C.11 Tidakkah Chili membuktikan Bahwa Pasar Bebas menguntungkan setiap orang?

[sc:afaq1]

C.11 Tidakkah Chili membuktikan Bahwa Pasar Bebas menguntungkan setiap orang?

[toc]

Hal tersebut merupakan argumen umum “libertarian” sayap kanan, yang didukung oleh banyak pendukung kapitalisme “pasar bebas”. Contohnya, Milton Friedman menyatakan bahwa Pinochet “telah mendukung perekonomian pasar bebas sebagai hal yang prinsip. Chili adalah keajaiban ekonomi.” (Newsweek, Jan, 1982) Sudut pandang ini juga sudah biasa dalam aliran yang lebih kanan, dengan Presiden AS George Bush yang memuji rekor perekonomian Chili di tahun 1990 ketika ia mengunjungi negara itu.

Jendeal Pinochet merupakan tokoh utama dalam kudeta militer di tahun 1973 melawan pemerintah sayap kiri yang terpilih secara demokratis yang dipimpin oleh Presiden Allende, kudeta yang dibantu CIA. Ribuan orang dihabisi oleh pasukan penegak “hukum dan tata tertib” selama kudeta dan pasukan Pinochet “diperkirakan telah menewaskan lebih dari 11.000 orang dalam tahun pertama pemerintahannya.” (P. Gumson, A. Thompson, G. Chamberlain, The Dictionary of Contemporary Politics of South America, Routledge, 1989, hal.228)

Rekor yang diciptakan kepolisian negara untuk masalah HAM dicap sebagai barbarian di seluruh dunia. Namun demikian kita akan mengabaikan kontradiksi yang jelas dalam “keajaiban perekonomian”, yaitu mengapa negara fasis/otoriter hampir selalu digunakan untuk memperkenalkan “kebebasan perekonomian”, dan memfokuskan pada fakta-fakta pereoknomian mengenai kapitalisme pasar bebas yang dipaksakan kepada rakyat Chili.

Dengan kepercayaan dalam efisiensi dan keadilan pasar bebas, Pinochet ingin menjalankan kembali hukum permintaan dan penawaran, serta mengurangi peran negara dan juga memperkecil inflasi. Ia, dan “Chicago Boys”–kelompok ahli ekonomi pasar bebas–memikirkan bahwa apa yang membatasi pertumbuhan Chili adalah intervensi negara dalam perekonomian–yang mereduksi persaingan, meningkatkan upah secara artifisial, dan menyebabkan inflasi. Tujuan akhir, seperti kata Pinochet, adalah menjadikan Chili sebagai “bangsa pengusaha.”

Peran Chicago Boys tak dapat diabaikan. Mereka memiliki hubungan yang erat dengan militer dari tahun 1972, dan menurut seorang ahli memiliki peran kunci dalam kudeta:

“Pada Agustus 1972, kelompok ahli ekonomi yang terdiri dari sepuluh orang di bahwa kepemimpinan de Castro mulai mengerjakan formulasi program perekonomian yang menggantikan (formulasi program Allende) … Pada kenyataannya, eksistensi rencana tersebut esensial bagi usaha apapun dalam membantu angkatan bersenjata untuk menggulingkan Allende karena angkatan bersenjata Chili tidak memiliki rencana perekonomian apapun.” (Silvia Bortzutzky, “The Chicago Boys, social security and welfare in Chile”, The Radical Right and The Welfare State, Howard Glennerster dan James Midgley (eds.), hal.88).

Juga menarik untuk dicatat bahwa “(m)enurut laporan Senat AS pada aksi perubahan di Chili, aktivitas ahli ekonomi ini dibiayai oleh Central Intelligence Agency CIA” (Bortzutzky, Op. Cit., hal.89)

Maka jelas beberapa bentuk intervensi negara lebih mudah diterima daripada lainnya

Hasil yang sesungguhnya dari kebijakan pasar bebas yang diperkenalkan oleh kediktatoran jauh berebda dari “keajaiban” yang diklaim oleh Friedman dan kelompok “libertarian” lainnya. Efek awal dari pengenalan pasar bebas di tahun 1975 adalah guncangan yang diakibatkan depresi yang menghasilkan turunnya produksi nasional sebesar 15%, penurunan upah hingga sepertiga di bawah tingkat upah di tahun 1970 dan meningkatnya angka pengangguran sebesar 20%. (Elton Rayack, Not So Free to Choose, hal.57) Artinya, dalam term per kapita, GDP Chili hanya meningkat sebesar 1,5% per tahun antara 1974-1980. Peningkatan ini kurang dari yang dicapai di 1960-an sebesar 2,3%. Pertumbuhan rata-rata GDP adalah 1,5% per tahun antara 1974 dan 1982, yang lebih rendah dari angka pertumbuhan rata-rata Amerika Latin sebesar 4,3% dan lebih rendah dari 4,5% di Chili pada tahun 1960-an. Antara tahun 1970-an dan 1980-an, GDP per kapita hanya naik sebesar 8%, sementara seluruh Amerika Latin meningkat sebesar 40%. Antara tahun 1980-1982 ketika seluruh Amerika Latin mengalami masa-masa sulit akibat depresi, GDP perkapita Chili jatuh sebesar 12,9%, dibandingkan dengan kejatuhan seluruh Amerika Latin yang sebesar 4,3% (op.cit., hal 64).

Pada tahun 1982, setelah tujuh tahun pelaksanaan kapitalisme pasar bebas, Chili masih menghadapi krisis ekonomi lainnya, yaitu angka pengangguran dan turunnya GDP yang jauh lebih besar yang pernah dialami selama pemulihan gucangan depresi mengerikan di tahun 1975. Upah riil jatuh secara drastis, pada tahun 1983 jatuh hingga 14% di bawah upah riil di tahun 1970-an. Kebangkrutan merajalela, begitu juga hutang luar negeri dan pengangguran. (OpCit., hal.69). Sejak 1983, perekonomian Chili hancur dan hanya di akhir 1986 GDP per kapita (sedikit) sama dengan GDP di tahun 1970. (Thomas Skidmore dan Peter Smith, “The Pinochet Regime” hal.137-138, Modern Latin America)

Dihadapkan dengan kejatuhan masif dari “rezim pasar bebas yang disusun oleh penganut prinsip pasar bebas” (menggunakan kata-kata Milton Friedman dari pidatonya untuk “Smith Centre”, Think Tank  konservatif di negara bagian California, yang berjudul “Economic Freedom, Human Freedom, Political Freedom”) rezim tersebut membuat jaminan masif. “Chicago Boys” membatasi pengukuran ini sampai situasi menjadi begitu kritis sehingga tak dapat dihindari. IMF menawarkan pinjsmsn kepada Chili untuk membantunya keluar dari kekacauan. IMF juga membantu kebijakan perekonomian, namun dengan aturan yang sangat keras. Total jaminan dibayarkan sebesar 3% dari GNP Chili selama tiga tahun, biaya yang dibebankan kepada para pembayar pajak. Hal ini merupakan pola umum kapitalisme pasar bebas–disiplin pasar untuk kelas pekerja, bantuan negara untuk kaum elit. Selama “keajaiban” tersebut, keuntungan ekonomi diprivatisasi, selama kejatuhan perekonomian beban pembayaran hutang dibebankan kepada rakyat.

Rejim Pinochet memang mengurangi inflasi, dari sekitar 500% pada saat kudeta yang didukung CIA (karena AS menghancurkan perekonomian Chili–”membuat perekonomian menjerit”, Richard Helms, Direktur CIA– inflasi yang tinggi tentu diharapkan), mencapai 10% di tahun 1982. Dari tahun 1983-1987, inflasi mengalami fluktuasi antara 20%-31%. Datangnya “pasar bebas” membuat Chili mengurangi hambatan untuk masuknya barang impor “seperti kuota dan tarif yang melindungi industri-industri yang tidak efisien dan menjaga harga secara artifisial tetap tinggi. Hasilnya adalah banyaknya firma lokal yang diserap corporasi multinasional. Komunitas pengusaha Chili, yang mendukung penuh kudeta 1973, sangat terpengaruh.” (Skidmore dan Smith, Op.Cit.)

Deklinasi industri domestik telah membiayai ribuan  pekerjaan-pekerjaan yang mendapat pembayaran yang lebih baik. Represi polisi menjadikan pemogokan dan bentuk-bentuk protes lainnya menjadi seuatu yang tidak dapat dijalankan dan berbahaya. Menurut laporan Gereja Katolik Roma, 113 pemrotes telah terbunuh selama protes sosial terhadap krisis ekonomi di awal 1980-an, dengan beberapa ribuorang yang ditahan untuk aktivitas dan protes politik antara Mei 1983 dan pertengahan 1984. Ribuan pemogok juga dipecat dan para pemimpin serikat dijebloskan ke dalam penjara. (Rayack, Op.Cit., hal.70) Hukum juga berubah untuk merefleksikan kekuasaan pemilik Property terhadap budak upahan mereka dan “pemeriksaan total terhadap sistem hukum kerja (yang) diberlakukan antra tahun 1979 dan 1981…bertujuan menciptakan pasar tenaga kerja yang sempurna, menghapuskan tawaran kolektif, mengizinkan pemecataan masif pekerja, meningkatkan jam kerja harian pekerja hingga 12 jam dan menghapusknan pengadilan kerja.” (Silvia Borzutzky, Op.Cit., hal.91) Tak heran, bahwa iklim yang menyejukkan pengoperasian bisnis ini menghasilkan peminjaman terus menerus oleh institusi finansial.

Jelas kelompok yang paling terpukul adalah kels pekerja, khususnya kelas pekerja urban. Di tahun 1976, tahun ketiga pemerintahan Junta, upah riil telah jatuh hingga 35% di bawah tingkat upah riil di tahun 1970-an. Hanya di tahun 1981-an mengalami kenaikan sebesar 97,3% seperti di tahun 1970, namun kembali jatuh hingga 86,7% di tahun 1983. Pengangguran, di luar program padat karya yang dijalankan negara, adalah sebesar 14,8% di tahun 1976, jatuh hingga 11,8% di tahun 1980 (hal ini masih dua kali lipat tingkat rata-rata pengangguran di tahun 1960) dan kemudian naik kembali hingga 20,3% di tahun 1982. (Rayack, op.cit., hal 65). Pengangguran (termasuk yang ikut program padat karya pemerintah) telah meningkat hingga 1/3 dari tenaga kerja pada pertengahan 1983. Di tahun 1986, konsumsi perkapita 11% lebih rendah dari tingkat konsumsi 1970. (Skidmore dan Smith, op.cit.) Antara 1980-1988 nilai riil upah hanya naik 1,2% sementara nilai riil upah minimum mengalami penurunan sebesar 28,5%. Selama periode ini, rata-rata pengangguran urban adalah sebesa 15,3% per tahun. (Silvia Bortzutzky, op.cit., hal 96) Bahkan di tahun 1989, angka pengangguran masih tetap 10% (di tahun 1970 hanya 5,7%) dan upah riil masih tetap 8%, lebih rendah dari tahun 1970. Antara 1975-1989, angka pengangguran rata-rata 16,7%. Dengan kata lain, setelah hampir 15 tahun kapitalisme pasa bebas, upah riil masih tetap belum melebihi tingkat upah riil di tahun 1970 dan pengangguran masih tetap lebih tinggi. Seperti yang telah diperkirakan, dalam situasi semacam ini pembagian upah dalam pendapatan nasional jatuh dari 42,7% di tahun 1970 hingga 33,9% di tahun 1993. Karena pengangguran yang tinggi seringkali di hubungkan dengan hak untuk memperkuat serikat dan “ketidaksempurnaan” pasar tenaga kerja, angka-angka tersebut mengalami penggandaan secara signifikan karena rejim Chili, seperti yang ditulis di atas, memperbarui pasar tenaga kerja untuk memperbaiki sifat “persaingan” nya.

Konsekuensi lain dari kebijakan-kebijakan moneteris neo klasik Pinochet “adalah kontraksi permintaan, karena pekerja dan tenaganya tak mampu membeli lebih banyak barang. Reduksi dalam pasar tersebut pada akhirnya mengancam komunitas bisnis, yang mulai memproduksi lebih banyak barang untuk ekspor dan hanya sedikit yang diberikan untuk konsumsi lokal. Hal ini merupakan hambatan lain bagi pertumbuhan ekonomi serta meningkatkan konsentrasi pendapatan dan kekayaan di tangan sebagian kecil elit.” (Skidmore dan Smith, op.cit.).

Jadi, yang kita lihat sebagai “keajaiban” Chili yang sesungguhnya adalah bertambahnya kekayaan elit. Menurut seorang ahli revolusi neo liberal Amerika Latin, kaum elit “secara masif menjadi kaya di bawah Pinochet” dan ketika pemimpin Partai Kristen Demokrasi kembali dari pengasingan di tahun 1989, ia mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi yang hanya menguntungkan10% teratas dari jumlah penduduk telah dicapai (sesuai dengan data institusi resmi Pinochet). (Duncan Green, The Silent Revolution, hal. 216, Noam Chomsky, Deterring Democracy, hal.231) Di tahun 1980, orang terkaya yang merupakan 10% dari jumlah penduduk mendapatkan 36,5% dari pendapatan nasional. Di tahun 1989, meningkat sebesar 46,8%. Sebaliknya, 50% penduduk kelas bawah melihat menurunnya jumlah pembagian mereka dari 20,4% menjadi 16,8% pada periode yang sama. Konsumsi rumah tangga juga mengikuti pola yang sama. Di tahun 1970, rumah tangga paling kaya yang hanya berjumlah 20% memiliki konsumsi sebesar 44,5% angka tersebut naik menjadi 51%di tahun 1980 dan menjadi 54,6% di tahun 1989. Antara 1970-1989, pembagian yang didapatkan 80% rumah tangga lainnya menurun. Pembagian 20% rumah tangga termiskin turun dari 7,6% di tahun 1970 menjadi 4,4% di tahun 1989. 20% di atasnya mengalami penurunan dari 11,8% menjadi 8,2%, dan kelompok menengah mengalami penurunan dari 15,6% menjadi 12,7%. Kelompok diatasnya lagi mengalami penurunan pembagian konsumsi mereka dari 20,5% menjadi 20,1%.

Jadi, kekayaan yang diciptakan perekonomian Chili selama pemerintahan Pinochet tidak ”merembes ke bawah” menuju kelas pekerja (seperti yang diklaim akan terjadi oleh dogma kapitalis “pasar bebas”), melainkan terakumulasi di tangan kaum kaya. Seperti yang terjadi di AS dan Inggris, dengan aplikasi-aplikasi “ekonomi yang merembes ke bawah” terdapat sejumlah besar pengalihan distribusi pendapatan ke tanga orang-orang yang memang kaya. Yaitu, terjadi “perembesan ke atas” (atau lebih sebagai banjir ke atas). Sedikit mengejutkan, karena pertukaran antara si kuat dan si lemah ternyata menguntungkan yang pertama (inilah sebabnya mengapa kaum anarkis mendukung organisasi dan aksi kolektif kelas pekerja untuk membuat kita lebih kuat dari kaum kapitalis).

Dalam tahun-tahun terakhir kediktatoran Pinochet, kaum terkaya yang berjumlah 10% dari penduduk pedesaan mengalami kenaikan pendapatan mereka sebesar 90% antara tahun 1987-1990. Pembagian kaum termiskin sebesar 25% jatuh dari 11% menjadi 7%. (Duncan Green, Op. Cit., hal.108) Peninggalan ketidakadilan sosial Pinochet masih dapat ditemukan di tahun 1993, dengan sistem perawatan kesehatan dua tingkat, dan dalam sistem tersebut, angka kematian bayi adalah 7 per 1000 kelahiran untuk orang terkaya yang berjumlah seperlima penduduk dan 40 dari 1000 kelahiran untuk kaum termiskin yang berjumlah 20% dari penduduk total. (Ibid., hal.101)

Konsumsi per kapita jatuh sebesar 23% dari tahun 1972-1982.  Proporsi penduduk di bawah garis kemiskinan (pendapatan minimum yang dibutuhkan untuk makanan dan perumahan) meningkat dari 20% menjadi 44,4% antara tahun 1970-1987. Biaya perawatan kesehatan yang lebih dari separuh biaya 1973 hingga 1985, menyembunyikan ledakan pertumbuhan dalam penyakit yang terkait dengan kemiskinan seperti gondok, diabetes dan hepatitis viral. Di sisi lain, sementara konsumsi untuk kaum termiskin yang berjumlah 20% penduduk menurun sebesar 30%, angka konsumsi orang terkaya yang berjumlah sebesar 20% dari jumlah penduduk meningkat sebesar 15%. (Noam Chomsky, Year 501, hal.190-191) Persentase penduduk Chili tanpa rumah layak meningkat dari 1972 hingga 1988, meskipun klaim-klaim pemerintah bahwa kebijakan pasar yang bersahabat akan memecahkan masalah tuna wisma.

Dengan fakta-fakta ini, hanya ada satu garis pertahanan yang mungkin digunakan untuk “keajaiban” Chili–tingkat pertumbuhan ekonomi. Sementara pembagian kue ekonomi mungkin telah menurun untuk sebagian besar penduduk Chili, kaum kanan berpendapat bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi dalam perekonomian memiliki arti bahwa mereka mendapatkan bagian yang lebih kecil dari kue yang lebih besar. Kita akan mengabaikan fakta-fakta yang terbukti benar bahwa tingkat ketidaksetaraan, lebih dari sekedar tingkat absolut standar hidup, memiliki efek besar pada kesehatan penduduk dan bahwa sakit-sehat berbanding terbalik dengan pendapatan (yaitu kesehatan kaum miskin lebih buruk dari kaum kaya).  Kita juga akan mengabaikan isu-isu lain yang terkait dengan distribusi kekayaan, dan juga kekuasaan, dalam sebuah masyarakat (seperti pasar bebas yang memperkuat kembali dan meningkatkan ketidaksetaraan melalui “pertukaran bebas” antara kelompok yang kuat dan lemah, karena term-term pertukaran apapun akan dialihkan untuk kelompok yang lebih kuat, suatu analisis yang mendapatkan bukti-bukti ekstensif dari pengalaman penduduk Chili untuk sifat “kompetitif” dan “fleksibel” pasar tenaga kerja). Dengan kata lain, pertumbuhan tanpa kesetaraan dapat memiliki efek yang membahayakan yang tidak, dan tak dapat, ditunjukkan dalam angka-angka pertumbuhan.

Jadi kita akan menganggap klaim bahwa rekor rezim Pinochet dalam pertumbuhan menjadikannya sebuah “keajaiban” (karena tak ada yang dapat melakukannya). Namun demikian, ketika kita mengamati rekor pertumbuhan rezim, kita dapati bahwa hal tersebut bukanlah seuatu “keajaiban” sepenuhnya–pertumbuhan ekonomi yang dipuja-puja di tahun 1980-an harus dilihat dalam resesi katastropis yang dialaami Chili di tahun 1975 dan 1982. Seperti yang ditunjukkan Edward Herman, pertumbuhan ini “biasanya dilebih-lebihkan oleh pengukuran dari dasar yang tidak tepat (seperti di tahun 1982).” (The Economics of the Rich)

Poin ini esensial untuk memahami sifat aktual pertumbuhan “keajaiban” Chili. Contohnya, para pendukung “keajaiban” merujuk pada periode 1978-1981 (ketika perekonomian tumbuh 6,6% per tahun) atau pasca resesi 1982-1984. Namun demikian, hal ini hanyalah permasalahan “kebohongan, kebusujan, dan statistik” karena tidak mempertimbangkan cara yang dilakukan perekonomian ketika beranjak dari resesi. Selama pemulihan, pekerja yang menganggur kembali bekerja dan perekonomian mengalami peningkatan pertumbuhan sebagai akibatnya. Artinya, semakin dalam resesi yang terjadi, semakin tinggi pertumbuhan menuju kemajuan. Jadi untuk melihat apakah pertumbuhan ekonomi Chili merupakan keajaiban dan ataukah penurunan pendapatan untuk banyak orang, kita perlu mengamati lingkaran bisnis, bukan sekedar kemajuannya. Dari pengamatan tersebut, akan kita dapati bahwa Chili memiliki angka pertumbuhan terburuk kedua di Amerika Latin antara tahun 1975 dan 1980. Pertumbuhan rata-rata GDP adalah sebesar 1,5% per tahun antara tahun 1974 dan 1982, yang lebih randah dari angka pertumbuhan Amerika Latin rata-rata sebesar 4,3% dan lebih rendah dari Chili di tahun 1960-an yang sebesar 4,5%.

Mangamati keseluruhan era Pinochet, kita ketahui bahwa hanya di 1989–14 tahun diberlakukannya kebijakan pasar bebas–pendapatan per kapita kembali naik hingga mencapai tingkat di tahun 1970. Antara tahun 1970 dan 1990, GDP total Chili tumbuh sebesar 2% per tahun. Tak perlu dikatakan, tahun-tahun tersebut juga meliputi periode Allende dan masa setelah kudeta sehingga, barangkali, angka-angka tersebut menunjukkan gambaran yang salah mengenai rekor rezim. Jika kita mengamati periode 1981-1990 (yaitu selama pemerintahan Pinochet, 6 tahun permulaan setelah awal “keajaiban” Chili), angka-angka tersebut memburuk dengan angka pertumbuhan GDP hanya sebesar 1,84% per tahun. Angka-angka ini lebih rendah dari yang terjadi di Chili selam tahun 1950-aan (4%) atau 1960-an (4,5%). Tentu saja, jika kita mempertimbangkan pertambahan jumlah penduduk,  pertumbuhan GDP per kapita hanya 0,3% per tahun antara tahun 1981-1990 (dibandingkan dengan GDP per kapita Inggris yang naik sebesar 2,4% selama periode yang sama dan AS yang hanya sebesar 1,9%).

Jadi “keajaiban” pertumbuhan tersebut berkaitan dengan pemulihan dari depresi seperti kolaps, kolaps yang sebagian besar dapat dikaitkan dengan kebijakan pasar bebas yang dibebankan pada Chili! Secara keseluruhan, “keajaiban” pertumbuhan di bawah Pinochet tidak ada. Kerangka waktu keseluruhan menggambarkan tiadanya proses sosial ekonomi yang signifikan di Chili antara 1975 dan 1989. Tentu saja, perekonomian dicirikan dengan instabilitas daripada pertumbuhan riil. Tingkat pertumbuhan yang tinggi selama periode-periode boom oleh kaum kanan dijadikan rujukan sebagai bukti “keajaiban”) yang sedikit memperbaiki kerugian selama periode-periode kemerosotan perekonomian.

Komentar yang sama mungkin diberikan berkenaan dengan privatisasi sistem pensiun, yang dianggap oleh banyak orang sebagai sebuah kesuksesan dan model untuk negara-negara lainnya. Namun demikian, pada pemerikasaan yang lebih detil, sistem ini menunjukkan kelemahannya–tentu saja, dapat dikemukakan argumen bahwa sistem ini hanya sebuah kesuksesan bagi perusahaan-perusahaan yang mendapatkan keuntungan ekstensif darinya [biaya administrasi sistem di Chili hampir 30% dari pendapatan, di AS biaya administrasi sistem Jaminan Sosial hanya sebesar 1% (Doug Henwood, Wall Street, hal.305)]. Bagi pekerja, hal ini merupakan sebuah bencana. Menurut SAFP, badan pemerintah yang meregulasi sistem, dari 96% tenaga kerja yang diketahui terdaftar pada Februari 1995, hanya 43,4% yang tidak menambahkan simpanannya. Barangkali sebanyak 60% tidak memberi kontribusi secara teratur (karena sifat pasar tenaga kerja, hal ini menjadi sesuatu yang biasa saja). Sayangnya, kontribusi regular disyaratkan untuk menerima seluruh keuntungan. Para kritikus berpendapat bahwa hanya 2% dari kontributor yang akan menerima pensiun mereka yang sebenarnya.

Menarik untuk dicatat bahwa ketika program ini diperkenalkan, angkatan bersenjata dan polisi diizinkan menyimpan rencana publik mereka yang sifatnya dermawan. Jika rencana-rencana tersebut memang sebaik yang diklaim para pendukung mereka, kamu akan berpikir bahwa orang-orang yang mempekenalkannya pasti telah bergabung di dalamnya. Jelas apa yang dianggap cukup baik untuk massa tidak sesuai dengan penguasa.

Pengaruh pada individu da di balik pertimbangan finansial semata, dengan tanaga kerja Chili “setelah terbiasa dengan serikat-serikat kerja yang terjamin (sebelum Pinochet)…(diubah) menjadi bangsa dengan individualis yang penuh kecemasan…(dengan) lebih dari setengah kunjungan ke sistem kesehatan publik Chili merupakan penyakit psikologis, terutama depresi. ‘Represi tidak besifat fisik lagi, melainkan ekonomi–memberi makan keluargamu, pendidikan anak-anakmu’, kata Maria Pena, yang bekerja di pabrik pengalengan ikan di Concepcion. ‘Saya mencemaskan masa depan”, tambahnya, “Mereka dapat menendang kami kapan saja. Anda tak dapat berpikir untuk lima tahun ke depan. Jika anda mendapatkan uang, anda akan mendapat pendidikan dan perawatan kesehatan: sekarang, uang adalah segalanya di sini.” (Duncan Green, Op.Cit., hal.96)

Maka tidak mengherankan apabila “penyesuian yang terjadi telah menyebabkan masyarakat yang teratomisasi, di mana peningkatan tekanan dan individualisme telah merusak kekuatan dan pemeliharaan kehidupan komunitas secara tradisional…angka bunuh diri telah meningkat tiga kali lipat antara tahun 1970 hingga 1991 dan jumlah alkoholik telah meningkat empat kali lipat dalam 30 tahun terakhir…(dan) kehancuran keluarga mengalami peningkatan, sementara pengumpulan pendapat menunjukkan gelombang kriminalitas saat ini sebagian besar merupakan aspek kesalahan kehidupan Chili baru. ‘Hubungan sedang berubah,’ ujar Betty, seorang pemimpin serikat dgang berusia 26 tahun. ‘Orang saling memanfaatkan sesamanya, dan hanya ada sedikit waktu untuk keluarganya. Yang dibicarakan hanyalah uang, barang-barang. Sekarang persahabatan sejati sulit ditemukan.’” (Ibid., hal.166)

Pelaksanaan kapitalisme pasar bebas juga memiliki pengaruh serius bagi lingkungan Chili. Ibu kota Santiago menjadi salah satu “kota yang paling terpolusi di dunia” berkaitan dengan kekuasaan bebas kekuatan pasar. (Nathanial Nash, disebutkan oleh Noam Chomsky, Year 501, hal.190) Tanpa regulasi lingkungan, terdapat kerusakan lingkungan yang besar dan cadangan air telah menghadapi beberapa masalah polusi. (Noam Chomsky, Ibid). Dengan sejumlah besar ahli negara yang didasarkan pada penyerapan habis-habisan dan pemrosesan sumber daya alam, eko sistem dan lingkungan telah dijarah demi keuntungan dan property. Menipisnya sumber daya alam, khususnya kehutanan dan perikanan, dipercepat dengan sikap yang mementingkan diri yang dimiliki beberapa firma besar yang mencari keuntungan dalam jangka pendek.

Setelah mengetahui semua itu, pengalaman Chili di bawah Pinochet dan “keajaiban ekonomi”nya menunjukkan bahwa biaya yang dibutuhkan dalam menciptakan rezim kapitalis pasar bebas sangt mahal, setidaknya bagi mayoritas penduduk. Masalah-masalah ini telah membuktikan sifatnya yang struktural dan abadi, bukan sekedar transisional, karena biaya sosial, lingkungan, ekonomi, dan politik tertanam dalam masyarakat. Sisi kelam dari “keajaiban” Chili tidak terefleksi dengan jelas dalam indikator-indikator makroekonomi yang mengesankan yang digunakan kapitalisme pasar bebas, indikator-indikator itu sendiri penuh dengan manipulasi, seperti yang telah kita lihat.

Sejak Chili menjadi (sangat) demokrasi (dengan angkatan besenjata yang masih memiliki pengaruh yang besar) beberapa gerakan menuju perbaikan ekonomi telah dimulai dan sangat sukses. Peningkatan pembiayan kesehatan, pendidikan dan pengentasan kemiskinan telah dilaksanakan sejak berakhirnya kediktatoran dan telah mengentaskan lebih dari satu juta orang Chili dari kemiskinan antara tahun 1987 hingga1992 (angka kemiskinan telah jatuh dari 44,6% di tahun 1987 menjadi 23,2% di tahun 1996, meski masih lebih tinggi dari angka kemiskinan di tahun 1970). Namun demikian, ketidaksetaraan msih tetap menjdi permasalahan uatama seperti halny peninggalan-peninggalan era Pinochet lainnya, seperti ketidakpastian pendapatan, kehancuran keluarga, alkoholisme, dll.

Chili telah meninggalkan model “pasar bebas” Pinochet dengan cara lain. Di tahun 1991, Chili memperkenalkan serangkaian kontrol terhadap modal, meliputi ketentuan untuk mendepositokan 30% dari semua modal non-keadilan yang memasuki Chili, tanpa bunga pada bank pusat selama satu tahun. Hal ini mensyaratkan–di sana dikenal sebagai encaje–sejumlah pajak pada arus modal, yang semakin tinggi modalnya, semakin singkat waktu peminjamannya.

Seperti yang ditunjukkan William Greider, Chili “telah mengelola dalam dekade terakhir untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang cepat dengan meninggalkan teori pasar bebas murni yang diajarkan oleh para ahli ekonomi Amerika dan berusaha menandingi elemen-elemen utama strategi Asia, termasuk penghematan ketat dan kontrol yang ditujukan terhadap modal. Pemerintah Chili memberitahu para investor asing di mana mereka dapat menanan investasinya, menjaga mereka agar tidak mencampuri aset finansial tertentu dan menghalangi mereka menarik modal mereka dengan cepat.” (One World, Ready or Not, hal.280)

Jadi Chili pada yang pasca Pinochet telah menyingkirkan kepercayaan terhadap pasar bebas, dalam banyak hal, juga mengalami sejumlah besar keberhasilan. Kaarena itu klaim para pembela pasar bebas bahwa pertumbuhan Chili yang cepat di tahun 1990 merupakan bukti untuk model mereka adalah keliru (seperti halnya klaim mereka mengenai Asia Tenggara yang juga terebukti keliru, klaim-klaim yang jelas dilupakan ketika perekonomian mereka mengalami krisis). Tak perlu dikatakan, Chili di bawah tekanan untuk mengubah caranya dan menyesuaikan deri dengan dikte finansial global, Pada tahun 1998, Chili mengahapuskan kontrolnya, akibat tekanan spekulatif yang berat pada mata uangnya, Peso.

Jadi bahkan harimau neo liberal telah harus beranjak dari pendekatan pasar bebas yang murni pada isu-isu sosial dan pemerintah Chili harus melakukan intervensi dalam perekonomian untuk mulai bersama-sama menyatukan masyarakan yang terpecah akibat kekuatan pasar dan pemerintahan yang otoriter.

Jadi, bagi semua pihak kecuali sejumlah kecil elit di papan atas, rezim Pinochet “kebebasan ekonomi” merupakan sebuah mimpi buruk. “Kebebasan” ekonomi hanya tampak menguntungkan satu kelompok saja dalam masyarakat, sebuah “keajaiban” yang nyata. Bagi mayorittas penduduk, “keajaiban” dalam “kebebasan” ekonomi mengakibatkan, seperti biasanya, semkin tingginy angka kemiskinan, polusi, kriminalitas, dan alienasi sosil. Ironisnya, bnyak “libertarian” sayap kanan menunjukkan sebagai sebuah model dari keuntungan pasar bebas.

C.11.1 Namun tidakkah Chili pada masa Pinochet membuktikan bahwa “kebebasan ekonomi merupakan alat yang sangat diperlukan untuk mencapai kebebasanpolitik”?

Pinochet memang memperkenalkan kapitalisme pasar bebas, namun ini hanya berarti kebebasan bagi si kaya. Bagi kelas pekerja, “kebebasan ekonomi” tidak ada, karena mereka tidak mengelola pekerjaan mereka sendiri maupun mengkontrol tempat kerja mereka serta hidup di bawah negara fasis.

Kebebasan untuk melakukan aksi ekonomi (tanpa politik) dalam bentuk-bentuk mendirikan serikat, melakukan pemogokan, mengorganisir agar bekerja lambat, dll sangat dibatasi oleh ancaman represi. Tentu saja, para pendukung “keajaiban” Chili dan “kebebasan ekonomi”nya tidak memikirkan pertanyaan mengenai bagaimana tekanan kebebasan politik memperngaruhi perekonomian, atau bagaimana orang bertindak di dalamnya. Mereka mempertahankan pendapat bahwa represi dalam kerja, pasukan penumpas, ketakutan yang diberikan kepada pekerja yang berontak, dapat saja diabaikan. Namun dalam dunia nyata, orang akan lebih mampu bertahan jika mereka dihadapkan dengan sepucuk senapan daripada jika mereka tidak.

Klaim bahwa “kebebasan ekonomi” ada di Chili masuk akal hanya jika kita mengingat bahwa hanya ada satu kebebasan riil bagi satu kelas. Para majikan mungkin “tidak mempermasalahkannya” namun tidak demikian bagi pekerja, kecuali jika mereka tunduk pada penguasa (kapitalis atau negara) Tidak seperti apa yang diistilahkan sebagian besar orang sebagai “kebebasan”.

Sepanjang pemberlakuannya, kebebasan politik hanya kembali diperkenalkan setelah diyakini bahwa kebebasan tersebut tidak digunakan oleh rakyat biasa. Seperti catatan Cathy Scheider, “kebebasan ekonomi” membuat sebagian besar warga Chili:

“melakukan sedikit kontak dengan pekerja lain atau tetangga mereka, dan hanya memiliki waktu terbatas untuk keluarga mereka. Keterlibatan mereka dalam organisasi buruh atau politik adalah minimal…mereka kekurangan sumber daya politik atau keberanian melawan negara. Fragmentasi komunitas oposisi telah melakukan apa yang tak dapat dilakukan represi militer yang brutal. Fragmentasi tersebut telah mengubah Chili, baik secara kultural maupun politis, dari sebuah negara yang memiliki komunitas akar rumput yang partisipatoris aktif, menjadi negeri dengan individu-individu yang apolitis dan terasing. Pengaruh kumulatif dari perubahan ini sedemikian rupa sehingga kita tak mungkin melihat adanya perubahan dalam ideologi saat ini dalam waktu dekat.” [Report on the Americas, (NACLA) XXVI, 4/4/93]

Dalam keadaan seperti ini kebebasan politik dapat diperkenalkan kembali, karena tak seorang pun yang berada dalam posisi yang efektif untuk menggunakannya. Tambahan lagi, rakyat Chili hidup dengan kenangan bahwa menentang negara, seperti di waktu sebelumnya, menyebabkan terbunuhnya ribuan orang oleh kediktaktoran fasis dan juga pengulangan serta pelanggaran HAM terus-menerus oleh junta, belum lagi kehadiran pasukan penumpas “anti Marxis”–contohnya di tahun 1986 “Amnesti Internasional menuduh pemerintah Chili mempekerjakan pasukan penumpas.” (P.Gunson, A.Thompson, G.Chamberlain, op.cit., hal. 86) Meenurut salah satu kelompok HAM, rejim Pinochet bertanggung jawab atas 11.536 pelanggaran HAM yang terjadi antara 1984-1988. (Kalkulasi dari “Comite Nacional de Defensa do los Derechos del Pueblo”, dilaporkan dalam Fortin, 23 September 1988)

Fakta-fakta ini memiliki efek pencegahan sangat kuat pada orang-orang yang bermaksud menggunakan kebebasan politik untuk mengubah status quo dengan cara-cara yang tidak disetujui para elit ekonomi dan militer. Tambahan lagi, fakta-fakta tersebut juga menjadikan mimbar bebas, pemogokan, dan bentuk-bentuk aksi sosial lainnya sebagai sesuatu yang tak mungkin, sehingga melindungi dan meningkatkan kekuatan, kekayaan, serta kekuasaan majikan terhadap budak upahan mereka. Klaim bahwa rejim seperti itu didasarkan pada “kebebasan ekonomi” memberikan gambaran bahwa orang-orang yang membuat klaim tersebut tidak memiliki bayangan mengenai apa sebenarnya kebebasan itu.

Seperti yang dijelaskan Kropotkin bertahun-tahun yang lalu, “kebebasan pers … dan lainnya hanya dihargai jika rakyat tidak menggunakannya untuk melawan kelas berkuasa. Namun ketika rakyat mulai menggunakannya untuk merusak kekuasaan tersebut, maka yang disebut kebebasan akan disingkirkan.” (Words of a Rebel, hal 42) Chili merupakan contoh klasik untuk hal ini.

Terlebih lagi, Chili pasca Pinochet bukanlah model “demokrasi” yang kamu anut. Pinochet adalah senator seumur hidup, dan ia telah menunjuk 1/3 anggota senat (yang memiliki kekuasaan veto– dan kehendak untuk menggunakannya– untuk menghentikan usaha-usaha menuju perubahan yang tidak disukai militer). Sebagai tambahan, ancaman intervensi militer selalu ada di garis depan dalam pembicaraan politik. Hal ini terlihat di tahun 1988, ketika Pinochet tertangkap di Inggris berkenaan dengan surat tuntutan yang dikeluarkan Pengadilan Spanyol atas pembunuhan warga negara Spanyol selama rezimnya berkuasa. Para komentator, khususnya kaum kanan, menekankan bahwa penangkapan Pinochet dapat merusak “demokrasi Chili yang rentan” dengan membangkitkan kemarahan militer. Dengan kata lain, Chili hanya menjalankan demokrasi jika militer mengijinkannya. Tentu saja, hanya sedikit komentator yang mengakui fakta bahwa Chili, pada kenyataannya, tidaklah demokratis. Tak perlu dikatakan, Milton Friedman menganggap Chili saat ini memiliki “kebebasan politik”.

Menarik untuk dicatat bahwa pakar dalam “keajaiban ekonomi” Chili (menggunakan istilah Milton Friedman) tidak menganggap bahwa kebebasan politik dapat membawa “kebebasan ekonomi” (yaitu kapitalisme pasar bebas). Menurut Sergio de Castro, arsitek program ekonomi yang dijalankan Pinochet, fasisme dibutuhkan untuk memperkenalkan “kebebasan ekonomi” karena:

“Fasisme memberikan rejim yang kekal; memberikan penguasa tingkat efisiensi yang tak mungkin didapat dalam rejim demokratis; dan memungkinkan aplikasi model yang dikembangkan oleh para pakar serta tidak tergantung pada reaksi sosial sebagai akibat dari implementasinya.” [dikutip oleh Silvia Bortzutzky, “The Chicago Boys, Social Security and Welfare in Chile”, The Radical Right and the Welfare State, Howard Glennerster dan James Midgley (eds.), hal 90]

Dengan kata lain, fasisme merupakan lingkungan politik yang ideal untuk memperkenalkan “kebebasan ekonomi” karena menghancurkan kebebasan politik. Barangkali kita perlu membuat konklusi bahwa pengingkaran kebebasan politik merupakan  sesuatu yang diperlukan untuk menciptakan (dan memelihara) kapitalisme “pasar bebas”. Dan barangkali penciptaan negara polisi untuk mengontrol pertikaian industrial, protes sosial, serikat-serikat, asosiasi politik, dll, tidak lebih dari sekedar memperkenalkan kekuatan minimum yang dibutuhkan untuk memastikan pelaksanaan peraturan dasar yang dibutuhkan pasar kapitalis untuk operasionalisasinya.

Seperti pendapat Brian Barry dalam hubungannya dengan rejim Thatcher di Inggris yang juga sangat dipengaruhi oleh gagasan kapitalis pasar bebas seperti Milton Friedman dan Frederick von Hayek, barangkali seperti ini:

“Beberapa pengamat mengklaim telah menemukan suatu fakta yang paradoks bahwa rejim Thatcher mengkombinasikan retorika individualis liberal dengan aksi otoriter. Namun, tak ada yang paradoks. Bahkan di bawah kondisi yang paling represif… rakyat berusaha bertindak secara kolektif untuk memperbaiki segala sesuatu dengan bersama-sama, sehingga dibutuhkan penggunaan kekuatan yang brutal untuk memecah belah usaha-usaha organisasi ini dan untuk memaksa orang mengejar kepentingan individualnya… jika dibiarkan saja, rakyat secara tak terelakkan akan cenderung mengejar kepentingannya melalui aksi kolektif — dalam serikat dagang, asosiasi penyewa, organisasi komunitas, dan pemerintah lokal. Hanya penggunaan kekuatan sentral yang sangat kejam yang mampu menaklukkan kecenderungan ini: oleh sebab itu, asosiasi rakyat di antara individualisme dan otoritarianisme ditunjukkan secara tepat dengan fakta bahwa negara-negara yang dijadikan model oleh para pendukung pasar bebas, tanpa pengecualian, merupakan rejim otoriter”. (“The Continuing Relevance of Socialism”, dalam Thatcherism, diedit oleh Robert Skidelsky, hal.146).

Maka tidak mengherankan jika rejim Pinochet ditandai oleh otoritarianisme, teror, dan peraturan yang dibuat para cendekiawan. Tentu saja, “Para ahli ekonomi yang mendapat pelatihan di Chicago menekankan sifat ilmiah dari program-program mereka dan kebutuhan untuk menggantikan politik dengan ekonomi dan politisi dengan ahli ekonomi. Jadi, keputusan yang dibuat bukan merupakan hasil dari kehendak penguasa, melainkan ditentukan oleh pengetahuan ilmiah mereka. Penggunaan pengetahuan ilmiah, pada akhirnya, akan mengurangi kekuasaan pemerintah karena keputusan akan dibuat para tekhnokrat dan individu dalam sektor swasta.” (Silvia Bortzutzky, Op.Cit., hal.90)

Tentu saja, penyerahan kekuasaan kepada para tekhnokrat dan swasta tidak mengubah sifatnya–hanya mengganti pemiliknya. Pada masa rezim Pinochet terjadi pergeseran kekuasaan pemerintahan yang ditandai dengan pergeseran proteksi hak individual menjadi proteksi terhadap modal dan property, dan bukan abolisi kekuasaan seluruhnya. Seperti yang diperkirakan, hanya kaum kaya yang mendapat keuntungan. Kelas pekerja patuh kepada usaha-usaha untuk menciptakan “pasar tenaga kerja yang sempurna”-dan hanya teror yang dapat mengubah manusia menjadi komoditi yang teratomisasi seperti yang dibutuhkan pasar.

Mungkin, ketika mengamati mimpi buruk yang ditimbulkan rezim Pinochet, ada baiknya kita merenungkan kata-kata Bakunin yang menunjukkan efek negatif dalam menjalankan masyarakat dengan menggunakan buku-buku pengetahuan dan “para pakar”:

“Ilmu manusia selalu memiliki ketidaksempurnaan…jika kita memaksakan kehidupan praktek manusia –kolektif dan juga individual– ke dalam konformitas ekslusif dan lebih detail yang sesuai dengan data terakhir ilmu pengetahuan, maka kita akan mengutuk masyarakat dan juga individual untuk menjadi martir pada ranjang Procrustean, yang dengan segera mengenyampingkan dan melumpuhkan mereka, karena hidup selalu merupakan sesuatu yang tak terbatas lebih dari ilmu pengetahuan”. (The Political Philosophy of Bakunin, hal.79)

Pengalaman rakyat Chili dalam kekuasaan ideologi pasar bebas membuktikan kebenaran pendapat Baakunin tanpa ragu lagi. Masyarakat Chili dipaksa masuk ke dalam ranjang procrustean dengan menggunakan teror, dan kehidupan mereka dipaksa sesuai dengan asumsi yang terdapat dalam buku-buku ekonomi. Dan seperti yang kita buktikan dalam bagian terakhir, hanya orang-orang yang memiliki kekayaan atau kekuasaan yang mampu keluar dari kondisi ini.