodifikasi oleh perjuangan kelas dan konflik antara manusia dan aspek komoditi dari kuasa atas kerja ini yang pada akhirnya membawa kapitalisme menuju krisis (lihat bagian C.7).

Dari perspektif ini, argumen kaum neo klasik bahwa suatu faktor dalam produksi (kerja, modal atau tanah) menerima suatu bagi hasil yang  menunjukkan kekuatan produktifnya “pada  keuntungan” adalah keliru. Malah, masalahnya adalah kekuasaan–dan kerelaan untuk menggunakannya. Seperti pendapat Christopher Gunn, argumen ini “tidak mempertimbangkan kekuasaan–baik politik, konflik, maupun penawaran–sebagai indikator yang lebih mungkin dari pembagian relatif pendapatan dalam dunia nyata.” (Workers’Self-Managemenr in the United States, hal.185) Jika kuasa atas kerja meningkat, pembagian hasil jjuga akan cenderung meningkat dan jelas, jika kuasa atas kerja menurun, pembagiannya juga demikian. Dan sejarah perekonomian pasca perang mendukung analisis semacam ini, penurunan bagi hasil yang didapatkan para pekerja di negara maju dari 68% di 1970 hingga 65,1% di 1995 (di UniEropa, mengalami penurunan dari 69,2% hingga 62%). Di AS, bagi hasil pekerja dalam sektor manufaktur jatuh dari 74,8% hingga 70,6% selama periode 1979-89, membalikkan kenaikkan yang terjadi selama 1950-an, 1960-an dan 1970-an, Pembalikkan pembagian yang didapat pekerja berlangsung di saat yang sama karena kekuatan pekerja telah diredam oleh sayap kanan pemerintah dan pengangguran yang tinggi.

Jadi bagi banyak anarkis, kekuatan relatif antara kerja dan modal menentukan distribusi pendapatan yang ada. Dalam periode tanpa pengangguran atau meningkatnya organisasi dan solidaritas di tempat kerja, upah pekerja akan cenderung naik lebih cepat. Dalam periode di mana angka pengangguran tinggi dan serikat-serikat yang semakin melemah serta semakin sedikitnya aksi langsung, pembagian yang didapatkan pekerja akan turun. Dari analisa ini, kaum anarkis mmenndukung organisasi dan tindakan kolektif untuk meningkatkan kekuatan pekerja dan memastikan bahwa kita akan menerima lebih dari nilai yang kita hasilkan.

Pemikiran neo klasik bahwa meningkatnya produktifitas yang juga meningkatkan upah merupakan pendapat yang telah mengalami sejumlah goncangan di awal 1970-an. Biasanya upah meningkat lebih lambat dari meningkatnya produktifitas. Contohnya selama kekuasaan Thatcher atas pasar bebas, produktiifitas naik 4,2%, 1,4% lebih tinggi dari peningkatan pendapatan antara 1980-88. Di bawah Reagan, produktifitas naik 3,3%, seiring dengan penurunan sebesar 0,8% dalam pendapatan. Ingat, meski angka-angka ini rata-rata dan menyembunyikan peningkatan sebenarnya dalam pembayaran antara pekerja dan manager. Ambil satu contoh, upah sebenarnya di Inggris naik 1,8% untuk 10% orang-orang yang ada di bawah, dan untuk 10% orang yang duduk di tempat paling tinggi, mengalami peningkatan sebesar 18,4%. Kenaikan rata-rata (10,1%) menyembunyikan perbedaan yang besar antara mereka yang ada di atas dan di bawah. Sebagai tambahan, gambaran ini mengabaikan titik awal dari kenaikan ini–perbedaan besar yang seringkali ada dalam upah antara para pekerja (perbandingan antara pendapatan CEO McDonalds dan salah satu tukang bersih-bersihnya). Dengan kata lain, 2,8% dari nilai yang nyaris tak ada apa-apanya masih saja tak berarti apa-apa!

Kembali kita lihat AS, kita ketahui para pekerja yang dibayar per jam (mayoritas pekerja) melihat puncak upah rata-rata mereka di tahun 1973. Sejak saat itu upah mereka mengalami penurunan secara substansial dan pada 1992 tingkat upah mereka sama saja dengan yang mereka dapatkan di pertengahan tahun 1960-an. Untuk lebih dari 80% tenaga kerja di AS(produksi dan pekerja non supervisor), upah mereka telah turun 19,2% untuk pendapatan perminggu dan 13,4% untuk pendapatan per jam antara 1973 dan 1994. Produktifitas telah meningkat 23,2%. Dikombinasikan dengan kejatuhan upah ini di AS, kita telah melihat peningkatan jam kerja. Untuk mempertahankan standar kehidupan mereka saat ini, kelas pekerja telah mulai berhjutang dan memperpanjang jam kerja mereka. Sejak 1979, jam kerja tahunankeluarga yang berpendapatan menengah meningkat dari 3020 jam hingga 3206 di tahun 1989, 3287 di 1996 dan 3335 di tahun 1997. Di Meksiko kita dapati proses yang serupa. Antara 1980 dan 1992, produktifitas meningkat 48% persen sementara gaji (disesuaikan dengan inflasi) turun 21%

Antara 1989-1997, produktifitas meningkat 9,7% di AS sementara kompensasi medium menurun 4,2%. Sebagai tambahan, jam kerja keluarga menengah meningkat 4% (atau tiga minggu kerja full time) sementara peningkatan pendapatannya hanya 0,6% (dengan kata lain, peningkatan dalam jam kerja membantu menciptakan sedikit peningkatan pada gaji). Jika upah pekerja terkait dengan produktifiitas mereka, seperti pendapat ilmu ekonomi neo klasik, kamu akan mengharapkan kenaikan upah sebesar kenaikan produktifitas, bukannya penurunan. Namun, jika upah terkait dengan kekuatan ekonomi, maka penurunan upah seperti itu memang diharapkan. Hal ini menjelaskan keinginan akan pasar tenaga kerja yang “fleksibel”, di mana kekuatan tawar pekerja berkurang sehingga lebih banyak lagi pendapatan yang diubah menjadi keuntungan daripad yang menjadi upah. Tentu saja akan dikemukakan argumentasi bahwa hanya dalam pasar persaingan sempurna (atau yang lebih realistis, yang benar-benar “bebas”) upah akan meningkat bersamaaan dengan peningkatan produktifitas. Bagaimanapun juga, kamu akan berharap bahwa rejim pasar bebas akan membuat semuanya menjadi lebih baik, dan bukannya memburuk. Terlebih lagi, argumen neo klasik bahwa serikat serta perjuangan untuk upah dan kondisi kerja akan merugikan pekerja dalam “jangka waktu yang lama”, telah disangkal secara dramatis selama lebih dari 30 tahun terakhir– contohnya, deklinasi gerakan pekerja di AS ditandai dengan menurunnya upah, bukan kenaikan.

Tidak heran dalam sistem hierarkis, orang-orang yang berada di atas melakukan hal yang lebih baik dari orang-orang yang ada di bawah. Sistem diatur sedemikian rupa sehingga mayoritas memperkaya minoritas. Inilah sebabnya mengapa kaum anarkis berpendapat bahwa organisasi tempat kerja dan resistensi esensial untuk mempertahankan — dan bahkan meningkatkan– pendapatan pekerja. Karena jika bagi hasil antara pekerja dengan modal bergantung pada kekuasaan relatif mereka– dan memang demikian– maka hanya aksi pekerja sendirilah yang dapat memperbaiki situasi itu dan menentukan distribusi nilai yang mereka hasilkan.