C.2 Darimana Asal Keuntungan?

Reading Time: 31 minutes

[sc:afaq1]

C.2 Darimana Asal Keuntungan?

[toc]

Seperti yang disebutkan pada bagian terakhir, keeuntungan merupakan kekuatan pengendali dalam kapitalisme. Jika keuntungan tak dapat dihasilkan dari suatu barang, maka barang tersebut tidak diproduksi, tak peduli banyaknya orang yang “memberi penghargaan secara subyektif” kepadanya. Kalau begitu, darimana asal keuntungan?

Untuk membuat lebih banyak uang, uang harus diubah ke dalam bentuk kapital, yaiitu tempat kerja, mesin, dan “barang-barang modal” lainnya. Namun demikian, kapital saja (seperti uang) tidak akan menghasilkan apa-apa. Modal hanya dapat menjadi produktif jika berada dalam proses kerja, ketika para pekerja menggunakan modal (“Baik property maupun modal tidak menghasilkan apapun ketika tidak digunakan dalam kerja”- Bakunin). Di bawah kapitalisme, para pekerja tidak hanya menciptakan nilai yang cukup (yaitu yang diproduksi komoditi) untuk mempertahankan modal yang ada dan keberadaan mereka sendiri, mereka juga menghasilkan surplus. Surplus ini dianggap sebagai surplus barang, yaitu kelebihan komoditi yang dibandingkan dengan sejumlah barang yang dapat dibeli kembali dengan upah pekerja. Jadi Proudhon:

“Pekerja tak dapat…membeli kembali yang telah ia produksi untuk majikannya. Dengan semua bentuk perdagangan apapun…karena, dengan dengan melakukan produksi untuk seorang majikan dalam satu bentuk atau untuk membuat keuntungan, paraa pekerja diwajibkan untuk membayar lebih banyak atas kerja mereka sendiri daripada yang mereka dapatkan untuk itu.” (What is Property, hal.189)

Dengan kata lain, harga semua barang yang diproduksi lebih besar dari nilai uang yang diberikan oleh upah pekerja (ditambah barang mentah dan ongkos tambahan seperti biaya kerusakan pada mesin) ketika barang-barang tersebut diproduksi. Kerja yang berada dalam “surplus produk” ini merupakan sumber keuntungan, yang harus disadari di pasar (pada prakteknya, tentu saja nilai yang diberikan oleh surplus produk ini didistribusikan sepanjang semua komoditi dihasilkan dalam benntuk keuntungan–perbedaan antara harga ongkos dan harga biaya).

Jelas para pendukung ekonomi kapitalis berpendapat melawan teori ini yang membahas bagaimna surplus muncul. Namun demikian, satu contoh akan diberikan di sini sebagai gambaran mengapa kerja merupakan sumber surplus, dan bukannya “menunggu”, risiko atau modal yang sering dikemukakan oleh ornag (argumen-argumen ini, dan lainnya, akan dibicarakan di bawah ini). Seorang pemain poker yang handal menggunakan perlengkapan (modal), mengambil risiko, memperlambat mencapai kepuasn, menggunakan tingkah laku strategis, mencoba trik-trik baru (inovasi), untuk tidak -menyebutnya sebagai kecurangan-, dan memperoleh kemenangan-kemenangan besar (dan bahkan dapat juga dilakukan berulang-ulang). Namun tak ada surplus produk yang dihasilkan dari tingkah laku semacam itu, kemenangan seorang penjudijelas merupakaan redistribusi dari orang lain tanpa melakukan produksi baru. Jadi, pengambilan risiko, penahanan keinginan, sikap kepengusahaan, dll mungkin diperlukan individu untuk mendapat keuntungan, namun jauh dari kata cukup bagi mereka untuk tidak menjadi hasil redistribusi murni dari orang lain (sebuah redistribusi, bisa kita tambahkan, yang hanya dapat terjadi di bawah kapitalisme jika para pekerja menghasilkan benda untuk dijual).

Jadi, dalam kapitalisme, untuk membuat keuntungan dibuatuhkan dua hal. Pertama, sekelompok pekerja yang mengerjakan modal yang ada. Kedua, bahwa mereka harus menghasilkan nilai yang lebih besar dari yag mereka dapatkan dalam upah yang dibayarkan. Jika hanya ada kondisi pertama, seemua yang terjadi adalah bahwa kesejahteraan sosial diredistribusikan di antara individu. Dengan keberadaan kondisi kedua, keuntungan dapat dihasilkan. Namun demikian, dalam kedua kasus ini, para pekereja dieksploitasi karena tanpa kerja yang mereka lakukan tak akan ada barang untuk memfasilitasi suatu redistribusi kesejahteraan yang ada maupun surplus produk.

Nilai lebih yang dihasilkan oleh pekerja dibaagi ke dalam keuntungan, suku bunga dan sewa (atau, yang lebih tepat lagi, antara pemilik berbagai macam faktor produksi selain pekerja). Pada kenyataannya, surplus ini digunakan oleh pemilik modal untuk: (a) investsi (b) untuk membayar dividen saham mereka sendiri, jika ada; (c) untuk membayar sewa dan biaya suku bunga; dan (d) untuk membayar eksekutif dan manager (yang seringkali identik dengan pemiliki sendiri) dengan gaji yang lebih besar dari pekerja. Karena surplus dibagi ke dalam kelompok-kelompok kapitalis yang berbeda, artinya dapat terejadi benturan kepentingan antara (konon) kapitalis industrial dan kapitalis finansial. Contohnya, naiknya angka suku bunga dapat memeras lebih banyak surplus yang didapat kapitalis industrial ke tangan pihak yang menyewakan. Kenaikan semcam itu dapat menyebabkan kegagalan usaha dan juga kemerosotan (tentu saja, menaikkan angka suku bunga merupakan cara kunci untuk mengatur kekuatan kelas pekerja dengan memunculkan pengangguran untuk mendisiplinkan pekerja melalui rasa takut untuk dipecat). Surplus, seperti kerja yang digunakan untuk mereproduksi modl yang ada, diwujudkan dalam komoditi yang telah jadi dan baru didapatkan setelh barang tersebut terjual. Artinya, pekerja tidaka mendapatkann nilai total dari pekerjaan mereka, karena surplus yang digunakan pemilik untuk investasi, dll, menunjukkan nilai yang ditambahkan pada komoditi oleh para pekerja–nilai yang tidak dibayarkan kepada para pekerja.

Jadi keuntungan kapitalis (seperti sewa dan pembayaran suku bunga) terletak pada kerja yang tidak dibayarkan, dan karena itu kapitalisme didasarkan pada eksploitasi. Seperti yang dikatkan Proudhon, “Produk, menurut para ahli ekonomi, hanya dapat dibeli oleh produk. Peepatah ini merupakan kecaman terhadap property. Pemilik yang menghasilkn barang tanpa bekerja maupun tanpa peralatannya, namun menerima hasilnya merupakan seorang pencuri atau parasit.” (Op. Cit., hal.170) Pemberian kekayaan dari para pekerja ini kepada pemilik yang membedakan kpitlisme dari produksi komoditi sederhana yang dilakukan dalam perekonomian para seniman dan petani. Semua kaum anarkis seepakat dengan Bakunin ketika ia menyatakan pendapatnya bahwa:

apa itu property; apa itu modal dalam bentuknya sekarang ini? Bagi kaum kapitalis dan pemilik property, modal dan property berarti kekuasaan dan hak, yang dijamin oleh negara, untk hidup tanpa bekerja…(dan juga) kekuasaan dan hak untuk hidup melaliu pengeksploitasian kerja orang lain…mereka…(yang) terpaksa menjual kekuasaan produktifnya untuk pemilik keduanya yang beruntung.” (The Political Philosophy of Bakunin, hal.180)

Jelas para pendukung kapitalisme tidak sepakat. Keuntungan bukanlah sebuah hasil eksploitasi para pekerja, kaum kapitalis dan tuan tanah mendapat bayaran nilai atas kontribuasi mereka terhadap produksi, kata mereka. Tidak banyak pembicaraan mengenai “membuat uang dengan bekerja untukmu” (seolah-olah potongan-potongan kertas dapat benar-benar melakukan bentuk kerja apapun!) sementara, jelas, manusiaa harus bekerja (dan biasanya untuk uang). Namun demikian, semua sepakat bahwa kapitalisme tidaklah bersifat eksploitatif (tak peduli betapa eksploitatifnya yang tampak) daan menunjukkan beragam pendapat mengapa kaum kapitalis merasa layak menerima baraang yang dibuat orang lain. Bagian dari FAQ ini menunjukkan beberapa alasan mengapa kaum anarkis menolak peernyataan ini.

Akhirnya, kita harus menunjukkan bahwa beberapa pendukung kapitalisme menyebutkan fakta empirik bahwa, dalam perekonomian kapitalis modern, mayoritas dari seluruh pendapatan diperoleh “pekerja”, dengan keuntungan, bunga, dan sewa yang jumlahnya di bawah 20% dari total. Tentu saja, bahkan jika nilai lebih kurang dari 20% dari yang dihasilkan para pekerja, tetap saja tidak mengubah sifat eksploitatifnya. Para pembela kapitalisme ini tidak mengatakan bahwa pajak menghentikan pencurian ini hanya karena berjumlah 10% dari seluruh pendapatan. Namun demikian, nilai untuk keuntungan, suku bunga dan sewa ini didasarkan pada sulap statistik, karena “pekerja” didefinisikan sebgai ornag yang mendapatkan gaji dalam perusahaan, termasuk manager dan CEO (dengan kata lain, pendapatan “kerja” ini meliputi baik upah maupun gaji). Pendapatan besar yang diperoleh para manager dan CEO, tentu saja, memastikan bahwa mayoritas dari seluruh pendapatan memang diperoleh “pekerja”. Jadi “fakta” ini mengabaikan peran sebagian besar manager sebagai kapitalis secara de facto dan pihak yang mengeksploitasi nilai lebih serta mengabaikan perubahan dalam industri yang telah terjadi dalam 50 tahun terakhir (lihat bagian C.2.5-Bukankah para eksekutif adalah pekerja dan juga pencipta nilai?).

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih baik mengenai sifat eksplotasi dalam kapitalisme modern kita harus membandingkan upah yang didapat pekerja dengan produktivitas mereka. Menurut Bank Dunia, pada 1966, upah dalam pabrik-pabrik di AS sama denagn 46% dari nilai yang ditambahkan dalam produksi (nilai yang ditambahkan merupakan selisih antara harga jual dann ongkos barang mentah serta pemasukan lainnya dalam proses produksi). Pada tahun 1990, angka tersebut jatuh hingga36% dan (dengan menggunakan gambaran dari Sensus Ekonomi 1992 dari Biro Sensus AS) pada tahun 1992, telah mencapai 19,76% (39,24% jika kita mengambil dari upah total yang meeliputi manager dll). Dalam industri konstruksi AS, upah yang diberikan adalah 35,4% dari nilai yang ditambahkan pada tahun 1992 (dengan upah total, 50,18%). Karena itu dengan adanya argumen bahwa karena persentase yang besar dari pendapatan diperoleh “pekerja”, kapitalisme menyembunyikan kenyataan dari sistem yang ada dan eksploitasi yang dihasilkan dari sifat hierarkisnya.

Seekarang kita akan membicarakan mengapa nilai lebih ini ada.

C.2.1 Mengapa surplus ini ada?

Sudah menjadi sifat kapitalisme yang terus melangsungkan dimonopolinya produk para pekerja oleh pihak lain. Hal ini terjadi karena property pribadi merupakan alat produksi sehingga, “konsekuensi (yang dialami) … pekerja, ketika ia merasa mampu untuk bekerja, namun tidak menemukan sebidang tanah untuk ditanami dan mesin untuk mengolah, kecuali ia setuju menjual tenaganya untuk menjadi orang bawahan demi nilai yang sebenarnya.” (Peter Kropotkin, Kropotkin’s Revolutionary Pamphlets, hal.55)

Karena itu para pekerja harus menjual tenaga mereka di pasar. Namun demikian, karena komodiri ini “tidak dapat dipisahkan dari pribadi pekerja seperti halnya bagian-bagian dari property. Kapasitas pekerja dikembangkan setiap saat dan mereka membentuk suatu bagian integral dari diri dan identitasnya; kapasitas yang secara internal dan bukan eksternal berhubungan dengan pribadi. Terlebih lagi, kapasitas atau kekuasaan kerja tak dapat digunakan jika pekerja tidak menggunakan kehendak, pengertian dan pengalamnnya, agar dapat membuahkan hasil. Pemakaian kekuasaan atas kerja membutuhkan kehadiran “pemiliknya”…Kontrak penggunaan kekuasaan atas kerja merupakan pemborosan sumber daya kecuali jika dapat digunakan dalam cara yang diperlukan pemilik…Kontrak kerja karena itu harus menciptakan hubungan perintah dan kepatuhan antara pekerja dan orang yang mempekerjakannya.” (Carole Pateman, The Sexual Contract, hal.150-1)

Jadi, “kontrak yang di dalamnay pekerja menjual kekuasaan atas kerjanya merupakan kontrak di mana didalamnya, karena ia tak dapat dipisahkan dari kapasitasnya , ia mnjual perintah atas badan dan dirinya sendiri…Karakteristik kondisi ini disesbut dalam istilah budak yang diupah.” (Ibid., hal.151) Atau, menggunakan kata-kata Bakunin,” pekerja menjual pribadi dan kebebasan untuk waktu tertentu” dan juga “dengan adanya kesepakatan bekerja hanya daalam satu masa dan memberiakn pekerja hak untuk memecat orang yang mempekerjakannya, kontrak ini merupakan suatu perbudakan yang sifatnya sukarela dan sementara.” (The Political Philosophy of Bakunin, hal.187)

Dominasi ini menjadi sumber dari surplus, karena “perbudakan yang diupah bukanlah akibat dari eksploitsai–eksploitasi merupakan akibat dari kedaan bahwa penjualan kuasa atas kerja yang membawa subordinasi para pekerja. Kontrak kerja menciptakan kaum kapitalis sebagai majikan; ia memiliki hak politis untuk menentukan bagaimana kerja para pekerja akan digunakan, dan–sebagai akibatnya–dapat digunakan dalam eksploitasi.” (Carole Pateman, Op.Cit., hal.149)

Jadi, keuntungan ada karena para pekerja menjual dirinya sendiri kepada kaum kapitalis, yang kemuddian memiliki kegiatan mereka dan , karenanya, mengendalikan mereka (atau, lebih akurat lagi, mencoba menegendalikan mereka) seperti mesin. Komentar Benjamin Tucker berkenan dengan pernyatan bahwa modal berhak imbalan, juga digunakan di sini. Ia mencatat bahwa beberapa “serangan…nilai lebih –seringkali disebut keuntungan–merupakan milik pekerja karena ialah yang membuatnya, dengan pendapat bahwa kuda…berhak atas nilai lebih yang ia hasilkan bagi tuannya. Jadi ia akan demikin ketika ia memiliki kesadran untuk mengklaimnya dan kekuasaan untuk mengambilnya…Pendapat ini…berdasarkan pada asumsi bahwa orang-orang tertentu dilahirkan untuk dimiliki orang lain, seperti halnya kuda. Jadi, reductio ad absurdum berkisar pada dirinya sendiri.” (Instead of a Book, hal.495-6)

Dengan kata lain, untuk mengajukan pendpat bahwa modal seharusnya mendapatkan imbalan merupakan pengajuan asumsi secara implisit bahwa pekerja hanyalah menyerupaai mesin, “faktor produksi” lainnya dripada sekedar manusia dan pencipta hal-hal bernilai. Jadi keuntungan ada karena selama hari kerja kaumkapitlis mengendlikan aktivitas dan produksi pekerja (yaitu memiliki mereka selama jam kerja karena kegitan tak dpat dipisahkan dari tubuh dan “terdapat suatu hubungan yang integral antara tubuh dan diri. Tubuh dan diri tidak identik, namun diri terpisah dari badan.” (Carole Pateman, Op.Cit., hal.206)

Dengan semata-mata mempertimbangkan dalam term produksi, hal ini menghasilkan, seperti yang ditulis Proudhon, para pekerja bekerja “untuk pengusaha yang  mengupah mereka dan mengambil hasil produksi mereka.” (Dikutip oleh Martin Bubr, Paths in Utopia, hal.29) Kmampuan kaum kapitalis untuk mmpertahankan jenis monopoli terhadap waktu dan produksi orang lain diabadikan dalm “hak properety” yang dikuatkan oleh pernyataan publik maupun pribadi. Singkatnya, karena itu, property merupakan “hak untuk menikmati dan memakan sewaktu-waktu barang milik orang lain– buah daari kerja dan industri orang lain.” (P-J Proudhon, What is Property, hal. 171). Dan karna hak ini, upah pekerj selalu lebih rendh dari kekayaan yang ia hasilkan.

Ukuran surplus ini, yang merupakan jumlah kerja yang tak dibayarkan dapat diubah melalui pngubahan durasi dan intensitas kerja (yaitu dngan membuat kerja para pekerja lebih panjang dan lebih keras). Jika durasi kerja ditambah, jumlah nilai leebih juga mengalami peningkatan seecara absolut. Jik intensitas ditingkatkan, misalnya melalui inovasi dalam proses produksi, maka jumlah nilai lebih meningkat secar relatif (yaitu para pekerja menghasilkan barang-barang yang setara dengan upah mereka dengan lebih cepat selam hari kerja mereka, yang pada akhirnya mengakibatkan lebih bnyak lagi kerja-kerja mereka yang tidak diupah).

Surplus semacam itu menunjukkan bahwa kerja, seperti halnya komoditas lainnya, memiliki sebuah nilai pakai dan nilai tukar. Nilai tukar kerja adalah upah yang diberikan pada pekerja, sedangkan nilai pakainya adalah kemampuan pekerja untuk bekerja dan melakukan apa yang diinginkan kaum kapitalis, yaitu orang-orang yang membeli kemampuan pekerja. Jadi eksistensi “surplus produk” menunjukkan bahwa terdapat slisih antara nilai tukar pekerja dengan nilai pakainya, bahwa kerja secara potensial dapat menciptakan lebih banyak nilai daripada yang diterima yang diterima pekerja dalam bentuk upah. Kita menekankan pada kata potensial karena penghisapan nilai pakai dari kerja bukanlah suatu tindakan sederhana seperti halnya pemanfaatan berjoule-joule energi dari satu ton batu bara. Kuasa atas kerja tidak dapat digunakan tanpa mnciptakan kepatuhan para pekerja terhadap kehendak kapitalis/ tidak seperti komoditi lainnya, kuasa atas kerja tetaplah merupakan sesuatu yang tak dapat dipisahkan dari manusia. Baik penghisapan nilai pakai maupun determinasi nilai tukar atas kerja tergantung pada– dan juga dimodifikasi oleh — tindakan para pekerja. Baik usaha yang diberikan selama jam kerja, maupun waktu yang dihabiskan dalam kerja, ataupun gaji yang diterima sebagai pertukaran untuknya, tetap tak dapat ditentukan tanpa mempertimbangkan resistansi para pekerja untuk dijadikan komoditi, dijadikan pihak yang enerima perintah. Dengan kata lain, sejumlah “surplus produk” yang dihisap dari pekerja tergantung pada resistansi terhadap dehumanisasi di dalm tempat kerja, terhadap usaha-usaha yang dilakukan para pekerja untuk melawan destruksi kebebasan selama jam kerja.

Jadi, kerja yang tak dibayarkan, konsekusnsi dari hubungan kekuasan yang eksplisit dalam property pribadi , merupakan sumber keuntungan. Bagian dari surplus ini digunakan untuk memperkaya kaum kapitalis dan meningkatkan modal orang lain, yang pada gilirannya digunakan untuk meeningkatkan keuntungan, dalam lingkaran yang tak berujung (namun demikian, lingkaran tersebut bukanlah suatu peningkatan yang siftnya tetap melainkan juga dipengaruhi oleh kekacauan periodik seeperti resesi atau depresi –”lingkaran usaha”. Penyebab yang menjadi dasar dari krisis semacam itu akan dibicarakan nanti, dalam bagian C.7 dan C.8).

C.2.2 Apakah kaum kapitalis dibenarkan ketika mengambil sebagian dari nilai lebih untuk diri mereka sendiri (yaitu membuat keuntungan)?

Hanya ada satu jawaban, TIDAK. Seperti yang telah kita tunjukkan, kaum kapitalis tidak dibenarkan dalam mengmbil nilai lebih dari para pekerja. Tak peduli bagaimana ekonomi kapitlis memberikan penjelasan mengenai cara pengambilan ini, kita dapati bahwa ketidaksetaraan dalam kesejahteraan dan kekuasan merupakan lasan sesuangguhnya atas pemberian ini daripada beberapa tindakn produktif yang aktual. Malah ekonomi neo klasik merefleksikan truisme ini. Dalam kata-kata seorang ahli ekonomi sayap kiri Joan Robinson:

“Teori neo klasik tidak memberikan solusi untuk masalah keuntungan atau nilai modal. Mereka telah menegakkan struktur yang tinggi untuk teorema-teorema matematika pada pondasi yang tak ada.” (Contributions to Modern Economics, hal.186)

Jika keuntungan adalah hasil dari property pribadi dan ketidaksetaraan yang dihasilkan property tersebut, maka tidak mengejutkan jika teori neo klasik tidak memiliki dasar seperti pendapat Robinson. Bagaimanapun juga, masalah ini adaalah masalah politis dan ekonomi neo klasik dibangun untuk mengabaikan masalah-masalah semacam itu. Di sini, kita tunjukkan mengapa hal ini merupakan suatu permasalahan dan akan kita bicarakan beragam dasar pemikiran rasional bagi keuntungan kaum kapitalis untuk menunjukkan bahwa semua itu keliru.

Beberapa orang menganggap bahwa keuntungan adalah “kontribusi”kaum kapitalis terhadp nilai suatu komoditi. Namun demikian, seperti yang dijelaskan David Schweickart, “‘menyediakan modal’ tidak memiliki arti apapun selain dari ‘mengizinkan digunakannya modal’. Namun tindakan memberikan izin tersebut, dalam dan terhadap, bukanlah sebuah aktifitas produktif. Jika para pekerja berhenti bekerja, produksi juga berhenti dalam masyarakat apapun. Namun jika pemilik berhenti memberiakan izin, produksi hanya terpengaruh jika kekuasaan para pemilik tersebut terhadap alat produksi dihargai.” (Againts Capitalism, hal.11) Kekuasan ini, seperti yang dibicarakan sebelumnya, merupakan turunan dri mekanisme koersif negra, pihak yang tujuan utamanya adalah untuk menjamin bahw akaum kapitalis memiliki kemampuan untuk memberikan atau melarang pekerja aatas akses menuju lat produksi. Karena itu, “menyediakan modal” saja bukanlah suatu kegiatan produktif, namun juga tergantung pada sistem koersi yang terorganisir, sistem yang membutuhkan pemberian bagian yang besar dari nilai yang dihasilkan dalam kerja, melalui pajak, dan karenanya benar-benar bersifat parasitis. Tak perlu disebutkan, rente juga dapat dianggap sebagai “keuntungan”, yang semata-mata didasarkan pada “pemberian izin” sehingga juga bukan merupakan kegiatan produktif. Begitu juga dengan suku bunga, meski argumen yang diberikan sedikit berbeda (lihat bagian C.2.6)

Masalah lain yang terkait dengan pendapat kaum kaapitalis memiliki “kontribusi dalam produksi” adalah bahwa seseorang harus memberikan asumsi (a) definisi yang pasti mengenaai orang yang menjadi penghasil sesuatu, yang sudah pasti adalah pekerja, atau (b) definisi longgar yang didasarkan pada kontribusi individu dalaam situasi yang memungkinkan kerja produktif. Karena produktifitas pekerja sebagian dimungkinkan oleh penggunaan property yang disediakan oleh kaum kapitalis, jadi kita boleh mempercayai bahwa kaum kapitalis memiliki “kontribusi dalam produksi” dan juga mengklaim bahwa ia berhak mendapatkan imbalan, yaitu keuntungan.

Namun demikian jika seseorang mengajukan asumsi (b), ia harus menjelaskan mengapa lingkaran kepercayaan berhenti dengan kapitalis. Karena semua aktivitas maanusia memiliki tempat dalam jarinagn sosial yang kompleks, banyak faktor yang mungkin disebutkan sebagai kontribusi kepada keadaan yang memungkinkan para pekerja untuk berproduksi–misalnya latar belakang pendidikannya, adanya dukungan pemerintah dalam mempertahankan infrastruktur yang mengizinkan beoperasinya tempat kerja tersebut, dll. Tentu saja property para kapitalis juga memiliki kontribusi di sini. Namun kontribusinya tidak sepenting kerja, misalnya, ibu si pekerja. Sejauh yang kita ketahui, kapitalis belum menawarkan kompensasi bagi ibu si pekerja dengan pembagian apapun dari penerimaan firma, dan tentu saja pembagian tersebut tidak lebih besar dari yang diterima kapitalis! Namun demikian, jika mereka mengikuti logika mereka secara konsisten, kapitalis harus sepakat bahwa kompensasi semacam itu jelas adil.

Karena itu, kareena modal tidak produktif dengan sendirinya dan juga merupaka hasil dari kerja manusia, kaum anarkis menolak pemikiran bahwa memberikan modal adalah tindakan produktif. Seperti yang ditunjukkan Proudhon, “Modal, peralatan dan mesin juga tidak produktif…Pemilik yang meminta imbalan atas penggunaan alat atau kuasa produktif atas tanahnya, kemudian memastikan sesuatu yang benar-benar salah; yaitu bahwa modal, dengan usahanya sendiri, mampu menghasilkan –dan, dengan menarik bayaran atas produk imaginer tersebut, pada akhirnya ia menerima sesuatu dengan cuma-cuma.” (Op.Cit., hal.169)

Tentu saja dapat dikemukakan argumen (dan seringkali itulah yang dilakukan) bahwa modal membuat kerja menjadi lebih produktif sehingga pemilik modal seharusnya mendapat imbalan karena memberikan izin atas penggunannya. Namun demikian, hal ini adalah kesimpulan yang keliru, karena menyediakan modal tidak seperti produksi komoditi normal. Hal ini terjadi karena kaum kapitaalis, tak seperti pekerja, mendapat bayaran berulangkali untuk satu bagian kerja (yang, dalam semua kemungkinan, mereka membayar orang lain untuk melakukannya) dan menyimpan hasil dari kerja tersebut. Seperti pendapat Proudhon:

“Ia (pekerja) yang bekerja di pabrik atau memperbaiki peralatan para petani menerima menerima harga setelah , baik pada saat penyerahan, ataupun dalam beberpa pembayaran; dan ketika harga ini telah dibayarkan kepada para pemilik pabrik, peralatan yang ia hasilkan tidak lagi ia miliki. Ia tak pernah dapat menyatakan pembayaran ganda untuk alat yang sama, atau pekerjaan perbaikan yang sama. Jika setiap tahunnya ia terlibat dalam produksi petani, itu karena fakta bahwa setiap tahunnya ia melakukan sesuatu bagi petani.

“Pemilik, sebaliknya tidak menyerahkan peralatannya; ia terus menerus mendapat bayaran untuk itu, ia juga terus menerus menyimpannya.” (Op.Cit., hal.169-170)

Karena itu, memberikan modal bukanlah suatu tindakan produktif, dan menyimpan keuntungan yang dihasilkan oleh orang-orang yang benar-benar menggunakan modal tersebut adalah tindakan pencurian, Tentu saja, tidak berarti, bahwa menciptakan barang modal bukan suatu tindakan penciptaan ataupun suatu bantuan bagi produksi. Bukan seperti itu! Namun dengan mengambil hasil dari aktifitas semacam itu dan menarik sewa darinya, kapitalisme atau pengambilan laba tidak dapat dibenarkan.

Beberapa pendukung kapitalisme mengklaim bahwa keuntungan menunjukkan produktifitas modal. Mereka berpendapat bahwa seorang pekerja dikatakan menerima sama persis dengan apa yang ia hasilkan karena (menurut jawaban neo klasik) jika ia berhenti bekerja, produk total akan mengalami penurunan yang sama dengan nilai upah yang diterimanya. Namun demikian, argumen ini cacat karena total produk mengalami deklinasi lebih besar dari nilai yang diberikan oleh dua pekerja atau lebih yang pergi. Hal ini terjadi karena upah yang diterima masing-masing pekerja di bawah kondisi persaingan sempurna, dalam teori neo klasik, diasumsikan sebagai produk pekerja terakhir. Argumen kaum neo klasik mengungkapkan “penurunan produktifitas marginal”, yaitu produk marginal pekerja terakhir diasumsikan kurang dari pekerja kedua yang terakhir, dll.

Dengan kata lain, dalam ilmu ekonomi neo klasik, semua pekerja tak terkecuali dengan yang disebut “pekerja terakhir” tidak menerima seluruh hasil kerja mereka. Mereka hanya menerima apa yang dihasilkan pekerja terakhir dan juga setiap orang tak terkecuali pekerja terakhir tidak menerima secara tepat apa yang ia produksi. Serupa dengan pernyataan kaum neo klasik yang mengatakan bahwa tak ada eksploitasi dalam kapitalisme dan juga tidak dibenarkan oleh teorinya sendiri.

Masalah ini juga diketahui oleh para teoritisi. Karena deklinasi produktifitas marginal ini, kontribusi kerja kurang dari total produk. Selisih diklaim sebagai kontribusi yang diberikan kaum kapitalis. Namun “kontribusi” bagaimana yang diberikan modal? Tanpa pekerja tak akan ada yang dapat dihasilkan. Sebagai tambahan, dalam term fisik, tambahan hasil modal, yang dapat menyebabkan deklinasi produksi, merupakan sebagian modal yang digunakan dalam produksi. Hal ini tidak merefleksikan aktifitas produktif apapun, bagaimanapun juga pendapat si pemilik modal. Karena itu tidak berarti bahwa hal ini dinilai sebgai kontribusi produktif. Dengan kata lain ilmu ekonomi kapitalismencoba mengacaukan pemilik modal dengan mesin yang mereka miliki.

Tentu saja, pemikiran bahwa keuntungan menunjukkan kontribusi modal merupakan pemikiran yang digugurkan oleh praktek “pembagian laba”. Jika keuntungan merupakan kontribusi modal, maka pembagian laba akan memiliki arti bahwa modal tidak menerima kembali “kontribusi” penuhnya dalam produksi (dan juga dieksploitasi oleh kerja!). Terlebih lagi, dengan adanya fakta bahwa pembagian laba biasanya digunakan sebagai teknik untuk meningkatkan produktifitas dan keuntungan, tampak aneh bahwa teknik seperti itu dibutuhkan apabila laba, pada kenyataannya, memang menunjukkan “kontribusi” modal. Bagaimanapun juga. mesin yang digunakan tetap merupaakan mesin yang sama dengan sebelum diperkenalkannya pembagian laba — bagaimana hal mungkin hal ini tidak mengubah caadangan modal yang pada akhirnya juga menghasilkan peniingkatan “kontribusi”? Pada kenyataannya, hal itu baru terjadi apabila modal tidak produktif dan yang menjadi sumber laba adalah usah, keterampilan dan energi pekeraj yang tak dibayarkan. Jadi klaim bahwa laba setara dengan “kontribusi” modal pada kenyataannya tidak berdasar.

Meski memeang benar bahwa nilai yang diinvestasikan dalam modal tetap (fixed capital) selama waktu tertentu ditransfer ke dalam komoditi yang diproduksi  dan melalui penjualan mereka yang ditransformasikan ke dalam uang, hal demikian tidak menunjukkan kerja yang benar-benar nyata dari para pemilik modal. Kaum anarkis menolak penyulapan yang sifatnya ideologis yang menyarankan sebaliknya dan mengakui bahwakerja (baik mental maupun maupun fisik) hanyalah bentuk kontribusi yang dpat dilakuuan oleh manusia dalam proses produktif. Tanpa kerja, tak ada yang dapat diproduksi dan nilai yang berada di dalam modal tetap tak dapat ditransfer ke dalam barang. Seperti penjelasn Charles A. Dana dalam introduksi pemikiran Proudhon, “(p)ekerja tanpa modal akan segera memenuhi keinginannya melalui produksi yang dilakukaannya…namun modal tanpa pekerja yang menggunakannya ha” nya akan tergeletak tak berguna dan membusuk. (Proudhon and his “Bank of the People”, hal.31) Jikaa pekerja tidak mendapat pembayaran sebesar nilai yang diberikan melalui kontribusinya terhadap hasil yang merek produksi maka mereka dieksploitasi sehingga, seperti yang telah ditinjukkan, kapitalisme memasng didasarkan pada eksploitasi.

Jadi, dengan sendirinya, biaya tetap (fixed cost) tidak menghsilkan nilai. Apakh nilai itu memang terbentuk tergantung pada bagaimana investasi dikembangkan dan digunakan dalam suatu tempat. Dalam kalimat seorang sosialis Inggris Thomas Hodgskin:

“Modal tetap tidak menurunkan utilitasnya dari yang sebelumnya, namun kerja saat ini; dan tidak memberikan keuntungan pada pemiliknya karena telah ditimbun, namun karena merupakan sebuah sarana untuk dapat memerintah kerja.” (Labour Defended againts the Claims of Capital)

Pernyataan tersebut membawa kita kembali pada kerja (dan hubungan sosial yang ada dalam suatu perekonomian) sebagai sumber fundamental keuntungan. Terlebih lagi, pemikiran bahwa (yang begitu digilai oleh ekonomi yang mendukung kapitalis) bahwa upah seorang pekerja sudah setara dengan apa yang ia produksi adalah suatu bentuk perampasan yang terjadi setiap harinya dalam realita.. Seperti yang diungkapkan seorang kritisi ekonomi terhadap dogma  neo klasik:

“Para menager dari suatu perusahaan kapitalis tidak berekinginan memberi tanggapan terhaadap kediktatoran pasar dengan menyamakan upah denagn nilai tambahan hasil kerja. Setelah pekerja memasuki proses produksi, kekuatan pasar telah, setidaknya dalam suatu waktu, tergantikan. Hubungan usaha dan upah tidak hanya bergantung pada hubunga pertukaran pasar namun juga…pada hubungan hierarkis produksi — pada kekuasaan relatif para manager dan pekerja dalam persahaan tersebut.” (William Lazonick, Business Organization and the Myth of the Market Economy, hal.184-5)

Namun, kemudian lagi, ilmu ekonomi kapitalis lebih memusatkan perhatian pada pembenaran status quo daripada bersinggungan dengan realita. Klaim bahwa upah pekerja menunjukkan kontribusi dan keuntungan modal jelas keliru. Modal tak dapat menghasilkan apapun (termasuk surplus) kecuali jika modal tersebut digunakan dalam kerja selain itu keuntungan juga tidak menunjukkan produktifitas modal.

Justifikasi lainnya mengenai profit di dasarkan pada klaim mengenai “kemampuan khusus” dari sedikit orang yang terpilih, misalnya “keberanian  mengambil resiko”, atau kemampuan “kreatif”, dan jelas klaim itu keliru seperti yang telah diuraikan sebelumnya.

Karena untuk keberanian mengambil resiko, sudah pasti semua aktifitas manusia melibatkan resiko. Memberikan klaim bahwa kaum kapitalis seharusnya memang mendapatkan bayaran atas resiko yang dihubungkan dengan investasi jelas merupakan suatu pernyataan yang implisit bahwa uang lebih berharga dari kehidupan manusia. Bagaimanapun juga, para pekeja mempertaruhkan kesehatan mereka dan seringkali juga hidup mereka dalam bekerja dan seringkali pula tempat kerja yang paling berbahaya terkait dengan upah yang terendah (kondisi kerja yang aman dapat mengurangi laba dan juga imbalan bagi “resiko” yang dihadapi kaum kapitalis, sehingga resiko yang dihadapi pekerja mengalami peningkatan). Dalam dunia etika kapitalis yang mengalami pembalikan, lebih murah (atau lebih efisien) untuk mengganti seorang pekerja daripada mengganti investasi modal.

Terlebih lagi, teori resiko keuntungan (the risk theory of profit) gagal mempertimbangkan kemampuan pengambilan resiko yang berbeda-beda yang diderivasikan dari distribusi kesejahteraan sosial yang berbeda-beda. Seperti pendapat James Meade, “sementara pemilik property dapat memperluas resiko mereka dengan menempatkan sejumlah kecil property mereka pada sejumlah besar concern, seorang pekerja tak dapat dengan mudahnya meletakkan sejumlah kecil tenaganya ke dalam sejumlah besar pekerjaan yang berbeda. Agaknya hal ini merupakan alasan utama yang kita dapati untuk resiko mempertahankan modal dengan memecat pekerja” dan bukan sebaliknya (dikutip oleh David Scheiwkart, Op.Cit., hal.129-130). Tak perlu dikatakan, konsekuensi “resiko” yang paling serius bisanya dialami oleh kelas pekerja yang dapat kehilangan pekerjaan, kesehatan dan bahkan hidupnya. Jadi bukan penilaian individual yang menentukan “resiko”, penilaian-penilaian ini lebih tergantung pada posisi kelas individu yang terlibat. Karena itu, resiko tidak tergantung pada faktor independen dan juga tak dapat dijadikan sumber laba. Tentu saja, seperti yang ditunjukkan, aktifitas lainnya dapat saja melibatkan resiko yang lebih besar dengan upah yang lebih kecil.

Jika jiwa “kreatif” yang melakukan inovasi menguntungkan ada, memang benar bahwa individu melihat potensi baru dan bertindak dlm cara yang inovatif untuk menciptakn produk atau proses baru. Namun, seperti yang akan kita bicarakan dlm bgian berikutnya, hal ini bukanlah sumber laba.

C.2.3 Mengapa inovasi dan bagaimana hal itu mempengaruhi laba?

Ada sejumlah nilai lebih tertentu yang ada dalam perekonomian pada suatu saat. Bagaimana surplus ini dibuat atau dibagi antara firma yang ditentukan oleh persaingan, yang di dalam persaingan itu inovasi memainkan sebuah peran penting.

Inovasi ada untuk memperluas laba dan juga memenangkan persaingan dengan perusahaan lainnya. Meski laba dapat muncul dalam sirkulasi (contohnya lewat persaingan oligopolistik atau inflasi) hal ini hanya dapat terjadi dengan mengorbankan orang lain atau modal (sermati bagian  C.5–Mengapa Bisnis Besar mendapat irisan laba yang lebih besar?). Namun demikian, inovasi memungkinkaan kemunculan laba secara langsung dari hal-hal yang baru atau produktifitas kerja yang ditingkatkan (yaitu eksploitasi). Hal ini terjadi karena dalam produksilah komoditi, dan juga laba, diciptakan dan inovasi memunculkan produk baru dan/atau metode produksi baru. Produk baru memiliki arti bahwa perusahan mendapatkan keuntungan lebihj hingga pesaing-pesaing memasuki pasar baru dana memaksa pasar menurunkan harga melalui persaingan yang terjadi. Metode produksi baru meningkatkan intensitas kerja, yang artinya pekerj harus bekerja lebih kea lagi relatif denagn upahnya (dengan kata lain, biaya produksi yang relatif berada di bawah harga pasar, jels berarti keuntungan ekstra).

Jadi meski persaingan mengharuskan firma-firma kapitalis untuk inovtif, inovasi itu sendiri adalh sarana baagi perusahaan untuk dapat memasuki pasar. Hal ini terjadi karena inovasi memiliki arti bahwa “laba yang belebihan yang didapat kaum kapitalis berasal dari proses produksi…ketika terdapat peningkatan di atas rata-rata dalam produktifitas kerja; biaya yang dikurangi kemudian memungkinkan firma untuk mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi dari keuntungan rata-rata produk mereka. Namun bentuk laba yang berlebih ini sifatnya hanya sementara dan menghilang kembali ketika metode produksi yang mengalami perbaikan terebut menjadi lebih umum.” (Paul Mattick, Economics, Politics and the Age of Inflation, hal.38)

Sebagai tambahan, inovasi dalam term tekhnologi baru juga digunakan untuk membantu memenangkan pertentangan kelas pada poin produksi bagi kapitalis. Karena tujuan produksi kapitalis adalah memaksimalkan keuntungan, maka kapitalisme akan memperkenalkan tekhnologi yang dapat menghisap lebih banyak lagi nilai lebih dari para pekerja. Seperti pendapat Cornelius Castoriadis, kapitalisme “telah menciptakan suatu tekhnologi kapitalis, untuk tujuannya sendiri, yang sama sekali tidak netral. Eseensi sesungguhnya dari tekhnologi kapitalis bukanlah mengembangkan produksi untuk kebaikan produksi itu sendiri: esensi sebenarnya adalh untku mensubordinasikan dan mendominasi penghasil produksi.” (Workers’ Councils and the Economics of a Self-Managed Society, hal.13)

Karena itu, perbaikan teknologis dapau juga digunakan untuk meningkatakan kekuasaan modal terhadap kerja paksa, untuk memastikan bahwa pekerja akan melakukan seperti yang diperintahkan. Dengan cara ini, inovasi dapat memaksimalkan produksi nilai lebih dengan mencoba meningkatkan domiasi selama jam kerja seperti halnya meningkatkann produktifitas melalui proses baru.

Usaha-usaha untuk meningkatkan laba dengan menggunakan inovasi aalah kunci bagi ekspansi dan akumulasi kapitalis. Inovasi memainkan peran kunci dalam sistem kapitalis. Namun demikian, sumber laba tidak berubah, dan tetap terletak pada kerja, keterampilan dan kreatifitas pekerja dalam tempat kerja. Dan harus kita tegaskan bahwa inovasi itu sendiri merupakan suatu bentuk kerja– kerja mental. Tentu saja, banyak perusahaan yang memiliki bagian Penelitian dan Pengembangan. Dalam bagian itu sejumlah pekerja diupah untuk memunculkan gagasan yang baru dn inovatif untuk orang-orang yang mempekerjakan. Dan juga perlu kita tunjukkaan bahwa banyak inovasi baru yang berasal dari individu yang mengkombinasikan kerja mental dan fisik di luar perusahaan kapitalis. Dengan kata lain, argumen bahwa kerja mental merupakan satu-satunya sumber kekayaan (atau laba) jelas keliru. Hal ini dapat dilihat dari beragm pengalaman dalam kontrol pekerja (lihat bagian berikutnya) di mana peningktan setaraan dalam tempat kerja juga meningkatkan produktifitas dan inovasi. Karena pengalaman-pengalaman ini menunjukkan pekerja, jika diberi kesempatan, dapat mengembangkan sejumlah “gagasan cemerlang” dan, yang tak kalah pentingnya, juga mampu menghasilkan pemikiran tersebut. Seorang kapitalis yang memiliki “gagasan  cemerlang” tidak akan memiliki daya untuk menghasilkannya tanpa kehadiran pekerja, dan fakta ini menunjukkan bahwa inovasi, dengan sedirinya, bukanlah sumber nilai lebih.

C.2.4 Tidaklah kontrol pekerja akan menghalangi inovasi?

Bertentangan dengan pembelaan kaum kapitalis, inovasi bukanlah monopoli dari kelas elit manusia. Inovasi ada di antara kita semua, meski memang dibutuhkan lingkungan sosial tertentu untuk merawat dan mengembangkannya di antara pekerja biasa, yang sayangnya lingkungan seperti itu dihancurkan oleh tempat kerja kapitalisme yang otoriter. Jika pekerja memang tidak memiliki kemampuan inovatif, perubahan apapun untuk kontrol pekerja yang lebih besar terhadap produksi tidak akan menghasilkan peningkatan produktifitas. Namun, yang seringkali terjadi justru sebaliknya: dalam beberapa contoh ketika kontrol pekerja diterapkan, produktifitas meningkat secara dramatis karena mereka diberi kesempatan, yang biasanya tak ada, untuk menaplikasikan ketrampilan, bkat, dan kretivitas mereka.

Seperti catatan Christoper Eaton Gunn, terdapat “perkembangan dalam literatur empiris yang pada umumnya mendukung klaim mengenai efisiensi perekonomian dalam firma yang dikelola oleh pekerja. Banyak dari literatur ini yang memfokuskan perhatin pada produktifitas dan seringkali mendapati  korelasi yang positif dengan peningkatan partisipasi… Studi-studi yang meliputi wilayah isu yang lebih luas dari sekedar perekonomian juga cenderung mendukung klaim-klaim mengenai efisiensi kerja firma-firma yang dikelola dan dikontrol pekerja… Sebagai tambahan studi-studi yang membandingkan preferensi perekonomian kelompok tradisional dan bentuk-bentuk perekonomian yang dikontrol pekerja mendapati bahwa penampilan yang disebut terakhir ini lebih kuat”. (Workers’ Self-Management in the United States, hal 42-3)

Hal ini dikonfirmasikan dengan jelas dalam studi terhadap kooperatif-kooperatif Mondragon di Spanyol, di mana para pekerja terlibat secara demokratis di dalam keputusan-keputusan produksi dan terdorong untuk melakukan inovasi. Seperti pendapat George Bennello, “Produktifitas Mondragon sangat tinggi– lebih tinggi daripada produktifitas kapitalis. Efisiensi, yang diukur sebagai rasio antara sumber daya yang digunakan– modal dan kerja– dengan hasilnya, jauh lebih tinggi dalam perbandingannya dalam pabrik-pabrik kapitalis.” (The Challenge of Mondragon)

Contoh yang diberikan oleh para pekerja Lucus di Inggris, selama tahun 1970-an, sekali lagi menunjukkan potensi kreatif yang menanti untuk digunakan. Para pekerja di Lucus membuat sebuah rencana yang akan mengubah perusahan Lucus yang berbasis militer menjadi perusahaan yang menghasilkan barang-barang yang berguna untuk orang kebanyakan. Para pekerja Lucus merancang produk itu sendiri, dengan menggunakan pengalaman mereka dalam kerja dan kehidupan. Mereka  justru tidak tertarik dengan manajemen.

Selama revolusi Spanyol selama 1936-1939, para pekerja mengelola sendiri banyak pabrik dengan mengikuti prinsip-prinsip demokrasi partisipatoris. Produktifitas dan inovasi dalam kolektifitas Spanyol luar biasa tingginya. Pekerja industri baja dapat dijadikan contoh yang baik. Seperti penelitian Augustine Souchy, pada saat pecah Perang Sipil, industri baja di Catalunya “sangat lambat perkembangannya”. Dalam waktun berbulan-bulan para pekerja baja Catalunya membangun kembali industri dari awal, dengan mengubah pabrik-pabrik untuk memproduksi alat-alat perang bagi pasukan anti fasis. beberapa hari setelah revolusi 19 Juli, perusahaan Automobile Hispano-Suiza telah diubah menjadi pabrik yang memproduksi mobil lapis baja, ambulan, senjata, dan amunisi untuk front perjuangan. “Para ahli benar-benar terkejut”, tulis Souchy, “pada keahlian para pekerja dalam mengembangkan mesin-mesin baru untuk pabrik senjata dan amunisi. Sedikit sekali mesin yang diimpor. Dalam waktu singkat dua ratus hidrolik yang berbeda meningkat tekanannya hingga mencapai 200 ton, 178 mesin bubut yang dijalankan dan ratusan mesin giling serta mesin bor yang dibuat.”

Begitu juga tak ada industri optik di Spanyol sebelum revolusi Juli, hanya beberapa wortkshop yang ada. Setelah revolusi, workshop-workshop kecil tersebut secara sukarela mengubah dirinya menjadi sebuh perkumpulan produksi. “Inovasi terbesar,” menurut Souchy, “adalah konstruksi perusahaan baru untuk instrumen dan peralatan optik. Keseluruhan operasi dibiyai secara sukarela melalui kontribusi pekerja. Dalam waktu singkat pabrik tersebut menghasilkan telemeter, kaca mata opera, binokular, alat-alat penelitian, barang pecah belah industrial yang berwarna-warni, dan peralatan ilmiah tertentu. Perusahaan tersebut juga membuat dan memperbaiki peralatan optik untuk front perjuangan….Apa yang gagal dilakukan oleh kapitalis privat berhasil dikerjakanoleh kapasitas kreatif para anggota Serikat Pekerja Optik CNT.” (dalam The Anarchist Collectives: Workers Self Management in the Spanish Revolution, 1936-1939, ed. Sam Dolgoff, bagian 7).

Karena itu, jauh dari ketakutan akan menjadi ancaman terhadap inovasi, kontrol pekerja malah meningkatkan inovasi dan yang lebih penting lagi, mengarahkannya pada perbaikan kualitas hidup untuk semua pihak sebagai perlawanan atas peningkatan laba sedikit orang. Aspek masyarakat anarkis ini akan dibicarakan lebih detail dalam bagian I (Akan seperti apakah masyarakat anarkis?). Sebagai tambahan, lihat bagian J.5.10,  J.5.11, J.5.12 untuk keterangan lebih lanjut mengenai sebab mengapa kaum anarkis mendukung manajemen diri dan mengapa, meski produktifitas dan efisiensi yang ditimbulkannya tinggi, pasar kapitalis akan memilih untuk melawannya.

Singkatnya, lebih dari sekedar pembelaan terhadap pengambilan laba yang dilakukan oleh kaum kapitalis (dan ketidaksetaraan yang ditimbulkannya) argumen bahwa kebebasan meningkatkan inovasi dan produktivitas benar-benar menunjuk pada sosialisme liberaldan manajemen diri para pekerja. Tidak mengejutkan, karena hanya kesetaraan yang dapat memaksimalkan kebebasan sehingga kontrol pekerja (daripada kekuasaan kapitalis) merupakan kunci inovasi. Hanya mereka yang mengacaukan kebebasan dengan penindasan terhadap pekerja upahan yang akan terkejut.

C.2.5 Tidakkah Eksekutif juga pekerja dan penghasil nilai?

Tentu saja dapat dikemukakan pendapat bahwa eksekutif juga “pekerja” dan juga memiliki kontribusi terhadap nilai komoditi yang dihasilkan. Namun, bukan itu masalahnya. Meski mereka tidak memiliki alat produksi, mereka tentu saja merupakan pembeli dan pengkontrol kekuatan pekerja, dan di bawah bantuan pekerja produksi masih tetap merupakan produksi kapitalis. Penciptaan strata manajer sebagai “budak yang digaji” tidak mengubah hubungan kapitalis dalam produksi. Akibatnya, strata manajemen secara de facto adalah kapitalsi. Karena eksploitasi membutuhkan kerja [“hanya ada kerja dan kerja.” Seperti pendapat Bakunin, “ada kerja produktif dan ada eksploitasi kerja” (The Political Philosophy of Bakunin, hal 180)], manajemen seperti “kapitalis pekerja” yang dini dan “upah” mereka berasal dari nilai lebih yang dirampas dari pekerja dan yang didapat dari pasar. Atau, menggunakan analogi yang berbeda, manajer seperti mandor para budak, yang dipekerjakan oleh pemilik budak yang tidak ingin mengelola budak-budaknya sendirian. Upah para mandor ini berasal dari nilai lebih yang dihisap dari nilai lebih para budak; dengan sendirinya pekerjaan itu bukanlah kerja yang produktif.

Jadi, peranan manajer yang eksploitatif, bahkan walaupun mereka dapat dipecat, tidaklah berbeda dengan kapitalis. Terlebih lagi, “pemegang saham dan manajer/teknokrat memiliki motif yang sama: mencari keuntungan dan mereproduksi hubungan hierarkis yang mengeluarkan sebagian besar pekerja dari pembuatan keputusan efektif.” (Takis Fotopoulos, “The Economic Foundations of an Ecological Society”, hal 16, Society and Nature no. 3, hal 1-40)

Bukan niat kami untuk mengatakan bahwa seratus persen dari yang dikerjakan manajer bersifat eksploitatif. Masalah ini dipersulit oleh fakta ada kebutuhan logis akan koordinasi antara beragam aspek dalam proses produksi yang kompleks– sebuah kebutuhan yang akan tetap ada di bawah sosialisme libertarian dan akan dipenuhi oleh para manajer terpilih dan dapat direcall (dan dalam beberapa hal mengalami rotasi), lihat bagian I. Namun di dalam kapitalisme para manajer menjadi parasit mengingat posisinya yang dekat dengan puncak piramida. Kenyataanya semaakin jauh posisi manajer dari proses produksi semakin tinggi gaji yang diperolehnya; sementara semakin dekat jarak tersebut seorang “manajer” semakin menyerupai seorang pekerja dengan kekuasaan yang lebih kecil dari kekuasaan rata-rata manajer. Dalam organisasi kapitalis, semakin sedikit yang kamu lakukan, semakin banyak yang kamu dapatkan. alam prakteknya, para eksekutif secara khusus melakukan sub-ortdinasi untuk menampilkan fungsi-fungsi manajerial (yaitu koordinasi) dan membatasi diri dalam pembuatan keputusan dan kebijakan yang lebih luas. Karena kekuasaan pembuatan kekuasaan berasal dari sifat hierarkis firma, mereka dengan mudaahnya digantikan jika pembuatan kebijakan berada di tangan orang-orang yang dipengaruhi oleh kebijakan tersebut.

C.2.6 Bukankah bunga merupakan imbalan atas penantian, dan karena itu tidakkah kapitalisme memang adil?

Pemikiran bahwa kepentingan merupakan imbalan atas “sikap prihatin” dalam kedudukannya sebagai penyimpan merupakan salah satu pemikiran dalam ilmu ekonomi kapitalis. Seperti pendapat Alfred Marshall, “(jika) kita mau mengakui, (sebuah komoditi) hanya dihasilkan melalui kerja saja, dan bukan hasil kerja dengan hasil penantian, tak diragukan lagi, kita dipaksa oleh logika yang tak dapat ditawar-tawar lagi untuk mengakui bahwa tak ada justifikasi untuk bunga sebagai imbalan atas penantian” (Principles of Economics, hal.587). Meski secara implisit ada pengakuan bahwa kerja merupakan sumber semua nilai dalam kapitalisme (dan bahwa sikap prihatin bukanlah sumber keuntungan), diklaim bahwa bunga merupakan suatu klaim yang dapat membenarkan nilai lebih yang diproduksi pekerja.

Menagapa hal ini menjadi masalah? Ilmu ekonomi kapitalis mengklam bahwa dengan “menunda konsumsi”, kaum kapitalis memperbolehkan dikembangkannya alat produksi baru dan untuk pengorbanan tersebut mereka patut mendapat imbalan. Dengan kata lain, untuk menjadikan modal yang ada sebagai input–yaitu menanggung ongkos di masa sekarang demi hasil di masa mendatang–seseorang harus rela menangguhkan konsumsinya. Itulah ongkos sebenarnya, dan orang akan melakukannya jika ada imbalannya.

Teori ini biasanya tampak menggelikan sebagai kritik kapitalisme–sederhana saja, apakah pemilik pertambangan benar-benar melakukan pengorbanan lebih dari yang dilakukan seorang penambang, atau seorang pemegang saham yang kaya raya daripada seorang pekerja bengkel yang bekerja dalam industri mobil yang dimiliki si kaya tersebut? Jauh lebih mudah bagi seorang kaya untuk “menangguhkan konsumsi”daripada bagi seseorang dengan pendapatan rata-rata. Hal ini dikuatkan dengan bukti statistik, seperti yang dituliskan Simon Kuznets, “hanya kelompok yang memiliki pendapatan lebih tinggi yang mampu menabung; total tabungan kelompok-kelompok di bawahnya mendekati nol.” (Economic Growth and Structure, hal.263) Karena itu, kemasuk akalan suku bunga sebagai pembayaran atas derita yang didapat akibat penangguhan konsumsi terletak pada premis bahwa unit tabungan merupakan rumah tangga berpendapatan kecil atau menengah. Namun dalam masyarakat kapitalis kontemporer, bukan itu yang terjadi. Rumah tangga seperti itu bukanlah sumber sebagian besar tabungan; bagian terbesar dari pembayaran bunga tidak mereka miliki.

Memandang poin ini secara berbeda, para kapitalis pendukung adanya bunga hanya mempertimbangkan “penangguhan konsumsi” sebagai suatu abstraksi, tanpa menjadikannya sesuatu yang konkrit. Contohnya, seorang kapitalis mungkin “menangguhkan konsumsi” untuk Rolls Royce’48’ karena ia membutuhkan uang untuk memperbaiki beberapa mesin dalam pabriknya, sementara seorang janda mungkin harus “menangguhkan konsumsi” untuk makanan atau memiliki rumah yang layak agar dapat merawat anaknya dengan lebih baik. Dua situasi ini jelas berbeda, namun kaum kapitalis menyamakan keduanya. Penyamaan ini menunjukkan bahwa “tidak mampu membeli barang yang kamu inginkan sama dengan “tidak mampu membeli barang yang kamu butuhkan”, sehingga mengenyampingkan perbedaan yang nyata dalam ongkos penangguhan konsumsi semacam itu!

Jadi Proudhon berkomentar bahwa peminjaman modal “tidak melibatkan suatu pengorbanan yang sebenarnya pada pihak kapitalis” dan juga “tidak menghilangkan dirinya…dari modal yang dipinjamkan. Ia meminjamkannya, sebaliknya, karena pinjaman bukanlah suatu deprivasi terhadapnya; ia meminjamkannya karena tidak merasa perlu menggunakannya, merasa telah cukup, baik ada modal maupun tidak; pinjamkan saja, akhirnya, karena ia tidak bermaksud ataupun tak mampu membuatnya berharga bagi dirinya secara pribaadi,–karena, jika ia menyimpannya sendiri, modal ini, yang mandul, akan tetap mandul, sementara, dengan menyewakannya dan mendapatkan bunga, dapat menghasilkan keuntungan yang membuat para kapitalis hidup tanpa bekerja. Sekarang, hidup tanpa bekerja, dalam bidang politik seperti halnya ekonomi, merupakan sebuah proposisi kontradiktif, sebuah hal yang tak mungkin.” (Interest and Principal: A Loan is a Service)

Dalam dunia kapitalis, seorang industrialis yang tak dapat membeli rumah musim panasnya yang ketiga “mengalami penderitaan” sebesar yang dialami orang yang menangguhkan konsumsi untuk mendapatkan sesuatu yang ia butuhkan. Sama halnya, jika industrialis “mendapatkan” bunga ratusan kali lebih banyak dari upah yang didapatkan penambang batu bara yang bekerja di pertambangannya, kum industrialis “mengalmi penderitaaan” ratusan kali lebih besar dengan tinggal di istananya yang tidak nyaman dibandingkan penambang batu bara yang bekerja di hadapan batu bara dalam kondisi yang berbahaya. ”Tiadanya utilitas” dalam  penangguhan konsumsi meski tinggal dalam kemewahan 100 kali lebih besar daripada “tiadanya utilitas” dalam bekerja demi hidup sehingga seharusnya diberi imbalan yang layak. Tentu sajaa, perbedaannya adalah bahwa pendukung kapitalisme merasa bahwa kaum kapitalis layak atas kompensasi untuk “penahanan diri” yang dilakukan dalam antisipasi terhadap perolehan di masa mendatang, sementara di waktu yang sama juga menolak mengakui ambiguitas pernyataan ini.

Setelah mempertimbangkan semua ini, seperti yang dikatakan Joan Robinson, “‘menunggu’ hanyalah alat untuk mendapatkan kekayaan.” (Contributions to Modern Economics, hal.11) Bunga bukanlah imbalan atas “menunggu”, melainkan lebih pada salah satu imbalan karena menjadi orang kaya.

Tidak heran, kemudian, bahwa para ahli ekonomi neo klasik memperkenalkan term menunggu sebagai suatu “eksplanasi” untuk keuntungan yang didapat dari modal (seperti bunga). Sebelum perubahan dalam jargon ekonomi ini, ahli ekonomi aliran utama menggunakan pemikiran “sikap prihatin” (term yang diitemukan oleh Nassau Senior) untuk menjelaskan (dan juga membenarkan) bunga. Seperti halnya teori Senior yang digunakan untuk “membela” keuntungan yang dihasilkan modal, begitu juga term “menunggu” setelah diperkenalkan pada tahun 1887. Sangat menarik, meski mendeskripsikan secara tepat hal yang sama, “menunggu” menjadi term yang lebih disukai karena memiliki nada yang kurang apologetik mengenainya. Menurut Marshall, term “sikap prihatin” dapat  “disalah pahami” karena terlalu banyak orang kaya yang menerima bunga dan dividen tanpa pernah abstain dari apapun [seperti yang ia tulis, “akumulator terbesar kekayaan adalah orang-orang yang sangat kaya, beberapa (!) di antaranya tinggal dalam kemewahan” (Op.Cit., hal.232)]. Jadi ia memilih term “menunggu” karena ada “keuntungan dalam penggunaannya, khususnya karena sosialis telah lama menunjukkan fakta yang nyata bahwa kaum kapitalis tidak “abstain” dari apapun (lihat Marshall, Op.Cit., hal.233). Jadi jelas, dalam aliran utama ilmu ekonomi jika realita berkonflik dengan teorimu, jangan mempertimbangkannya kembali, ganti saja namanya!

Tentu saja, seperti yang dijelaskan Joan Robinson, teori-teori para mendukung kapitalis  yang abstain adalah salah, “karena tabungan sebagian besar diluar keuntungan dan upah pekerja cenderung lebih rendah seiring dengan semakin meningkatnya angka keuntungan, sikap prihatin yang dihubungkan dengan tabungan, terutama yang dialami oleh para pekerja yang menerima pembagian apapun dalam bentuk ‘imbalan’.” (The Accumulation of Capital, hal 393)

Untuk mengatakan bahwa orang-orang yang memiliki modal dapat memberikan klaim pada sebagian produk sosial hanya dengan bersikap abstain atau menunggu, tidak memberi penjelasan apapun mengenai hal-hal yang menjadikan produksi menguntungkan, dan juga sampai sejauh mana deviden dan bunga dapat dibayarkan. Sikap mengandalkan pada teori “menunggu” yang membahas mengapa keuntungan modal ada, tidak menunjukkan apapun selain dari keengganan para ahli ekonomi untuk berkonfrontasi dengan sumber-sumber penciptaan nilai dalam perekonomian atau untuk menganalisa hubungan sosial antara pekerja dengan manajer/majikan pada lantai toko. Sikap-sikap itu membawa kita pada pertanyaan mengenai keseluruhan sifat kapitalisme dan klaim apapun yang didasarkan pada kebebasan.

C.2.7 Namun tidakkah “nilai waktu” uang membenarkan pemberian bunga dalam kapitalisme yang lebih egaliter?

Semakin banyak kebutuhan untuk membicarakan masalah bunga, karena kapitalisme yang lebih egaliter (jika hal semacam itu memang ada) tetap memiliki bunga, dan egaliterianisme yang lebih besar bahkan dapat digunakan sebagai dasar justifikasi untuk hal tersebut.

Tentu saja, sejarah konseptual yang ditunjukkan pendukung kapitalisme untuk membenarkan bunga (atau perampasan nilai lebih pada umumnya) biasanya dimulai dari komunitas fiktif pihak- pihak yang setara. Teori preferensi waktu (The Time Preference Theory) mengenai bunga mendasarkan dirinya pada fiksi semacam itu. Kita diberikan argumen bahwa individu memiliki “preferensi waktu” yang berbeda-beda. Sebagian besar individu lebih suka, seperti yang diklaim, untuk mengkonsumsi pada saat ini daripada nanti. Sementara sedikit orang lebih suka menyimpannya sekarang agar dapat digunakan untuk mengkonsumsi esok harinya. Bunga, karena itu, merupakan pembayaran yang mendorong orang untuk menangguhkan konsumsi sehingga tergantung pada penilaian subyektif individu.

Berdasarkan argumen ini banyak pendukung kapitalisme yang mengklaim bahwa sah-sah saja bagi seseorang yang memberikan modal untuk mengambilnya kembali lebih besar dari yang mereka berikan, karena adanya “nilai waktu dari uang”. Hal ini terjadi karena orang yang menyediakan mesin, dll, harus menunda konsumsi sejumlah X yang dapat ia bayar dengan uang yang digunakan sebagai modal. Pemberi modal hanya akan mendapatkan sejumlah X dari daya konsumsi nantinya, setelah mereka mendapat pembayaran kembali atas mesin, dll, dengan menerima sebagian, setiap saat, dari peningkatan hasil yang ada. Karena orang lebih suka mengkonsumsi saat ini daripada nanti, mereka hanya dapat diyakinkan untuk tidak mengkonsumsi untuk saat ini dengan dijanjikan akan menerima lebih banyak nantinya. Karena itu keuntungan modal didasarkan pada “nilai waktu” dari uang dan argumen bahwa individu memiliki “preferensi waktu” yang berbeda-beda.

Pemikiran untuk tidak melakukan apapun (yaitu tidak mengkonsumsi) dapat dianggap produktif menurut teori kapitalis. Bahkan para pendukung kapitalisme mengakui bahwa pendapatan dari bunga “muncul secara independen dari tindakan personal kapitalis apapun. Ia mendapatkannya meski ia tidak menggerakkan satu jari pun untuk menciptakannya…Dan pendapatan teresbut mengalir tanpa pernah mengalami kehabisan modal asalnya, dan karena itu tanpa batas apapun bagi kelangsungannya. Jika seseoranng menggunakan ekspresi seperti itu dalam hal-hal duniawi, keuntungan yang didapatnya mencukupi seumur hidupnya.” (Eugen Bohm-Bawark, Capital and Interest, vol.1, hal.1)

Jangan sampai kita lupakan bahwa, terkait dengan satu keputusan untuk tidak melakukan apapun (yaitu tidak mengkonsumsi), seseorang (dan ahli warisnya) menerima selamanya imbalan yang tidak mengikatnya pada kegiatan produktif apapun. Tak seperti orang-orang yang memang benar-benar bekerja (yang mendapatkan imbalan setiap saat ia memberikan “kontribusi” untuk menghasilkan komoditi), kapitalis akan mendapat imbalan hanya hanya karena satu tindakan abstensi. Hal ini kiranya bukan suatu tatanan yang adil. Seperti yang telah ditunjukkan David Schweickart, “Kapitalisme memberi imbalan pada beberapa individu selamanya. Hal ini, jika dibenarkan oleh peraturan kontribusi, seseorang harus mempertahankan klaim bahwa beberapa kontribusi memang bersifat abadi.” (Against Capitalism, hal.17) Sebagai tambahan, penerima bunga dapat mewariskan keuntungan akibat satu keputusan ini pada keluarganya setelah ia meninggal, semakin memperlemah pernyataan “sikap prihatin”.

Di hadapan kelemahan “sikap prihatin” atau teori “menunggu” dalam masalah modal,  Bohm-Bawark  mengajukan teori “preferensi waktu” (yaitu bahwa nilai lebih muncul karena pertukaran benda-benda saat ini untuk benda-benda di masa datang, karena benda-benda di masa datang memiliki nilai yang lebih kecil dengan benda-benda di saat ini akibat adanya “preferensi waktu”). Tentu saja teori ini takluk sepenuhnya pada poin yang sama dengan yang telah kita bicarakan dalam bagian sebelumnya. Psikologi individual dikondisikan oleh situasi sosial tempat ia berada. Sebagaimana “sikap abstain” atau “menunggu” jauh lebih mudah dilakukan ketika seseorang itu kaya, “preferensi waktu” seseorang juga ditentukan oleh kedudukan sosial. Jika seseorang memiliki uang lebih dari cukup untuk kebutuhan saat ini, seseorang dapat dengan mudahnya “mengabaikan” masa depan (contohnya penghargaan yang diberikan para pekerja terhadap hasil kerja mereka di masa mendatang tidak sebesar penghargaan mereka terhadap upah kerja saat ini, karena tanpa upah tersebut tak akan ada masa depan). Dan jika “preferensi waktu” seseorang bergantung pada fakta-fakta sosial (seperti sumber daya yang ada, kelas, dll), maka bunga tak dapat didasarkan pada penilaian subyektif, karena tak ada faktor independen. Dengan kata lain tabungan tidak menunjukkan “preferensi waktu”, melainkan tingkat ketidaksetaraan.

Bahkan jika kita mengabaikan masalah bahwa ketidaksetaraan mempengaruhi “preferensi waktu” subyektif individu, teori tersebut masih tetap tak mampu meberikan pembelaan terhadap bunga. Sangat bermanfaat untuk mengutip catatan seorang ahli ekonomi post-Keynesian, Joan Robinson, mengenai sebab terjadinya hal itu:

“Pemikiran bahwa manusia mengabaikan masa depan tampak dapat disamarkan dengan pengalaman subyektif setiap orang, namun konklusi mengenainya merupakan suatu non sequitor ((bahasa latin, merupakan pernyataan yang tidak mengikuti cara logis dari pernyataan yang sebelumnya –tambahan penerjemah)), karena sebagian besar orang memiliki keinginan untuk dapat menggunakan daya konsumsinya selama nasib mengijinkan, dan banyak orang yang memiliki penghasilan lebih tinggi pada saat ini daripada yang mereka harapkan di masa mendatang (penerima gaji pasti akan berhenti bekerja, bisnis saat ini mungkin lebih baik daripada  nantinya, dll) dan banyak orang yang memandang jauh di luar kehidupan mereka sendiri serta berharap dapat meninggalkan daya konsumsi untuk keturunan mereka. Jadi, sejumlah besar orang… tertarik mencari kendaraan yang dapat diandalkan untuk membawa daya beli ke masa depan… tidak mungkin mengatakan harga mana yang berlaku jika ada pasar untuk daya beli saat ini melawan daya beli masa depan, yang tidak terpengaruh oleh hal-hal lain selain keinginan individu mengenai pola waktu konsumsi mereka. Yang mungkin terjadi, pasar seperti itu akan menghasilkan tingkat diskon negatif…

“Suku bunga normalnya positif untuk alasan yang benar-benar berbeda. Daya beli saat ini sebagian memang berharga karena, di bawah aturan main kapitalis, mengijinkan pemiliknya… untuk mempekerjakan pekerja dan menjalankan produksi yang akan menghasilkan surplus pemasukan yang melebihi ongkos. Dalam suatu perekonomian yang mengharapkan positifnya tingkat keuntungan, tingkat suku bunganya positif…(sehingga) nilai daya beli saat ini melebihi nilai masa depannya pada tingkat yang sama… Bagaimanapun juga tak ada yang dapat dilakukan dengan tingkat diskon masa depan subyektif dari perhatian yang bersifat individual…” (The Accumulation of Capital, hal 395)

Jadi, tidak banyak yang dapat dilakukan bunga dengan “preferensi waktu” dan lebih banyak yang dapat dilakukan dengan ketidaksetaraan yang berhubungan dengan sistem kapitalis. Sebenarnya, teori “preferensi waktu” mengasumsikan apa yang sedang dicoba untuk dibuktikan. Bunga bersifat positif, karena kapitalis dapat merampas nilai lebih dari pekerja sehingga, karena fakta ini, uang yang didapat saat ini lebih berharga dibandingkan uang di masa mendatang. Tentu saja, dalam dunia penuh ketidakpastian uang masa depan mungkin merupakan imbalannya sendiri (contohnya, pekerja yang menghadapi pengangguran di masa depan dapat lebih menghargai sejumlah uang yang sama besarnya di kemudian hari daripada saat ini). Karena uang memberikan kekuasaan untuk mengalokasikan sumber daya dan eksploitasi pekerja upahan, maka uang saat ini lebih berharga. Dengan kata lain, kapitalis tidak memberikan “waktu” (seperti pendapat teori “nilai waktu”), kapitalis memberikan kekuasaan/kekuatan.

Jadi, apakah seseorang yang menabung berhak atas imbalan untuk tabungan tersebut? Jawabannya t i d a k! Mengapa? Karena tindakan menabung bukanlah tindakan produksi melainkan sekedar membeli komoditi. Jelas imbalan untuk pembelian komoditi adalah komoditi itu sendiri. Analoginya, imbalan atas tabungan seharusnya bukan bunga melainkan tabungan itu sendiri–kemampuan untuk mengkonsumsi pada tahap berikutnya.

Kaum kapitalis berasumsi bahwa seseorang tidak akan menabung kecuali dijanjikan akan kemampuan konsumsi yang lebih pada tahap berikutnya, namun penelitian yang detail terhadap argumen ini menunjukkan absurditasnya. Orang-orang dalam sistem ekonomi yang berbeda-beda menabung agar dapat digunakan keesokan harinya, namun hanya dalam kapitalisme muncul asumsi bahwa mereka membutuhkan suatu imbalan untuknya diluar imbalan karena memiliki tabungan yang ada untuk konsumsi esok hari. Petani penggarap “menangguhkan konsumsi” agar dapat memiliki tanah untuk ditanami tahun berikutnya, tupai “enangguhkan konsumsi” kacang agar memiliki cadangan selama musim dingin. Namun, tak ada yang berharap dapat melihat simpanannya bertmbah terus. Karena itu, imbalan tabungan adalah tabungan juga, seperti halnya konsumsi dengan konsumsi. Pada kenyataannya, “eksplanasi” kaum kapitalis mengenai bunga memiliki semua tanda apolegetik. Eksplanasi tersebut merupakan eksplanasi belaka untuk membenarkan kegiatan tanpa menganalisanya dengan teliti.

Agar menyakinnkan. terdapat kebenaran perekonomian yang menjadi dasar argumen ini untuk membenarkan bunga, namun formulasi yang dibuat para pendukung kapitalisme tidak akurat dan patut disayangkan. Ada pemahaman bahwa “menunggu” merupakan kondisi untuk meningkatkan modal, meski pada hakekatnya bukan untuk modal. Masyarakat manapun yang ingin meningkatkan cadangan barang modalnya mungkin harus menangguhkan beberapa kepuasan. Bagaimanapun juga, tempat kerja dan sumber daya yang digunakan untuk memproduksi barang-barang modal tak dapat digunakan untuk memproduksi barang-barang konsumen. Jadi, seperti sebagian besar ilmu ekonomi kapitalis, terdapat benih kebenaran di dalamnya, namun benih kebenaran ini digunakan untuk menumbuhkan hutan yang setengahnya berisi kebenaran sedangkan sisanya kebingungan.

Perekonomian apapun adalah sebuah jaringan, di mana keputusan mempengaruhi setiap orang. Karena itu, jika beberapa orang tidak melakukan konsumsi saat ini, produksi dipalingkan dari benda-benda konsumsi, dan hal ini memiliki pengaruh pada semua pihak. Atau, pendapat yang sedikit  berbeda, keseluruhan permintaan– dan juga jumlah penawaran– berubah ketika beberapa orang menangguhkan konsumsi, dan hal ini mempengaruhi lainnya. Penurunan penawaran untuk benda-benda konsumen mempengaruhi penghasil benda-benda ini. Di bawah kapitalisme, hal ini dapat mengakibatkan keharusan “menangguhkan konsumsi” pada orang lain, karena mereka tak dapat menjual barang-barang mereka di pasar; namun para pendukung kapitalisme berasumsi bahwa hanya kapitalis yang terpengaruh oleh keputusan mereka untuk menangguhkan konsumsi, dan karena itu mereka seharusnya mendapat imbalan. Tentu saja, para pendukung kapitalisme tidak mempermasalahkan mengapa seseorang harus mendapat imbalan atas keputusan yang mungkin membuat perusahaan bangkrut, juga mengurangi alat produksi yang ada karena penawaran yang direduksi mengakibatkan hilangnya pekerjaan dan kebangkrutan pabrik. Terakhir, harus kita ingat apa arti sebenarnya dari bunga. Arti bunga tidak lah sama dengan bentuk-bentuk pertukaran lainnya. “Jika ada penipuan dalam menyebut ‘uang saat ini’ barang yang lebih berebda adri ‘uang masa nanti’, tak ada alat yang menguntungan, karena efek yang diharapkan adalah untuk memasukkan peminjaman uang di bawah rubrik pertukaran normatif…(namun) ada perbedaan yang jelas…(selama dalam pertukaran komoditi yang normal) kedua pihak memiliki sesuatu (meski pinjaman) yang ia punya, sesuatu yang tidak kamu punyai…(jadi) ketidak setaraan mendominasi hubungan. Ia memiliki lebih banyak dari yang kamu punyai saat ini, dan ia akan mendapatkan kembali apa yang ia berikan.” (Schweickart, Op.Cit., hal.23)

Karena itu, peminjaman uang bukanlah, bagi orang miskin, pilihan antara konsumsi yang lebih pada saat ini/ yang kurang pada saat mendatang dan konsumsi yang kurang pada saat ini/yang lebih pada saat mendatang. Jika tak ada konsumsi saat ini, maka tak akan ada konssumsi nantinya. Sebagai tambahan, bahkan dalam suatu kapitalisme yang relatif egaliter, bunga menunjukkan bahwa penghasil modal yang baru tidak menghasilkan komoditi. Seolah-olah kapitalis telah “menangguhkan konsumsi” dan memperbolehkan diubahnya sebuah mesin. Kemudian mereka menawarkan orang lain menggunakannya untuk ditarik bayaran, namun mereka tidak menjual komoditi, mereka menarik sewa dari penggunaan sesuatu. Dan memberikan izin bukanlah suatu tindakan produktif (seperti yang dituliskan di atas).

Karena itu, menyediakan modal dan menerima bunga bukanlah suatu tindakan produktif. Seperti pendapat Proudhon, “semua rente yang diterima (secara nominal sebagai ganti rugi, namun benar-benar merupakan pembayaran atas pinjaman) merupakan tindakan property –tindakan perampokan (pencurian).” (What is Property, hal.171). Dengan kata lain, kapitalisme didasarkan pada riba, yaitu pembayaran atas penggunaan sesuatu. Pemilik mesin telah “menangguhkan konsumsi” dan juga mendapat “imbalan” dengan upah pekerja serta pembayaran yang melebihi dari apa yang ia berikan pada awalnya. Sebagai tambahan, penghasil komoditi tealh membuat barang-barang yang yang darinya peilik mesin menarik bayaran dan masih tetap memiliki mesin! Artinya bahwa pembayaran bunga telah diambil dari pekerja yang menggunakan mesin, yang pada akhirnya tidak memiliki apa-apa di luar upah dan juga masih tetap merupakan budak yang diupah, yang mencari majikan baru. Tak heran Proudhon berpendapat bahwa Property adalah pencurian!”

Bunga adalah adalah suatu penipuan, murni dan serhaan. Tak heran, baik anarkis individualis maupun sosial telah melawannya. Ben Tucker berasumsi bahwa perbankan mutual, di samping mereduksi bunga hingga nol, juga meningkatkan kekuatan pekerja dalam perekonomian, yang memiliki arti bahwa pekerja berada dalam posisi yang mampu menolak pekerjaan untuk bekerja pada kapitalis kecuali mereka menyepakati perjanjian yang menghentikan pembelian modal yang mereka gunakan (lihat bagian G) Karena bagi kaum annarki sosialis, mereka menyadari bahwa kesepakatan bebas antara sindikat dan komune akan memastikan invesatsi yang sesuai dalam alat produksi yang baru.. Mereka juga mengakui jaringan pengaruh bersama dalam perekonomian maju apapun, sehingga, karena setiap orang dipengaruhi oleh keputusan investasi, semua harus besuara dalam keputusan-keputusan tersebut (lihat bagian I)