A.3 Apa saja macam anarkisme?

[sc:afaq1]

A.3 Apa saja macam anarkisme?

[toc]

Kaum anarkis, meski memiliki beberapa pemikiran kunci yang sama, dapat dikelompokkan ke dalam kategori, tergantung pada tatanan ekonomi yang mereka anggap paling sesuai bagi kebebasan manusia. Namun demikian semua jenis anrkis memiliki sebuah pendekatan dasar. Menguti kata-kata Rudolf Rocker:

“Bersama dengan pendiri sosialisme, kaum anarkis menuntut menghapusan semua monopoli ekonomi serta kepemilikan bersama atas tanah dan semua sarana produksi lainnya, yang harus dimanfaatka oleh semua tanpa pembedaan; karena kebebasan sosial dan personal hanya dapat dipahami pada dasar keuntungan ekonomi yang setara bagi setiap orang. Dalam gerakan sosialis sendiri kaum anarkis menunjukkan susut pandang bahwa perang melawan kapitalisme harus bersamaan juga berperang melawan semua institusi kekuasaan politis, karena dalam sejarah, eksploitasi ekonomi selalu bekerja sama dengan penindasan sosial politik. Eksploitasi dan dominasi orang terhadap sesamanya tidak dapat dipisahkan, dan masing-masing saling mengkondisikan.” (Anarcho Syndicalism, hal 17-18)

Berikut ini merupakan konteks umum yang menjadi ketidaksepakatan kaum anarkis. Perbedaan utama berada di antara kaum anarkis “individualis” dan “sosial”, meskipun keinginan tatanan ekonomi masing-masing tidaklah eksklusif. Yang kedua, kaum anarkis sosial (anarkis komunis, sindikalis anarko, dan lain-lain) selalu menjadi mayoritas, dengan anarkisme individualis yang hanya terbatas di Amerika Serikat. Dalam bagian ini kami menunjukkan perbedaan di antara kedua aliran utama ini dalam gerakan anarkis. Seperti yang telah dijelaskan, meski kaum anarkis sosial dan individualis sama-sama melawan negara dan kapitalisme, mereka tidak sepakat mengenai situasi masyarakat bebas (dan bagaimana untuk mencapainya). Singkatnya, kaum anarkis sosial, lebih menyukai solusi komunal terhadap masala sosial dan visi komunal bagi masyarakat yang baik (contohnya masyarakat yang memprotes dan mendorong kebebasan individu). Kaum anarkis individualis, seperti namanya, lebih menyukai solusi individu dan memiliki visi yang lebih individualistis mengenai masyarakat yang baik. Namun, kita tidak boleh membiarkan perbedaan-perbedaan ini menutupi tujuan bersama oleh kedua aliran ini, yaitu keinginan untuk memaksimalkan kebebasan individu dan mengakhiri dominasi serta eksploitasi negara dan kapitalis.

Lagipula untuk ketidaksepakatan utama ini, kaum aanrkis juga tidak tidak sepakat dalam isu-isu seperti sindikalisme, pasifisme, “life-stylism”, hak binatang dan sekian banyak pemikiran lain, namun hal ini, meski penting, hanya merupakan aspek-aspek anarkisme yang berbeda. Di luar beberapa pemikiran kunci, gerakan kaum anarkis (seperti halnya hidup itu sendiri) berada dalam keadaan yang konstan dari perubahan, diskusi dan pemikiran–seperti yang diharapkan dalam sebuah gerakan yang menghargai kebebasan dengan begitu tinggi.

Terus terang, para penulis FAQ ini menempatkan dirinya dalam aliran “sosial” anarkisme. Bukan berarti kita mengabaikan banyak pemikiran penting yang berhubungan dengan anarkisme individualis, hanya kita berpikir bahwa anarkisme sosial lebih tepat bagi masyarakat modern, yang menciptakan dasar yang lebih kuat bagi kebebsaan individu, dan bahwa merefleksikan sedikit lebih dekat dengan masyarakat yang kita inginkan.

A.3.1 Apa perbedaan antara kaum anarkis sosial dan individualis?

Meski terdapat tendensi bagi individu di kedua kubu untuk mengklaim bahwa anjuran kelompok lain akan membawa penciptaan beberapa jenis negara, perbedaan antaar kaum anarkis individualis dan sosialis tidaklah terlalu besar. Kedua-duanya sama-sama anti negara, anti kekuasaan, dan anti kapitalis. Perbedaan besar mereka hanya dua.

Pertama mengenai sarana aksi sekarang dan saat ini (demikian juga tata cara di dalam anarki). Kaum individualis lebih menyukai pendidikan dan penciptaan institusi alternatif, seperti bank bersama, serikat, komune, dan lain-lain. Mereka biasanya mendukung pemogokan    dan betuk-bentuk protes sosial tanpa kekerasan lainnya (seperti mogok sewa, tidak membayar pajak, dan lain-lain). Aktivitas semacam itu, menurut pendapat mereka, akan memastikan bahwa masyarakat sekarang ini akan bertahap mendorong pemerintah ke bentuk anarki. Mereka benar-benar evolusionis, bukan revolusionis, dan tidak menyukai penggunaan aksi langsung kaum anarkis sosial untuk menciptakan revolusi, Mereka menganggap revolusi sebagai sebuah kontradiksi di dalam prinsip-prinsip kaum anarkis karena meliputi pengambil-alihan kapitalis dan karenanya, juga sarana otoriterian. Mereka lebih suka berusaha mengembalikan kepada masyarakat kesejahteraan yang diambil melalui kepemilikan sarana sistem ekonomi alternatif, yang baru (berdasarkan bank-bank bersama dan kooperasi). Dalam cara ini, “likuidasi sosial” yang umum akan mudah terjadi, dengan anarkisme yang terjadi melalui perbaikan dan bukan pengambilalihan.

Sebagian besar kaum anarkis sosial mengakui kebutuhan akan pendidikan dan menciptakan alternatif-alternatif (seperti serikat liberal), namun sebagian besar tidak sepakat bahwa itu saja sudah cukup. Mereka tidak berpikir kapitalisme dapat diperbaiki sedikit demi sedikit menuju anarki, meski mereka juga tidak mengabaikan pentingnya perbaikan melalui perjuangan sosial yang meningkatkan kecenderungan liberal dalam kapitalisme. Mereka juga tidak berpikir bahwa revolusi kontradiksi dengan prinsip-prinsip kaum anarkis karena tidak otoriter ketika menghancurkan kekuasaan (baik negara maupun kapitalis). Jadi, pengambilalihan terhadap kelas kapitalis dan destruksi terhadap negara melalui revolusi sosial adalah adalah liberal, bukan otoriter, sesuai dengan sifatnya karena ditujukan melawan mereka yang memerintah dan mengeksploitasi mayoritas. Singkatnya, kaum anarkis sosial biasanya evolusionis sekaligus revolusionis, mencoba memperkuat kecenderungan liberal dalam kapitalisme sembari mencoba menghancurkan sistem tersebut melalui revolusi sosial. Namun, karena beberapa anarkis sosial juga evolusionis, perbedaan ini bukanlah yang terpenting dalam pemisahan antara kaum anarkis sosial dari individualis.

Perbedaan utama yang kedua terfokus pada bentuk ekonomi kaum yang dikemukakan  anarkis. Kaum anarkis individualis lebih menyukai sistem distribusi  yang berdasarkan pasar sedangkan kaum anarkis sosial lebih menyukai sistem yang berdasarkan kebutuhan. Keduanya sepakat bahwa sistem hak milik kapitalis sekarang ini harus dihapuskan dan hak milik terhadap sarana kehidupan harus digantikan dengan hak pakai (contohnya penghapusan sewa, suku bunga, dan keuntungan–”laba”, dengan menggunakan term yang disukai kaum anarkis individualis untuk menyebut trinitas yang keterlaluan tersebut). Akibatnya kedua aliran mengikuti karya klasik Proudhon yang berjudul What Is Property? dan berpendapat bahwa dalam masyarakat bebas, hak peggunaan barang harus menggantikan properti (lihat bagian B.3 untuk pembahasan sudut pandang kaum anarkis mengenai hak kepemilikan).

Namun demikian dalam kerangka kerja hak pakai, kedua aliran anarkisme ini menegmukakan sistem yang berbeda. Kaum anarkis sosial pada umumnya berpendapat mengenai kepemilikan dan penggunaan komunal (sosial). Hal semacam ini akan melibatkan kepemilikan sosial dalam sarana produksi dan distribusi, dengan hak kuasa personal atas barang yang dipakainya, tapi bukan untuk membuatnya (“Jam tanganmu adalah milikmu, namun pabrik pembuatan jam tangan milik semua orang.” [Alexander Berkman, The ABC of Anarchism, hal. 68]) “Penggunaan sesungguhnya,” pendapat Berkman, “akan diangap sebagai satu-satunya hak– bukan kepemilikan melainkan hak menggunakan. Organisasi para buruh tambang batu bara, sebagai contoh, akan menguasai pertambangan batu bara, bukan sebagai pemilik melainkan sebagai agen yang mengoperasionalkan… Hak milik kolektif, yang dikelola secara kooperatif demi kepentingan komunitas, akan menggantikan akan menggantikan kepemilikan personal yang digunakan untuk tujuan profit.” (Op.Cit., hal.69) Sistem ini akan didasarkan pada pengelolaan sendiri oleh para pekerja terhadap pekerjaan mereka dan (bagi sebagian kaum anarkis) pembagian hasil dari kerja mereka dengan bebas (contoh sistem ekonomi tampa uang). Beberapa kaum sosial anarkis, seperti kaum mutualis, melawan sistem komunis liberal semacam itu (sistem bebas), namun umumnya, mayoritas kaum anarkis sosial bertujuan mengakhiri uang, dan karenanya juga termasuk jual-beli.

Sebaliknya, kaum anarkis individualis mengingkari bahwa sistem pakai ini meliputi hasil kerja para pekerja. Daripada kepemilikan sosial, kaum anarkis individualis mengusulkan sistem yang lebih didasarkan pasar. Dalam sistem tersebut para pekerja akan memiliki alat produksi mereka dan menukarkan hasil kerja merka dengan bebas dengan pekerja lainnya. Mereka berpendapat bahwa pada kenyataannya, kapitalisme bukanlah sebuah pasar bebas yang sesungguhnya. Malahan melalui negara, para kapitalis menempatkan belenggu pada pasar untuk menciptakan dan melindungi kekuatan ekonomi sosial mereka (disiplin pasar bagi kelas pekerja, bantuan negara untuk kelas berkuasa dalam kata lain). Negara menciptakan monopoli (terhadap uang, tanah, tarif, dan hak paten) dan negara memperkuat hak kepemilikan kapitalis yang kemudian menjadi sumber eksploitasi dan ketidaksetaraan ekonomi. Dengan menghapus pemerintahan, kompetisi bebas yang sesungguhnya akan terjadi dan menjamin berakhirnya kapitalisme berikut eksploitasi kaum kapitalis (lihat esay Benjamin Tucker yang berjudul State Socialism and Anarchism untuk kesimpulan yang tepat mengenai argumen ini).

Kaum anarkis individualis berpendapat bahwa alat produksi (bidang tanah) merupakan hasil kerja individu sehingga menurut mereka, seharusnya orang-orang dapat menjual alat produksi yang  digunakan, jika mereka menginginkan.

Namun demikian mereka menolak hak kepemilikan kapitalis dan lebih menyukai sistem  “hak pakai dan hak guna” Jika alat produsi, misalnya tanah, tidak sedang digunakan, tanah tersebut harus dikembalikan pada kepemilikan bersama, dan orang lain boleh menggunakannya. Mereka rasa, sistem ini, yang disebut mutualisme, akan dihasilkan dalam kontrol pekerja terhadap produksi dan mengakhiri eksploitasi kapitalis berikut riba.

Perbedaan kedua adalah yang terpenting. Kaum individualis cemas dipaksa bergabung kembali dalam komunitas sehingga kehilangan kebebasannya (termasuk kebebasan untuk melakukan pertukaran dengan orang lain). Max Stirner mengungkapkannya dalam pendapat bahwa “Komunisme, melalui penghapusan semua hak milik personal, hanya menekanku kembali kepada ketergantungan terhadap yang lain, dengan sengaja, baik umum maupun kolektif…kondisi ini menghalangi gerakanku yang bebas, menguasaiku kembali. Komunisme sudah pada tempatnya melakukan revolusi melawan tekanan yang juga aku alami dari kepemilikan individu; namun masih lebih menakutkan meletakkan kekuasaan di tangan kolektivitas.” (The Ego and Its Own, hal. 257) Proudhon yang juga melawan komunisme, menyatakan bahwa komunitas menjadi pemilik di bawah komunisme, sehingga dengan demikian komunisme dan kapitlasime didasarkan pada kepemilikan, juga kekuasaan (lihat bagian “Characteristic of communism and of property” dalam What is Property?). Jadi kaum anarkis individualis berpendapat bahwa kepemilikan sosial menempatkan kebebasan individu ke dalam bahaya karena bentuk kepatuhan apapun dalam komunisme dari individu terhadap masyarakat atau komune. Mereka mencemaskan bahwa sama hanya seperti mendikte moralitas individu, sosialisasi secara efektif akan menghapus kontrol pekerja karena “masyarakat” akan mengatur pekerja mengenai apa yang harus dihasilkan dan mengambil hasil kerja perkerja. Akibatnya, mereka berpendapat bahwa komunisme (atau kepemilikan sosial secara umum) akan sama seperti kapitalisme, dengan ekspoitasi dan kekuasaan majikan yang digantikna dengan “masyarakat”

Tak perlu dikatakan, jika kaum anarkis sosial tidak sepakat. Mereka berpendapat bahwa komentar Stirner dan Proudhon benar-benar tepat– namun hanya menegnai komunisme otoriter. Seperti pendapat Kropotkin, “sebelum dan dalam tahun 1848, teori (komunisme) dikemukakan dalam bentuk seperti yang ditulis mengenai ketidakpercayaan Proudhon mengenai efeknya terhadap kebebasan. Pemikiran lama mengenai komunisme merupakan pemikiran monastik di bawah beberapa kekuasaan orang yang lebih tua atau ilmuwan seperti seorang pendeta. Sisa-sisa kebebasan dan energi individu yang terakhir akan dihancurkan, jika kemanusiaan dilakukan melalui komunisme.” (Act for Yourselves, hal 98) Kropotkin selalu berpendapat bahwa anarkisme komunis merupakan sebuah perkembangan baru dan berawal dari tahun 1870-an, sehingga kata-kata Proudhon  dan Stirner tidak dapat dianggap melawannya karena mereka belum mengenalnya.

Lebih dari sekedar kepatuhan individu kepada komunitas, kaum anarkis sosial berpendapat bahwa kepemilikan komunal akan memberikan kerangka kerja yang diperlukan untuk melindungi individu dalam segala aspek kehidupan dengan menghapus kekuasaan pemilik barang, dalam bentuk apapun. Tambahan lagi, daripada menghapus semua “kepemilikan” individu, anarkisme komunis mengakui pentingnya kepemilikan barang secara individual dan ruang individual. Sehingga kita ketahui pendapat Kropotkin melawan bentuk-bentuk komunisme yang “menginginkan mengelola komunitas dalam model keluarga… (tinggal) dalam rumah yang sama dan … memaksa kita terus menerus bertemu dengan ‘saudara lelaki dan perempuan’ yang sama … (hal ini) merupakan kesalahan fundamental karena memaksa semua menjadi ‘keluarga besar’ daripada mencoba, sebaliknya, menjamin kebebasan dan kehidupan rumah bagi masing-masing individu.” (Small Communal Experiments and Why They Fail, hal 8-9) Tujuan komunisme anarkis, kembali mengutip kata-kata Kropotkin, untuk menempatkan “hasil yang didapat atau dibuat pabrik dibagikan  kepada semua pihak secara merata, dengan memberikan kebebasan kepada masing-masing untuk mengkonsumsinya sesuai yang ia inginkan dalam rumahnya sendiri.” (The Place of Anarchism in The Evolution of Socialist Thought, hal 7) Hal ini menjamin ekspresi selera individu dan juga individualitas– baik dalam konsumsi maupun produksi, Karena kaum anarkis sosial merupakan pendukung utama pengelolaan mandiri para pekerja.

Jadi, bagi kaum anarkis sosial, perlawanan kaum anarkis individualis terhadap komunisme hanya benar jika ditujukan pada negara atau komunisme otoriter dan mengabaikan sifat dasar anarkis komunisme. Anarkis komunis tidak menggantikan individualitas dengan komunitas melainkan lebih menggunakan komunitas untk mempertahankan individualitas. Dari pada membiarkan “masyarakat” mengontrol individu seperti yang dicemaskan kaum anarkis individualis, anarkisme sosial di dasarkan ada pentingnya individualitas dan ekspresi individu:

“Anarkis komunisme mempertahankan pendapat bahwa yang paling berharga dari semua penaklukkan — kebebasan individu — dan yang memperluasnya serta memberikan dasar yang solid — kebebasan ekonomi — tanpa kebebasan politis adalah mimpi; individu yang menolak Tuhan, tiran universal, maha dewa, dan penguasa parlemen, tidak diminta untuk memberikan dirinya kepada dewa yang lebih menakutkan dari yang telah ada– dewa komunitas, atau untuk melepaskan kemerdekaan, kehendak, seleranya, dan untuk memperbaharui janji asketis yang telah ia buat secara resmi sebelum Tuhan disalibkan. Sebaliknya, dikatakan pada orang itu, ‘tak ada masyarakat yang bebas selama individunya tidak demikian!…’” (op.cit., hal 14-15)

Sebagai tambahan kaum anarkis sosial selalu mengakui kebutuhan akan kolektifisasi sukarela. Jika orang ingin bekerja sendiri, hal ini tidak dilihat sebagai masalah (lihat The Conquest of Breath karya Kropotkin, hal 61dan Act for Yourselves,  hal 104-105 juga karya Malatesta Life and Ideas, hal 99 dan 103). Bagi kaum anarkis sosial, asosiasi ada semata-mata karena bermanfaat bagi individu yang menyusunnya; artinya merupakan sarana yang digunakan orang-orang untuk bekerja sama untuk memenuhi kebutuhannya. Karena itu, semua anarkis menekankan kepentingan kesepakatan bebas sebagai dasar dari masyarakat anarkis. Jadi, semua anarkis menyetujui Bakunin:

“Dalam komunitas bebas, kolektifisme hanya dapat terjadi karena tekanan keadaan, bukan oleh tekanan dari atas melainkan sebuah gerakan yang spontan dari bawah.” (Bakunin on Anarchism, hal 200)

Jika kaum individualis ingin bekerja sendiri dan menukarkan barang dengan orang lain, kaum anarkis sosial tidak keberatan. Karena itu komentar kami bahwa dua bentuk anarkisme ini tidak benar-benar eksklusif. Kaum anarkis sosial mendukung hak individu untuk tidak bergabung dalam sebuah komune sementara kaum anarkis individualis mendukung hak individu untuk menyatukan hak milik atas barang mereka karena dirasa sesuai, termasuk asosiasi komunistis. Namun, jika, atas nama kebebasan, seorang individu ingin mangklaim hak kepemilikannya sehingga akhirnya mengeksloitasi pekerjaan orang lain, kaum anarkis sosial dengan segera melawan usaha membentuk kembali model negara atas nama “kebebasan”. Kaum anarkis tidak menghargai “kebebasan” untuk menjadi penguasa! Dalam kata-kata Luigi Galleani:

“Hal duniawi merupakan tendensi bagi mereka yang, di dalam jubah nyaman anarkis individualisme, menyambut gagasan dominasi … Hanyalah seruan dominasi yang menuntut mempraktekkan individualisme atas nama ego mereka yang diserahkan, dibawah kepatuhan, atau ego orang lain.” (The End of Anarchism? hal 40)

Bagi kaum anarkis sosial, gagasan bahwa alat produksi dapat dijual menunjukkan bahwa kepemilikan pribadi dapat dikenalkan kembali dalam masyarakat anarkis. Dalam pasar bebas, beberapa orang sukses dan lainnya gagal. Jika pesaing yang “tidak sukses” terpaksa menganggur, mereka akan menjual tenaga mereka kepada yang “sukses” agar tetap hidup. Hal ini akan menciptakan hubungan sosial yang otoriter dan dominasi beberapa orang terhadap lainnya melalui “konrak bebas”. Pelaksanaan kontrak semacam itu (dan lainnya yang serupa), kemungkinan, “membuka … jalan untuk menyusun kembali di bawah alasan ‘pertahanan’ semua fungsi-fungsi negara.” (Peter Kropotkin, Kropotkin’s Revolutionary Pamphlet, hal 297)

Benyamin Tucker, seorang anarkis yang paling terpengaruh oleh liberalisme dan gagasan pasar bebas, juga menghadapi masalah yang berhubungan dengan semua lairan individualisme abstrak– khususnya, penerimaan hubungan sosial otoriter sebagai sebuah ekspresi “kebebasan”. Hal ini memiliki kesamaan dengan kepemilikan negara. Tucker berpendapat bahwa negara ditandai oleh dua hal, agresi dan “asumsi kekuasaan dalam area tertentu dan semua yang ada dai dalamnya, secara umum digunakan untuk maksud ganda dari penindasan yang lebih lengkap terhadap warganya dan perluasan batas-batasnya.” (Instead of A Book, hal 22) Namun, majikan dan tuan tanah juga memiliki kekuasaan atas wilayah tertentu (kepemilikan yang dipertanyakan) dan semua yang ada di dalamnya (pekerja dan penyewa). Yang pertama mengendalikan tindakan pihak yang disebutkan terakhir seperti negara mengatur warga negara. Dengan kata lain, kepemilikan individu menghasilkan hubungan sosial yang sama dengan yang diciptakan negara, karena berasal dari sumber yang sama (monopoli kekuasaan dalam daerah tertentu dan terhadap mereka yang menggunakan daerah tersebut).

Kaum anarkis sosial berpendapat bahwa penerimaan kaum anarkis individualis terhadap kepemilikan individu dan konsepsi individualistik mengenai kebebasan individu dapat menyebabkan pengingkaran kebebasan individu karena menciptakan hubungan sosial yang secara esensial bersifat otoriter/model negara. “Kaum individualis”, menurut Malatesta, “memberi penekanan terbesar pada konsep abstrak kebebasan dan gagal mengingat, atau memahami fakta yang nyata, bahwa kebebasan konkrit merupakan hasil dari solidaritas dan kooperasi yang sukarela.” (The Anarchist Revolution, hal 16) Jadi upah buruh, contohnya, menempatkan pekerja dalam hubungannya dengan majikan sama seperti halnya kewarganegaraan menempatkan warga negara terhadap negara, yaitu dominasi dan kepatuhan. Hal yang sama juga terjadi antara penyewa dengan tuan tanah.

Hubungan sosial semacam itu hnya menghasilkan aspek-aspek lain dari negara. Seperti yang ditunjukkan Albert Meltzer, hal ini akan membawa implikasi yang bersifat negara, karena “aliran Benjamin Tucker–dengan kebaikan individualisme mereka — menerima kebutuhan akan kehadiran polisi untuk menjamin ‘kebebasan majikan’. Semua aliran yang disebut individualis menerima… kebutuhan akan polisi, karena alasann pemerintah, padahal definisi utama anarkisme adalah tanpa pemerintah.” (Anarchism: Arguments For and Againts, hal 8) Dukungan kaum anarkis sosial terhadap kepemilikan sosial sebagai sarana terbaik untuk melindungi kebebasan individu, disebabkan oleh alasan yang disebutkan di atas. Dengan menyetujui kepemilikan individu, masalah ini akan menjadi “berputar-putar” disekitar , sejalan dengan Proudhon (sumber pemikiran ekonomi Tucker), kebutuhan akan sikap kooperatif dalam mengelola tempat kerja yang membutuhkan lebih dari satu pekerja. Hal ini secara natural akan melengkapi dukungan mereka terhadap “pengambilalihan dan penguasaan” tanah, yang secara efektif menghapuskan tuan tanah. Ketika orang-orang memiliki sumber daya hanya yang ia gunakan, maka kepemilikan individu semacam itu tidak akan menimbulkan kekuasaan hierarki (yaitu negara-isme/kapitalisme). Solusi ini, seperti yang kita ungkapkan dalam bagian G, tampaknya benar-benar diterima oleh kaum anarkis individualis. Contohnya, kita mengetahui tulisan Joseph Labadie yang ditujukan pada anak lelakinya untuk mendorongnya melepaskan diri dari penghasilan upah dan “dikuasai orang lain”. (dikutip oleh Carlotta Abderson, All American Anarchist, hal.222) Seperti yang ditunjukkan Garry Kline dengan tepat, kaum anarkis individualis “mengharapkan masyarakat dengan para pekerja yang mandiri tanpa pembedaan kesejahteraan yang signifikan di antara mereka.” (The Individualist Anarchist, hal 104) Hal ini merupakan visi mengenai masyarakat yang bekerja dengan mandiri sehingga memastikan bahwa pemikiran mereka benar-benar anarkis.

Lagipula meski kaum individualis menyerang  “riba”, mereka biasanya mengabaikan masalah akumulasi modal, yang menghasilkan hambatan alam terhadap pintu masuk ke pasar dan dengan demikian menciptakan kembali riba dalam bentuk yang baru. (lihat bagian C.4 “Mengapa pasar didominasi oleh pengusaha besar?”) Oleh karena itu “pasar bebas” dalam bank, seperti yang dibela oleh Tucker dan anarkis insividualis lainnya, dapat menghasilkan beberapa bank besar yang mendominasi, dengan kepentingan ekonomi langsung untuk mendukung kaum kapitalis daripada investasi kooperatif (karena mereka menjamin dapat mendapatkan keuntungan lebih besar daripada investasi kooperatif). Satu-satunya solusi yang nyata bagi masalah ini adalah memastikan kepemilikan komunitas dan pengelolaan bank, seperti yang diinginkan Proudhon pada awalnya.

Hal ini merupakan pengakuan perkembangan dalam ekonomi kapitalis yang membuat kaum anarkis sosial menolak anarkisme individualis dan mendukung ke-komunal-an, serta desentralisasi, produksi oleh buruh-buruh yang kooperatif dan terasosiasi dengan bebas. (pembahasan lebih lanjut dari pemikiran anarkis individualis, lihat bagian G- “Apakah anarkisme individualis bersifat kapitalistik?”)

A.3.2 Apakah ada berpedaan jenis anarkisme sosial?

Ya. Anarkisme sosial memiliki empat kecenderungan–mutualisme, kolektifisme, komunisme dan sindikalisme. Perbedaan yang ada tidaklah besar, dan terletak pada masalah strategi. Perbedaan utama terletak diantara mutualisme dan jenis-jenis  anarkisme sosial yang lain. Mutualisme di dasarkan pada bentuk sosialisme pasar– pertukaran hasil kerja yang dilakukan para buruh dengan kooperatif melalui sistem bank komunitas. Jaringan bank mutual ini akan “dibentuk” oleh keseluruhan komunitas, bukan untuk keuntungan tertentu individu atau kelas apapun, melainkan untuk kepentingan semua… tanpa  bunga… yang diperas dari pinjaman, kecuali cukup hanya untuk menutupi resiko dan biaya yang diperlukan.” (Charles A. Dana, Proudhon and his “Bank of The People”, hal 44-45)  Sistem semacam itu akan mengakhiri eksploitasi sistem kapitalis dan penindasan, karena dengan “memperkenalkan mutualisme ke dalam pertukaran dan kredit, kita memperkenalkannya ke mana-mana, dan pekerja akan menerima suatu aspek baru serta menjadi lebih demokratis.

Versi kaum anarkis sosial mengenai mutulisme berbeda dari bentuk kaum individualis, dengan memiliki bank mutual yang dimiliki oleh komunitas lokal (atau komune) daripada menjadi koperasi yang independen. Hal ini akan memastikan bahwa mereka menyediakan dana investasi bagi koperasi daripada perusahaan kapitalis. Perbedaan lainnya adalah bahwa beberapa kaum anarkis sosial mutualis mendukung pembuatan apa yang oleh Proudhon disebut “federasi agro-industri” untuk melengkapi federasi komunitas liberal (Proudhon menyebutnya komune). Hal ini merupakan sebuah “konfederasi…dimaksudkan untuk keamanan resiprokal dalam perdagangan dan industri” dan pembangunan skala besar seperti jalan, rel kereta apai, dan lain-lain. Tujuan “susunan federal khusus ini dalah untuk melindungi warga negara federal dari kapitalis dan feodalisme finansial, baik di dalam maupun dari luar.” Hal ini disebabkan “hak politis perlu ditopang hak ekonomi.” Jadi federasi agro industri akan diberikan untuk memastikan keadaan masyarakat yang anarkis dari destabilisasi efek pertukaran pasar (yang dapat menimbulkan peningkatan ketidaksetaraan dalam kesejahteraan dan begitu juga kekuasaan). Sistem semacam itu akan menajadi contoh praktis solidaritas, karena “industri-industri bersaudara; mereka merupakan bagian dari tubuh yang sama; yang satu menderita maka yang lain juga merasakannya. Oleh karena itu mereka sebaiknya membuat federasi, bukan untuk dihisap dan atau dikacaukan, namun untuk menjamin kamakmuran bersama… Dengan membuat kesepakatan ini, kebebasan mereka tidak akan dikurangi; kesepakatan itu juga membuat kebebasan mereka lebih aman dan kuat.” (The Prinsipal of Federation, hal 70, 67, 72)

Bentuk lain dari anarkisme sosial tidak menyepakati dukungan kaum mutualis kepada pasar meski non-kapitalis. Malah mereka merasa bahwa kebebasan paling baik jika dilakukan dengan peng-komunal-an produksi, pembagian informasi dan berproduksi dengan bebas dalam kerjasama. Dengan kata lain, bentuk-bentuk lain anarkisme sosial didasarkan lebih pada kepemilikan bersama (atau sosial) atas federasi asosiasi dan komune produsen, bukan pada sistem kerjasama individu mutualisme. Dalam pernyataan Bakunin, “Organisasi sosial masa depan harus dibentuk dari bawah ke atas, dengan asosiasi atau federasi pekerja yang bebas, pertama dalam serikat mereka, kemudian dalam komune, regional, bangsa, dan akhirnya dalam sebuah federasi besar, internasional dan universal” dan “tanah, instrumen kerja, dan semua kapital lainnya menjadi milik kolektif seluruh masyarakat dan digunakan hanya oleh pekerja, dalam kata lain oleh asosiasi industrial dan agrikultural.” (Michael Bakunin: Selected Writings, hal 206dan 174) Hanya dengan memperluas prinsip koperasi di luar tempat kerja, kebebasan individu dapat dimaksimalkan dan dilindungi (lihat bagian L.1.3 mengenai alasan perlawanan sebagian besar kaum anarkis terhadap pasar). Dalam hal ini, mereka memiliki dasar yang sama dengan Proudhon, seperti yang dapt dilihat. Konfederasi industrial akan “menjamin penggunaan bersama alat produksi yang merukapakan kepemilikan bersama masing-masing kelompok, dan dengan kontrak resiprokal akan menjadi kepemilikan kolektif secara keseluruhan….federasi. Dengan cara ini, federasi kelompok akan mampu…mengatur produksi untuk memenuhi fluktuasi kebutuhan masyarakat.” (James Guillaume, Bakunin on Anarchism, hal. 376)

Kaum anarkis ini menyetujui dukungan kaum mutualis bagi pengelolaan mandiri pekerja terhadap produksi dalam kooperasi namun melihat konfederasi asosiasi ini sebagai pusat perhatian untuk menyatakan bantuan bersama, namun bukan pasar. Otonomi tempat kerja dan pengelolaan yang mandiri akan menjadi dasar federasi apapun, karena “kaum pekerja dalam bermacam-macam perusahaan tak memiliki maksud sedikitpun untuk menyerahkan kontrol terhadap alat produksi yang telah mereka peroleh dengan susah payah kepada kekuasaan superior yang menyebut dirinya ‘korporasi’”. (Op. Cit., hal. 364) Lagipula untuk federsi industri yang luas ini juga akan terdapat konfederasi komunitas dan industri silang untuk melaksanakan tugas yang tidak berada di dalam yurisdiksi eksklusif atau kapasitas federasi industri tertentu apapun atau kapasitas federasi industrial apapun atau juga merupakan sebuah keadaan sosial. Sekali lagi, hal ini memiliki kesamaan dengan pemikiran mutualis Proudhon.

Kaum anarkis menyepakati komitmen mutlak mengenai kepemilikan bersama alat produksi (di luar yang digunakan semata-mata secara individual) dan menolak pemikiran individualis bahwa hal ini dapat dijual oleh mereka yang menggunakannya. Alasannya, seperti yang dikatakn pada bagian awal, jika hal ini dilakukan, kapitalisme dan negara-isme dapat muncul kembali pada masyarakat anarkis. Tambahan pula, kaum anarkis lainnya tidak sepakat dengan pemikiran kaum mutualis bahwa kapitalisme dapat diperbaiki ke dalam sosialisme liberal dengan memperkenalkan perbankan bersama. Bagi mereka kapitalisme hanya dapat digantikan oleh masyarakat bebas melalui revolusi sosial.

Perbedaan utama antara kaum kolektivis dengan kaum komunis adalah mengenai masalah “uang” setelah revolusi. Kaum anarko komunis menganggap penghapusan uang adalah hal yang esensial, sementara kaum anarko kolektivis menganggap pengakhiran kepemilikan pribadi atas alat produksi sebagai kunci. Seperti yang ditulis Kropotkin, anarkisme kolektivis “menyatakan suatu keadaan yang di dalamnya semua keperluan produksi dimiliki bersama oleh kelompok buruh, sementara cara retribusi buruh, komunis atau sebaliknya, akan diselesaikan sendiri oleh masing-masing kelompok.” (Kropotkin’s Revolutionary Pamphlets, hal. 295) Sehingga meski kolektivisme dan komunisme mengatur produksi bersama melalui asosiasi produser, mereka berbeda dalam hal mengenai bagaimana pendistribusian barang. Komunisme didasarkan pada konsumsi bebas semua pihak sementara kolektivisme lebih didasarkan pada distribusi barang sesuai dengan kontribusi buruh. Namun demikian , sebagian besar kaum anarko kolektivis merasa bahwa, berulang kali, karena produktivitas meningkat dan pemahaman komunitas menjadi semakin lebih kuat, uang akan menghilang. Keduanya sepakat bahwa, pada akhirnya, masyarakat akan dijalankan dalam alur yang disarankan oleh pepatah komunis: “Dari masing-masing sesuai kemampuan, untuk masing-masing sesuai kebutuhan”. Mereka hanya tidak sepakat mengenai seberapa cepat hal tersebut dapat terjadi.

Bagi kaum anarko komunis, mereka merasa bahwa “komunisme-pada akhirnya-memiliki kesempatan lebih mampu ditegakkan daripada kolektivisme” setelah revolusi. (Op. Cit., hal 298) Mereka merasa bahwa perjalanan menuju komunisme esensial karena kolektivisme “mulai menghapus kepemilikan pribadi alat produksi dan dengan segera membalikkan diri dengan kembali ke sistem pembayaran upah sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan yang artinya sama dengan introduksi ulang ketidak setaraan.” (Alexander Berkman, The ABC of Anarchism, hal. 80) Semakin cepat bergerak menuju komunisme, semakin sedikit peluang munculnya ketidaksetaraan baru. Tak perlu dikatakan kembali, keadaan ini tidak begitu berbeda  dan, pada prakteknya, kebutuhan revolusi sosial serta tingkat kesadaran politis mereka yang memperkenalkan anarkisme akan menetukan sistem yang akan diterapkan dalam masing-masing area.

Sindikalisme merupakan bentuk lain anarkisme sosial. Kaum anarko sindikalis seperti halnya sindikalis lainnya ingin menciptakan gerakan serikat industrial yang didasarkan pada pemikiran anarkis. Karena itu mereka membela serikat-serikat yang terdesentralisasi atau terfederasi yang menggunakan aksi langsung untuk untuk mencapai perbaikan di bawah kapitalisem hingga mereka cukup kuat unutk merobohkannya. Dalam banyak cara anarko sindikalisme dapat dianggap sebaagi versi baru anarkisme kolektivis, yang juga menekankan pentingnya kerja kaum anarkis di kalangan pergerakan buruh dan menciptakan serikat-serikat yang menggambarkan masyarakat bebas masa depan.

Jadi meski berada di bawah kapitalisme, kaum anarko sindikalis berusaha menciptakan “asosiasi bebas bagi para produsen bebas”. Mereka merasa bahwa asosiasi-aosiasi ini akan bekerja sebagai “sekolah praktek anarkisme” dan mereka mengambil kata-kata Bakunin dengan sangat serius bahwa organisasi pekerja harus menciptakan “bukan hanya pemikiran melainkan juga kenyataan dari masa depan itu sendiri” dalam periode pra-revolusi.

Kaum anarko sindikalis, seperti halnya anarkis lainnya, “diyakinkan bahwa tatanan ekonomi sosialis tidak dapat diciptakan oleh keputusan dan undang-undang pemerintah, melainkan hanya kolaborasi solidaritas buruh dengan tangan dan otak di bawah cabang produksi khusus.; yaitu, melalui pengambil alihan pengelolaan semua pabrik oleh yang memproduksinya di bawah bentuk semacam itu dengan kelompok terpisah, pabrik dan cabang industri yang menjadi anggota organisme ekonomi umum dan secara sistematis melaksanakan produksi dan distribusi hasil demi kepentinagn komunitas pada dasar kesepakatan bersama yang bebas.” (Rudolf Rocker, Anarcho -Syndicalism, hal.55)

Perbedaan antara kaum sindikalis dengan kaum anarkis lainnya tipis dan hanya semata-mata berputar mengenai masalah serikat anarko sindikalis. Kaum anarkis kolektivis sepakat bahwa pembentukan serikat liberal adalah penting dan bahwa bekerja dalam gerakan buruh merupakan esensial untuk memastikan “perkembangan dan organisasi …kekuatan sosial (dan denagn konsekuensinya, anti politis) massa pekerja.” (Bakunin, Michael Bakunin : Selected Writings, 197) Kaum anarkis biasanya juga mengakui  pentingnya pekerja dalam gerakan buruh, namun umumnya mereka berpikir bahwa organisasi sindikalistis akan diciptakan oleh pekerja dalam perjuangan, sehingga mereka menganggap mendorong “semangat revolusi” sebagai hal yang lebih penting daripada menciptakan serikat sindikalis dan mengharap pekerja akan bergabung. Mereka juga tidak memberikan penekanan yang besar pada tempat kerja, dengan menganggap perjuangan di dalamnya setara dengan pentingnya perjuangan lain melawan hierarki dan dominasi di luar tempat kerja (sebagian besar sindikalis anarki sepakat dengan hal ini, namun, dan seringkali hanyalah pada masalah penekanannya). Tidak banyak kaum anarkis komunis yang menolak gerakan buruh sebagai reformis tanpa harapan, dan dengan demikian menolak untuk bekerja di dalamnya. Namun mereka hanyalah sebagian kecil saja.

Kaum anarkis kolektifis dan komunis sama-sama mengakui kebutuhan bagi kaum anarkis untuk bersatu dalam organisasi yang semata-mata anarkis. Mereka merasa sangat esensial, bagi kaum anarkis, untuk bekerja sama sebagai kaum anarkis untuk mengklarifikasi dan meluaskan ide-ide mereka pada yang lainnya. Kaum sindikalis seringkali mengingkari pentingnya federasi dan kelompok anarkis, dengan berpendapat bahwa serikat komunitas dan industrial revolusioner sudah cukup. Kaum sindikalis merasa bahwa kaum anarkis dan gerakan serikat dapat dijadikan satu, namun sebagian besar anarkis lainnya tidak setuju. Kaum non-sindikalis menunjukkan sifat reformis perserikatan dan mendorong bahwa untuk tetap menjaga agar serikat sindikalis tetap revolusioner, kaum anarkis harus bekerja di dalamnya sebagai bagian dari federasi atau kelompok anarkis. Sebagian besar kaum non-sindikalis menganggap fusi antara anarkisme dan perserikatan sebagai sumber potensi kekacauan yang mengakibatkan gagalnya kedua gerakan tersebut untuk melakukan tugasnya dengan tepat.

Pada kenyataannya, tidak banyak kaum anarko sindikalis  yang benar-benar menolak kebutuhan akan adanya suatu federasi kaum anarkis, sementara tidak banyak kaum anarkis yang benar-benar anti sindikalis. Contohnya, Bakunin terinspirasi oleh gagasan-gagasan yang berasal dari kaum anarko komunis dan anarko sindikalis, dan kaum anarko komunis seperti Kropotkin, Malatesta, Berkman, dan Goldman, merasa simpati pada gerakan dan gagasan kaum anarko sindikalis. Untuk bacaan lebih lanjut mengenai macam-macam tipe anarkisme sosial, kami merekomendasikan berikut ini: mutualisme biasanya dihubungkan dengan karya Proudhon, kolektifisme dengan Bakunin, Komunisme dengan Kropotkin, Malatesta, Goldman, dan Berkman. Sindikalisme agak sedikit berbeda karena lebih merupakan sebuah hasil dari perjuangan pekerja daripada hasil karya nama-nama “terkenal” (meski hal ini tidak membuat kaum akademis berhenti untuk menyebut George Sorer sebagai bapak sindikalisme, meski ia menulisnya setelah gerakan ini muncul. Pemikiran bahwa kaum kelas pekerja dapat mengembangkan gagasan mereka sendiri, adalah sia-sia). Namun demikian, Rudolf Rocker seringkali disebut sebagai teorisi anarko sindikalis dan hasil tulisan Fernand Pelloutier dan Emile Pouget wajib dibaca untuk memahami anarko sindikalis. Untuk kesimpulan yang baik mengenai perkembangan anarkisme sosial dan pedomannya, buku No Gods No Masters karya Daniel Guerin adalah karya yang terbaik.

A.3.3 Apa itu anarkisme hijau?

Sebuah penekanan pada pemikiran anarkis sebaagai solusi terhadap krisis ekologis merupakan alur yang wajar dalam sebagian besar bentuk anarkisme dewasa ini. Kecenderungan ini kembali pada Peter Kropotkin yang berpendapat bahwa sebuah masyarakat anarkis harus didasarkan pada konfederasi komunitas-komunitas yang mengintegrasikan kerja manual dan otak seperti halnya mendesentralisir dan mengintegrasikan industri serta agrikultur (lihat karya klasik Fields, Factories, and Workshops). Gagasan ekonomi yang di dalamnya ungkapan “kecil itu indah” (menggunakan judul judul klasik E.F. Schumacher’s  Green) diungkapkan tujuhpuluh tahun sebelum hal tersebut dibahas oleh apa yang kemudian menjadi gerakan hijau. Lagipula, dalam Mutual Aid karya Kropotkin, mendokumentasikan bagaimana kerjasama dalam spesies dan antara mereka dengan lingkungannya biasanya lebih menguntungkan daripada kompetisi. Karya Kropotkin dikombinasikan dengan karya William Moris, Reclus bersaudara (keduanya seperti Kropotkin adalah ahli Geografi dunia yang terkenal), dan banyak lagi yang meletakkan dasar bagi kepentingan kaum anarkis sekarang dalam isu-isu ekologis.

Namun, meski ada banyak tema ekologis dalam anarkise klasik, bahwa kesamaan pemikiran ekologis dan anarkisme adalah relatif baru (secara esensial dari publikasi esay klasik karya Murray Bookchin yang berjudul “Ecology and Revolutionary Thought” pada tahun 1965). Malahan, tidak ada pernyataan bahwa pemikiran dan karya Murray Bookchin lah yang telah meletakkan ekologi dan isu-isunya di hati dan cita-cita serta analisis anarkis ke dalam banyak aspek gerakan hijau.

Sebelum membicarakan tipe-tipe anarkisme hijau, (juga disebut eco-anarkisme) akan beguna menerangkan dengan jelas mengapa anarkisme dan ekologi berjalan bersama. Mengutip kata-kata Murray Bookchin, “kaum ekologis dan anarkis meletakkan tekanan yang kuat pada spontanitas” dan “bagi kedua kelompok ini, kesatuan yang meningkat dicapai dengan perkembangan kemajemukan. Perluasan dunia diciptakan oleh diversifikasi dan pemerkayaan bagian-bagiannya.” Lagipula, “sama seperti seperti kaum ekologis yang berusaha memperluas wilayah suatu ekoosistem dan meningkatkan saling pengaruh yang bebas di antara spesies, demikian juga kaum anarkis berusaha memperluas wilayah eksperimen sosial dan melepaskan semua belenggu bagi perkembangannya.” (Post-Scarcity Anarchism, hal 72,78)

Jadi, perhatian kaum anarkis pada perkembangan bebas, desentralisasi, keanekaragaman dan spontanitas, terefleksi dalam gagasan dan perhatian ekologis. Hierarki, sentralisasi, negara, dan konsentrasi kesejahteraan mengurangi keanekaragaman dan perkembangan yang bebas individu berikut komunitasnya sesuai dengan sifat yang ada, sehingga melemahkan ekosistem sosial seperti halnya ekosistem aktual masyarakat manusia sebagai bagiannya. Seperti pendapat Bookchin, “pesan rekonstruktif ekologi… (adalah bahwa) kita harus menjaga dan meningkatkan varietas” namun dalam masyarakat kapitalis modern “semua yang spontan, kreatif, dan individual dibatasi oleh standarisasi, regulasi, dan massifikasi.” (op.cit.,hal 76,65) Jadi, dalam banyak cara anarkisme dapat dianggap sebagai aplikasi gagasan ekologis ke dalam masyarakat, karena anarkisme berusaha memperkuat individu dan komunitas, mendesentralisasikan kekuasaan politik, sosial, dan ekonomi, sehingga ada kepastian bahwa kehidupan individu dan sosial berkembang dengan bebas dan pada akhirnya muncul peningkatan perbedaan sifat.

Jadi, apa itu anarkisme hijau? Alur ekoanarkis dalam anarkisme memiliki dua fokus perhatian, ekologi sosial dan anarkisme primitif. Tambahan lagi, beberapa kaum anarkis terpengaruh oleh Deep Ecologi, meski tidak banyak. Tidak diragukan lagi, ekologi sosial sangat berpengaruh saat ini. Ekologi sosial dihubungkan dengan pemikiran dan karya Murray Bookchin yang telah menulis masalah ekologis sejak tahun 1950-an dan, sejak tahun 1960-an, telah mengkombinasikan isu-isu ini dengan anarkisme sosial revolusioner. Hasil karyanya meliputi, Post Scharcity narchism, Toward an Ecological Society, The Ecologi of Freedom,  dan banyak lagi.

Ekologi sosial meletakan akar krisis ekologi dalam hubungannya dengan dominasi di antara orang. Dominasi terhadap alam tampak sebagai hasil dominasi dalam masyarakat, namun dominasi ini hanya mencapai krisis di bawah kapitalisme. Dalam pernyataan Murray Bookchin:

“Gagasan bahwa manusia harus mendominasi alam muncul secara langsung dari dominasi orang terhadap orang … Hanya saja tidak sampai hubungan komunitas organis … yang tidak dapat diselesaikan dalam hubungan pasar karena planet ini direduksi menjadi sumber eksploitasi. Kecenderungan abad-abad belakangan ini, menemukan bahwa perkembangan yang semakin buruk di dalam kapitalisme modern. Dengan menerima sifat kompetitifnya  yang inhern, masyarakat borjuis tidak hanya mengadu manusia satu sama lain, melainkan juga mengadu manusia dengan alam. Karena manusia diubah menjadi komoditi setiap aspek dari alam juga mengalami demikian, menjadi sumberdaya untuk diolah dalam pabrik dan hanya dijadikan barang dagangan.” (op.cit., hal 63)

“Perampasan jiwa manusia oleh pasar dihubungkan dengan perampasan alam oleh kapital.” (ibid., hal 65)

Karena itu kaum ekologi sosial menganggap esensial menyerang hierarki dan kapitalisme, bukan peradaban sebagai akar penyebab maslah ekologis. Hal ini merupakan masalah kunci yang tidak mereka sepakati dengan pemikiran kaum “primitif”, yang cenderung untuk memberi kritik kepada semua aspek kehidupan modern, yang seringkali disebut akhir “peradaban”, termasuk semua bentuk teknologi dan organisasi skala besar.

Yang paling ekstrim, kaum anarkis “primitif” berpendapat untuk kembali ke bentuk masyarakat “berburu dan meramu”, melawan teknologi karena sifatnya yang hierarkis. Orang-orang Inggris dengan majalah “Green Anarchist”, adalah suporter yang vokal terhadap ide ini.

Namun tidak banyak kaum anarkis yang berpikir sejauh itu. Malah, sebagian besar kaum anarkis berpendapat bahwa “primitifisme” tidaklah anarkis secara keseluruhan, karena kembali ke masyarakat “berburu dan meramu” akan menghasilkan kelaparan massal di semua negara karena jatuhnya infrastruktur sosial. Ketidakmenarikan gagasan primitifis bagi sebagian besar orang adalah karena tidak melalui sarana yang liberal (misalnya individu dapat memilih dengan bebas dan itu karena perjuangannya), sehingga sebagian besar kaum anarkis  tidak dapat memberi dukungan dengan sukarela kepada keadaan semacam itu. Hal ini membawa “Green Anarchist” kepada pengembangan bentuk yang mengedepankan tatanan ekologi untuk, menggunakan kata-kata Rousseau, “memaksa orang-orang agar bebas” (seperti yang dapat dilihat dari artikel-artikel dalam tahun 1998 untuk merayakan tindakan teroris). Sebagai tambahan, keadaan “mengembalikan waktu ke masa lalu” semacam ini jelas suatu kesulitan, karena meski penduduk asli pada umumnya sangat anarkis, masyarakat-masyarakat seperti itu dapat berkembang menjadi bentuk negara, kepemilikan, yang menunjukkan bahwa sistem “anarkis primitif” bukanlah jawabannya.

Namun demikian, tidak banyak kaum eko-anarkis yang mengambil posisi se ekstrim itu. Sebagian besar kaum anarkis “primitifis” lebih merupakan orang-orang yang anti teknologi dan peradaban (menggunakan istilah David Watson) daripada sekedar mempercayai “penegasan cara hidup penduduk asli “dan mengambil pendekatan yang lebih kritis terhadp isu-isu seperti teknologi, rasionalitas, dan kemajuan daripada yang berhubungan dengan ekologi sosial. Kaum eko-anarkis ini menolak “primitifisme dogmatis yang mengklaim bahwa kita dapat kembali dalam beberapa cara linier menuju akar primordial kita”, sama seperti gagasan “kemajuan”, “penggantian gagasan dan tradisi pencerahan dan counter pencerahan”. Bagi kaum eko-anarkis, primitifisme “merefleksikan bukan hanya pandangan sekilas mengenai hidup sebelum kemunculan negara, namun juga suatu respon yang logis terhadap kondisi nyata kehidupan di bawah peradaban”, sehingga kami sebaiknya menghargai dan mempelajari “tradisi lama paleolitik dan neolitik” (seperti yang dihubungkan dengan suku-suku asli amerika dan penduduk asli lainnya). Meski kita “tidak dapat, dan tidak ingin melepaskan cara berpikir dan menjalani hidup dengan sekular… kita tak dapat mereduksi pengalaman hidup, dan pertanyaan-pertanyaan fundamental yang mutlak mengenai mengapa kita hidup dan bagaimana kita hidup, ke dalam term-term yang sekuler…Terlebih lagi, batas antara spiritual dan sekuler tidak begitu jelas. Suatu pemahamn dialektis bahwa kita adalah sejarah akan mengukuhkan sebuah alasan yang terilhami bahwa kehormatan bukan hanya terdapat pada kaum revolusioner Spanyol ateistis yang gugur untuk cita-citanya, namun juga terletak pada tawanan-tawanan kesadaran pasifis religius, para penari hantu Lakota, pertapa Taois, dan sufi, yang menjalani hukuman mistisnya.” (David Watson, Beyond Bookchin: Priface for A Future Social Ecology, hal 204, 103, 240, 66-67)

Anarkisme “primitifis” semacam itu diasosiasikan dengan beberapa majalah, umumnya di Amerika, seperti Fifth Estate. Contohnya, mengenai pertanyaan teknologi, kaum eko-anarkis berpendapat bahwa “meski kapitalisme pasar merupakan percikan yang menyalakan api, dan tetap berada dalam pusat yang kompleks, hal tersebut hanyalah bagian dari sesuatu yang lebih besar: adaptasi masyarakat organis yang mengalami pemaksaan menuju peradaban instrumental ekonomis dan teknik massal, yang bukan hanya hierarkis dan eksternal, namun juga “selular” dan internal. Tidak masuk akal bagi mereka yang meletakkan macam-macam elemen dari proses ini di dalam suatu hierarki mekanistis mengenai penyebab utama dan efek-efek keduanya.” (David Watson, op.cit., hal 127-128)

Untuk alasan ini kaum anarkis “primitifis” lebih kritis terhadap semua aspek teknologi, termasuk yang disebut kaum ekologi sosial sebagai penggunaan teknologi yang tepat untuk membebaskan manusia dan planet. Seperti pendapat Watson :

“Berbicara mengenai masyarakat teknologis pada kenyataannya berhubungan dengan munculnya teknik dalam kapitalism, yang pada akhirnya memunculkan bentuk baru kapital. Gagasan mengenai perbedan situasi hubungan sosial yang menentukan bahwa teknologi ini bukan hanya sekedar ahistoris maupun tidak dialektis, merefleksikan jenis skema suprastruktur/dasar yang sederhana.” (ibid., hal 124)

Jadi, masalahnya bukanlah bahwa orang yang mengunakan teknologi menentukan akibatnya, melainkan pada efek teknologi yang ditentukan oleh tingkat masyarakat penciptanya. Dengan kata lain teknologi yang dipilih cenderung memperkuat kembali kekuasaan hierarkis, karena orang-orang yang berkuasa  pada umumnya memilih teknologi apa yang akan diperkenalkan pada masyarakat (dengan demikian, orang-orang tertindas memiliki kemampuan luar biasa dalam mengubah teknologi untuk melawan kekuasaan, dengan kata lain perubahan teknologi dan perjuangan sosial saling terkait–lihat bagian D.10)  Jadi, penggunaan teknologi yang tepat pun melibatkan lebih dari sekedar pemilihan tekhnologi dari macam-macam yang ada, karena bagaimana pun juga tekhonogi-tekhnologi ini memiliki efek bagi mereka yang menggunakannya. Malah hal ini merupakan suatu evaluasi kritis terhadap semua aspek tekhnologi dan modifikasinya serta penolakannya, karena hal ini dibutuhkan untuk memaksimalkan kebebasan individu,, pemberdayaan dan kebahagiaan. Banyak kaum ekologi sosial yang sepakat dengan pendekatan ini, meski, dan perbedaan-perbedaan tersebut biasanya merupakan sebuah pertanyaan penekanan daripada suatu poin politis yang dalam.

Akhirnya, kaum anarkis “primitivis”, seperti halnya sebagian besar kaum anarkis lainnya, merupakan dukungan yang benar-benar kritis terhadap ekologi sosial bagi pengajuan kandidat dalam pemilihan di wilayah. Meski kaum ekologi sosial melihat hal ini sebagai sarana menciptakan dewan yang dikelola sendiri oleh rakyat dan kekuatan melawan negara, banya kaum anarkis yang tidak sepakat mengenainya. Malah mereka melihatnya sebagai kaum reformis yang naif mengenai kemungkinan penggunaan proses  pemilihan untuk menciptakan perubahan sosial (lihat bagian J.5.14 untuk pembahasan lebih lanjut). Malahan mereka mengemukakan aksi langsung sebagai sarana untuk menampilkan gagasan anarkis dan ekologis, menolak pemilihan sebagai pilihan akhir yang akhirnya memperlunak gagasan radikal dan mengurangi keterlibatan rakyat. (lihat bagian J.2 — Apa itu aksi langsung?)

Untuk menetahui lebih lanjut mengenai anarkisme “primitif”, lihat Future Primitive kayta John Zerzan dan Elements of Refusal, juga Beyond Bookchin dan Againts the Mega-Machine karya David Watson.

Akhirnya, “deep-ecology”, yang karena sifat bio-sentrisnya, banyak ditolak kaum anarkis dengan alasan anti manusia. Tidak banyak kaum anarkis yang berpikir bahwa kaum manusia, sebagai manusia, merupakan penyebab krisis ekologis yang menjadi dugaan kaum deep ecology. Murray Bookchin contohnya, berbicara lantang khusus mengenai deep ecology dan gagasan anti manusia yang seringkali dihubungkan dengan deep ecology (lihat contohnya, Which Way for The Ecology Movement?). David Watson juga berpendapat melawan Deep Ecology (lihat karyanya, How Deep is Deep Ecology? yang ditulis di bawah nama George Bradford). Sebagian besar kaum anarkis berpendapat bahwa bukan oranglah yang menjadi masalah, melainkan sistem saat ini, dan hanya oranglah yang dapat mengubahnya. Dalam pernyataan Murray Bookchin:

“(Masalah deep ecology) berakar dari unsur otoriter dalam biologisme kasar yang menggunakan ‘hukum alam’ untuk menyembunyikan kurangnya rasa kemanusiaan yang ada dan tulisan-tulisan mengenai pengabaian yang amat sangat mengenai realita sosial dengan mengabaikan fakta bahwa kapitalisme yang sedang kita bicarakan, bukan suatu abstraksi yang disebut ‘kemanusiaan’ dan ‘masyarakat’”. (The Philosophy of Sosial Ecology, hal 160)

Untuk menyembunyikan kritik dan analisa ekologis ke dalam protes sederhana terhadap umat manusia sama saja dengan mengabaikan penyebab dan dinamika yang nyata dari destruksi ekologis, sehingga karenanya memastikan bahwa dasar dari destruksi ini tidak dapat diketahui. Secara sederhana dapat dikatakan, bahwa sangat sulit menyalahkan “manusia” ketika mayoritas tidak memberikan pendapat nyata dalam keputusan-keputusan yang mempengaruhi kehidupan, industri, komunitas, dan ekosistem mereka. Malah, sistem ekonomi dan sosial lah yang menempatkan keuntungan dan kekuasaan di atas manusia dan planet. Dengan memfokuskan perhatian pada “kemanusiaan” (dan dengan demikian gagal membedakan antara kaya dan miskin, pria dan wanita, kulit putih dan kulit berwarna, eksploitator dan yang dieksploitasi, penindas dan tertindas) sistem yang kita tempati diabaikan secara efektif, dan begitu juga penyebab institusional ekologis.

Karena dihadapkan dengan kritik kaum anarkis yang terus menerus dari beberapa tokohnya, banyak kaum deep ecology yang berbalik arah dari pemikiran  yang  anti manusia yang sering dihubungkan dengan gerakan mereka. Deep ecology, khususnya organisasi Earth First! (EF!), telah berubah, dan EF! sekarang memiliki hubungan kerja yang sangat erat dengan Industrial Woekers of The World (IWW), sebuah serikat sindikalis. Meski deep ecology bukanlah bagian dari eko-anarkisme, namun banyak gagasan yang sama dan lebih diterima kaum anarkis karena EF! menolak beberapa pemikiran misanthropis dan mulai memahami bahwa hierarki lah yang menjadi masalah bukan umat manusia. (diskusi antara Murray Bookchin dan pemimpin kaum EF! Dave Foreman dapat dilihat dalam buku Definding The Earth)

A.3.4 Apakah anarkisme bersifat pasifis?

Aliran pasifis telah ada cukup lama dalam anarkisme, dengan Leo Tolstoy sebagai figur utamanya. Aliran ini biasa disebut “anarko pasifisme” (term “anarkis anti kekerasan” kadang-kadang digunakan, namun disayangkan karena term ini menunjukkan bahwa gerakan-gerakan lainnya bersifat “kejam”, dan itu tidak benar!). Serikat anarkisme dan pasifisme dipengaruhi oleh gagasan dan argumentasi fundamental mengenai anarkisme. Bagaimanaun juga  kekerasan, atau ancaman kekerasan, atau yang merugikan, merupakan sarana kunci yang merusak kebebasan individu. Seperti yang ditunjukkan  oleh Peter Marshall, “karena kaum anarkis menghargai kebebasan individu,  dalam waktu yang lama, nilai-nilai anarkis menunjukkan sifat anti kekerasan dan bukan kekerasan.” (Demanding The Impossible, hal 637)  Malatesta bahkan lebih eksplisit lagi dalam tulisannya, bahwa “bagian utama dari anarkisme adalah pemindahan kekerasan dari hubungan manusia” dan bahwa anarkis “melawan kekerasan”. (Life and Ideas, hal 53)

Namun, meski banyak kaum anarkis yang menolak kekerasan dan menyatakan pasifisme, pada umumnya, gerakan secara esensial tidak bersifat pasifistis (dalam artian melawan semua bentuk kekerasan setiap saat). Anarkisme anti militer, malah melawan kekerasan negara yang terorganisir, namun demikian mengakui bahwa ada perbedaan penting antara kekerasan penindas dengan kekerasan tertindas. Hal ini menjelaskan mengapa gerakan anarkis selalu meluangkan banyak waktu dan energi untuk melawan mesin militer dan perang kapitalis, sementara diwaktu yang sama mendukung dan mengorganisir perlawanan bersenjata melawan penindasan (seperti dalam kasus pasukan Makhnovist selama revolusi Rusia yang melawan baik pasukan putih maupun merah serta milisi-milisi anarkis yang diorganisir untuk melawan kaum fasis selama revolusi Spanyol– lihat bagian A.5.4 dan A.5.6 dengan berturut-turut).

Dalam hal anti kekerasan, seperti yang sudah-sudah, gerakan dibagi antara garis individualis dan sosial. Sebagian besar kaum anarkis individualis mendukung taktik tanpa kekerasan terhadap perubahan sosial seperti halnya kaum mutualis. Namun, anarkisme individualis tidak bersifat pasifis seperti itu, karena banyak juga yang mendukung gagasan kekerasan dalam mempertahankan diri melawan serangan. Sebagian besar kaum anarkis sosial, di sisi lain, benar-benar mendukung penggunaan kekerasan revolusioner, mereka benar-benar memegang teguh pendapat bahwa paksaan fisik akan diperlukan untuk merobohkan kekuasaan yang telah berurat akar dan untuk melawa serangan negara serta kapitalis (meski Bart de Ligt yang menulis karya klasik pasifis, The Conquest of Violence, adalah seorang anarko sindikalis). Seperti yang dikatakan Malatesta, kekerasan, meski “jahat” dapat dibenarkan hanya jika diperlukan untuk mempertahankan diri seseorang dan lainnya dari kekerasan” dan bahwa “seorang budak selalu dalam keadaan bertahan dan akibatnya kekerasan yang dilakukannya untuk melawan majikan, penindas, secara moral selalu dapat dibenarkan.” (op.cit., hal 55, 53-54) Terlebih lagi, mereka menekankan bahwa, menggunakan kata-kata Bakunin, karena penindasan sosial “lebih berasal dari pengaturan dan keadaan sosial bukannya individu”, kaum anarkis bertujuan untuk “menghancurkan keadaan dan segala sesuatunya dengan kejam” dan bukan orang-orangnya, karena tujuan revolusi anarkis adalah untuk berakhirnya kelas-kelas yang memiliki hak-hak istimewa “bukan sebagai individu melainkan sebagai kelas.” (dikutip oleh Ricard B. Saltman, The Social and Plitical Thought of Michael Bakunin, hal 121, 124, 122)

Tentu saja, masalah kekerasan secara relatif tidak penting bagi sebagian besar kaum anarkis, karena mereka tidak mengagungkannya dan berpikir untuk meminimalkannya selama revolusi atau perjuangan sosial apapun. Semua anarkis sepakat dengan anarko sindikalis pasifis Belanda, Bart de Ligt, ketika ia menyatakan bahwa “kekerasan dan peperangan yang merupakan karakteristik dunia kapitalis tidak sejalan dengan kebebasan individu, yang merupakan misi bersejarah kelas-kelas yang tereksploitasi. Semakin besar kekerasan, semakin lemah revolusi, bahkan di manapun kekerasan secara sengaja dijadikan sarana revolusi.” (The Conquest of Violence, hal 75).

Begitu juga semua anarkis sepakat dengan de Ligt, menggunakan judul salah satu bab dalam bukunya, “The Absurdity of Bouergeois Pasifism.” Bagi de Ligt, dari semua anarkis, kekerasan inhern dalam sistem kapitalis dan usaha apapun untuk membuat kapitalisme bersifat pasif akan mengalami kegagalan. Hal ini disebabkan, di pihak lain, perang seringkali hanyalah sebuah kompetisi ekonomi yang dilakukan dengan cara lain. Bangsa-bangsa seringkali berperang ketika menghadapi krisis ekonomi, apa yang tak dapat mereka peroleh dalam perjuangan ekonomi akan berusaha didpatkan melalui konflik. Di sisi lain, “kekerasan sangat diperlukan dalam masyarakat modern… (karena)  tanpa itu kelas berkuasa akan benar-benar kesulitan mempertahankan posisi istimewanya yang terkait dengan massa yang dieksploitasi di tiap-tiap negara. Angkatan bersenjata digunakan pertama dan terutama untuk mengendalikan para pekerja… ketika mereka tidak puas.” (Bart de Ligt, op.cit., hal 62) Selama negara dan kapitalisme ada, kekerasan tak dapat dielakkan dan sehingga, bagi kaum anarko pasifis, pasifis yang konsisten pastilah seorang anarkis, sama halnya seorang anrkis yang konsisiten pastilah seorang pasifis.

Bagi kaum anarkis yang bukan pasifis, kekerasan merupakan sesuatu yang sangat disayangkan namun tak dapat dihindari sebagai  hasil dari  penindasan dan eksploitasi, sekaligus sebagai satu-satunya sarana yang digunakan agar kelas-kelas istimewa yang memiliki hak-hak istimewa meninggalkan kekuasaan dan kekayaan mereka. Mereka yang berkuasa jarang menyerahkan kekuasaannya, sehingga harus dipaksa. Karena itu, kebutuhan akan kekerasan “transisional untuk mengakhiri kekerasan yang jauh lebih  besar, dan permanan, yang menyebabkan mayoritas umat manusia berada dalam perbudakan.” (Malatesta, op.cit., hal 55) Berkonsentrasi pada isu kekerasan melawan anti kekerasan merupakan pengabaian isu sesungguhnya, yaitu bagaimana kita mengubah masyarakat menjadi  lebih baik. Seperti pendapat Alexander Berkman, kaum aanarkis yang pasifis ini mengacaukan isu, seperti halnya mereka yang berpikir bahwa  ”menyingsingkan baju untuk kerja sama dengan bekerjaa itu sendiri.” Sebaliknya, “bagian perjuangan dalam revolusi hanyalah menyingsingkan bajumu semata-mata. Tugas aktual yang  nyata ada di depan.” (ABC of Anarchism, hal 40) Malah, sebagian besar revolusi dan perjuangan sosial secara relatif berawal dengan damai (melalui pemogokan, pendudukan, dan lain-lain) dan hanya diubah ke dalam kekerasan ketika mereka yang berkuasa mencoba mempertahankan posisi mereka (contoh klasik mengenai hal ini adalah peristiwa di Italia, tahun 1920, ketika terjadi pendudukan pabrik-pabrik oleh para pekerjanya yang kemudian diikuti dengan teror fasis–lihat bagian A.5.5)

Seperti yang dituliskan diatas, semua anarkis anti militer dan melawan mesin militer (dan juga industri “pertahanan”) seperti halnya perang negara / kapitalis (meski ada beberapa anarkis seperti Rudolf Rocker dan Sam Dolgoff, yang mendukung pihak kapitalis anti fasis selama perang dunia kedua sebagai iblis yang tak terlalu jahat). Pesan anti mesin  perang dari para anarkis dan anarko sindikalis disebar luaskan jauh sebelum perang dunia pertama dimulai, dengan kaum sindikalis dan anarkis di Britania dan Amerika Utara yang mencetak kembali leaflet CGT Perancis yang mendorong serdadu agar tidak mematuhi perintah dan tidak menekan para pekerja yang  mogok. Emma Goldman dan Alexander Berkman ditangkap dan dideportasi dari Amerika karena mengorganisir “No-Conscription League”di tahun 1917, sementara itu banyak kaum anarkis Eropa yang dipenjara karena menolak bergabung dengan angkatan bersenjata di perang dunia pertama dan kedua.Kaum anarko sindikalis yang terpengaruh IWW dihancurkan oleh gelombang represi pemerintah yang kejam berkaitan dengan ancaman organisasi dan pesan anti perang yang ditunjukkan pada elit-elit berkuasa yang mendukung perang. Yang lebih baru lagi, kaum anarkis, (termasuk orang-orang seperti Noam Comsky dan Paul Goodman) aktif dalam gerakan perdamaian seperti memberikan kontribusi pada perlawanan terhadap wajib militer. Kaum anarkis ikut berperan aktif dalam melawan perang, seperti perang Vietnam, perang Falklands, seperti juga perang Teluk (termasuk, di Italia, membantu mengorganisir pemogokan sebagai protes melawannya). Dan selama konflik terakhir ini, ketika banyak kaum anarkis meneriakkan slogan “tak ada perang selain perang kelas” yang dengan manisnya menyimpulkan perlawann kaum anarkis pada perang–yaitu konsekuensi kejam dari sistem kelas, yang di dlamnya kelas-kelas tertindas diberbagai negara saling membunuh demi kekuasaan dan keuntungan penguasa mereka. Daripada ikut ambil bagian dalam pembunuhan massal yang terorganisir ini, kaum anarkis mendorong kaum pekerja untuk memenuhi kepentingan mereka sendiri dari pada kepentingan majikannya:

“Daripada sekedar menghindari kompromi; memperdalam perbedaan antara kaum kapitalis dan budak upaahn, antara penguasa dan yang dikuasai; mengajarkan pengambilalihan kepemilikan pribadi dan destruksi negara sebagai satu-satunya cara menjamin persaudaraan di antara manusia, serta keadilan dan kebebasan bagi semuanya; dan kita harus siap menuntaskan semua ini.” (Malatesta, op.cit., hal. 251)

[harus dicatat di sini bahwa pernyataan Malatesta ditulis untuk melawan Peter Krooptkin yang, untuk alasan yang hanya ia ketahui sendiri, menolak semua yang argumen Malatesta selama beberapa dekade dan mendukung aliansi dalam perang dunia pertama sebagai iblis yang tak terlalu jahat melawan otoritarianisme Jerman dan imerialisme. Tentu saja, seprti yang ditunjukkan Malatesta, “semua pemerintah dan kelas kapitalis” memiliki  “perlakuan buruk… terhadap pekerja dan pemberontak di negara mereka.” (op.cit., hal 46)]

Jadi, ketertarikan pasifisme bagi kaum anarkis merupakan hal yang jelas. Kekerasan bersifat otoriter dan koersif, sehingga penggunaannya kontradiksi dengan prinsip-prinsip kaum anarkis. Inilah sebabnya mengapap kaum anarkis sepakat dengan Malatesta ketika ia berpendapat bahwa “kita berprisip melawan kekerasan untuk alasan ini berharap agar perjuangan sosial dilakukan semanusiawi mungkin.” (op.cit., hal 57) Sebagian besar, jika tidak semua, kaum anarkis yang bukan pasifis sepakat dengan pasifis anarkis ketika mereka menyatakan bahwa kekerasan seringkali dapat bersifat tidak produktif, mengasingkan orang dan memberi alasan bagi negara untk menekan gerakan anarkis dan gerakan rakyat untk perubahan sosial. Semua kaum anarkis mendukung aksi langsung tanpa kekerasan dan pembangkangan sipil, yang seringkali memberikan jalan yang lebih baik menuju jalan radikal.

Jadi, sebagai kesimpulan, tidak terlalu banyak kaum anarkis yang benar-benar pasifis. Sebagian besar menerima penggunaan kekerasan sebagai kejahatan yang diperlukan dan pembelaan tetapi diusahakan meminimalkan penggunaannya. Semua sepakat bahwa revolusi merupakan kekerasan yang terlembagakan dan hanya akan memunculkan negara kemmbali dalam suattu bentuk baru. Namun, mereka berpendapat bahwa menghancurkan kekuasaan atau menggunakan kekerasan untuk melawan kekerasan bukanlah tindakan otoriter. Karena itu, meski sebagian besar kaum anarkis bukan pasifis, sebagian besar menolak kekerasan kecuali dalam hal mempertahankan diri dan bahkan berusaha meminimalkan.

A.3.5 Apa itu anarka feminisme?

Meski perlawanan terhadap negara dan semua bentuk kekuasaan telah cukup banyak dibicarakan di antara kaum feminis di awal abad 19, gerakan feminis yang lebih baru dimulai tahun 1960-an dan berdiri berdasarkan praktek anarkis. Dari sinilah muncul term anarka feminisme, berhubungan dengan anarkis perempuan yang bertindak dalam gerakan anarkis dan feminis yang besar untuk mengingat prinsip mereka.

Anarkisme dan feminisme selalu memiliki kaitan yang dekat.  Banyak feminis terkenal yang juga anarkis, termasuk pelopornya Mary Wollstonecraft (pengarang A Vindication of The Rights of Woman), komunat Louise Michel, Voltairene de Cleyre, dan pejuang kebebasan perempuan yang tak kenal lelah Emma Goldman (lihat esay yang terkenal “The Traffic In Women”, “Woman Suffrage”, “The Tragedy of Woman’s Emancipation”, “Marriage and Love”, dan “Victims of Morality”, sebagai contoh). Freedom, koran anarkis tertua di dunia, didirikan oleh Charlotte Wilson tahun 1886. Sebagai tambahan, semua pemikir anarkis utama (seperti Proudhon) merupakan pendukung kesetaraan wanita. Gerakan “free women” di Spanyol selama revolusi Spanyol adalah contoh klasik dati anarkis perempuan yang mengorganisir dirinya melawan kebebasan dasar mereka dan menciptakan masyarakat berdasarkan kebebasan dan kesetaraan wanita (lihat Free Women of Spain karya Martha Ackelsberg, untuk keterangan lebih lanjut mengenai organisasi penting ini).

Anarkisme dan feminisme memiliki banyak perhatian dan sejarah yang sama mengenai kebebasan individu, kesetaraan dan derajat bagi anggota berjenis kelamin wanita (meski, seperti yang akan kita jelaskan di bawah dengan lebih mendalam, kaum anarkis selalu sangat kritis terhadap aliran utama liberal feminisme karena mereka tidak terlalu kritikan mereka tidak terlalu mendalam). Karena itu, tidak terlalu mengejutkan ketika gelombang feminisme di tahun 1960-an menyatakan dirinya dalam cara anarkis  dan mendapat banyak inspirasi dari figur anarkis seperti Emma Goldman. Cathy Levine menunjukkan bahwa, selama waktu tersebut, “kelompok wanita independen mulai bergerak tanpa struktur, pemimpin, dan semua pembantu umum pria yang ada, menciptakan, secara independen dan terus menerus, orgnisasi-organisasi yang sama dengan kaum anarkis di beberapa dekade dan wilayah. Bukan suatu kebetulan.” (dikutip oleh Clifford Harper, Anarchi : A Graphic Guide, hal 182)

Hal ini bukan kebetulan karena, seperti yang dituliskan oleh tokoh feminis, wanita merupakan korban pertama dari masyarakat hierarkis yang diawali dari munculnya patriarki dan ideologi dominasi selama akhir era neolitik. Marilyn French berpendapat (dalam Beyond Power) bahwa stratifikasi sosial utama yang pertama dalam umat manusia terjadi ketika pria mulai mendominasi wanita, dengan wanita yang menjadi kelas sosial  “lebih rendah” dan “inferior”.

Peggy Kornegger memberikan perhatian pada hubungan yang kuat anatar feminisme dan anarkisme, baik secara teori maupun praktek. “Perspektif  feminis radikal hampir sepenuhnya anarkisme,” tulisnya. “Teori dasar mempostulasikan keluarga inti sebagai dasar dari semua sistem otoriter. Seorang anak belajar, “dari ayahnya, kemudian kepada guru, kepada majikan, kepada Tuhan, untuk mematuhi suara anonim otoritas yang besar. Beranjak dari masa anak-anak menuju kedewasaan adalah menjadi mesin yang telah jadi, tidak memiliki kemampuan bertanya dan berpikir dengan jelas.” (ibid.) begitu juga pendapat Zero Collective bahwa anarka feminisme muncul karena adanya pengakuan anarkisme feminisme dan mengembangkannya dengan sadar.”(The Raven, no. 21, hal 5) Anarka feminis menunjukkan bahwa sifat dan nilai otoriter, sebagai contoh, dominasi, eksploitasi, keagresifan, persaingan, ketidakpekaan, dan lain-lain, dihargai dengan tinggi dalam peradaban hierarkis dan secara tradisional dihubungkan sebagai “maskulin”. Sebaliknya, nilai dan sikap otoriter seperti kerjasama, berbagi, perasaan terharu, sensitifitas, kehangatan, dan lain-lain, secara tradisional dikenal sebagai “feminim” dan tidak berharga. Tokoh-tokoh feminis telah menelusuri fenomena ini dari masa lalu menuju masyarakat patriarkis selama abad perunggu dan penaklukkan mereka terhadap masyarakat “organis” yang didasarkan pada kerjasama di mana nilai dan sifat  “feminim” dihargai dan merupakan hal yang umum. Namun, setelah penaklukan ini nilai-nilai seperti itu dianggap “inferior”, khususnya bagi pria, karena pria menguasai dominasi dan eksploitasi di bawah patriarki. (lihat contohnya Riane Eisler, The Chalice and The Blade; Elise Boulding, The Underside of History). Karena itu anarka feminis menghubungkan penciptaan masyarakat anarkis non otoriter yang di dasrkan pada kerjasama, berbagi, saling membantu dan lain-lain, sebagai “feminisasi msyarakat.”

Anarka feminis telah mencatat bahwa “mem-feminis-kan” masyarakat tak dapat terjadi tanpa pengelolaan sendiri dan desentralisasi. Hal ini karena nilai-nilai dan tradisi patriarkis otoriter yang ingin mereka hancurkan terwujud dan direproduksi dalam hierarki. Jadi, feminisme menunjukkan desentralisasi, yang pada gilirannya menunjukkan pengelolaan sendiri. Banyk kum feminis yang mengakui hal ini, seperti yang terefleksi dalam eksperimen mereka dengan bentuk-bentuk kolektif organisasi feminis yang mengeliminir struktur hierarkis dan bentuk kompetitif pembuatan keputusan. Beberepa feminis bahka berpendapat bahwa pengaturan-pengaturan demokrasi langsung  merupakan bentuk politis feminis secara khusus (lihat contohnya, Nancy Hartsock “Feminist Theory and the Development of Revolutionary Strategt,” dalam Zeila Eisenstein, ed., Capitalist Patriarchy and the Case for Socialist Feminism, hal. 56-57). Seperti halnya semua kaum anarkis, anarka feminis mengakui bahwa pembebasan diri merupakan kunci kesetaraan perempuan dan juga, kebebasan. Sehingga Emma Goldman berpendapat:

“Perkembangan kaum perempuan, kebebasan, kemandiriannya, harus datang darin dan melalui dirinya sendiri. Pertama, dengan menampilkan diri sebagai personal, dan bukan sebagai komoditas seks. Kedua, dengan menolak hak seseorang di atas orang lain; dengan menolak melahirkan anak, jika ia menginginkannya, denagn menolak menjadi pelayan bagi Tuhan, negara, masyarakat, suami, keluarga, dan lain-lain, denagn membuaty hidupnya menajdi lebih sederhana, namun mendalam dan lebih kaya, Yaitu, dengan mempelajari makna dan substansi kehidupan dalam semua kompleksitasnya; dengan membebaskan dirinya dari ketakutan terhadap opini dan penghukuman publik.” (Anarchism and Other Essays, hal. 211)

Anarka feminisme mencoba menjaga feminisme dari pengaruh dan dominasi ideologi otoriter, baik kiri maupun kanan.Kelompok ini mengusulkan aksi langsung dan pertolongan terhadap diri sendiri daripada kampanye reformis massal yang didukung oleh gerakan feminis “resmi”, dengan ciptaanya terhadap organisasi hierarkis dan sentralis serta ilusi bahwa dengan memiliki majikan, politisi dan tentara perempuan akan membawa mereka menuju “kesetaraan”. Anarka feminis menunjukkan bahwa yang disebut “pengelolaan ilmu” yangharus dipelajari wanita untuk menjadi palung-palung dalam perusahaan-perusahaan kapitalis yang secara esensial merupakan seperangkat teknik untuk mengendalikan dan mengeksploitasi pekerja upahan dalam hierarki korporat, sedangkan “feminisasi” masyarakat membutuhkan eliminasi perbudakan upahan kapitalis dan dominasi pengelolaan semua bidang. Anarka feminis sadar bahwa mempelajari bagaimana menjadi eksploitator atau penindas yang efektif bukanlah bagian dari kesetaraan (seperti seorang anggota Mujures Libres mengatakan, “(k)ami tidak ingin menggantikan hierarki maskulin dengan hierarki feminin.” [dikutip oleh Martha A. Ackelsberg, Free Women of Spain, hal. 2]– lihat juga bagian B.1.4 untuk pembahasan lebih lanjut menegani patriarki dan hierarki).

Karena itu perselisihan tradisional anarkisme dengan liberal/trend feminisme, meski mendukung kesetaraan dan pembebasan perempuan. Federica Montseny (figur pemimpin dalam gerakan kaum anarkis Spanyol) berpendapat bahwa feminisme berpendapat bahwa feminsme semacam itu membela persamaan bagi perempuan, namun tidak melawan institusi yang ada. Ia berpendapat bahwa (aliran) feminisme “hanya berambisi memberi kaum perempuan dari kelas tertentu suatu kesempatan untuk ikut serta berpartisipasi secara penuh dalam sistem yang ada yang memberi hak istimewa.” (dikutip oleh Martha A. Ackelsberg, Op.Cit., hal. 90-91, hal. 91)

Jadi, dalam gerakan kaum anarkis yag bersejarah, seperti yang catatan Martha Ackelsberg, liberal/trend feminisme dianggap sebagai “terfokus terlalu dalam pada strategi untuk emansipasi perempuan; perjuangan seksual tidak dapat dipisahkan dari perjuanagn kelas atau dari tugas kaum anarkis sebagai suatu keseluruhan.”(Op.Cit., hal. 91) Anarka feminisme meneruskan tradisi ini dengan berpendapat bahwa semua bentuk hierarki adalah salah, bukan hanya patriarki, dan bahwa feminisme berkonflik dengan cita-citanya sendiri jika sungguh-sungguh ingin membuat kaum perempuan memiliki kesempatan yang sama dengan kaum pria untuk menjadi majikan.

Karena itu, kaum anarka feminis, seperti halnya semua kaum feminis lainnya melawan semua bentuk kapitalisme karena mengingkari kebebasan. Pemikiran bahwa sebuah kapitalisme yang “memiliki kesempatan sama” akan membebaskan perempuan mengabaikan kenyataan bahwa dalam sistem apapun yang semacam itu masih akan terdapat perempuan kelas pekerja yang ditindas oleh majikannya (baik pria maupun perempuan). Bagi kaum anarka feminis, perjuangan bagi kebebasan perempuan tak dapat begitu saja dilepaskan dari perjuangan melawan hierarki. Seperti pernyataan Susan Brown:

“Anarkis feminisme, sebagai suatu pernyataan dari sensibilitas kaum anarkis yang diaplikasikan ke dalam fokus kaum feminis, menempatkan individu sebagai titik awal berlawanan dengan hubungan dominasi dan subordinasi, berpendapat: bagi bentuk-bentuk ekonomis instrumental yang mencegah kebebasan eksistensial individu, baik bagi pria maupun perempuan.” (The Politics of Individualism, hal. 144)

Kaum anarka-feminis telah banyak memberikan kontribusi pada pemahaman kita mengenai asal krisis ekologis dalam nilai-nilai otoriter peradaban hierarkis. Contohnya, sejumlah tokoh feminis berpendapat bahwa dominasi terhadap alam terkait dengan dominasi terhadap perempuan, yang diidentifikasikan dengan alam sepanjang sejarah (liihat, sebagai contoh, Carline Merchant, The Death of Nature, 1980) Baik perempuan merupakan korban dari obsesi dengan kendali yang mencirikan personalitas otoriter. Karena alasan inilah, jumlah kaum radikal ekologi dan feminis yang semakin bertambah menunjukkan pengakuan bahwa hierarki harus dibongkar untuk mencapai tujuan akhir mereka.

Sebagai tambahan,anarka feminisme mengingatkan kita akan pentingnya memperlakukan perempuan setara dengan pria sementara, di saat yang saam, menghargai perbedaan pria dengan perempuan. Dengan kata lain, mengakui dan menghargai perbedaan di dalam perempuan seperti halnya pria. Terlalu sering kaum anarkis pria yang berpendapat bahwa, karena mereka  (secara teori) melawan seksisme, dalam prakteknya mereka tidak bersikap sexist. Asumsi semacam itu salah,. Anarka feminisme mempertanyakan konsistensi antara teori dan praktek di hadapan sosial aktivisme dan mengingatkan kita semua bahwa kita harus berjuang bukan hanya untuk paksaan eksternal, namun juga yang internal.

A.3.6 Apa itu anarkisme kultural?

Sesuai tujuan, kami akan mendefinisikan kultural anarkisme sebagai peningkatkan nilai-nilai anti otoriter melalui aspek-aspek masyarakat secara tradisional yang dianggap sebagai bagian dari nuansa “budaya” daripada “ekonomi” atau “politik”– sebagai contoh, melalui seni, musik, drama, literatur, pendidikan, membesarkan anak, moralitas seksual, tekhnologi, dan lain-lain.

Ekspresi kultural bersifat anarkis terhadap bidang yang sengaja mereka serang, atau tumbangkan, khususnya dominasi dan eksploitasi. Jadi, novel yang melukiskan kejahatan militerisme dapat dianggap sebagai anarkisme kultural jika berlangsung di luar model sederhana “perang itu neraka” dan membuat pembaca melihat bagaimana militerisme terhubung dengan institusi otoriter (contoh: kapitalisme dan negara-isme) atau metode pengkondisian otoriter (contoh: diasuh dalam kelurga patriakal tradisional). Atau seperti yang dikatakan John Clark, anarkisme kultural “menunjukkan perkembanagn seni, media, dan bentuk-bentuk simbolis lainnya yang mengekspos bermacam-macam aspek sistem dominasi dan membandingkannya dengan sistem nilai-nilai yang berdasarkan kebebasan dan komunitas.” (The Anarchist Moment: Reflections on Culture, Nature and Power)

Anarkisme kultural penting –malah esensial–karena nilai-nilai otoriter telah ditanamkan dalam sistem dominasi keseluruhan dengan banyak aspek di samping ekonomi dan politik. Karena itu nilai-nilai tersebut tidak dapat dicabut bahkan dengan kombinasi revolusi ekonomi dan politik jika tidak juga disertai dengan perubahan psikologis dalam mayoritas penduduk. Persetujuan massa yang dilakukan dengan tanpa protes dalam masyarakat sekarang ini berakar pada struktur fisik manusia (“struktur karakter” mereka, menggunakan istilah Wilhelm Reich) yang diproduksi melalui berbagai bentuk pengkondisian dan sosialisasi yang telah berkembang bersama dengan peradaban otoriter patriakal selama lima atau enam ribu tahun yang lalu.

Dengan kata lain, bahkan jika kapitalisme dan negara dirobohkan esok hari, orang-orang dengan segera menciptakan bentuk-bentuk kekuasaan baru di tempat mereka.  Karena kekuasaan– pemimpin yang kuat, rantai komando, seseorang yang memberi perintah dan menerima tanggungjawab untuk memikirkan orang lain– merupakan sesuatu yang dirasa paling nyaman bagi individu otoriter / penindas. Sayangnya, mayoritas manusia takut terhadap kebebasan yang sesungguhnya, dan malah, tidak tahu apa yang harus dikerjakan dengan kebebasan itu — seperti yang ditunjukkan dengan serangkaian revolusi yang gagal, dan gerakan kebebasan yang di dalamnya terdapat cita-cita revolusioner kebebasan, demokrasi dan kesetaraan yang dikhianati. Dan hierarki baru beserta kelas penguasa diciptakan dengan segera. Kegagalan ini pada umumnya dihubungkan dengan intrik para politisi reaksioner dan kapitalis, dan juga pengkhianatan para pemimpin revolusioner; namun politisi reaksioner hanya menarik pengikut karena mereka menemukan tanah yang subur bagi tumbuhnya cita-cita otoriter mereka dalam struktur karakter rakyat biasa.

Karena itu prasyarat bagi revolusi anarkis adalah periode pencapaian kesadaran yang di dalamnya rakyat secara terus menerus menyadari sifat otoriter/ menindas dalam diri mereka, lalu melihat bagaimana sifat-sifat ini direproduksi oleh pengkondisian, dan akhirnya memahami bagaimana agar sifat-sifat ini dapat dikurangi atau dihilangkan melalui bentuk budaya yang baru, khususnya pola asuh anak dan metode pendidikan yang baru. Kita akan mengeksplorasi lebih lanjut isu ini dalam bagian B.1.5 (Apa basis psikologi sosial bagi peradaban otoriter?), J.6 (Metode mengasuh anak seperti apakah yang dibela kaum anarkis?) dan J.5.13 (Apa itu sekolah modern?).

Gagasan kaum kultural anarkis dibicarakan hampir semua aliran anarkis, dan pencapaian kesadaran dianggap sebagai bagian esensial dari gerakan anarkis apapun. Bagi kaum anarkis, pentingnya “membangun dunia baru di tempat lama” dalam semua aspek kehidupan kita dan menciptakan budaya anarkis merupakan bagian dari aktivitas tersebut. Namun, tidak banyak kaum anarkis yang menganggap pencapaian kesadaran sudah cukup sehingga mengkombinasikan aktifitas kaum kultural anarkis dengan pengorganisiran, menggunakan aksi langsung dan membangun alternatif liberal dalam masyarakat kapitalis. Gerakan anarkis merupakan gerakan yang mengkombinasikan aktifitas diri praksis dengan kerja-kerja kultural dan keduanya saling mendukung dan melengkapi.

A.3.7 Adakah anarkis religius?

Ya ada. Meski sebagian besar anarkis melawan religi dan gagasan akan Tuhan sebagai anti manusia dan pembenaran bagi perbudakan dan kekuasaan duniawi, ada sedikit penganut agama yang meletakkan gagasan mereka ke dalam pemikiran anarkis. Seperti halnya semua anarkis, kaum religius anarkis telah mengkombinasikan perlawanan terhadap dunia dengan bersikap kritis mengenai kepemilikan pribadi dan ketidaksetaraan. Dengan kata lain, anarkisme tidak sepenuhnya ateistis. Malah, menurut Jacques Ellul, “pemikiran Kitab Suci secara langsung mengarah pada anarkisme, dan hal ini hanya poisi ‘politik yang anti politik’ sesuai dengan para pemikir Kristen.” (dikutip oleh Peter Marshall, Demanding The Impossible, hal 75)

Ada banyak jenis-jenis anarkisme berbeda yang diilhami oleh pemikiran religius. Seperti tulisan Peter Marshall, : “pernyataan pertama yang sangat jelas mengenai sensibilitas seorang anarkis mungkin dapat disusun kembali menuju Taois pada masa China kuno kira-kira enam abad sebelum masehi” dan “Budhisme khususnya dalam bentuk Zen,… memiliki … sebuah semangat liberal yang kuat.” (op.cit., hal 53, 65) Beberapa orang mengkombinasikan pemikiran anarkis mereka dengan pengaruh Pagan dan Spiritualis. Namun, anarkisme religius biasanya mengambil bentuk anarkisme kristen, yang akan menjadi fokus kita di sini.

Kaum anarkis kristen mengambil kata-kata Yesus kepada pengikutnya bahwa “para raja dan gubernur telah mendominasi orang lain; jangan sampai hal itu terjadi di antara kalian.” begitu juga dalam Surat Paulus bahwa “tak ada kekuasaan selain Tuhan” diwujudkan dengan pengingkaran kekuasaan negara dalam masyarakat. Jadi, bagi seorang Kristen sejati, negara merampas kekuasan Tuhan dan terserah pada masing-masing individu untuk memerintah dirinya sendiri serta menemukan bahwa (menggunakan judul buku terkenal karangan Tolstoy) The Kingdom of God is Within You. Kesukarelaan Yesus untuk hidup miskin, komentar-komentarnya mengenai penyalahgunaan akibat kekayaan dan klaim Injil bahwa dunia diciptakan bagi kemanusiaan untuk dinikmati bersama dijadikan sebagai basis kritik sosialistis mengenai kepemilikan pribadi dan kapitalisme. Malah, Gereja Kristen purba (yang dapat dianggap sebagai gerakan pembebasan budak, meski pada akhirnya terkooptasi menjadi agama negara), didasarkan pada pembagian barang material secara komunistik, suatu tema yang terus menerus ditonjolkan dalam gerakan-gerakan kristen radikal (malah, Injil digunakan untuk menyatakan aspirasi liberal radikal kaum tertindas, yang di kemudian hari mengambil bentuk terminologi anarkis atau marxis). Seperti komentar egaliterian pendeta John Ball selama revolusi petani 1381 di Inggris :

“Ketika Adam melakukan penyelidikan dan Hawa yang melaksanakannya,

Kemudian,  siapakah yang dianggap gentleman?”

Sejarah anarkisme Kristen meliputi Kepercayaan akan Jiwa yang Bebas di masa abad pertengahan, revolusi petani dan kaum Anababtis pada abad ke enambelas. Tradisi liberal dalam Kristen munculkembali pada abad ke delapanbelas dalam tulisan William Blake dan seorang amerika Adam Ballou yang membuat kesimpulan anarkis dalam Practical Christian Socialism di tahun 1854. Namun, anarkisme Kristen didefinisikan dengan jelas dalam hubungannya dengan gerakan kaum anarkis dalam karya Leo Tolstoy, seorang pengarang Rusia terkenal.

Tolstoy mengambil ayat dari Injil dan menganggap bahwa seorang Kristen sejati harus melawan negara. Dari membacaInjil, Tolstoy menmbuat kesimpulan anarkis:

“menguasai berarti mengunakan paksaan, dan menggunakan paksaan berarti menyuruh orang yang dipaksa melakukan apa yang tidak ia sukai, dan apa yang pemaksa tidak sukai. Akibatnya menguasai berarti menyuruh orang lain melakukan apa yang tidak kita sukai, yaitu melakukan hal yang buruk.” (The Kingdom of God Is within You, hal 242)

Jadi, seorang Kristen sejati harus menahan diri untuk memerintah orang lain dari posisi anti negara ini, ia berpendapat untuk mendukung suatu masyarakat yang mengatur dirinya sendiri:

“Mengapa berpikir bahwa rakyat biasa tak dapat menatur hidup mereka sendiri, seperti halnya orang-orang pemerintah dapat mengatur bukan hanya kehidupan mereka namun juga orang lain?” (The Anarchist Reader, haal 305)

Tolstoy mendorong aksi tanpa kekerasan melawan penindasan, dengan memahami transformasi spiritual individu sebagai kunci untuk menciptakan masyarakat anarkis. Seperti pendapat Max Nettlau, “kebenaran besar yang ditekankan Tolstoy adalah bahwa pengakuan kekuasaan kebenaran, kebaikan, solidaritas- dan semua yang disebut cinta- terletak dalam diri kita sendiri dan bahwa hal itu dapat serta harus dibangkitkan, dikembangkan daan dipergunakan dalam tingkah laku kita.” (A Short History of Anarchism, hal 251-2)

Seperti semua anarkis, Tolstoy bersikap kritis terhadap kepemilikan pribadi dan kapitalisme. Sama halnya dengan Henry George (yang pemikirannya, seperti pemikiran Proudhon, memiliki pengaruh kuat terhadap Tolstoy), Tolstoy melawan kepemilikan pribadi atas tanah dan berpendapat bahwa “jika bukan karena mempertahankan kepemilikan tanah, dan akibatnya kenaikan harga, rakyat tidak akan berkumpul dalam wilayah yang sempit, namun menyebar ke tanah -tanah  tak bertuan yang masih banyak terdapat di dunia ini.” Terlebih lagi, “ dalam perjuangan ini (untuk kepemiilkan tanah) yang mendapat keuntungan bukan mereka yang bekerja di ladang, melainkan mereka yang turut serta dalam kekerasan pemerintah.” (Op. Cit., hal. 307) Dengan demikian Tolstoy mengakui bawha hak kepemilikan terhadap apapun di luar penggunaannya membutuhkan kekerasan negara utnuk melindunginya.” (barang milik “selalu dilindungi oleh kebiasaan, opini publik, oleh rasa keadilan dan resiproksitas, dan tak perlu dilindungi kekerasan.” [Ibid.]) Malah, ia berpendapat bahwa:

“Sepuluh ribu hektar tanah hutan yang dimiliki oleh satu orang – sementara ribuan orang di dekatnya tidak memiliki bahan bakar – membutuhkan perlindungan dengan kekerasan. Demikian juga pabrik-pabrik dan pekerjaan yang menipu para pekerjanya selama beberapa generasi dan hingga saat ini masih tetap melakukannya. Bahkan lebih dari ratusan ribu gantang beras dimiliki oleh satu orang, dan dijual kembali dengan harga tiga kali lipat lebih tinggi pada saat musim lapar.” (Ibid.)

Tolstoy berpendapat bahwa kapitalisme secara moral dan fisik merusak individu dan bahwa kaum kapitalis merupakan “tukang perintah”. Ia menganggap bahwa seorang kristen sejati tak akan menjadi seorang kapitalis, karena “ seorang pengusaha pabrik meripakan orang yang penghasilannya berasal dari nilai yang diperas dari pekerjanya, dan yang seluruh kepemilikannya didasarkan pada buruh yang dipaksa, tidak sesui dengan keinginnanya’ dan karena itu, “pertama, ia harus berhenti merusak kehidupan manusia demi keuntungannya sendiri.” (The Kingdom of God is Within You, hal. 338, 339) Bukan hal yang aneh ketika Tolstoy berpendapat bahwa kerjasama “adalah aktivitas sosial dan orang-orang yang dapat ikut serta di dalamnya hanyalah orang bermoral dan menghargai dirinya sendiri serta tidak ingin menjadi suatu bagian daari kekerasan.” (dikutip oleh Peter Marshall, Op.Cit., hal.378)

Dari perlawanannya terhadap kekerasan, Tolstoy menolak negara dan kepemilikan pribadi serta mendorong taktik pasifis untuk mengakhiri kekerasan dalam masyarakat dan menciptakan suatu masyarakat yang adil. Dalam kata-kata Nettlau, ia”menyatakan perlawanan terhadap iblis; dan untuk cara-cara perlawanan–dengan kekuatan aktif– ia menambah cara lain: perlawanan melalui pembangkangan, kekuatan pasif.” (Op.Cit., hal. 251) Dalam gagasannya mengenai masyarakat bebas, Tolstoy jelas mendapat pengaruh dari kehidupan pedesaan di Rusia dan karya-karya Peter Kropotkin (seperti Fields, Factories and Workshop), P.J Proudhon, dan seorang non anarkis Henry George.

Gagasan Tolstoy sangat mempengaruhi Gandhi, yang mengilhami rakyat sebangsanya untuk menggunakan perlawanan tanpa kekerasan untuk mengusir Inggris keluar dari India. Terlebih lagi, visi Gandhi mengenai India merdeka sebagai sebuah federasi komune petani sama dengan visi anarkis Tolstoy mengenai masyarakat yang bebas (meski perlu kita tekankan bahwa Gandhi bukanlah seorang anarkis). Catholic Worker Group di Amerika Serikat juga sangat terpengaruh dengan Tolstoy (dan Proudhon), seperti halnya Dorothy Day seorang pasifis dan anarkis Kristen taat yang mendirikan koran Catholic Worker di tahun 1933. Pengaruh Tolstoy dan anarkisme religius pada umumnya dapat juga ditemukan dalam gerakan Theology Pembebasan di Amerika Latin dan Utara yang mengkombinasikan pemikiran Kristen dengan aktivisme sosial diantara kelas pekerja dan petani (Meski harus kita catatkan di sini bahwa Theologi Pembebasan umumnya kebih terilhami oleh gagasan sosialis negara daripada anarkis)

Dalam negara-negara di mana gereja-gereja memegang kekuasaan politik secara de facto, seperti Irlandia, wilayah-wilayah Amerika Selatan, Spanyol pada abad 19 dan awal abad 20 dan banyak lagi, kaum anarkis secara tipikal sangat anti agama karena gereja memiliki kekuasaan menekan orang yang tidak sepakat dan perjuanagn kelas. Jadi, meski sebagian besar kaum anarkis adalah atheis (dan dengan demikian sepakat dengan Bakunin bahwa jika Tuhan ada. maka perlu dihapuskan demi kebebasan dan derajat manusia) terdapat tradisi minoritas dalam anarkisme yang menggambarkan kesimpulan anarkis dari agama. Sebagai tambahan, sebagian besar kaum anarkis menganggap pasifisme Tolstoyian sebagai dogmatis dan ekstrim, melihat kebutuhan (kadang-kadang) akan kekerasan untuk melawan iblis yang lebih besar lagi. Namun sebagian besar kaum anarkis sepakat dengan dengan Tolstoyian mengani kebutuhan transformasi nilai-nilai individu sebagai aspek kunci menciptakan masyarakat anarkis dan mengenai pentingnya anti kekerasan sebagai taktik umum (meski harus kita tekankan bahwa, tidak banyak kaum anarkis yang benar-benar menolak penggunaan kekerasan dalam mempertahankan diri, ketika tak ada pilihan lain).

A.3.8 Apa itu “anarkisme tanpa kata sifat”?

Dalam kata-kata sejarawan George Richard Esenwein, “anarkisme tanpa kata sifat” dalam arti yang lebih luas “berhubungan dengan bentuk-betuk anarkisme yang tak disertai dengan kata sifat, yaitu, sebuah doktrin tanpa memberi nama sifat seperti komunis, kolektivis, mutualis, individualis. Bagi lainnya,…(hal ini) benar-benar dipahami sebagai sebuah sikap yang mentolerasi koeksistensi aliran-aliran anarkis yang berbeda.” (Anarchist Ideology and the Working Class Movement in Spain, 1868-1898, hal.135)

Pencetus pernyataan ini adalah seorang kelahiran Kuba, Fernando Tarrida del Marmol yang menggunakannya di Barcelona November, 1889. Komentar ini ditujukan pada kaum aanrkis komunis dan kolektivis yang saat itu sedang terlibat dalam sebuah debat terus menerus mengenai manfaat teori-teori mereka. “Anarkisme tanpa kata sifat” merupakan sebuah usaha untuk menunjukkan toleransi yang lebih besar antara kecenderungan kaum anarkis dan dan untuk menjelaskan bahwa kaum anarkis tidak seharusnya memaksakan rencana pertimbangan ekonominya kepada siapapun–bahkan dalam teori. Jadi preferensi ekonomi kaum kitalis seharusnya menjadi “kepentinagn kedua” dalam menghapuskan kapitalisme dan negara, dengan pelaksanaan percobaan yang bebas dalam masyarakat yang bebas pula.

Jadi perspektif teoretis yang dikenal sebagai “anarquismo sin adjectives” (“anarkisme tanpa kata sifat”) merupakan hasil dari perdebatan dalam gerakan itu sendiri. Akar argemntasi dapat ditemukan dalam perkembangan anarkisme komunis setelah kematian Bakunin di tahun 1876. Meski tidak sepenuhnya berbeda dengan anarkisme kolektivis (seperti yang dapat dilihat dalam karya terkenal James Guillaume “On Building the New Social Order” dalam Bakunin on Anarchism, kaum kolektivis melihat sistem ekonomi berkembang dalam komunisme bebas), kaum anarkis komunis mengembangkan, memperdalam dan memperkaya karya Bakunin seperti halnya Bakunin telah mengembangakn, memperdalam dan memperkaya karya Proudhon. narkisme komunis dihubungkan dengan kaum anarkis seperti Elisee Reclus, Carlo Cafiero, Errico Malatesta dan (yang paling terkenal) Peter Kropotkin.

Gagasaan kaum anarkis komunis dengan segera menggantikan anaarkisme kolektivis sebagai kecenderungan utaam kaum anarkis di Eropa, kecuali di Spanyol. Di sini isu utamanya bukanlah hal komunisme (meski bagi Ricardo Mella hal ini cukup berperan) melainkan haal mengenai modifikasi strategi dan taktik yang ditunjukkan oleh anarkisme komunis. Pada saat itu (1880-an), kaum anrkis komunis menekankan sel-sel lokal (murni) militan-militan anarkis, biasaanya melawan serikat perdagangan (meski Kropotkin tidak termasuk di dalamnyakarena ia melihat pentingnya organisasi pekerj yang militan) sama halnya menjadi agak anti organisasi juga. Tidak mengherankan, perubahan semacam itu dalam strategi dan taktik yang banyak dibicarakan berasal adri kaum kolektivis Spanyol yang jelas-jelas mendukung organisasi dan perjuangan kelas pekerja.

Konflik ini dengan segera menyebar keluar Spanyol dan pembahasan mengenai ini dapat ditemukan dalam La Revolte di Paris. Isinya memprovokasi banyak kaum anarkis untuk sepakat dengan argumen Malatesta bahwa “tidak baik bagi kita, sebetulnya, jatuh ke dalam percecokan mengenai hipotesis belaka.” (dikutip oleh Max Nettlau, A Short History of Anarchism, hal. 198-199) Selanjutnya, sebagian besar kaum anarkis sepakat (menggunakan kata-kata Nettlau) bahwa “kita tak dapat meramalkan perkembangan ekonomi masa depan” (op.cit., hal 201) sehingga mulai menekankan pada apa yang mereka miliki bersama (perlawanan terhadap kapitalisme dan negara) dari pada perbedaan fisi mengenai bagaimana seharusnya masyarakat bebas berjalan. Seiring waktu berjalan, sebagian besar kam anarkis komunis melihat bahwa dengan mengabaikan gerakan buruh memastikan bahwa gagasan mereka tidak akan mencapai kelas pekerja meski sebagian besar kaum anarkis kolektifis menekankan komitmen mereka pada cita-cita komunis dan kedatangan mereka dengan segera, bukan belakangan, setelah revolusi.

Hal yang sama, di Amerika Serikat, juga terdapat berdebatan yang intensif di waktu yang sama antara kaum anarkis individualis dan anarkis komunis. Benyamin Tucker berpendapat bahwa kaum anarkis komunis bukanlah anarkis sementara John Most mengatakan hal yang sama mengenai pemikiran Tucker. Seperti halnya Mella dan Tarrida yang mengemukakan gagasan toleransi antara kelompok-kelompok anarkis, demikian juga seorang anarkis seperti Voltairene de Cleyre “mulailah menyebut diri sendiri dengan ‘anarkis’, dan menyebut Malatesta ‘anarkisme tanpa embel-embel’, karena dalam keadaan tanpa pemerintah banyak percobaan-percobaan berbeda yang mungkin dicobakan dalam lokalitas yang bermacam-macam untuk menentukan bentuk yang paling tepat.” (Peter Marshall, Demanding The Impossible, hal 393)

Perdebatan ini membawa pengaruh yang cukup lama dalam gerakan anarkis, dengan catatan kaum anarkis seperti de Cleyre, Malatesta, Nettlau, dan Reclus yang mengadaopsi perspektif toleran dan diwujudkan dalam pernyataan “anarkisme tanp a embel-embel” (lihat A Short History of Anarchism karya Nettlau, hal 195-201 untuk kesimpulannya). Juga, perlu ditambahkan, posisi dominan hal tersebut dalam gerakan anarkis dewasa ini dengan pengakuan sebagian besar kaum anarkis mengeni kebenaran kecenderungan lainnya terhadap nama “kaum anarkis” meski secara jelas, memiliki preferensi sendiri untuk model-model khusus teori anarkis  dan argumen mereka mengenai alasan mengapa model-model lain kurang. Namun demikian, kita harus menekankan bahwa bentuk-bentuk yang berbeda dari anarkisme (komunisme, sindikalisme, religius, dan lain-lain) tidak sungguh-sungguh eksklusif dan anda tidak harus mendukung yang satu dan membenci yang lain. Toleransi ini terefleksi dalam pernyataan “anarkisme tanpa embel-embel”.

Satu poin terakhir, beberapa anarko kapitalis telah berusaha menggunakan toleransi yang dihubungkan dengan “anarkisme tanpa nama aliran” untuk pendapat bahwa ideologi mereka seharusnya diterima sebagai bagian dari gerakan anarkis. Mengenai itu semua, bagaimanapun juga,  mereka berpendapat bahwa anarkisme hanyalah mengenai menghancurkan negara, masalah ekonomi merupakan kepentingan kedua. Namun demikian, penggunaan “anarkisme tanpa nama aliran” adalah palsu, karena telah disepakati bersama pada saat itu bahwa jenis ekonomi yang dibicarakan adalah anti kapitalis (contoh sosialistis) dengan kata lain, telah disepakati bahwa kapitalisme harus dihapuskan bersama dengan negara dan setelah itu adalah masalah eksperimentasi bebas untuk mengembangkannya. Dengan kata lain, perjuangan melawan negara hanyalah salah satu bagian dari perjuangan yang lebih besar untuk mengakhiri penindasan dan eksploitasi serta tak dapat dipisahkan dari tujuan yang lebih besar ini. Karena “anarko” kapitalis tidak berusaha menghapus kapitalisme bersama dengan negara, mereka bukanlah anarkis, sehingga “anarkisme tanpa nama aliran” tidak dapat diterapkan untuk mereka yang disebut “anarkis” kapitalis (liaht bagian F mengenai mengapa “anarko” kapitalisme bukan anarkis).