Sebuah wawancara seorang aktivis Jerman dengan 3 orang anarkis di Indonesia pertengahan tahun ini_

Wawancara ini diterbitkan dalam bahasa Jerman dalam buku Von bis Jakarta Johannesburg – Archismus Weltweit, Sebastian Kalicha dan Gabriel Kuhn (eds.) Unrast Verlag 2010

Bisakah anda memberitahu kami tentang sejarah anarkisme di Indonesia?

MT: Sejauh yang saya tahu dari cerita teman saya dan dari apa yang saya pelajari, anarkisme di Indonesia datang bersama dengan musik punk pada tahun 1998. Pada waktu itu anarki identik dengan punk dan beberapa orang dalam komunitas tersebut mulai belajar lebih dalam tentang ideologi dan nilainilai anarki. Semenjak itu wacana anarki mulai berkembang dalam individu maupun komunitas kolektif punk/hardcore, dan kemudian ke dalam kelompok yang lebih besar seperti aktivis, mahasiswa, pekerja; dan akhirnya mencapai masyarakat yang lebih luas dengan berbagai latar belakang_

Seiring dengan penyebaran wacana anarki, mulai terjadi banyak diskusi dengan topik ini, dan anarki mulai dibahas, dianalisis, dan dikritik lebih mendalam (dan proses ini berlanjut sampai hari ini, dengan analisis yang berbeda dan lebih luas). Langkah selanjutnya adalah membawanya ke dalam ranah praksis (praktek), misalnya membentuk kolektif dengan prinsip dan nilainilai anarki (desentralisasi, non-hirarki, dan konsensus). Meskipun banyak masalah yang dihadapi oleh kelompokkelompok kolektif, tetapi model kolektif seperti ini bisa dianggap sebagai sesuatu yang berbeda, berlawanan dengan model kelompok yang selalu berusaha untuk mendominasi (baik dalam bidang politik dan non-politik) dengan pola hirarki, sentralistis dan struktur otoriter mereka_

Kegiatan seperti “Food Not Bombs” dapat dianggap sebagai salah satu bentuk tindakan langsung yang berdasarkan praksis anarki di sini, bersamaan dengan memproduksi zine dan bentuk publikasi lain seperti newsletter, pamflet dll. Pada awalnya tema dan isuisu zine kebanyakan membahas tentang lingkungan punk/hardcore, namun seiring dengan berjalannya waktu dan proses yang dikembangkan, tema dan isu yang disajikan lebih beragam/bervariasi seperti feminisme, nilainilai anarki, anti-kapitalisme, perlawanan global dan sosial, bentukbentuk dari gerakan anarkisme, gerakan peduli lingkungan dan hewan, berita politik, dan lainlain_
Perkembangan anarki dibantu juga oleh semakin tingginya tingkat akses internet; media internet digunakan oleh temanteman kita untuk menyebarkan informasi tentang wacana anarki_

PM: Saya harus memberitahu anda sebelumnya, bahwa orangorang Indonesia tidak begitu akrab dengan bahasa Inggris, jadi meskipun pada saat itu internet sudah mulai menyebarkan wacana anarki, hanya sedikit dari generasi pertama anarko-punk yang mengerti teori anarkisme. Tapi keinginan untuk melakukan sesuatu, dibentuk juga oleh pergolakan situasi ekonomi, politik dan sosial pada waktu itu, dan untuk mengerti siapa kami, membawa hampir setengah dari generasi pertama untuk bergabung dengan PRD (Partai Rakyat Demokratik), partai politik Leninis. Kami tidak mempunyai banyak pilihan karena kami tidak memiliki banyak referensi dalam bahasa kami. Ada beberapa pamflet anarki karya Bakunin, Emma Goldman, Rudolf Rocker yang diterjemahkan oleh beberapa teman anarkis dan didistribusikan secara luas. Tapi itu tidak banyak membantu dikarenakan tulisan dari para pemikir klasik tersebut sangat sulit dihubungkan dengan pemahaman kami tentang waktu dan tempat kami. Seperti, bagaimana mungkin kita benarbenar mengerti tentang kejahatan pemerintah karena saat ini sejarah pengalaman hidup Indonesia hanya di bawah dua presiden? Kami adalah negara post-kolonial, dan banyak hal yang harus dilakukan dengan percaya bahwa negara adalah suatu kejahatan alami_

Sekitar tahun 2001, satu per satu meninggalkan partai, tapi banyak diantara kami masih memiliki pemahaman bahwa satu hal yang nampaknya masih mungkin untuk dilakukan, adalah cara seperti yang dikatakan oleh Lenin: revolusi di bawah satu bendera, pemerintahan transisi, dan bau seperti itu. Kami juga diperlakukan sebagai anomaly oleh banyak orang, karena kami sebagai anarkis mulai percaya bahwa negara juga musuh sistematis kami. Ketika orang lain menuntut agar Indonesia memiliki kekuatan lebih sebagai negara untuk memiliki suara dalam lingkungan internasional, kami menyatakan bahwa negara dan seluruh pejabatnya adalah musuh kami juga. Dan saat ini, muncul generasi kedua anarkis yang di identifikasi sebagai akibat tindakan dan kebingungan dari generasi pertama. Generasi kedua ini diamdiam memiliki pemahaman yang lebih dalam tentang anarkisme dan dapat menunjukkan perbedaannya dengan Leninisme, atau saya bisa mengatakan, generasi ini belajar dari kesalahan generasi pertama_

Bagaimana situasi saat ini? Bagaimana kelompok utama dan arusnya dalam anarkisme di Indonesia?

JC: Setahu saya tidak ada kelompok yang dominan di Indonesia. Ada beberapa kolektif dan individu dari berbagai latar belakang dan mengejar berbagai tekanan yang berbeda dari anarkisme. Tidak jarang, perbedaan metode ini menimbulkan perdebatan, walaupun perdebatan ini tidak menyebabkan permusuhan antara kolektif atau individu yang terlibat. Bahkan ada beberapa kesempatan saat kolektif dan individu dari latar belakang yang berbeda dan berbagai macam varian dari anarkisme terlibat dalam proyek yang sama. Mayday 2007 dan 2008 contohnya. Beberapa kolektif dan individu dari berbagai kota terlibat dalam perencanaan acara Mayday 2007. Kolektif yang terlibat: Affinitas (Yogyakarta), Jaringan Otonomis (Jakarta), Apokalips (Bandung), dan Jaringan Autonomus Kota (Salatiga). Selain dari kolektif, individuindividu dari berbagai kota seperti Bali dan Semarang juga berpartisipasi, serta orangorang dari kolektif punk di Jakarta. Kolektif dan individu yang terlibat menamai diri mereka dengan Jaringan Anti-Otoritarian (Anti-Authoritan Network). Pada Mayday 2007, jumlah peserta dalam aksi ini mencapai 100 orang, semuanya berpakaian serba hitam. Pada saat itu, pesan Jaringan Anti-Otoritarian bertujuan untuk me-redefinisi Mayday, karena pada saat itu Mayday adalah kesempatan yang selalu didominasi oleh kelompok dan individu kaum kiri. Aksi Jaringan Anti-Otoritarian waktu itu bisa dikatakan berhasil. Gerakan Anarki, yang pada saat itu dianggap non-existant, mulai mendapat perhatian_

Setelah Mayday 2007, gerakan anarkis mulai menyala. Beberapa kelompok baru muncul di berbagai kota. Anarki menjadi lebih terlibat dalam setiap demonstrasi, protes menentang pembangunan stasiun tenaga nuklir, misalnya_

Semakin dekatnya Mayday 2008, koordinasi antara kolektif dan individu di berbagai kota diaktifkan kembali. Koordinasi dilakukan melalui dua cara: internet dan tatap muka langsung. Kali ini, terjadi peningkatan dalam jumlah peserta yang terlibat. Sayangnya Apokalips (Bandung) dan Sindikat Melawan (Salatiga) mundur dari keterlibatannya dalam aksi karena berbagai alasan. Koordinasi tampak berantakan, tapi Affinitas (Yogyakarta) dan kolektifkolektif di Jakarta serta beberapa individu dari berbagai kota masih berhasil menarik perhatian melalui sebuah aksi. Seperti tahun sebelumnya, aksi Mayday 2008 berlangsung di Jakarta. 200 orang berpartisipasi, termasuk para punkers. Isu difokuskan kepada masalah pelanggaran perusahaan/korporasi, dan target aksi tersebut adalah Gedung Bakrie. Gedung ini adalah kantor dari berbagai perusahaan yang dimiliki oleh maestro bisnis dan politisi Aburizal Bakrie. Beberapa partisipan merusak gedung Bakrie, dan tidak lama setelah itu, polisi berdatangan dan memulai tindakan represi mereka terhadap partisipan. Beberapa partisipan ditangkap secara paksa (walaupun beberapa dari mereka yang ditangkap berhasil dibebaskan oleh partisipan lainnya). Setelah bertahan sebisa mungkin, para partisipan melanjutkan perjalanan, tapi sayangnya polisi kembali dengan jumlah yang lebih besar. Semua partisipan dalam aksi tersebut kemudian ditangkap_

Pasca Mayday 2008, eskalasi gerakan anarkis mulai menurun. Beberapa kolektif bubar. Tapi itu tidak berarti bahwa anarkisme telah mati. Kolektifkolektif dan individuindividu baru, serta mereka yang telah lama terlibat dalam gerakan anarkis di Indonesia, mulai membangun jaringan dan melakukan aksi dengan orangorang di berbagai tempat yang menderita akibat korporasi. Sampai hari ini, banyak anarkis yang terlibat dalam perjuangan melawan korporasi dan negara. Bahkan beberapa anarkis memulai dengan tindakan yang lebih militan seperti menyerang pos polisi atau merusak pusat perbelanjaan_

MT: Saya akan menanggapi lebih lanjut tentang situasi saat ini, karena jawaban JC memberikan gambaran lebih lanjut mengenai dinamika kelompok_

Kami dapat mengatakan bahwa kondisi anarkisme saat ini merupakan proses yang berkelanjutan. Dan saya pikir itu dapat dibagi menjadi 2 bagian, pertama: wacana & teori; dan yang kedua: praktek_

Di bidang wacana dan teori; topik untuk diskusi dan analisa saat ini menjadi lebih luas mulai dari kapitalisme, kerja, budaya keamanan, peradaban, filsafat, media, konsumerisme, agama, gender, korporasi, bentuk asosiasi bebas, relevansi anarkisme dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia, dan sebagainya. Diskusi ini dilakukan baik secara langsung (kelas, pemutaran film, diskusi rutin, diskusi kelompok, diskusi publik) atau secara tidak langsung (mailing list, email, buku, jurnal, pamflet, zine, newsletter, website, blog). Namun saya rasa, diskusi yang menjadi topik hangat di kalangan anarkis saat ini adalah tentang korporasi, kapitalisme, ketahanan sosial dan aksi langsung. Sebagai perempuan saya melihat bahwa isuisu seputar perempuan, tubuh, seksualitas, orientasi seksual, dan hubungan pribadi belum dibahas lebih mendalam. Itulah sebabnya saya mengangkat isu ini dalam berbagai cara dan melalui media yang berbeda (aksi langsung, kritik, tulisan, karya seni), dan sekarang saya mempersiapkan sebuah novel tentang pemberontakan alat kelamin. Semoga melalui cerita fiksi ini, pesan saya lebih mudah diterima dan dipahami_

Saya juga melihat barubaru ini muncul tulisan perempuan dengan topik yang sama dan mulai dikenal dengan “sastra lender”. Mereka prihatin dengan kebebasan seksual (seksualitas perempuan, lesbian, gay), namun tanpa menyoroti hubungan dan nilainilai yang ada di balik itu, seperti kekuasaan, dominasi, kontrol, dan sebagainya_

Dalam bidang praktek, saat ini lebih banyak temanteman yang mengambil aksi langsung berdasarkan nilainilai anarki, seperti Food Not Bombs, berbagi skill, kampanye jalanan, demonstrasi (tentang pelanggaran korporasi, kekerasan polisi, konsumerisme, kapitalisme, dll), membangun kolektif dengan fokus yang berbeda-beda (seperti sekolah gratis, tempat membaca, infoshop), festival D.I.Y, pendekatan anarkis untuk mengorganisir bersama-sama dengan orangorang yang menderita akibat korporasi, dan sabotase_

Bisa dikatakan bahwa keberadaan wacana dan aktifitas anarkis semakin sering terlihat oleh kelompokkelompok yang lebih luas, dan tentu saja menyebabkan banyak dinamika dan perdebatan, terutama di kalangan otoritarian kiri (kelompok aktivis Marxis – Leninis – Maois – Chauvis) yang mendominasi gerakan perlawanan. Ada banyak kesalahan dan kesalah-pahaman tentang teori, filsafat, dan aksi anarkis di antara kaum kiri. Saya memahami hal ini, karena kelompok kiri selalu memahami ideologi hanya sebagai “alat perjuangan politik mereka”, sementara anarki memahami ideologi sebagai sesuatu yang sangat filosofis dan pribadi (sesuatu yang terinternalisasi dalam diri kita sendiri), yang dapat diterapkan dalam berbagai konteks, entah itu pribadi, dalam hubungan atau kehidupan sehari-hari, atau dalam perjuangan sosial dan poltik. Di saat yang sama saya merasa ada keinginan yang lebih besar untuk mengetahui tentang wacana anarkis yang berasal dari individuindividu dan kelompokkelompok lain. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya pertanyaan tentang anarki, dan banyak temanteman yang menjadi tertarik dengan ideide anarki_

Keterlibatan perempuan dalam aktifitas anarkisme masih cukup minim, ini menyusahkan saya selama kurang lebih 10 tahun sejak saya memulai perjuangan. Saya merasa bahwa saya sering membuat upaya untuk mendukung dan mendorong temanteman wanita, tetapi selalu berhenti di tengah jalan, dan mayoritas memilih kembali ke “penjara” mereka. Mereka memilih untuk menikah dan membangun keluarga, atau memilih untuk bekerja, atau bergabung dengan LSM wanita. Saya merasa bahwa dalam masyarakat yang saya tinggali saat ini, nilainilai patriarki dan seksis serta prakteknya masih memiliki dampak yang sangat kuat, dan timbul dalam setiap konteks kehidupan (keluarga, hubungan kekasih, persahabatan, komunitas, organisasi, sekolah, pekerjaan, masyarakat, agama, dll); mungkin itu adalah salah satu alasan mengapa situasi menjadi seperti ini. Di Indonesia sangat sedikit sejarah tentang gerakan perempuan radikal. Ada satu gerakan di zaman PKI (Partai Komunis Indonesia), yang di dalamnya terdapat sebuah organisasi perempuan yang dikenal sebagai GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia). Gerakan ini hancur bersamaan dengan pembersihan PKI oleh negara pada tahun 1965-1966. Segala sesuatu yang berhubungan dengan PKI dan komunisme meninggalkan trauma yang mendalam pada masyarakat Indonesia, dan hal ini juga menjadi alat propaganda dan ancaman yang digunakan untuk memadamkan segala bentuk perjuangan. “Kamu tidak ingin kejadian 1965 terjadi lagi kan?” Setelah waktu itu, hampir tidak ada gerakan perempuan atau individu perempuan radikal, dan saat ini apa yang disebut sebagai “gerakan perempuan” sebagian besar terkonsentrasi di dalam LSM perempuan atau organisasiorganisasi kiri yang berulang kali berkompromi dan mendukung konsep negara_

Kesalah-pahaman: saya juga melihat di antara temanteman yang percaya pada anarki dan hidup dengan ideide anarki seringkali terjadi perdebatan dan perbedaan pendapat, mereka masih belum bisa mengorganisir diri dan kelompok mereka dengan baik, masih ada kesalah-pahaman tentang nilainilai dan prinsipprinsip anarkis dalam hubungan sehari-hari (misalnya: hirarki, dominasi, dan seksisme masih ada). Tapi saya juga bisa memahami hal ini, ini adalah bagian dari proses pembelanjaran untuk kami_

Kurangnya akses terhadap informasi dan literatur; selain itu, saya melihat bahwa referensi dan literatur tentang anarki masih minim dan sulit untuk diakses. Sebagian besar informasi tersedia dalam bahasa Inggris (atau bahasa lainnya) atau dari situs web, namun masih belum tersebar luas dalam masyarakat kita. Institut-A Infohouse dan Community Center dibentuk kurang lebih karena alasan seperti itu, adanya kebutuhan untuk mengakses literatur anarkis_

Apakah ada sejarah gerakan di Indonesia yang menginspirasi anarkis saat ini –meskipun gerakan tersebut tidak menamai dirinya sebagai anarkis?

JC: Ada beberapa gerakan, meskipun mereka tidak pernah mengidentifikasi diri sebagai anarkis, tetapi tetapi sangat inspiratif. Seperti di Blora dan Pati, para anarkis terinspirasi oleh gerakan Sedulur Sikep (dikenal sebagai Samin), sebuah gerakan pembangkangan sosial yang sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Namun ini hanya dalam skala lokal. Ada banyak anarkis juga yang merasa gerakan sosial dan politik di Indonesia yang tidak inspiratif. Karena berbagai alasan, beberapa anarkis melakukan usaha yang cukup serius untuk menggali lebih dalam sejarah perjuangan di Indonesia, perjuangan yang meskipun tidak secara jelas mengidentifikasi diri sebagai anarkis, tetapi masih memiliki fiturfitur anarkis_

MT: Saya akan mencoba memberikan jawaban yang lebih lengkap tentang gerakan Sedulur Sikep (Samin) dan filosofinya_

Ajaran Sedulur Sikep disebarkan oleh Samin Surosentiko (1859-1914), dan merupakan konsep penolakan terhadap budaya kolonial Belanda dan kapitalisme yang muncul selama era kolonial di Indonesia pada abad ke-19. Gerakan ini pertama tumbuh di seluruh Klopoduwur, Blora, Jawa Tengah. Pada 1890 gerakan Sedulur Sikep dikembangkan di dua desa di Kecamatan Randublatung, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, dan dengan cepat menyebar ke desadesa lain. Hal ini menyebar dari pantai utara Jawa ke hutan bagian utara dan selatan pegunungan Kendeng. Seluruh daerah perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, perjuangan muncul untuk menolak otoritas Belanda karena mereka merampas tanah untuk digunakan sebagai perkebunan jati_

Ajaran Sedulur Sikep muncul sebagai akibat dari, atau reaksi dari, pemerintah kolonial Belanda dan tindakan sewenang-wenangnya. Perjuangan tidak mengambil bentuk konfrontasi fisik tetapi malah menantang semua peraturan dan kewajiban rakyat kepada pemerintah, misalnya dengan tidak membayar pajak. Dipengaruhi oleh sikap mereka yang menantang segalanya, mereka membangun tatanan sosial mereka sendiri, hukum adat, dan tradisi independen_

Salah satu prinsip Sedulur Sikep adalah “kulo ndiko sami, kowe aku podho” (saya dan kamu sama, sehingga semua orang juga sama). Ini adalah prinsip kesetaraan tanpa membuat perbedaan berdasarkan warna kulit, etnis, atau agama/keyakinan. Tidak ada manusia yang lebih tinggi dari yang lain, atau memiliki lebih banyak hak atau kewajiban.
Samin merasa bahwa dalam segala hal, orang harus menyelesaikan masalah itu sendiri atau dengan kerjasama sukarela_

Sedulur Sikep adalah filsafat praktis, tidak dimaksudkan untuk membuat sesuatu yang tidak mungkin. Tujuan Sedulur Sikep adalah tentang kebebasan efektif untuk seluruh umat manusia. Minoritas tidak memiliki hak lebih dari mayoritas, begitupun sebaliknya. Hal ini diasumsikan bahwa tiap orang harus mempunyai hak yang sama untuk memperoleh kekayaan bumi tanpa uang atau pembayaran; apa yang dihasilkan seseorang menjadi milik mereka (orang itu sendiri), tidak ada satu orang, atau kelompok tertentu, memiliki hak untuk mengambil kepemilikan tersebut tanpa persetujuan orang itu; bahwa setiap orang bisa bertukar halhal yang mereka produksi jika mereka ingin; tidak ada batas untuk apa yang bisa ditulis, makan atau minum, selama tidak mengganggu hak orang lain_

Sedulur Sikep menolak sewa tanah, memungkinkan siapapun yang hidup di darat untuk memanfaatkannya, menolak hak paten dan hak cipta yang merupakan bentuk monopoli, menolak pengenaan pajak karena seharusnya pajak bersifat sukarela, tidak menyekolahkan anaknya ke sekolah formal, memperlakukan alam dan lingkungan dengan bijak karena dianggap sebagai seorang ibu yang harus dihormati_

Poinpoin dari ajaran Sedulur Sikep adalah sebagai berikut:
Agama bisa menjadi senjata atau prinsip bagi kehidupan. Harus dipahami bahwa Sedulur Sikep tidak membedakan antara agama, dan karena itu pengikut Sedulur Sikep tidak pernah melarang atau membenci agama. Yang paling penting adalah bagaimana orang berperilaku dalam kehidupannya. Pernikahan dilakukan secara langsung, tanpa melibatkan lembagalembaga pemerintahan atau agama, karena agama mereka tidak diakui oleh negara_
Tidak mengganggu orang lain, jangan bertengkar, jangan iri, dan jangan mengambil harta orang lain_
Bertindak dengan bijaksana, dan jangan sombong_
Seorang manusia yang hidup harus mengembangkan pemahaman tentang kehidupan mereka sendiri, karena hidup kita sama dengan jiwa kita, dan kita hanya memiliki satu untuk selama-lamanya. Menurut Sedulur Sikep, ketika seseorang meninggal, jiwa mereka tidak mati, hanya melepas pakaian_
Saat berbicara kita harus menjaga apa yang keluar dari mulut kita, harus jujur dan menunjukkan rasa hormat kepada orang lain. Sedulur Sikep melarang perdagangan, karena perdagangan mengandung unsur “ketidak-jujuran”. Kontribusi juga tidak dapat diterima dalam bentuk uang_

PM: Sayangnya, rezim Soeharto berhasil menghilangkan semua dokumen sejarah yang mereka temukan yang mengancam posisi mereka. Seorang sejarawan dari Australia, Anton Lucas, menulis buku tentang pergolakan sosial yang menarik di Indonesia saat deklarasi kemerdekaan Indonesia, bukan tulisan anarkis, tapi secara mandiri bangkit melawan kelas atas –melawan kekuatan kolonial, juga melawan Republik Indonesia. Saya pikir gerakan masyarakat adat Papua juga menarik. Saya bertemu dengan salah seorang pemimpin mereka sekitar tahun 2000, dan beberapa tahun kemudian saya menyadari visinya, kritik tentang Indonesia, mengingatkan saya tentang konflik antara masyarakat egaliter (tapi primitif) dengan masyarakat hirarki modern. Saya rasa hal yang harus dilakukan untuk menemukan sejarah kita sendiri, adalah pekerjaan sulit yang harus diselesaikan_

Indonesia adalah negara yang sangat besar dengan banyak tradisi akan budaya dan agama. Di bagian mana dari Indonesia dan masyarakat yang mana anda menemukan anarkis?

JC: Saya tinggal di pulau Jawa, dan sebagian besar kegiatan saya dengan anarkis yang juga di Jawa (saya bahkan belum mengenal semuanya), dan sedikit dengan anarkis dari pulaupulau lain (ini hanya dalam konteks komunikasi, kita belum mencapai tahap mengerjakan proyek bersama-sama)_

MT: Kamu harus memahami bahwa pulau Jawa di Indonesia adalah “jantung” dari pemerintahan, informasi, pendidikan, dll; yang menyebabkan ketidak-seimbangan dalam akses ke bagian lain. Negara sengaja menciptakan kondisi seperti ini sehingga orang luar Jawa terkesan “bodoh” di wilayah mereka, sehingga menjadi objek eksploitasi besarbesar-an oleh negara dan korporasi_

Saya tinggal di Jakarta (Jawa Barat) dan saya tahu beberapa anarkis (kolektif maupun individu) tersebar di:
Jawa (Jakarta, Bandung, Jogya, Semarang, Pati, Blora, Surabaya, Rembang, Randublatung, Salatiga, Porong)
Sumatra (Palembang, Pekanbaru, Medan, Aceh)
Kalimantan (Balikpapan)
Sulawesi (Makassar, Manado, Gorontalo)
Bali
Namun saya belum bertemu dengan beberapa orang atau kolektif di daftar ini_

PM: Saya percaya bahwa anarki adalah karakter dasar dari manusia. Jadi saya pikir ada sekelompok komunitas yang dapat kita temui yang mengandung nilainilai anarkis, walaupun komunitas ini tidak menyebut dirinya sebagai anarkis. Beberapa bahkan memeluk agamaagama yang tradisinya berbeda dengan mainstream_

Apakah agama memainkan peran dalam gerakan anarkis? Misalnya, apakah orangorang mensejajarkan antara tradisi anarkisme dan muslim? Atau apakah semua anarkis anti-agama?

JC: Saya anarkis yang agnostik. Banyak temanteman anarkis saya yang mempunyai pandangan yang sama dengan saya. Tetapi ada juga anarkis yang terinspirasi oleh gerakan sufi, misalnya. Bagi saya, agama adalah lembaga koersif dan hirarkis, yang mana alasan itu diperlukan tidak hanya untuk menolaknya, tetapi juga untuk menghancurkannya. Agama tidak sama dengan spiritualitas. Meskipun anti-agama, saya bukan salah satu dari orangorang modern yang memuliakan akal dan meniadakan spiritualitas_

MT: Saya membuat pilihan untuk tidak mengikuti agama sebelum saya mengetahui tentang anarkisme, karena pengalaman pribadi saya dalam keluarga dan dalam masyarakat yang lebih luas. Saya mengkritik dominasi atau kontrol dari lembagalembaga keagamaan di Indonesia sejak pertama kali mendengar dari temanteman tentang pandangan dan sikap dari agama. Namun di kalangan anarkis, banyak temanteman yang masih “beragama”, atau belum cukup berani untuk berpikiran tentang penolakan agama. Biasanya mereka mencari keseimbangan dimana mereka masih dapat menunjukkan rasa hormat terhadap keluarga mereka atau lingkungan agama_

Dalam konteks Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, nilainilai yang ketat ditanamkan kepada kami, diterapkan kepada kami, diturunkan kepada kami, dan mengontrol kami, dimulai dari tingkat keluarga, masyarakat, dan negara. Namun banyak diantara kami yang telah membahas poinpoin ini dan melihat agama sebagai sumber dominasi dan kontrol yang harus dihancurkan. Beberapa anarkis melihat jauh lebih dalam masalah ini dan membuat kritik Islam dari perspektif anarkis_

PM: Jika kita berbicara tentang gerakan anarkis, saya dapat memberitahu anda bahwa agama tidak memiliki peran apapun di dalamnya. Tapi salah satu teman saya muslim yang juga seorang anarkis. Dan ya, dia bisa mensejajarkan antara anarkisme dan tradisi Islam. Dia bahkan bekerja sebagai editor di sebuah penerbit buku yang lebih terfokus pada penerbitan bukubuku Islam_

Apakah ada hubungan yang kuat antara semua anarkis di Indonesia?

PM: Saya tidak tahu apakah ini bisa disebut “hubungan yang kuat”, tetapi ya, hampir semua anarkis (orang yang menyebut dirinya sebagai anarkis) di Indonesia mengenal satu sama lain_

MT: Saya bisa mengatakan iya, mungkin karena kami merasa bahwa kami adalah minoritas, maka hubungan antara kami cukup kuat, ada perasaan bahwa kami saling mendukung dan ada keinginan untuk mengetahui kegiatan temanteman lainnya. Namun karena letak geografis dan kondisi keuangan, sangat sulit untuk bertatap-muka untuk berkomunikasi. Biasanya kami berkomunikasi melalui internet atau telepon_

Apa posisi anarkis dalam perjuangan kemerdekaan di Indonesia selama dekade terakhir: di Timor Timur, Papua Barat, Aceh, dan daerah lainnya?

PM: Saya tidak bisa berbicara untuk anarkis di Indonesia, tapi secara pribadi saya pikir saya bisa mendukung perjuangan ini dalam tingkat tertentu. Saya juga terlibat dalam perjuangan pembebasan untuk Timor Leste (mereka lebih menyukai sebutan Timor Leste daripada Timor Timur) sebelum mereka menjadi negara merdeka dan memiliki pemerintahan yang korup_

MT: Perlu dipahami bahwa setiap bagian di Indonesia memiliki masalah sendiri, itulah sebabnya anarkis akan selalu mengambil tindakan dan melawan dengan cara yang sesuai dengan masalah yang mereka hadapi di tempat mereka. Kami menghindari metode yang melibatkan perwakilan (kontras dengan mayoritas kelompok kiri), dan inilah sebabnya kami selalu membangun gerakan dan tindakan di tempat kami berada. Juga karena tidak ada teman anarkis yang hidup di tempattempat itu (sebenarnya ada satu teman di Aceh, namun ia belum mampu berbuat banyak karena ia juga baru tiba di sana)_

Tapi kita tetap menyadari apa yang terjadi di tempattempat tersebut, dan kami mendukung segala bentuk perjuangan melawan otoritas negara dan semua perjuangan yang bersifat otonom. Namun ada kontradiksi ketika kami melihat perjuangan rakyat di tempattempat tersebut untuk membebaskan diri dari Indonesia dan membentuk bangsa baru (pemerintahan dan kekuasaan memiliki wajah baru, tapi sistemnya sama), dapat dilihat dalam kasus Timor Timur misalnya_

Sementara itu kita juga membahas isuisu ini dari sudut pandang yang berbeda, terutama dalam konteks kekuasaan negara, militerisme, dan eksploitasi lingkungan_

Indonesia memiliki warisan yang buruk seperti penganiayaan terhadap pembangkang politik. Bagaimana pengaruh sejarah ini terhadap anarkis? Bagaimana situasi saat ini?

JC: Indonesia saat ini tidak begitu berbeda dengan Indonesia pada masa Orde Baru. Yang saya maksud adalah, mereka yang menolak tunduk terhadap otoritas masih dianiaya. Saat ini, para pemimpin Indonesia telah belajar dari para pendahulu mereka, dan lebih terorganisir dalam melancarkan represi. Jika pada masa Orde Baru, pembangkang dimusnahkan dengan cara yang kasar, sekarang tidak seperti itu. Mereka yang saat ini berkuasa di Indonesia mempromosikan citra palsu bahwa mereka tidak memerintah melalui kekerasan, dan menciptakan ilusi perdamaian dan keamanan dengan sangat fantastis. Hal ini membuat banyak orang menjadi pro-pemerintah –dan bahkan jika mereka melawan, mereka hanya tidak setuju dengan pemimpinnya. Hirarki dan kekuasaan itu sendiri dianggap sah oleh sebagian orang_

MT: Banyak dari kami sudah berurusan dengan tindakan represif negara seperti teror, intimidasi, penyerangan, dan penangkapan. Melanjutkan jawaban JC, kami tetap waspada terhadap situasi ini dan mencoba untuk tidak terpengaruh oleh citra yang diproyeksikan oleh negara. Kami juga mencoba untuk lebih memperhatikan masalah keamanan dan keselamatan dengan mulai membangun “budaya keamanan” sebagai faktor penting yang harus dilihat dalam semua kegiatan kami, dan kami sedang mengembangkan metode dan strategi untuk menghadapi situasi ini. Tapi penting untuk menekankan bahwa masih sedikit orang yang peduli akan masalah ini_

PM: Saat ini, sebenarnya pemerintah masih tetap sama seperti sebelumnya, tetapi mereka memainkannya dengan halus. Mereka tidak lagi secara terbuka menyatakan pernyataan keras mereka. Tapi bukan berarti mereka tidak menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan apa yang mereka anggap sebagai masalah. Beberapa bulan yang lalu, sebuah desa di Riau (Sumatera) dibom dan dibakar oleh helikopter militer karena para petani di desa itu tidak mau memberikan tanah mereka kepada sebuah perusahaan minyak kelapa sawit nasional. Di Sulawesi, beberapa petani ditembak dalam kasus serupa. Juga di beberapa desa di Jawa. Tetapi media dikontrol oleh negara untuk menutupi semuanya. Saya dan beberapa teman biasanya mempublikasikannya secara independen_

Bagiamana hubungan internasional anda? Apakah anda memiliki hubungan yang kuat dengan anarkis di Asia Tenggara, dan lebih jauh?

PM: Secara formal tidak ada. Tetapi ada beberapa teman yang memiliki hubungan internasional_

MT: Bagi saya pribadi, saya memiliki beberapa koneksi dengan anarkis di luar Indonesia, dan berdirinya Institut-A sehingga tetap eksis seeprti sekarang ini mendapat bantuan dan solidaritas dari jaringan internasional. Kami mencoba untuk membuat koneksi dengan berbagai kolektif untuk menyebarkan informasi tentang keberadaan dan kegiatan kami di sini_

Kami menyadari pentingya berbagi informasi dan jaringan, dan kami benarbenar tahu alat yang bisa digunakan untuk berbagi informasi, hanya kadangkadang kita terkendala masalah bahasa, atau tidak memiliki waktu, atau tidak berada dalam suasana hati yang tepat untuk menerjemahkan banyak bahan. Tidak banyak dari kami yang memiliki kemampuan dan keinginan untuk menerjemahkan secara intensif_

Bagaimana anda melihat kemungkinan masa depan anarkisme di Indonesia dan Asia Tenggara?

PM: Saya tidak dapat berbicara mengenai hal ini karena saya tidak banyak mengetahui mengenai anarkisme di Asia Tenggara. Saya tahu, jaringan itu penting, tetapi untuk sekarang ini, saya hanya ingin lebih fokus di Indonesia karena ada begitu banyak hal yang harus dilakukan, tapi begitu sedikit anarkis Indonesia yang benarbenar melakukannya di sini_

JC: Dengan proses yang terus berjalan saat ini, saya pikir ada banyak ruang yang bisa diisi oleh kaum anarkis di Indonesia. Beberapa orang yang dulunya Marxis-Leninis mulai berpikir bahwa segala bentuk kekuasaan itu korup dan menindas. Orangorang yang menjadi korban korporasi juga mulai merasa bahwa pemerintah akan selalu berdiri di samping korporasi, dan karena itu perlu untuk melakukan sesuatu yang lebih kuat daripada hanya meminta bantuan kepada pemerintah_

MT: Saya merasa sangat positif, terutama dalam konteks Indonesia di mana terdapat begitu banyak masalah. Semakin banyak orang dan kelompok mulai merasa bahwa bentuk perjuangan mereka telah menemui jalan buntu dan anarki dianggap sebagai sesuatu yang logis. Namun, semua ini akan membutuhkan proses yang panjang dan kerja keras, kami perlu membangun kolaborasi dan solidaritas di antara kami. Saya percaya bahwa kami akan melihat benihbenih anarki yang kami tabur dan kami sebar hari ini mulai tumbuh di manamana_

Dipublikasikan kembali dari blog AVENK27