B.5 Apakah kapitalisme memberdayakan dan didasarkan tindakan manusiawi?

Reading Time: 7 minutes

[sc:afaq1]

B.5 Apakah kapitalisme memberdayakan dan didasarkan tindakan manusiawi?

[toc]

Sebuah elemen kunci visi sosial yang dikemukakan kapitalisme, khususnya kapitalisme “libeertarian”, yaitu “pemilihan” dari “pelanggan”, yang akan dibandingkan dengan pemilihan politis yang dilakukan “warga negara”. Menurut Milton Friedman, “ketika anda memilih di supermarket, anda mendapatkan dengan tepat apa yang anda pilih, begitu juga orang lain”. “Pemilihan” berdasarkan isi kantong kemudian dinyatakan sebagai contoh “kebebasan” manusia yang luar biasa untuk menikmati kondisi di bawah kapitalisme (berbeda dengan “sosialisme”, namun selalu disamakan oleh orang-orang sayap kanan dengan sosialisme negara. Hal ini akan dibicarakan dalam bagian H). Namun, dalam mengeevaluasi pernyataan ini, perbedaan antara pelanggan dan warga negara bersifat kritis.

Pelanggan memilih produk-produk yang ada di rak yang telah didesain dan dibangun oleh pihak lain untuk mendapatkan keuntungan. Pelanggan merupakan pemakai terakhir, secara esensial lebih merupakan penonton daripada pelaku, yang hanya memilih pilihan-pilihan yang dibuat oleh orang lain di tempat berbeda. Karena itu pembuatan keputusan pasar secara fundamental bersifat pasif dan reaksioner, yaitu didasarkan pada reaksi teerhadap perkembangan yang diwali oleh orang lain. Sebaliknya, warga negara” secara aktif terlibat, setidaknya secara ideal, pada semua tahap dalam proses pembuatan keputusan, baik secara langsung maupun melalui wakil yang dipiilih. Karena itu, dengan adanya pengaturan yang terdesentralisasi dan demokratis partisiptoris, pembuatan keeputusan oleh warga negara dapaat bersifat proaktif, berdasarkan pada tindakan manusiawi, dan dalam tindakan trsebut seseorang mengambil inisiatif dan menyiapkan agendanya sendiri. Tentu saja, sebagian besar pendukung model “warga negara” ini mendukungnya justru karena model tersebut secara aktif melibatkan individu untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan sosial, sehingga menciptakan suatu aspek edukasional proses tersebut dan mengembangkan kemampuan serta kekuatan orang-orang yang terlibat.

Tambahan lagi, kekuatan konsumen tidak didistribusikan secara merata dalam masyarakat. Sehingga pernyataan “pemilihan” ketika digunakan dalam konteks pasar menunjukkan gagasan yang benar-benar berbeda dari yang umumnya diasosiasikan oleeh orang-orang. Dalam pemilihan politis, setiap orang memiliki satu suara, sedangkan di pasar satu dollar untuk satu suara. Demokrasi macam apa itu, yang memberikan seseorang suara yang lebih besar dari puluhan ribu orang lain?

Karena itu gagasan “pelanggan” tersebut gagal, mengingat perbedaan kekuatan yang ada dalam pasar juga memberikan peran yang pada dasarnya bersifat pasif kepada individu. Paling banter, mereka dapat melakukan sesuatu di pasar, selaku individu yang terisolasi,  berdasarkan daya beli mereka. Namun, kondisi semacam itu merupakan bagian dari masalah tersebut karena, seperti pendapat E.F Schumacher, “pembeli pada dasarnya merupakan seorang pemburu penewaran; ia tidak memperhatikan asal barang aatau kondisi saat barang tersebut diproduksi. Perhatiannya semata-mata adalah mencapai nilai terbaik untuk uang.” Ia mencatat bahwa pasar “karena itu, hanya menghargai sisi luar masyarakat dan signifikansinya berhubungan dengan situasi sementara karena ia ada di sana kemudia. Tak ada pemeriksaan terhadap pemahaman sesuatu, terhadap sifat atau fakta sosial yang berada di dalamnya.” (Small is Beautiful, hal. 29)

Tentu saja, model “pelanggan” benar-benar bekerja melawan usaha apapun untuk “menyelidiki” fakta mengenai benda-benda tersebut. Pertama, pelanggan jarang mengetahui pentingnya atau implikasi barang yang diterima karena mekanisme harga menyembunyikan informasi tersebut dari mereka. Kedua, karena sifat atomik pasar mempersulit pembahasan mengenai “mengapa” dan “bagaimana” produksi –kita harus memilih dari antara bermacam-macam “apa”. Daripada mengevaluasi secara kritis pro dan kontra praktek ekonomi, semua yang kita terima adalah pilihan dari memilih hal-hal yang telah diproduksi. Kita hanya mampu memberikan reaksi ktika kerusakan telah terjadi dengan memilih pilihan yang paling tak merusak (seringkali kita malah tidak memiliki pilihan tersebut). Dan untuk menemukan pengaruh ekologis dan sosial produk tertentu, kita harus berperan pro-aktif dengan bergabung dalam sebuah kelompok yang memberikan jenis informasi ini (informasi yang tidak dan tak dapat diberikan pasar meski esensial bagi keputusan rasional)

Terleebih lagi, model “konsumer” gagal mengenali bahwa keputusan yang kita buat di pasar untuk memuaskan “keinginan” kita ditentukan oleh kekuatan sosial dan pasar. Apa yang mampu kita inginkan terkait dengan bentuk-bentuk organisasi sosial tempat kita berada. Contohnya, orang memilih membeli mobil karena General Motors membeli dan merusak jaringan trem pada tahun 1930 dan orang-orang membeli “fast food” karena mereka tak punya waktu untuk memasak gara-gara bertambahnya jam kerja. Artinya, keputusan kita di dalam pasar seringkali dibatasi oleh tekanan ekonomi. Contohnya, pasar memaksa firma-firma, melalui ancaman kebangkrutan, untuk melakukan apapun yang mungkin untuk mengefektifkan biaya. Firma-firma yang melakukan pencemaran,  memiliki kondisi kerja yang buruk, seringkali mendaapatkan keuntungan yang kompetitif sehingga firma-firma lainnya harus menyesuaikan atau tersingkir. “Persaingan sampai ketingkat dasar” mengakibatkan individu membuat “keputusan yang berbahaya” hanya untuk bertahan hidup. Dengan kata lain, komitmen individu atas nilai-nilai tertentu, mungkin menjadi tidak relevan karena tekanan perekonomian yang menentang keseimbangan terlalu kuat (tak heran jika Robert Owen berpendapat bahwa motif keuntungan merupakan “sebuah prinsip yang benar-benar tidak mendukung kebahagiaan individu dan publik”).

Dan tentu saja, pasar juga tidak, serta tak dapat, menyulap barang-barang yang tak kita inginkan, dalam kapasitas kita sebagai konsumen, hanya karena ingin melindungi generasi mendatang atau karena alasan ekologis. Dengan membuat ketergantungan perlindungan untuk planet ini, ekosistem, dan “benda-benda” semacam itu pada pasar, kapitalisme memastikan bahwa selain kita meletakkan uang di dalam mulut, kita tidak memiliki suara dalam perlindungan terhadap benda-bnda tersebut seperti ekosistem, tempat-tempat bersejarah, dll. Kebutuhan untuk melindungi “sumber-sumber” semacam itu dalam jangka panjang diabaikan demi mendukung kepentingan jangka pendek — tentu saja jika kita tidak “mengkonsumsi” produk-produk semacam itu saat ini, sumber-sumber tadi tak akan demikian esok hari. Berada dalam masyarakat dengan mayoritas orang yang seringkali menghadapi kesulitan mencapai tujuannya, memiliki arti bahwa kapitalisme tak pernah dapat memberikan barang-barang yang kita inginkan sebagai manusia (baik untuk orang lain maupun generasi mendatang atau hanya untuk melindungi planet) selain hanya memberikan pengaruh buruk atau gairah sebagai konsumen.

Hal tersebut merupakan tanda yaang jelas dari peningkatan kekuasaan ideologi kapitalis bahwa model “pelanggan “ tersebut sedang ditransfer ke dalam arena politik. Hal ini merefleksikan kenyataan bahwa peningkatan skala institusi politis telah memperkuat tendensi,  yang telah dituliskan di atas, para pemilih untuk menjadi penonton pasif, menempatkan “dukungan” dibelakang seseorang atau “produk” lain (yaitu partai atau pemimpin). Seperti komentar Murray Bookchin, “warga negara yang terdidik dan berpengetahuan direduksi menjadi sekedar pembayar pajak yang menukarkan uang untuk ‘pelayanan’” (Remaking Society, hal.71). Pada kenyataannya, berkaitan dengan sentralisme negara, hal ini mengubah proses politik ke dalam suatu perluasan pasar, dengan pereduksian “warga negara” menjadi “konsumen”. Atau, dalam analisis yang tepat dari Erich Fromm, “penggunaan perlengkapan politis dalam sebuah negara demokratis pada dasarnya berbeda dengan prosedur yang ada dalam pasar komoditas. Partai-partai politik tidak terlalu berbeda dari perusahaan komersial yang besar, dan politisi profesional mencoba menjual opini mereka kepada publik.” (The Sane Society, hal. 186-187)

Tetapi apakah itu masalahnya? Freidman berpendapat bahwa menjadi konsumen lebih baik daripada menjadi warga negara karena kamu meendapatkan “secara tepat” apa yang kamu, serta orang lain, inginkan.

Di sini, yang menjadi pertanyaan kunci adaah apakah orang selalu mendapatkan apa yang diinginkan ketika berbelanja. Apakah konsumen yang membeli kertas koran putih dan kertas toilet benar-benar menginginkan berton-ton dioksin dan zat klorida lainnya di sungai-sungai, danau, dan pantai? Apakah konsumen yang membeli mobil benar-benar menginginkan kemacetan lalu lintas, polusi udara, jalan raya yang menggangu pemandangan dan efek rumah kaca? Dan bagaimana dengan orang-orang yang tidak membeli barang-barang tersebut? Mereka juga terpengaruh oleh keputusan pihak lain. Pendapat bahwa hanya konsumenlah yang dipengaruhi oleh keputusannya adalah omong kosong– seperti hasrat kekanak-kanakan untuk mendapatkan “dengan tepat” apa yang kamu inginkan, dengan mengabaikan pengaruh sosial.

Barang kali Friedman dapat menyatakan bahwa ketika kita mengkonsumsi, kita juga menyetujui pengaruhnya. Namun ketika kita “memilih” sesuatu di pasar, kita tak dapat mengatakan bahwa kita menyetujui polusi yang dihasilkan (atau distribusi pendapatan atau kekuasaan) karena hal tersebut bukanlah suatu pilihan yang diberikan. Perubahan semacam itu ditegaskan sebelumnya atau merupakan suatu akibat keseluruhan dan hanya bisa dipilih melalui  keputusan kolektif. Dengan cara ini, kita dapat memodifikasi akibat-akibat yang kita timbulkan seecara individual namun merugikan secaralkolektif. Dan tak seperti pasar, dalam politik kita dapat berubah pikiran dan kembali pada keadaan sebelumnya,  apabila terjadi kesalahan. Pilihan seperti itu tak ada dalam pasar.

Jadi pernyataan Friedman bahwa dalam pemilihan “kamu mendapatkan sesuatu yang berbeda dari tujuan kamu memilihnya” benar-benar dapat diterapkan dalam pasar.

Penilaian ini mengindikasikan bahwa model “konsumen” sedikit terbatas (sebetulnya!). Malah kita perlu mengakui pentingnya model “warga negara”, yang kita anggap meliputi model “konsumen” di dalamnya. Dengan berperan sebagai anggota yang aktif dalam komunitas tidak menunjukkan secara nyata bahwa kita berhenti membuat pilihan-pilihan konsumsi individual dari antara yang ada, semua yang dilakukan secara potensial memperkaya pilihan-pilihan yang ada dengan menggantikan pilihan-pilihan yang buruk (seperti ekologi atau keuntungan, barang murah ataau hak pekerja, keluarga atau karir).

Sebagai tambahan kita harus tekankan perannya dalam mengembangkan orang-orang yang mempraktekkan model “warga negara” dan bagaimana model tersebut dapat memperkaya kehidupan personal dan sosial kita. Dengan aktif di dalam institusi-institusi partisipatoris menumbuhkembangkan jenis karakter yang aktif dan “bersemangat publik”.  Warga negara, karena membuat keputusan-keputusan kolektif, harus menghimpit kepentingan orang lain dan juga kepentingan dirinya serta juga mempertimbangkan pengaruhnya pada diri sendiri, orang lain, masyarakat dan lingkungan dari keputusan yang mungkin diambil. Dengan sifatnya itu, model tersebut merupakan proses edukatif, dan melalui pengembangan kemampuan kritis serta perluasan definisi mereka mengenai kepentingan diri, memberi banyak keuntungan dengan mempertimbangkan posisi mereka sebagai bagian dari masyarakat dan ekosistem serta juga sebagai individu. Model “konsumen”, dengan kepasifan dan orintasinya yang secara eklusif tertuju pada pribadi/uang mengembangkan kemampuan sedikit orang dan mempersempit kepentingan diri mereka menuju tingkat aksi “rasional” mereka yang dapat benar-benar dicapai (secara langsung).

Seperti pendapat Noam Chomsky, “saat ini disadari secara luas bahwa “eksternalitas” pakar ekonomi tak dapat lagi dimasukkan ke dalam catatan kaki. Tak seorang pun, yang memberikan sedikit perhatian untuk permasalahan masyarakat kontemporer ini, dapat menyadari ongkos sosial dari konsumsi dan produksi, kerusakan lingkungan yang sangat cepat, irrasionalitas, penggunaan teknologi kontemporer, ketidakmampuan sistem yang didasarkan pada keuntungan atau maximalisasi pertumbuhan untuk memenuhi kebutuhan yang hanya dapat diekspresikan secara kolektif, dan bias yang sangat besar dari sistem ini yang memaksakan maksimalisasi komoditas untuk penggunaan secara personal sebagai pengganti perbaikan umum kualitas hidup…” (Radical Priorities, hal 223)

Jadi model “warga negara” menempatkan kenyataan bahwa sejumlah keputusan individu yang sifatnya rasional mungkin tidak menghasilkan akibat kolektif yang rasional (yang, harus kita tambahkan, merugikan individu yang terlibat dan juga bertindak melawan kepentingan diri mereka sendiri). Melalui proses diskusi dan dialog diciptakan standar sosial yang efektif dalam bidang-bidang tertentu di mana model konsumen yang mengalami atomisasi tidak memiliki kekuatan untuk melakukan perubahan sosial yang konstruktif. Standar sosial teersebut tak mempermasalahkan perlindungan  individu dari “kesepakatan” atas “keputusan yang berbahaya” yang membiarkan mereka dan masyarakat dalam suatu kesatuan yang memburuk (lihat juga bagian E.4 dan E.5).

Hal ini bukan dimaksudkan bahwa kaum anarkis ingin menghapuskan pembuatan keputusan individu, bukan demikian. Sebuah masyarakat anarkis akan didasarkan pada pembuatan keputusan individu mengenai apa yang ingin meeka konsumsi, di mana mereka ingin bekerja, pekerjaan macam apa yang ingin mereka lakukan, dan lain-lain. Jadi tujuan model “warga negara” bukanlah “menggantikan” model “konsumen”, melainkan hanya untuk memperbaiki lingkungan sosial, tempat kita membuat keputusan konsumsi individu kita. Apa yang diinginkan model “warga negara” dalam tindakan manusia adalah menempatkan keputusan-keputusan semacam itu dalam kerangka kerja sosial, yang mengijinkan seseorang untuk turut ambil bagian secara aktif dalam memperbaiki kualitas hidup bagi kita semua dengan memindahkan “pilihan-pilihan Hobson” sejauh mungkin.