Aksi Petani Kendeng yang Anarkis

Pada November 1999, sebuah aksi massa yang berlangsung selama lima hari nyaris membuat jadwal konferensi World Trade Organization (WTO) di Seattle, Amerika Serikat, gagal total. Aksi ini terkonsolidasi oleh 75.000 demonstran untuk menentang keras ketidakadilan global akibat ulah WTO, IMF dan Bank Dunia. Media massa tercengang karena jumlah yang besar tersebut dimobilisasi tanpa ada kelompok atau pimpinan tunggal satu pun di balik aksi yang rapi ini.

Kelompok anarkis Black Bloc berbagi jalanan dengan petani, kelompok pemuda, aktivis lingkungan, perempuan, pecinta damai, buruh serta kelompok dari berbagai latar belakan. Hal ini berbeda dengan aksi-aksi protes massal yang kebanyakan dikonsolidasi oleh segelintir elit organisasi, yang sisanya mengikut di belakang. Karena tidak memiliki latar organisasi yang sama, mereka akhirnya sadar bahwa harus ada wadah supaya ledakan-ledakan inisiatif yang sifatnya spontan dan sporadis itu bermuara pada tujuan yang sama. Mereka melakukan koordinasi jaringan secara komunal dan pada akhirnya digagaslah suatu struktur yang tak mengenal kewenangan tersentral atau hirarki birokratis. Aksi-aksi diselenggarakan tidak dalam sebuah struktur pelaksanaan yang parokial. Mereka bekerja dalam sistem-sistem kecil yang dalam banyak hal tidak berhubungan satu sama lain, tetapi berjalan dengan keselarasan bak berada di bawah satu pusat komando.

Satu hal yang menyatukan mereka adalah kesamaan pandangan, bahwa badan-badan super-eksekutif yang melampaui Negara-Bangsa tersebut adalah jantung kapitalisme global yang terlihat samar namun sangat nyata. Hasil koordinasi antarkelompok berlangsung luar biasa kompak pada aksi skala besar; seperti aksi turun jalan, blokade rantai manusia, pengibaran spanduk, pertunjukan dan teater jalanan. Kelompok-kelompok kecil berpencar untuk memblokade jalan dan hotel untuk menghalangi delegasi WTO berangkat ke tempat rapat mereka. Komunikasi berjalan efektif dengan memanfaatkan ponsel, papan-papan pengumuman besar di Pusat Konvergensi, sampai pesan-pesan yang disemprotkan ke kaos. Sheehan (2006) bahkan menulis, “prinsip-prinsip anarkis terlihat begitu sukses mengatasi keadaan sepanjang lima hari protes, sampai-sampai para militan non-anarkis lainnya pun mulai mengadopsi langkah kaum anarkis.”

Dua dekade paska peristiwa tersebut kita melihat sebuah fenomena hampir serupa dalam eskalasi yang lebih kecil di Indonesia, yaitu aksi pemasungan kaki petani Rembang di depan Istana Merdeka. Puluhan petani Kendeng mencor kaki mereka dengan semen dan menolak membongkarnya. Kendati jari-jari kaki mereka terluka dan membengkak. Mereka sebisa mungkin bertahan hingga pabrik semen benar-benar dibatalkan. Ini langkah paling putus asa dari beragam cara dalam perjuangan panjang mempertahankan pegunungan Kendeng dari ekskavator kapital yang hendak mengeruk karst.

Lembaga dan perorangan, secara kolektif bersolidaritas memberikan segala bantuannya. LBH Jakarta menyediakan tempat menginap bagi para petani. Beberapa organisasi mulai dari serikat buruh hingga organisasi lingkungan menyediakan kendaraan untuk transportasi. Mereka yang tidak dapat hadir, menggalang dana melalui rekening via grup-grup chat dan media sosial. Uang hasil penggalangan dana tersebut kemudian dibelanjakan untuk makanan dan bahan-bahan logistik lainnya. Sementara mereka yang tidak bisa memberikan bantuan materi menyumbangkan tenaga fisik mereka. Dengan bersemangat mereka mengangkut petani-petani yang dicor kakinya untuk pulang-pergi Monas. Tanpa bermaksud meromantisir, otot-otot kelas pekerja –salah satunya dari serikat buruh transportasi kapal- membuat proses pengangkutan logistik dan massa petani menuju Monas menjadi lebih mudah dan cepat dilakukan.

Tidak sampai di situ, ada beberapa tindakan-tindakan kecil lain yang penting dan tidak kalah berarti. Seperti seseorang memberikan salak dan semangka kepada petani. Aktivis lingkungan mengumpulkan sampah dan menyediakan air isi ulang untuk meminimalisir penggunaan botol plastik air mineral sekali pakai. Aktivis buruh, seniman, petani dari berbagai daerah, mahasiswa, keluarga korban ‘98 dan penyelenggara aksi Kamisan semuanya secara bergilir memberikan orasi solidaritasnya. Seorang teman yang lain, bukan jurnalis media, mengabadikan momen-momen aksi dan mengunggahnya ke internet. Selebihnya di kala senja, Marjinal memainkan musik yang memberikan semangat dan penghiburan di kantor LBH Jakarta.

Keramaian tersebut juga terjadi di dalam telepon seluler saya. Saya punya empat grup chat besar dengan orang-orang dan tujuan tertentu dan semuanya ramai dengan hiruk-pikuk aksi petani Kendeng. Pesan-pesan penggalangan dana dengan penanggungjawab dan nomor rekening berbeda-beda, hasil rapat para relawan peserta aksi, barang-barang yang dibutuhkan petani, serta gambar hasil swa-foto tersebar di grup-grup tersebut.

Mungkin aksi petani Kendeng tidak seheboh peristiwa Seattle pada tahun 1999, namun kita bisa melihat banyak persamaannya. Salah satunya adalah bahwa setiap orang punya kebebasan untuk membantu sesuai dengan kemampuan dan keinginannya. Di dalam anarkisme, ini adalah bentuk perayaan individualitas paling tinggi. Kebebasan tidak dipandang sebagai konsep filosofis abstrak. Ia merupakan peluang konkret yang vital bagi setiap manusia untuk mengembangkan segala daya, kapasitas, dan talenta yang telah diberikan alam kepadanya untuk diolah menjadi potensi yang sejati.

Sikap anarkisme terhadap kekuasaan negara didasari oleh prinsip yang menggugat otoritas dan kepatuhan, yang tentu saja sangat bertentangan dengan kebebasan individu. Hirarki dengan otoritas dikecam dan ditolak karena dianggap menghambat, mengontrol, atau mengekang daya kreatif dan produktif manusia. Dalam aksi petani Kendeng, tidak ada penugasan yang diwajibkan. Mereka yang mampu memberikan uang mendonasikannya, sementara yang lain dapat memberikan bantuan barang dan tenaga. Kuatnya kesadaran moral dan budi pekerti membuat tugas-tugas kesukarelaan tak seberapa semrawut sebagaimana yang dibayangkan. Ini adalah apa yang anarkis sebut sebagai ‘kekacauan yang rapi’.

Ketika Peristiwa Seattle, semua demonstran sangat anarkis. Anarkis dalam artian bahwa setiap orang punya kebebasan dan tanggungjawab pada dirinya sendiri. Bebas untuk memutuskan dirinya tergabung dalam kelompok tertentu serta bagaimana mereka memutuskan untuk meluapkan kekesalan mereka sesuai keinginan dan kemampuannya. Di satu sisi, kelompok ekstrem damai memakai keju Roquefort untuk dilempar ke kaca jendela McDonald’s. Di sisi lain, kelompok ekstrem yang tidak segan menggunakan kekerasan, melawan pentungan polisi dengan lemparan balasan menggunakan batu serta molotov, menghancurkan kaca-kaca mobil dan mencoret-coret tembok dengan cat semprot. Mereka yang tidak ingin lempar-melempar, memilih menari atau memberikan bunga mawar.

Hal menarik lainnya dari aksi petani Kendeng adalah tidak adanya hirarki atau otoritas tertentu yang terpisah dan berkuasa kepada kelompok sukarelawan yang lain. Semuanya berjejaring dengan kolektif akar rumput tanpa sebuah kewenangan yang tersentral. Sepulang aksi dari istana, perwakilan petani dan Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) dari berbagai macam kelompok melakukan pertemuan di LBH Jakarta untuk mengevaluasi hasil aksi dan merencanakan kegiatan untuk keesokan harinya. Pengambilan keputusan dilakukan secara egaliter dengan mengutamakan konsensus. Sementara itu, petani-petani Kendeng sedang beristirahat seperti setumpuk ikan pindang di pasar. Didekatnya terdapat dapur umum tempat kebutuhan konsumsi dilakukan dengan bahan pangan yang disumbangkan dari berbagai individu atau organisasi.

Begitu pula dengan di Seattle. Setiap petang pertemuan digelar dengan perwakilan dari berbagai kelompok untuk mendiskusikan strategi gerakan. Bangunan gudang tempat pertemuan adalah tempat dilaksanakannya kursus aksi tanpa-kekerasan dan bengkel solidaritas bagi kawan-kawan mereka yang ditahan. Begitu aksi berlangsung, kegiatan langsung dipusatkan pada pelatihan P3K. Peran serta seluruh kelompok diterima di Pusat Konvergensi yang ditata secara anarkis. Pusat Konvergensi tersebut berfungsi sebagai sentra penyedia aneka ragam kebutuhan organisasi; mulai dari penyediaan informasi, bantuan akomodasi pelayanan media sampai bentuk baru rencana agitasi.

Hal ini berbeda dengan apa yang dilakukan negara -salah satu institusi hirarkis yang menindas- dimana pengambilan keputusan yang berpengaruh langsung pada kehidupan orang banyak terletak pada segelintir orang. Ini bertentangan dengan hasrat alamiah kebebasan untuk menentukan yang terbaik bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain. Begitu pula dengan metode kepartaian yang biasa dipakai oleh kelompok kiri orthodoks, ketika nasib untuk mewujudkan kondisi yang lebih baik bagi kelas pekerja justru sangat bergantung pada elit partai dan perwakilan pekerja di parlemen.

Jelas sekali bahwa fenomena ini terjadi bukan karena secara teoritis mereka–pendukung dan petani Kendeng- memiliki pemahaman anarkisme. Ini disebabkan oleh keterbatasan sumber daya yang memancing para aktornya untuk memikirkan cara supaya gerakan petani Kendeng bisa bertahan dan berkelanjutan. Keberhasilan taktik gerakan yang mampu memicu solidaritas luas ketimbang  gerakan lain yang bergerak dengan taktik konvesional, membuat dukungan dan bantuan sumber daya dari beragam kelompok kepada petani Kendeng mengalir deras. Dukungan yang luar biasa tidak dapat lagi dikelola dengan cara-cara biasa. Sementara JMPPK sangat kelelahan mengurus gerakan dan beberapa sumber daya yang masuk, masih banyak lagi hal-hal yang tidak dapat mereka kelola sendirian. Karena itu membiarkan ‘yang lain’ berjalan sendiri-sendiri secara swakelola tetapi sesuai dengan tujuan yang diinginkan adalah langkah yang sangat tepat.

Dari semua itu, hanya satu yang penulis nilai kurang ‘anarkis’. Tak dapat dipungkiri bahwa mereka masih memerlukan negara untuk mencapai tujuan mereka. Agak ironis untuk menyaksikan bagaimana metode-metode anarkis terjadi untuk mencapai tujuan-tujuan yang sama sekali dihindari anarkisme. Mereka masih mengemis kepada negara setelah sebuah hirarki koersif mahabesar yang bernama negara itu menginjak-nginjak mereka, membakar tenda perlawanan, dan melakukan perusakan permanen pada tubuh ibu bumi. Kalau saya tidak sudi. Cuih!

Tapi hal ini bisa diperdebatkan sesuai dengan relevansi suatu kasus. Misalnya karena pembangunan pabrik semen sudah terlalu mendesak untuk dilakukannya aksi langsung (direct action) seperti pendudukan, perusakan, sabotase dan blokade (hal terakhir pernah dilakukan). Atau karena mempertimbangkan bahwa metode non-anarkis seperti berjuang melalui jalur hukum –yang memang sengaja diciptakan untuk melindungi korporasi- sudah gagal dilakukan. Hal ini bisa dimaklumi.

Kebebasan, pengambilan keputusan non-hirarkis yang egaliter, berbagi sumber daya, mutual aid, dan koordinasi fleksibel antar kelompok sebelum dan selama aksi adalah prinsip revolusioner anarkisme. Kondisi ini harus dipertahankan sebab hal ini bisa saja rusak karena segelintir orang baik yang menginginkan supaya aksi berjalan efektif dan efisien dengan mencoba mengambil kontrol langsung terhadap dukungan dan bantuan kepada petani. Tindakan seperti ini, seperti terjadi pada banyak kasus, justru berjalan sebaliknya. Tindakan ini mematikan inisiatif dari luar karena kehendaknya untuk membantu justru memerlukan persetujuan-persetujuan dari segelintir elit aktivis. Semua yang sifatnya sukarela terganti dengan kewajiban dan penugasan. Dan pada akhirnya hal ini justru memungkinkan terbentuknya hirarki; langsung dalam bentuk struktur-struktur otoritas, atau tidak langsung dalam bentuk perbedaan antara aktivis muda dan tua, atau antara aktivis yang baru saja terlibat dengan yang sudah sejak lama dalam membantu aksi petani Kendeng.

Sebagai penutup, perlu saya tekankan lagi bahwa tulisan ini hanya berupa laporan lapangan sekaligus otokritik. Saya sangat bahagia bisa terlibat langsung dalam metode aksi anarkis. Sesuatu yang justru tanpa disadari dipraktikkan dengan baik oleh orang-orang yang sebagian besar saya tebak, memahami anarkisme sekadar sebuah tindakan kekerasan dan vandalis oleh kaum muda yang bersemangat. Bayangkan saja, bagaimana jadinya jika masyarakat anarkis tercipta dan prinsip di atas diterapkan dalam kehidupan sehari-hari? Dan bagi saya, mereka bukan petani. Mereka adalah punk yang mencangkul dan mengenakan caping.

Rujukan Lebih Lanjut

Sheehan, Seán M. 2016. Anarkisme: Perjalanan Sebuah Gerakan Perlawanan. Marjin Kiri. Tanggerang.


Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi Universitas Kristen Satya Wacana.

 

 

Print Friendly, PDF & Email

3 Responses

  1. Ouw mahasiswa 😂 pantesan empat paragraf terakhir kurang enak dibaca 😕

  2. Panjang umur perlawanan, damai anarki!
    Ijin share suhu…

  3. no name says:

    berseni nih orang

Leave a Reply